Jumat, 13 Juli 2012

Ibarat Ruang-waktu, Rasa-pun Melengkung

By: Arie Samal 

Keheningan melaju dalam resah akan kubah malam, tanpa mentari, deru kendaraan, tanpa teriakan tawar menawar di pasaran, semuanya memberikan ruang kontemplatif bagi lengkingan jiwa yang selalu terbata-bata dalam miliyaran zarah hewani yang terlena dalam kemenangan tubuh dari fazar hingga senja hari. Saat ini, kau tengah berada disebuah rumah tua yang telah kau tinggali sekitar satu bulan lamanya, tepat di beranda lantai dua. Disini kau dapat menyaksikan kedipan lampu-lampu hias gedung-gedung bertingkat, lampu-lampu jalanan, yang karena sinarnya memiliki porsi lebih sehingga gelombang sinaran itu sedikit menganggu penglihatanmu akan bintang dan purnama yang tengah bersinar mesra. Sejenak, Kau terlena dalam sebuah imajinasi ala fisikawan kemudian mengubungkannya dengan kebaikan dan keindahan dalam sastra romantic tujupulahan, dimana keremangan lampu-lampu gedung yang congkak berdiri adalah bahasa dan jagad kesombongan aristokrat yang selalu berdiri diatas tirani kekuasaan yg tak sedikit menyiksa bahasa-bahasa kebenaran dan keindahan. “O, rembulan, kecongkakan bumi seperti tak lagi menginginkan pendaran keindah-bintangmu”.
Beberpa jam yang lalu, kau baru saja ditinggalkan dua sahabatmu yang pulang kampung, rasa sedih dan kehilangan beigtu kentara saat sinar ponselmu menerpa wajahmu yang lesuh.  Suka duka, senang gembira, maupun kesalahan adalah habitus dalam praktik kehidupan dimana semuanya seperti massa yang terperangkap, dan malam ini, energy itu akan terbuka sehingga segala kenangan yang pernah dilalui menjatuhkan memorinya pada hati terdalam anda yang resah merindu. Keheningan malam ini membuatmu seperti pendengar sejati Sebastian Bach, atau Schubert—yang karena musiknya menyebabkan Mileva menceraikan Einstein—kemudian tanpa disadari gubahanmu berubah menjadi penari ala mistikus, Rumi, yang mungkin membutuhkan sentuhan indah Beethoven, dengan moonlight-nya, tuk menarik bulan sinari dadamu yang dilingkari kegelapan.

Disini, di beranda ini, kau seperti para penjelajah waktu, yang hanya dalam sebuah keliaran imajinasi, kau bisa melintasi dan menarik segala kenangan dalam triadik berdimensi kemudian menatap kisah-kasih yang penuh dengan kesalahan dan kekeliruan terindah yang pernah dan akan kau lalui.  Iya, dengan tidak sengaja mendengarkan musik indah dari Coldpaly, in my Place, dari kamar sebelah, kau beruapaya menjadikan suasana hati diatas baranda ini seperti gravitasi Neowtonian yang menarik segala kisah. Resah yang begitu dalam mengajakmu merenung sesaat, berbicara dengan jiwa terdalammu, sebuah kontemplasi ala Heremeneutic eksistensial, yang mengharuskanmu terbang ke masa kekuasaan Hitler, tuk menyaksikan kegelisahan Heidegger dalam lanskap Ada dan Waktu. Disana, kau bertemu dengannya yang menghabisakan waktu berpuisi di pegunungan “sang Pelihat”, kau hanya terpaku dan kembali lagi saat Heidegger menjawab kegelisahanmu “jangan pernah menghindar jika kegelisahan sedang menerpamu, sesungguhnya hati terdalam sedang membutuhkan sapaan lembutmu karena lama tak kau temani”. Akibat kediaman puitis yang konstan, kau lupa bertanya padanya tentang Kabar Hannah Arrendt, kekasih gelapnya, yang telah ia titipkan pada Carl Jaspers, saat Hitler menancapkan taringnya.

Gerak jagat raya melaju begitu cepat, saat kau kembali ke beranda, dan menyaksikan langit sekitar, rembulan telah terhisap pekat awan, gemintang jutaan tahun yang lalu masih setia mengalirkan sinaran indah pada kelopak setiap insani. Nampaknya kau dikondisikan oleh rantai paradigmatic Saussurean, dimana supernova ataupun hypernova dari bintang-bintang yang mati atau katai putih mengingatkanmu pada sosok kesejatian yang telah lama menantimu. Kemudian akibat getaran semiotic dari pertemuan terakhir antara kau dengannya membutamu jatuh dalam ketiadaan gravitasi. Akibatnya kau menemukan semacam jawaban akan kegelisahan yang menerpamu malam ini. Rasa kehilangan dua orang sahabat hanyalah secuil sebab, dimana kisah indahmu dengan sosok kesejatian, kesalahan terindah dalam mengagumi setiap manifestasi, ketiadaan semangat akan menyikap ketersembunyian Kebijaksaan, dan rasa rindu begitu dalam pada keluarga kecilmu adalah sebab dimana duniamu seperti tepian galaksi yang menolak apel jatuh ke tanah, menjauh. Oh”, kau membatin “aku seperti terkena asma kronis atau pengidap kardiomegali akut yang menyebabkan jantung berdegup mengencang hingga nafas pun terasa sulit mengempaskan kegusaran”.

Namun dibalik keresahan wajahmu, kau masih sempat menyisakan senyum ria atas ketidakbiasaan yang begitu dramatis. Kau teringat dengan seorang gadis pena Pramudya Ananta, yang hanya karena sebuah senyuman diatas tanah rampasan penguasa membutamu mendunia dengan bahasa-bahasa punjangga yang didalamnya kau sembunyikan rahasia dalam ratusan puisi ala simbolisme-sufistik. tapi tak lama kemudian, sang sastrawan besar Italy, Dante, datang kepadamu bersama Beatrice Portinari, kekasihnya inspiratifnya. Kau bertanya pada Dante;

“kenapa bukan Gemma, istrimu, yang datang bersamamu?”.
“Saat ini, jawab Dante “cinta telah bertakhta dihatiku”
“tidakah kau tahu tentang dia yang disampingku?”
Kau hanya diam dan melempar tatapan semiotic ke arah Dante..
“bukankah Kau baru saja menemui Heidegger beberapa waktu lalu?,
“Apa pentingnya asosiasi itu”, kau bertanya.
“Perempuan inilah penyebab La Divinia Commedia terkenal diseluruh dunia”

Kau sedikit terlena saat Dante, sebelum pergi, membaca sepenggal ratapannya padamu;

“isak tangis dan ratapan pedih
Hancurkan hati dalam kesendirian nan sunyi
Hingga lengkingannya memedihkan
Siapapun yang mendengar lukaku
Sejak kekasih berangkat ke dunia abadi
Tak satupun lidah yang mampu kisahkan hidupku”

Peremepuan itu, Gadis Pena Pramudya, datang padamu, dengan Jejak Langkah yang disembunyikan,   ia datang dan menawarkan jutaan  kisah yang membutmu lair berimajinasi. Tapi kau masih terpaku pada kisah Dante, membayangkan seperti apa jika Gemma, mengetahui skandal indah ini.

“Hi, merenung itu bicara dengan diri sendiri, dan itu perlu sebagai lahan instrospeksi diri, anggaplah  aku bagian dari dirmu, cobalah bicara padaku apa yang kau renungi”. Suara gadis itu memecah keterpakuanmu.  Dia kemudian mengajakmu terbang menuju danau kecil sudut kota.

“Sampai kapan kita membohongi diri dengan kehangatan suci ini?”. Kau bertanya sambil memandang kegelapan yang menggandakan dirinya diatas keruhnya air. Gadis itu hanya menatapmu, tanpa kata penuh makna. Dia bertanya balik padamu;
“Bukankah kau telah membakar  kisah Complex Oedipus-nya Freud?”.
Kau pun menjawabnya dengan pertanyaan,
“Tapi kau pernah berkata padaku kalau kau benci pada  Gustave Flaubert yang menulis tentang Emma Bovary, bahkan kau tak mau mendengar saat aku membicarakan Tolstoy, tentang The Creutzer Sonata?”.

Sepertinya Kau dengan Gadis itu larut dalam ruang kontradiksi Hegelian, namun saat yang sama menolak hukum penegasian, kemudian saling merindu dalam Kekosongan ala Deleuze-Guitari,…

“Hi, kau memanggil gadis itu bertanya lagi padanya, “apakah kita harus seperti lukisan abstark tanpa coretan apapun?”.

“saya mengajakmu kesini bukan untuk membicarkan kontradaksi apapun, tapi mengisi kekosongan yang tak lagi memiliki ruang di zaman ini, please, jangan lagi bertanya seperti apakah kita karena realita dan bahasa sangat tidak adil untuk menerima alasanku, bukankah kau pernah mengutip Al Farghani, astronom muslim awal, bahwa tak ada ruang kosong di alam raya, bisakah kita menjadi titik apogium dan perigium-nya yang menjadi lintasan setiap planeter hasrat yang dikekang modernitas?, bukankah kau beigtu senang saat Hawking dan Planck berbicra tentang mistery alam raya?, aku dan segala rasaku masih ingin menjadi  mistery, tidakkah kau akan dan selalu menyuamkan aku kecuali aku bukan lagi mistery?”.

Mendengar itu, mulutmu seperti terperangkap akan ribuan kata. Layaknya sekawanan kambing yang merebut keluar dipintu sempit, akhirnya tak seekorpun yang lolos keluar. Kau hanya menatap gadis dihadapanmu dan mengela nafas panjang hingga gadis itu tertarik oleh desahan yang memang mengingnkan gerak tubuh ala semiolog sebagai penanda kehangatan. tiba-tiba sepasang ikan meloncat ria dalam danau itu, tak tahu seperti apa kemesraan mereka dikedalaman air.

Serpihan air dari sepasang ikan itu membuatmu kaget, dan ternyata gerimis menyentuh kulit tipis tanganmu diatas beranda rumahmu. Kau sedikit membenarkan letak dudukmu biar tidak dihinggapi butiran hujan itu. Disamping tempat dudukmu, sebuah meja, yang diatasnya kau letakan beberpa buah buku sebelumnya. Kau meneguk secangkir kopi yang sudah dingin terkena udara malam, bermaksud tuk sedikit relekasasi denga kadar cafein agar rasa ngantuk jauhi dirimu. Kau terbawa saat mendengar senandung indah dari musisi ternama Iwan Fals, Yang Tercinta, yang dimainkan temanmu yang serumah. Keindahan liriknya membuatmu jeda sesaat sambil mengingat kembali apa yang baru saja kau singgahi.

Kau mengambil Devine Madness disudut meja, sebuah sketsa biografis para sastrawan gila yang banyak mati bunuh diri. Dengan membiarkan jemarimu membuka lembar demi lembar, tiba-tiba muncul Kaffka,  menarik tanganmu masuk dalam sebuah penginapan tuk menyaksikan metamorfhosa yang begitu dramatis akan dunia yang pertunjukan oleh Gregor Samsa..  “tapi jangan seperti aku, yang hanya karena sebuah kekecewaaan, membuatku menjauhi setiap keindahan” sela Kaffka. Dia mengajakmu berjalan menelusuri jalan Boulevard kota Paris yang penuh dengan bangunan klasik bergaya gotik. “bukanakah ini jalan tempt berkumpulnya para pemikir Prancis?” kau bertanya. “iya, tapi kita akan bertemu dengan Pangeran William, bukan pemikir” jawab Kaffka, sambil menunjuk tempat duduk yang sudah ditempat oleh si Pangeran, Danielle De Barbarac dan Leonardo Da Vinci.  

Setelah diperekenalkan, kau sedikit sok jaim, menyembunyikan sikap histerismu saat melihat sang pelukis agung itu. Setelah berkenalan, kau bertanya pada Danielle; “apakah anda tidak menyesal saat buku warisan dari ayahmu dibakar oleh sudari tirimu?”. “aku sangat terpukul ketika buku itu dibakar,  marah karena hanya itu satu-satunya warisan ayah, dan juga karena Thomas More adalah orang yang paling aku kagumi, tapi sisi positifnya adalah Cinderela dengan sepatu kacanya melegenda dimana”. Kemduian dilanjutkan oleh si Pengeran “Thomas More adalah alasan dimana aku tak ingin menjadi Raja gantikan ayahku, dan Thomas More pun adalah sebab aku mendirikan universitas di Kota ini”. Danielle tersenyum indah saat pangeran berkata; “Danielle lah aku begitu memahami arti pentingnya sastra, filsafat dan cinta”. “tapi semua itu tidak terjadi” potong Da Vinci “jika aku tak melukis keindahan sayap Danielle tuk terbang menelusuri kecongkakan bangsawan dan menjemputmu dalam kisah yang penuh ramantis itu, he.he.he”.

