Sabtu, 29 Desember 2012

CHAOS DAN PARADOX ROMANTIKA-KEMATIAN PENGARANG (Refleksi Tematik, Komunitas Lego-Lego)



Apakah Kitaro yang bersalah  jika ada yang mati bunuh diri di Jepang saat terbawa gesekan violaya?
Apakah Elise yang harus disalahkan ketika menolak Beethoven hingga menyabkan musisi itu kehilangan pendengaranny?
Apakah Neruda yang harus disalahkan ketika terjadi bunuh diri masal diatas puisi-puisinya?
Apakah kita mesti menyalahkan Goethe yang karena novelnya The sorrows of young Werther yang menyebabkan lebih dari 2000 pemuda Eropa bunuh diri dengan cara sama dalam novel?
Tidak, kita yang bersalah karena masih saja menghidupakan para musisi dan penyair.
Ooh, text... kau begitu liar dengan ketajaman semantikmu, hingga ketika aku mendengar kata “jadi, maka Jadilah”

Apakah bisa kita berfikir tentang “surga” jika sedang membaca sebuah kalimat yang menggambarkan tentang adegan seksualitas dari sepasang kekasih?. Jika pertanyaan ini kita tanyakan bagi orang-orang yang tidak terlalu memahami metaphor, mungkin ia akan menjawab tidak, yang aku pikirkan adalah sebuah fantasi tentang nikmatnya hubungan itu. Ada juga mungkin menjawab—menggunakan methapor— yang aku pikirkan adalah dunia sebagai surge kehidupan. Bisa juga kita temukan jawaban  “iya saya berfikir tentang “surga” kenikmatan dalam hubungan seks, juga jawaban “iya saya befikir tentang “surga” yang tak bisa aku gapai jika melakukan hubungan seks yang tidak dianjurkan agama”. Itulah  pemakanaan yang mau tidak mau kita harus berhadapan dengan beragam jenis interpretasi sebagai konsekuensi semantic kebahasaan. Dan akibat permainan rantai sintagma-paradigmatik kita bisa saja menghubungkan kata—dari sisi pemaknaan—“kelaparan” dengan senyuman  tak bahagia.

Catatan ini lebih kepada refeleksi tematik atas diskusi yang difasilitasi oleh komunitas Lego-lego bertemakan Probelmatika perempuan dalam sastra, yang dalam diskusinya lebih pada pembahasan tentang term-term seksualitas yang berasal dari penulis perempuan dan perempuan penenulis.
Jika setetes hujan jatuh di sabang, maka akan membajiri seluruh Indonesia bahkan dunia. Seperti itulah mungkin makna the Butterfly effect. Tapi disini saya tidak berbicara tentang cosmology dimana teory ini bermaksud, melainkan terputusnya rantai asosiasi kebahasaan sebagai kritik bagi para penulis maupun kritikus sasta. Interpretasi  atas sebuah karya tidak terlepas dari kompetensi otonomy semantic  pembaca, dan kita pun tidak bisa memasuki wilayah geist penulis saat sedang melakukan penulisan. Konsekuensinya jika karya terlepas dari pengarang dan sampai ditangan pembaca maka karya tersebut akan menjadi liar.

Keterputusan rantai asosiasi tidak dipahami sebagai ketiadaan defferance (makna warna merah karna dia bukan putih), melainkan keterputusan rantai simbolik, miskin metaphor, majaz dan lain sebagainya sebagai imbas atas pemaknaan terhadap sebuah karya, yang dalam hal ini lebih pada karya yang bertemakan seksualitas maupun perselingkuhan. Seksualitas, memang, adalah hal yang tabu dalam masyarakat. Tetapi kita tidak mesti memenjarakan ujaran dalam masyarakat untuk membicarakan atau menuliskannya. Banyak novel yang bertemakan seksualitas dengan menggunakan bahasa-bahasa “telanjang” dan diksi yang penuh dengan daya erotic. Kemudian tak sedikit mengundang controversial saat samai ke tangan khalayak.  Dan kondisi ini adalah hal lumrah, apalagi dalam masyarakat kita yang masih—atau sudah hilang—budaya ketimuran.

Dalam hal interpretasi, budaya kebersastraan kita kalau boleh dikata masih sangat minim. Budaya baca, menghargai seni, artifak budaya yang tidak mendapatkan iklim positif di negeri ini adalah kendala utama bagi sastra untuk hidup dalam nuansa simbolik, puitik mapun metaforik. Lebih disayangkan lagi jika simbolik dan metaforik tadi tak lagi menjadi gaya bahasa sastra bagi para penulis yang seharusnya membuat pembaca merasa terasing, dan, atau dalam pengertian Eagleton, membuat makna menjadi tertunda. Tetapi dalam karya-karya yang banyak membicarakn tentang seksualitas sedikit bahkan jarang untuk kita temukan diksi tentang sebuah adegan hot dengan bahasa-bahasa simbolik, metaforik dan puitik melainkan mengunakan kata-kata yang petanda-penandanya mengarahkan pembaca pada pemaknaan kehadiran penuh (baca Saussure).

Tema  seksualitas adalah pilihan penulis, namuk tak bisa kita pungkiri adalah struktur kognitiv masyarakat yang selalu berhadapan dengan informasi-informasi yang berbau seksualitas yang secara tidak lansung membentuk sebuah habitus pemaknaan, sehingga kata “bersetubuh” selalu bermakna sekutu biologis, dan jarang dipahami sebagai sebuah gambaran metaforik (misalanya, Aku sementara menyetubuhi buku-buku ku). Kita tidak mesti menyalahkan pembaca tuk menginterpretasikan sebuah karya yang hanya pada urusan kelamin semata, tidak harus juga menyalahkan penulis.. melainkan lebih pada kritik tentang pemilihan diksi oleh penulis.

Misalnya dalam comedian, inti dari pertunjukan sebuah komedia adalah membuat penikmat bisa tersenyum bahagia, tetapi dalam kreativitas pemilihan cerita tidak semua dengan bahasa verbal juga isyrata tubuh. Kita lihat misalnya Mr. Bean, lagaknya selalu mengundang tawa tanpa ada bahasa verbal, selain mimic wajah dan isyarat tubuh. Dalam hal ini, substansi sebuah karya sastra adalah mendeformasi, mendefamiliar (baca formalism Rusia) struktur bahasa ujuran sehari-hari kemudian membuat struktrur bahasa simbolik, metaforik sebagi diksi dalam menggambarkan sebuah carita. Hemat saya substansi sastra adalah terletak pada komunikasi simbolik yang membuat tatanan dunia sehari-hari menjadi terasing pula indah ditangan pembaca.

Jika kita mendengar sebuah kalimat, misalnya “kematian” maka secara bersamaan seluruh kosa kata bahasa Indonesia akan bergerak menunggu resopon asosiasi kebahasaan, sehingga kata kematian bisa bermakna Kehidupan, kecelakaan, cinta sejati, keabadian dan seterusnya.  Makna bukanlah ibarat pantulan citra atau image dihadapan sebuah cermin, tapi ia selalu berterbaran disegala ruang yang turut memberi citraan dalam cermin. Kita tak punya kuasa untuk membendung makna dalam sebuah kehadiran khusus (baca petanda-penanda), tetapi kehadiran makna itu selalu memiliki rantai asosiasi yang sampai diamana pun tetap melibatakan segala aspek kebahasaan.

Memang Proses pemaknaan tidak bisa terlepas, seperti kata Luna Vidya, dari lingkaran—saya lebih suka menyebutnya Geist—dari mana kita berasal. Tetapi merupakan suatu hal ironis pula jika pembaca diarahkan untuk memahami geist atau lingkaran sang pengarang tadi. Disnilah letak keambiguitas Luna Vidya, juga Gegge Mappangewa yang disatu sisi mengatakan era pembaca yang menentukan, disisi lain mencoba membawa kita pada lingkaran pengarang. 

Tulisalah pengalaman seksualitas anda dengan kata yang memiliki ketertundaan makna ketimbang kata-kata vulgar yang bisa membuat pengalaman tak seindah rembulan menyetubuhi malam.

Senin, 24 Desember 2012

Tersesat Diantara Hasrat Freud-ian Dan Ego Kesejatian


Aku sering membaca kisah para orang-orang yang dituduh gila, membaca bagaimana mereka menjalani hidup dengan pilihan-pilihan yang sangat kontradiktif. Baik dalam kehidupan berrumah tangga, persahabatan, hubungan asmara dengan kekasih, persoalah study, dan sampai pada keliaran imajinasi mereka, semuanya aku resapi menjadi pengalaman terindah seolah-olah aku sedang menyaksikan kejadian-kejadian itu dihadapan mata batinku. Apakah aku sementara terlibat dalam simulakra-simulakrum Bourdilard?

Mungkin benar yang dikatakan banyak banyak orang kalau karya sastra, secara psikologis bisa menjadi metode ampuh dalam perubahan karakter individu. Baik itu perubahan kearah kearifan kultur maupun dalam bentuk imoralitas yang kontradiktif atau vis a vis dengan para populis akal sehat yang memandang hidup sebatas sureface convention tanpa peduli pada hasrat yang kadang membuat kegilaan mendapat stigma negativ. kehidupanpun selalu dimenangkan oleh habitus populer dimana invasi kognitiv yang dilepaskan oleh senjata pemusnah kreativitas yang bernama instan-nisasi telah meluluhlantahkan paradigma masyarakat dari kreativitas menjadi sekedar penikmat, pemakai dan pengguna dalam ruang usang yang bernama konsumerisme.

Dari sini ada sebuah ironi yang berkembang dalam paradigma masyarakat, jika ada suatu problem yang diselesaikan atau minimal dibicarakan—terkait dengan solusi—dengan cara yang mungkin berbeda, pasti  saja akan mendapat stigma negativ. Kiri, Kanan, marxis, nasionalis, sosialis, postmo dan lain sebagainya adalah jebakan skriptualis yang selalu membuka gaungya pada kekakuan interpretasi. Aku teringat kata-kata Sartre “aku bukanlah tokoh eksistensialis”, atau seperti stigma sebagai pemberontak yang didapatkan Marcos Commandante--saat menulis ini aku sedang memandang cover buku Bayang Tak Berwajah—dalam melawan imprealisme amerika di Meksiko. Dan dalam pergaulan pun sebagian dari kita memilih kawan yang mesti searah dengan ideology atau pandangan hidup. Ideology menghadirkn dirinya layknya kultulr prancis klasik yang memberikan warna pink bagi perempuan dan biru bagi laki-laki semenjak bayi, dan kini dimanapun ada kehidupan disana telah ada pilihan yang sebenarnya tak memberikan kesempatan bagi kita untuk memilih apapun.

Ketakutan akan dosa pada Doxa

Inilah zaman yang selalu tampil dengan bahasa-bahasa dan resonansi kata bernada dogma, kemudian kenyamanan hidup yang selalu saja bermandikan semiosis beraroma, dan khas mimetic dari negeri kayangan bernama sinetron, novel popular, kearifan ala Mario teguh dan kekauan akan memahami teks yang membebaskan telah menciptakan sebuah doxa tanpa filosofi yang kemudian diajarkan di kampus-kampus sebagai kitab suci yang menawari surga dengan harga begitu murah.

Entah, apakah kita sementara terbelenggu atau ketakutan akan terulang kembali kisah Galileo dalam melanjutkan revolusi copernikan yang kemudian dihukum mati oleh gereja? Atau akibat permainan rantai sintagmatik sehingga saat yang bersamaan para guru besar, Profesor, dosen dan lingkungan dalam balutan modernitas kita anggap sebagai para inkuisitor  romawi yang siap mambakar hidup-hidup mereka yang dianggap bid’ah, ataukah kita memang sementara berada dalam iklim victorian hingga  kata-kata haruslah melalui neraca ujaraan yang selalu mengalahkan kata bernada sarkatic, cacian, marah dan kritik?
Kini harga diri kemanusiaan tidak lagi diukur pada sejauh mana penghayatan kita terhadap nilai-nilai manusiawi, tak lagi diukur dari bagaimana hubungan kita dengan alam, sejarah yang tak lagi mempertontonkan adegan kemesraan. Kita begitu puas, bangga dengan hal-hal yang sifatnya paradox, mengukur harga diri dari sejauhmana kelima panca indra ini ditambahkan dengan perangkata-perangkat kekayaan. harga diri yang diukur dari seberapa banyak modal, seberapa rumah mewah, mobil kendaraan dan semawah apa restoran yang sering kita gunakan tuk sekedar mengenyangkan perut yang tak lagi suci ini.

Sementara itu kecerdasan tak lagi dilihat pada sejauhmana cara atau pendekatan dalam menyelasikan sebuah problem.  Tetapi selalu saja diukur dengan sejauhmana penguasaan kita dalam menguasi teori, metode, kosnep dari orang-orang yang telah berubah menjadi arwah begentayangan yang setiap saat menghantui pikiran kita. Aku jadi ingat dengan sebuah dialog antara John dan Sylivia dalam vovelnya Robert. M. Pirsig, "Laws of nature are human inventions, like ghosts. Laws of logic, of mathematics are also human inventions, like ghosts. The whole blessed thing is a human invention, including the idea that it isn’t a human invention. The world has no existence whatsoever outside the human imagination. It’s all a ghost, and in antiquity was so recognized as a ghost, the whole blessed world we live in. It’s run by ghosts. We see what we see because these ghosts show it to us, ghosts of Moses and Christ and the Buddha, and Plato, and Descartes, and Rousseau and Jefferson and Lincoln, on and on and on. Isaac Newton is a very good ghost. One of the best. Your common sense is nothing more than the voices of thousands and thousands of these ghosts from the past. Ghosts and more ghosts. Ghosts trying to find their place among the living."

Budaya dan tradisi kehidupan sebagai landasan pijak telah  bermetamorfosa dari nuansa indah multilateral menjadi unilateral. Kehadiran seni, sastra, musik, fashion, food, fun dan budaya pop yang beraroma doktrin dengan cara memainkan wilayah ketaksadaran (baca Jung) telah menjadi habitus dan secara lansung menciptakn praktik (baca Bourdieu) dalam arena bernama modernitas yang tak sedikit megkontstruksi sisi kognisi hingga membuat manusia menjadi bintang seperti dalam metamorfosa-nya Kafka. Aku teringat kembali kata-kata seorang novelis, pustakawan pula filsuf asal Prancis Georges Battaile “Dunia tak lebih dari sebuah parodi,  segala sesuatu yang tampak adalah sesuatu yang lain atau parode yang sama dalam sesuatu yang menyimpang”.

Diatas semua itu, implikasi yang kita terima adalah sejenis kepatuahan  buta yang membuat Guru besar, Profesor, Imam, Pendeta, Ulama, selebrity menjadi bagian dari sistem kekuasaan (Baca Faucault) bertaring besi yang kata-katanya disucikan melibihi Kesucian Sabda-sabda. Lagi-lagi aku teringat dengan Susan Sontag “ Seni di zaman kita hiruk-pikuk dengan himbauan untuk diam”.

Mempertimbangkan Freud

Dalam parodi yang memutilasi kejantanan kreatifitas, mungkin saja Sigmund Freud-lah yang sementara menari dalam nirwana penuh dengan lingkaran bidadari-bidadari bertubuh seksis, kemudian Lacan mungkin juga sementara memeluk erat mantan isteri Bataille dalam kubangan hasrat yang dijadikan sebagai pangkal segala aktivitas. Upaya Freud dalam menghidupkan kembali Oedipus dari kerangkang mitos yunani klasik seolah berbuah manis: hampir disetiap pandangan selalu terlihat bagaimana si oedipus selalu hadir sebagai penggoda yang bisa membuat kita sebagai penikmat pasif sembari menunggu puncak orgasme dari tayangan tanpa busana yang sesungguhnya tak mungkin mencapai klimaks. Aku sempat berfikir—dan mungkin punya kebenaran—kalau perdebatan antara Freud dan Jung bukan pada landasan konsepsionlitas, tetapi sisi intensionalitasnya lebih pada perebuatan akan seorang gadis, Sabna, pasien dari freud, sehingga teori yang muncul adalah bagaimana upaya untuk mendapat simpatik dari objek perdebatan itu.

Apa yang dikatakan Sontag, tentang himbauan untuk diam dari seni senantiasa mendapat ikrar masyarakat, yang secara sukarela ataupun terpakasa dalam sumpah prinsip realitas Freud, dan secara bersamaan melakukan pengakuan dosa akan ketidakterlibatan dalam melayani prinsip kesenangan, yang didalamnya mungkin saja terdapat hasrat-hasrat merusak sebagai sebuah kesenangan kreatif yang mengancam struktrur kuasa diatas menara-menara yang terbuat dari gading.

Energy seksualitas, sebagaimana dikatakan Freud, sebagai dasar dalam melakukan sesuatu adalah sebuah tesis setengah hati dimana tahap oedipalisasi adalah instrumen pengekangan untuk kita tetap berjalan diatas titian struktural Saussurean yang secara lansung mempermisifkan jejaring kapitalis tuk bersendawa dalam sanubari sadar maupun ketaksadaran.

Kemudian kita juga tidak mesti melukis keindahan tubuh layaknya pemberontakan ala fauvisme dan selanjutnya  melabeli hasrat dalam catatan Deleuze-Guittari dalam tubuh tanpa organ. Kebenaran  bukanlah idelitas tanpa keegoan logos Husserlian tentang adimakna yang berada diluar struktur bahasa. Tidak, kebenaran walapun tak terukur kata-kata—seperti pemahaman Rumi tentang cinta—tetap selalu mendapati diri dalam sebuah medan bahasa simbolik hingga ketelanjangan tubuh tetap merindu organ sebagai basis kultrual yang mencipta harmoni dalam nuansa yang chaos pula dramatik.

Ego dan Tragedi Menuju Ketiadaan

Iya, oedipalisasi hanyalah kanalisasi hasrat yang menjebak kita dalam ketakberdayaan sehingga Ego (baca Ikbal) yang mesti melewati keterbatasan badani justru tercebur kedalam banalitas kuasa Faucauldian tanpa tanya tentang hidup, kehidupan yang sedang tidak baik-baik saja.

Tentunya tanya selalu mewarnai relung sanubari yang mulai tandus dari rona keheningan yang membuat keinsyafan manusiawi menghastakan badani layaknya galaksi saling menghindari dalam spektrum inflasi. Entah, narasi tentang Adimanusiannya Nietszche telah terperosok dalam lembah pegunungan swis menghasilkan kematian Tuhan yang jauh dari makna epistemik. Kehidupanpun selalu diisi dengan peperangan tiada berhingga, dan yang paling sering terjadi adalah peperangan yang selalu berakhir dengan kemenangan freud yang mengalahkan idea Plato. Kemudian jika jiwa disambar kegersangan spritual, maka membaca kitab suci hanyalah ritualitas tanpa kesetiaan poietika sedikitpun didalamnya. Pesan-pesan romantik dalam Hikmah yang memposisikan kita sebagai bagian dari daya manifestasi dianggap disposisi penguasa, sementara keharusan tuk membaca dan memahami lebih awal adalah hal usang dalam era digital yang hanya mengikuti budaya taqlid buta.

Iya, perang terbesar bagi kita adalah mengikrarkan diri antara “Adam yang tercipta menyerupai bentuk_Nya (baca Quran), kemudian Tuhan Mencipta manusia Menyerupai Gambar-Nya” (baca Bible)  dan bongkahan-bongkhan sisi kebinatangan yang selalu buas memangsa bangsa sendiri. Tanpa sadar kita telah mengimitasikan diri dalam jargon penindasan yang selalu berteriak akan kebebasan. Pesan Ikbal dalam “Rahasia Kedirian” adalah usaha mendekati kesempurnaan dikalahkan apatisme, individualism, pragmatism yang tentunya menciptakan struktur cognitive yang menghunus rantai harmonia kita dengan manusia pula alam semesta (baca kosmos Ibnu arabi).

Mungkin ada benarnya apa yag dikatakan Kafka, kalau suatu saat jika Yesus kembali lagi ke bumi dia tak lagi mengenal siapa kita karena sudah terlalu jauh tercerabut dalam naturalitas kehidupan yang sebagaimana mestinya. Jika mencoba meminjam persfektif Bourdilard untuk menelaah kognitivitas kita sekarang maka nampaklah metamorfosa itu dimana kita semua adalah binatang-binatang buas yang cerdas berkamuflase mengunakan kata atau nuansa kearifan seolah kita adalah malaikat tanpa noda yang tertinggal dalam sayap manusiawi.

Ego sejati yang merupakan totalitas kedirian yang melingkupi dimensi waktu tak jua mesra bersendawa dalam langkah sebagai basis fikir dan langkah, keengganan  memberi kesempatan bagi hati tuk berani berfikir dibungkus naluri solipsistic, kemudian memahami belajar sebatas pada angan akan masa depan yang diidamkan adalah kemenangan arogansi budaya pop yang menyergap hasrat kita dalam nadi ketaksadaran sehingga ketidakbiasaan, kelaparan, kemiskinan, penderitaan kita anggap sebagai ketakberuntungan atau ketidakkretivitas individu dalam menjalani kehidupan. Tanpa sadar kitalah pendindas, pemusnah, perusak yang selalu bersembunyi dibalik jubah Ketuhanan.

nb: blum diedit