Selasa, 08 Juli 2014

Bagian Keempat



Ponselku bergetar tanpa nada, dari getarannya aku tahu ini sebuah pesan. Sebuah undangan untuk menghadiri diskusi tentang intertekstualitas. Jangan heran diabad digital ini, undanganpun sudah bisa melalui pesan inbox dan aku tahu sekarang jarang sekali ada muda-mudi, terutama yang pacarannya jarak jauh, tidak lagi saling bersurat. Padahal ada kesan tersendiri didalamnya; kata seorang teman kalau kita lebih memahami emosi sang pengirim melalui karakter tulisannya. Betulkah?.

Intertekstualitas. Pasti yang tersirat adalah Julia Kristeva, seorang postfeminis juga kritikus sastra asal Prancis. Dari Kristeva aku jadi sadar dan mulai terima dipanggil Kakak oleh si dia. tepat bulan Juni Kristeva lahir, sama bulan dengan perempuan itu yang juga lahir bulan juni. Aku lebih tua empat tahun. Gemetaran kembali tubuhku. Entah, setiap kali teringat itu yang kualami. Gemetar, bergerak kesani sini naluri lekaku. Aku bergerak membuka akun; agar tetap seimbang, maka teruslah bergerak, itu yang aku tulis dalam akun—Bukan kata-kataku, tapi Einstein dalam surat kepada anaknya, Eduardo.

Iya, dia perempuan itu. jika perespsi dunia modern tentang yang bagaimanakah kecantikan, mungkin dia tak masuk dalam indeks linguistic modern itu. Aku hanya merasakan adanya keselarasan kosmik yang bertuan dalam daftar kebutuhan eksistensialku; sebuah eksistensi Heideggerian, yang darinya aku merasakan sang Ada terlempar dalam suatu kemenjadian bersama, tentunya dengan si dia. Dan kemenjadian ini memberikan suatu momen-momen manis tuk meraasakan getar Harmonia Praestabilyta; suatu kepercayaan mutlak bahwa segala hal dimuka bumi, semenjak bumi tercipta, selalu berada dalam keadaan yang seimbang, tersambung, harmonis. Aku merasakan itu saat mengingitanya.

Aku harus terus bergerak, menjaga keseimbangan yang telah mengalami fusi dari ketertagantungan pada suatu horizon tunggal. Suatu horizon idealitas hermeneutic, yang dalam skala filosofis, merupakan bentuk kemenjadian, bentuk kebutuhan keAkuanku yang darinya aku merasa hidupku lebih hidup sebagai anak zaman yang butuh sentuhan halus dari dimensi Kasih keIlahian yang mungkin ada padanya.

Sartre sedang ada padanya. Dan tentu, seperti doa Sartre, doakupun sama akan kediriannya berakhir pada pemilik buku itu. pemilik buku, bukan penulisnya. “sepertinya teman kita yang satu ini sedang dalam masa keemasannya”. Canda seorang teman yang selalu menangkap aura kebahagiaanku. “apa?? masa keemasan?, akh kau, seperti the Golden Age filsafat timur aja”. Juga jawabku bercanda. Saat itu aku dan teman-teman sedang santainya didepan biara, tepat dibawah sebuah pohon mengkudu. Tembok pagar yang tidak terlalu tinggi, sekitar satu setengah meter, dengan halaman tak begitu lebar membuat keakraban semakin kentara dalam kedekatan badani. “tapi untuk siapa tulisan dalam bloog itu, yang judulnya “menemukanmu dalam kata”. Oh, ternyta mereka diam-diam sedang merekam perjalanaku. Huh, aku hanya terjebak dalam Tanya yang memang sebuah jebakan. Mereka semua, teman-teman itu, tertawa mengetahui ketersembunyianku. “Oh, kau kurang cerdas menyembunyikan tanda, kawan”, kata seorang teman dibarengi tawa canda.

Saat itu semua teman-teman bergegas menghadiri diskusi bertemakan Intertekstualitas itu, aku memilih sendiri, bukan dalam biara tapi pergi ke suatu tempat. Suatu tempat yang kurang lebih satu tahun kami telah berada disana.  Suatu perkampungan ditengah kota yang menjadi bukti kebringasan pemodal, keberpihakan Negara pada kapitalisme dimana telah terjadi suatu kejahatan adminstratif dari badan pertanahan untuk membuat sertifikat ganda bahwa tanah yang kurang lebih tiga hektar itu milik pemodal bukan milik masyarakt miskin tersebut. Suatu kejahatan yang menusuk hati, yang karena naluri hewani dalam kemanusiaan, membuat kami juga satu rasa dalam merasakan ketidakadilan itu. inilah alasan kami berada disana.

Tapi ditengah perjalanan, aku menima pesan inbox. Ada suatu kebiasaan yang sering aku rasakan. Setiap dering pesan, ada naluri yang bisa menebak kalau ini pesan dari si ini atau si itu. dan tebakan itu selalu benar. Kini, tebakan itupun benar; dari perempuan itu. ada suatu kebahagiaan tersendiri. Dia menjawab tawaranku untuk bersama menginjungi gramedia. Maklum ada sedikit tamu pada saku celanaku; sebuah kesempatan untuk memperkenalkan padanya tentang nama-nama penulis yang sering ia tanyakan. Tapi, iya, inilah gramedia yang kurang begitu familiar dengan penulis-penulis yang aku sukai.

Aku melihat waktu pada ponsel, pukul 17:00. Perempuan itu pasti sudah rehat dari kerjanya. Ia memilih gramedia karena berdektan dengan tempat kerjanya. Iya, disamping kuliah dia juga bekerja, dan punya usaha kecil untuk mengurangi beban keluarga. Dan selanjutnya baru aku tahu kalau dia juga memliki peran dan tanggung jawab dalam membiayai kuliah adiknya disalah satu perguruan tinggi swasta. Kedua orang tuanya sudah boleh dikata telah berada pada usia senja. Dan aku hanya tau kalau ibunya adalah seorang penjahit. Sebuah pekerjaan mulia yang dipandang sebelah mata oleh peradaban yang gila ini.

Aku bergegas, memutar arah menuju gramedia. Sudah sekita 15 menit dia menunggu. Ketika langkahku mendekat, aku melihat senyumnya menyapa dengan hangatnya. Ups, aku nampaknya kegeeran, selalu mendefiniskan aura bahagianya hanya tertuju padaku. Huh, belum lama padahal aku mengenalnya; Biar saja!!. Naluriku memiliki kemerdekaan tersendiri, membuatku dalam sekejap menjadi seorang individualis, dan terserah apakah kepalaku berimajinasi. Sebuah imajinasi ala fisikawan yang membayakan gemintang menjadi nova, kemudian melahirkan bintang baru penuh cahaya dalam dada.

Kami bergegas masuk,  menaiki tangga menuju lantai dua. Dalam perjalanan kami berpapasan dengan banyak muda-mudi dengan penampilan-penampilan serba wah. Maklum inilah Pasar modern, Mall. Aku jadi ingat Deleuze Guittari yang manamkannya sebagai mesin hasrat. Semua bentuk kehidupan sosial telah terkode dalam rangkaian modal: cinta pun terreduksi dalam seberapa besar kemewahan yang melekat pada tubuh yang cepat membusuk ini. Apakah menuju gramedia merupakan jebakan mesin hasrat?. Bisa iya, bisa tidak. Dan aku masih tetap yakin, dan memang seperti itulah bahwa kepergianku ketengah hiruk pikuk pameran seksualitas ini hanya ke seutu tempat; Gramedia yang kebetulan berada pada lantai dua. Lebih dari itu aku belum pernah mengunjungi. Ups, satu kali pernah, ke tempat penjualan kaset. Dalam ingatan aku membeli sebuah album, coldplay. Aku senang sama lirik Yellow yang puitis itu. mungkin itu alasannya selain mengunjungi toko buku itu.

Rak yang pertama kami kunjungi adalah filsafat. ‘Maaf teman jalanku, ada sedikit ego mendorongku ke rak ini, maaf, ini kebiasaan yang selalu mengunjunginya ketika ke toko buku, bukan saja di gramedia. Disela-sela mata menjejali ratusan judul yang terpampang didepan mata, aku sedikit mencuri pandangan; memandangnya yang juga sementar menjejali. Semoga filsafat tidak asing baginya, dan aku smpat berfikir ia pasti bosan atau tidak suka berada pada rak  filsafat yang kebanyak tidak diminat—ooh maaf perempuanku.

Rasa kekikukanku disampingnya sedikit tergusur dengan beberapa judul yang aku temui, membuatku sempat melupakan kalau aku punya teman jalan. Oh, mana dia?. Ternyata dia sudah bergegas menuju rak psikology—semoga ini bukan bagian dari ketidaksukaannya terhadap filsafat. Aku mendekatinya; “ada judul yang kamu sukai?”, dia hanya tersenyum dan “lihat-lihat ajak Kak, trus sudah dapat judul yang dicari?”. “sudah, sudah aku dapat, tapi apa dihargai atau tidak, aku tidak tahu”.” Kan yang terpajang disini semanya dijual, Kak,?. Aku memandangnya dengan tatapan canda, tawa tipis hiasi mataku yang sedikit sipit ini. “akh, aku salah bercanda, belum saatnya”. Batinku.

Aku mengajaknya ke rak sastra. Kali ini bukan pada egoku, tapi diapun suka pada sastra. Satu demi satu ia lucuti dan menanyakan padaku tentang karya yang dia pegang. Aku seperti Mangunwijaya yang dengan sombongnya mencaplok kelayakan sebuah karya. Oh, ini kesempatan untuk lebih dekat, atau kesempatan untuk menunjukan seberapa besar penguasaan literaturku?. Terasa sombong aku dalam jawaban yang ku berikan, tapi syukur, sepanjang yang ia tanyakan, itu yang aku tahu. Bukan sombong, tapi keuntungan dari memiliki banyak informasi.

“Gimana Kak, dengan TOR untuk kegiatan nanti?”. Tanyanya membuatku terkejut, “oh iya, sudah selesai, tinggal dicopy aja”. Maaf teman jalanku, aku berbohong. Belum selesai, tinggal beberapa paragraph.  Dari pertemuan dengan komunitas kemarin, aku ditugasi untuk membuat Tor, sebuah pertemuan yang membuatku lebih bebas menatapnya ketika bicara; dia memimpin rapat. Sekali lagi Maaf perempuanku, disaat pertemuan itu, aku tidak punya perthatian pada apa yang dibicarakan. Hanya satu perhatian utuh; Kedirianmu saat berada dalam kata-kata yang kau ucapkan.

Diluar sana matahari semakin rindu pada peraduaannya, sudah pasti jingga mega mewarnai pegungunan dengan permainya. Ia meminta padaku tuk pulang. Kami bergegas keluar. Huh, satu kesempatan lagi. Dia tak mengendarai roda dua seperti biasanya. “aku antarkan pulang”? sebuah tawaranku dengan irama yang pasti dibenci, seperti menawari dengan hati yang kurang ikhlasi. “aku antar yah”. kuulangi lagi tawaran. Ia mengiykan. Aku memboncenginya, melewati kampus dimana ia sedang menempuh kuliahnya. Dan suara muadzin membuat kami memasuki kampus, menuju mesjid.
“Ayo kak, sudah mau magrib”. Wah, ia mengajakku shalat.
Iya, duluan aja. Jawabku
Ayo, sama-sama, kak.
Sama jawabanku, “iya, duluan aja”.
Ia bergegas masuk, berharap akupun menuju tempat wudhu. Saat itu aku tak mengambil resiko untuk memasuki mesjid. Terserah, mau dibilang malas beribadah. Terserah. Tapi aku punya alasan. Kenapa tidak sahalat, kak”. Tanyanya setelah kembalinya dari mesjid, aku tetap duduk  seperti tukang parkir menunggu empunya sang kendaraan.  Aku tersenyum, menghidupkan mesin kendaraan. Bukan mengantranya ke rumah, tapi ke rumah temannya yang sudah janjian. Sepulanngya aku, selang beberapa menit tiba dirumah, pesan inbox bertuan kembali di ponselku. Naluriku bunar juga. Pesan dari orang yang sudah menemaniku ke gramedia tadi. “kenapa tadi tidak shalat, kak?”. Aku hanya tersenyum membacanya, tapi bingung juga apa yang mesti ku jawab. “aku punya alasan tersendiri untuk tidak sahalat tadi”. “ kalau lebih pribadi alasannya jangan dijawab, kak”. Jawabnya memiliki irama yang lain. Semoga bukan kegeeran lagi. “saya pikir ini bukan soal pribadi atau macamnya, dan alasannya sederhana, aku sedang tidak stabil tuk masuk mesjid”. Nampknya ia bingung dengan jawaban yang memang membingungkan itu membuat balasannya hanya dengan satu tanda; tanda Tanya. Dan suatu insiden menarik katika membelas pesannya kemabli; aku salah replay, yang terkirim bukan ke dianya, tapi ke seorang teman perempuan, yang kebetulan sedang meminta kehadiranku tuk mengjenguknya yang lagi terbaring sakit. Sial!!, salah kirim itu membuat jalan menjadi terhalang. Ia menyangka aku memiliki suatu hubungan dengan orang yang salah kirim pesan tadi.

Tenang, aku punya sejuta cara. Dan kepalaku teringat Freud, si Psikonalis yang sok tahu itu. “apa maksudnya”?. Tanyana setelah aku membalas pesan tentang sikap saat magrib tadi; orang memasuki rumah ibadah itu sebagian karena dorongan seksual, aku membalasnya. Tapi, ada energy semacam kecemburuan yang bersarang dalam pesan itu. “besok jadi kan kita ke rumah Guru SMA yang sudah janjian kemarin?” tanyaku kembali bermaskud mengurangi energy pathology tersebut. Jawabanya membuat aku sedikit tersenyum.

Aku kembali pulang membuka hasil burun ke gramedia, lima buah buka; Biografi Eisntein, Arkeology Pengetahuan, Foucault, Novel Biografis Van Gogh, Esai kritik seni dan Sastra, ST Sunardi dan … … akh saya lupa yang satunya. Ada kebanggaan dan kesenangan tersendiri saat melihat tumpukan buku-buku ku. Suatu kesan imajiner, yang saat memandangnya, membuatku seperti berada dalam perpustakaan biara benediktin yang penuh dengan literratur-literatur tua. Oh, harapanku semakin mendekati kenyataan; punya perpustakaan pribadi di pedalaman yang bisa dikases semua kalangan.

Relativitas Einstein menemukan kebenaran. Membuat hari kini brganti esok bagai laju cahya. Aku mengundang, sekitar emapt orang, teman untuk menemaniku dengan perempuan itu tuk pergi ke rumah guru SMA, yang juga orang tua dari teman akrabku. Saat pukul delapan malam. Menerobos macat kota dengan jalanan yang berbebelok sampailah juga kami. Rumah guru itu lumayan jauh, dipinggiran kota. Sebuah tempat idaman bagi mereka yang butuh ketenangan dari bising knalpot deru kendaraan. Yang memecah telinga. 

Waktu telah menunjukan pukul 11 malam Setelah bertemu dan membiacarakn agenda komunitas dengan guru itu. khendak tuk kembali tertunda oleh hujan yang saat itu cukup deras. Akh, kami bertukar caritas, baik dengan teman maupun dengan guru yang bagiku cukup mengasikan. Darian demi deraian hujan tak jua menunjukan titik perhentian berbanding terbalik dengan arah jarum yang kian berputar. Sudah pukul 12 malam. Aku melihat kearah perempaun itu yang semenjak tadi menunjukan kegelisahan. Iya, kegelisahan karena jam segini masih belum juga berada dirumah.

“Bermalam aja nak, sudah terlalu malam untuk pulang”. Kata guru itu. diapun menelepon ibunya, memohon izin tuk nginap diruamh teman tanpa aku tahu alasan pasti yang diberikan. Dan ibunya merestui. Oh, suatu kesempata emas, atau mungkin seperti kata teman-teman tentang the golden age untuk bertukar cerita dengannya?.

Sepertinya teman-teman ku mengerti apa mauku. Mereka semuanya menuju kamar istrahat. Bukan tuk istrahat, tapi berbagi cerita sambil mengintip nakal apa yang aku ceritakan dengan perempaun itu diruang tamu , yang kebetulan dekat dengan ruang kamar. Ada gitar, aku meraihnya dan memetiak beberapa nada. Dia tersipu mendengar. Mungkin suatu pengetahuan baru baginya kalau aku bisa memainkan musik. Dan dikemudian nanti kita memilik banyak waktu untuk berbicara tentang bagiamana hubungan antara music, fisika, filsafat dan sastra.

