Ponselku bergetar tanpa nada, dari getarannya aku tahu ini sebuah
pesan. Sebuah undangan untuk menghadiri diskusi tentang intertekstualitas.
Jangan heran diabad digital ini, undanganpun sudah bisa melalui pesan inbox dan
aku tahu sekarang jarang sekali ada muda-mudi, terutama yang pacarannya jarak
jauh, tidak lagi saling bersurat. Padahal ada kesan tersendiri didalamnya; kata
seorang teman kalau kita lebih memahami emosi sang pengirim melalui karakter
tulisannya. Betulkah?.
Intertekstualitas. Pasti yang tersirat adalah Julia Kristeva, seorang
postfeminis juga kritikus sastra asal Prancis. Dari Kristeva aku jadi sadar dan
mulai terima dipanggil Kakak oleh si dia. tepat bulan Juni Kristeva lahir, sama
bulan dengan perempuan itu yang juga lahir bulan juni. Aku lebih tua empat
tahun. Gemetaran kembali tubuhku. Entah, setiap kali teringat itu yang kualami.
Gemetar, bergerak kesani sini naluri lekaku. Aku bergerak membuka akun; agar
tetap seimbang, maka teruslah bergerak, itu yang aku tulis dalam akun—Bukan kata-kataku,
tapi Einstein dalam surat kepada anaknya, Eduardo.
Iya, dia perempuan itu. jika perespsi dunia modern tentang yang
bagaimanakah kecantikan, mungkin dia tak masuk dalam indeks linguistic modern
itu. Aku hanya merasakan adanya keselarasan kosmik yang bertuan dalam daftar
kebutuhan eksistensialku; sebuah eksistensi Heideggerian, yang darinya aku
merasakan sang Ada terlempar dalam suatu kemenjadian bersama, tentunya dengan
si dia. Dan kemenjadian ini memberikan suatu momen-momen manis tuk meraasakan getar
Harmonia Praestabilyta; suatu kepercayaan mutlak bahwa segala hal dimuka bumi,
semenjak bumi tercipta, selalu berada dalam keadaan yang seimbang, tersambung,
harmonis. Aku merasakan itu saat mengingitanya.
Aku harus terus bergerak, menjaga keseimbangan yang telah mengalami
fusi dari ketertagantungan pada suatu horizon tunggal. Suatu horizon idealitas
hermeneutic, yang dalam skala filosofis, merupakan bentuk kemenjadian, bentuk
kebutuhan keAkuanku yang darinya aku merasa hidupku lebih hidup sebagai anak zaman
yang butuh sentuhan halus dari dimensi Kasih keIlahian yang mungkin ada
padanya.
Sartre sedang ada padanya. Dan tentu, seperti doa Sartre, doakupun
sama akan kediriannya berakhir pada pemilik buku itu. pemilik buku, bukan
penulisnya. “sepertinya teman kita yang
satu ini sedang dalam masa keemasannya”. Canda seorang teman yang selalu
menangkap aura kebahagiaanku. “apa?? masa
keemasan?, akh kau, seperti the Golden Age filsafat timur aja”. Juga
jawabku bercanda. Saat itu aku dan teman-teman sedang santainya didepan biara,
tepat dibawah sebuah pohon mengkudu. Tembok pagar yang tidak terlalu tinggi,
sekitar satu setengah meter, dengan halaman tak begitu lebar membuat keakraban
semakin kentara dalam kedekatan badani. “tapi
untuk siapa tulisan dalam bloog itu, yang judulnya “menemukanmu dalam kata”. Oh,
ternyta mereka diam-diam sedang merekam perjalanaku. Huh, aku hanya terjebak
dalam Tanya yang memang sebuah jebakan. Mereka semua, teman-teman itu, tertawa
mengetahui ketersembunyianku. “Oh, kau
kurang cerdas menyembunyikan tanda, kawan”, kata seorang teman dibarengi
tawa canda.
Saat itu semua teman-teman bergegas menghadiri diskusi bertemakan
Intertekstualitas itu, aku memilih sendiri, bukan dalam biara tapi pergi ke
suatu tempat. Suatu tempat yang kurang lebih satu tahun kami telah berada
disana. Suatu perkampungan ditengah kota
yang menjadi bukti kebringasan pemodal, keberpihakan Negara pada kapitalisme
dimana telah terjadi suatu kejahatan adminstratif dari badan pertanahan untuk
membuat sertifikat ganda bahwa tanah yang kurang lebih tiga hektar itu milik
pemodal bukan milik masyarakt miskin tersebut. Suatu kejahatan yang menusuk
hati, yang karena naluri hewani dalam kemanusiaan, membuat kami juga satu rasa
dalam merasakan ketidakadilan itu. inilah alasan kami berada disana.
Tapi ditengah perjalanan, aku
menima pesan inbox. Ada suatu kebiasaan yang sering aku rasakan. Setiap dering
pesan, ada naluri yang bisa menebak kalau ini pesan dari si ini atau si itu.
dan tebakan itu selalu benar. Kini, tebakan itupun benar; dari perempuan itu. ada
suatu kebahagiaan tersendiri. Dia menjawab tawaranku untuk bersama menginjungi
gramedia. Maklum ada sedikit tamu pada saku celanaku; sebuah kesempatan untuk
memperkenalkan padanya tentang nama-nama penulis yang sering ia tanyakan. Tapi,
iya, inilah gramedia yang kurang begitu familiar dengan penulis-penulis yang
aku sukai.
Aku melihat waktu pada ponsel,
pukul 17:00. Perempuan itu pasti sudah rehat dari kerjanya. Ia memilih gramedia
karena berdektan dengan tempat kerjanya. Iya, disamping kuliah dia juga
bekerja, dan punya usaha kecil untuk mengurangi beban keluarga. Dan selanjutnya
baru aku tahu kalau dia juga memliki peran dan tanggung jawab dalam membiayai
kuliah adiknya disalah satu perguruan tinggi swasta. Kedua orang tuanya sudah
boleh dikata telah berada pada usia senja. Dan aku hanya tau kalau ibunya
adalah seorang penjahit. Sebuah pekerjaan mulia yang dipandang sebelah mata
oleh peradaban yang gila ini.
Aku bergegas, memutar arah menuju
gramedia. Sudah sekita 15 menit dia menunggu. Ketika langkahku mendekat, aku
melihat senyumnya menyapa dengan hangatnya. Ups, aku nampaknya kegeeran, selalu
mendefiniskan aura bahagianya hanya tertuju padaku. Huh, belum lama padahal aku
mengenalnya; Biar saja!!. Naluriku memiliki kemerdekaan tersendiri, membuatku
dalam sekejap menjadi seorang individualis, dan terserah apakah kepalaku
berimajinasi. Sebuah imajinasi ala fisikawan yang membayakan gemintang menjadi
nova, kemudian melahirkan bintang baru penuh cahaya dalam dada.
Kami bergegas masuk, menaiki tangga menuju lantai dua. Dalam
perjalanan kami berpapasan dengan banyak muda-mudi dengan penampilan-penampilan
serba wah. Maklum inilah Pasar modern, Mall. Aku jadi ingat Deleuze Guittari
yang manamkannya sebagai mesin hasrat. Semua bentuk kehidupan sosial telah
terkode dalam rangkaian modal: cinta pun terreduksi dalam seberapa besar
kemewahan yang melekat pada tubuh yang cepat membusuk ini. Apakah menuju
gramedia merupakan jebakan mesin hasrat?. Bisa iya, bisa tidak. Dan aku masih
tetap yakin, dan memang seperti itulah bahwa kepergianku ketengah hiruk pikuk
pameran seksualitas ini hanya ke seutu tempat; Gramedia yang kebetulan berada
pada lantai dua. Lebih dari itu aku belum pernah mengunjungi. Ups, satu kali
pernah, ke tempat penjualan kaset. Dalam ingatan aku membeli sebuah album,
coldplay. Aku senang sama lirik Yellow yang puitis itu. mungkin itu alasannya
selain mengunjungi toko buku itu.
Rak yang pertama kami kunjungi
adalah filsafat. ‘Maaf teman jalanku, ada sedikit ego mendorongku ke rak ini,
maaf, ini kebiasaan yang selalu mengunjunginya ketika ke toko buku, bukan saja
di gramedia. Disela-sela mata menjejali ratusan judul yang terpampang didepan
mata, aku sedikit mencuri pandangan; memandangnya yang juga sementar menjejali.
Semoga filsafat tidak asing baginya, dan aku smpat berfikir ia pasti bosan atau
tidak suka berada pada rak filsafat yang
kebanyak tidak diminat—ooh maaf perempuanku.
Rasa kekikukanku disampingnya
sedikit tergusur dengan beberapa judul yang aku temui, membuatku sempat
melupakan kalau aku punya teman jalan. Oh, mana dia?. Ternyata dia sudah
bergegas menuju rak psikology—semoga ini bukan bagian dari ketidaksukaannya
terhadap filsafat. Aku mendekatinya; “ada
judul yang kamu sukai?”, dia hanya tersenyum dan “lihat-lihat ajak Kak, trus sudah dapat judul yang dicari?”. “sudah,
sudah aku dapat, tapi apa dihargai atau tidak, aku tidak tahu”.” Kan yang
terpajang disini semanya dijual, Kak,?. Aku memandangnya dengan tatapan
canda, tawa tipis hiasi mataku yang sedikit sipit ini. “akh, aku salah bercanda, belum saatnya”. Batinku.
Aku mengajaknya ke rak sastra.
Kali ini bukan pada egoku, tapi diapun suka pada sastra. Satu demi satu ia lucuti
dan menanyakan padaku tentang karya yang dia pegang. Aku seperti Mangunwijaya yang
dengan sombongnya mencaplok kelayakan sebuah karya. Oh, ini kesempatan untuk
lebih dekat, atau kesempatan untuk menunjukan seberapa besar penguasaan
literaturku?. Terasa sombong aku dalam jawaban yang ku berikan, tapi syukur,
sepanjang yang ia tanyakan, itu yang aku tahu. Bukan sombong, tapi keuntungan
dari memiliki banyak informasi.
“Gimana Kak, dengan TOR untuk kegiatan nanti?”. Tanyanya membuatku
terkejut, “oh iya, sudah selesai, tinggal
dicopy aja”. Maaf teman jalanku, aku berbohong. Belum selesai, tinggal
beberapa paragraph. Dari pertemuan
dengan komunitas kemarin, aku ditugasi untuk membuat Tor, sebuah pertemuan yang
membuatku lebih bebas menatapnya ketika bicara; dia memimpin rapat. Sekali lagi
Maaf perempuanku, disaat pertemuan itu, aku tidak punya perthatian pada apa
yang dibicarakan. Hanya satu perhatian utuh; Kedirianmu saat berada dalam
kata-kata yang kau ucapkan.
Diluar sana matahari semakin
rindu pada peraduaannya, sudah pasti jingga mega mewarnai pegungunan dengan
permainya. Ia meminta padaku tuk pulang. Kami bergegas keluar. Huh, satu
kesempatan lagi. Dia tak mengendarai roda dua seperti biasanya. “aku antarkan pulang”? sebuah tawaranku
dengan irama yang pasti dibenci, seperti menawari dengan hati yang kurang
ikhlasi. “aku antar yah”. kuulangi lagi tawaran. Ia mengiykan. Aku
memboncenginya, melewati kampus dimana ia sedang menempuh kuliahnya. Dan suara
muadzin membuat kami memasuki kampus, menuju mesjid.
“Ayo kak, sudah mau magrib”. Wah, ia mengajakku shalat.
Iya, duluan aja. Jawabku
Ayo, sama-sama, kak.
Sama jawabanku, “iya, duluan
aja”.
Ia bergegas masuk, berharap
akupun menuju tempat wudhu. Saat itu aku tak mengambil resiko untuk memasuki
mesjid. Terserah, mau dibilang malas beribadah. Terserah. Tapi aku punya
alasan. Kenapa tidak sahalat, kak”. Tanyanya
setelah kembalinya dari mesjid, aku tetap duduk
seperti tukang parkir menunggu empunya sang kendaraan. Aku tersenyum, menghidupkan mesin kendaraan.
Bukan mengantranya ke rumah, tapi ke rumah temannya yang sudah janjian.
Sepulanngya aku, selang beberapa menit tiba dirumah, pesan inbox bertuan kembali
di ponselku. Naluriku bunar juga. Pesan dari orang yang sudah menemaniku ke
gramedia tadi. “kenapa tadi tidak shalat,
kak?”. Aku hanya tersenyum membacanya, tapi bingung juga apa yang mesti ku
jawab. “aku punya alasan tersendiri untuk
tidak sahalat tadi”. “ kalau lebih pribadi alasannya jangan dijawab, kak”. Jawabnya
memiliki irama yang lain. Semoga bukan kegeeran lagi. “saya pikir ini bukan soal pribadi atau macamnya, dan alasannya sederhana,
aku sedang tidak stabil tuk masuk mesjid”. Nampknya ia bingung dengan
jawaban yang memang membingungkan itu membuat balasannya hanya dengan satu
tanda; tanda Tanya. Dan suatu insiden menarik katika membelas pesannya kemabli;
aku salah replay, yang terkirim bukan ke dianya, tapi ke seorang teman
perempuan, yang kebetulan sedang meminta kehadiranku tuk mengjenguknya yang
lagi terbaring sakit. Sial!!, salah kirim itu membuat jalan menjadi terhalang.
Ia menyangka aku memiliki suatu hubungan dengan orang yang salah kirim pesan
tadi.
Tenang, aku punya sejuta cara.
Dan kepalaku teringat Freud, si Psikonalis yang sok tahu itu. “apa maksudnya”?.
Tanyana setelah aku membalas pesan tentang sikap saat magrib tadi; orang
memasuki rumah ibadah itu sebagian karena dorongan seksual, aku membalasnya.
Tapi, ada energy semacam kecemburuan yang bersarang dalam pesan itu. “besok
jadi kan kita ke rumah Guru SMA yang sudah janjian kemarin?” tanyaku kembali
bermaskud mengurangi energy pathology tersebut. Jawabanya membuat aku sedikit
tersenyum.
Aku kembali pulang membuka hasil
burun ke gramedia, lima buah buka; Biografi Eisntein, Arkeology Pengetahuan,
Foucault, Novel Biografis Van Gogh, Esai kritik seni dan Sastra, ST Sunardi dan
… … akh saya lupa yang satunya. Ada kebanggaan dan kesenangan tersendiri saat
melihat tumpukan buku-buku ku. Suatu kesan imajiner, yang saat memandangnya,
membuatku seperti berada dalam perpustakaan biara benediktin yang penuh dengan
literratur-literatur tua. Oh, harapanku semakin mendekati kenyataan; punya
perpustakaan pribadi di pedalaman yang bisa dikases semua kalangan.
Relativitas Einstein menemukan
kebenaran. Membuat hari kini brganti esok bagai laju cahya. Aku mengundang,
sekitar emapt orang, teman untuk menemaniku dengan perempuan itu tuk pergi ke
rumah guru SMA, yang juga orang tua dari teman akrabku. Saat pukul delapan
malam. Menerobos macat kota dengan jalanan yang berbebelok sampailah juga kami.
Rumah guru itu lumayan jauh, dipinggiran kota. Sebuah tempat idaman bagi mereka
yang butuh ketenangan dari bising knalpot deru kendaraan. Yang memecah telinga.
Waktu telah menunjukan pukul 11
malam Setelah bertemu dan membiacarakn agenda komunitas dengan guru itu.
khendak tuk kembali tertunda oleh hujan yang saat itu cukup deras. Akh, kami
bertukar caritas, baik dengan teman maupun dengan guru yang bagiku cukup
mengasikan. Darian demi deraian hujan tak jua menunjukan titik perhentian
berbanding terbalik dengan arah jarum yang kian berputar. Sudah pukul 12 malam.
Aku melihat kearah perempaun itu yang semenjak tadi menunjukan kegelisahan.
Iya, kegelisahan karena jam segini masih belum juga berada dirumah.
“Bermalam aja nak, sudah terlalu malam untuk pulang”. Kata guru
itu. diapun menelepon ibunya, memohon izin tuk nginap diruamh teman tanpa aku
tahu alasan pasti yang diberikan. Dan ibunya merestui. Oh, suatu kesempata
emas, atau mungkin seperti kata teman-teman tentang the golden age untuk
bertukar cerita dengannya?.
Sepertinya teman-teman ku
mengerti apa mauku. Mereka semuanya menuju kamar istrahat. Bukan tuk istrahat,
tapi berbagi cerita sambil mengintip nakal apa yang aku ceritakan dengan
perempaun itu diruang tamu , yang kebetulan dekat dengan ruang kamar. Ada
gitar, aku meraihnya dan memetiak beberapa nada. Dia tersipu mendengar. Mungkin
suatu pengetahuan baru baginya kalau aku bisa memainkan musik. Dan dikemudian
nanti kita memilik banyak waktu untuk berbicara tentang bagiamana hubungan
antara music, fisika, filsafat dan sastra.
Malam semakin larut, hujan tak
jua surut. Inilah bahasa alam dalam deraian hujan. Jika didengar perlahan pada
gemericik, suara kejujuran hakiki Nampak sunyi dari sentuhan manusia yang kian
jauh dari kebenaran, baik dalam tindak pula bertutur. Perasaanku disaat itu
seperti gerimis yang ditembusi kilasan sinar tipis matahari. Jika kau berada
dalam kesamaan spektrum denganku, maka yang kau saksikan adalah lintasan warni
pelangi tengah melengkung indah dalam dadaku.
Curah hujan hangakatn malam itu
membuat Ia banyak bertanya tentang Nietzsche, yang kebetulan saat itu sedang ia
pegang salah satu karyanya, Syahwat Keabadian. Sebuah buku kumpulan puisi penuh
lautan metaphor. Maaf, aku tak bisa berani dan banyak menjawab seperti apa sang
filsuf yang dituduh gila itu. metaphor bukanlah teks mekanis yang gampang
diinterpretasi. Sama seperti kedirianmu, ialah metaphor yang menyebabkan aku
belum teralu berani mendefisnikan kesunyianmu yang terlampau mistery.
Waktu menjadi dinihari, kami
memutusukan istrirahat. Teman-temankupun tak lagi terdengar candaan mereka. Aku
bergegas menuju ruang istrirahat mengikuti teman-teman, sementara dia menuju
bergabung dengan ibu guru SMA itu. oh, suasana hati menjadi melankoli
menciptakan getaran tubuh yang tak seimbang. Terasa hangat hinggapi seluruh
tubuh. Kehangatan berupa suatu rasa kekurangan yang masih terganjal sehingga
membutuhkan sesuatu pula untuk menetralkan ketidakseimbangan ini. Desah nafas
teman-teman dalam lelap tidur, dan aku semakin terlelap dalam kebutuhan
eksistensial yang masih tertunda. Mungkah dia merasakan getaran tubuhku dikamar
sebelah yang hanya dipisahkan oleh dinding ini?.
Ponsel kembali bergetar. Dengan
cepat aku buka. Dan, pesan singkat darinya “selamat
tidur kak, terima kasih untuk malam ini”. Awh, aku paling tak suka dengan
getaran tubuh seperti ini. Sesuatu yang kuanggap mistery telah begitu dekat,
rapat namun masih menyisakkan suatu enigma menyurpai kotak Pandora. Terseliplah
ketakutan mendalam untuk terlibat dalam suatu tuntutan harmoni yang mengecamuk
dada. Aku semakin gelisah, degup jantung
mengencang, nafas kadang menghembus panjang layaknya diksi Clavino yang tak jua
menemukan titik dalam Gli Amory. Apa yang mesti aku balas?. Sampai disini,
ketika ketakutan itu melanda ada sedkit keseimbangan yang aku dapatakan tuk
membalas “terima kasih juga”. Namun,
berselang kemudian, tubuh kembali gemetar memaksa tangan yang lemah ini tuk
kembali menghampirinya melalui pesan pula, “malam
ini aku begitu sayang padamu”. Tanpa
menunggu lama “semoga bukan saja malam ini
kak”. Ohh, tidurku pasti kesima dalam bahagia.

