Malerish, dalam bahasa Jerman berarti “indah, Permai”. Bentuk dasar
dari kata ini adalah Maler yang berarti lukisan. Malerish bisa berarti indah
seperti lukisan. Dan sepertinya lukisan menjadi sebuah standarisasi keindahan
bagi orang-orang Jerman. Sementara di Indonesia mungkin saja terjadi hanya
sebatas lirik lagu yang di populekan oleh Bob Tutupoli “ widuri indah bagai
lukisan”. Lukisan memang memiliki khas keindahan tersendiri, itulah sebabnya
banyak orang yang rela mengahabiskan miliyaran rupiah untuk membeli sebuah
lukisan semata.
Dalam tulisan ini kita tidak
membicarakan standarisasi keindahan yang nampaknya semakin kabur dalam dunia
seni, tetapi sebagi refleksi bio-miotology atas kisah hidup pelukis ternama
sekaligus termahal asal Belanda, Vincent Van Gogh, yang ditulis oleh Iriving
Stone dalam Lust for Life, sebuah novel terjemahan yang di terbitkan oleh
Serambi dalam versi bahasa, yang terdiri dari delapan Bab dengan ketebalan 574
halaman. Jika anda berserah pada kesetiaan poetika saat membaca novel ini, saya
percaya kalau anda bakal masuk dalam kegairahan sastrawi menikmati dan
menenggelamkan diri dalam diksi dan plot menggairahkan. Dan inilah novel
pertama Irving stone yang sering menulis novel biografis sekaligus menjadi
adikaryanya.
Vincent Van Gogh terlahir dalam
keluarga kelas menengah, hampir sebagian keluarga besarnya memiliki beberapa
salon, galeri yang menjual karya para pelukis ternama, baik berada di London,
Prancis dan Belanda tanah kelahirannya. Ayahnya, Theodorus, adalah seorang pendeta,
memiliki kepribadian yang kurang begitu diplomatis. Ibunya, Cornelia, adalah
seorang Ibu rumah tangga yang sangat menyayangi putra-puterinya. Namun hidup
dalam iklim katolik yang taat tidak serta membuat struktur kognitiv seorang
Vincent menjadi pribadi yang patuh, taat seperti yang diinginkan Ayahnya.
Vincent mengawali karirnya sebagai seorang pramuniaga disebuah galeri
keluarganya di London. Disana telah muncul benih pembangkang dengan cara
mengomentari setiap pembeli dengan komentar-komentar ekstrensik, yang kadang
menyinggung pembeli, yang menurutnya hanya menghamburkan uang pada lukisan yang
tak berkualitas
Di London, van Gogh
jatuh cinta
kepada Ursula, anak semata wayang ibu kostnya. Rasa cinta yang begitu
dalam dan
tulus kepada Ursula dibalas dengan jawaban mengecewakan akan telah
bertunangan gadis itu. Vincent akan meninggalkan London untuk selamanya
saat ia menyaksikan pernikahan
Ursula bersama tunangannya. Jika anda pernah menyaksikan film The Oxford
Murder,
sebuah film di awali dengan sejarah penulisan Logico tractacus oleh
Witgenstein, yang berkisah tentang penyelidikan kasus pembunuhan dengan
menggunakan
butterfly effect, fibonaci atau matematika phytagorean dan analisis
bahasa Witgenstein
untuk menelusuri siapa dalang pembunuhan oleh seorang Profesor dan
mahasiswanya.
Setelah serangakaian hipotesis telah digambarkan dan ending yang tak
bisa
ditebak, ternyata yang menjadi penyebab adalah masalah hati. Kekecewaan
akibat
tidak mendapatkan si buah hati yang menjadi penyebab. Seperti inilah
bagian
dari awal kekecewaan Vincent dalam memilih melukis sebagai media
ekspresi.
Kekecewaan terhadap Ursula
membuat seorang van Gogh kembali ke Belanda, dan memutuskan untuk menjadi
pendeta, mengikuti jejak Ayahnya. Setelah banyak belajar menjadi Penginjil,
Vincent dikirim ke Belgia, tepat di Borinage, sebuah kota penambang yang dengan masyarakat yang hampir seluruhnya
bekerja sebagai penambang batu bara. Ia selalu menyampaikan tentang perlunya
hidup sederhana, senantiasa bersabar dan memiliki sifat kerendahan hati dalam
menghadapi situasi sesulit apapun. Tetapi dalam menjalani profesi sebagai
pengabar Injil itu, dia diliputi dengan pertanyan akan betapa tidak adilnya apa
yang dia sampaikan dengan yang dia jalani.
Saat berbicara tentang
kesederhanaan, ia mendapati dirinya berada dalam tunjangan yang lebih.
Hari-hari demi hari yang dijalani para pekerja dengan serba kekurangan kemudian
pakaian dan debu-debu tambang yang menempel tubuh pekerja sangat kontras dengan
dirinya yang berada dalam kemewahan Gereja. Sebuah titik klimaks terjadi ketika
kecelakaan bawah tanah yang menewaskan beberapa penambang yang membuat tangis
histeris para istri dan anak-anak yang kehilangan kepala keluarga, membuat
Vincent memberikan semua upahnya bagi isteri para pekerja dan membeli obat bagi yang terserang penyakit, hingga ia terkadang
menahan lapar akibat kehabisan uang. Kemudian akibat rasa ingin begitu deket
secara emosionalitas dengan dengan jemaatnya yang semuanya buruh penambang,
membuat dia harus berpenampilan bak seorang gembel jalanan. Membirakan
debu-debu batu bara menempel wajahnya. Akhirnya Vincent adalah seorang
peng-Injil berpenapilan gembel, sering menahan lapar, menderita demam yang
tinggi, bernasip sama seperti para penambang Borinage yang semakin tersiksa
oleh system yang tak adil.
Pihak gereja telah mendengar kabar
tentang Vincent dan sangat marah akan perilakunya yang menurut mereka adalah
bidah. Pihak gerejapun memecatnya. Diri sinilah kepercayaan Vincent kepada
Tuhan lambat laun hilang ditelan kekecewaan. Dimanakah Tuhan? Apakah Dia harus
berdiam diri saat masyrakat borinage hidup dalam kelaparan yang menyiksa?
Apakah sikapku yang ingin merasakan hal serupa dengan para pekerja adalah dosa
yang memalukan?. Dalam kekecewaan dan penderitaannya itulah ia memutuskan diri
untuk mengekspresikannya dengan memilih melukis sebagai media pembangkangan yang nantinya dia jalani dengan kelaparan, penderitaan,
ketrsiksaan yang memilukan.
Melukis Suara Hati di Tengah Matahari
“Melukis manusia dan pemandangan alam dalam kehidupan tidak hanya
membutuhkan pengetahuan tentang keterampilan tangan dalam melukis tapi
membutuhkan pembelajaran yang amat dalam tentang karya sastra. Dan aku tak bisa
melukis kepala tanpa tahu apa yang terjadi dalam otak dan jiwa orang itu. dan
untuk melukis kehidupan orang-orang tidak harus memahami hanya anatomi semata
tetapi juga apa yang dirasakan dan dipikrkannya tentang dunia tempat mereka
tinggal”. Inilah sebentuk jawaban Vincent baut Ayah dan Ibunya sekaligus
pernyataan akan seluruh kehidupannyuna ia persembahkan untuk melukis.
Melukis baginya adalah sebuah
ungkapan terdalam sanubari. Sebuah medium bahasa sebagai tempat pengejewantahan
akan rasa tersiksa, penderitaan, kekecewaan akan sestem kehidupan kapitalisme
yang menyengsarakan ribuan umat manusia, kekecewaan dan penderitaan akibat
dianggapnya sebagai pebid’ah saat ia menjadi peng-Inji, kekecewaan akan cinta
tulusnya yang tak dia dapatkan dari Ursula, Kay, Christine dan Aurel. Semunya seperti berkolaborasi membentuk irama
kognitiv sebagai pribadi terasing yang dibenci peradaban. Menjadi orang
terasing dan penyendiri membuat seorang Vincent memilih alam demi sebagai sahabat
sejati tempat ia menuangkan rasa kekesalan. Peradaban telah menjadi demikan buta dalam melihat ketersiksaan dan
ketimpangan hidup yang dialami manusia.
Iya, Melukis bagi Vincent adalah
munjah sang jiwa pada alam. Dia tidak sekedar melukis seperti yang dikatakan
Basoeki Abdullah sebagai dramatisasi realitas, tidak seperti Afandi memandang
kejadian sebagai titik-titik kreatif, tidak juga seperti Renoir yang
mementingkan keindahan warna. Melukis bagi Van Gogh adalah totalitas penyerahan
diri, menyatukan emosi pada apa yang dia lukis sehingga dualitas subjek-obejk
akan musnah saat memandang lukisan-lukisannya. Memandang lukisannya seolah kita
sementara melihat sang pelukis dari jarak yang paling dekat, apa yang kita
saksikan dari lukisannya adalah apa yang kita lihat pada diri Vincent.
Melukis bukanlah pula persoalan
mereduksi setiap naluri manusia menjadi sekedar pernyataan dalam warna, garis
dan nuansa yang abstrak. Namun bagi Van Gogh adalah memperdalam dan menghayati
serta mendengarkan emosi yang spesifik sehingga warna, garis dan nuansa
bukanlah persoalan pereduksian melainkan sebagai keseluruhan surface structure dan deep structure sang pelukis, sebuah totalitas ekspresi
kedirian. Seperti bahasa dalam term Heideggerian, melukis bagi Van Gogh adalah
sebuah keberadaan yang mewajibkan melukis sebagai bagian dari bahasa
eksitensial yang mustahil terpisah dari kehidupannya.
Itulah sebabnya ketika melukis
matahari, ia membuat orang-orang merasa matahari itu berputar dengan kecepatan
orbit yang hebat, menghasilkan gelombang serta partikel sinar dari kekuatan
dahsyat. Ketika melukis ladang jagung ia menginginkan orang-orang akan
merasakan atom-atom dalam jagung yang mendorong pertumbuhan mereka dan meledak.
Melukis apel, ia ingin membuat orang merasakan sari buah apel itu mendesak
keluar menembus bijinya. Ketika melukis potret seseorang ia ingin merasakan seluruh
aliran kehidupan orang itu. ketika ia melukis petani yang sedang bekerja di
ladang, ia ingin merasakan bagaimana petani itu mengalir dan menyatu dengan
tanah, seperti yang terjadi pada lukisan jagungnya, dan tanah itu mengalir naik
ke tubuh petani. Dia seperti ingin agar matahari tercurah pada petani, pada ladang,
pada jagung, bajak, dan kuda sebagaimana mereka tercurah kembali kepada
matahari. Memandang lukisannya seperti merasakan irama universal dimana segala
sesuatu bergerak dalam hubungan kesatuan irama kehidupan.
Kegilaan yang menggetarkan Kanvas
“Tak satupun jiwa hebat yang terbebas dari
kombinasi kegilaan”. Itulah pernyataan Aristotels yang jika tidak dipahami
secara psikonalitik membuat kita terjebak dalam perpektif kegilaan sebagai
sebuah penyakit yang sering diketawi peradaban. Kegilaan bagi masyrakat modern semakin lama semakin
terstirgma dan bernada konotasi buruk, dianggap sebagai sesuatu yang memalukan,
berbahaya dan bisa mengancam keselamatan orang lain. Konsekuensinya orang yang
dituduh memiliki kelainan jiwa selalu di jebloskan ke dalam tahanan rumah sakit
jiwa yang semakin membuat orang-orang didalamnya menjadi tidak waras.
Para
jenius seperti Alkesander Blok, Edgar Alan Poe, Mauppasant, Dickinson, Dante,
Tolstoy, Nietszche dan masih banyak lagi jenius lainnya yang mengalami hal
serupa, di judge oleh dunia kesehatan dan nomarmalitas modern sebagai kelainan
jiwa yang mesti obati. Marquis De sade dalam The Quils, dengan kejeniusan
disksinya mesti mendekam dan menulis di rumah sakit jiwa. John Nash dalam
Beautiful Mind dijebloskan ke ruamh sakit jiwa, akibat delusi yang di alami.
Delusi yang membuatnya, dalam film itu, mampu menciptakan teori dinamika
penggerak dalam metematika yang meruntuhkan ekonomi modern Adam Smith yang pula
menurutnya tak membawa kesejahteraan dan kedamaian bagi umat manusia. Sayangnya
kita tak punya banyak halaman untuk membicarakan kegilaan sebagaimana dictum
Aristotelses diatas, jadi saya hanya menyarankan untuk kita semua membuka
kembali Devine Madness, Skestsa Biografis Sastrawan Gila yang ditulis oelh T.
Wibowo, yang mungkin bisa sedikit membantu memahami term kegilaan dimaksud yang
menurut saya sangat keliru di anggap sebagai penyakit kelainan jiwa oleh medis
modern.
Hal serupa pula melanda Vincent
Van Gogh, kecenderungan untuk menyendiri kemudian pribadi yang keras kepala,
penampilan yang menyerupai gembel jalanan, jalan berfikir yang berbeda dengan
mayoritas membuat dia dijauhi dan dituduh sebagai orang gila. Setelah diberhentikan
sebagai peng-Injil, Vincent sering pergi ke bukit agar bisa memandang para
pekerja dengan beragam aktifitas mereka, membuat sketsa para penemabang dengan irama
emosi yang semakin menggila. Berhari-hari di Borinage ia jalani seperti itu,
menumpahkan kekesalan dan tenggelam dalam emosi para penambang untuk menemukan
karakter dan perasaan dan penderitaan terdalam para burh. Walapun sketsa yang dia gambar, pada awalnya
masih kurang sempurna dan banyak mendapatkan kritik, tapi dengan semangat dan
emosi yang menggebu dia selalu mencoba dan mencoba, hingga membuat Theo,
adiknya rela menysihkan sebagian pendapatannaya untuk membeli peralatan lukisan
serta penopang perutnya selama sepuluh tahun.
Menumpahkan kekesalan, menarik
diri tenggelam dalam pesona natural alam membuatnya merasa seperti berada dalam
kebebasan. Ketika di Paris, saat melukis matahari, ia tak bisa mengambil posisi
ditempat yang teduh, melainkan dengan membiarkan tubuhnya yang tanpa menutup
kepala dialiri oleh partikel matahari yang mencekit, seolah mendamba
lapisan-lapisan Ozon melepaskan nuklir dari inti matahari membakar tubuhnya
dengan semangatnya yang menderu. Ketika melukis
pemandangan ladang yang sering di bombardier angin mistral, sejenis badai, ia
pun harus rela di hempaskan oleh sapaun angin yang begitu kencang, membiarkan
diri terbawa bersama goresan-goresan impresifnya. Iya, dia membirakan angin
mistral mengahamtanya, langit malam yang kelam mencekitnya, bunga-bunga
matahari mencabuk imajinasi hingga ke titik ledak. Ketika semangatnya
meningkat, ia kehilangan selera makan, merasa kerasan hingga kelemahan tubuhnya
tak ia sadarkan sediktipun.
Sifat hiprsensitif yang begitu
tinggi terhadap kehidupan dan alam yang benar-benar memabukan, akhirnya menjadi boomerang
bagi dirinya sendiri. Epilepsy menyerang dirinya, halusinasi sering menghatui dirinya
hingga dengan ketaksadaran, ia memotong telinganya untuk di persembahkan buat Aurel, seorang gundik belia yang pernah dia dekati. Kemudian
sifatnya yang semakin tempramen yang sering membuatnya meyerang rekan-rekannya dan sebagai konsekuensinya dia harus di rehabilitasi di St. Remy, rumah sakit jiwa. Dan di tempat
itu pula seorang Vincent mengakhiri hidupnya dengan mengontak platuk revolver menyarang proyektil pada kepalanya.
Itulah Vincent Van Gogh, yang
dalam dirinya tersimpan energy pemberontakan. Walaupun di Paris ia selalu
bertemu dengan para pelukis ternama seperti Cezanne, Gauguin, Eduardo Manet,
Degas, Renoir, Calude Monet, Sisley, Courbet, Lautrect dan Seurat, tapi
Impresivitas Van Gogh memiliki karakter tersendiri. Karakter lukisan yang jika
dilihat membuat semesta berpadu dalam kesataun irama universal dengan sang pelihat. Lukisannya menjadi termahal
yang melewati rekor dunia saat ia telah tiada. Itulah Van Gogh, yang melukis bukan demi uang tapi
sebagai ekspresi diri yang abadi yang merupakan kekuatan pula kemauan terbesar hanya untuk mencipta dan mencipta.

