Malam itu, mereka bertemu kembali. Walapun bukan yang pertama
kalinya, tapi pertemuan itu terasa seperti mereka baru saja berkenalan,
berkesan bagi mereka berdua. Gayatri, gadis berkerudung dan
mengenakan gaun yang coraknya seperti kain kebaya. Ada pemutaran dan
bedah Film, Beautiful Mind, di gedung kesenian Makassar, yang secara
kebetulan Ikbal, mengambil tempat duduk yang nantinya bersebelahan
dengan Gayatri.
Sebuah film yang membutuhkan perhatian lebih agar
dapat memahami apa makna dari setiap tayangan tersebut, membuat Ikbal,
tak memperhatikan kalau ada yang berjalan menuju ke arahnya, dan
mengambil tempat duduk tepat disampingnya. Sepuluh menit kemudian baru
ia sadar kalau kursi yang tadinya kosong, telah diduduki oleh seorang
gadis, Gayatri.
Eh, Gayatri, kan?
“Iya, serius amat”
“Kadang ketidakseriusan, walapun hanya sedetik, bisa mempengaruhi interpretasi atas sebuah cerita, he,he” ikbal membela diri.
Gayatri
hanya tersenyum tipis, bola matanya yang bundar dan kening yang tidak
terlalu tebal dan teratur, kemudian wajah yang sedikit oval membuat
malam itu ikut tersenyum menyaksikan wajah natural perempuan melayu
timur. Ikbal, dengan alis mata yang bergerak ketika berbicara barusan,
memandang sekilah ke arah gayatri, alis matanya yang hampir tersambung
kadang menjebak lawan bicara kalau ia butuh keseriusan. Keseriusan yang
sedang merambah penonton malam itu, membuat Gayatri menarik makna yang
agak literer, hingga bola mata ikbal yang bundar dianggap sebagai tanda
tuk sama-sama mengambil bagian dalam keseriusan itu.
Beautiful
Mind, sebuah film yang diambil dari kisah nyata, yang mengambil latar
di Princeton Unversity, mengisahakan tentang seorang pakar
matematikawan, Jhon Nash, yang diperanakan oleh Russel Crowe. Kecerdasan
John Nash dalam matematika membaut dia menjadi mahasiswa jenius, namun
obesisi untuk menciptakan sebuah teori baru, yang ia namakan dinamika
penggerak yang merobohkan gagasan ekonomi modern Adam Smith, awalnya,
tidak didukung oleh pembimbingnya membuat ia kadang merenung sendiri,
dan berimajinasi tentang idenya itu. Namun tanpa disadari ia terkena
sebuah gejala kejiwaan, Skizofrenia, yang membuatnya tak bisa membedakan
mana yang nyata, dan mana yang tidak nyata. Soundtrack berupa
instrument dalam film itu bisa membuat anda untuk berimajinasi. ikbal,
adalh seorang yang sangat menyukai instrument. Entah lirik-lirk lagu
yang tak lagi puitik saat ini membuatnya malas untuk mendengarnya.
Kadang, ketika membaca ia selalau ditemani oleh gesekan biola, Kitaro,
juga instrument-interumen lain yang bisa heningkan rasa.
Film
telah selesai didiskusikan, banyak yang telah meninggalkan ruangan.
Sementara Gayatri dan Ikbal masih berdiri, maklum, hanya satu pintu yang
dibuka sehingga harus rela antri tuk keluar.
“Mau pulang kemana, Yat?”. Tanya Ikbal. “Pulang ke rumah dong, masa ke laut”.
Jawab gayatri dengan sediki bercanda. Ikbal, hanya tersemun tipis, dan
sesekali mencuri pandangan tuk melihat wajah Gayatri, yang natural tanpa
sentuhan make up apapun. Ia kagum ketika melihat Gayatri, dalam
menginterpretasi film tadi.
“Anda cukup cerdas, yat”.
”Apakah cerdas ada batasannya?”
“Maksudnya?”, jawab ikbal, dengan sedikit memainkan alisnya
“Tadi anda katakan kalau saya cukup cerdas, kan?”
“Maksud saya anda cerdas”.
“He.he..
kebiasaan laki-laki, cepat menumakan alasan dari sebuah kesalahan,
cuman main-main tadi, jangan ambil dihati, sekedar mengajak anda tuk
memahami permainan kata. He.he..”
“Kadang emosi mempengaruhi makna”
Apakah saya sedang emosi, menurutmu?
Ya, mungkin saja, emosi karena terbawa dengan film tadi”.
Mereka
berdua tersenyum sambil memandangi satu sama lain, walau hanya beberapa
detik, tapi dari tatapan itu menghasilkan juataan intonasi bahasa tubuh
yang bisa membuat anda salah memahami sinar mata seseorang yang
menatapmu. Di pintu keluar orang-orang sudah berkurang. Mereka berdua
pun keluar. Satu
Waktu menunjukan pukul setengah sebelas
malam. Mobil angkot sudah jarang terlihat, hingga mereka harus rela
menuggu sekitar dua jam didepan taman gedung itu. Jalanan yang sudah
mulai sepi, kemudian temeram lampu jalanan berpendar hingga kesela
pepohonan, desiran angin yang menyepoi, para pengemudi becak—yang
mungkin sedang istrahat—duduk bermalasan di sadel becaknya, beberapa
pemuda berjalan kaki sambil bercerita. Suasana malam yang mestimulasi
Ikbal, untuk lebih dekat mengenal, Gayatri. Mereka mengambil posisi
duduk tepat dibawah pohon mangga, rindang.
”Apa yang anda sukai dari film tadi, Ik”. Tanya Gayatri,
“Yang
saya sukai semuanya sih, tapi yang lebih berkesan ketika melihat
semangatnya John Nash, yang tak pernah surut untuk berusaha dan belajar
menciptakan teori dinamika penggerkanya.
Kalau kamu?” Tanya ikbal balik
“Saya
teringat kata-katanya Einstein, imajinasi lebih penting dari
pengetahuan. Dari kekuatan imajinasinya ia ias menciptakan tokoh fiktif,
yang luar biasanya, ias diajak tuk menyelesaikan maslahnya”.
“Bukankah itu yang menjadi peyebab ia dimasukan ke rumah sakit jiwa?”
“Apakah anda tahu alasannya, kenapa?” Tanya gayatri, sambil membuka botol air mineral yang baru dibeli.
“Dari filmnya sih, Nash, dimata orang-orang terdekatnya, memiliki kelainan jiwa”
“Gila menurut anda?”
“Yah, seperti itu”
“Nash, tidak memiliki kelaianan jiwa”, jawab gayatri setelah menguk minumannya
”atau yang sering diakatakan orang-orang sebagai gila, tapi dokter
psikiatri atau lingkungannya yang gila, karena mengobati penyakit dengan
pengobatan kimiawi yang jelas-jelasnya tak memiliki organ materil
didalam tubuh. Kenapa sih orang-orang seperti itu selalu tersisikan
dalam suatu komunitas?, apa bedanya mereka dengan orang-orang yang
ngigau saat teritidur pulas?”.
“Tapi kebiasaan mereka itu aneh, dan beda dengan lingkungannya, kan?”, sela Ikbal
“Kebaiasaan
seperti apa?, saya bingung, kita semua selalu mengkritisi cara pikir
ala Cartesian tentang ego cogito-nya, tapi dilain sisi kita juga selalu
memakai cara-cara itu untuk melihat masalah-masalah yang tak bisa diukur
atau dihitung secara matematis. Inilah sebuah era kegilaan, era dimana
rasio menjadi tuhan, dan disaat bersamaan rasio kita jadikan sebagai
hakim yang selalu memvonis hal-hal metafisis sebagai pihak yang selalu
bersalah. Bukankah itu cara pikir filsafat barat modern?.
Sebuah
penjelasan, gayatri, yang membuat Ikbal, menatap serius, entah karena
menghayati penjelasan gayatri, ataukah sebuah tatapan kekaguman atas
apa yang baru saja ia jelaskan. Kedua bola mata yang mulai terlihat
lesuh, membuat wajah gayatri, semakin terliahat jelas akan wajah
kesederhanaan melayu timur-nya. Namun ketika gayatri menatap balik,
Ikbal seperti didera sebauh gerakan reflex alami, hingga ia harus
mengalihkan pandangan kearah lain. Kebiasaan Ikbal, yang pemalu membaut
ia jarang menatap mata lawan bicaranya, namun malam itu ia agak beda
dari sebelumnya. Kadang berani dan sedikit diimbangi oleh rasa malunya.
“Apakah rasio tak layak digunakan untuk meyelesaikan suatu masalah?” Tanya ikbal setelah diam sejenak.
“Saya
tidak tidak berkata rasio seperti itu, tapi yang saya kritisi adalah
dia ketika dipakai sebagai jalan satu-satumya tuk selesaikan sebuah
masalah”.
“Bukankah dalam film tersebut terdapat suatu cara
pengobatan yang non kimiawi, dimana cinta dan kasih sayang sang isteri
turut berjasa hingga Nash, meraih Nobel?”. bela Ikbal.
Iya, memang seperti, tapi dalam film tadi saya justru—melihatnya dalam kulutur yang berbeda, Ik”.
“Misalnya?” Tanya Ikbal dengan melihat waktu di ponselnya.
"Cinta
dan kasih sayang yang ditunjukan dalam film itu tadi lebih pada
kebisaan ala barat yang selalu dibumbuhi dengan seksualitas, sementara
cinta dalam presektif platonis hampir tak punya gambran disana, selain
hanya dalam bentuk kalimat saja, seperti perbincangan Nash dan Istrinya
dibawah pohon. Atau seperti dalam film My Sisters Keepers, dimana
penyakit leukimia yang diidap oleh seorang gadis remaja, kate, yang
kondisinya semakin parah, tapi kehadiran seorang pacar mampu membuat ia
keluar dari depresi yang ia rasakan, atau memilki waktu hidup lebih dari
yang dipikirkan para dokter. Dari film itu pun diperliahtakan bahwa
kasih sayang mampu juga menyembuhkan penyakit, tapi lagi-lagi agak
syarat muatan kultur didalamnya".
‘’Yah, saya sepaham. Tapi apakah anda membedakan seks bukan bagian dari cinta?
Mendengar
itu, Gayatri hanya tersenyum tipis. Entah seks saat ini seperti yang
dikatakan Faucault, merupakan hal yang tabu, dimana ada semacam polisi
ujaran, dan ada semacam image nagatif jika dibicarakan didepan umum.
Mungkin saja gayatri, terjebak pada episteme demikian, sehingga ia hanya
diam sejenak dan membuka ponsel genggamnya, melihat waktu.
Ikbal
membaca itu, dan berkata “ seks, yang saya pahami adalah bagian dari
produksi dan prokreasi Tuhan. Dan itu merupakan bagian dari proses
penciptaan hingga bumi ini kiamat.
Gayatri, memandang serius Ikbal, dan berkata “penciptaan seperti apa?”
“Rahim
Ibu, tidak ada bedannya dengan ar rahman ar rahim dalam qur’an yang
berarti kasih sayang, jika anda pernah membaca Saciko Muratha, The Tao
of Islam, anda akan melihat penjelasan bahwa, seks merupakan bagain
proses penciptaan mahluk hidup. Ibnu Arabi berkata bahwa manifestasi
Tuhan yang paling terlihat berada pada wanita, yang salah satunya adalah
ketika dilihat dari perspektif rahim ibu tadi. Bukankah semua agama
mengajarakan kasih sanyang? Dan kata Allah secara substansial bermakna
kasih sayang. Bagaimana ada kelahiran jika tidak ada seks, maka dari itu
seks juga merupakan angugerah tuhan, cuman yang jadi persoalan ketika
seks, dipahami diluar dari konteks itu”.
Mendengar
itu, gayatri diam sejenak. Kondisi tubuh yang mulai ngantuk, dan mobil
angkot belum juga dating membuat ia setengah gelisah, tapi Ikbal mampu
melihat situasi itu dan berbicara lagi tentang apa yang dibicarakan
Gayatri, tentang film tadi.
“Apakah anda pernah mendengar tentang music yang bisa membius orang ?”
Pernah, Ibnu sina, kan?. Jawab gayatri
“Ya,
memang ketika orang, yang menurut kultur, sebagai kelainan jiwa tak
bisa diobati secara kimiawi, yang ada bukan penyembuhan, tapi lebih
menambah penyakit itu”.
“yap, seperti Tadi, Nash yang berhenti makan obat ketika diberi sama isterinya”
gayatri terlihat sedikit segar kemabali ketiaka menjawab ikbal,
nampaknya, strategy Ikbal berhasil memancing lawan cerita dengan topic
yang disukai lawan bicara, Gayatari melanjutkan “contoh kecil,
curhat misalnya, kita butuh berbicara dengan orang ketika ada masalah,
yang Nash butuh adalah terapi atau meditasi puitis”.
Mendengar itu, ikbal tersenyum hingga matanya yang agak sipit agak tertutup, dan berkata “jangan
pernah menghindar jika kita dalam masalah, duduklah dan bicaralah
dengan diri sendiri, karena ketika sedang stress atau sejeninsnya,
merupakan kerinduan jiwa akan sentuhan kita sendiri yang jarang kita
belai. Heheheh…”
“Ternyata anda lebih cerdas, sela Gayatri.
“Apakah cerdas ada lebihnya?”
“Ya, kelebihan anda kerena bisa membuatku betah diskusi dengan mu hingga jam segini”.
“He.he.he.. “ Ikbal tersenyum sambil memandang wajah indah Gayatri.
Mereka
memutuskan untuk berjalan menaju putaran angkot, yang kurang lebih 29
meter dari tempat ngobrol, tak ada angkot yang didapat. Mereka berdua
memtuskan tuk jalan kaki ke termina yang jaraknya sekitar satu kilo
meter lebih.
“Apakah tidak kelelahan, Yat?”, Tanya Ikbal, dengan intonasi perhatian
“Tidak, sudah sering jalan kaki seperti ini, sekalian olahraga juga”.
Ikbal
menatap sekilas wajah gadis yang sementara bersamanya, mungkin ia baru
bertemu dengan pertemuan seperti ini. Bagi Ikbal, jalan kaki bagi
masyarakt kota sudah merupakan sebuah penanda sosial—saussurean—yang
kadang membuat stigma ketikmampuan jika melihat ada yang berjalan kaki.
Entah, senyum kekaguman ataukah ada perasaan lain ketika menatap
Gayatri, membuat pria itu diam terkesima beberapa saat. Ia pengen memuji
gayatri, namun takut kalau dibilang gombal.
Ketika dalam
setengah perjalan, sebuah angkot melintas dan berhenti dihadapan mereka.
Namun ikbal memutuskan untuk tidak ikut bersama dengan Gayatri, dalam
angkot itu. Kebetulan ruamhnya tidak terlalu jauh membuatnya memilih
berjalan kaki. Mobil angkot telah berlalu, sementara Ikbal masih
mengatur langkah dibawah temeram lampu jalanan. Wajahnya terlihat
tersenyum saat memikirkan perempuan yang bersamanya tadi. Ia memutuskan
berdiri sejenak dan mengetik pesan singkat pada ponselnya dan mengirim
pesan itu ke sahabatnya, Ali. “Li, saya jatuh cinta malam ini pada seorang gadis, Gayatri namanya”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar