Apakah Elise yang harus disalahkan ketika menolak Beethoven hingga
menyabkan musisi itu kehilangan pendengaranny?
Apakah Neruda yang harus disalahkan ketika terjadi bunuh diri masal
diatas puisi-puisinya?
Apakah kita mesti menyalahkan Goethe yang karena novelnya The sorrows
of young Werther yang menyebabkan lebih dari 2000 pemuda Eropa bunuh diri
dengan cara sama dalam novel?
Tidak, kita yang bersalah karena masih saja menghidupakan para musisi
dan penyair.
Ooh, text... kau begitu liar dengan ketajaman semantikmu, hingga ketika
aku mendengar kata “jadi, maka Jadilah”
Apakah bisa kita berfikir tentang “surga” jika sedang membaca sebuah
kalimat yang menggambarkan tentang adegan seksualitas dari sepasang kekasih?. Jika
pertanyaan ini kita tanyakan bagi orang-orang yang tidak terlalu memahami metaphor,
mungkin ia akan menjawab tidak, yang aku pikirkan adalah sebuah fantasi tentang
nikmatnya hubungan itu. Ada juga mungkin menjawab—menggunakan methapor— yang
aku pikirkan adalah dunia sebagai surge kehidupan. Bisa juga kita temukan
jawaban “iya saya berfikir tentang “surga”
kenikmatan dalam hubungan seks, juga jawaban “iya saya befikir tentang “surga”
yang tak bisa aku gapai jika melakukan hubungan seks yang tidak dianjurkan
agama”. Itulah pemakanaan yang mau tidak
mau kita harus berhadapan dengan beragam jenis interpretasi sebagai konsekuensi
semantic kebahasaan. Dan akibat permainan rantai sintagma-paradigmatik kita
bisa saja menghubungkan kata—dari sisi pemaknaan—“kelaparan” dengan senyuman tak bahagia.
Catatan ini lebih kepada
refeleksi tematik atas diskusi yang difasilitasi oleh komunitas Lego-lego
bertemakan Probelmatika perempuan dalam sastra, yang dalam diskusinya lebih
pada pembahasan tentang term-term seksualitas yang berasal dari penulis perempuan
dan perempuan penenulis.
Jika setetes hujan jatuh di sabang,
maka akan membajiri seluruh Indonesia bahkan dunia. Seperti itulah mungkin
makna the Butterfly effect. Tapi disini saya tidak berbicara tentang cosmology dimana
teory ini bermaksud, melainkan terputusnya rantai asosiasi kebahasaan sebagai
kritik bagi para penulis maupun kritikus sasta. Interpretasi atas sebuah karya tidak terlepas dari
kompetensi otonomy semantic pembaca, dan
kita pun tidak bisa memasuki wilayah geist penulis saat sedang melakukan
penulisan. Konsekuensinya jika karya terlepas dari pengarang dan sampai ditangan
pembaca maka karya tersebut akan menjadi liar.
Keterputusan rantai asosiasi
tidak dipahami sebagai ketiadaan defferance (makna warna merah karna dia bukan
putih), melainkan keterputusan rantai simbolik, miskin metaphor, majaz dan lain
sebagainya sebagai imbas atas pemaknaan terhadap sebuah karya, yang dalam hal
ini lebih pada karya yang bertemakan seksualitas maupun perselingkuhan. Seksualitas,
memang, adalah hal yang tabu dalam masyarakat. Tetapi kita tidak mesti
memenjarakan ujaran dalam masyarakat untuk membicarakan atau menuliskannya. Banyak
novel yang bertemakan seksualitas dengan menggunakan bahasa-bahasa “telanjang”
dan diksi yang penuh dengan daya erotic. Kemudian tak sedikit mengundang controversial
saat samai ke tangan khalayak. Dan kondisi
ini adalah hal lumrah, apalagi dalam masyarakat kita yang masih—atau sudah
hilang—budaya ketimuran.
Dalam hal interpretasi, budaya
kebersastraan kita kalau boleh dikata masih sangat minim. Budaya baca,
menghargai seni, artifak budaya yang tidak mendapatkan iklim positif di negeri
ini adalah kendala utama bagi sastra untuk hidup dalam nuansa simbolik, puitik
mapun metaforik. Lebih disayangkan lagi jika simbolik dan metaforik tadi tak
lagi menjadi gaya bahasa sastra bagi para penulis yang seharusnya membuat
pembaca merasa terasing, dan, atau dalam pengertian Eagleton, membuat makna
menjadi tertunda. Tetapi dalam karya-karya yang banyak membicarakn tentang
seksualitas sedikit bahkan jarang untuk kita temukan diksi tentang sebuah
adegan hot dengan bahasa-bahasa simbolik, metaforik dan puitik melainkan
mengunakan kata-kata yang petanda-penandanya mengarahkan pembaca pada pemaknaan
kehadiran penuh (baca Saussure).
Tema seksualitas adalah pilihan penulis, namuk tak bisa
kita pungkiri adalah struktur kognitiv masyarakat yang selalu berhadapan dengan
informasi-informasi yang berbau seksualitas yang secara tidak lansung membentuk
sebuah habitus pemaknaan, sehingga kata “bersetubuh” selalu bermakna sekutu
biologis, dan jarang dipahami sebagai sebuah gambaran metaforik (misalanya, Aku
sementara menyetubuhi buku-buku ku). Kita tidak mesti menyalahkan pembaca tuk
menginterpretasikan sebuah karya yang hanya pada urusan kelamin semata, tidak
harus juga menyalahkan penulis.. melainkan lebih pada kritik tentang pemilihan
diksi oleh penulis.
Misalnya dalam comedian, inti
dari pertunjukan sebuah komedia adalah membuat penikmat bisa tersenyum bahagia,
tetapi dalam kreativitas pemilihan cerita tidak semua dengan bahasa verbal juga
isyrata tubuh. Kita lihat misalnya Mr. Bean, lagaknya selalu mengundang tawa
tanpa ada bahasa verbal, selain mimic wajah dan isyarat tubuh. Dalam hal ini,
substansi sebuah karya sastra adalah mendeformasi, mendefamiliar (baca formalism
Rusia) struktur bahasa ujuran sehari-hari kemudian membuat struktrur bahasa
simbolik, metaforik sebagi diksi dalam menggambarkan sebuah carita. Hemat saya
substansi sastra adalah terletak pada komunikasi simbolik yang membuat tatanan
dunia sehari-hari menjadi terasing pula indah ditangan pembaca.
Jika kita mendengar sebuah
kalimat, misalnya “kematian” maka secara bersamaan seluruh kosa kata bahasa
Indonesia akan bergerak menunggu resopon asosiasi kebahasaan, sehingga kata
kematian bisa bermakna Kehidupan, kecelakaan, cinta sejati, keabadian dan
seterusnya. Makna bukanlah ibarat
pantulan citra atau image dihadapan sebuah cermin, tapi ia selalu berterbaran
disegala ruang yang turut memberi citraan dalam cermin. Kita tak punya kuasa
untuk membendung makna dalam sebuah kehadiran khusus (baca petanda-penanda),
tetapi kehadiran makna itu selalu memiliki rantai asosiasi yang sampai diamana
pun tetap melibatakan segala aspek kebahasaan.
Memang Proses pemaknaan tidak
bisa terlepas, seperti kata Luna Vidya, dari lingkaran—saya lebih suka
menyebutnya Geist—dari mana kita berasal. Tetapi merupakan suatu hal ironis
pula jika pembaca diarahkan untuk memahami geist atau lingkaran sang pengarang
tadi. Disnilah letak keambiguitas Luna Vidya, juga Gegge Mappangewa yang disatu
sisi mengatakan era pembaca yang menentukan, disisi lain mencoba membawa kita
pada lingkaran pengarang.
Tulisalah pengalaman seksualitas anda dengan kata yang memiliki
ketertundaan makna ketimbang kata-kata vulgar yang bisa membuat pengalaman tak
seindah rembulan menyetubuhi malam.

