Sabtu, 28 Juli 2012

Kebiruan Senja


Senja pudarkan cakrawala nian menjingga
Mata layangkan asa pula mengangga
Kebiruan langit tampak suci menggenggam malam
Awan putih ukir senyum perawan sulam

Nampak aku musyafir renta berpenghuni
Menapak laju bak takbir sapa nurani
Pelukis Agung merindu wujud mencintai
Seperti Dia-lah jiwamu diridhai

Ialah jatuh dalam hati para wali
Aku surut dalam pinta kan syahdumu
O, manifestasi ialah ajar aku berfitri
Mendamba rima nan merindu alur wajahmu

Mestikah berserah hati berinsafi?
O, aku melaju dalam biru tak bertepi

Jumat, 20 Juli 2012

Bayang Putih


Bayang putih itu kian menjelma
Ia datang menerobos sisi ribuan gemintang
Ku lihat Rembulan telah bercermin dalam beningnya danau
O, Mataku seperti berontak pada takdirnya
mengikuti hukum optik yang keliru dari Ptolemus juga Keepler

Menatapmu adalah pemberontakan Oedipal
dan asa adalah benar melebihi tubuh tanpa organ
Entah, Barthes terlalu terlalu angkuh menebak kata hati
atau Gibran yang terlalu determinis pada personalitas
Semuanya direduksi menjadi kata berbisa seksualita

Dialah bayang putih menjelma rima
Tanpa poros bak lirisme para simbolis
Hati menerobos silau dalam prinsip realitas
Berontak akan prinsip kesetiaan ala Qais
Mendamba Laila sebelum laut membelah pengunungan

Apakah hina jika aku bermandikan danau walau telah disinari rembulan?
O,  berpalinglah padaku wahai danau kecilku
Sebab rembulan kan hilang darimu jika mentari mencekik..
Kaulah bayang putih melebihi air yang mengkristal
Sinarilah aku yang tak butuh apappun selain cahayamu..

O hatiku, kau seperti mataku
Memberontak pada kesetiaan ragawi
Mendamba senyumu dalam kesetiaan poetika.

Apakah hina jika aku bermandikan danau walau telah disinari rembulan?
berpalinglah padaku wahai danau kecilku
Sebab rembulan kan hilang darimu jika mentari mencekik..
Oh, aku keliru dan Haytham benar .. ..
Cahayamulah menapak laju di mataku
Hingga  kulihat hanyalah dirimu.

              4 U...

Sabtu, 14 Juli 2012

Nyanyian Kesunyian Malam

Malam-malam meyanyikan kesendiriannya di malam-malam
marga satwa terlena mempsona
Kegelapan meyelmuti,
gesekan daun dengan ranting
Heningkan malam-malam jadi mendalam

Tiada bintang juga rembulan mengiringi
Kunang-kunang pun lemah meyinari dirinya sendiri
Serangga yang menyagga diatas kulit tipisku Tak lagi kurasakan
Senar gitarku tak lagi mengharmoniskan melodi indah
Selain keharmoisanku dengan sang Harmonis

Malam yang begitu menikam dalam-dalam
Malam tanpa cahaya keduniaan
Selain cahaya sang Cahaya
Yang bersinar indah dalam kesunyian jiwa

Nyanyian malam ini begitu syahdu di pematang jiwa
Nyanyian yang menutupi musik manusia yang tak lagi menarik
Nyanyian yang membuat semut dan gajah tak lagi beda dikelopak mata
Nyanyian yang membentuk pecinta menjadi satu dalam cinta

Angin malam menyepoi diatas kesunyian jiwa
Menggesekan sadar tetap meruduk bak bersujud pada sang Syakur
Suara hati merintih sedih dalam kegalauan
Merintih pilu dan doa tentang kedamaian, keindahan dan ketentraman

Ialah malam ditemani kesunyian
Kesunyian tanpa suara selain nyanian malam akan kesunyian
Nyanyian yang menjiawai jiwa akan siapa dirinya
Nyanyian yang mengenali diri akan siapa pemiliknya
yang selalu merdu sampai dilain dunia

wahai kesunyian malam dalam keheningan jiwa
tetaplah bernyanyi akan kesendirianmu
kau adalah melodi tanpa dawai-dawai harfa
kau adalah melodi yang meyatukan jiwaku dengan sang Jiwa
kau adalah malam yang mengenalkan aku akan siapa diriku.

Gadisku Berkebaya Merah

Melangkahi petang dipematang sawah
Hembusan angin menghampiri melunglaikan batang-batang padi yang seharian di dera kemarau
Gesekan gabah dengan batangnya hasilkan melodi akan hari yang tak jua menghujani

Aku melihiat gadis berkebaya melepaskan pandang keseluruh ladang
Seolah menancapkan kegelisahan akan hidup yang jarang tersirami

Dengan senyum tipis
Ia menumpahkan kepenatan yang menyelimuti seisi raganya
Senyuman yang begitu indah mengalahkan keindahan desanya sendiri

Sekejap ia berjalan menilntasi tapak-tapak sawah
Mengharmoniskan melodi indah diantara gabah dan hujung selendangnya
Aku seolah terpojok dalam luasnya cakrawala
Sembari terjatuh oleh pandangan yang jarang kutemukan

Kuhampiri dengan serangkai kata
Namun ia tetap menjingga bersama mentari
Kutatap dengan mata terdalamku
Ia tetap saja tak menolehhku

Dialah gadis berkebaya
yang menjelma menjadi sinar putih didasar sanubariku.

Untukmu Si lebaY

Dimensi waktu meraung seisi dadaku layaknya segerobl domba berdesakan keluar dari pintu yang sempit, gerah seperti tercengkram dalam sebuah tenda ditengah gurun, penuh terik. Akibat kerisauan konstan yang mendiami gerak pikirku akan absurditas, segera berubah menjadi sebuah Kerinduan nir-badani. Gerak peruabahan itu hadir dalam kediaman, puitis, yang terbang bersama debu jalanan , mengangkasa. Akibat dipeluk mesra oleh jemari mentari, ia bersinar layaknya patamorgana yang menari indah diatas kehampaan. Birakan saja “ketiadaan” sebagai rel tatapanku yang kadang tak terucap, kemudian mengarahkan segala indra pada ruang metamorphosis menjadi kilatan cahaya dari partikel-partikel halilintar yang membelah kesombongan jagad raya.

Jangan, jangalah Kau biarkan kilat mereda, biarkan ia menjadi segenggam mawar berbisa kemudian suguhkanlah diatas meja-dan laci para perampas kebahagian, dan, berikan sebuah tanda Tanya, (?), diantara helaian mawar itu, agar mereka memiliki kesempatan tuk memahami beningnya dirimu dalam aneka warna.

Terlalu banyak kaum tua yang berlagak seperti elang muda, dengan sombonyya mereka membuat manifesto-manifesto yang janggal kemudian di pajang diatas tempat hiburan malam yang syarat akan tubuh, remang-remang. Cobalah mendekat, dan, lihatlah, mereka adalah jelmaan dari mitos-motos ketika bumi masih senyap, kini, mitos-mitos itu telah terbantahkan, bahwa, mereka adalah nyata yang sering membuas, membunuh, menjarah bahkan meniduri istri-istri orang, kini mereka masih hidup bersama kita. Mereka layaknya tupai yang mencuri sari kelapa kemudian meninggakan batoknya pada sang pemilik.

Oh kau yang masih bersolek dalam Istanamu. Tak puaskah engkau yang terus membirahi melihat penjagamu yang tanpa sehelai benang pun badan? Tak puaskah kau berpose dalam segmen cerita fiktifmu yang meninabobokan?. Kau sama saja seperti lagu-lagu yang kau nyanyikan, romantic, indah tapi kosong akan pikiran-pikiran puitis, hingga membuatmu seperti Beo dalam jebakan skriptualis. Jika mendengar nyanyian tak seirama denganmu, kau malah nangis, curhat dan mengasah suaramu di antara rinthan yang kau berikan sendiri pada kami.

Hei, kau yang tau renta, dan lapuk. Disini bukanlah tempat anak-anak kecil, yang mengharap dongeng sebelum tidur. Dan tempatmu juga bukan istana kaca yang tak bisa bebas dari debu yang beterbangan. Keluar dan lihatlah sekelilingmu, wajah-wajah tak berwarna tak lagi bercermin kepadamu.

Istanamau sedemkian jorok, disetiap lorong, ramai dengan anjing-anjing beranaimu, kau selalu memajang gambar-gambar, dan kisah tentang, yang, sebenarnya terangkai dalam relung konspirasi. Semantara hampir di segala sisi, kau mencoba menggandakan dan menghidupkan kembali abad-abad akal yang terborjuisasi, sebuah tampilan simulakra yang mengirim signal pada kami akan ketidakpantasan untuk berada disana.

Oh manusia yang ber-Tuhan, tak secuilpun kau berbentuk dalam ribuan Nama-nama— walaupun dirimu adalah bagian dari bentuk itu—dan melepas kemanusiaanmu dari rintihan yang menggemakan sukma. Dirimu kau belah menjadi puluhan rupa, ada yang bernyanyi, berolahraga, bertani, menabung, menziarah tempat-tempat sacral, berjudi dan banyak lagi disana, ternyata semua itu hanylah bayangan dari wujud keserakahan, bukan rahasia umum lagi, yang berdiri diatas syahwat yang selalu beronani.

Kau yang katanya punya cinta, datanglah dan bercintalah denganku, kan ku buat dirimu mengorgasme ditiap sentuhan, kemudian kan ku rubah setetes sperma-mu menjadi anggur yang memabukan seluruh jagad-jagad.

Berawal dari Beautiful Mind

Malam itu, mereka bertemu kembali. Walapun bukan yang pertama kalinya, tapi pertemuan itu terasa seperti mereka baru saja berkenalan, berkesan bagi mereka berdua. Gayatri, gadis berkerudung dan mengenakan gaun yang coraknya seperti kain kebaya. Ada pemutaran dan bedah Film, Beautiful Mind, di gedung kesenian Makassar, yang secara kebetulan Ikbal, mengambil tempat duduk yang nantinya bersebelahan dengan Gayatri.

Sebuah film yang membutuhkan perhatian lebih agar dapat memahami apa makna dari setiap tayangan tersebut, membuat Ikbal, tak memperhatikan kalau ada yang berjalan menuju ke arahnya, dan mengambil tempat duduk tepat disampingnya.  Sepuluh menit kemudian baru ia sadar kalau  kursi yang tadinya kosong, telah diduduki oleh seorang gadis, Gayatri.
Eh, Gayatri, kan?
“Iya, serius amat”
“Kadang ketidakseriusan, walapun hanya sedetik, bisa mempengaruhi interpretasi atas sebuah cerita, he,he” ikbal membela diri.

Gayatri hanya tersenyum tipis, bola matanya yang bundar dan kening yang tidak terlalu tebal dan teratur,  kemudian wajah yang sedikit oval membuat malam itu ikut tersenyum menyaksikan wajah natural perempuan melayu timur. Ikbal, dengan alis mata yang bergerak ketika berbicara barusan, memandang sekilah ke arah gayatri, alis matanya yang hampir tersambung kadang menjebak lawan bicara kalau ia butuh keseriusan. Keseriusan yang sedang merambah penonton malam itu, membuat Gayatri menarik makna yang agak literer, hingga bola mata ikbal yang bundar dianggap sebagai tanda tuk sama-sama mengambil bagian dalam keseriusan itu.

Beautiful Mind, sebuah film yang diambil dari kisah nyata, yang mengambil latar di Princeton Unversity, mengisahakan tentang seorang pakar matematikawan, Jhon Nash, yang diperanakan oleh Russel Crowe. Kecerdasan John Nash dalam matematika membaut dia menjadi mahasiswa jenius, namun obesisi untuk menciptakan sebuah teori baru, yang ia namakan dinamika penggerak yang merobohkan gagasan ekonomi modern Adam Smith, awalnya, tidak didukung oleh pembimbingnya membuat ia kadang merenung sendiri, dan berimajinasi tentang idenya itu. Namun tanpa disadari ia terkena sebuah gejala kejiwaan, Skizofrenia, yang membuatnya tak bisa membedakan mana yang nyata, dan mana yang tidak nyata. Soundtrack berupa instrument dalam film itu bisa membuat anda untuk berimajinasi. ikbal, adalh seorang yang sangat menyukai instrument. Entah lirik-lirk lagu yang tak lagi puitik saat ini membuatnya malas untuk mendengarnya. Kadang, ketika membaca ia selalau ditemani oleh gesekan biola, Kitaro, juga instrument-interumen lain yang bisa heningkan rasa.

Film telah selesai didiskusikan, banyak yang telah meninggalkan ruangan. Sementara Gayatri dan Ikbal masih berdiri, maklum, hanya satu pintu yang dibuka sehingga harus rela antri tuk keluar.

“Mau pulang kemana, Yat?”. Tanya Ikbal. “Pulang ke rumah dong, masa ke laut”. Jawab gayatri dengan sediki bercanda. Ikbal, hanya tersemun tipis, dan sesekali mencuri pandangan tuk melihat wajah Gayatri, yang natural tanpa sentuhan make up apapun. Ia kagum ketika melihat  Gayatri, dalam menginterpretasi film tadi.

“Anda cukup cerdas, yat”.
”Apakah cerdas ada batasannya?”
“Maksudnya?”, jawab ikbal, dengan sedikit memainkan alisnya
“Tadi anda katakan kalau saya cukup cerdas, kan?”
“Maksud saya anda cerdas”.
“He.he.. kebiasaan laki-laki, cepat menumakan alasan dari sebuah kesalahan, cuman main-main tadi, jangan ambil dihati, sekedar mengajak anda tuk memahami permainan kata. He.he..”
“Kadang emosi mempengaruhi makna”
Apakah saya sedang emosi, menurutmu?
Ya, mungkin saja, emosi karena terbawa dengan film tadi”.

Mereka berdua tersenyum sambil memandangi satu sama lain, walau hanya beberapa detik, tapi dari tatapan itu menghasilkan juataan intonasi bahasa tubuh yang bisa membuat anda salah memahami sinar mata seseorang yang menatapmu. Di pintu keluar orang-orang sudah berkurang. Mereka berdua pun keluar.  Satu

Waktu menunjukan pukul setengah sebelas malam. Mobil angkot sudah jarang terlihat, hingga mereka harus rela menuggu sekitar dua jam didepan taman gedung itu. Jalanan yang sudah mulai sepi, kemudian temeram lampu jalanan berpendar hingga kesela pepohonan, desiran angin yang menyepoi, para pengemudi becak—yang mungkin sedang istrahat—duduk bermalasan  di sadel becaknya, beberapa pemuda berjalan kaki sambil bercerita. Suasana  malam yang mestimulasi  Ikbal, untuk lebih dekat mengenal, Gayatri. Mereka mengambil posisi duduk tepat dibawah pohon mangga, rindang.

”Apa yang anda sukai dari film tadi, Ik”. Tanya Gayatri,
“Yang saya sukai semuanya sih, tapi yang lebih berkesan ketika melihat semangatnya John Nash, yang tak pernah surut untuk berusaha dan belajar menciptakan teori dinamika penggerkanya.
Kalau kamu?” Tanya ikbal balik
“Saya teringat kata-katanya Einstein, imajinasi lebih penting dari pengetahuan. Dari kekuatan imajinasinya ia ias menciptakan tokoh fiktif, yang luar biasanya, ias diajak tuk menyelesaikan maslahnya”.
“Bukankah itu yang menjadi peyebab ia dimasukan ke rumah sakit jiwa?”
“Apakah anda tahu alasannya, kenapa?” Tanya gayatri, sambil membuka botol air mineral yang baru dibeli.
“Dari filmnya sih, Nash, dimata orang-orang terdekatnya, memiliki kelainan jiwa”
“Gila menurut anda?”
“Yah, seperti itu”
“Nash, tidak memiliki kelaianan jiwa”, jawab gayatri setelah menguk minumannya ”atau yang sering diakatakan orang-orang sebagai gila, tapi dokter psikiatri atau lingkungannya yang gila, karena mengobati penyakit dengan pengobatan kimiawi yang jelas-jelasnya tak memiliki organ materil didalam tubuh. Kenapa sih orang-orang seperti itu selalu tersisikan dalam suatu komunitas?, apa bedanya mereka dengan orang-orang yang ngigau saat teritidur pulas?”.

“Tapi kebiasaan mereka itu aneh, dan beda dengan lingkungannya, kan?”, sela Ikbal
“Kebaiasaan seperti apa?, saya bingung, kita semua selalu mengkritisi cara pikir ala Cartesian tentang ego cogito-nya, tapi dilain sisi kita juga selalu memakai cara-cara itu untuk melihat masalah-masalah yang tak bisa diukur atau dihitung secara matematis. Inilah sebuah era kegilaan, era dimana rasio menjadi tuhan, dan disaat bersamaan rasio kita jadikan sebagai hakim yang selalu memvonis hal-hal metafisis sebagai pihak yang selalu bersalah. Bukankah itu cara pikir filsafat barat modern?.

Sebuah penjelasan, gayatri, yang membuat Ikbal, menatap serius, entah karena menghayati penjelasan gayatri, ataukah sebuah tatapan kekaguman  atas apa yang baru saja ia jelaskan.  Kedua bola mata yang mulai terlihat lesuh, membuat wajah gayatri, semakin terliahat jelas akan wajah kesederhanaan melayu timur-nya. Namun ketika gayatri menatap balik, Ikbal seperti didera sebauh gerakan reflex alami, hingga ia harus mengalihkan pandangan kearah lain. Kebiasaan Ikbal, yang pemalu membaut ia jarang menatap mata lawan bicaranya, namun malam itu ia agak beda dari sebelumnya. Kadang berani dan sedikit diimbangi oleh rasa malunya.

“Apakah  rasio tak layak digunakan untuk meyelesaikan suatu masalah?” Tanya ikbal setelah diam sejenak.
“Saya tidak tidak berkata rasio seperti itu, tapi yang saya kritisi adalah dia ketika dipakai sebagai jalan satu-satumya tuk selesaikan sebuah masalah”.
“Bukankah dalam film tersebut terdapat suatu cara pengobatan yang non kimiawi, dimana cinta dan kasih sayang sang isteri turut berjasa hingga Nash, meraih Nobel?”. bela Ikbal.

Iya, memang seperti, tapi dalam film tadi saya justru—melihatnya dalam kulutur yang berbeda, Ik”.
“Misalnya?” Tanya Ikbal dengan melihat waktu di ponselnya.

"Cinta dan kasih sayang yang ditunjukan dalam film itu tadi lebih pada kebisaan ala barat yang selalu dibumbuhi dengan seksualitas, sementara cinta dalam presektif platonis hampir tak punya gambran disana, selain  hanya dalam bentuk kalimat saja, seperti perbincangan Nash dan Istrinya dibawah pohon. Atau seperti dalam film My Sisters Keepers, dimana penyakit leukimia yang diidap oleh seorang gadis remaja, kate, yang kondisinya semakin parah, tapi kehadiran seorang pacar mampu membuat ia keluar dari depresi yang ia rasakan, atau memilki waktu hidup lebih dari yang dipikirkan para dokter. Dari film itu pun diperliahtakan bahwa kasih sayang mampu juga menyembuhkan penyakit, tapi lagi-lagi agak syarat muatan kultur didalamnya". 

‘’Yah, saya sepaham. Tapi apakah anda membedakan seks bukan bagian dari cinta?

Mendengar itu, Gayatri hanya tersenyum tipis. Entah seks saat ini seperti yang dikatakan Faucault, merupakan hal yang tabu, dimana ada semacam polisi ujaran, dan ada semacam image nagatif jika dibicarakan didepan umum. Mungkin saja gayatri, terjebak pada episteme demikian, sehingga ia hanya diam sejenak dan membuka ponsel genggamnya, melihat waktu.

Ikbal membaca itu, dan berkata “ seks, yang saya pahami adalah bagian dari produksi dan prokreasi Tuhan. Dan itu merupakan bagian dari proses penciptaan hingga bumi ini kiamat.

Gayatri, memandang serius Ikbal, dan berkata “penciptaan seperti apa?”
“Rahim Ibu, tidak ada bedannya dengan ar rahman ar rahim dalam qur’an yang berarti kasih sayang, jika anda pernah membaca Saciko Muratha, The Tao of Islam, anda akan melihat penjelasan bahwa, seks merupakan bagain proses penciptaan mahluk hidup. Ibnu Arabi berkata bahwa manifestasi Tuhan yang paling terlihat berada pada wanita, yang salah satunya adalah ketika dilihat dari perspektif rahim ibu tadi. Bukankah semua agama mengajarakan kasih sanyang? Dan kata Allah secara substansial bermakna kasih sayang. Bagaimana ada kelahiran jika tidak ada seks, maka dari itu seks juga merupakan angugerah tuhan, cuman yang jadi persoalan ketika seks, dipahami diluar dari konteks itu”.

Mendengar itu, gayatri diam sejenak. Kondisi tubuh yang mulai ngantuk, dan mobil angkot belum juga dating membuat ia setengah gelisah, tapi Ikbal mampu melihat situasi itu dan berbicara lagi tentang apa yang dibicarakan Gayatri, tentang film tadi.

“Apakah anda pernah mendengar tentang music yang bisa membius orang ?”
Pernah, Ibnu sina, kan?. Jawab gayatri
“Ya, memang ketika orang, yang menurut kultur, sebagai kelainan jiwa tak bisa diobati secara kimiawi,  yang ada bukan penyembuhan, tapi lebih menambah penyakit itu”.
“yap, seperti Tadi, Nash yang berhenti makan obat ketika diberi sama isterinya” gayatri terlihat sedikit segar kemabali ketiaka menjawab ikbal, nampaknya, strategy Ikbal berhasil memancing lawan cerita dengan topic yang disukai lawan bicara, Gayatari melanjutkan “contoh kecil, curhat misalnya, kita butuh berbicara dengan orang ketika ada masalah, yang Nash butuh adalah terapi atau meditasi puitis”.

Mendengar itu, ikbal tersenyum hingga matanya yang agak sipit agak tertutup, dan berkata “jangan pernah menghindar jika kita dalam masalah, duduklah dan bicaralah dengan diri sendiri, karena ketika sedang stress atau sejeninsnya, merupakan kerinduan jiwa akan sentuhan kita sendiri yang jarang kita belai. Heheheh…”

“Ternyata anda lebih cerdas, sela Gayatri.
“Apakah cerdas ada lebihnya?”
“Ya, kelebihan anda kerena bisa membuatku betah diskusi dengan mu hingga jam segini”.
“He.he.he.. “ Ikbal tersenyum sambil memandang wajah indah Gayatri.

Mereka memutuskan untuk berjalan menaju putaran angkot, yang kurang lebih 29 meter dari tempat ngobrol, tak ada angkot yang didapat. Mereka berdua memtuskan tuk jalan kaki ke termina yang jaraknya sekitar satu kilo meter lebih.

“Apakah tidak kelelahan, Yat?”, Tanya Ikbal, dengan intonasi perhatian
“Tidak, sudah sering jalan kaki seperti ini, sekalian olahraga juga”.
Ikbal menatap sekilas wajah gadis yang sementara bersamanya, mungkin ia baru bertemu dengan pertemuan seperti ini. Bagi Ikbal, jalan kaki bagi masyarakt kota sudah merupakan sebuah penanda sosial—saussurean—yang kadang membuat stigma ketikmampuan jika melihat ada yang berjalan kaki. Entah, senyum kekaguman ataukah ada perasaan lain ketika menatap Gayatri, membuat pria itu diam terkesima beberapa saat. Ia pengen memuji gayatri, namun takut kalau dibilang gombal.

Ketika dalam setengah perjalan, sebuah angkot melintas dan berhenti dihadapan mereka. Namun ikbal memutuskan untuk tidak ikut bersama dengan Gayatri, dalam angkot itu. Kebetulan ruamhnya tidak terlalu jauh membuatnya memilih berjalan kaki. Mobil angkot telah berlalu, sementara Ikbal masih mengatur langkah dibawah temeram lampu jalanan. Wajahnya terlihat tersenyum saat memikirkan perempuan yang bersamanya tadi. Ia memutuskan berdiri sejenak dan mengetik pesan singkat pada ponselnya dan mengirim pesan itu ke sahabatnya, Ali. “Li, saya jatuh cinta malam ini pada seorang gadis, Gayatri namanya”.

Resah

Aku membaca Tolstoy, Nietsche
Membaca M. Yunus, M Ikbal
Membaca Kafka, Heidegger, Camus
Tapi ku blum bisa membaca seperti apa aku....

Kadang ku menangis tanpa sebab
hingga tubuh kan gemetar bak getaran tektonik
mengguncah seisi cakrawala
berkeluh, berkesah tanpa tahu apa yang kucemohi

dalam jeda sesaat ...
aku sadar ... Inilah hidup
seperti inilah yg kujalani
diatur, mengatur, ditindas, menindas
seperti itulah yg kujalani
seperti itulah yg kurasa

Oh rotasi bumi yg masih setia dalam garis edarmu
disiplinkanlah aku dalam jagat bintang yang jatuh mengangkasa
agar deru angin melabrakku menjadi musnah dalam Ketiadaan

aku membaca, aku menulis dan mendengar
tapi aku blum mampu memahami semua ini.....
kenapa hidup terlalu buta dan tuli tuk lihat dan merasakan??

Oh Ibuku ... aku merindumu malam ini
ku ingin terbaring diatas pangkuanmu
agar lelapku terbawa oleh ceritamu yang meninaboboku
tentang awal ketika Papa mengatakan cinta padamu
aku ingin mendengarnya, Ibu...
sebab hidup tak lagi menarik tuk dijalani.....

Tolong Nak

Tak ada kebahagiaan
Tak ada lagi tarikan nafas kesegaran
Tak ada lagi senyum mengukir pagi
Tak ada lagi kejutan
hanya ratapan
hanya kesedihan

saat terjaga dari lelap
aku tak melihat keceriaan
tak lagi mendengar kedamaian
semuanya berubah, sekejap
senyum diganti kesedihan
tawa diganti tangisan

ponselku bergetar
buatku terjaga dari kesadaran
sedih membuat jiwa dibanjiri butiran tangisan
mendengar sesuara getarkan nurani
“tolong, tolong nak, tolong kami”
Entah sampai kapan pinta itu bertuan didadaku
Sakit, menderita jika ia datang

Aku merasa menjadi orang yang paling munafik
Berdosa pada diri sendiri
Suara itu telah menjadi aib bagiku
Yang hingga kapanpun selalu membuatku merasa bersalah
Sakit, sakit dan tersiksa
Disetiap pagi suara itu selalu membuatku terjaga
Seperti menjadi pengingat akan hidup yang tiada lagi kedamaian
Tuhan, apa sebenaranya Skenario hidup ini?

                                                                                          (untuk Pak Tua, di Pasar Limbung, Kab Gowa)

Suram

Segalanya tampak suram
diri sendiripun hampir terlibat dalam sebuah kebencian tanpa dosa
Mengukur sejarah pasti berakhir air mata
Hari-haripun kujalani dalam bayang kesuraman
Tapi, dimanakah kekeliruan itu?
Sehingga derita bak nafas yang terengah
Disetiap tarikan nafas, resah menyinggahi rasa
Tanpa apapun kecuali diam membasahi

Aku seperti melayang dalam titik geomietrik
Hanya diam tak bergerak
Melihat semuanya berputar dan berlalu
Atau seperti orang-orang terbuang
Yang dihindari  sejarah kekuasaan
Tak dikenal siapapun selain diri sendiri
Mati, sepi dan sepi

Walapun bukan duniaku…
Tapi aku merasa hidupku di hujung tanduk
Kemudian dihujani ribuan cacian
Atau ditembaki sorak kedangkalan  perdaban
Sehingga terkadang aku bejalan tanpa arah
Tanpa tahu jejak siapa yang kutapaki

Ooh.. sungguh pilu hidup ini
Dijalani dalam dunia yg dipenuhi tembok-tembok raksasa
berbicara dalam dunia yg tak lagi mendengar
Atau ironis hidup dalam ketiadaan rasa
Apakah aku sementara hidup dalam dua dunia?
Yang kurasa adalah kemenangan yang didalamnya bukan aku
Sementara kepekaan dibungkam oleh orang-orang tersanyang

Seperti apa itu Menjadi???
Seperti apa itu orang normal atau waras?
Yang bagaimanakah itu orang gila?
Iya..segalanya memang tampak suram
Sehingga tak tahu berakhir dimana hidupku
Aku mencintai hidup yang yang resah akan kehidupan
Aku mencintai hidup dimana aku dihidupi
Tapi jangan paksakan aku mencintai tanpa diriku terlibat didalamnya

Malam Menjadi Kata

Malam mengukir kegelisahan menjadi kata
Ia tercipta menyerupai bentangan narasi yg terpojok disetiap selokan
Atau terukir dalam papan- papan iklan sang pembawa citra fasis
Kata hanya menjadi cerita dalam ribuan naskah serakah
Hingga jeritan yg kian mencekit
Memaksa kata beruabah menjadi doa berpasrah

Malam terlalu senyap tuk mencaci diri sendiri
Atau terlalu gulita tuk bertekuk pada setaip kubah
Ooh.. betapa harapan adalah rayuan pada kebisuan
Betapa perlawanan adalah menjual diri pada kekuasaan
Setiap kita berharap memiliki logika yang brilian disetiap medan
Bahkan ideology terseret dalam siklus premature diruang karbitan
Setiap dari kita merasa bangga pada nilai perjuangan
Tanpa sadar kitalah penerus poin-poin kerajaan yang menyusun scenario penindasan

Malam mengukir kegelisahan menjadi kata
Hanya orang-orang gila yang memahami setap resah
Hanya orang bisu yang memahami bentangan cakrawala
Ooh..pengeras suara….
Kau tak lebih sekedar penawaran barang dan jasa
Atau seperti pantulan sinar dalam ruang cerminanmu
Kau berteriak
Mengasah suara
Numun itu tak lebih dari ritme pembodohan
Yang kau susun dalam setiap rancangan kerjamu

Bumi terlalu luas tuk menggemgam setumpuk kacang ala manusia hutan
Dunia terlalu luas tuk sinkroni setiap imaji
Namun bagimu internalitas logikamu adalah prioritas
Maka setiap yang lain adalah lelucon atau makian kedangkalanmu
Setiap yang berbiacara adalah badut sangkaanmu
Ohh.. betapa kebodohan memanjakan dalam selaput tinjamu
Hingga bicaramu hanyalah pancaran libiodo akan makan, makan dan birahi
Reflekasi hanyalah pelarian atas ketakpuasan badani
Tuhan pun kau anggap mati akibat kecanduan ejekulasi

Setiap kata bagimu hanyalah terapis ala borjuasi
Maka setiap kitab tak kau sucikan dalam tapak yang kau hasrati
Setiap kata kau ubah menjadi sebutir gandum
Hingga kontemplasi adalah sisa-sisa pembakaran yang kau tinjakan pula
Lihatlah siapa yang berhasil porandakan setiap harmoni?
Siapa yang terbahak dalam menarik setiap laba?
Kini, kitalah penerus para zombie yang terkubur kekauan
Seolah waktu dapat menahan laju penuaan
Ooh..mereka seperti hantu yang terkapar dipojok perpustakaan
Dan berteriak histeris akan kematian yang tak pernah dikonstruksi
Sementara kita tetap bangga pada pelabelan nama atas setiap ideology
Tanpa Tanya, tanpa rasa, tanpa pikir
Kau layaknya Kasuari yang tak pernah mengunyah setiap buah
Hingga yang keluar ialah nanah yang tak pernah berubah warna

Malam mengukir kegelisahan menjadi kata
Entah, setiap ego diterali kekauan filofosi
Keluasan cakrawala dihujani butiran salju, membeku
Terbujur kaku dalam setiap narasi membelenggu
Wahai butiran-butiran hujan yang membanjiri keresahan
Kabulkanlah pintaku pada badai yang meradang disetiap pojok jalanan
Layangkan aku seperti kekupu yang beterbangan
Jika setiap kepakan ku adalah meluasnya sehasta cakrawala
Maka jangan izinkan aku menetap dalam kebungkaman setap narasi

Malam mengukir kegelisahan menjadi kata
Andaikan pagi meminangmu dengan sebilah mentari
Ubahlah partikel cahaya menjadi belati yang menghunus setiap tirani

Dipeluk Hujan

Saat matahari tak lagi menancapkan terik
Bunga-bunga merindukan kehangatan sang kumbang
Disetiap selokan kejernihan  berganti merah
Hari-hari mewarni yang lalu ditinggalkan suam
Pecah terlihat tiap gemericik yang memercik
Aku terjebak dalam sebening kaca berair
Lambat laun menetes melebihi seikat selimut
Aku dingin bersama kucing-kucing ku yang kerap bingung memandangi

Hujan menghabisakan tetesan pada ujung lidahmu
Dedauan berhrap senja akan kecupan mulutmu
Tak peduli basah kalahkan merah dipucuk kayu
Semakin terbakar semakin aku dipeluk hujan
Aku terapung diatas susunan-susunan pemabakaran
Jika asap mengasa setiap uap
Hujan semakin beradu dan membakar tubuh ku yang kian mengakar

Aku dipeluk hujan dalam dinginnya samudra
Nampak merah kerap membakar
Nampak merah kian membara
Melingkari setiap kubangan yang mengairi
Tapi Aku masih saja dipeluk hujan
Tanpa hulu
Tanpa hilir
Entah, kemana aku mengalir.

Matahari Belum Jua Terbit

Tak tahu pasti matahari belum jua Nampak
Kedinginan kian meradang bekukan rindu yang dulu bertalu
Burung-burung hantu berkoar tiada habisnya
Menangis, berteriak dan tertawa penuh misteri
Seolah memaksaku tuk percaya pada iblis menggoda Hawa

Sesuara itu seperti mengaduh pada tatapan sinis
Larutkan malam kian menjadi, menyakiti
Malam ini menengadahkan kata pada keberanian
Sesuarapun takluk ketakutan dalam pjiar kemerahan
Tatapan dan hati berserah pada kekalutan
Menahan waktu, menembus Tanya
Mengikat rasa, menembus sukma

Kenapa malam meruncingkan kubah tanpa seuntai asa?
Kenapa matahari mengalah pada pegunungan?
Bukankah Sujud adalah sama dalam sinar dan menahan badai?

Keluwesan cakrawala seperti beku disetiap imaji
Dingin dan kaku terseret lempeng bergurau
Tiada lagi musim yang mesti berganti
Tiada lagi senja liarkan imajinasi
Bahkan opini mustahil berapriori
Apa guna mencipta sayap-sayap keabadian dari lembaran buku?
Apa guna berserah pada hati tanpa prisma mempelangi?
Ooh, matahari belum jua Nampak menghidupi

Malam berganti malam tanpa sapaan matahari
Aku terseret dalam pinta tiada berapi
Aku muak dengan batas alami kemanusiaan
Mendistorsi kekosongan dalam alibi nun jauh memahami
Malam menawariku bintang tanpa bima sakti
Tapi ialah sebab supernova kan terjadi
Ledakanlah diriku dalam detak hypernova wahai Andromeda !!
Agar matahari tercipta walaupun dalam beda semesta

Kemarahanmu memangks Cahaya Senja


Kemarahanmu tlah memangkas cahaya senja
Matahari melaju bak meteor menembus gulita
O Senja, kini tak semerbak mawar yang terbuka
Durinya berguguran buat langkah renta terluka

Kemarahanmu tlah memangkas cahaya senja
Kesegaran taman sepikan tarian bunga
Helai demi helai jatuh petanda renta
Kulihat sejenak tatkala angin kehilangan sendunya

Senja pun lelap menerpa
Kemarahanmu tlah memangkas cahaya senja

Jumat, 13 Juli 2012

KEHILANGAN (Victoria, Achir Djuni 1970, By _ Papa ku)

Amboi.. malam ini kisahku punah luruh
Telah remuk bersama hilangnja sebuah harapan
Hari esok kudjelang tanpa sebutir senyum

Malam ini sibaju merintih memasuki tjelah-2 djendelaku
Dan titik-2 hudjan satu-2 djatuh
Djatuh dengan derai rerintihan
Menjelusup, melabuh kedalam hati yang hitam
Menggesek nada kalbu dengan irama tak menentu
Lalu menghilang,..hilangja bersama senduja malam

Kesujian malam membuatku lebih parah
Wadjah itu … menjelusuri dikeheningan malam
Datangt dengan mendjindjing setjertjak angkuh dan sombong
Sambil melaju penuh emosi dan membawa kemenangan diri
Yang pernah kulumuri dgn hal-2 yang tak berarti
Lalu membelakang tanpa pamit
Yang hanya pada sebuah goresan hati

Setjertjak kisah hilang kembali mendjelma
Bersama tjumbu, raju serta air mata
Namun kini hanja tinggal bekasnja hilang
Hilang bersama bulan pudar
Bersama segala tjita-2
Ah…. Hari esok kutatap
Tak sebutir embunpun dipagi hari

Ibarat Ruang-waktu, Rasa-pun Melengkung

By: Arie Samal 

Keheningan melaju dalam resah akan kubah malam, tanpa mentari, deru kendaraan, tanpa teriakan tawar menawar di pasaran, semuanya memberikan ruang kontemplatif bagi lengkingan jiwa yang selalu terbata-bata dalam miliyaran zarah hewani yang terlena dalam kemenangan tubuh dari fazar hingga senja hari. Saat ini, kau tengah berada disebuah rumah tua yang telah kau tinggali sekitar satu bulan lamanya, tepat di beranda lantai dua. Disini kau dapat menyaksikan kedipan lampu-lampu hias gedung-gedung bertingkat, lampu-lampu jalanan, yang karena sinarnya memiliki porsi lebih sehingga gelombang sinaran itu sedikit menganggu penglihatanmu akan bintang dan purnama yang tengah bersinar mesra. Sejenak, Kau terlena dalam sebuah imajinasi ala fisikawan kemudian mengubungkannya dengan kebaikan dan keindahan dalam sastra romantic tujupulahan, dimana keremangan lampu-lampu gedung yang congkak berdiri adalah bahasa dan jagad kesombongan aristokrat yang selalu berdiri diatas tirani kekuasaan yg tak sedikit menyiksa bahasa-bahasa kebenaran dan keindahan. “O, rembulan, kecongkakan bumi seperti tak lagi menginginkan pendaran keindah-bintangmu”.
Beberpa jam yang lalu, kau baru saja ditinggalkan dua sahabatmu yang pulang kampung, rasa sedih dan kehilangan beigtu kentara saat sinar ponselmu menerpa wajahmu yang lesuh.  Suka duka, senang gembira, maupun kesalahan adalah habitus dalam praktik kehidupan dimana semuanya seperti massa yang terperangkap, dan malam ini, energy itu akan terbuka sehingga segala kenangan yang pernah dilalui menjatuhkan memorinya pada hati terdalam anda yang resah merindu. Keheningan malam ini membuatmu seperti pendengar sejati Sebastian Bach, atau Schubert—yang karena musiknya menyebabkan Mileva menceraikan Einstein—kemudian tanpa disadari gubahanmu berubah menjadi penari ala mistikus, Rumi, yang mungkin membutuhkan sentuhan indah Beethoven, dengan moonlight-nya, tuk menarik bulan sinari dadamu yang dilingkari kegelapan.

Disini, di beranda ini, kau seperti para penjelajah waktu, yang hanya dalam sebuah keliaran imajinasi, kau bisa melintasi dan menarik segala kenangan dalam triadik berdimensi kemudian menatap kisah-kasih yang penuh dengan kesalahan dan kekeliruan terindah yang pernah dan akan kau lalui.  Iya, dengan tidak sengaja mendengarkan musik indah dari Coldpaly, in my Place, dari kamar sebelah, kau beruapaya menjadikan suasana hati diatas baranda ini seperti gravitasi Neowtonian yang menarik segala kisah. Resah yang begitu dalam mengajakmu merenung sesaat, berbicara dengan jiwa terdalammu, sebuah kontemplasi ala Heremeneutic eksistensial, yang mengharuskanmu terbang ke masa kekuasaan Hitler, tuk menyaksikan kegelisahan Heidegger dalam lanskap Ada dan Waktu. Disana, kau bertemu dengannya yang menghabisakan waktu berpuisi di pegunungan “sang Pelihat”, kau hanya terpaku dan kembali lagi saat Heidegger menjawab kegelisahanmu “jangan pernah menghindar jika kegelisahan sedang menerpamu, sesungguhnya hati terdalam sedang membutuhkan sapaan lembutmu karena lama tak kau temani”. Akibat kediaman puitis yang konstan, kau lupa bertanya padanya tentang Kabar Hannah Arrendt, kekasih gelapnya, yang telah ia titipkan pada Carl Jaspers, saat Hitler menancapkan taringnya.

Gerak jagat raya melaju begitu cepat, saat kau kembali ke beranda, dan menyaksikan langit sekitar, rembulan telah terhisap pekat awan, gemintang jutaan tahun yang lalu masih setia mengalirkan sinaran indah pada kelopak setiap insani. Nampaknya kau dikondisikan oleh rantai paradigmatic Saussurean, dimana supernova ataupun hypernova dari bintang-bintang yang mati atau katai putih mengingatkanmu pada sosok kesejatian yang telah lama menantimu. Kemudian akibat getaran semiotic dari pertemuan terakhir antara kau dengannya membutamu jatuh dalam ketiadaan gravitasi. Akibatnya kau menemukan semacam jawaban akan kegelisahan yang menerpamu malam ini. Rasa kehilangan dua orang sahabat hanyalah secuil sebab, dimana kisah indahmu dengan sosok kesejatian, kesalahan terindah dalam mengagumi setiap manifestasi, ketiadaan semangat akan menyikap ketersembunyian Kebijaksaan, dan rasa rindu begitu dalam pada keluarga kecilmu adalah sebab dimana duniamu seperti tepian galaksi yang menolak apel jatuh ke tanah, menjauh. Oh”, kau membatin “aku seperti terkena asma kronis atau pengidap kardiomegali akut yang menyebabkan jantung berdegup mengencang hingga nafas pun terasa sulit mengempaskan kegusaran”.

Namun dibalik keresahan wajahmu, kau masih sempat menyisakan senyum ria atas ketidakbiasaan yang begitu dramatis. Kau teringat dengan seorang gadis pena Pramudya Ananta, yang hanya karena sebuah senyuman diatas tanah rampasan penguasa membutamu mendunia dengan bahasa-bahasa punjangga yang didalamnya kau sembunyikan rahasia dalam ratusan puisi ala simbolisme-sufistik. tapi tak lama kemudian, sang sastrawan besar Italy, Dante, datang kepadamu bersama Beatrice Portinari, kekasihnya inspiratifnya. Kau bertanya pada Dante;

“kenapa bukan Gemma, istrimu, yang datang bersamamu?”.
“Saat ini, jawab Dante “cinta telah bertakhta dihatiku”
“tidakah kau tahu tentang dia yang disampingku?”
Kau hanya diam dan melempar tatapan semiotic ke arah Dante..
“bukankah Kau baru saja menemui Heidegger beberapa waktu lalu?,
“Apa pentingnya asosiasi itu”, kau bertanya.
“Perempuan inilah penyebab La Divinia Commedia terkenal diseluruh dunia”

Kau sedikit terlena saat Dante, sebelum pergi, membaca sepenggal ratapannya padamu;

“isak tangis dan ratapan pedih
Hancurkan hati dalam kesendirian nan sunyi
Hingga lengkingannya memedihkan
Siapapun yang mendengar lukaku
Sejak kekasih berangkat ke dunia abadi
Tak satupun lidah yang mampu kisahkan hidupku”

Peremepuan itu, Gadis Pena Pramudya, datang padamu, dengan Jejak Langkah yang disembunyikan,   ia datang dan menawarkan jutaan  kisah yang membutmu lair berimajinasi. Tapi kau masih terpaku pada kisah Dante, membayangkan seperti apa jika Gemma, mengetahui skandal indah ini.

“Hi, merenung itu bicara dengan diri sendiri, dan itu perlu sebagai lahan instrospeksi diri, anggaplah  aku bagian dari dirmu, cobalah bicara padaku apa yang kau renungi”. Suara gadis itu memecah keterpakuanmu.  Dia kemudian mengajakmu terbang menuju danau kecil sudut kota.

“Sampai kapan kita membohongi diri dengan kehangatan suci ini?”. Kau bertanya sambil memandang kegelapan yang menggandakan dirinya diatas keruhnya air. Gadis itu hanya menatapmu, tanpa kata penuh makna. Dia bertanya balik padamu;
“Bukankah kau telah membakar  kisah Complex Oedipus-nya Freud?”.
Kau pun menjawabnya dengan pertanyaan,
“Tapi kau pernah berkata padaku kalau kau benci pada  Gustave Flaubert yang menulis tentang Emma Bovary, bahkan kau tak mau mendengar saat aku membicarakan Tolstoy, tentang The Creutzer Sonata?”.

Sepertinya Kau dengan Gadis itu larut dalam ruang kontradiksi Hegelian, namun saat yang sama menolak hukum penegasian, kemudian saling merindu dalam Kekosongan ala Deleuze-Guitari,…

“Hi, kau memanggil gadis itu bertanya lagi padanya, “apakah kita harus seperti lukisan abstark tanpa coretan apapun?”.

“saya mengajakmu kesini bukan untuk membicarkan kontradaksi apapun, tapi mengisi kekosongan yang tak lagi memiliki ruang di zaman ini, please, jangan lagi bertanya seperti apakah kita karena realita dan bahasa sangat tidak adil untuk menerima alasanku, bukankah kau pernah mengutip Al Farghani, astronom muslim awal, bahwa tak ada ruang kosong di alam raya, bisakah kita menjadi titik apogium dan perigium-nya yang menjadi lintasan setiap planeter hasrat yang dikekang modernitas?, bukankah kau beigtu senang saat Hawking dan Planck berbicra tentang mistery alam raya?, aku dan segala rasaku masih ingin menjadi  mistery, tidakkah kau akan dan selalu menyuamkan aku kecuali aku bukan lagi mistery?”.

Mendengar itu, mulutmu seperti terperangkap akan ribuan kata. Layaknya sekawanan kambing yang merebut keluar dipintu sempit, akhirnya tak seekorpun yang lolos keluar. Kau hanya menatap gadis dihadapanmu dan mengela nafas panjang hingga gadis itu tertarik oleh desahan yang memang mengingnkan gerak tubuh ala semiolog sebagai penanda kehangatan. tiba-tiba sepasang ikan meloncat ria dalam danau itu, tak tahu seperti apa kemesraan mereka dikedalaman air.

Serpihan air dari sepasang ikan itu membuatmu kaget, dan ternyata gerimis menyentuh kulit tipis tanganmu diatas beranda rumahmu. Kau sedikit membenarkan letak dudukmu biar tidak dihinggapi butiran hujan itu. Disamping tempat dudukmu, sebuah meja, yang diatasnya kau letakan beberpa buah buku sebelumnya. Kau meneguk secangkir kopi yang sudah dingin terkena udara malam, bermaksud tuk sedikit relekasasi denga kadar cafein agar rasa ngantuk jauhi dirimu. Kau terbawa saat mendengar senandung indah dari musisi ternama Iwan Fals, Yang Tercinta, yang dimainkan temanmu yang serumah. Keindahan liriknya membuatmu jeda sesaat sambil mengingat kembali apa yang baru saja kau singgahi.

Kau mengambil Devine Madness disudut meja, sebuah sketsa biografis para sastrawan gila yang banyak mati bunuh diri. Dengan membiarkan jemarimu membuka lembar demi lembar, tiba-tiba muncul Kaffka,  menarik tanganmu masuk dalam sebuah penginapan tuk menyaksikan metamorfhosa yang begitu dramatis akan dunia yang pertunjukan oleh Gregor Samsa..  “tapi jangan seperti aku, yang hanya karena sebuah kekecewaaan, membuatku menjauhi setiap keindahan” sela Kaffka. Dia mengajakmu berjalan menelusuri jalan Boulevard kota Paris yang penuh dengan bangunan klasik bergaya gotik. “bukanakah ini jalan tempt berkumpulnya para pemikir Prancis?” kau bertanya. “iya, tapi kita akan bertemu dengan Pangeran William, bukan pemikir” jawab Kaffka, sambil menunjuk tempat duduk yang sudah ditempat oleh si Pangeran, Danielle De Barbarac dan Leonardo Da Vinci.  

Setelah diperekenalkan, kau sedikit sok jaim, menyembunyikan sikap histerismu saat melihat sang pelukis agung itu. Setelah berkenalan, kau bertanya pada Danielle; “apakah anda tidak menyesal saat buku warisan dari ayahmu dibakar oleh sudari tirimu?”. “aku sangat terpukul ketika buku itu dibakar,  marah karena hanya itu satu-satunya warisan ayah, dan juga karena Thomas More adalah orang yang paling aku kagumi, tapi sisi positifnya adalah Cinderela dengan sepatu kacanya melegenda dimana”. Kemduian dilanjutkan oleh si Pengeran “Thomas More adalah alasan dimana aku tak ingin menjadi Raja gantikan ayahku, dan Thomas More pun adalah sebab aku mendirikan universitas di Kota ini”. Danielle tersenyum indah saat pangeran berkata; “Danielle lah aku begitu memahami arti pentingnya sastra, filsafat dan cinta”. “tapi semua itu tidak terjadi” potong Da Vinci “jika aku tak melukis keindahan sayap Danielle tuk terbang menelusuri kecongkakan bangsawan dan menjemputmu dalam kisah yang penuh ramantis itu, he.he.he”.

Setelah lama berbincang dengan tokoh yang melegenda itu, kau pun disuguhi sebuah teatrikal jalanan yang bertemakan Eternal Sunshine, yang diperankan oleh Kate Winslet dan Jim Carrey. “Oh’’, kau membatin “apa yang dikatakn Jim Carrey adalah kejadian yang benar-benar aku alami”. Kau bertanya pada Da Vinci, “apakah mengagumi setiap keindahan lukisan adalah daya manifestasi yang mengkondisikan rasa?”. “rekanku di Italy, Rafaelo Sanzio, yang melukis semangat para filosof Yunani kuno adalah orang yang mengagumi manifestasi yg dituangkan dalam coretannya, mungkin semuanya ia padukan dalam La Dona Velata, artinya, kau harus bersyukur atas akan diberikan kalbu tuk menyaksikan keindahan yang semuanya adalah berasal dari suatu kesatuaun cahaya, please, jangan biarkan phsyche membawamu pada logika gallery yang mengurung keindahan lukisan-lukisan agang hanya karena keserakahan”. Mendengar jawaban Da Vinci, kau hanya tersenyum pasrah dan memandang ke arah Kaffka, sambil memainakn alis matamu. Kafka menambahkan, “itulah mengapa saya katakan, jangan seperti saya yang jauhi setiap keindahan”.
Ketika sedang asyik bertukar sapa dengan para tokoh itu, kalian dikagentkan dengan sebuah music orchestra, yang dimainkan oleh pianis perempuan muda yang berbakat, Helene Grimaud memainkan piano concreto Beethoven yang mengagumkan, namun saat kau mengerakan kepala mencari sumber music itu, kau mendapatinya dipojok kanan meja beranda dilntai dua rumahmu, sebuah instrument yang kau jadikan sebagai nada panggil ponselmu. Dialah perempaun yang mirip lukisan La Dona Velata, yang setiap hari menyiram bunga-bunga ditaman rumahnya, menelponmu tuk bertanya seperti apa kabarmu. “bunga-bungaku tumbuh subur dihalaman rumah, tapi karena panas selalu dominan, jadi aku harap pembicaraan kita malam ini berakhir dengan solusi gimana caranya agar bunga ku tetap tumbuh subur walau badai matahari selalu menyakiti” Itulah kata-katanya sebelum dia mengucapkan selama tidur padamu.

Rasa kantuk sepertinya mengalahkan efek cafein kopi hitammu, kau beranjak menuruni tangga tuk mengambil segelas air putih biar proses metabolisme tubuh pulsakan istirahatmu. Tapi saat melewati pintu ruang tengah, kau memandang coretan pada whiteboard yang tergantung disamping pintu kamar, coretan yang penuh dengan rumusan ketidaklengkapan matematika Curt Godel, Ketidakpastian kuantum Heisenberg dan kosntatnta Max Planck. Yah, ketidaklengkapan dan ketidakpastian yang mengahantuimu malam ini. Tapi ketika kau beranjak pada rumusan Planck, kau malah teringat dengan kecintaan dan kerinduan pada anaknya yang gugur di medan perang saat membela jerman pada perang dunia pertama. Tanpa sadar matamu bertuankan butiran air mata kerinduan seolah kau menyaksikan kematian tragis itu. Eisntein pun datang meyerumu dengan kalimat yang sama ketika ia ucapakan pada Placnk, “saat-saat seperti ini aku semakin mencintai ilmu pengetahuan, bergegaslah untuk istrahat  dan berilah kesempatan pada alam bawah sadarmu berbicara pada hati terdalam di alam mimpi yang kaya akan imajinasi”.