Jumat, 20 Juli 2012

Bayang Putih


Bayang putih itu kian menjelma
Ia datang menerobos sisi ribuan gemintang
Ku lihat Rembulan telah bercermin dalam beningnya danau
O, Mataku seperti berontak pada takdirnya
mengikuti hukum optik yang keliru dari Ptolemus juga Keepler

Menatapmu adalah pemberontakan Oedipal
dan asa adalah benar melebihi tubuh tanpa organ
Entah, Barthes terlalu terlalu angkuh menebak kata hati
atau Gibran yang terlalu determinis pada personalitas
Semuanya direduksi menjadi kata berbisa seksualita

Dialah bayang putih menjelma rima
Tanpa poros bak lirisme para simbolis
Hati menerobos silau dalam prinsip realitas
Berontak akan prinsip kesetiaan ala Qais
Mendamba Laila sebelum laut membelah pengunungan

Apakah hina jika aku bermandikan danau walau telah disinari rembulan?
O,  berpalinglah padaku wahai danau kecilku
Sebab rembulan kan hilang darimu jika mentari mencekik..
Kaulah bayang putih melebihi air yang mengkristal
Sinarilah aku yang tak butuh apappun selain cahayamu..

O hatiku, kau seperti mataku
Memberontak pada kesetiaan ragawi
Mendamba senyumu dalam kesetiaan poetika.

Apakah hina jika aku bermandikan danau walau telah disinari rembulan?
berpalinglah padaku wahai danau kecilku
Sebab rembulan kan hilang darimu jika mentari mencekik..
Oh, aku keliru dan Haytham benar .. ..
Cahayamulah menapak laju di mataku
Hingga  kulihat hanyalah dirimu.

              4 U...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar