Bayang putih itu kian menjelma
Ia datang menerobos sisi ribuan gemintang
Ku lihat Rembulan telah bercermin dalam beningnya danau
O, Mataku seperti berontak pada takdirnya
mengikuti hukum optik yang keliru dari Ptolemus juga Keepler
Menatapmu adalah pemberontakan Oedipal
dan asa adalah benar melebihi tubuh tanpa organ
Entah, Barthes terlalu terlalu angkuh menebak kata hati
atau Gibran yang terlalu determinis pada personalitas
Semuanya direduksi menjadi kata berbisa seksualita
Dialah bayang
putih menjelma rima
Tanpa poros
bak lirisme para simbolis
Hati menerobos
silau dalam prinsip realitas
Berontak
akan prinsip kesetiaan ala Qais
Mendamba
Laila sebelum laut membelah pengunungan
Apakah hina
jika aku bermandikan danau walau telah disinari rembulan?
O, berpalinglah padaku wahai danau kecilku
Sebab rembulan
kan hilang darimu jika mentari mencekik..
Kaulah bayang
putih melebihi air yang mengkristal
Sinarilah
aku yang tak butuh apappun selain cahayamu..
O
hatiku, kau seperti mataku
Memberontak
pada kesetiaan ragawi
Mendamba
senyumu dalam kesetiaan poetika.
Apakah hina
jika aku bermandikan danau walau telah disinari rembulan?
berpalinglah
padaku wahai danau kecilku
Sebab rembulan
kan hilang darimu jika mentari mencekik..
Oh, aku
keliru dan Haytham benar .. ..
Cahayamulah
menapak laju di mataku
Hingga kulihat hanyalah dirimu.
4 U...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar