Doxa, sebagaimana yang
digambarakan Boiurdieu, merupakan bangunan berfikir atas penyerahan total
terhadap pandangan hidup sebagai represntasi dari produksi kultural baik berupa
adat budaya, tradisi, mitos dan lain sebagainya. Posisi subjek dalam hal ini
selalu saja terjerambab dalam labirin strukturalisme, membiarkan diri dikuasai
dan distrukturkan oleh makna lahir dari arena cultural terbsebut. Doxa tersebut
dalam sebagian masyarakat kita telah dianggap sebagai makna trasenden yang
melekat pada imanensi corak fikir, sehingga ada semacam rasa berdosa jika
hendak bertindak atau berfikir diluar batas tradisi atau system kebenaran umum
tersebut.
Di Negara kita strukturalisme
menjadi semakin tumbuh subur dan masih banyak pula digunakan sebagai cara
berfikir. Hal ini suka atau tidak masih menjadi sebuah kewajaran; sebuah
konsekuensi dari masih mengentalnya mitos, budaya serta tradisi dan nilai-nilai
budaya yang dianggap suci, sakral. Seperti bahasa dalam perspektif Saussurean,
mitos dan nilai-nila budaya pun bertindak pada masyarakat kita sebagai penguasa,
dan kita pun secara sukarela atau terpaksa menerima berbagai macam aturan dari
nilai-nila budaya, mitos tersebut.
Namun dalam modernitas dan
cengkraman kapitalisme yang semakin menggila yang menggempur kehidupan dari
berbagai macam sisi, kita perlu melihat lebih jauh dan meninjau kembali pola fikir
dan berbagai macam konsep filosofis yang terkait dengan struktur kognitiv yang
tentunya tidak menafikan peran dari sisi subjektifisme maupun obejktivisme. Dalam
tulisan ini saya tidak menjelaska lebih jauh kerangka teoritik structural generative
Piere Bourdieu, tetapi hanya memberikan gambaran singkat dari erangkat teoritik
sebagai langkah awal bagi kita yang sering berbicara tentang perubahan untuk
lebih jauh mempelajari struktur kognitiv masyarakat.
***
Usaha Bourdieu adalah untuk
mendamaikan pertentangan diantara subjektivisme dan objektivisme yang selama
ini berdiri dan mempertahankan perangkat teori masing-masing. Hemat saya ini
adalah sebuah jalan tengah tanpa membiarkan diri terjerambab dalam ruang
permisif yang menstrukturkan. Subjektivisme maupun objektivisme telah gagal
memahamai seperti yang dimaksud Bourdieu ‘objektivitas subjektif’ (the objectivity
of the subjective). Gagal memahami landasan social yang membentuk kesadaran,
sedangkan objektifisme melakukan hal sebaliknya gagal memahami realitas social pada
tataran tertentu yang dibentuk oleh representasi yang dilakukan individu
terhadap dunia social. Dalam kerangka inilah, Bourdieu mengembangakn kosepnya
yang terkenal: habiatus dan arena.
Habitus dimaksudkan Bourdieu
adalah semacam alterative bagi solusi yang ditawarkan subjketivisme dan reaksi
terhadap strukturalisme yang terlalu serampangan mereduksi dan menjadikan
individu hanya sebagai penikmat dana pengemban struktur. Habitus adalah sebuah
konsep yang dipinjamnya dari filsafat skolastik, juga digunakan dengan sentuhan
makna yang sedikit berbeda. Disatu sisi, konsep habitus mirip dengan gramatika
Generatif Chomsky, karena konsep ini berusaha memahami kemampuan kreatif, aktif
dan inventive agen agen manusia. Namun disisi lain agak sedikit berbeda dengan
Chomsky karena konsep ini tidak meletakan kemampuan pada pikiran individu
secara universal. Singkatnya, habitus adalah sebuah konsep untuk keluar dari
filsafat kesadaran tanpa membuanh agen sebagai operator prkatis bagi bagi
pengkonstrksian objek.
Sementara arena; adala semacam
dunia dalam pengertian Heideggeriana. Tetapi arena dalam pengertian Bourdieu
lebih pada situasi-situasi dalam kehidupan yang membentuk dinamika seperti
Arena pendidikan, sastra politik dan lain sebagainya. Dalam hal ini agen-agen
tidak bertindak dalam ruang hampa melainkan dalam situasi-situasi konkrit yang
diataur oleh relasi social objektif. Menurut model teoritis ini pembentukan social
apapun distrukturkan melalui serangkaian relasi arena. Arena didefinisikan
sebagai ruang yang terstruktur dengan kaidah-kaidah keberfungsian dengan
relasi-relasi kekuasaannya sendiri. Struktur dalam momen apapun ditentukan oleh
relasi-relasi diantara posisi yang ditempat agen-agen dalam suatu arena
terebut.
Sementara itu struktru kognitif
adalah suatu representasi pengetahuan agen-agen yang didapat dari rangkaian dan
relasi arena-arena. Struktur kognitif adalah banguan kesadaran yang tidak terlepas
dari relasi antar arena, dan sekaligus akan mengalami perubahan pada saat
terjadi jika setiap arena bisa memberikan perubahn dalam sebuah dinamika. Seperti
dalam epistemology Muttahari, terbentuknya struktur kognitif tidak semata
dipahami sebagai pemberian atau pemaksaan oleh arena-arena melainkan dispoisi
sebjek dalam mengambil peran (praktik) dalam
struktur. Habitus adalah sebuah system disposisi yang membuka kemungkinan bagi
agen-agen dalam melakukan kalkulasi strategis sebagai upaya mewujudkan praktik
sebagai hasil dari relasi arena-arena dan habitus.
Perubahan yang terjadi pada
agen-agen adalah tergantung pada sejauh mana setiap arena mampu memberikan
tindak disposisi strategis, dan perubahan yang terjadi pada arena-arena adalah
tergantung pada sejauh mana modal-modal dari para agen untuk terlibat dalam
dinamika perubahan arena-arena. Jadi habitus dalam hal ini adalah system disposisi
politis agen-agen untuk tidak menjadi bagian dari pengemban struktur semata,
melainkan menajdi bagian dari struktur yang menstrukturkan struktur setiap
arena atau ruang social. Dan struktur berfikir atau kognitif arena dan juga
agen-agan akan mengalami perubahan sejauh dinamika yang terjadi. Singkatnya Habitus
dan modal adalah system disposis sekaligus interpelasi dari agen-agen pada
setiap arena yang akan melahirkan praktik pada tingkatan secara universal. Disanalah
cara berfikir atau struktur kognitiv akan mengalami perubahan seperti yang diiginakan
baik secara individu maupun kolektif.