Membaca sebuah karya (sastra)
seperti novel-novel klasik, kita seperti ditarik kedalam ruang
masa silam yakni kesan dan persep yang kita alami seolah berada atmosfir dimana
teks karya itu terbentuk. Namun dalam perkembangan selanjtnya, kematian pengarang sebagai symbol
peperangan pasca-strukutralisme seperti meneror kita untuk bersikap lain, yang
boleh dikata, bersikap sinis dihadapan sebuh karya. Dengan kata lain tindakan
teror dari kematian pengarang tersebut, sejauh yang saya pahami, adalah semata
merupakan tindakan penyelamatan, memberikan ruang independensi diri pembaca,
dari terjangan sebuah karya.
Kematian pengarang sebagai upaya
penyelamatan pembaca mensyaratkan kita untuk memiliki autonomy semantic
sebagai dasar bagi interpretasi.
Interpretasi yang dimaksud tentunya
merupakan produksi makna, dan makna-makna yang kita temukan semata merupakan
kemenjadian masa silam dalam konteks kekinian (lihat Deleuze, Guittari).
Sebagai suatu kemenjadian masa silam, maka jika dielaborasi lebih jauh,
kematian pengarang haruslah dilihat sebagai suatu konsep teoritik— dengan
komponen-koponen konsep sebagai penyambungan suatu teritori pemikiran—yang
sebenarnya ingin menghidupi atau menyelamtkan bukan saja pembaca melainkan juga
sebagai upuya menyelamatkan sang Pengarang. Singkatnya kematian pengarang yang
menghidupi sang pengarang pula pembaca.
Seperti pada komentar oleh Maman S.
Mahayana, kritikus sastra FIB UI, bahawa pada Cover Novel ini (Siti Nurabaya) “apabila kita membaca kembali Novel Siti
Nurbaya karya Marah Rusli maka sangat boleh jadi kita akan menemukan
makna-makna baru. Sesungguhnya karya sastra selalu menjajikan makna baru.
Setiap kali kita membaca ulang sebuah karya sastra setiap itu pula makna baru
akan sangat mungkin mucul”. Penemuan makan baru dari interpretasi itu akan
saya ulas dalam beberapa bagian. Dan kemungkinan pemaknaan ini sangatlah
kontras dengan yang banyak dipahami dari kisah Siti Nurbaya.
Dalam tulisan ini, saya tidak
hendak menyatukan beberpa teori interpretasi yang dimiliki oleh beberapa
kritikus, sehingga proses pemaknaan (determinacy) bukanlah sutau typication seperti yang ditulis oleh
Hirsch, pula bukan semata determinan pada kematian pengarang oleh Barthes, atau
otonomy Semantic-nya Heidegger, tetapi usaha ini hanya sebuah ikhtiar dari
kemungkinan-kemungkian teortik untuk kemudian digunakan sebagai
komponen-komponen—sebagai suatu ketidakbisa pisahan—yang membentuk sebuah
tataran pemikiran tentang novel ini. Untuk tidak melebar, baiklah kita lansung
pada ulasan yang dimaksud memilik beberapa bagian tadi. Dan teori-teori diatas
tidak sepenunhnya saya gunakan, hanya saja sebagai pijakan atas asumsi dalam
ulasan ini.
Tentang
Novel Siti Nurbaya
Secara keseluruhan saat membaca
Siti Nurbaya, bahwa novel tersebut tidaklah semata pada perjuangan Samsulbahri
untuk mendapatkan cinta adidanya, Nurbaya. Tidak pula pada persoalan membayar
piutang dengan menikahkan anak gadis, dan lebih penting lagi bukan sebuah
cerita dimana Siti Nurbya menjadi korban oleh perjodohan yang dilakukan oleh
Sutan Mahmud terhadap anaknya Nurabaya. Tetapi secara keseluruhan merupakan
sebuah kritik diskursus kekuasaan berupa budaya dan adat kehidupan bangsawan
Padang yang ingin dikritik habis oleh Marah Rusli. (tema sama pula bisa kita
temukan dalam Tenggelamnya Kapal Vab Der Wijck, karangan Hamka).
Tema seperti ini seperti menjadi
Brand bagi karya Marah Rusli, hal ini bisa kita saksikan melalui Novel
terakhirnya, Memang Jodoh, dimana ia begitu kritis melakukan kritik yang pedas
terhadap budaya serta tradisi bangsawan minang, yang menyebakan dia menjadi
orang terbuang di Negeri orang. Namun dalam Siti Nurbaya yang lebih ditonjolkan
lebih pada perihal “kawin paksa” antara Nurbaya dan datuk Meringgi.
Olehnya itu yang menjadi bahasan
saya dalam ulasan ini, bukanlah pada keseluruhan struktur cerita, narasi,
melainkan hanya pada beberapa kisah saja sebagai respon atas banyaknya ragam
interpretasi terhadap novel ini, seperti perjodohan, takdir, kekuasaan (uang)
yang tentunya dengan kekompleksan kisah tragis dibalik peristiwa ini. Inilah
sisi lain yang hendak saya bicarakan dalam tulisan ini.
Datuk
Meringgih:
Patriot
atau Symbol Kekuasaan Uang?
Datuk meringgih adalah seorang pedagang
dengan usia yang tak lagi terbilang muda. Sebagai pedangang, tentulah
hubungannya dengan orang-orang sekitar selalu dengan tujuan meningkatkan
usahanya. Ia kenal dengan baginda suliaman, ayahanda dari Samsulbahri. Dan
lebih akrab pula dengan orang tua Nurbaya, Sutan Mahmud yang juga memiliki profesi yang sama dengan datuk
Meringgih.
Seperti
yang tergambar dalam novel tersebut, Datuk Meringgih memiliki umur lebih dari
setengah abad, sifatnya kikir, tamak, tiada kasih dan penyanyang seta bengis,,
kasar budi pekertinya. Baginya uang adalah segalanya. Tak peduli dari mana
datangnya. Dan jika hendak mengeluarkan uang, tangannya begitu keberatan
melepaskannya. Dan jika dilepaskan, uang itu dielusnya, dimanjanya seolah
berharap akan kembali lagi kepadanya. Uang adalah kesenangan baginya.
Yang
digambarkan oleh Marah Rusli, Datuk Meringgih awalnya adalah penjual ikan
kering, tapi tak seorangpun tahu apa sebab ia menjadi kaya. Ia dikenal oleh
masyarakat minang saat ia telah menjadi kaya raya. Namun ada hal yang misterius
dari Datuk Meringgih, dimana dia bukanlah orang minang. Asal usulnya tidak
jelas dari mana asalnya ataupn lahirnya. Singkatnya, datuk Meringgi dalam novel
ini merupakan tokoh, karakter atau pribadi misterius yang nantinya akan kita
lihat hanyalah merupakan pengejewantahan kekuasaan uang yang bisa membeli
segalanya.
Diatantara
kesekian tokoh, semuanya adalah orang asli minang, hanya Datuk Meringgi yang
tak jelas asal usulnya. Kemisteriusan ini menurut hemat saya memiliki beberapa
hal yang mungkin ingin dihindari oleh Marah Rusli. Pertama, dari sisi diskurus budaya psikonalitik, nama kebesaran
suatu daerah, dalam hal ini Minang, merupakan bagian dari penanda utama dalam
membentuk khas jati diri orang minang sendiri. Dalam perspektif psikoanalitsa Jacques Lacan, penanda Utama
merupakan hal sacral, suci tempat subjek melakukan interpelasi dan inkorporasi
identitas diri. Keengganan Marah Rusli untuk memberikan identitas datuk
Meringgih sebagai orang Minang, dalam artian bahwa walaupun Marah Rusli (pengarang)
melakukan kritik terhadap adat bangsawan Minang, namun rasa kemanusiaan atau
paling tidak sebagai orang minang masih tetap ia bela, bahwa pribadi datuk
Meringgi bukanlah tabiat dari masyarkatnya.
Kedua, hadirnya Datuk Meringgi dalam kisah ini, jika
dilihat dari sepak terjang pula sifat dan sikapnya, sosoknya merupakan
simbolitas dimana uang dapat membeli segalnya, dan demi uang pula segala cara,
tak pandang halal atau haram dapat ditempuh dengan cara apapun termasuk membeli
“kebahagiaan”.
Hal
ini kita lihat dengan muslihatnya pada ayahanda Nurbaya, dimana ia menyuruh
orang-orangnya untuk segera mematikan perniagaan sutan Mahmud. Setelah berhasil
Datuk Meringgih tempil seperti Malaikat dengan cara memberi Modal bagi Sutan
Mahmud untuk memulai lagi usaha perniagaannya, dan sebagai konsekuensinya Siti
Nurbaya harus menerima tawaran memperistri datuk Meringgih akibat pinjaman tak
mampu dikembalikan Sutan Mahmud dalam jatuh tempo yang telah disepakati.
Disamping
ketidakjelasan asal usul datuk Meringgi, sebagaimana yang telah dibahasakan
diatas, selain sebagai simbolitas uang pula ketamakan, dan keengganan sang
Pengarang memberi stereotip bagi masyaraktnya (minang), Tetapi ada pula kisah
heroic tentang keterlibatan Datuk Meringgih melawan kesewenangan colonial yang telah
memberikan suatu pemakanaan lain atas
kisah tersebut seolah hendak menghapuskan kebencian pembaca kepada datuk
Meringgih pada lembaran-lembaran awal kisah.
Dari
ulasan tersebut diatas dimana uang adalah segalanya bagi Datuk Meringgih, maka
pertanyaan yang diajukan oleh Joni Ariadinata, redaktur Majalah Horison, yang
termuat dalam sinosis “mengapakah datuk Meringgih digambarkan jahat pada akhir
cerita menjadi patriot yang membela tanah air dan kemudian wafat membasahi
darah ibu Pertiwi? Siapakah sesungguhnya menjadi pahlawan?”.
Jika
kita menghayati kembali karakter Datuk Meringgih, maka ada semacam keraguan
untuk meletakan sisi patroitis pada diri Datuk. Lihatlah bagaimana sifatnya,
uang adalah segalanya baginya, kikir, tamak dan ia bersika seperti sepasang
kekasih yang hendak berpisah jauh dimana salaing menatap, memegang tangan,
berpelukan, berciuman dan begitalah sikap Datuk Meringgi jika hendak memberikan
uang sebagi gaji bagi para jongosnya. Dari sikap dan karakter inilah maka keterlibatan
Datuk Meringgi dalam membela tanah air, mungkin, adalah semata karena
ketidaksepakatnya dengan para colonial yang hendak meminta uang belasting
(semacam Pajak) kepada pribumi yang pastinya juga mengorek kekayaanya.
Keterlibatan
Datuk Meringgih dalam peperanagan yang diakibatkan oleh perkara uang belasting
merupakan kesempatan bagi Samsubahri untuk membalas dendam sakit hatinya pada
Datuk sebagai ganjaran atas perbuatannya kepada Sutan Mahmud, lebih-lebih lagi
pada kekasih hatinya Siti Nurbaya ( tujuan utama Samsu memilih jalan sebagai
opsir barat, colonial hanyalah semata untuk membalas sakit hatinya terhadap
Datuk Meringgi).
Pernikahan
Nurbaya: Antara Kekejaman dan Takdir
Setelah
gagal membayar hutang yang telah jatuh tempo, maka kecantikan dan kemolekan
Nurbayalah yang membuat Datuk Meringgih
memaksa Sutan Mahmud mesti melunasi utangnya dengan cara lain selian
uang, menyerahkan Nurbaya menjadi istrinya. Namun keputusan untuk menjadi suami
datuk Meringgih oleh Nurbaya, juga merupakan suatu hal yang mesti dikaji lagi
lebih dalam, agar kisah ini tidak disalah artikan, seperti kebanyakan, orang
sebagai suatu paksaan Sutan Mahmud terhadap Nurbaya untuk menikah dengan Datuk
Meringgih.
Seringlah
kita mendengar “ini bukan zamannya lagi
Siti Nurbaya”, yang seolah telah menjadi akisoma penolakan muda-mudi atas perjodohan
paksa yang sering dilakukan orang tua terhadap anaknya. Kalimat inilah
yang yang tak sedikit membuat misinterpretasi atas kompleksnya kisah ini yang
sebenarnya sama sekali tak ada paksaan dari orang tua, dalam hal ini Sutan
Mahmud, terhadap anak semata wayangnya, Nurbaya (mungkin misinterprtasi
sebagian akibat kisah ini yang difilm dengan kisah yang agak berbeda, yang
turut mempengaruhi pemaknaan atas novel Siti Nurbaya).
Simaklah
nasihat Sutan Mahmud terhadap Nurbaya dalam sub-bagian Surat Nurbaya Kepada
Samsulbahri,“ Nurbaya, sekali-kali aku tiada berniat hendak
memaksa engkau (menjadi suami Datuk Meringgih) jika tak sudi engkau, sudahlah; tak mengapa. Biarlah harta yang masih
ada ini hilang ataupun aku masuk penjara sekalipun, asal jangan bertambah pula
duka citamu. Pada pikirianku tiadalah akan sampai dipenjarakannya aku; mungkin
masih boleh ia dibujuk. Sesungguhnya aku
terelebih suka mati dari pada memaksa engkau kawin dengan orang yang tiada kau sukai”.
(hal. 137).
Simak
pula isi surat yang dikirim Nurbaya kepada Samsulbahri, “aku tahu, Nur, bahwa engkau tak suka dengan datuk Meringgih”, kata
ayahku pada malam itu kepadaku. “pertama umurnya telah tua, kedua karena
rupanya tak elok, ketiga karena tabiatnya keji. Itulah sebabnya ia bukan
jodohmu. Dan aku tahu pula bagaimana hatimu kepada Samsu dan hatinya kepadamu.
Akupun tiada lain, melainkan itulah yang kucita-citakan dan kuharapkan siang
dan malam, yakin akan melihat engkau duduk bersama dengan samsu kelak, karena
ialah jodohmu yang sebanding dengan engkau”. (hal 136).
Dari
kedua kutipan diatas, nyata dan jelaslah bahwa Nurbaya tidak sama sekali
dipaksakan oleh Ayahandanya untuk menikah dengan Datuk Meringgih. Tetapi
sebesar apapun kebebasan yang diberikan Sutan Mahmud kepada Nurbaya, sebesar itu
pula kemudahan bagi datuk memaksa Nurbaya tuk menjadi suaminya.
Dalam
kisah yang kompleks dan mengiris pilu ini, terlintas sedikit kebencian pada
Nurbaya yang begitu mudahnya menyerahkan hidupnya pada orang yang telah
menjahati Ayahandanya. Dan kebencian itu pula lantaran Nurbaya menghianati
kesejatian Cintanya Samsu, kepada dirinya. Namun kebencian ini lambat laun berganti air mata
kesedihan bagi pembaca dimana semua intrik busuk Datuk Meringgih dan kepasrahan
nurbaya tersebut dianggap takdir, sebagai jalan hidup yang telah tertulis dalam
lembaran rencana Ilahi. Ketidakberdayaan Nurbaya, seperti diterangkannya pada
Samsu melalui suratnya, serta kehilangan ekal sehatnya saat Datuk hendak
menyeret Sutan Mahmud ke Penjara. Inilah klimaks kisah dimana Nurbaya
memutuskan menjadi suami Engku Datuk Meringgih.
Simak
pula kutipan ini, tentang solusi Nurbaya kepada Ayahandannya tuk bebas dari
jeratan Kekejaman Datuk Meringgih, “tidakkah
cukup untuk membayar hutang itu, kalau sekalian barang hamba jual dengan rumah
dan tanah ayah? Karena hamba lebih suka miskin
daripada jadi istri datuk Meringgi. Kemudian dijawab oleh Sutan
Mahmud “tanah tak laku sebab tak ada
orang yang hendak membelinya, dan harga barang-barangmu dan rumah ini tak lebih
dari tujuh ribu rupiah, dimana dicari
yang lain dengan bunga uang utang itu? Tapi sudahlah jangankan kau
pikirkan lagi perkara ini, senangkanlah hatimu, dan kita tunggulah apa yang
akan datang”. (hal 138). Kita tunggulah
apa yang akan datang, adalah suatu kepasrahan Sutan Mahmud yang hendak
menerima apa yang kan terjadi, baik dirinya maupun pada Nurbaya.
Pada
titik ini, muncullah pertanyaan seperti apakah takdir yang pahami oleh sang
pengarang?. Apakah takdir adalah konsepsi teologis yang mengahruskan Nurbaya
dan Sutan Mahmud pula Samsu untuk legowo menerima kekejaman yang dilakukan
Datuk Meringgih?. Dan memang, sepertinya takdir— yang banyak mendapat kedudukan
istimewa dalam novelnya Marah Rulsi yang terakhir, Memang Jodoh—adalah nasib
manusia harus menerima apa yang terjadi. Dan jika seperti itu, takdirlah yang
mesti di benci lantaran manusia tak kuasa atas dirinya sendiri, (jika
berkesempatan saya berniat membahas tema Takdir dalam novel-novel Marah Rusli pada
ulasan lainnya).
Mengakhiri
Ulasan
Kompleksitas
cerita dan kisah yang tragis pula mengharukan dalam novel ini merupakan buah
kejeniusan sang Pengarang, Marah Rusli, yang membuat novel ini masih dibaca dan
merupkan salah satu dari novel yang paling banyak di gemari oleh penikmat
sastra tanah air. Namun semakin banyak dibaca kembali, semakin pula kemungkinan
makna baru didapatkan membuat ulasan ataupun kritik terhadap novel ini menjadi
hal yang dinamis seiring berjalannya masa.
Tanpa
sadar, saat kita membaca novel ini, kita hendak memprotes kepada Marah Rusli
bahwa apakah takdir adalah nasib yang sudah ditentukan semenjak lahir?,
tidakkah terlalu mudah bagi Nurbaya menyerahkan dirinya kepada Datuk Meringgih?
Kemanakah Baginda Sulaiman, tetangga Sutan, ayahanda Samsu, sebagai hopjaksa, yang mungkin bisa menelusuru tragedy yang menimpa
Sutan Mahmud? Tapi seberapapun pertanyaan penyesalan, justru dari situlah yang
membuat kisah ini menjadi legenda dimana novel ini masih selalu apresiasi.
Dari
sini saya teringat saat membaca sebuah resepsi sastra terhadap Madame Bovery,
sebuah novel dari Gustave Falubert. Seperti kita tahu bahwa Falubert, pernah
mendekam di penjara akibat novel tersebut yang dianggap melegalkan
perselingkuhan. Dalam menjawab pertanyaan hakim pada waktu itu “mengapa engkau
tidak memberikan hukum bagi Emma?, dan Flaubert menjawab “tanyakan saja kepada
pembaca apakah ada rasa kebencian pembaca pada Emma saat membaca Madame Bovary,
dan ketika ada kebencian maka itulah hukuman yang pantas diterima Emma?.
Jawaban itulah yang membuat Flaubert, lolos dari tahanan.
Demikianlah,
saat membaca Siti Nurbaya, kita disuguhkan berbagai macam pertanyaan yang
mengharuskan kita untuk menjawab sendiri akan hal-hal yang menjadi mistery
dalam cerita novel ini. Olehnya itu apa yang saya bahasakan diatas hanyalah determinacy (lihat Hirsch) dari ragamnya
Typication, atau pemaknaan yang tentunya memliki banyak kekurangan yang mesti
disanggah. Olehnya itu, kritik atas tulisan ini adalah sebuah penantian yang
selalu diharapkan. Waullauhalam..
