Jumat, 24 Mei 2013

Mengadu pada Senja


Matahari hampir tenggelam. cahaya senja yang melapangkan jemari oleh guratan sinar matahari seolah memeluk ikhlas sang mega dalam nuansa jingga, gemunung perlahan berubah dari kehijauan menjadi hitam. Ketenangan laut yang dihembus angin tipis membiarkan guratan senja menggandakan diri diatas kebiruan laut, sehingga ombak kecil yang bergulung dalam pantulan senja seolah memperlihatkan sebuah skenario indah akan harmonisasi Ketunggalan dalam nuansa senja hari: sebuah pelukan yang menyuam tuk melepas kerinduan antara mega dan laut yang telah lama dipisahkan inflasi semesta. senja yang sempurna jika diksi dari novel-novel klasik menemanimu menikmati semesta diakhir matahari.
Disini, disudut pantai ini kau bisa menyaksikan setengah teluk pulau Ambon, jika membalikan pandangan kearah timur, utara maupun selatan kau kan menyaksikan dari kejauhan ribuan perumahan yang tersusun indah diatas diatas pegunungan. Jika malam jadi dalam, kau akan merasa takjub dengan gemerlap cahaya lampu pemukiman di pegunungan itu, sebuah pemandangan yang mengingatkan kita akan keindahan kota paris dengan pernik gelimang cahaya lampu yang berasal dari bangunan-bangunan ghotik yang mencekit langit. Namun semua itu hanyalah simulasi oleh partikel cahaya dimana pemukiman-pemukiman itu tak seindah yang ada dipkiran, sebaliknya berasal dari gubuk-gubuk reot yang jauh dari sentuhan kesejahteraan.
Sudah beberpa hari aku melarutkan diri bersama beberapa teman lama mengarungi ruang reversibiltas Hawking, atau melakukan perjalanan waktu kembali pada masa dimana kepalan tangan masih erat menengadah pada tembok-tembok raksasa, masa dimana canda tawa yang penuh lugu, masa dimana taman-taman bermain masih ditumbuhi kehijauan rerumputan, masa dimana keresahan masih mewarnai hari. Namun dalam sebuah perhatian melankolik, aku diingatkan pada temporalitas alami dimana saat ini adalah sebuah kemenjadian masa lalu sehingga ada rasa kecewa saat memandang sebagian kawan tengah berada dalam suatu parody kekuasaan yang menjelma menjadi mesin-mesin penguasa yang girang akan singgasana.
Disini, di kota ini yang terkenal dengan slogan “manise”, sebuah slogan sebagai penanda akan begitu eksotik, begitu romantis, begitu pemurah manusianya, begitu indah pantai pula pasir putihnya, namun dibalik itu tersimpan sebuah hasrat romantic yang menuntut harga, sebuah hasrat sebagai hasil dari godaan pasar yang mengharuskan setiap pemuda mesti sibuk mengisi kantong-kantong kosong dengan cara memainkan mata dengan para penguasa.
Disini, diskursus hanyalah terjadi dalam pergulatan arena politik kepentingan. Mulai dari rumah, lorong pemukiman, tempat ibadah, kampus dan lebih sering terjadi adalah warung kopi semuanya diisi dengan pembicaraan politik praktis. Sebuah strategi bagaiamana mendapat jalan mulus agar bisa dekat dengan penguasa. Sebuah jalan mulus untuk mempertebal kantong celana hanya demi memuaskan wilayah selangkangan. Baik itu pemuda, mahasiswa, PNS, tokoh agama, masyarakat semuanya berlomba menjadi politkus suci. Iya SUCI karena dalam wacana tak pernah ada solusi tentang perbaikan hidup, tak pernah ada wicara bagaimana meningktkan kesejahteraan, tak ada wacana bagaimana membangun sumber daya manusia, tak ada wacana bagaimana menyentuh rakyat kecil yang sering diderah musibah. Suci karena hanya berlindung diketiak para penguasa yang tak pernah menginjak lumpur yang melingkupi rakyat jelata.
Di warung kopi seringlah kita bercengkrama. Kau tak akan didengar jika tidak mengankat topik politik praktis. Rasa kecewa menimpali seisi kepala. Aku mulai merasa tidak nyaman, merasa iri, atau merasa berada ditengah riuhan badai sementara aku hanyalah pohon kelapa yang hanya menyaksikan secara statis pertunjukan ombak yang menghujam kebiruan samudra. Disaat memulai cerita atau menaggapi apa yang sementara dibahas dengan pendekatan kearifan, aku dijawab dengan nada-nada sarkastik “disini teori nda layak pakai”. Seperti itulah tanggapan yang aku dapat. Semuanya tengah berada dalam labirin pragmatism, menilai akhir dari konstibusi pemikiran hanya untuk bagaimana mendapatkan uang semata.
Ruang-ruang public yang terdiognosa dalam warung kopi dimana kami sering bertemu terdengar riuh oleh pembicaraan bernada pragmatism. Sesuara yang terdengar begitu berisik, bising bagaikan keributan akibat tawar menawar barang ditengah kegaduhan pasar. Suasana ruang yang agak tertutup, ketebalan asap rokok yang membumbung hingga ke langit warung membuat seisi kepala seperti diinjeksi kadar pembiusan yang membuat anda tidak sadarkan diri.
Kepalaku seperti mau meledak, ditengah keriuhan aku membuka tas tuk mengambil sebuah cerpen yang ditulis Rabindranath Tagore, dengan makud tuk mengubah intensionalitas pemikiran. Headset aku pasangi, kemudian menyetel Mozart sebagai penyeimbang rasa yang benar-benar bosan oleh kondisi. Tetapi suasana yang pengap mengahruskan aku tuk keluar megakhiri sebuah pertunjukan dimana aku adalah pemain pasif dengan adegan tanpa sedikitpun suara.  
pukul lima tengah meletakan jarum panjang pada angka 12, aku memutuskan tuk pamit lebih dulu dan menuju bagian sudut kota ambon. Sebuah sudut pantai yang menyiapkan keindahan bagimu dengan lanskap warni senja yang menentramkan. Akupun membuka kisah-kisah Kebadian, cerita klasik china tuk meyempurnakan senja yang menjingga diatas kebiruan laut. Aku seperti terlena dengan kesejukan udara pantai, memandang lepas kestiap horizon mega. Sesekali menumaphkan desah dengan gemuruh seperti hembusan angin dimusim timur. Tapi disaat kesejukan batin mulai terasa, aku terhempas dalam diksi puisi-puisi para Taois, dilingkari oleh cerita-cerita kebadaian hingga keterarahan rasa berganti menyiksa saat aura Sang Abadi kian nampak dalam lintasan sintakisis oleh buku yang sementara aku baca.
Aku menjadi benar-benar melankoli, tatapan menjadi kosong. Guratan senja seolah berubah menjadi ukiran-ukiran tawa Keabadian. Oh, dalam keresehan eksistensial akan orang-orang yang telah bermetamorfosa menjadi manusia yang diciptakan Kafka, wajah itu selalu saja hadir menyerupai matahari, bulan, bintang hingga aku mesti menuju pada ketinggian atau pada dasar laut agar bisa menguap kemudian menyatu dengan debu atmosfer yang menciptakan mega bagi senja yang  meng-abadi disetiap cakrawala.
Aku tak bisa hidup ketika pragmatisme sedang mengangkat panji kekuasaannya. Aku akan menjadi penenun, yang menjahit kata demi kata tuk mencipta manusia-manusia boneka ala Tagore sebagai perisai menuju hidup yang benar-benar Abadi.

Matahari hampir tenggelam. cahaya senja yang melapangkan jemari oleh guratan sinar matahari seolah memeluk ikhlas sang mega dalam nuansa jingga, gemunung perlahan berubah dari kehijauan menjadi hitam. Ketenangan laut yang dihembus angin tipis membiarkan guratan senja menggandakan diri diatas kebiruan laut, sehingga ombak kecil yang bergulung dalam pantulan senja seolah memperlihatkan sebuah skenario indah akan harmonisasi Ketunggalan dalam nuansa senja hari: sebuah pelukan yang menyuam tuk melepas kerinduan antara mega dan laut yang telah lama dipisahkan inflasi semesta. senja yang sempurna jika diksi dari novel-novel klasik menemanimu menikmati semesta diakhir matahari.
Disini, disudut pantai ini kau bisa menyaksikan setengah teluk pulau Ambon, jika membalikan pandangan kearah timur, utara maupun selatan kau kan menyaksikan dari kejauhan ribuan perumahan yang tersusun indah diatas diatas pegunungan. Jika malam jadi dalam, kau akan merasa takjub dengan gemerlap cahaya lampu pemukiman di pegunungan itu, sebuah pemandangan yang mengingatkan kita akan keindahan kota paris dengan pernik gelimang cahaya lampu yang berasal dari bangunan-bangunan ghotik yang mencekit langit. Namun semua itu hanyalah simulasi oleh partikel cahaya dimana pemukiman-pemukiman itu tak seindah yang ada dipkiran, sebaliknya berasal dari gubuk-gubuk reot yang jauh dari sentuhan kesejahteraan.
Sudah beberpa hari aku melarutkan diri bersama beberapa teman lama mengarungi ruang reversibiltas Hawking, atau melakukan perjalanan waktu kembali pada masa dimana kepalan tangan masih erat menengadah pada tembok-tembok raksasa, masa dimana canda tawa yang penuh lugu, masa dimana taman-taman bermain masih ditumbuhi kehijauan rerumputan, masa dimana keresahan masih mewarnai hari. Namun dalam sebuah perhatian melankolik, aku diingatkan pada temporalitas alami dimana saat ini adalah sebuah kemenjadian masa lalu sehingga ada rasa kecewa saat memandang sebagian kawan tengah berada dalam suatu parody kekuasaan yang menjelma menjadi mesin-mesin penguasa yang girang akan singgasana.
Disini, di kota ini yang terkenal dengan slogan “manise”, sebuah slogan sebagai penanda akan begitu eksotik, begitu romantis, begitu pemurah manusianya, begitu indah pantai pula pasir putihnya, namun dibalik itu tersimpan sebuah hasrat romantic yang menuntut harga, sebuah hasrat sebagai hasil dari godaan pasar yang mengharuskan setiap pemuda mesti sibuk mengisi kantong-kantong kosong dengan cara memainkan mata dengan para penguasa.
Disini, diskursus hanyalah terjadi dalam pergulatan arena politik kepentingan. Mulai dari rumah, lorong pemukiman, tempat ibadah, kampus dan lebih sering terjadi adalah warung kopi semuanya diisi dengan pembicaraan politik praktis. Sebuah strategi bagaiamana mendapat jalan mulus agar bisa dekat dengan penguasa. Sebuah jalan mulus untuk mempertebal kantong celana hanya demi memuaskan wilayah selangkangan. Baik itu pemuda, mahasiswa, PNS, tokoh agama, masyarakat semuanya berlomba menjadi politkus suci. Iya SUCI karena dalam wacana tak pernah ada solusi tentang perbaikan hidup, tak pernah ada wicara bagaimana meningktkan kesejahteraan, tak ada wacana bagaimana membangun sumber daya manusia, tak ada wacana bagaimana menyentuh rakyat kecil yang sering diderah musibah. Suci karena hanya berlindung diketiak para penguasa yang tak pernah menginjak lumpur yang melingkupi rakyat jelata.
Di warung kopi seringlah kita bercengkrama. Kau tak akan didengar jika tidak mengankat topik politik praktis. Rasa kecewa menimpali seisi kepala. Aku mulai merasa tidak nyaman, merasa iri, atau merasa berada ditengah riuhan badai sementara aku hanyalah pohon kelapa yang hanya menyaksikan secara statis pertunjukan ombak yang menghujam kebiruan samudra. Disaat memulai cerita atau menaggapi apa yang sementara dibahas dengan pendekatan kearifan, aku dijawab dengan nada-nada sarkastik “disini teori nda layak pakai”. Seperti itulah tanggapan yang aku dapat. Semuanya tengah berada dalam labirin pragmatism, menilai akhir dari konstibusi pemikiran hanya untuk bagaimana mendapatkan uang semata.
Ruang-ruang public yang terdiognosa dalam warung kopi dimana kami sering bertemu terdengar riuh oleh pembicaraan bernada pragmatism. Sesuara yang terdengar begitu berisik, bising bagaikan keributan akibat tawar menawar barang ditengah kegaduhan pasar. Suasana ruang yang agak tertutup, ketebalan asap rokok yang membumbung hingga ke langit warung membuat seisi kepala seperti diinjeksi kadar pembiusan yang membuat anda tidak sadarkan diri.
Kepalaku seperti mau meledak, ditengah keriuhan aku membuka tas tuk mengambil sebuah cerpen yang ditulis Rabindranath Tagore, dengan makud tuk mengubah intensionalitas pemikiran. Headset aku pasangi, kemudian menyetel Mozart sebagai penyeimbang rasa yang benar-benar bosan oleh kondisi. Tetapi suasana yang pengap mengahruskan aku tuk keluar megakhiri sebuah pertunjukan dimana aku adalah pemain pasif dengan adegan tanpa sedikitpun suara.  
pukul lima tengah meletakan jarum panjang pada angka 12, aku memutuskan tuk pamit lebih dulu dan menuju bagian sudut kota ambon. Sebuah sudut pantai yang menyiapkan keindahan bagimu dengan lanskap warni senja yang menentramkan. Akupun membuka kisah-kisah Kebadian, cerita klasik china tuk meyempurnakan senja yang menjingga diatas kebiruan laut. Aku seperti terlena dengan kesejukan udara pantai, memandang lepas kestiap horizon mega. Sesekali menumaphkan desah dengan gemuruh seperti hembusan angin dimusim timur. Tapi disaat kesejukan batin mulai terasa, aku terhempas dalam diksi puisi-puisi para Taois, dilingkari oleh cerita-cerita kebadaian hingga keterarahan rasa berganti menyiksa saat aura Sang Abadi kian nampak dalam lintasan sintakisis oleh buku yang sementara aku baca.
Aku menjadi benar-benar melankoli, tatapan menjadi kosong. Guratan senja seolah berubah menjadi ukiran-ukiran tawa Keabadian. Oh, dalam keresehan eksistensial akan orang-orang yang telah bermetamorfosa menjadi manusia yang diciptakan Kafka, wajah itu selalu saja hadir menyerupai matahari, bulan, bintang hingga aku mesti menuju pada ketinggian atau pada dasar laut agar bisa menguap kemudian menyatu dengan debu atmosfer yang menciptakan mega bagi senja yang  meng-abadi disetiap cakrawala.
Aku tak bisa hidup ketika pragmatisme sedang mengangkat panji kekuasaannya. Aku akan menjadi penenun, yang menjahit kata demi kata tuk mencipta manusia-manusia boneka ala Tagore sebagai perisai menuju hidup yang benar-benar Abadi.

Sabtu, 18 Mei 2013

Reinterpretasi Fiksi dalam Sastra


“Ternyata ada juga sisi lain Albert Einstein selain sebagai fisikawan”. Ungkaplah  seorang teman setelah berdiskusi panjang lebar seputar kehidupan Einstein. Iya, disamping sebagai fisikawan,  Einstein pula seorang yang sangat menyukai sastra dan musik. Baginya sastra membantunya mengenali esensi semesta yang begitu misterius. Sastra dengan unsur imajinatifnya mampu menginspirasi seorang Einstein menemukan teori-teori relativitas yang konon terinspirasi setelah membaca karya-karya romantik Shelley dan Wordsworth. Itulah yang membuatnya mengakui bahwa “Imagination more important than knowledge”.

Fiksi sebagaimana yang umum diketahui memiliki kebenaran antara dunia imajinasi dengan dunia nyata. Kebenaran dalam dunia fiksi adalah kebenaran menurut pengarang yang telah diyakini keabsahannya dari sudut pandang hidup dan kehidupan. Kebenaran dunia fiksi tidak harus selaras dengan dunia nyata yang ditinjau dari segi hukum, sosial, agama bahkan logika sekalipun. Kongkritnya kemustahilan dalam dunia nyata bisa diwujudkan dalam dunia fiksi.
Dalam pandangan Plato atapun Arietoteles, sastra adalah tindak mimetic dimana bentuk kehidupan nyata selalu menjadi tolak ukur bagi sastra. Namun jika kita melihat pengaruh karya-karya sastra bagi kehidupan, apa yang mustahil bagi dunia nyata telah diterobos oleh sisi fiksionalitas sastra dan menjadikannya sebagi sebuah fakta. Dan tindakan mimetic pun semakin kabur apakah sastra mengikuti bentuk kehidupan nyata, ataukah sastra yang menjadi pijakan bagi kehidupan nyata (baca: Simulakrum).
Pembedaan antara fiksi dan fakta dalam sastra tampaknya tak membawa pemahaman kita lebih jauh, seringkali karena pembedaanya sendiri seringkali dipertanyakan. Fiksi, majinatif dan kreatif adalah tiga hal yang selalu ada dalam setiap karya sastra, dan  jika sastra seperti dalam Eagleton, adalah tulisan kreatif atau imajinatif, apakah berarti sejarah, filsafat, sains, ilmu alam yang kreatif dan imajinatif bisa disebut fiksi?.
Interpelasi Fiksi menjadi Fakta
Hal menarik yang perlu kita simak tentang apa yang dikenal sebagai the Sorrows of Young Werther affect, sebuah novel  fiksi Gothe, yang mampu menginterpelasi kesadaran pembaca untuk melakukan tindakan bunuh diri lebih dari dua ribu pemuda di Eropa, konon tindakan copycat suicide tersebut serupa dengan yang dilakukan oleh tokoh protagonist baik cara maupun kemiripan kostum. Juga Madame Bovary, novel prancis klasik Karya Flaubert yang pada abad ke 19, dipandang sebagai karya yang mengilhami gerakan feminisme Eropa.
Hal sama pula terjadi pada karya-karya yang mengisnpirasi imajinasi Columbus, seorang pencari rempah yang terdampar di Amerika. Dalam pengakuan Jack Turner, Columbus terinpirasi lewat karya imajinatif dari Piere d’Ailly, Gloria Mundi, yang terbit awal abad 15, kemudian Historia Rerum Oleh Paus Pius II, dan juga pada Travels karya Marco Polo yang dalam karya-karya tersebut penuh dengan imajinasi eksotik tanah surga di wilayah Timur yang penuh dengan emas, lada, cengkih, pala, kayu manis, cendana yang pada saat itu belum ada orang eropa yang sampai ke sana, namun imajinasi karya tersebut begitu berarti bagi Columbus yang sampai hari ini telah mengubah dunia dalam memandang rempah-rempah.
Proses interpelasi atau pengaruh fiksi bagi kesadaran merupakan konsekuensi dari signifikansi yang lahir dari jejaring petanda-penanda (baca: Semiology) dimana bahasa dalam bentuk apapun selalu memberikan ruang-ruang baru sebagai ekspansi eksistensialitas yang secara tidak lansung mendisposisikan praktik dalam ranah kehidupan tertentu (Lihat Bourdieu). Dan  kata terlepas dari fiksi ataupun tidak tetap merupakan house of Being, didalamnya terdapat Kemanjadian Ada-diri yang tak terlepas dari bahasa (Baca: Hermeneutika).
Wujud Fiksi
Interpelasi karya fiksi terhadap kesadaran pembaca seperti diatas membuat kita memahami fiksi tidak mesti sebagai daya khayali yang jauh dari fakta kehidupan nyata atau semata tindak mimetik melainkan melalui sintaksis, fiksi adalah wujud-wujud (lihat: Deleuze Guittari) yang ada dalam ketidakhadiran manusiawi. Melalui persep dan afek, fiksi merupakan gejala kebahasaan seolah bertugas menginflasi  realitas nyata sebagai proses kemenjadian kehidupan dinamis.
Itulah mengapa events make possible language dimana Fiksi mampu menciptakan peristiwa-pertistiwa baru yang belum ada dalam fakta nyata menjadi bahasa-bahasa kemungkinan bagi kemenjadian eksistensi. Dan karena sastra pula adalah bagian dari seni maka seperti dikatakan A. Gidens;  sastra/seni adalah wants to create the finite that restores the infinite. Maksudnya adalah fiksi ingin menciptakan sesuatu yang terhingga untuk mengembalikan pengalaman yang tak berhingga yang ingin dialami terus menerus oleh manusia, atau menciptakan jalan untuk menjangkau yang tak terbatas.
Jika kita membaca sejarah kehidupan para ilmuan, seperti Whitehead, Einstein, Copernicus, Heisenberg, dan beberapa ilmuan lainnya yang banyak teori mereka terinspirasi melalui karya sastra, maka tak lebih jika dikatakan bahwa fiksi dalam sastra adalah mother of sciences lantaran melalui sastra, kita dibelajarkan untuk menjelajahi imajinasi yang tidak terbatas. Dalam pengakuan IA Richard, Imajinasi yang dimaksud Einstein sebenarnya adalah Sastra, karena hanya dalam sastra keliaran imajinasi mampu menemukan keluesannya sehingga tak lebih  dikatakan bahwa yang sebenarnya dikatakan Einstein adalah sastra dengan unsur fiksinya lebih penting dari pengetahuan.
Dengan demikian fiksionalitas sastra adalah vibrasi kehidupan oleh bahasa atau kata-kata yang dapat menjangkau yang  belum terlihat menjadi sebuah kemungkinan dunia nyata, dan fiski juga merupakan bagian dari inflasi epitemik dimana imajinasi adalah magnet yang mampu menarik pikiran yang belum terjangkau menjadi landasan pijak bagi kehidupan kita.

Jumat, 10 Mei 2013

Pesan Kosong


Semesta dada meluangkan kemungkinan ruang bagi ragam semilir tuk melabrak rongga-ronga ragawi. Setiap angin adalah kabar, setiap gunung adalah nafas, setiap laut adalah air mata setiap apapun yang ku tatap adalah tanda-tanda kebesaran ke-Abdian yang mengajakku tuk harus dan selalu merenung. Atau tanda yang memberi ruang meditasi puitis, karena disana, dalam kemenjadian Abadi, atau dalam guratan cahaya lilin yang menjadi idola kematian lalat yang beterbangan, aku begitu merasa Ada-ku terperanjat lalu menengadah pada wajah titisan Shiva, sang penari penyeimbang kosmik; yang dalam setiap hembusan angin selalu saja ada guratan Tawa seolah aku begitu dekat bersama kemilau kosmik dikaki horizon senja yang begitu Kemerahan.

Karena telah kutemukan keabadian dalam kata, maka melalui kata pula kerinduan ku semaikan. Kata-kata bagiku tidaklah terbatasi aksara atapun angka pada manuskrip-manuskrip. Tetapi kata adalah semesta kerinduan eksistensial yang bisa berupa metafisik: apapun yang terbaca adalah Abadi yang tersirat, apa yang tertulis adalah abadi yang terlukis. Itulah mengapa keagungan pada senjaku yang kemerahan tidak mesti melewati semak belukar atau bangunan kata-kata bak deretan bambu yang tubuh di dataran China. 

Keabadianku adalah afeksi yang lahir dari lintasan kuas para impresionis, Keabadianku ialah persep yang tercipta dari sintaksis Rumi, Neruda ataupun Gothe. Keabadianku adalah wujud yang Ada dalam setiap tanda para simbbolis hingga kekosongan adalah ruang-ruang puitis yang selalu menjadi hal utama bagi para perupa, peramu maupun penenun. Iya, kekosongan adalah linstasan yang penuh dengan goresan kuas, kekosoangan adalah diksi, metaphor atau metonimi yang melalui Sartre, Falubert, Jian, Calvino, Tolstoy, Eco menjadikan caraku mencintai Abadi dalam kekosongan yang penuh dengan tanda-tanda yang tak terbaca mata kepala.

“Aku tak mengerti maksud pesan-pesan kosong yang kau kirimkan”. Keluhnya saat pesan itu selalu mejadi penutup dalam pesan-pesan singkat. “apa ada maksud dibalik itu?, Ceritakanlah padaku”.  “Segala tindak memiliki intensionalitas”, jawabku “dan intensionalitas ini adalah tujuan dari semua tindakan dan seperti itulah yang ku ingat saat membaca Edmund Husserl”. “Apa intensionalitasnya?”, sambil memandang lesung pipitnya saat ia tersenyum, saya melanjutkan “aku menyukai lukisan yang didalamnya terdapat ruang lebih yang bisa memberikan kesempatan pada angin tuk bertiup kencang, pada burung yang bebas terbang, atau ruang yang besar bagi kaki cakrawala atau kebiruan laut, sebab semakin sedikit goresan pada sebuah lukisan dengan kanvas besar, sawah misalnya, dan memberi kekosongan pada langit biru, maka sang pelukis sebenarnya sedang memberikan ruang kontemplatif bagi pelihat tuk merenung betapa luasnya semesta, betap indahnya sawa, betapa senangnya petani, betapa anggunnya suasana desa pula kesan lainnya”.

“Jadi kekosangan adalah ajakan tuk merenung?”. Akupun mengutip Lau Tzu “jadilah kosong maka engkau akan tetap penuh, dan juga dalam Uphanisad bahwa Brahman adalah kehidupan, Brahman adalah kebahagiaan, Brahman adalah Kekosongan, maka kebahagian sama dengan Kekosongan, maka Kekosongan sama denagn Kebahagian. Atau juga dalam sutra-sutra budhis, bentuk itu kekosongan dan kekosongan itu bentuk, kekosongan tak berbeda dari bentuk, betuk tak beda dari kekosongan, yang berbentuk itu kekosongan, yang kosong itu bentuk.”.
 
“Seperti juga medan dalam perspetif Maxwel, dimana tak ada namanya ruang kosong melainkan semuanya terisi penuh dengan tarik menarik partikel yang memungkinkan inteaksi kosmik kan terjadi. Jadi ketika pesan kosong kulayangkan padamu, itulah pengakuan kesejatian yang dalam tanpa kata, terselip jutaan ungkapan tiada akhir akan kerinduanku padamu, terselip ungkapan cinta yang maknanya—seperti kata Rumi—tak terjangkau kata-kata, dan pesan kosong itulah aku selalu ada dalam kemenjadian menuju Kebadian ada-ku pula Ada-mu”. itulah alasan mengapa disetiap saat selalu saja ada pesan kosong yang kualamatkan pada diri Sang Abadi. Kini pesan kosong telah terkonvensi bagiku-banginya menjadi pernyataan Ada-diri yang saling merindu-Abadi.