Malam semakin larut, hujan tak jua surut. Inilah bahasa alam dalam deraian hujan. Jika didengar perlahan pada gemericik, suara kejujuran hakiki Nampak sunyi dari sentuhan manusia yang kian jauh dari kebenaran, baik dalam tindak pula bertutur. Perasaanku disaat itu seperti gerimis yang ditembusi kilasan sinar tipis matahari. Jika kau berada dalam kesamaan spektrum denganku, maka yang kau saksikan adalah lintasan warni pelangi tengah melengkung indah dalam dadaku. 

Curah hujan hangakatn malam itu membuat Ia banyak bertanya tentang Nietzsche, yang kebetulan saat itu sedang ia pegang salah satu karyanya, Syahwat Keabadian. Sebuah buku kumpulan puisi penuh lautan metaphor. Maaf, aku tak bisa berani dan banyak menjawab seperti apa sang filsuf yang dituduh gila itu. metaphor bukanlah teks mekanis yang gampang diinterpretasi. Sama seperti kedirianmu, ialah metaphor yang menyebabkan aku belum teralu berani mendefisnikan kesunyianmu yang terlampau mistery.

Waktu menjadi dinihari, kami memutusukan istrirahat. Teman-temankupun tak lagi terdengar candaan mereka. Aku bergegas menuju ruang istrirahat mengikuti teman-teman, sementara dia menuju bergabung dengan ibu guru SMA itu. oh, suasana hati menjadi melankoli menciptakan getaran tubuh yang tak seimbang. Terasa hangat hinggapi seluruh tubuh. Kehangatan berupa suatu rasa kekurangan yang masih terganjal sehingga membutuhkan sesuatu pula untuk menetralkan ketidakseimbangan ini. Desah nafas teman-teman dalam lelap tidur, dan aku semakin terlelap dalam kebutuhan eksistensial yang masih tertunda. Mungkah dia merasakan getaran tubuhku dikamar sebelah yang hanya dipisahkan oleh dinding ini?.

Ponsel kembali bergetar. Dengan cepat aku buka. Dan, pesan singkat darinya “selamat tidur kak, terima kasih untuk malam ini”. Awh, aku paling tak suka dengan getaran tubuh seperti ini. Sesuatu yang kuanggap mistery telah begitu dekat, rapat namun masih menyisakkan suatu enigma menyurpai kotak Pandora. Terseliplah ketakutan mendalam untuk terlibat dalam suatu tuntutan harmoni yang mengecamuk dada.  Aku semakin gelisah, degup jantung mengencang, nafas kadang menghembus panjang layaknya diksi Clavino yang tak jua menemukan titik dalam Gli Amory. Apa yang mesti aku balas?. Sampai disini, ketika ketakutan itu melanda ada sedkit keseimbangan yang aku dapatakan tuk membalas “terima kasih juga”. Namun, berselang kemudian, tubuh kembali gemetar memaksa tangan yang lemah ini tuk kembali menghampirinya melalui pesan pula, “malam ini aku begitu sayang padamu”.  Tanpa menunggu lama “semoga bukan saja malam ini kak”. Ohh, tidurku pasti kesima dalam bahagia.

Selasa, 24 Juni 2014

Bagian Tiga (Pada Mulanya Adalah Kata)





Ada seorang teman mengatakan bahwa budaya intelketualitas yang terbangun mesti dijauhkan dari hal-hal yang bersifat romantis. Itu ia katakan setelah membaca Kant tentang imperative kategoris moralitas, legalitas. Aku sempat merasa. Dan seperti biasa tertawa tipis mengiasi wajahku. Tapi bukankah Kant juga menekankan kebebasan suara hati adalah kewajiban setiap individu?. Ataukah ada konvensi khusus dalam budaya intelektual yang mesti ditaati? Sampai disini aku teringat bagaimana Muhammad membutuhkan Khadijah ketika seisi tubuhnya gematar saat menerima kata “Bacalah”. Iya, pada mulanya adalah Kata, kemudian berbentuk firman, dan itulah Tuhan. Dan melalui kata Adam diajarkan nama benda, melalui kata dunia hadir dalam serat maknawiah, dan dari sana kesadaran menyadari dirinya sendiri. Oh, Khadijah kaulah kata-kata dimana Muhammad manyampaikan sabda dan aku bisa seperti teman itu jika romantis dipahami dalam hal ini. Itu menurtku. Bagaimana?. O, lupakan tentang ini. Sudah jadi hal biasa bagiku dan teman itu tuk saling membicarakan hal-hal seperti ini. Saling kritik.

Diluar sana suasana pergantian tahun baru 2013 mulai terdengar. Terompet menyesak telinga. Berbagai model kartu ucapan diobral murah. Buah seperti jagung laris terjual. Dan tentunya muda-mudi telah menyiapkan agenda dimana menghabiskan tahun 2012 ini. Andai diantara kita ada mampu melintasi kejauhan bima sakti, maka tiap saat petasan selalu dalam kedipnya, dan pergantian hari tak pernah terjadi dalam semesta yang maha luas ini. waktu bukanlah pergantian hari, jam dan lainnya, tapi merupakan bagian dari manifest suci yang membuat semesta masih tetap seimbang. Dan, Khadijah adalah bagian dari keseimbangan Muhammad. Wah, tak nyambung yah? well, ada namanya metafora dan metonimi, univocal atau polisemik. Tinggal memilih pisau tuk membedah ketidaknyambungan ini.

Satu kebiasaanku yang sering kualami ketika bukuku dipinjam adalah selalu mengingatnya. Semakin lama semakin dalam ingatnya. Dan ada beberapa buku yang dipinjam oleh orang yang berbeda. Dalam hal ini aku seperti seorang pakar yang tau banyak hal, tapi hal itu bagiku bukanlah suatu kelebihan, melainkan bagaimana cara kita untuk mencari informasi. Dan kecerdasan seseorang adalah bagian dari seberapa banyak ia mencari informasi.  Aku mendapat pesan singkat, bukan pertanyaan melainkan  pengakuan dari seorang peminjam buku itu “diksi novel ini sungguh mengasikan, Kak”. Wah, ketuaanku semakin menjadi. Salah satu hal tidak aku sukai adalah dipanggil kakak, apalagi kakanda. Ada alasan untuk itu. Saya tidak menyukain pertemanan yang dalam lingkup senioritas-junioritas sebab terdapat arogansi intelektual seolah senior adalah yang tahu segalanya. Dan ini menyakitkan apalagi membodohi.

Yah, dia, perempauan itu, yang melalui pesan singkat membuat seisi ragaku terbawa dalam senyum bahagia. Apakah senyum ini adalah bagian dari daya magnetis dari senyum indahnya pula? Aku tak tahu, tapi seperti kata teman, dan memang itu yang aku lihat, bahwa dari totalitas kediriannya yang tergambar hanyalah senyum, dan tawa keceriaan. Dan kelak permintaanku yang paling mendasar padanya “tetaplah tersenyum pada dunia, dan duniapun pasti akan tersenyum kepada kehidupan”. Permintaan yang aneh.

“Iya, itulah kelebihan Italy Calvino”, jawabku padanya, dan selanjutnya kami saling berbalas pesan. Sebuah kesempatan bagiku tuk mengkonfirmasi kedekatan yang lebih. Maksudnya lebih dekat agar Tanya jawab, seputar isi novel, lebih terakrabi. Tapi, dibalik saling berbals pesan itu ada sebuah energy, menyerupai energy potensial, yang menggairahkan kenakalan semantikku untuk melihat dan membaca lebih dalam kediriannya dalam kata. Sampai disini, aku meresa terjebak dengan semantic kuasaku sendiri bahwa aku mencintai kata-kata, dan melalui kata-kata hubungan ini terbangun. Oh aku semakin gemetar ketika membaca cerpen pada bloognya, yang aku tahu ditujukan padaku. Semoga bukan GR.

Tak lama berselang buku itu ia kembalikan, dan ia memberanikan diri untuk datang ke biara. Ah, aku harus sempurna. Maksudnya ruangan yang berantakan, asbak rokok yang penuh puntung, pakaian yang tak dilipat buku yang terhambur sana sini dengan segera dirapikan. Bukan saja aku tapi teman-teman turut menjadi tim pembersih. Bakti seperti menjelang tujuh belasan “ayo cepat rapikan sebelum datang tim penilai”. Oh bukan, mau datang seorang hawa. Suatu kejadian langka di biara selain teman perempuan yang sudah sering.

Ia datang, dan yang pertama diri disapa bukan diriku. Tenang!!, mengelus dada. Bukan juga teman-teman, tapi justru tumpukan buku yang lama ia pandangi. Akh, aku berhasil, toh sama halnya ia sedang memandang kebijaksanaanku—hummm, kesombongan yang tak perlu. Dan aku salah tingkah, iya salah tingkah dihadapan teman-teman yang nakal bercandanya. ia pun mencoba satu dalam canda membuat suasana jadi akrab. Ini kelebihannya yang senang bergaul. Oh iya, ada yang terlupa, beberapa menit sebelum kedatangannya, aku kerepotan membeli minuman untuk dihidangkan, aku tak punya uang ketika itu. Tapi, itulah keuntungan bertemen. Terimakasih, terimakasih.

Matanya memandang kearah tumpukan buku dipojokkan biara, aku mengambil posisi duduk berhadapan, semnetara teman-teman mengambil duduk yang tak jauh dari perempun itu. Biara seperti tertimpa ribuan cahaya, dan bintik bintik noda yang melekat pada dinding dan plafon berubah menjadi gemintang dimalam hari. tapi ada matahari yang lebih bercahaya menyinari biara bak istana pangeran William di prancis sana. Tidak sampai 20 menit biara penuh cahaya, dan “saya pulang dulu Kak”.  Iya, dia berpamitan mesra kepada teman-teman, dan tentunya ada sebuah isyarat suci dari matanya yang jika dibarter dengan kata-kata merupakan sebuah ucapan terimaksih yang lebih mesra padaku dari yang ia ucapakn pada mereka yang nakal dalam bercanda itu. Ia pulang dengan membawa pinjam kembali sebuh novel,  Kata-kata, novel biografis Jean Paul Sartre yang sangat aku kagumi itu.  “ku akhiri hidupku sebagaimana aku mengawalinya, dalam tumpukan buku” itu kata Sartre, dan aku semakin jatuh dalam kata-kata.

bersambung...

Minggu, 22 Juni 2014

Bagian dua (Pada Mulanya Adalah Kata)



Matahari dalam puncak teriknya, aku membayangkan bagaiamana sebagian besar manusia yang berdinding seng ruamhnya. Seperti roti dalam open pembakaran, itu bayanganku. Terserah apa bayangnmu. Tapi, seperti kultur bangsa jepang dalam menghadapi pergantian musim; jika tiba musim kemarau, merka memajang gambar atau lukisan yang bernunsa salju, air terjun dan hujan. Ketika musim salju, mereka memasang gambar yang bernuansa matahari atau teriknya gurun pasir. Poin pentingya adalah mereka menggunakan logika negativitas dalam menghadapi pergantian cuaca agar tubuh tetap seimbang. Mungkin inilah cara akal dalam menggunakan Chi dalam diri; sebuah energy kosmik dalam tubuh manusia yang menurut mereka, jepang,  sebagai pusat kedirian, dimana suasana hati, atau hati terdalam mampu menetralisir berbagai macam ancaman terhadap tubuh kita. Oh, aku jadi ingat sebuah sabda ‘yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya’. 

Aku mencoba munggunakan energy itu, itu, bukan dengan logika negativitas pada gambar atau lukisan, tapi ratusan buku yang berada dalam biara itu mampu membawaku dalam iklim filosofis, sehingga terik matahari yang dalam puncak teriknya aku rasakan sebagai bagian dari cahaya kebijaksanaan yang mencoba menyinariku dengan hikmatnya.

Semakin tenggelam aku membaca gravitasi dan geomerti itu, dan akupun bertanya pada teman yang saat itu lagi bersama. “gravitasi melengkungkan ruang waktu, apakah akal pikiran juga bisa dipengaruhi gravitasi?”. Jika akal pikiran menyerupai materi, maka bias jadi”, jawab teman dengan nada seperti seorang pakar sains. Ups, dia memang banyak tentang itu. “Tapi sebentar”, lanjut teman sambil menghadapkan badanya tegak lurus dengan ku, “kenapa akhir ini kamu sering bertanya soal akal, pikiran, perasaan? Hmm.. sebuah pertanyaan jebakan. Aku harus lari dari poin pembahasan.

Kenapa?. Tuntut teman itu dengan sedikit tawa mengejek, bercanda. “Yah, kebetulan saja saya sedang membaca fisika”.
“Fisika punya banyak objek lho”
Yah, termasuk Gravitasi kan?
“Apa kamu mau mengulangi kembali tesismu tentang perasaan bisa dipengaruhi gravitasi?” ayoo, siapa lagi penyebab gravitasi itu?. Teman-temanku semakin bercanda. Dan aku berhasil lolos ketika ibu kost datang menagih uang listrik dengan nada marah-marah. Maklum tunggakan.

Beberapa hari kemarin, aku memang mempelajari gravitasi yang hingga kini belum ditemukan dasar partikelnya itu, gravitum. Dan jika menggunakan logika Butterflya Effect, dan memhami makna dasar makna kata cosmology, aku sampai pada sebuah tesis yang metafisis bahwa pikiran adalah materi yang bisa dipengaruhi gravitasi. Tapi, butuh konsepsi matematis, oh andaikan waktu sekolah aku tidak sering bolos mata pelajaran yang satu ini.

Akh, persetan dengan Einstein, bukuku lebih penting Untuk saat ini. “Buku yang mana?” mucul lagi si pesimis dengan Tanya sinisnya.  “Iya, Madame Bovary yang dipinjam perempuan itu. “buku atau yang minjam? Jawab yang muncul dari kedalaman dada. Dubrakk.. serangan linguistik secara tiba-tiba dengan peluru semantiknya, membawa kebahasaanku pada permainan sintagmatik juga paradigmatic yang akut. Aku tersenyum sembunyi ketika itu. Sembunyi dari penglihatan teman-teman yang sering nakal membaca tanda. Dan tiba-tiba, ponsel bergetar sebagai jawab pesanku yang kukirimkan padanya setelah ia meminjam buku itu. “anggap saja buku milik sendiri, biar bisa disayangi, dicintai agar dapt dijaga”.

Nampaknya, beberapa hari kemudian, dia, perempuan itu telah selesai membaca. Dan melalui bloognya, ia membuat resensi yang memang ditujukan padaku, seperti yang aku minta. Dan, pertemuan ketiga kan terjadi. Kami bertemu didepan gerbang sebuh kampus, tepat disebuah lesehan. Sambil makan, ia menatap dan mengucapkan padaku terima kasih karena sudah memperkenlakan gustave padanya. Akh, jangan natap mataku seperti itu. Please. Bicara aja, mungkin bisa lihat makananmu. Gumamku dalam hati. Inilah ketakutan itu. Tapi, aku mencoba menjadi seperti penjual buku yang tau banyak nama penulis, memberinya informasi tentang penulis-penulis besar prancis, jerman, Italy, dan… ia menyimak dengan nada pengehayatan lebih. Kali ini, aku sedikit berani menatap matanya. Deg-deggan.

Saat itu jam sepuluh malam. Kendaraan masih ramai berlalu lalang. Lesehan yang dekat dengan jalan raya itu membuat kita seperti berada dalam sebuah sirkuit balapan. Maklum ada kesenangan tersendiri jika suara kendaraan diperbsar, lalu diiringi kecepatan tinggi. Mungkin benar kata Marquis De Sade, bahwa kenikmatan itu dekat dengan kematian. Tapi, ups, kali ini Einstein benar dengan relativitasnya, aku mendunia bersama kematian yang mebahagiakan sehinga gaduh suara kendaraan berubah menjadi sekelompok orchestra memainkan musik dari Mozart, dalam komposisi Elvira Madigan, tuk mengiringi kebersamaan itu.

“Tapi aku kurang suka dengan akhir cerita ini, Kak.” Wah, dia memanggilku kak!?. Maklum ketuaan. sabar, sabar. “Dimana kurang sukanya?”, jawabku sambil sedikit berani memandang kedua bola mata bundar itu. “kurang suka karena tidak ada hukuman yang mesti diberikan ke istri Charles bovary”. Wah, semua pembaca Gustave, tentang novel ini memilik kesamaan Tanya. Mungkin kultur ketimuran kali, mugkin. Tapi tidak juga, pembaca eropa punya sama dalam Tanya dan itu yang membuat Gustave sempat dipenjara karena novel ini. Oh, aku harus menemukan jawaban. Dan, “gimana pendaptamu tentang keseluruhan isi novel ini? Tanyaku dengan jawaban yang sudah kusiapkan. “iya, bagus sih, tidak sulit dipahami, diksi yang asik, menenggelamkan tapi itu, akhir ceirta yang kurang aku sukai, Kak”. Huh, Kak lagi dia panggil, mana cermin, mana cermin!!. “begini” jawabku sambil meneguk air mineral, “saya pun kurang suka akhir ceritanya, tapi Flaubert, penulisnya memberikan keputusan akhir dari novel itu kepada pembaca”. Perempuan menyimak lebih dalam lagi, dan,… “ketika kita tidak sepakat maka itulah endinganya, dan kalimat itu yang membuat Flaubert bebas dari Penjara”. Dia, perempuan itu tersnyum tipis, dan lesung pipitnya semakin dalam. Dan aku …. !?

Sudah setengah sebelas, aku harus pulang, Kak. Pamitnya padaku. Tapi, apa ada novel lain yang boleh ku pinjam lagi”?. Tanyanya. Tanpa banyak basa basi aku memberikan padanya sebuah novel kalsik, Gli Amory Difficuli, sebuah petualangan cinta yang tak biasa karangan Italy Calvino. Aku kembali pulang ke biara, dan saat itu semua teman-temanku sedang pergi ke gedung kesenian, ada pementasan, teratrikal dan puisi. Aku mengambil kertas dan membuat sebuah sintesa antara Einstein, Ikbal dan Enst Mach. Jika bintang dilangit mengalami ledakan nova, pastilah mempengaruhi struktur alam semesta, dan kemewaktuan sejati manakala kita berada dalam nusansa transenden. Maka maaf kepada Einstein, aku tak percaya padamu bahawa gravitasi tidak berhubungan dengan jatuh cinta. Maaf, semuanya punya hubungan karena gravitasi adalah energy kerinduan menyatukan segala hal dalam makro hingga mikrokosmos yang terpisah  semenjak ledakan big bang.

“Akh, ada-ada saja kamu”. Jawab teman stelah aku tanyakan kembali, “butuh proposisi untuk itu” ia menentang. “kamu sendiri mengtakan jika akal pikiran adalah materi maka bisa jadi kan?, Butterflay effect megajarkan kita untuk memahami keterhubungan segala sesuatu”, sanggaku dengan nada mendekati serius, dan prinsip Mach pun begitu, iya kan?. “tapi, apa hubungan gravitasi dangan jatuh cinta?”. Wah semakin menentang teman ini, dan memang suka mengkritisi. “anda suka memakai baju warna hitam, dan warna hitam itu bukanlah objektivitas yang melekat padanya, tapi hanya berupa kesan pengindraan pada kesadaran saya”, aku menanggapi dan melanjutkan “begitu juga langit hanya kesan kebiruan pada kesadaran, dan itu terjadi lantaran gelombang yang berasal dari yang memiliki dualitas. Ketika aku melihat keindahan, kecantikan dan mengaguminya, itu berarti ada kesan gelombang yang sampai pada kesadaranku, dan ketika aku jatuh cinta pada seseorang, baik pada tata laku, kecantikan, kebaikan, kecerdasan itu lantaran gelombang material pada orang itu yang menyentuh kesadaranku. Tidakah gravitasi disebkan oleh materi? Dari sinilah aku mengatakan garavitasi membuat aku jatuh cinta.

Apa?, kamu jatuh cinta pada perempaun yang pinjam novel itu?, tanyanya jebak dalam permainan paradigmatik. Dan aku kehilangan control saat memberikan senyum. “Ups, kita sedang membicarakan gravitas lho”, aku membela diri, tapi teman itu pandai membaca tanda dan Pecah tawa teman-teman dalam nuansa bercanda. Huh, mereka, teman-temn itu sok tahu, dan aku tersenyum kemenangan.  maaf Eisntein. Untuk kali ini aku tak sependapat denganmu. 

bersambung...

Bagian Satu (Pada Mulanya adalah Kata)



Tiba-tiba akun jejaring sosial ku menerima permintaan gabung dengan sebuah group.  Hampir satu bulan lamanya saya biarkan, belum mau mengkonfirmasi. Maklum soalnnya banyak sekali komunitas, group pada akunku dengan arah pembahasan yang tak jelas. Ini membuat saya enggan sementara untuk mengkonfirmasi.

Saat itu saya dalam semangatnya membaca The Tao of Physics.  Kegairahan menjadi, dan semakin menjadi dalam lingkaran symbol-simbol mistik kuno dan sains modern. Ah, ini bangsaku, bangsa yang jarang mendiskusikan sains. Sehingga kamu yang bukan jurusan sains akan sulit mencari teman mendiskusikan, paling tidak tentang apa itu waktu.

Hujan, Makassar diguyur hujan. Tidak begitu deras namun membuatku malas untuk pergi kesalahsatu tempat yang kami, aku dan teman-temanku, namakan dengan biara. Iya biara, kami menyebutnya demikian hanya karena nuansanya selalu dengan keheningan meditative penuh Tanya seputar makna kehidupan dan filosofi-filosofi hidup yang kian hari makin jauh dari hati yang paling dekat. Ketika itu aku menuju teras lantai dua, membuka PC untuk berselancar membaca perkembangan dunia, paling tidak Indonesia dalam beirta-berita yang miskin unsur sastrawi.

Seperti biasa aku membuka akun Facebook dan mencoba melihat kembali permintaan perteman, pesan dan permintaan lain. Akh, tanpa banyak Tanya akupun mengkonformasi sebuah Group yang selanjutnya aku tahu kalau itu komunitas penulis muda. “saya bukan penulis” bisik hati pada diri sendiri, “pakai ukuran apa permintaan ini dilayangkan padaku?”.

Setelah bertanya-tanya tentang seorang teman yang mengirim permintaan gabung itu, aku mengambil sedikit keberanian tuk mengikuti perkembangan apa yang sebenaryna dilakukan oleh komunitas ini. Iya keberanian, karena yang saya amati hampir semua naggotanya berasal dari kaum ibuku. Perempuan. Bukannya menakutkan perempuan bagiku, tapi merasa semacam tidak sempurna berada ditengah komunitas yang sangat dekat cirinya dengan Tuhan. Itu kata Ibnu Arabi, aku hanya mengutip. 

Saya mengikuti dan membaca setiap postingan, dan ada sekitar empat hari, melalui pesan inbox, semua anggota di undang menghadiri pertemuan disalah satu tempat, dibawah sebuah jembatan yang memang sering digunakan untuk tempat pertemuan, latihan teatre, membaca puisi dan entah apa lagi.

Rasa tidak sempurna itu semakin jadi ketika pertemuan sudah berjalan. Rasa itu datang bersama seorang yang baru saja duduk, terlambat, yang juga bagian dari anggota group yang sungguh asing bagiku itu. Saat itu aku hanya membuka buku tanpa makna, sebagai alasan tuk hilangkan kekikukanku dihadapan makhluk-makhluk asing ini. Tapi dalam hati naraniku sedang menarik-narik kakiku tuk segera dan harus sedikit lebih berani menatap kearah seseorang yang terlambat datang itu. Tapi, oh maaf nuraniku, aku lagi-lagi tak sempurna menatap kesempurnaan.

Itulah pertemuan pertama, dan tak usah aku ceritakan lagi apa tuntutan nurani setelah pulang dari pertemuan itu. Rahasia. Saat ini aku masih lihai menyembunyikan keinginan hati terdalamku. Kami pun berteman, aku dan perempuan itu, walau masih sebatas akun. Dia cerdas merangkai kesehariannya dalam kata, itu yang aku lihat saat membaca tulisan-tulisannya, bloog maupun catatan di akun FB. Tapi kurang unsure meditatif didalamnya, kurang penghatan filosofis dalam kata-katanya. Namun, hum! Aku mencoba terus membaca sebagi langkah memahami dan mengenalnya dalam kata-katanya sendiri. He.he… tidak sia-sia aku mempelajari linguistic, semiotika dan psikoanalisa, tawaku sedikit sombong—dalam hati.

Intesionalitasku semakin gairah membaca tulisan-tulisannya, dan pengalaman itu menciptakan sebentuk kenakalan interpretasi, dan, aku mendapat semacam energy dalam dirinya, yang melalui tulisannya, bahwa kata-kataya menunjukan padaku bahwa dia, perempuan itu merupakan sosok pekerja keras yang bukan saja dalam tulisan, juga dalam perbuatan. Oh, apa ini interpretasi kepentingan partikular?. Tidak ini lahir dari represntasi universal dimana kata adalah bagian dari firman yang harus aku imani. Dan aku semakin menjadi dalam kata-kata. Lihat, nuraniku semakin lantang menyarakan aspirasinya.
Setalah pertemuan pertama itu, aksen dan kesan menjadi sebentuk istana kayangan dalam pengalaman. Dan, pertemuan kedua terjadi, bukan pada agenda komuntas Penulis itu, tapi lebih pada gairah sastrawi, dan itu terjadi begitu cepat, pertemuan itu, hanya beberapa menit. Ia, perempaun itu meminjam padaku sebuah novel klasik prancis, karangan Gustave Flaubert. Oh, saat ini perhatianku terbagi. Antara bukuku dan perempuan itu. Maklum pengalaman buku yang tak kembali dari pinjaman membuat aku sedikit pelit meminjamkan buku. Tapi, aku percaya bukunya akan kembali bersama perempuan itu.

Kembali?, hanya buku aja kalee, perempuan itu bukan mulikmu kan?, Jawab rasa pesimis yang lama tinggal dalam dada. Akupun mengelus dada, “sabar, jangan panik hanya salah ucap”. Apa? Salah ucap? Katanya kau sudah lama mempelajari  psikoanalisa, ternyata tak sia-sia aku membaca dadamu. Jawab si pesimis itu dengan nada kemenangan.  Oh, aku jadi ingat gimana si Yahudi dalam pengamatan sang Nabi. Ah, andai si pesimis itu tak cepat memprotes, dia akan lebih mengerti, sok tau rupanya.

Setelah beranjak dari pertemuan itu, yang kedua, aku kembali menuju biara dan membuka kembali Chapra, yang mengulas tentang kearifan konu yang memiliki hubungan dengan sains-sains modern. Sampailah aku pada pembahasan geometri dan grafitasi. Hmm, aku kurang percaya pada Euclid dengan titik pusat geometris yang menjadi padangan dunia Gereja. Sementara gravitasi, oh, aku butuh buah apel yang dianalogikan Newton. Namun, Einstein hadir melabrak Euclid, dan kelengkuangan ruang waktu menarikku pada beban gravitum sastrawi membuatku sedikit lancang bahwa Einstein hanya bicara waktu-ruang particular. Butuh sintesa tenang waktu universal, karena dan memang aku sedang membutuhkannya. Tapi, sampai disini, dengan sedikit kesadaran ala sufistik, bahwa Einstein adalah anak zaman, dan aku terperangkap dalam tebing curam, tinggi, dalam, dan disana gravitasi berlaku penuh padaku. Aku jatuh dalam geometri tebing curam yang ada pada lesung pipit perempuan itu. Oh, ketakutanku terbukti benar, dan aku butuh kesempurnaan itu.

bersambung....