Beberapa purnama telah berlalu
Kisah-kasih serasa kembali dalam mesra yang pernah bertalu
Aku masih mengingat semuanya tentang kita, mereka dan siapapun ..
Bagaimana kau menyapa, bagaimana kau bercanda dan bermanja
Semuanya masih terjaga tanpa sedikitpun menghasta
Kau begitu mungil jika senyum bertuan di pipimu
Hingga keresahan yang menimpa kita yang selalu resah
Berubah menjadi wajah-wajah yang berharap akan sapaan kelembutanamu
Masikah kau ingat ketika perkelahian di perak?
Bagaimana kau, aku dan teman-teman begitu resah
Marah dengan kepolisian yang menindas para pedagang kaki lima
Mungkin, perkelahian begitu mengerikan
Membuatmu begitu pucat, kemudian tak sadarakan diri
Aku marah, jengkel pada diri sendiri yang tak bisa melindungimu
Atau merasa miris pada kota itu yang buatmu meneteskan air mata
Kau tahu??
Saat itu ku merasa begitu dekat denganmu
Dan saat malam selimuti kita dalam penginapan berantakan itu
Aku terlibat dalam sebuah pendifinisian keegoanku
Iya, aku sadar kau seperti adiku yang slalu murah akan senyuman
Kau begitu suka akan humoris
Seperti kesukaanmu pada rumus-rumus kimia yang menakjubkan
Namun, saat kau marah
Auramu terkondisikan seperti partikel-partikel electron—
Yang terkena pengaruh radioaktif
Tapi, ketika sadar menjagamu dari gejolak manusiawi itu
Wajah manismu terlihat seperti jingga senja yang sejukan jiwa
saat membayangkan keceriaanmu
Aku teringat akan Criegee biradika—
Sang molekul pendingin bumi
menyejukan semesta yang dilanda kegerahan…
tanpa rasa beberpa purnama telah berlalu
lama itu pula asaku merindu bertemu
tapi, hidup adalah pilihan yang jua selalu memisahkan
aku percya pada kimia
aku percaya pada atom...
kita terpisah dalam jarak Newtonian
tapi bukan dalam waktu Eisntein
jika partikulir atom adalah nyata dalam kosmos
itu adalah bukti dimana kita selalu sama dalam semesta
Adiku nan Imut….
Jika gelombang magnetic membuat kita bertemu lagi
Jangan biarkan Peluhuran Beta melanda kesederhanaanmu
Atau jangan biarkan efek Zeeman membagi spectrum kasih sayangmu
Aku merindukan saat dimana kau menyapa ku, juga teman-teman lain..
Ooh,..ibarat senar dawai yang menghubungkan segela semesta
Atau seperti neutrino yang berada dimana-mana
Saat ini pun kau tetap adiku yang tak pernah hilang dari amatanku
buat adiku yang imut, Athy,..
Kisah-kasih serasa kembali dalam mesra yang pernah bertalu
Aku masih mengingat semuanya tentang kita, mereka dan siapapun ..
Bagaimana kau menyapa, bagaimana kau bercanda dan bermanja
Semuanya masih terjaga tanpa sedikitpun menghasta
Kau begitu mungil jika senyum bertuan di pipimu
Hingga keresahan yang menimpa kita yang selalu resah
Berubah menjadi wajah-wajah yang berharap akan sapaan kelembutanamu
Masikah kau ingat ketika perkelahian di perak?
Bagaimana kau, aku dan teman-teman begitu resah
Marah dengan kepolisian yang menindas para pedagang kaki lima
Mungkin, perkelahian begitu mengerikan
Membuatmu begitu pucat, kemudian tak sadarakan diri
Aku marah, jengkel pada diri sendiri yang tak bisa melindungimu
Atau merasa miris pada kota itu yang buatmu meneteskan air mata
Kau tahu??
Saat itu ku merasa begitu dekat denganmu
Dan saat malam selimuti kita dalam penginapan berantakan itu
Aku terlibat dalam sebuah pendifinisian keegoanku
Iya, aku sadar kau seperti adiku yang slalu murah akan senyuman
Kau begitu suka akan humoris
Seperti kesukaanmu pada rumus-rumus kimia yang menakjubkan
Namun, saat kau marah
Auramu terkondisikan seperti partikel-partikel electron—
Yang terkena pengaruh radioaktif
Tapi, ketika sadar menjagamu dari gejolak manusiawi itu
Wajah manismu terlihat seperti jingga senja yang sejukan jiwa
saat membayangkan keceriaanmu
Aku teringat akan Criegee biradika—
Sang molekul pendingin bumi
menyejukan semesta yang dilanda kegerahan…
tanpa rasa beberpa purnama telah berlalu
lama itu pula asaku merindu bertemu
tapi, hidup adalah pilihan yang jua selalu memisahkan
aku percya pada kimia
aku percaya pada atom...
kita terpisah dalam jarak Newtonian
tapi bukan dalam waktu Eisntein
jika partikulir atom adalah nyata dalam kosmos
itu adalah bukti dimana kita selalu sama dalam semesta
Adiku nan Imut….
Jika gelombang magnetic membuat kita bertemu lagi
Jangan biarkan Peluhuran Beta melanda kesederhanaanmu
Atau jangan biarkan efek Zeeman membagi spectrum kasih sayangmu
Aku merindukan saat dimana kau menyapa ku, juga teman-teman lain..
Ooh,..ibarat senar dawai yang menghubungkan segela semesta
Atau seperti neutrino yang berada dimana-mana
Saat ini pun kau tetap adiku yang tak pernah hilang dari amatanku
buat adiku yang imut, Athy,..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar