Sabtu, 14 Juli 2012

Berawal dari Beautiful Mind

Malam itu, mereka bertemu kembali. Walapun bukan yang pertama kalinya, tapi pertemuan itu terasa seperti mereka baru saja berkenalan, berkesan bagi mereka berdua. Gayatri, gadis berkerudung dan mengenakan gaun yang coraknya seperti kain kebaya. Ada pemutaran dan bedah Film, Beautiful Mind, di gedung kesenian Makassar, yang secara kebetulan Ikbal, mengambil tempat duduk yang nantinya bersebelahan dengan Gayatri.

Sebuah film yang membutuhkan perhatian lebih agar dapat memahami apa makna dari setiap tayangan tersebut, membuat Ikbal, tak memperhatikan kalau ada yang berjalan menuju ke arahnya, dan mengambil tempat duduk tepat disampingnya.  Sepuluh menit kemudian baru ia sadar kalau  kursi yang tadinya kosong, telah diduduki oleh seorang gadis, Gayatri.
Eh, Gayatri, kan?
“Iya, serius amat”
“Kadang ketidakseriusan, walapun hanya sedetik, bisa mempengaruhi interpretasi atas sebuah cerita, he,he” ikbal membela diri.

Gayatri hanya tersenyum tipis, bola matanya yang bundar dan kening yang tidak terlalu tebal dan teratur,  kemudian wajah yang sedikit oval membuat malam itu ikut tersenyum menyaksikan wajah natural perempuan melayu timur. Ikbal, dengan alis mata yang bergerak ketika berbicara barusan, memandang sekilah ke arah gayatri, alis matanya yang hampir tersambung kadang menjebak lawan bicara kalau ia butuh keseriusan. Keseriusan yang sedang merambah penonton malam itu, membuat Gayatri menarik makna yang agak literer, hingga bola mata ikbal yang bundar dianggap sebagai tanda tuk sama-sama mengambil bagian dalam keseriusan itu.

Beautiful Mind, sebuah film yang diambil dari kisah nyata, yang mengambil latar di Princeton Unversity, mengisahakan tentang seorang pakar matematikawan, Jhon Nash, yang diperanakan oleh Russel Crowe. Kecerdasan John Nash dalam matematika membaut dia menjadi mahasiswa jenius, namun obesisi untuk menciptakan sebuah teori baru, yang ia namakan dinamika penggerak yang merobohkan gagasan ekonomi modern Adam Smith, awalnya, tidak didukung oleh pembimbingnya membuat ia kadang merenung sendiri, dan berimajinasi tentang idenya itu. Namun tanpa disadari ia terkena sebuah gejala kejiwaan, Skizofrenia, yang membuatnya tak bisa membedakan mana yang nyata, dan mana yang tidak nyata. Soundtrack berupa instrument dalam film itu bisa membuat anda untuk berimajinasi. ikbal, adalh seorang yang sangat menyukai instrument. Entah lirik-lirk lagu yang tak lagi puitik saat ini membuatnya malas untuk mendengarnya. Kadang, ketika membaca ia selalau ditemani oleh gesekan biola, Kitaro, juga instrument-interumen lain yang bisa heningkan rasa.

Film telah selesai didiskusikan, banyak yang telah meninggalkan ruangan. Sementara Gayatri dan Ikbal masih berdiri, maklum, hanya satu pintu yang dibuka sehingga harus rela antri tuk keluar.

“Mau pulang kemana, Yat?”. Tanya Ikbal. “Pulang ke rumah dong, masa ke laut”. Jawab gayatri dengan sediki bercanda. Ikbal, hanya tersemun tipis, dan sesekali mencuri pandangan tuk melihat wajah Gayatri, yang natural tanpa sentuhan make up apapun. Ia kagum ketika melihat  Gayatri, dalam menginterpretasi film tadi.

“Anda cukup cerdas, yat”.
”Apakah cerdas ada batasannya?”
“Maksudnya?”, jawab ikbal, dengan sedikit memainkan alisnya
“Tadi anda katakan kalau saya cukup cerdas, kan?”
“Maksud saya anda cerdas”.
“He.he.. kebiasaan laki-laki, cepat menumakan alasan dari sebuah kesalahan, cuman main-main tadi, jangan ambil dihati, sekedar mengajak anda tuk memahami permainan kata. He.he..”
“Kadang emosi mempengaruhi makna”
Apakah saya sedang emosi, menurutmu?
Ya, mungkin saja, emosi karena terbawa dengan film tadi”.

Mereka berdua tersenyum sambil memandangi satu sama lain, walau hanya beberapa detik, tapi dari tatapan itu menghasilkan juataan intonasi bahasa tubuh yang bisa membuat anda salah memahami sinar mata seseorang yang menatapmu. Di pintu keluar orang-orang sudah berkurang. Mereka berdua pun keluar.  Satu

Waktu menunjukan pukul setengah sebelas malam. Mobil angkot sudah jarang terlihat, hingga mereka harus rela menuggu sekitar dua jam didepan taman gedung itu. Jalanan yang sudah mulai sepi, kemudian temeram lampu jalanan berpendar hingga kesela pepohonan, desiran angin yang menyepoi, para pengemudi becak—yang mungkin sedang istrahat—duduk bermalasan  di sadel becaknya, beberapa pemuda berjalan kaki sambil bercerita. Suasana  malam yang mestimulasi  Ikbal, untuk lebih dekat mengenal, Gayatri. Mereka mengambil posisi duduk tepat dibawah pohon mangga, rindang.

”Apa yang anda sukai dari film tadi, Ik”. Tanya Gayatri,
“Yang saya sukai semuanya sih, tapi yang lebih berkesan ketika melihat semangatnya John Nash, yang tak pernah surut untuk berusaha dan belajar menciptakan teori dinamika penggerkanya.
Kalau kamu?” Tanya ikbal balik
“Saya teringat kata-katanya Einstein, imajinasi lebih penting dari pengetahuan. Dari kekuatan imajinasinya ia ias menciptakan tokoh fiktif, yang luar biasanya, ias diajak tuk menyelesaikan maslahnya”.
“Bukankah itu yang menjadi peyebab ia dimasukan ke rumah sakit jiwa?”
“Apakah anda tahu alasannya, kenapa?” Tanya gayatri, sambil membuka botol air mineral yang baru dibeli.
“Dari filmnya sih, Nash, dimata orang-orang terdekatnya, memiliki kelainan jiwa”
“Gila menurut anda?”
“Yah, seperti itu”
“Nash, tidak memiliki kelaianan jiwa”, jawab gayatri setelah menguk minumannya ”atau yang sering diakatakan orang-orang sebagai gila, tapi dokter psikiatri atau lingkungannya yang gila, karena mengobati penyakit dengan pengobatan kimiawi yang jelas-jelasnya tak memiliki organ materil didalam tubuh. Kenapa sih orang-orang seperti itu selalu tersisikan dalam suatu komunitas?, apa bedanya mereka dengan orang-orang yang ngigau saat teritidur pulas?”.

“Tapi kebiasaan mereka itu aneh, dan beda dengan lingkungannya, kan?”, sela Ikbal
“Kebaiasaan seperti apa?, saya bingung, kita semua selalu mengkritisi cara pikir ala Cartesian tentang ego cogito-nya, tapi dilain sisi kita juga selalu memakai cara-cara itu untuk melihat masalah-masalah yang tak bisa diukur atau dihitung secara matematis. Inilah sebuah era kegilaan, era dimana rasio menjadi tuhan, dan disaat bersamaan rasio kita jadikan sebagai hakim yang selalu memvonis hal-hal metafisis sebagai pihak yang selalu bersalah. Bukankah itu cara pikir filsafat barat modern?.

Sebuah penjelasan, gayatri, yang membuat Ikbal, menatap serius, entah karena menghayati penjelasan gayatri, ataukah sebuah tatapan kekaguman  atas apa yang baru saja ia jelaskan.  Kedua bola mata yang mulai terlihat lesuh, membuat wajah gayatri, semakin terliahat jelas akan wajah kesederhanaan melayu timur-nya. Namun ketika gayatri menatap balik, Ikbal seperti didera sebauh gerakan reflex alami, hingga ia harus mengalihkan pandangan kearah lain. Kebiasaan Ikbal, yang pemalu membaut ia jarang menatap mata lawan bicaranya, namun malam itu ia agak beda dari sebelumnya. Kadang berani dan sedikit diimbangi oleh rasa malunya.

“Apakah  rasio tak layak digunakan untuk meyelesaikan suatu masalah?” Tanya ikbal setelah diam sejenak.
“Saya tidak tidak berkata rasio seperti itu, tapi yang saya kritisi adalah dia ketika dipakai sebagai jalan satu-satumya tuk selesaikan sebuah masalah”.
“Bukankah dalam film tersebut terdapat suatu cara pengobatan yang non kimiawi, dimana cinta dan kasih sayang sang isteri turut berjasa hingga Nash, meraih Nobel?”. bela Ikbal.

Iya, memang seperti, tapi dalam film tadi saya justru—melihatnya dalam kulutur yang berbeda, Ik”.
“Misalnya?” Tanya Ikbal dengan melihat waktu di ponselnya.

"Cinta dan kasih sayang yang ditunjukan dalam film itu tadi lebih pada kebisaan ala barat yang selalu dibumbuhi dengan seksualitas, sementara cinta dalam presektif platonis hampir tak punya gambran disana, selain  hanya dalam bentuk kalimat saja, seperti perbincangan Nash dan Istrinya dibawah pohon. Atau seperti dalam film My Sisters Keepers, dimana penyakit leukimia yang diidap oleh seorang gadis remaja, kate, yang kondisinya semakin parah, tapi kehadiran seorang pacar mampu membuat ia keluar dari depresi yang ia rasakan, atau memilki waktu hidup lebih dari yang dipikirkan para dokter. Dari film itu pun diperliahtakan bahwa kasih sayang mampu juga menyembuhkan penyakit, tapi lagi-lagi agak syarat muatan kultur didalamnya". 

‘’Yah, saya sepaham. Tapi apakah anda membedakan seks bukan bagian dari cinta?

Mendengar itu, Gayatri hanya tersenyum tipis. Entah seks saat ini seperti yang dikatakan Faucault, merupakan hal yang tabu, dimana ada semacam polisi ujaran, dan ada semacam image nagatif jika dibicarakan didepan umum. Mungkin saja gayatri, terjebak pada episteme demikian, sehingga ia hanya diam sejenak dan membuka ponsel genggamnya, melihat waktu.

Ikbal membaca itu, dan berkata “ seks, yang saya pahami adalah bagian dari produksi dan prokreasi Tuhan. Dan itu merupakan bagian dari proses penciptaan hingga bumi ini kiamat.

Gayatri, memandang serius Ikbal, dan berkata “penciptaan seperti apa?”
“Rahim Ibu, tidak ada bedannya dengan ar rahman ar rahim dalam qur’an yang berarti kasih sayang, jika anda pernah membaca Saciko Muratha, The Tao of Islam, anda akan melihat penjelasan bahwa, seks merupakan bagain proses penciptaan mahluk hidup. Ibnu Arabi berkata bahwa manifestasi Tuhan yang paling terlihat berada pada wanita, yang salah satunya adalah ketika dilihat dari perspektif rahim ibu tadi. Bukankah semua agama mengajarakan kasih sanyang? Dan kata Allah secara substansial bermakna kasih sayang. Bagaimana ada kelahiran jika tidak ada seks, maka dari itu seks juga merupakan angugerah tuhan, cuman yang jadi persoalan ketika seks, dipahami diluar dari konteks itu”.

Mendengar itu, gayatri diam sejenak. Kondisi tubuh yang mulai ngantuk, dan mobil angkot belum juga dating membuat ia setengah gelisah, tapi Ikbal mampu melihat situasi itu dan berbicara lagi tentang apa yang dibicarakan Gayatri, tentang film tadi.

“Apakah anda pernah mendengar tentang music yang bisa membius orang ?”
Pernah, Ibnu sina, kan?. Jawab gayatri
“Ya, memang ketika orang, yang menurut kultur, sebagai kelainan jiwa tak bisa diobati secara kimiawi,  yang ada bukan penyembuhan, tapi lebih menambah penyakit itu”.
“yap, seperti Tadi, Nash yang berhenti makan obat ketika diberi sama isterinya” gayatri terlihat sedikit segar kemabali ketiaka menjawab ikbal, nampaknya, strategy Ikbal berhasil memancing lawan cerita dengan topic yang disukai lawan bicara, Gayatari melanjutkan “contoh kecil, curhat misalnya, kita butuh berbicara dengan orang ketika ada masalah, yang Nash butuh adalah terapi atau meditasi puitis”.

Mendengar itu, ikbal tersenyum hingga matanya yang agak sipit agak tertutup, dan berkata “jangan pernah menghindar jika kita dalam masalah, duduklah dan bicaralah dengan diri sendiri, karena ketika sedang stress atau sejeninsnya, merupakan kerinduan jiwa akan sentuhan kita sendiri yang jarang kita belai. Heheheh…”

“Ternyata anda lebih cerdas, sela Gayatri.
“Apakah cerdas ada lebihnya?”
“Ya, kelebihan anda kerena bisa membuatku betah diskusi dengan mu hingga jam segini”.
“He.he.he.. “ Ikbal tersenyum sambil memandang wajah indah Gayatri.

Mereka memutuskan untuk berjalan menaju putaran angkot, yang kurang lebih 29 meter dari tempat ngobrol, tak ada angkot yang didapat. Mereka berdua memtuskan tuk jalan kaki ke termina yang jaraknya sekitar satu kilo meter lebih.

“Apakah tidak kelelahan, Yat?”, Tanya Ikbal, dengan intonasi perhatian
“Tidak, sudah sering jalan kaki seperti ini, sekalian olahraga juga”.
Ikbal menatap sekilas wajah gadis yang sementara bersamanya, mungkin ia baru bertemu dengan pertemuan seperti ini. Bagi Ikbal, jalan kaki bagi masyarakt kota sudah merupakan sebuah penanda sosial—saussurean—yang kadang membuat stigma ketikmampuan jika melihat ada yang berjalan kaki. Entah, senyum kekaguman ataukah ada perasaan lain ketika menatap Gayatri, membuat pria itu diam terkesima beberapa saat. Ia pengen memuji gayatri, namun takut kalau dibilang gombal.

Ketika dalam setengah perjalan, sebuah angkot melintas dan berhenti dihadapan mereka. Namun ikbal memutuskan untuk tidak ikut bersama dengan Gayatri, dalam angkot itu. Kebetulan ruamhnya tidak terlalu jauh membuatnya memilih berjalan kaki. Mobil angkot telah berlalu, sementara Ikbal masih mengatur langkah dibawah temeram lampu jalanan. Wajahnya terlihat tersenyum saat memikirkan perempuan yang bersamanya tadi. Ia memutuskan berdiri sejenak dan mengetik pesan singkat pada ponselnya dan mengirim pesan itu ke sahabatnya, Ali. “Li, saya jatuh cinta malam ini pada seorang gadis, Gayatri namanya”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar