Sabtu, 14 Juli 2012

Malam Menjadi Kata

Malam mengukir kegelisahan menjadi kata
Ia tercipta menyerupai bentangan narasi yg terpojok disetiap selokan
Atau terukir dalam papan- papan iklan sang pembawa citra fasis
Kata hanya menjadi cerita dalam ribuan naskah serakah
Hingga jeritan yg kian mencekit
Memaksa kata beruabah menjadi doa berpasrah

Malam terlalu senyap tuk mencaci diri sendiri
Atau terlalu gulita tuk bertekuk pada setaip kubah
Ooh.. betapa harapan adalah rayuan pada kebisuan
Betapa perlawanan adalah menjual diri pada kekuasaan
Setiap kita berharap memiliki logika yang brilian disetiap medan
Bahkan ideology terseret dalam siklus premature diruang karbitan
Setiap dari kita merasa bangga pada nilai perjuangan
Tanpa sadar kitalah penerus poin-poin kerajaan yang menyusun scenario penindasan

Malam mengukir kegelisahan menjadi kata
Hanya orang-orang gila yang memahami setap resah
Hanya orang bisu yang memahami bentangan cakrawala
Ooh..pengeras suara….
Kau tak lebih sekedar penawaran barang dan jasa
Atau seperti pantulan sinar dalam ruang cerminanmu
Kau berteriak
Mengasah suara
Numun itu tak lebih dari ritme pembodohan
Yang kau susun dalam setiap rancangan kerjamu

Bumi terlalu luas tuk menggemgam setumpuk kacang ala manusia hutan
Dunia terlalu luas tuk sinkroni setiap imaji
Namun bagimu internalitas logikamu adalah prioritas
Maka setiap yang lain adalah lelucon atau makian kedangkalanmu
Setiap yang berbiacara adalah badut sangkaanmu
Ohh.. betapa kebodohan memanjakan dalam selaput tinjamu
Hingga bicaramu hanyalah pancaran libiodo akan makan, makan dan birahi
Reflekasi hanyalah pelarian atas ketakpuasan badani
Tuhan pun kau anggap mati akibat kecanduan ejekulasi

Setiap kata bagimu hanyalah terapis ala borjuasi
Maka setiap kitab tak kau sucikan dalam tapak yang kau hasrati
Setiap kata kau ubah menjadi sebutir gandum
Hingga kontemplasi adalah sisa-sisa pembakaran yang kau tinjakan pula
Lihatlah siapa yang berhasil porandakan setiap harmoni?
Siapa yang terbahak dalam menarik setiap laba?
Kini, kitalah penerus para zombie yang terkubur kekauan
Seolah waktu dapat menahan laju penuaan
Ooh..mereka seperti hantu yang terkapar dipojok perpustakaan
Dan berteriak histeris akan kematian yang tak pernah dikonstruksi
Sementara kita tetap bangga pada pelabelan nama atas setiap ideology
Tanpa Tanya, tanpa rasa, tanpa pikir
Kau layaknya Kasuari yang tak pernah mengunyah setiap buah
Hingga yang keluar ialah nanah yang tak pernah berubah warna

Malam mengukir kegelisahan menjadi kata
Entah, setiap ego diterali kekauan filofosi
Keluasan cakrawala dihujani butiran salju, membeku
Terbujur kaku dalam setiap narasi membelenggu
Wahai butiran-butiran hujan yang membanjiri keresahan
Kabulkanlah pintaku pada badai yang meradang disetiap pojok jalanan
Layangkan aku seperti kekupu yang beterbangan
Jika setiap kepakan ku adalah meluasnya sehasta cakrawala
Maka jangan izinkan aku menetap dalam kebungkaman setap narasi

Malam mengukir kegelisahan menjadi kata
Andaikan pagi meminangmu dengan sebilah mentari
Ubahlah partikel cahaya menjadi belati yang menghunus setiap tirani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar