Jumat, 12 April 2013

Kebencian


Malam lirihkan sepi dan sunyi dalam balutan harmonie blok-blok sensasi
Kepulan asap tembakau menari indah dalam alunan dentingan sang pianis
beberpa pasang sepatu saling bertindisan di pojok kamar
      tampak seperti anak kucing diderah kedinginan
      memrelukan pelukan hangat sang kasih
Buku-buku terhambur disetiap sisi meja dan kasur
bantal terlihat lesuh dibebani jutaan resah
semuanya seperti berbicara dalam bahasa masing-masing
berdiri disetiap spectrum keangkuhan ego
tapi, akibat kemerduan hening dalam selaput pendengarku
semuanya berubah dan berdiri dalam tataran lanskap melodis
menyempurnakan kegelisahan yang mustahil terurai satus demi Satu

Seperti pemotret yang mematikan naturalitas menjadi selembar pandangan
Aku merasa seperti terlibat menetapkan masokhis menjadi seni bunuh diri
Mengukur kata-kata tuk matikan raga dalam selembar warni prasasti
Penggalan udara tipis sesekali memeluk selaput tipisku
sejenak berubah menjadi bongkahan cacian terhadap apapun
Membentuk imaji searah dalam lajur para kubisme
menyusun hasrat menjadi lukisan–lukisan berbentuk belati
Aku seperti terseret dalam ketiadaan sensasi
memandang segalanya menjadi kesuraman dalam segala masa
lalu, dalam keterpaksaan kodrati manusiawi
mengukirku dalam sejumput keindahan senyum kasih yang liarkan hati

Personalitas seperti melayang dalam geometric relativitas
Universalitas yang meridukan keindahan totalitas
Partikularitas yang terbebani gravitasi
Tatapanku masih terbawa akan kemerduan tiranik
Mengukur cinta dalam timbangan para kapitalis
Tuhan pun kupaksa hadir dalam setiap simulasi belaka
Aku benar-benar seperti Keledai bagi diri sendiri
Kemuidian mati dalam balutan apa yang menurut mereka ialah kegilaan
Ooh…Setiap nafasku mengusik puisi  dalam meditasi
Menjadi tatapan surgawi akan kematian yang nian merindu..

Tumpukan buku-buku dihadapanku seolah mati berkata-kata
Seribu maknawi menyasak dada tanpa bahasa yang mesti terekspansi
Segalanya bisu ..
Entah seperti apakah aku adalah pertanyaan sulit..
Tapi biarlah ratapan ini menjadi kebencian kronis
Agar hidup selalu dina di mata hidup yang kian bodoh,  membodohi

apa aku sedang marah ?
kepada siapa ?
tapi aku tak punya alasan tuk tidak mencaci kehidupan ini
bukankah inilah kewajaran kodrati?
tidakah kebahagiaan hanya milik orang-orang sok suci?

  

Senin, 01 April 2013

Puisi Terakhir


Seperti tanah basah dilanda kemarau panjang
Aku tak merasa diriku telah menjadi patahan-patahan yang lapuk
Tumbang terseret beliung walau tak sederuh badai yang menginjak
Tulang-belulang ku diremukkan percik halilintar berwajah kasih arsy
Tawaku disobek dari seraut pipit yang kian kerontang
Ialah penyeab  mata tak sadari bening basahi gersangnya jiwa

Hei kalian… aku begitu bodoh memaksa orang-orang waras menjadi gila
Buta melihat senyum yang semata rangkain selaput kulit tak ber-hawa
Mendamba rima menjadi melati dalam tarian kosmik tang tak pantas menari
   mengikuti ritmis alam yang harmonis
Tapi, kewarasan masih menjadi pilihan tindakan pula tulisan
Tawa mengkalpa dari guratan-guratan dawai nan maknawi
Melati berganti belati menusuk asa tanpa ampun
Merobek dinding kejenuhan konstan bak vampire haus darah

Apakah aku adalah bid’ah yang dijauhi gereja?
Apakah merubah absolutis Newton kosmik adalah canda gelimang dosa?
Oh, kau terlalu nista manarik hasta mati Galileo
Seolah kau adalah matahari pusat setiap cermin
Takut akan cerita de Sade
      yang mati diatas kaisah-kisah mesumnya yang terlalu kudus

senja kemarin menawari sebilah kisah
ialah kasih yang tak patut melegenda dalam dada..
pula faktisitasku seperti jatuh bergelimang dina
tapi akulah “kebenaran” yang mencitai layaknya Halaj mati terbunuh.