Senin, 20 Juni 2016

Menstrukturkan Struktur

Doxa, sebagaimana yang digambarakan Boiurdieu, merupakan bangunan berfikir atas penyerahan total terhadap pandangan hidup sebagai represntasi dari produksi kultural baik berupa adat budaya, tradisi, mitos dan lain sebagainya. Posisi subjek dalam hal ini selalu saja terjerambab dalam labirin strukturalisme, membiarkan diri dikuasai dan distrukturkan oleh makna lahir dari arena cultural terbsebut. Doxa tersebut dalam sebagian masyarakat kita telah dianggap sebagai makna trasenden yang melekat pada imanensi corak fikir, sehingga ada semacam rasa berdosa jika hendak bertindak atau berfikir diluar batas tradisi atau system kebenaran umum tersebut.
Di Negara kita strukturalisme menjadi semakin tumbuh subur dan masih banyak pula digunakan sebagai cara berfikir. Hal ini suka atau tidak masih menjadi sebuah kewajaran; sebuah konsekuensi dari masih mengentalnya mitos, budaya serta tradisi dan nilai-nilai budaya yang dianggap suci, sakral. Seperti bahasa dalam perspektif Saussurean, mitos dan nilai-nila budaya pun bertindak pada masyarakat kita sebagai penguasa, dan kita pun secara sukarela atau terpaksa menerima berbagai macam aturan dari nilai-nila budaya, mitos tersebut.
Namun dalam modernitas dan cengkraman kapitalisme yang semakin menggila yang menggempur kehidupan dari berbagai macam sisi, kita perlu melihat lebih jauh dan meninjau kembali pola fikir dan berbagai macam konsep filosofis yang terkait dengan struktur kognitiv yang tentunya tidak menafikan peran dari sisi subjektifisme maupun obejktivisme. Dalam tulisan ini saya tidak menjelaska lebih jauh kerangka teoritik structural generative Piere Bourdieu, tetapi hanya memberikan gambaran singkat dari erangkat teoritik sebagai langkah awal bagi kita yang sering berbicara tentang perubahan untuk lebih jauh mempelajari struktur kognitiv masyarakat.
***
Usaha Bourdieu adalah untuk mendamaikan pertentangan diantara subjektivisme dan objektivisme yang selama ini berdiri dan mempertahankan perangkat teori masing-masing. Hemat saya ini adalah sebuah jalan tengah tanpa membiarkan diri terjerambab dalam ruang permisif yang menstrukturkan. Subjektivisme maupun objektivisme telah gagal memahamai seperti yang dimaksud Bourdieu ‘objektivitas subjektif’ (the objectivity of the subjective). Gagal memahami landasan social yang membentuk kesadaran, sedangkan objektifisme melakukan hal sebaliknya gagal memahami realitas social pada tataran tertentu yang dibentuk oleh representasi yang dilakukan individu terhadap dunia social. Dalam kerangka inilah, Bourdieu mengembangakn kosepnya yang terkenal: habiatus dan arena.
Habitus dimaksudkan Bourdieu adalah semacam alterative bagi solusi yang ditawarkan subjketivisme dan reaksi terhadap strukturalisme yang terlalu serampangan mereduksi dan menjadikan individu hanya sebagai penikmat dana pengemban struktur. Habitus adalah sebuah konsep yang dipinjamnya dari filsafat skolastik, juga digunakan dengan sentuhan makna yang sedikit berbeda. Disatu sisi, konsep habitus mirip dengan gramatika Generatif Chomsky, karena konsep ini berusaha memahami kemampuan kreatif, aktif dan inventive agen agen manusia. Namun disisi lain agak sedikit berbeda dengan Chomsky karena konsep ini tidak meletakan kemampuan pada pikiran individu secara universal. Singkatnya, habitus adalah sebuah konsep untuk keluar dari filsafat kesadaran tanpa membuanh agen sebagai operator prkatis bagi bagi pengkonstrksian objek.
Sementara arena; adala semacam dunia dalam pengertian Heideggeriana. Tetapi arena dalam pengertian Bourdieu lebih pada situasi-situasi dalam kehidupan yang membentuk dinamika seperti Arena pendidikan, sastra politik dan lain sebagainya. Dalam hal ini agen-agen tidak bertindak dalam ruang hampa melainkan dalam situasi-situasi konkrit yang diataur oleh relasi social objektif. Menurut model teoritis ini pembentukan social apapun distrukturkan melalui serangkaian relasi arena. Arena didefinisikan sebagai ruang yang terstruktur dengan kaidah-kaidah keberfungsian dengan relasi-relasi kekuasaannya sendiri. Struktur dalam momen apapun ditentukan oleh relasi-relasi diantara posisi yang ditempat agen-agen dalam suatu arena terebut.
Sementara itu struktru kognitif adalah suatu representasi pengetahuan agen-agen yang didapat dari rangkaian dan relasi arena-arena. Struktur kognitif adalah banguan kesadaran yang tidak terlepas dari relasi antar arena, dan sekaligus akan mengalami perubahan pada saat terjadi jika setiap arena bisa memberikan perubahn dalam sebuah dinamika. Seperti dalam epistemology Muttahari, terbentuknya struktur kognitif tidak semata dipahami sebagai pemberian atau pemaksaan oleh arena-arena melainkan dispoisi sebjek dalam mengambil  peran (praktik) dalam struktur. Habitus adalah sebuah system disposisi yang membuka kemungkinan bagi agen-agen dalam melakukan kalkulasi strategis sebagai upaya mewujudkan praktik sebagai hasil dari relasi arena-arena dan habitus.
Perubahan yang terjadi pada agen-agen adalah tergantung pada sejauh mana setiap arena mampu memberikan tindak disposisi strategis, dan perubahan yang terjadi pada arena-arena adalah tergantung pada sejauh mana modal-modal dari para agen untuk terlibat dalam dinamika perubahan arena-arena. Jadi habitus dalam hal ini adalah system disposisi politis agen-agen untuk tidak menjadi bagian dari pengemban struktur semata, melainkan menajdi bagian dari struktur yang menstrukturkan struktur setiap arena atau ruang social. Dan struktur berfikir atau kognitif arena dan juga agen-agan akan mengalami perubahan sejauh dinamika yang terjadi. Singkatnya Habitus dan modal adalah system disposis sekaligus interpelasi dari agen-agen pada setiap arena yang akan melahirkan praktik pada tingkatan secara universal. Disanalah cara berfikir atau struktur kognitiv akan mengalami perubahan seperti yang diiginakan baik secara individu maupun kolektif.

Semacam Pengakuan



Ada kepuasan tersendiri saat dibutuhkan orang lain. Yah, bagi saya membantu orang lain dalam hal apapun adalah idaman bagai setiap manusia. Mungkin sedikit dari itu yang ku jalani. Ini bukanlah perkara mempublish apa saja yang pernah aku perbuat unutk membantu siapapun, tapi ada hal yang penting yang ingin saya bagiakan buat kita semua tentang makna lain dibalik itu.

Semasa kuliah saya menjalani aktivitas yang menurut saya normal-normal saja. Sebagai pelajar tentu kewajiaban untuk meraih pengetahuan adalah tujuan utama. Bergaul, memperbanyak teman baik di kampus sendiri maupun antar kampus. Pergaulan saya yang sebagian besar antar kampus membuatku bertemu dengan banyak teman yang memiliki disiplin keilmuan yang berbeda. Dalam setiap pergaulan saya selalu dan banyak bertanya tentang apa saja yang telah mereka pelajari dan pahami. Coba bayangkan, bagaimana jika anda memiliki sepuluh teman yang memiliki latar keilmuan yang berbeda-beda?.

Ketika mendaftar kuliah, saya mengambil jurusan Bahasa Inggris, fakultas Tarbiyah atau pendidikan. Saya memiliki banyak teman dengan latar pendidikan yang berbeda seperti Teknik elektro, Kimia, Otomotif, Fisika, Sastra, Filsafat, ekonomi, kedokteran, psikology, hukum, teknik Komputer dan jaringan dan beberapa jurusan lainnya. Bayangkan jika semua itu kita fungsikan sebagai media pembelajaran. Betapa beruntungnya kita.

Dalam perjalanan selanjutnya saya semakin intens dengan teman-teman STMIK Dipenegara Makassar, yang kebeteluan komunitas dimana saya begitu kerasan didalamnya yang sebagian besar terdiri dari teman-teman STMIK. Tentunya selain berbagi informasi tentang diskursus pengetahuan, tak sedikit pula mereka salang berbagi disiplin ilmu mereka, Komputer dan jaringan. Namun ilmu yang saya dapatkan dari mereka hanya terkesan sambil lalu, tidak seintes sebagaimana seharusnya agar bisa memhami seluk beluk sistem komputerasi serta seluk-beluknya.

Dan hampair lebih enam tahun sebagian besar kesemptan itu saya habiskan bersama mereka. Harus ku akui pertemuan itu  merupakan rencana teridah Keilahian yang memang ditakdirkan padaku. Walapun tidak seberapa tetapi ilmu tentang komputer, minimal dasar-dasar komputer dan dalam pengembangan autodidak selanjutnya itulah membuat saya sekarang begitu dibutuhkan dalam lingkungan kehidupanku saat ini.
***
Setelah kembali ke daerah asal, sekitar 2 tahun lebih, saya dihubungi salah satu sekolah untuk membantu mengajar disana. Awalnya, saya masih ragu untuk mengiyakan. Keraguan itu bukan lantaran saya tidak suka untuk menjadi guru—yang hemat saya merupakan suatu pengabdian suci, tetapi yang menjadi alasan saya dipanggil bukan untuk berbagi pengalaman berbahasa inggris dengan para siswa, tetapi mengajar pada Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Apa yang saya mau berikan?. Oh my God, saya tidak mau menjadi orang berdosa dengan pangkat sebagai guru yang tidak bisa memberikan yang terbaik bagi para siswa. Saya urungkan panggilan itu sekitar 3 bulan. Tapi sang kepala sekolah seperti tak kenal lelah untuk selalu menghubungi dengan berbagai macam cara. Saya pun mengiyakan dengan beban yang menurutku sangat memberatkan.

Sebenarnya dalam masa tiga bulan itu saya gunakan untuk membuka atau mengingat kembali apa yang sudah saya dapatkan selama bersama dengan teman-teman di STMIK. Oh, hanya tau mengisntal perangkat lunak, dan itu sangat tidak bisa dijadikan alasan untuk memberanikan diri menerima tawaran itu. Dan selama masa tiga bulan itu ada sebagain saya gunakan untuk mencari informasi tentang keadaan di sekolah tersbut terkait dengan jurusan Teknik Komuter dan jaringan (TKJ), dan informasi yang saya dapat sangat memprihatinkan dimana sangat tidak memadai atau kurangnya sumber daya atau tenaga  pengajar disana. Dengan penuh ikhtair saya membesarkan hati untuk menirima tawaran tersebut, dan ... saya telah menjadi guru. Sekali lagi, itu sangat memberatkan. Hmm, walaupun tanpa bayaran atau gaji yang sangat tidak pantas saya tetap menerimanya.

Alasan lainnya lagi mungkin agak sedikit pribadi dimana kebiasaan saya yang tidak menetap ditempat—suka melakukan travelling—menjadi pertimbangan khusus untuk itu, tetapi—lagi-lagi ini bukan perkara labay—keinginan untuk berbagi pengalaman dengan siapapun yang keluar sebagai pemenang untuk selanjutnya memaksakan aku secara sadar menerima tawaran itu. Saya pun mengiyakan dengan beberapa catatan dan diiyakan oleh pihak sekolah yaitu “apapun yang saya butuhkan untuk keperluan mengajar yang berkaitan dengan kelengkapan Lab. harus  dilengkapi, sebab aku tak mau menjadi orang yang berdosa bagi peserta didik dengan tidak memberikan yang terbaik bagi mereka”.

Anda bisa bayangkan bagaimana saya harus mempersiapkan diri untuk menjadi orang yang cerdas, yang bayak tahu tentang komputer dan jaringan dihadapan siswa. Ada penyesalan juga tentang kenapa saat masih bersama dengan teman-teman STMIK tidak kuhabiskan kesempatan itu untuk mendalami ilmu tentang komputer dan jaringan?. Dari sini saya memang dan sepertinya ditakdirkan untuk menganggap autodidiak sebagai guru terbaikku. Dan ketika membagikan materi ajar saya langsung diberikan mata pelajaran—yang ketika pertam kulihat—sayang membingungkan, seperti Merkait personal komputer, instalasi sistem operasi dasar, intalasi perangkat jaringan lokal dan instalasi sistem operasi berbasis GUI dan  text.

Ada perasaaan pesismis setelah melihat mapal-mapel itu, tetapi saya memiliki keyakinan bahwa sesulit apapun sesatu jika diawali dengan menghilangkan sifat pemalu untuk bertanya dan belajar maka tak ada kata sulit untuk itu. Dan, seperti sebelumnya sang guru itu, autodidak, membesarkan hatiku untuk berbesar hati menerima tantangan itu.

Hari demi hari, bulan demi bulan saya menjadi langganan untuk mengungjungi beranda om Google sama tante Wiki, selain juga membeli buku cetak. Hampir sebagian besar saya lalui dengan mengandalakan yang namanya trial and eror dibawah bimbingan si autodidiak. Dan kini, bukan untuk pamer diri, saya telah sedikit merasa bisa untuk memberikan ilmu yang saya ajarkan kepada para siswa sesuai dengan apa yang digariskan dalam RPP yang menjenuhkan itu. Bahkan disamping komputer dan jaringan saya memberanikan diri untuk membuak free english coures bagi para siswa, kemudian membuka sanggar seni dimana sastra bisa aku hidupkan di sekolah. Kemudian ada beberapa teman pengajar yang merasa tertarik untuk juga bergabung memberikan kursus gratis seperti matematika, yang hingga kini pesertanya telah lebih dari 30 orang.

Oh, terima kasih Tuhan atas karuniamu yang telah membuka akal pikiranku untuk memahami yang sebelumnya tak terjangkau. Kini aku merasa menjadi seorang kecil-jelata yang berharga ditengah kehidupan yang mengukur segalanya dengan uang.


Instalasi Local Area Network (LAN)

Merakit Komputer


Instalasi Opeating System (OS)

Persiapan Pementasan Teatrikal