Sabtu, 23 Maret 2013

Lust for Life: Refleksi Kisah Vincent Van Gogh

Malerish, dalam bahasa Jerman berarti “indah, Permai”. Bentuk dasar dari kata ini adalah Maler yang berarti lukisan. Malerish bisa berarti indah seperti lukisan. Dan sepertinya lukisan menjadi sebuah standarisasi keindahan bagi orang-orang Jerman. Sementara di Indonesia mungkin saja terjadi hanya sebatas lirik lagu yang di populekan oleh Bob Tutupoli “ widuri indah bagai lukisan”. Lukisan memang memiliki khas keindahan tersendiri, itulah sebabnya banyak orang yang rela mengahabiskan miliyaran rupiah untuk membeli sebuah lukisan semata.

Dalam tulisan ini kita tidak membicarakan standarisasi keindahan yang nampaknya semakin kabur dalam dunia seni, tetapi sebagi refleksi bio-miotology atas kisah hidup pelukis ternama sekaligus termahal asal Belanda, Vincent Van Gogh, yang ditulis oleh Iriving Stone dalam Lust for Life, sebuah novel terjemahan yang di terbitkan oleh Serambi dalam versi bahasa, yang terdiri dari delapan Bab dengan ketebalan 574 halaman. Jika anda berserah pada kesetiaan poetika saat membaca novel ini, saya percaya kalau anda bakal masuk dalam kegairahan sastrawi menikmati dan menenggelamkan diri dalam diksi dan plot menggairahkan. Dan inilah novel pertama Irving stone yang sering menulis novel biografis sekaligus menjadi adikaryanya.

Vincent Van Gogh terlahir dalam keluarga kelas menengah, hampir sebagian keluarga besarnya memiliki beberapa salon, galeri yang menjual karya para pelukis ternama, baik berada di London, Prancis dan Belanda tanah kelahirannya. Ayahnya, Theodorus, adalah seorang pendeta, memiliki kepribadian yang kurang begitu diplomatis. Ibunya, Cornelia, adalah seorang Ibu rumah tangga yang sangat menyayangi putra-puterinya. Namun hidup dalam iklim katolik yang taat tidak serta membuat struktur kognitiv seorang Vincent menjadi pribadi yang patuh, taat seperti yang diinginkan Ayahnya. Vincent mengawali karirnya sebagai seorang pramuniaga disebuah galeri keluarganya di London. Disana telah muncul benih pembangkang dengan cara mengomentari setiap pembeli dengan komentar-komentar ekstrensik, yang kadang menyinggung pembeli, yang menurutnya hanya menghamburkan uang pada lukisan yang tak berkualitas

Di London, van Gogh jatuh cinta kepada Ursula, anak semata wayang ibu kostnya. Rasa cinta yang begitu dalam dan tulus kepada Ursula dibalas dengan jawaban mengecewakan akan telah bertunangan gadis itu. Vincent akan meninggalkan London untuk selamanya saat ia menyaksikan pernikahan Ursula bersama tunangannya. Jika anda pernah menyaksikan film The Oxford Murder, sebuah film di awali dengan sejarah penulisan Logico tractacus oleh Witgenstein, yang berkisah tentang penyelidikan kasus pembunuhan dengan menggunakan butterfly effect, fibonaci atau matematika phytagorean dan analisis bahasa Witgenstein untuk menelusuri siapa dalang pembunuhan oleh seorang Profesor dan mahasiswanya. Setelah serangakaian hipotesis telah digambarkan dan ending yang tak bisa ditebak, ternyata yang menjadi penyebab adalah masalah hati. Kekecewaan akibat tidak mendapatkan si buah hati yang menjadi penyebab. Seperti inilah bagian dari awal kekecewaan Vincent dalam memilih melukis sebagai media ekspresi.

Kekecewaan terhadap Ursula membuat seorang van Gogh kembali ke Belanda, dan memutuskan untuk menjadi pendeta, mengikuti jejak Ayahnya. Setelah banyak belajar menjadi Penginjil, Vincent dikirim ke Belgia, tepat di Borinage, sebuah kota penambang yang  dengan masyarakat yang hampir seluruhnya bekerja sebagai penambang batu bara. Ia selalu menyampaikan tentang perlunya hidup sederhana, senantiasa bersabar dan memiliki sifat kerendahan hati dalam menghadapi situasi sesulit apapun. Tetapi dalam menjalani profesi sebagai pengabar Injil itu, dia diliputi dengan pertanyan akan betapa tidak adilnya apa yang dia sampaikan dengan yang dia jalani.

Saat berbicara tentang kesederhanaan, ia mendapati dirinya berada dalam tunjangan yang lebih. Hari-hari demi hari yang dijalani para pekerja dengan serba kekurangan kemudian pakaian dan debu-debu tambang yang menempel tubuh pekerja sangat kontras dengan dirinya yang berada dalam kemewahan Gereja. Sebuah titik klimaks terjadi ketika kecelakaan bawah tanah yang menewaskan beberapa penambang yang membuat tangis histeris para istri dan anak-anak yang kehilangan kepala keluarga, membuat Vincent memberikan semua upahnya bagi isteri para pekerja dan membeli obat bagi yang terserang penyakit, hingga ia terkadang menahan lapar akibat kehabisan uang. Kemudian akibat rasa ingin begitu deket secara emosionalitas dengan dengan jemaatnya yang semuanya buruh penambang, membuat dia harus berpenampilan bak seorang gembel jalanan. Membirakan debu-debu batu bara menempel wajahnya. Akhirnya Vincent adalah seorang peng-Injil berpenapilan gembel, sering menahan lapar, menderita demam yang tinggi, bernasip sama seperti para penambang Borinage yang semakin tersiksa oleh system yang tak adil.

Pihak gereja telah mendengar kabar tentang Vincent dan sangat marah akan perilakunya yang menurut mereka adalah bidah. Pihak gerejapun memecatnya. Diri sinilah kepercayaan Vincent kepada Tuhan lambat laun hilang ditelan kekecewaan. Dimanakah Tuhan? Apakah Dia harus berdiam diri saat masyrakat borinage hidup dalam kelaparan yang menyiksa? Apakah sikapku yang ingin merasakan hal serupa dengan para pekerja adalah dosa yang memalukan?. Dalam kekecewaan dan penderitaannya itulah ia memutuskan diri untuk mengekspresikannya dengan memilih melukis sebagai media pembangkangan  yang nantinya dia jalani dengan kelaparan, penderitaan, ketrsiksaan yang memilukan.

Melukis Suara Hati di Tengah Matahari

“Melukis manusia dan pemandangan alam dalam kehidupan tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang keterampilan tangan dalam melukis tapi membutuhkan pembelajaran yang amat dalam tentang karya sastra. Dan aku tak bisa melukis kepala tanpa tahu apa yang terjadi dalam otak dan jiwa orang itu. dan untuk melukis kehidupan orang-orang tidak harus memahami hanya anatomi semata tetapi juga apa yang dirasakan dan dipikrkannya tentang dunia tempat mereka tinggal”. Inilah sebentuk jawaban Vincent baut Ayah dan Ibunya sekaligus pernyataan akan seluruh kehidupannyuna ia persembahkan untuk melukis.

Melukis baginya adalah sebuah ungkapan terdalam sanubari. Sebuah medium bahasa sebagai tempat pengejewantahan akan rasa tersiksa, penderitaan, kekecewaan akan sestem kehidupan kapitalisme yang menyengsarakan ribuan umat manusia, kekecewaan dan penderitaan akibat dianggapnya sebagai pebid’ah saat ia menjadi peng-Inji, kekecewaan akan cinta tulusnya yang tak dia dapatkan dari Ursula, Kay, Christine dan Aurel. Semunya seperti berkolaborasi membentuk irama kognitiv sebagai pribadi terasing yang dibenci peradaban. Menjadi orang terasing dan penyendiri membuat seorang Vincent memilih alam demi sebagai sahabat sejati tempat ia menuangkan rasa kekesalan. Peradaban telah menjadi   demikan buta dalam melihat ketersiksaan dan ketimpangan hidup yang dialami manusia. 

Iya, Melukis bagi Vincent adalah munjah sang jiwa pada alam. Dia tidak sekedar melukis seperti yang dikatakan Basoeki Abdullah sebagai dramatisasi realitas, tidak seperti Afandi memandang kejadian sebagai titik-titik kreatif, tidak juga seperti Renoir yang mementingkan keindahan warna. Melukis bagi Van Gogh adalah totalitas penyerahan diri, menyatukan emosi pada apa yang dia lukis sehingga dualitas subjek-obejk akan musnah saat memandang lukisan-lukisannya. Memandang lukisannya seolah kita sementara melihat sang pelukis dari jarak yang paling dekat, apa yang kita saksikan dari lukisannya adalah apa yang kita lihat pada diri Vincent.

Melukis bukanlah pula persoalan mereduksi setiap naluri manusia menjadi sekedar pernyataan dalam warna, garis dan nuansa yang abstrak. Namun bagi Van Gogh adalah memperdalam dan menghayati serta mendengarkan emosi yang spesifik sehingga warna, garis dan nuansa bukanlah persoalan pereduksian melainkan sebagai keseluruhan surface structure dan deep structure  sang pelukis, sebuah totalitas ekspresi kedirian. Seperti bahasa dalam term Heideggerian, melukis bagi Van Gogh adalah sebuah keberadaan yang mewajibkan melukis sebagai bagian dari bahasa eksitensial yang mustahil terpisah dari kehidupannya.

Itulah sebabnya ketika melukis matahari, ia membuat orang-orang merasa matahari itu berputar dengan kecepatan orbit yang hebat, menghasilkan gelombang serta partikel sinar dari kekuatan dahsyat. Ketika melukis ladang jagung ia menginginkan orang-orang akan merasakan atom-atom dalam jagung yang mendorong pertumbuhan mereka dan meledak. Melukis apel, ia ingin membuat orang merasakan sari buah apel itu mendesak keluar menembus bijinya. Ketika melukis potret seseorang ia ingin merasakan seluruh aliran kehidupan orang itu. ketika ia melukis petani yang sedang bekerja di ladang, ia ingin merasakan bagaimana petani itu mengalir dan menyatu dengan tanah, seperti yang terjadi pada lukisan jagungnya, dan tanah itu mengalir naik ke tubuh petani. Dia seperti ingin agar matahari tercurah pada petani, pada ladang, pada jagung, bajak, dan kuda sebagaimana mereka tercurah kembali kepada matahari. Memandang lukisannya seperti merasakan irama universal dimana segala sesuatu bergerak dalam hubungan kesatuan irama kehidupan.

Kegilaan yang menggetarkan Kanvas

“Tak satupun jiwa hebat yang terbebas dari kombinasi kegilaan”. Itulah pernyataan Aristotels yang jika tidak dipahami secara psikonalitik membuat kita terjebak dalam perpektif kegilaan sebagai sebuah penyakit yang sering diketawi peradaban. Kegilaan  bagi masyrakat modern semakin lama semakin terstirgma dan bernada konotasi buruk, dianggap sebagai sesuatu yang memalukan, berbahaya dan bisa mengancam keselamatan orang lain. Konsekuensinya orang yang dituduh memiliki kelainan jiwa selalu di jebloskan ke dalam tahanan rumah sakit jiwa yang semakin membuat orang-orang didalamnya menjadi tidak waras.

Para jenius seperti Alkesander Blok, Edgar Alan Poe, Mauppasant, Dickinson, Dante, Tolstoy, Nietszche dan masih banyak lagi jenius lainnya yang mengalami hal serupa, di judge oleh dunia kesehatan dan nomarmalitas modern sebagai kelainan jiwa yang mesti obati. Marquis De sade dalam The Quils, dengan kejeniusan disksinya mesti mendekam dan menulis di rumah sakit jiwa. John Nash dalam Beautiful Mind dijebloskan ke ruamh sakit jiwa, akibat delusi yang di alami. Delusi yang membuatnya, dalam film itu, mampu menciptakan teori dinamika penggerak dalam metematika yang meruntuhkan ekonomi modern Adam Smith yang pula menurutnya tak membawa kesejahteraan dan kedamaian bagi umat manusia. Sayangnya kita tak punya banyak halaman untuk membicarakan kegilaan sebagaimana dictum Aristotelses diatas, jadi saya hanya menyarankan untuk kita semua membuka kembali Devine Madness, Skestsa Biografis Sastrawan Gila yang ditulis oelh T. Wibowo, yang mungkin bisa sedikit membantu memahami term kegilaan dimaksud yang menurut saya sangat keliru di anggap sebagai penyakit kelainan jiwa oleh medis modern.

Hal serupa pula melanda Vincent Van Gogh, kecenderungan untuk menyendiri kemudian pribadi yang keras kepala, penampilan yang menyerupai gembel jalanan, jalan berfikir yang berbeda dengan mayoritas membuat dia dijauhi dan dituduh sebagai orang gila. Setelah diberhentikan sebagai peng-Injil, Vincent sering pergi ke bukit agar bisa memandang para pekerja dengan beragam aktifitas mereka, membuat sketsa para penemabang dengan irama emosi yang semakin menggila. Berhari-hari di Borinage ia jalani seperti itu, menumpahkan kekesalan dan tenggelam dalam emosi para penambang untuk menemukan karakter dan perasaan dan penderitaan terdalam para burh.  Walapun sketsa yang dia gambar, pada awalnya masih kurang sempurna dan banyak mendapatkan kritik, tapi dengan semangat dan emosi yang menggebu dia selalu mencoba dan mencoba, hingga membuat Theo, adiknya rela menysihkan sebagian pendapatannaya untuk membeli peralatan lukisan serta penopang perutnya selama sepuluh tahun.

Menumpahkan kekesalan, menarik diri tenggelam dalam pesona natural alam membuatnya merasa seperti berada dalam kebebasan. Ketika di Paris, saat melukis matahari, ia tak bisa mengambil posisi ditempat yang teduh, melainkan dengan membiarkan tubuhnya yang tanpa menutup kepala dialiri oleh partikel matahari yang mencekit, seolah mendamba lapisan-lapisan Ozon melepaskan nuklir dari inti matahari membakar tubuhnya dengan  semangatnya yang menderu. Ketika melukis pemandangan ladang yang sering di bombardier angin mistral, sejenis badai, ia pun harus rela di hempaskan oleh sapaun angin yang begitu kencang, membiarkan diri terbawa bersama goresan-goresan impresifnya. Iya, dia membirakan angin mistral mengahamtanya, langit malam yang kelam mencekitnya, bunga-bunga matahari mencabuk imajinasi hingga ke titik ledak. Ketika semangatnya meningkat, ia kehilangan selera makan, merasa kerasan hingga kelemahan tubuhnya tak ia sadarkan sediktipun.

Sifat hiprsensitif yang begitu tinggi terhadap kehidupan dan alam yang benar-benar memabukan, akhirnya menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Epilepsy menyerang dirinya, halusinasi sering menghatui dirinya hingga dengan ketaksadaran, ia memotong telinganya untuk di persembahkan  buat Aurel, seorang gundik belia yang pernah dia dekati. Kemudian sifatnya yang semakin tempramen yang sering membuatnya meyerang rekan-rekannya dan sebagai konsekuensinya dia  harus di rehabilitasi di St. Remy, rumah sakit jiwa. Dan di tempat itu pula seorang Vincent mengakhiri hidupnya dengan mengontak platuk revolver menyarang proyektil pada kepalanya. 

Itulah Vincent Van Gogh, yang dalam dirinya tersimpan energy pemberontakan. Walaupun di Paris ia selalu bertemu dengan para pelukis ternama seperti Cezanne, Gauguin, Eduardo Manet, Degas, Renoir, Calude Monet, Sisley, Courbet, Lautrect dan Seurat, tapi Impresivitas Van Gogh memiliki karakter tersendiri. Karakter lukisan yang jika dilihat membuat semesta berpadu dalam kesataun irama universal dengan sang pelihat. Lukisannya menjadi termahal yang melewati rekor dunia saat ia telah tiada. Itulah Van Gogh, yang melukis bukan demi uang tapi sebagai ekspresi diri yang abadi yang merupakan kekuatan pula kemauan terbesar  hanya untuk mencipta dan mencipta.

Kamis, 21 Maret 2013

Kecamuk Dada

Tak ada yang mengerikan, menyaksikan diri sendiri di bungkam dalam jeruji-jeruji patriarkis, dituduh bersalah kemudian di hukum tanpa memberikan terdakwa kesempatan untuk membela diri. Iya, semuanya terasa menyiksa sang jiwa dan teraniaya oleh ketidakmengertian kosntan, kebutaan mengerikan, ketulian kronis. Dadaku seperti sepetak tambak yang hari demi hari kekeruhan air tak pernah berubah warna selain lumpur tebal kecoklatan. Jika lumpur pasti menyerah pada ketengann air yang sesegera datangkan kejernihan. Tapi, dalam lautan dadaku seperti ada ikan-ikan buas yang haus mangsa dengan bebas. Terus, dan terus porandakan kekeruahn air sehingga yang terlihat hanyalah erangan ombak tak menentu sebagai bias akan dada yang tak lagi lapang.

Mata kepalaku seperti tersengat listrik, terkena imbas gejolak dada. Tak ada air mata mengembang apalagi mengalir. Mata menjadi panas, kepala seperti dipukul beban berat. Oh, ku tak sanggup menatap sehat hidupku yang memang tak sehat. Music dan orchestra menarik yang sering ku dengar berubah irama menjadi bising, yang jika terdengar hanya menimbulkan erangan menjemukan, memuakan telinga dalam, dan akhirnya, pemutar music adalah sasaran displacement.

Tak ada yang mengerti apalagi pahami. Komentar-komentar busuk yang berbau moralitas dan realitas bodoh selalu saja menghapiriku. Mereka seperti dokter akademis kaku yang selalu salah dalam mendiognosa satwa. Sementara aku yang semakin parah, sekarat tak dipandang sebagai sebuah tindak malpraktik yang keji. Tak ada yang bisa mendengar gelombang dalam lautan dadaku yang telah tumpah meruah, membanjiri setiap selokan pembuluh darah, mendesirkan badai kemarahan dalam nadiku. Tak ada udara tipis menyegarkan melintasi masuk dalam jejaring syarfku selain badai menyakiti. Oh, leherku mengidap radang mematikan, menyumbat ribuan kata yang harusnya mengalir, terkurung dalam rongga dada yang sesak, sumpek dan apabila kemarahan semakin menjadi, kata berubah diri menjadi pasak menusuk dadaku, porandakan sum-sum dan tulang-belungku, menyengat bagai sendi tengkorak terkena listrik. 

Panggil, panggilah para dokter bodoh-bodoh  itu. bedah-lah aku menjadi yang lain, injeksilah kadar solipsistic yang lebih, jika bisa ubahlah wajahku yang telah lama kehilangan senyum ceria. Dan biarkan jiwa ku dicabik-cabik oleh burung-burung ababil penyuka bangkai. Sebab aku tak bisa hidup dalam dunia dimana Ada-ku tidak berada disana. Separuh jiwaku telah terbelah, terhisap senja, ditelan bukit, menyinggahi tubuh sang Abadi. Hati meringis pilu melihat sebagian jiwaku meringkik sedih, menderita, melihat jiwaku selalu memanggil-manggil ke-Abadian. Aku membenci Kebahagiaan instan ini yang membuat air mata Senja Kemerahan kan jatuh tanpa bibirku yang mesti menelan manis-pahit hidup dalam menenun kata, merangkai abadi. Oh Rotasi Bumi, aku akan kembali. Bukan memutar balik waktu melainkan berubah menjadi hujan mengairi arsy dimana hidupku bakal Abadi. (Seribu air mata)  

Rabu, 20 Maret 2013

Paradox Kosmology (Gambaran Singkat)



Mungkin agak sedikit berbeda dengan apa yang dialami seorang John Horgan, salah seorang kritikus sastra Amerika yang hijrah dari kebiasaan sebagai kritikus menjadi seorang penulis ilmu pengetahuan. Di dalam karyanya The End of Science, ia mengaku kalau pada awalanya dunia sastra adalah suatu kebiasaan yang menyenangkan dimana semantic kata atau kalimat bisa menjadi jargon bagi seorang kritikus tuk berbicara tentang apapun. Kata yang polisemik seolah menjadi permainan bagi seorang kritkus sastra tuk mencari jejak dari sebuah tanda yang mungkin tiada akhir. Namun menurutnya, ternyata menulis tentang ilmu pengetahuan jauh lebih menyenangkan; membiarkan diri larut dalam kemisterusan semesta ketimbang menjadi seorang kritkus sastra.

Horgan tampaknya lupa bagaimana sastra bisa menadi instrument imajinatif bagi Einstein. Menulis sastra bagiku memiliki kesenangan tersendiri, dan kesenagan ini bukanlah membakukan makna dalam sebuah karya seperti determinasi dalam pengertian Hirsch dengan otonomy semantiknya, melainkan masuk dalam permaianan tanda yang tiada habisnya. Jika Max Plank berkata “kita tak pernah bisa memecahkan misteri alam raya karena pada dasarnya kita juga adalah misterius”, tidak mesti dipahami sebagai menyerahnya pengetahuan pada mistisisme, melainkan sebagai penanda pada pikiran kita yang tak terlepas dari potensinya untuk selalu bertanya sampai kapanpun. Jadi, seandainya saya berkesempatan bertemu Horgan, kalimat pertama yang ingin saya sampaikan yaitu jika Bohr berkata “saatnya biology mengadopsi gagasan fisika kuantum”, maka sastra pun harus seperti itu,  sebagai pencarian makna tak berkesudahan atas misteri dibalik sebuah tanda. Disini, saya agak berani menyimpulakn bahwa difference-nya Derrida (baca of Gramatology) mungkin memiliki nilai yang analog dengan atom partikelir. Tanpa sadar, Horgan sedang melanjutkan kebiasaannya sebagai kritikus sastra dimana menulis ilmu pengetahuan sebagai “objek” kajiannya.

Sains, sebagaimana pikiran kita, selalu membuka ruang bagi pertanyaan pertanyaan baru yang tak berksudahan baik itu dalam cosmology, fisikia, kimia, biology, sociology dan disiplin ilmu lainnya. Curt Godel dengan teori ketidaklengkapan matematikanya kemudian Heisenberg dengan teori ketidakpastian adalah tanda dimana semesta menyimpan sesuatu yang mungkin mustahil bagi pikiran kita untuk dipecahkan. Tapi sekali lagi apa yang mereka katakan, bagiku, adalah disposisi terhadap usaha yang selalu mencari dan mencari sebab dibalik suatu tanda.

Dalam The Tao of Physics bagaimana Capra menggambarkan Fisika modern adalah konsep atau paradigma yang didalamnya analog dengan gagasan-gagasan dari mistisisme timur Seperti Hindu, budaha, Zen ataupun Tao. Dalam mistisime timur dianjurkan agar segala sesuatu harus dilihat sebagai substansi yang berkesinambungan yang lahir dari suatu permenungan atau yang kita kenal dengan meditasi. Hal ini sudah barang tentu menjadi landasan bagiku yang disiplin keilmuan bukan pada ranah fisika, cosmology, astronomi dan lainnya yang selalu dipahami dalam ruang laboraturium, tetapi dalam tulisan ini yang inspirasi utamanya pada apa yang diaktakan Einstein bahwa Imagination More Important than knowledge, yakni sekedar menggunakan imaginasi yang tentunya tak lepas dari apa yang telah dibaca dari gagagsan para ilmuan, untuk berbicara seputar semesta dalam pengertian totalias (baca Holistik). Hawaking adalah orang mungkin tidak percaya akan big bang sebagai awal terciptanya semesta dari ketiadaan. Alih-alih "tiada waktu" sebelum Dentuman Besar, Hawking mengajukan konsep "waktu imajiner". Menurutnya, hanya ada selang waktu imajiner 1043 detik sebelum Dentuman Besar terjadi dan waktu "nyata" terbentuk setelah itu. Disini hawking pun berspekulasi, mengimajinasikan apa yang ada sebelum big bang. Hal yang sama juga terjadi dalam pikiran, seorang ahli biology perkembangan Amerika, Francis Crick yang beralih dari double helix atau struktur ganda DNA menjadi peneliti seputar pikiran mengtakan bahwa kesadaran tak lebih dari interaksi visual yang berhubunagn dengan jejaring syaraf, namun pertanyaan seputar apa peyebab relasi syaraf dengan molekuler tak jua mendapatkan jawaban memuasakan. Kesadaran atau pikiran masih menyisakan misteri bagi para ilmuan biology maupun psikology.


***

Sama sekali tak ada pretensi akademis untuk mengatakan tatanan kosmos masih menyisakan sebuah misteri ataupun memiliki sifat yang paradox. Hal ini hanya merupakan sebuah refleksi atas apa yang disimpulkan oleh para ilmuan terutama fisikawan setelah Einstein datang dengan relaivitas umumnya, kemudian bagaimana menyatukan gagasan ruang waktu dengan mekanika kuantum. Pertanyaan yang terbesar yang sering saya jumpai baik dalam fisika maupun teology adalah apa bentuk semesta ini saat sebelum Big bang?, itu jika orang yang percaya akan semesta diawali sedangn ledakan, kemudian apakah semesta ini abadi jika dipahami dalam osilasi semeseta-nya Hawking?. (Hal ini mengingkan saya akan perdebatan antara Ghazali dengan Ibnu Rusid tentang apakah semesta dari ketiadaan atau ada bersama Tuhan itu sendiri?).

Cosmology sebagaimana yang diketahui adalah kata yang berasal dari Yunani, kosmos, digunakan oleh Phytagoras untuk menggambarkan keselarasan dan keteraturan akan benda-benda langit. Kata cosmology disini akan sama seperti yang digunakan oleh Muratha, seorang jepang pengkaji karya Ibnu Arabi, Isteri dari W. Chittick, yang mendeskripsikan tatanan cosmology tidak hanya dalam pengertian Phytagoras, melainkan lebih pada deskripsi Platonian dimana struktur kosmos memiliki nilai yang analog dengan apa yang terdapat dalam jiwa raga kita sebagai manusia (air, api, tanah dan udara). Jadi dalam hal ini seperti phytagiroras, makrokosmos, alam semesta yang bisa dilihat secara fisis, dan mikrokosmos tidak hanya  pada atom partikulir, tetapi juga pada manusia yang menurut Arabi sebagai minikosmos.

Jika kita membaca tradisi  mistisime timur terutama dalam ajaran budha dan hindu, akan kita saksikan bagaimana pendangan dunia dilihat sebagai totalitas jagad raya. Antara manusia, alam hewan dan tumubuhan sama-sama berada dalam suatu hubungan kompleks yang saling mempengaruhi (baca Pencenayangan Tao) . Dalam mistisime timur, apa yang kita saksikan dalam tataran makro bukanlah semesta yang sebenarnya, hal ini nampaknya menjadi landasan bagi fisika kuantum dimana partikel-partikel subatomic memiliki perilaku yang sangat berbeda dengan yang kita saksikan para tataran makro. Nah, sifat paradox inilah yang menjadi acuan dalam tuisan ini, yaitu memahami cosmology sebagai totalitas semesta.

***

Pada tahun 1916, Albert Einstein mempublikasikan teori Relativitas Umumnya yang terkenal. Teori ini memberi dunia sebuah cara yang benar-benar baru dalam memandang alam semesta. Einstein mempostulatkan bahwa ruang dan waktu adalah ordinat dalam sistem ko-ordinat yang sama. Lebih jauh ia mengatakan bahwa ruang-waktu ini melengkung dengan kehadiran materi (baca Gravitasi).

Einstein mendasarkan geometri untuk ruang-waktu-nya pada struktur geometris ruang-waktu milik Riemann. Riemann adalah orang pertama yang mengatakan di depan umum bahwa ada kemungkinan alam semesta terbatas dan tak terbatas dengan memperlakukan ruang sebagai manifold three di permukaan sebuah hypersphere. Einstein giat untuk menjaga teorinya cocok dengan observasi-observasi pada waktu itu. Pada 1917, galaksi Bimasakti (galaksi kita) teramati sebagai alam semesta utuh (dengan serangkaian instrumen pada masa itu) yang tidak mengembang atau menyusut. Karena teori Einstein memprediksikan alam semesta dinamis, sementara pemikiran bahwa kita hidup di alam semesta statis begitu kuat, Einstein merevisi RU untuk memasukkan sebuah Konstanta Kosmologis  untuk memperoleh alam semesta statis namun relativistis. Namun teori-teori yang lebih baru menghidupkan kembali konstanta ini untuk memperkenalkan gaya anti-gravitasi jarak jauh (long range) guna menjelaskan perluasan jarak jauh di alam semesta.

Konstanta kosmologis —penemuan Albert Einstein yang menurutnya adalah sebuah keblunderan terbesarnya—mungkin saja dapat menjelaskan perubahan laju perluasan alam semesta (Baca Superstring). Inflasi semesta atau semesta yang mengembang seolah memaksa para teoritikus untuk lebih lagi dan membenarkan adanya anti gravitasi antar galaksi. Suatu keanehan saat kehadiran masa/materi dengan energy gravitasinya mestinya menyebakan ruang waktu melengkung, namun para fisikawan dibuat tercengang tatkala Edwin P. Hubble mendemonstrasikan bahwa galaksi-galaksi jauh sedang saling bergerak berpisah seolah seluruh kosmos menggembung secara seragam. Gerakan menjauh ini dinetralkan oleh gravitasi kolektif gugus-gugus galaksi dan semua planet, bintang, gas, dan debu yang dikandungnya. Dalam istilah geometris yang dianjurkan Einstein kepada para kosmolog, alam semesta kelihatannya “flat”.

Iya seperti penapat M. Krauss dalam Saintific American, kita seperti  hidup di alam semesta flat, sebuah keseimbangan kekuatan yang sempurna yang merupakan salah satu prediksi teori inflasi standar, mempostulatkan sebuah  awal perluasan pesat untuk merekonsiliasi beberapa paradoks dalam rumusan konvensional big bang. Walaupun kandungan tampak kosmos tidak cukup menjadikan alam semesta flat seperti yang dibayangkan Einstein sebelumnya, dinamika angkasa mengindikasikan bahwa ada jauh lebih banyak materi daripada yang kita ketahui. Sebagian besar material di galaksi dan kumpulan galaksi pasti tak terlihat oleh teleskop. Tapi banyak bukti kini mengimplikasikan bahwa materi tak tampak pun tidaklah cukup untuk menghasilkan alam semesta flat. Jika begitu, konstituen utamanya bukanlah materi tak tampak, dark matter, atau radiasi. Malah, alam semesta pasti tersusun sebagian besar dari bentuk energi yang lebih halus lagi yang menempati ruang hampa, termasuk yang berada di depan mata kita.

Jika kerja gravitasi adalah untuk melngkungkan ruang waktu, maka galaksi-galaksi haruslah saling mendekat satu sama lain. Tapi yang terjadi seperti dalam pengamatan Huble adalah sebalinknya. Iya Energy yang lebih halus, entah merupakan sebuah spekulasi teoritik untuk secera sementara menenagkan para fisikwan atas ketidkmampuan teleskop untuk mendeteksi energy aneh ini, ataukah kemungkian teoritik yang diajukan untuk kemudian mencari persamaan-persamaan dalam mewjudkan kebenaran akan adanya energy misterius yang sebagai penyebab galaksi saling menjauh?. 

Waullahualam...

Senin, 18 Maret 2013

Panggil Aku Gila



Jika mau,
sebutlah aku orang gila
Mengajakmu tertawa saat hati terbawa pedih
Mengajakmu menangis saat wajahmu tercipta
    hanyalah untuk tersenyum ceria
Sebutlah aku orang gila
yang coba mengukir bulan di tengah matahari
Atau, panggil aku orang sinting
yang mengharap kekupu terbang kalahkan elang

Jika bisa,
panggillah aku si lelaki murtad
Menganggap diri sebagai Tuhan
    dengan firman terasingku
Panggillah aku kafir yang menjadikanmu nabi
sabdahi ketakberdayaan jiwaku
panggillah aku atheis
menjadikan aku, aku-mu abadi
Sebutlah aku delusi
yang dalam ketakwajaran menjadikanmu kekupu
menghisap segala sari rasaku

Panggillah…panggillah apa pun yang kamu mau,
Asal jangan memanggilku milik yang lain

Karena kita telah abadi
Bisakah kau memanggilku 'suamimu'?