Setelah lama berbincang dengan tokoh yang melegenda itu, kau pun disuguhi sebuah teatrikal jalanan yang bertemakan Eternal Sunshine, yang diperankan oleh Kate Winslet dan Jim Carrey. “Oh’’, kau membatin “apa yang dikatakn Jim Carrey adalah kejadian yang benar-benar aku alami”. Kau bertanya pada Da Vinci, “apakah mengagumi setiap keindahan lukisan adalah daya manifestasi yang mengkondisikan rasa?”. “rekanku di Italy, Rafaelo Sanzio, yang melukis semangat para filosof Yunani kuno adalah orang yang mengagumi manifestasi yg dituangkan dalam coretannya, mungkin semuanya ia padukan dalam La Dona Velata, artinya, kau harus bersyukur atas akan diberikan kalbu tuk menyaksikan keindahan yang semuanya adalah berasal dari suatu kesatuaun cahaya, please, jangan biarkan phsyche membawamu pada logika gallery yang mengurung keindahan lukisan-lukisan agang hanya karena keserakahan”. Mendengar jawaban Da Vinci, kau hanya tersenyum pasrah dan memandang ke arah Kaffka, sambil memainakn alis matamu. Kafka menambahkan, “itulah mengapa saya katakan, jangan seperti saya yang jauhi setiap keindahan”.
Ketika sedang asyik bertukar sapa dengan para tokoh itu, kalian dikagentkan dengan sebuah music orchestra, yang dimainkan oleh pianis perempuan muda yang berbakat, Helene Grimaud memainkan piano concreto Beethoven yang mengagumkan, namun saat kau mengerakan kepala mencari sumber music itu, kau mendapatinya dipojok kanan meja beranda dilntai dua rumahmu, sebuah instrument yang kau jadikan sebagai nada panggil ponselmu. Dialah perempaun yang mirip lukisan La Dona Velata, yang setiap hari menyiram bunga-bunga ditaman rumahnya, menelponmu tuk bertanya seperti apa kabarmu. “bunga-bungaku tumbuh subur dihalaman rumah, tapi karena panas selalu dominan, jadi aku harap pembicaraan kita malam ini berakhir dengan solusi gimana caranya agar bunga ku tetap tumbuh subur walau badai matahari selalu menyakiti” Itulah kata-katanya sebelum dia mengucapkan selama tidur padamu.

Rasa kantuk sepertinya mengalahkan efek cafein kopi hitammu, kau beranjak menuruni tangga tuk mengambil segelas air putih biar proses metabolisme tubuh pulsakan istirahatmu. Tapi saat melewati pintu ruang tengah, kau memandang coretan pada whiteboard yang tergantung disamping pintu kamar, coretan yang penuh dengan rumusan ketidaklengkapan matematika Curt Godel, Ketidakpastian kuantum Heisenberg dan kosntatnta Max Planck. Yah, ketidaklengkapan dan ketidakpastian yang mengahantuimu malam ini. Tapi ketika kau beranjak pada rumusan Planck, kau malah teringat dengan kecintaan dan kerinduan pada anaknya yang gugur di medan perang saat membela jerman pada perang dunia pertama. Tanpa sadar matamu bertuankan butiran air mata kerinduan seolah kau menyaksikan kematian tragis itu. Eisntein pun datang meyerumu dengan kalimat yang sama ketika ia ucapakan pada Placnk, “saat-saat seperti ini aku semakin mencintai ilmu pengetahuan, bergegaslah untuk istrahat  dan berilah kesempatan pada alam bawah sadarmu berbicara pada hati terdalam di alam mimpi yang kaya akan imajinasi”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar