Dimensi waktu meraung seisi dadaku layaknya segerobl domba berdesakan
keluar dari pintu yang sempit, gerah seperti tercengkram dalam sebuah
tenda ditengah gurun, penuh terik. Akibat kerisauan konstan yang
mendiami gerak pikirku akan absurditas, segera berubah menjadi sebuah
Kerinduan nir-badani. Gerak peruabahan itu hadir dalam kediaman, puitis,
yang terbang bersama debu jalanan , mengangkasa. Akibat dipeluk mesra
oleh jemari mentari, ia bersinar layaknya patamorgana yang menari indah
diatas kehampaan. Birakan saja “ketiadaan” sebagai rel tatapanku yang
kadang tak terucap, kemudian mengarahkan segala indra pada ruang
metamorphosis menjadi kilatan cahaya dari partikel-partikel halilintar
yang membelah kesombongan jagad raya.
Jangan, jangalah Kau
biarkan kilat mereda, biarkan ia menjadi segenggam mawar berbisa
kemudian suguhkanlah diatas meja-dan laci para perampas kebahagian, dan,
berikan sebuah tanda Tanya, (?), diantara helaian mawar itu, agar
mereka memiliki kesempatan tuk memahami beningnya dirimu dalam aneka
warna.
Terlalu banyak kaum tua yang berlagak seperti elang
muda, dengan sombonyya mereka membuat manifesto-manifesto yang janggal
kemudian di pajang diatas tempat hiburan malam yang syarat akan tubuh,
remang-remang. Cobalah mendekat, dan, lihatlah, mereka adalah jelmaan
dari mitos-motos ketika bumi masih senyap, kini, mitos-mitos itu telah
terbantahkan, bahwa, mereka adalah nyata yang sering membuas, membunuh,
menjarah bahkan meniduri istri-istri orang, kini mereka masih hidup
bersama kita. Mereka layaknya tupai yang mencuri sari kelapa kemudian
meninggakan batoknya pada sang pemilik.
Oh kau yang masih
bersolek dalam Istanamu. Tak puaskah engkau yang terus membirahi melihat
penjagamu yang tanpa sehelai benang pun badan? Tak puaskah kau berpose
dalam segmen cerita fiktifmu yang meninabobokan?. Kau sama saja seperti
lagu-lagu yang kau nyanyikan, romantic, indah tapi kosong akan
pikiran-pikiran puitis, hingga membuatmu seperti Beo dalam jebakan
skriptualis. Jika mendengar nyanyian tak seirama denganmu, kau malah
nangis, curhat dan mengasah suaramu di antara rinthan yang kau berikan
sendiri pada kami.
Hei, kau yang tau renta, dan lapuk.
Disini bukanlah tempat anak-anak kecil, yang mengharap dongeng sebelum
tidur. Dan tempatmu juga bukan istana kaca yang tak bisa bebas dari debu
yang beterbangan. Keluar dan lihatlah sekelilingmu, wajah-wajah tak
berwarna tak lagi bercermin kepadamu.
Istanamau sedemkian
jorok, disetiap lorong, ramai dengan anjing-anjing beranaimu, kau selalu
memajang gambar-gambar, dan kisah tentang, yang, sebenarnya terangkai
dalam relung konspirasi. Semantara hampir di segala sisi, kau mencoba
menggandakan dan menghidupkan kembali abad-abad akal yang terborjuisasi,
sebuah tampilan simulakra yang mengirim signal pada kami akan
ketidakpantasan untuk berada disana.
Oh manusia yang
ber-Tuhan, tak secuilpun kau berbentuk dalam ribuan Nama-nama— walaupun
dirimu adalah bagian dari bentuk itu—dan melepas kemanusiaanmu dari
rintihan yang menggemakan sukma. Dirimu kau belah menjadi puluhan rupa,
ada yang bernyanyi, berolahraga, bertani, menabung, menziarah
tempat-tempat sacral, berjudi dan banyak lagi disana, ternyata semua itu
hanylah bayangan dari wujud keserakahan, bukan rahasia umum lagi, yang
berdiri diatas syahwat yang selalu beronani.
Kau yang
katanya punya cinta, datanglah dan bercintalah denganku, kan ku buat
dirimu mengorgasme ditiap sentuhan, kemudian kan ku rubah setetes
sperma-mu menjadi anggur yang memabukan seluruh jagad-jagad.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar