Senin, 20 Juni 2016

Menstrukturkan Struktur

Doxa, sebagaimana yang digambarakan Boiurdieu, merupakan bangunan berfikir atas penyerahan total terhadap pandangan hidup sebagai represntasi dari produksi kultural baik berupa adat budaya, tradisi, mitos dan lain sebagainya. Posisi subjek dalam hal ini selalu saja terjerambab dalam labirin strukturalisme, membiarkan diri dikuasai dan distrukturkan oleh makna lahir dari arena cultural terbsebut. Doxa tersebut dalam sebagian masyarakat kita telah dianggap sebagai makna trasenden yang melekat pada imanensi corak fikir, sehingga ada semacam rasa berdosa jika hendak bertindak atau berfikir diluar batas tradisi atau system kebenaran umum tersebut.
Di Negara kita strukturalisme menjadi semakin tumbuh subur dan masih banyak pula digunakan sebagai cara berfikir. Hal ini suka atau tidak masih menjadi sebuah kewajaran; sebuah konsekuensi dari masih mengentalnya mitos, budaya serta tradisi dan nilai-nilai budaya yang dianggap suci, sakral. Seperti bahasa dalam perspektif Saussurean, mitos dan nilai-nila budaya pun bertindak pada masyarakat kita sebagai penguasa, dan kita pun secara sukarela atau terpaksa menerima berbagai macam aturan dari nilai-nila budaya, mitos tersebut.
Namun dalam modernitas dan cengkraman kapitalisme yang semakin menggila yang menggempur kehidupan dari berbagai macam sisi, kita perlu melihat lebih jauh dan meninjau kembali pola fikir dan berbagai macam konsep filosofis yang terkait dengan struktur kognitiv yang tentunya tidak menafikan peran dari sisi subjektifisme maupun obejktivisme. Dalam tulisan ini saya tidak menjelaska lebih jauh kerangka teoritik structural generative Piere Bourdieu, tetapi hanya memberikan gambaran singkat dari erangkat teoritik sebagai langkah awal bagi kita yang sering berbicara tentang perubahan untuk lebih jauh mempelajari struktur kognitiv masyarakat.
***
Usaha Bourdieu adalah untuk mendamaikan pertentangan diantara subjektivisme dan objektivisme yang selama ini berdiri dan mempertahankan perangkat teori masing-masing. Hemat saya ini adalah sebuah jalan tengah tanpa membiarkan diri terjerambab dalam ruang permisif yang menstrukturkan. Subjektivisme maupun objektivisme telah gagal memahamai seperti yang dimaksud Bourdieu ‘objektivitas subjektif’ (the objectivity of the subjective). Gagal memahami landasan social yang membentuk kesadaran, sedangkan objektifisme melakukan hal sebaliknya gagal memahami realitas social pada tataran tertentu yang dibentuk oleh representasi yang dilakukan individu terhadap dunia social. Dalam kerangka inilah, Bourdieu mengembangakn kosepnya yang terkenal: habiatus dan arena.
Habitus dimaksudkan Bourdieu adalah semacam alterative bagi solusi yang ditawarkan subjketivisme dan reaksi terhadap strukturalisme yang terlalu serampangan mereduksi dan menjadikan individu hanya sebagai penikmat dana pengemban struktur. Habitus adalah sebuah konsep yang dipinjamnya dari filsafat skolastik, juga digunakan dengan sentuhan makna yang sedikit berbeda. Disatu sisi, konsep habitus mirip dengan gramatika Generatif Chomsky, karena konsep ini berusaha memahami kemampuan kreatif, aktif dan inventive agen agen manusia. Namun disisi lain agak sedikit berbeda dengan Chomsky karena konsep ini tidak meletakan kemampuan pada pikiran individu secara universal. Singkatnya, habitus adalah sebuah konsep untuk keluar dari filsafat kesadaran tanpa membuanh agen sebagai operator prkatis bagi bagi pengkonstrksian objek.
Sementara arena; adala semacam dunia dalam pengertian Heideggeriana. Tetapi arena dalam pengertian Bourdieu lebih pada situasi-situasi dalam kehidupan yang membentuk dinamika seperti Arena pendidikan, sastra politik dan lain sebagainya. Dalam hal ini agen-agen tidak bertindak dalam ruang hampa melainkan dalam situasi-situasi konkrit yang diataur oleh relasi social objektif. Menurut model teoritis ini pembentukan social apapun distrukturkan melalui serangkaian relasi arena. Arena didefinisikan sebagai ruang yang terstruktur dengan kaidah-kaidah keberfungsian dengan relasi-relasi kekuasaannya sendiri. Struktur dalam momen apapun ditentukan oleh relasi-relasi diantara posisi yang ditempat agen-agen dalam suatu arena terebut.
Sementara itu struktru kognitif adalah suatu representasi pengetahuan agen-agen yang didapat dari rangkaian dan relasi arena-arena. Struktur kognitif adalah banguan kesadaran yang tidak terlepas dari relasi antar arena, dan sekaligus akan mengalami perubahan pada saat terjadi jika setiap arena bisa memberikan perubahn dalam sebuah dinamika. Seperti dalam epistemology Muttahari, terbentuknya struktur kognitif tidak semata dipahami sebagai pemberian atau pemaksaan oleh arena-arena melainkan dispoisi sebjek dalam mengambil  peran (praktik) dalam struktur. Habitus adalah sebuah system disposisi yang membuka kemungkinan bagi agen-agen dalam melakukan kalkulasi strategis sebagai upaya mewujudkan praktik sebagai hasil dari relasi arena-arena dan habitus.
Perubahan yang terjadi pada agen-agen adalah tergantung pada sejauh mana setiap arena mampu memberikan tindak disposisi strategis, dan perubahan yang terjadi pada arena-arena adalah tergantung pada sejauh mana modal-modal dari para agen untuk terlibat dalam dinamika perubahan arena-arena. Jadi habitus dalam hal ini adalah system disposisi politis agen-agen untuk tidak menjadi bagian dari pengemban struktur semata, melainkan menajdi bagian dari struktur yang menstrukturkan struktur setiap arena atau ruang social. Dan struktur berfikir atau kognitif arena dan juga agen-agan akan mengalami perubahan sejauh dinamika yang terjadi. Singkatnya Habitus dan modal adalah system disposis sekaligus interpelasi dari agen-agen pada setiap arena yang akan melahirkan praktik pada tingkatan secara universal. Disanalah cara berfikir atau struktur kognitiv akan mengalami perubahan seperti yang diiginakan baik secara individu maupun kolektif.

Semacam Pengakuan



Ada kepuasan tersendiri saat dibutuhkan orang lain. Yah, bagi saya membantu orang lain dalam hal apapun adalah idaman bagai setiap manusia. Mungkin sedikit dari itu yang ku jalani. Ini bukanlah perkara mempublish apa saja yang pernah aku perbuat unutk membantu siapapun, tapi ada hal yang penting yang ingin saya bagiakan buat kita semua tentang makna lain dibalik itu.

Semasa kuliah saya menjalani aktivitas yang menurut saya normal-normal saja. Sebagai pelajar tentu kewajiaban untuk meraih pengetahuan adalah tujuan utama. Bergaul, memperbanyak teman baik di kampus sendiri maupun antar kampus. Pergaulan saya yang sebagian besar antar kampus membuatku bertemu dengan banyak teman yang memiliki disiplin keilmuan yang berbeda. Dalam setiap pergaulan saya selalu dan banyak bertanya tentang apa saja yang telah mereka pelajari dan pahami. Coba bayangkan, bagaimana jika anda memiliki sepuluh teman yang memiliki latar keilmuan yang berbeda-beda?.

Ketika mendaftar kuliah, saya mengambil jurusan Bahasa Inggris, fakultas Tarbiyah atau pendidikan. Saya memiliki banyak teman dengan latar pendidikan yang berbeda seperti Teknik elektro, Kimia, Otomotif, Fisika, Sastra, Filsafat, ekonomi, kedokteran, psikology, hukum, teknik Komputer dan jaringan dan beberapa jurusan lainnya. Bayangkan jika semua itu kita fungsikan sebagai media pembelajaran. Betapa beruntungnya kita.

Dalam perjalanan selanjutnya saya semakin intens dengan teman-teman STMIK Dipenegara Makassar, yang kebeteluan komunitas dimana saya begitu kerasan didalamnya yang sebagian besar terdiri dari teman-teman STMIK. Tentunya selain berbagi informasi tentang diskursus pengetahuan, tak sedikit pula mereka salang berbagi disiplin ilmu mereka, Komputer dan jaringan. Namun ilmu yang saya dapatkan dari mereka hanya terkesan sambil lalu, tidak seintes sebagaimana seharusnya agar bisa memhami seluk beluk sistem komputerasi serta seluk-beluknya.

Dan hampair lebih enam tahun sebagian besar kesemptan itu saya habiskan bersama mereka. Harus ku akui pertemuan itu  merupakan rencana teridah Keilahian yang memang ditakdirkan padaku. Walapun tidak seberapa tetapi ilmu tentang komputer, minimal dasar-dasar komputer dan dalam pengembangan autodidak selanjutnya itulah membuat saya sekarang begitu dibutuhkan dalam lingkungan kehidupanku saat ini.
***
Setelah kembali ke daerah asal, sekitar 2 tahun lebih, saya dihubungi salah satu sekolah untuk membantu mengajar disana. Awalnya, saya masih ragu untuk mengiyakan. Keraguan itu bukan lantaran saya tidak suka untuk menjadi guru—yang hemat saya merupakan suatu pengabdian suci, tetapi yang menjadi alasan saya dipanggil bukan untuk berbagi pengalaman berbahasa inggris dengan para siswa, tetapi mengajar pada Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Apa yang saya mau berikan?. Oh my God, saya tidak mau menjadi orang berdosa dengan pangkat sebagai guru yang tidak bisa memberikan yang terbaik bagi para siswa. Saya urungkan panggilan itu sekitar 3 bulan. Tapi sang kepala sekolah seperti tak kenal lelah untuk selalu menghubungi dengan berbagai macam cara. Saya pun mengiyakan dengan beban yang menurutku sangat memberatkan.

Sebenarnya dalam masa tiga bulan itu saya gunakan untuk membuka atau mengingat kembali apa yang sudah saya dapatkan selama bersama dengan teman-teman di STMIK. Oh, hanya tau mengisntal perangkat lunak, dan itu sangat tidak bisa dijadikan alasan untuk memberanikan diri menerima tawaran itu. Dan selama masa tiga bulan itu ada sebagain saya gunakan untuk mencari informasi tentang keadaan di sekolah tersbut terkait dengan jurusan Teknik Komuter dan jaringan (TKJ), dan informasi yang saya dapat sangat memprihatinkan dimana sangat tidak memadai atau kurangnya sumber daya atau tenaga  pengajar disana. Dengan penuh ikhtair saya membesarkan hati untuk menirima tawaran tersebut, dan ... saya telah menjadi guru. Sekali lagi, itu sangat memberatkan. Hmm, walaupun tanpa bayaran atau gaji yang sangat tidak pantas saya tetap menerimanya.

Alasan lainnya lagi mungkin agak sedikit pribadi dimana kebiasaan saya yang tidak menetap ditempat—suka melakukan travelling—menjadi pertimbangan khusus untuk itu, tetapi—lagi-lagi ini bukan perkara labay—keinginan untuk berbagi pengalaman dengan siapapun yang keluar sebagai pemenang untuk selanjutnya memaksakan aku secara sadar menerima tawaran itu. Saya pun mengiyakan dengan beberapa catatan dan diiyakan oleh pihak sekolah yaitu “apapun yang saya butuhkan untuk keperluan mengajar yang berkaitan dengan kelengkapan Lab. harus  dilengkapi, sebab aku tak mau menjadi orang yang berdosa bagi peserta didik dengan tidak memberikan yang terbaik bagi mereka”.

Anda bisa bayangkan bagaimana saya harus mempersiapkan diri untuk menjadi orang yang cerdas, yang bayak tahu tentang komputer dan jaringan dihadapan siswa. Ada penyesalan juga tentang kenapa saat masih bersama dengan teman-teman STMIK tidak kuhabiskan kesempatan itu untuk mendalami ilmu tentang komputer dan jaringan?. Dari sini saya memang dan sepertinya ditakdirkan untuk menganggap autodidiak sebagai guru terbaikku. Dan ketika membagikan materi ajar saya langsung diberikan mata pelajaran—yang ketika pertam kulihat—sayang membingungkan, seperti Merkait personal komputer, instalasi sistem operasi dasar, intalasi perangkat jaringan lokal dan instalasi sistem operasi berbasis GUI dan  text.

Ada perasaaan pesismis setelah melihat mapal-mapel itu, tetapi saya memiliki keyakinan bahwa sesulit apapun sesatu jika diawali dengan menghilangkan sifat pemalu untuk bertanya dan belajar maka tak ada kata sulit untuk itu. Dan, seperti sebelumnya sang guru itu, autodidak, membesarkan hatiku untuk berbesar hati menerima tantangan itu.

Hari demi hari, bulan demi bulan saya menjadi langganan untuk mengungjungi beranda om Google sama tante Wiki, selain juga membeli buku cetak. Hampir sebagian besar saya lalui dengan mengandalakan yang namanya trial and eror dibawah bimbingan si autodidiak. Dan kini, bukan untuk pamer diri, saya telah sedikit merasa bisa untuk memberikan ilmu yang saya ajarkan kepada para siswa sesuai dengan apa yang digariskan dalam RPP yang menjenuhkan itu. Bahkan disamping komputer dan jaringan saya memberanikan diri untuk membuak free english coures bagi para siswa, kemudian membuka sanggar seni dimana sastra bisa aku hidupkan di sekolah. Kemudian ada beberapa teman pengajar yang merasa tertarik untuk juga bergabung memberikan kursus gratis seperti matematika, yang hingga kini pesertanya telah lebih dari 30 orang.

Oh, terima kasih Tuhan atas karuniamu yang telah membuka akal pikiranku untuk memahami yang sebelumnya tak terjangkau. Kini aku merasa menjadi seorang kecil-jelata yang berharga ditengah kehidupan yang mengukur segalanya dengan uang.


Instalasi Local Area Network (LAN)

Merakit Komputer


Instalasi Opeating System (OS)

Persiapan Pementasan Teatrikal

Selasa, 08 Juli 2014

Bagian Keempat



Ponselku bergetar tanpa nada, dari getarannya aku tahu ini sebuah pesan. Sebuah undangan untuk menghadiri diskusi tentang intertekstualitas. Jangan heran diabad digital ini, undanganpun sudah bisa melalui pesan inbox dan aku tahu sekarang jarang sekali ada muda-mudi, terutama yang pacarannya jarak jauh, tidak lagi saling bersurat. Padahal ada kesan tersendiri didalamnya; kata seorang teman kalau kita lebih memahami emosi sang pengirim melalui karakter tulisannya. Betulkah?.

Intertekstualitas. Pasti yang tersirat adalah Julia Kristeva, seorang postfeminis juga kritikus sastra asal Prancis. Dari Kristeva aku jadi sadar dan mulai terima dipanggil Kakak oleh si dia. tepat bulan Juni Kristeva lahir, sama bulan dengan perempuan itu yang juga lahir bulan juni. Aku lebih tua empat tahun. Gemetaran kembali tubuhku. Entah, setiap kali teringat itu yang kualami. Gemetar, bergerak kesani sini naluri lekaku. Aku bergerak membuka akun; agar tetap seimbang, maka teruslah bergerak, itu yang aku tulis dalam akun—Bukan kata-kataku, tapi Einstein dalam surat kepada anaknya, Eduardo.

Iya, dia perempuan itu. jika perespsi dunia modern tentang yang bagaimanakah kecantikan, mungkin dia tak masuk dalam indeks linguistic modern itu. Aku hanya merasakan adanya keselarasan kosmik yang bertuan dalam daftar kebutuhan eksistensialku; sebuah eksistensi Heideggerian, yang darinya aku merasakan sang Ada terlempar dalam suatu kemenjadian bersama, tentunya dengan si dia. Dan kemenjadian ini memberikan suatu momen-momen manis tuk meraasakan getar Harmonia Praestabilyta; suatu kepercayaan mutlak bahwa segala hal dimuka bumi, semenjak bumi tercipta, selalu berada dalam keadaan yang seimbang, tersambung, harmonis. Aku merasakan itu saat mengingitanya.

Aku harus terus bergerak, menjaga keseimbangan yang telah mengalami fusi dari ketertagantungan pada suatu horizon tunggal. Suatu horizon idealitas hermeneutic, yang dalam skala filosofis, merupakan bentuk kemenjadian, bentuk kebutuhan keAkuanku yang darinya aku merasa hidupku lebih hidup sebagai anak zaman yang butuh sentuhan halus dari dimensi Kasih keIlahian yang mungkin ada padanya.

Sartre sedang ada padanya. Dan tentu, seperti doa Sartre, doakupun sama akan kediriannya berakhir pada pemilik buku itu. pemilik buku, bukan penulisnya. “sepertinya teman kita yang satu ini sedang dalam masa keemasannya”. Canda seorang teman yang selalu menangkap aura kebahagiaanku. “apa?? masa keemasan?, akh kau, seperti the Golden Age filsafat timur aja”. Juga jawabku bercanda. Saat itu aku dan teman-teman sedang santainya didepan biara, tepat dibawah sebuah pohon mengkudu. Tembok pagar yang tidak terlalu tinggi, sekitar satu setengah meter, dengan halaman tak begitu lebar membuat keakraban semakin kentara dalam kedekatan badani. “tapi untuk siapa tulisan dalam bloog itu, yang judulnya “menemukanmu dalam kata”. Oh, ternyta mereka diam-diam sedang merekam perjalanaku. Huh, aku hanya terjebak dalam Tanya yang memang sebuah jebakan. Mereka semua, teman-teman itu, tertawa mengetahui ketersembunyianku. “Oh, kau kurang cerdas menyembunyikan tanda, kawan”, kata seorang teman dibarengi tawa canda.

Saat itu semua teman-teman bergegas menghadiri diskusi bertemakan Intertekstualitas itu, aku memilih sendiri, bukan dalam biara tapi pergi ke suatu tempat. Suatu tempat yang kurang lebih satu tahun kami telah berada disana.  Suatu perkampungan ditengah kota yang menjadi bukti kebringasan pemodal, keberpihakan Negara pada kapitalisme dimana telah terjadi suatu kejahatan adminstratif dari badan pertanahan untuk membuat sertifikat ganda bahwa tanah yang kurang lebih tiga hektar itu milik pemodal bukan milik masyarakt miskin tersebut. Suatu kejahatan yang menusuk hati, yang karena naluri hewani dalam kemanusiaan, membuat kami juga satu rasa dalam merasakan ketidakadilan itu. inilah alasan kami berada disana.

Tapi ditengah perjalanan, aku menima pesan inbox. Ada suatu kebiasaan yang sering aku rasakan. Setiap dering pesan, ada naluri yang bisa menebak kalau ini pesan dari si ini atau si itu. dan tebakan itu selalu benar. Kini, tebakan itupun benar; dari perempuan itu. ada suatu kebahagiaan tersendiri. Dia menjawab tawaranku untuk bersama menginjungi gramedia. Maklum ada sedikit tamu pada saku celanaku; sebuah kesempatan untuk memperkenalkan padanya tentang nama-nama penulis yang sering ia tanyakan. Tapi, iya, inilah gramedia yang kurang begitu familiar dengan penulis-penulis yang aku sukai.

Aku melihat waktu pada ponsel, pukul 17:00. Perempuan itu pasti sudah rehat dari kerjanya. Ia memilih gramedia karena berdektan dengan tempat kerjanya. Iya, disamping kuliah dia juga bekerja, dan punya usaha kecil untuk mengurangi beban keluarga. Dan selanjutnya baru aku tahu kalau dia juga memliki peran dan tanggung jawab dalam membiayai kuliah adiknya disalah satu perguruan tinggi swasta. Kedua orang tuanya sudah boleh dikata telah berada pada usia senja. Dan aku hanya tau kalau ibunya adalah seorang penjahit. Sebuah pekerjaan mulia yang dipandang sebelah mata oleh peradaban yang gila ini.

Aku bergegas, memutar arah menuju gramedia. Sudah sekita 15 menit dia menunggu. Ketika langkahku mendekat, aku melihat senyumnya menyapa dengan hangatnya. Ups, aku nampaknya kegeeran, selalu mendefiniskan aura bahagianya hanya tertuju padaku. Huh, belum lama padahal aku mengenalnya; Biar saja!!. Naluriku memiliki kemerdekaan tersendiri, membuatku dalam sekejap menjadi seorang individualis, dan terserah apakah kepalaku berimajinasi. Sebuah imajinasi ala fisikawan yang membayakan gemintang menjadi nova, kemudian melahirkan bintang baru penuh cahaya dalam dada.

Kami bergegas masuk,  menaiki tangga menuju lantai dua. Dalam perjalanan kami berpapasan dengan banyak muda-mudi dengan penampilan-penampilan serba wah. Maklum inilah Pasar modern, Mall. Aku jadi ingat Deleuze Guittari yang manamkannya sebagai mesin hasrat. Semua bentuk kehidupan sosial telah terkode dalam rangkaian modal: cinta pun terreduksi dalam seberapa besar kemewahan yang melekat pada tubuh yang cepat membusuk ini. Apakah menuju gramedia merupakan jebakan mesin hasrat?. Bisa iya, bisa tidak. Dan aku masih tetap yakin, dan memang seperti itulah bahwa kepergianku ketengah hiruk pikuk pameran seksualitas ini hanya ke seutu tempat; Gramedia yang kebetulan berada pada lantai dua. Lebih dari itu aku belum pernah mengunjungi. Ups, satu kali pernah, ke tempat penjualan kaset. Dalam ingatan aku membeli sebuah album, coldplay. Aku senang sama lirik Yellow yang puitis itu. mungkin itu alasannya selain mengunjungi toko buku itu.

Rak yang pertama kami kunjungi adalah filsafat. ‘Maaf teman jalanku, ada sedikit ego mendorongku ke rak ini, maaf, ini kebiasaan yang selalu mengunjunginya ketika ke toko buku, bukan saja di gramedia. Disela-sela mata menjejali ratusan judul yang terpampang didepan mata, aku sedikit mencuri pandangan; memandangnya yang juga sementar menjejali. Semoga filsafat tidak asing baginya, dan aku smpat berfikir ia pasti bosan atau tidak suka berada pada rak  filsafat yang kebanyak tidak diminat—ooh maaf perempuanku.

Rasa kekikukanku disampingnya sedikit tergusur dengan beberapa judul yang aku temui, membuatku sempat melupakan kalau aku punya teman jalan. Oh, mana dia?. Ternyata dia sudah bergegas menuju rak psikology—semoga ini bukan bagian dari ketidaksukaannya terhadap filsafat. Aku mendekatinya; “ada judul yang kamu sukai?”, dia hanya tersenyum dan “lihat-lihat ajak Kak, trus sudah dapat judul yang dicari?”. “sudah, sudah aku dapat, tapi apa dihargai atau tidak, aku tidak tahu”.” Kan yang terpajang disini semanya dijual, Kak,?. Aku memandangnya dengan tatapan canda, tawa tipis hiasi mataku yang sedikit sipit ini. “akh, aku salah bercanda, belum saatnya”. Batinku.

Aku mengajaknya ke rak sastra. Kali ini bukan pada egoku, tapi diapun suka pada sastra. Satu demi satu ia lucuti dan menanyakan padaku tentang karya yang dia pegang. Aku seperti Mangunwijaya yang dengan sombongnya mencaplok kelayakan sebuah karya. Oh, ini kesempatan untuk lebih dekat, atau kesempatan untuk menunjukan seberapa besar penguasaan literaturku?. Terasa sombong aku dalam jawaban yang ku berikan, tapi syukur, sepanjang yang ia tanyakan, itu yang aku tahu. Bukan sombong, tapi keuntungan dari memiliki banyak informasi.

“Gimana Kak, dengan TOR untuk kegiatan nanti?”. Tanyanya membuatku terkejut, “oh iya, sudah selesai, tinggal dicopy aja”. Maaf teman jalanku, aku berbohong. Belum selesai, tinggal beberapa paragraph.  Dari pertemuan dengan komunitas kemarin, aku ditugasi untuk membuat Tor, sebuah pertemuan yang membuatku lebih bebas menatapnya ketika bicara; dia memimpin rapat. Sekali lagi Maaf perempuanku, disaat pertemuan itu, aku tidak punya perthatian pada apa yang dibicarakan. Hanya satu perhatian utuh; Kedirianmu saat berada dalam kata-kata yang kau ucapkan.

Diluar sana matahari semakin rindu pada peraduaannya, sudah pasti jingga mega mewarnai pegungunan dengan permainya. Ia meminta padaku tuk pulang. Kami bergegas keluar. Huh, satu kesempatan lagi. Dia tak mengendarai roda dua seperti biasanya. “aku antarkan pulang”? sebuah tawaranku dengan irama yang pasti dibenci, seperti menawari dengan hati yang kurang ikhlasi. “aku antar yah”. kuulangi lagi tawaran. Ia mengiykan. Aku memboncenginya, melewati kampus dimana ia sedang menempuh kuliahnya. Dan suara muadzin membuat kami memasuki kampus, menuju mesjid.
“Ayo kak, sudah mau magrib”. Wah, ia mengajakku shalat.
Iya, duluan aja. Jawabku
Ayo, sama-sama, kak.
Sama jawabanku, “iya, duluan aja”.
Ia bergegas masuk, berharap akupun menuju tempat wudhu. Saat itu aku tak mengambil resiko untuk memasuki mesjid. Terserah, mau dibilang malas beribadah. Terserah. Tapi aku punya alasan. Kenapa tidak sahalat, kak”. Tanyanya setelah kembalinya dari mesjid, aku tetap duduk  seperti tukang parkir menunggu empunya sang kendaraan.  Aku tersenyum, menghidupkan mesin kendaraan. Bukan mengantranya ke rumah, tapi ke rumah temannya yang sudah janjian. Sepulanngya aku, selang beberapa menit tiba dirumah, pesan inbox bertuan kembali di ponselku. Naluriku bunar juga. Pesan dari orang yang sudah menemaniku ke gramedia tadi. “kenapa tadi tidak shalat, kak?”. Aku hanya tersenyum membacanya, tapi bingung juga apa yang mesti ku jawab. “aku punya alasan tersendiri untuk tidak sahalat tadi”. “ kalau lebih pribadi alasannya jangan dijawab, kak”. Jawabnya memiliki irama yang lain. Semoga bukan kegeeran lagi. “saya pikir ini bukan soal pribadi atau macamnya, dan alasannya sederhana, aku sedang tidak stabil tuk masuk mesjid”. Nampknya ia bingung dengan jawaban yang memang membingungkan itu membuat balasannya hanya dengan satu tanda; tanda Tanya. Dan suatu insiden menarik katika membelas pesannya kemabli; aku salah replay, yang terkirim bukan ke dianya, tapi ke seorang teman perempuan, yang kebetulan sedang meminta kehadiranku tuk mengjenguknya yang lagi terbaring sakit. Sial!!, salah kirim itu membuat jalan menjadi terhalang. Ia menyangka aku memiliki suatu hubungan dengan orang yang salah kirim pesan tadi.

Tenang, aku punya sejuta cara. Dan kepalaku teringat Freud, si Psikonalis yang sok tahu itu. “apa maksudnya”?. Tanyana setelah aku membalas pesan tentang sikap saat magrib tadi; orang memasuki rumah ibadah itu sebagian karena dorongan seksual, aku membalasnya. Tapi, ada energy semacam kecemburuan yang bersarang dalam pesan itu. “besok jadi kan kita ke rumah Guru SMA yang sudah janjian kemarin?” tanyaku kembali bermaskud mengurangi energy pathology tersebut. Jawabanya membuat aku sedikit tersenyum.

Aku kembali pulang membuka hasil burun ke gramedia, lima buah buka; Biografi Eisntein, Arkeology Pengetahuan, Foucault, Novel Biografis Van Gogh, Esai kritik seni dan Sastra, ST Sunardi dan … … akh saya lupa yang satunya. Ada kebanggaan dan kesenangan tersendiri saat melihat tumpukan buku-buku ku. Suatu kesan imajiner, yang saat memandangnya, membuatku seperti berada dalam perpustakaan biara benediktin yang penuh dengan literratur-literatur tua. Oh, harapanku semakin mendekati kenyataan; punya perpustakaan pribadi di pedalaman yang bisa dikases semua kalangan.

Relativitas Einstein menemukan kebenaran. Membuat hari kini brganti esok bagai laju cahya. Aku mengundang, sekitar emapt orang, teman untuk menemaniku dengan perempuan itu tuk pergi ke rumah guru SMA, yang juga orang tua dari teman akrabku. Saat pukul delapan malam. Menerobos macat kota dengan jalanan yang berbebelok sampailah juga kami. Rumah guru itu lumayan jauh, dipinggiran kota. Sebuah tempat idaman bagi mereka yang butuh ketenangan dari bising knalpot deru kendaraan. Yang memecah telinga. 

Waktu telah menunjukan pukul 11 malam Setelah bertemu dan membiacarakn agenda komunitas dengan guru itu. khendak tuk kembali tertunda oleh hujan yang saat itu cukup deras. Akh, kami bertukar caritas, baik dengan teman maupun dengan guru yang bagiku cukup mengasikan. Darian demi deraian hujan tak jua menunjukan titik perhentian berbanding terbalik dengan arah jarum yang kian berputar. Sudah pukul 12 malam. Aku melihat kearah perempaun itu yang semenjak tadi menunjukan kegelisahan. Iya, kegelisahan karena jam segini masih belum juga berada dirumah.

“Bermalam aja nak, sudah terlalu malam untuk pulang”. Kata guru itu. diapun menelepon ibunya, memohon izin tuk nginap diruamh teman tanpa aku tahu alasan pasti yang diberikan. Dan ibunya merestui. Oh, suatu kesempata emas, atau mungkin seperti kata teman-teman tentang the golden age untuk bertukar cerita dengannya?.

Sepertinya teman-teman ku mengerti apa mauku. Mereka semuanya menuju kamar istrahat. Bukan tuk istrahat, tapi berbagi cerita sambil mengintip nakal apa yang aku ceritakan dengan perempaun itu diruang tamu , yang kebetulan dekat dengan ruang kamar. Ada gitar, aku meraihnya dan memetiak beberapa nada. Dia tersipu mendengar. Mungkin suatu pengetahuan baru baginya kalau aku bisa memainkan musik. Dan dikemudian nanti kita memilik banyak waktu untuk berbicara tentang bagiamana hubungan antara music, fisika, filsafat dan sastra.

Malam semakin larut, hujan tak jua surut. Inilah bahasa alam dalam deraian hujan. Jika didengar perlahan pada gemericik, suara kejujuran hakiki Nampak sunyi dari sentuhan manusia yang kian jauh dari kebenaran, baik dalam tindak pula bertutur. Perasaanku disaat itu seperti gerimis yang ditembusi kilasan sinar tipis matahari. Jika kau berada dalam kesamaan spektrum denganku, maka yang kau saksikan adalah lintasan warni pelangi tengah melengkung indah dalam dadaku. 

Curah hujan hangakatn malam itu membuat Ia banyak bertanya tentang Nietzsche, yang kebetulan saat itu sedang ia pegang salah satu karyanya, Syahwat Keabadian. Sebuah buku kumpulan puisi penuh lautan metaphor. Maaf, aku tak bisa berani dan banyak menjawab seperti apa sang filsuf yang dituduh gila itu. metaphor bukanlah teks mekanis yang gampang diinterpretasi. Sama seperti kedirianmu, ialah metaphor yang menyebabkan aku belum teralu berani mendefisnikan kesunyianmu yang terlampau mistery.

Waktu menjadi dinihari, kami memutusukan istrirahat. Teman-temankupun tak lagi terdengar candaan mereka. Aku bergegas menuju ruang istrirahat mengikuti teman-teman, sementara dia menuju bergabung dengan ibu guru SMA itu. oh, suasana hati menjadi melankoli menciptakan getaran tubuh yang tak seimbang. Terasa hangat hinggapi seluruh tubuh. Kehangatan berupa suatu rasa kekurangan yang masih terganjal sehingga membutuhkan sesuatu pula untuk menetralkan ketidakseimbangan ini. Desah nafas teman-teman dalam lelap tidur, dan aku semakin terlelap dalam kebutuhan eksistensial yang masih tertunda. Mungkah dia merasakan getaran tubuhku dikamar sebelah yang hanya dipisahkan oleh dinding ini?.

Ponsel kembali bergetar. Dengan cepat aku buka. Dan, pesan singkat darinya “selamat tidur kak, terima kasih untuk malam ini”. Awh, aku paling tak suka dengan getaran tubuh seperti ini. Sesuatu yang kuanggap mistery telah begitu dekat, rapat namun masih menyisakkan suatu enigma menyurpai kotak Pandora. Terseliplah ketakutan mendalam untuk terlibat dalam suatu tuntutan harmoni yang mengecamuk dada.  Aku semakin gelisah, degup jantung mengencang, nafas kadang menghembus panjang layaknya diksi Clavino yang tak jua menemukan titik dalam Gli Amory. Apa yang mesti aku balas?. Sampai disini, ketika ketakutan itu melanda ada sedkit keseimbangan yang aku dapatakan tuk membalas “terima kasih juga”. Namun, berselang kemudian, tubuh kembali gemetar memaksa tangan yang lemah ini tuk kembali menghampirinya melalui pesan pula, “malam ini aku begitu sayang padamu”.  Tanpa menunggu lama “semoga bukan saja malam ini kak”. Ohh, tidurku pasti kesima dalam bahagia.

Selasa, 24 Juni 2014

Bagian Tiga (Pada Mulanya Adalah Kata)





Ada seorang teman mengatakan bahwa budaya intelketualitas yang terbangun mesti dijauhkan dari hal-hal yang bersifat romantis. Itu ia katakan setelah membaca Kant tentang imperative kategoris moralitas, legalitas. Aku sempat merasa. Dan seperti biasa tertawa tipis mengiasi wajahku. Tapi bukankah Kant juga menekankan kebebasan suara hati adalah kewajiban setiap individu?. Ataukah ada konvensi khusus dalam budaya intelektual yang mesti ditaati? Sampai disini aku teringat bagaimana Muhammad membutuhkan Khadijah ketika seisi tubuhnya gematar saat menerima kata “Bacalah”. Iya, pada mulanya adalah Kata, kemudian berbentuk firman, dan itulah Tuhan. Dan melalui kata Adam diajarkan nama benda, melalui kata dunia hadir dalam serat maknawiah, dan dari sana kesadaran menyadari dirinya sendiri. Oh, Khadijah kaulah kata-kata dimana Muhammad manyampaikan sabda dan aku bisa seperti teman itu jika romantis dipahami dalam hal ini. Itu menurtku. Bagaimana?. O, lupakan tentang ini. Sudah jadi hal biasa bagiku dan teman itu tuk saling membicarakan hal-hal seperti ini. Saling kritik.

Diluar sana suasana pergantian tahun baru 2013 mulai terdengar. Terompet menyesak telinga. Berbagai model kartu ucapan diobral murah. Buah seperti jagung laris terjual. Dan tentunya muda-mudi telah menyiapkan agenda dimana menghabiskan tahun 2012 ini. Andai diantara kita ada mampu melintasi kejauhan bima sakti, maka tiap saat petasan selalu dalam kedipnya, dan pergantian hari tak pernah terjadi dalam semesta yang maha luas ini. waktu bukanlah pergantian hari, jam dan lainnya, tapi merupakan bagian dari manifest suci yang membuat semesta masih tetap seimbang. Dan, Khadijah adalah bagian dari keseimbangan Muhammad. Wah, tak nyambung yah? well, ada namanya metafora dan metonimi, univocal atau polisemik. Tinggal memilih pisau tuk membedah ketidaknyambungan ini.

Satu kebiasaanku yang sering kualami ketika bukuku dipinjam adalah selalu mengingatnya. Semakin lama semakin dalam ingatnya. Dan ada beberapa buku yang dipinjam oleh orang yang berbeda. Dalam hal ini aku seperti seorang pakar yang tau banyak hal, tapi hal itu bagiku bukanlah suatu kelebihan, melainkan bagaimana cara kita untuk mencari informasi. Dan kecerdasan seseorang adalah bagian dari seberapa banyak ia mencari informasi.  Aku mendapat pesan singkat, bukan pertanyaan melainkan  pengakuan dari seorang peminjam buku itu “diksi novel ini sungguh mengasikan, Kak”. Wah, ketuaanku semakin menjadi. Salah satu hal tidak aku sukai adalah dipanggil kakak, apalagi kakanda. Ada alasan untuk itu. Saya tidak menyukain pertemanan yang dalam lingkup senioritas-junioritas sebab terdapat arogansi intelektual seolah senior adalah yang tahu segalanya. Dan ini menyakitkan apalagi membodohi.

Yah, dia, perempauan itu, yang melalui pesan singkat membuat seisi ragaku terbawa dalam senyum bahagia. Apakah senyum ini adalah bagian dari daya magnetis dari senyum indahnya pula? Aku tak tahu, tapi seperti kata teman, dan memang itu yang aku lihat, bahwa dari totalitas kediriannya yang tergambar hanyalah senyum, dan tawa keceriaan. Dan kelak permintaanku yang paling mendasar padanya “tetaplah tersenyum pada dunia, dan duniapun pasti akan tersenyum kepada kehidupan”. Permintaan yang aneh.

“Iya, itulah kelebihan Italy Calvino”, jawabku padanya, dan selanjutnya kami saling berbalas pesan. Sebuah kesempatan bagiku tuk mengkonfirmasi kedekatan yang lebih. Maksudnya lebih dekat agar Tanya jawab, seputar isi novel, lebih terakrabi. Tapi, dibalik saling berbals pesan itu ada sebuah energy, menyerupai energy potensial, yang menggairahkan kenakalan semantikku untuk melihat dan membaca lebih dalam kediriannya dalam kata. Sampai disini, aku meresa terjebak dengan semantic kuasaku sendiri bahwa aku mencintai kata-kata, dan melalui kata-kata hubungan ini terbangun. Oh aku semakin gemetar ketika membaca cerpen pada bloognya, yang aku tahu ditujukan padaku. Semoga bukan GR.

Tak lama berselang buku itu ia kembalikan, dan ia memberanikan diri untuk datang ke biara. Ah, aku harus sempurna. Maksudnya ruangan yang berantakan, asbak rokok yang penuh puntung, pakaian yang tak dilipat buku yang terhambur sana sini dengan segera dirapikan. Bukan saja aku tapi teman-teman turut menjadi tim pembersih. Bakti seperti menjelang tujuh belasan “ayo cepat rapikan sebelum datang tim penilai”. Oh bukan, mau datang seorang hawa. Suatu kejadian langka di biara selain teman perempuan yang sudah sering.

Ia datang, dan yang pertama diri disapa bukan diriku. Tenang!!, mengelus dada. Bukan juga teman-teman, tapi justru tumpukan buku yang lama ia pandangi. Akh, aku berhasil, toh sama halnya ia sedang memandang kebijaksanaanku—hummm, kesombongan yang tak perlu. Dan aku salah tingkah, iya salah tingkah dihadapan teman-teman yang nakal bercandanya. ia pun mencoba satu dalam canda membuat suasana jadi akrab. Ini kelebihannya yang senang bergaul. Oh iya, ada yang terlupa, beberapa menit sebelum kedatangannya, aku kerepotan membeli minuman untuk dihidangkan, aku tak punya uang ketika itu. Tapi, itulah keuntungan bertemen. Terimakasih, terimakasih.

Matanya memandang kearah tumpukan buku dipojokkan biara, aku mengambil posisi duduk berhadapan, semnetara teman-teman mengambil duduk yang tak jauh dari perempun itu. Biara seperti tertimpa ribuan cahaya, dan bintik bintik noda yang melekat pada dinding dan plafon berubah menjadi gemintang dimalam hari. tapi ada matahari yang lebih bercahaya menyinari biara bak istana pangeran William di prancis sana. Tidak sampai 20 menit biara penuh cahaya, dan “saya pulang dulu Kak”.  Iya, dia berpamitan mesra kepada teman-teman, dan tentunya ada sebuah isyarat suci dari matanya yang jika dibarter dengan kata-kata merupakan sebuah ucapan terimaksih yang lebih mesra padaku dari yang ia ucapakn pada mereka yang nakal dalam bercanda itu. Ia pulang dengan membawa pinjam kembali sebuh novel,  Kata-kata, novel biografis Jean Paul Sartre yang sangat aku kagumi itu.  “ku akhiri hidupku sebagaimana aku mengawalinya, dalam tumpukan buku” itu kata Sartre, dan aku semakin jatuh dalam kata-kata.

bersambung...