Minggu, 13 Oktober 2013

Membaca Sisi Lain Siti Nurbaya Karya Marah Rusli (Sebuah Ulasan Singkat)




Membaca sebuah karya (sastra) seperti novel-novel klasik, kita seperti ditarik kedalam ruang masa silam yakni kesan dan persep yang kita alami seolah berada atmosfir dimana teks karya itu terbentuk. Namun dalam perkembangan selanjtnya, kematian pengarang sebagai symbol peperangan pasca-strukutralisme seperti meneror kita untuk bersikap lain, yang boleh dikata, bersikap sinis dihadapan sebuh karya. Dengan kata lain tindakan teror dari kematian pengarang tersebut, sejauh yang saya pahami, adalah semata merupakan tindakan penyelamatan, memberikan ruang independensi diri pembaca, dari terjangan sebuah karya.

Kematian pengarang sebagai upaya penyelamatan pembaca mensyaratkan kita untuk memiliki autonomy semantic sebagai  dasar bagi interpretasi. Interpretasi yang  dimaksud tentunya merupakan produksi makna, dan makna-makna yang kita temukan semata merupakan kemenjadian masa silam dalam konteks kekinian (lihat Deleuze, Guittari). Sebagai suatu kemenjadian masa silam, maka jika dielaborasi lebih jauh, kematian pengarang haruslah dilihat sebagai suatu konsep teoritik— dengan komponen-koponen konsep sebagai penyambungan suatu teritori pemikiran—yang sebenarnya ingin menghidupi atau menyelamtkan bukan saja pembaca melainkan juga sebagai upuya menyelamatkan sang Pengarang. Singkatnya kematian pengarang yang menghidupi sang pengarang pula pembaca.

Seperti pada komentar oleh Maman S. Mahayana, kritikus sastra FIB UI, bahawa pada Cover Novel ini (Siti Nurabaya) “apabila kita membaca kembali Novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli maka sangat boleh jadi kita akan menemukan makna-makna baru. Sesungguhnya karya sastra selalu menjajikan makna baru. Setiap kali kita membaca ulang sebuah karya sastra setiap itu pula makna baru akan sangat mungkin mucul”. Penemuan makan baru dari interpretasi itu akan saya ulas dalam beberapa bagian. Dan kemungkinan pemaknaan ini sangatlah kontras dengan yang banyak dipahami dari kisah Siti Nurbaya.

Dalam tulisan ini, saya tidak hendak menyatukan beberpa teori interpretasi yang dimiliki oleh beberapa kritikus, sehingga proses pemaknaan (determinacy) bukanlah sutau typication seperti yang ditulis oleh Hirsch, pula bukan semata determinan pada kematian pengarang oleh Barthes, atau otonomy Semantic-nya Heidegger, tetapi usaha ini hanya sebuah ikhtiar dari kemungkinan-kemungkian teortik untuk kemudian digunakan sebagai komponen-komponen—sebagai suatu ketidakbisa pisahan—yang membentuk sebuah tataran pemikiran tentang novel ini. Untuk tidak melebar, baiklah kita lansung pada ulasan yang dimaksud memilik beberapa bagian tadi. Dan teori-teori diatas tidak sepenunhnya saya gunakan, hanya saja sebagai pijakan atas asumsi dalam ulasan ini.

 Tentang  Novel Siti Nurbaya

Secara keseluruhan saat membaca Siti Nurbaya, bahwa novel tersebut tidaklah semata pada perjuangan Samsulbahri untuk mendapatkan cinta adidanya, Nurbaya. Tidak pula pada persoalan membayar piutang dengan menikahkan anak gadis, dan lebih penting lagi bukan sebuah cerita dimana Siti Nurbya menjadi korban oleh perjodohan yang dilakukan oleh Sutan Mahmud terhadap anaknya Nurabaya. Tetapi secara keseluruhan merupakan sebuah kritik diskursus kekuasaan berupa budaya dan adat kehidupan bangsawan Padang yang ingin dikritik habis oleh Marah Rusli. (tema sama pula bisa kita temukan dalam Tenggelamnya Kapal Vab Der Wijck, karangan Hamka).

Tema seperti ini seperti menjadi Brand bagi karya Marah Rusli, hal ini bisa kita saksikan melalui Novel terakhirnya, Memang Jodoh, dimana ia begitu kritis melakukan kritik yang pedas terhadap budaya serta tradisi bangsawan minang, yang menyebakan dia menjadi orang terbuang di Negeri orang. Namun dalam Siti Nurbaya yang lebih ditonjolkan lebih pada perihal “kawin paksa” antara Nurbaya dan datuk Meringgi.

Olehnya itu yang menjadi bahasan saya dalam ulasan ini, bukanlah pada keseluruhan struktur cerita, narasi, melainkan hanya pada beberapa kisah saja sebagai respon atas banyaknya ragam interpretasi terhadap novel ini, seperti perjodohan, takdir, kekuasaan (uang) yang tentunya dengan kekompleksan kisah tragis dibalik peristiwa ini. Inilah sisi lain yang hendak saya bicarakan dalam tulisan ini.

Datuk  Meringgih:
Patriot  atau Symbol Kekuasaan Uang?

Datuk meringgih adalah seorang pedagang dengan usia yang tak lagi terbilang muda. Sebagai pedangang, tentulah hubungannya dengan orang-orang sekitar selalu dengan tujuan meningkatkan usahanya. Ia kenal dengan baginda suliaman, ayahanda dari Samsulbahri. Dan lebih akrab pula dengan orang tua Nurbaya, Sutan Mahmud yang juga  memiliki profesi yang sama dengan datuk Meringgih.

Seperti yang tergambar dalam novel tersebut, Datuk Meringgih memiliki umur lebih dari setengah abad, sifatnya kikir, tamak, tiada kasih dan penyanyang seta bengis,, kasar budi pekertinya. Baginya uang adalah segalanya. Tak peduli dari mana datangnya. Dan jika hendak mengeluarkan uang, tangannya begitu keberatan melepaskannya. Dan jika dilepaskan, uang itu dielusnya, dimanjanya seolah berharap akan kembali lagi kepadanya. Uang adalah kesenangan baginya.

Yang digambarkan oleh Marah Rusli, Datuk Meringgih awalnya adalah penjual ikan kering, tapi tak seorangpun tahu apa sebab ia menjadi kaya. Ia dikenal oleh masyarakat minang saat ia telah menjadi kaya raya. Namun ada hal yang misterius dari Datuk Meringgih, dimana dia bukanlah orang minang. Asal usulnya tidak jelas dari mana asalnya ataupn lahirnya. Singkatnya, datuk Meringgi dalam novel ini merupakan tokoh, karakter atau pribadi misterius yang nantinya akan kita lihat hanyalah merupakan pengejewantahan kekuasaan uang yang bisa membeli segalanya.

Diatantara kesekian tokoh, semuanya adalah orang asli minang, hanya Datuk Meringgi yang tak jelas asal usulnya. Kemisteriusan ini menurut hemat saya memiliki beberapa hal yang mungkin ingin dihindari oleh Marah Rusli. Pertama, dari sisi diskurus budaya psikonalitik, nama kebesaran suatu daerah, dalam hal ini Minang, merupakan bagian dari penanda utama dalam membentuk khas jati diri orang minang sendiri. Dalam perspektif  psikoanalitsa Jacques Lacan, penanda Utama merupakan hal sacral, suci tempat subjek melakukan interpelasi dan inkorporasi identitas diri. Keengganan Marah Rusli untuk memberikan identitas datuk Meringgih sebagai orang Minang, dalam artian bahwa walaupun Marah Rusli (pengarang) melakukan kritik terhadap adat bangsawan Minang, namun rasa kemanusiaan atau paling tidak sebagai orang minang masih tetap ia bela, bahwa pribadi datuk Meringgi bukanlah tabiat dari masyarkatnya.

Kedua, hadirnya Datuk Meringgi dalam kisah ini, jika dilihat dari sepak terjang pula sifat dan sikapnya, sosoknya merupakan simbolitas dimana uang dapat membeli segalnya, dan demi uang pula segala cara, tak pandang halal atau haram dapat ditempuh dengan cara apapun termasuk membeli “kebahagiaan”.

Hal ini kita lihat dengan muslihatnya pada ayahanda Nurbaya, dimana ia menyuruh orang-orangnya untuk segera mematikan perniagaan sutan Mahmud. Setelah berhasil Datuk Meringgih tempil seperti Malaikat dengan cara memberi Modal bagi Sutan Mahmud untuk memulai lagi usaha perniagaannya, dan sebagai konsekuensinya Siti Nurbaya harus menerima tawaran memperistri datuk Meringgih akibat pinjaman tak mampu dikembalikan Sutan Mahmud dalam jatuh tempo yang telah disepakati.

Disamping ketidakjelasan asal usul datuk Meringgi, sebagaimana yang telah dibahasakan diatas, selain sebagai simbolitas uang pula ketamakan, dan keengganan sang Pengarang memberi stereotip bagi masyaraktnya (minang), Tetapi ada pula kisah heroic tentang keterlibatan Datuk Meringgih melawan kesewenangan colonial yang telah memberikan suatu pemakanaan lain atas  kisah tersebut seolah hendak menghapuskan kebencian pembaca kepada datuk Meringgih pada lembaran-lembaran awal kisah.

Dari ulasan tersebut diatas dimana uang adalah segalanya bagi Datuk Meringgih, maka pertanyaan yang diajukan oleh Joni Ariadinata, redaktur Majalah Horison, yang termuat dalam sinosis “mengapakah datuk Meringgih digambarkan jahat pada akhir cerita menjadi patriot yang membela tanah air dan kemudian wafat membasahi darah ibu Pertiwi? Siapakah sesungguhnya menjadi pahlawan?”.

Jika kita menghayati kembali karakter Datuk Meringgih, maka ada semacam keraguan untuk meletakan sisi patroitis pada diri Datuk. Lihatlah bagaimana sifatnya, uang adalah segalanya baginya, kikir, tamak dan ia bersika seperti sepasang kekasih yang hendak berpisah jauh dimana salaing menatap, memegang tangan, berpelukan, berciuman dan begitalah sikap Datuk Meringgi jika hendak memberikan uang sebagi gaji bagi para jongosnya. Dari sikap dan karakter inilah maka keterlibatan Datuk Meringgi dalam membela tanah air, mungkin, adalah semata karena ketidaksepakatnya dengan para colonial yang hendak meminta uang belasting (semacam Pajak) kepada pribumi yang pastinya juga mengorek kekayaanya. 

Keterlibatan Datuk Meringgih dalam peperanagan yang diakibatkan oleh perkara uang belasting merupakan kesempatan bagi Samsubahri untuk membalas dendam sakit hatinya pada Datuk sebagai ganjaran atas perbuatannya kepada Sutan Mahmud, lebih-lebih lagi pada kekasih hatinya Siti Nurbaya ( tujuan utama Samsu memilih jalan sebagai opsir barat, colonial hanyalah semata untuk membalas sakit hatinya terhadap Datuk Meringgi).

Pernikahan  Nurbaya: Antara Kekejaman dan Takdir

Setelah gagal membayar hutang yang telah jatuh tempo, maka kecantikan dan kemolekan Nurbayalah yang membuat Datuk Meringgih  memaksa Sutan Mahmud mesti melunasi utangnya dengan cara lain selian uang, menyerahkan Nurbaya menjadi istrinya. Namun keputusan untuk menjadi suami datuk Meringgih oleh Nurbaya, juga merupakan suatu hal yang mesti dikaji lagi lebih dalam, agar kisah ini tidak disalah artikan, seperti kebanyakan, orang sebagai suatu paksaan Sutan Mahmud terhadap Nurbaya untuk menikah dengan Datuk Meringgih.

Seringlah kita mendengar “ini bukan zamannya lagi Siti Nurbaya”, yang seolah telah menjadi akisoma penolakan muda-mudi atas perjodohan paksa yang sering dilakukan orang tua terhadap anaknya. Kalimat inilah yang yang tak sedikit membuat misinterpretasi atas kompleksnya kisah ini yang sebenarnya sama sekali tak ada paksaan dari orang tua, dalam hal ini Sutan Mahmud, terhadap anak semata wayangnya, Nurbaya (mungkin misinterprtasi sebagian akibat kisah ini yang difilm dengan kisah yang agak berbeda, yang turut mempengaruhi pemaknaan atas novel Siti Nurbaya).

Simaklah nasihat Sutan Mahmud terhadap Nurbaya dalam sub-bagian Surat Nurbaya Kepada Samsulbahri,“ Nurbaya, sekali-kali aku tiada berniat hendak memaksa engkau (menjadi suami Datuk Meringgih) jika tak sudi engkau, sudahlah; tak mengapa. Biarlah harta yang masih ada ini hilang ataupun aku masuk penjara sekalipun, asal jangan bertambah pula duka citamu. Pada pikirianku tiadalah akan sampai dipenjarakannya aku; mungkin masih boleh ia dibujuk. Sesungguhnya aku terelebih suka mati dari pada memaksa engkau kawin dengan orang yang tiada kau sukai”. (hal. 137).

Simak pula isi surat yang dikirim Nurbaya kepada Samsulbahri, “aku tahu, Nur, bahwa engkau tak suka dengan datuk Meringgih”, kata ayahku pada malam itu kepadaku. “pertama umurnya telah tua, kedua karena rupanya tak elok, ketiga karena tabiatnya keji. Itulah sebabnya ia bukan jodohmu. Dan aku tahu pula bagaimana hatimu kepada Samsu dan hatinya kepadamu. Akupun tiada lain, melainkan itulah yang kucita-citakan dan kuharapkan siang dan malam, yakin akan melihat engkau duduk bersama dengan samsu kelak, karena ialah jodohmu yang sebanding dengan engkau”. (hal 136). 

Dari kedua kutipan diatas, nyata dan jelaslah bahwa Nurbaya tidak sama sekali dipaksakan oleh Ayahandanya untuk menikah dengan Datuk Meringgih. Tetapi sebesar apapun kebebasan yang diberikan Sutan Mahmud kepada Nurbaya, sebesar itu pula kemudahan bagi datuk memaksa Nurbaya tuk menjadi suaminya.

Dalam kisah yang kompleks dan mengiris pilu ini, terlintas sedikit kebencian pada Nurbaya yang begitu mudahnya menyerahkan hidupnya pada orang yang telah menjahati Ayahandanya. Dan kebencian itu pula lantaran Nurbaya menghianati kesejatian Cintanya Samsu, kepada dirinya. Namun  kebencian ini lambat laun berganti air mata kesedihan bagi pembaca dimana semua intrik busuk Datuk Meringgih dan kepasrahan nurbaya tersebut dianggap takdir, sebagai jalan hidup yang telah tertulis dalam lembaran rencana Ilahi. Ketidakberdayaan Nurbaya, seperti diterangkannya pada Samsu melalui suratnya, serta kehilangan ekal sehatnya saat Datuk hendak menyeret Sutan Mahmud ke Penjara. Inilah klimaks kisah dimana Nurbaya memutuskan menjadi suami Engku Datuk Meringgih. 

Simak pula kutipan ini, tentang solusi Nurbaya kepada Ayahandannya tuk bebas dari jeratan Kekejaman Datuk Meringgih, “tidakkah cukup untuk membayar hutang itu, kalau sekalian barang hamba jual dengan rumah dan tanah ayah? Karena hamba lebih suka miskin  daripada jadi istri datuk Meringgi. Kemudian dijawab oleh Sutan Mahmud “tanah tak laku sebab tak ada orang yang hendak membelinya, dan harga barang-barangmu dan rumah ini tak lebih dari tujuh ribu rupiah, dimana dicari  yang lain dengan bunga uang utang itu? Tapi sudahlah jangankan kau pikirkan lagi perkara ini, senangkanlah hatimu, dan kita tunggulah apa yang akan datang”. (hal 138).  Kita tunggulah apa yang akan datang, adalah suatu kepasrahan Sutan Mahmud yang hendak menerima apa yang kan terjadi, baik dirinya maupun pada Nurbaya.

Pada titik ini, muncullah pertanyaan seperti apakah takdir yang pahami oleh sang pengarang?. Apakah takdir adalah konsepsi teologis yang mengahruskan Nurbaya dan Sutan Mahmud pula Samsu untuk legowo menerima kekejaman yang dilakukan Datuk Meringgih?. Dan memang, sepertinya takdir— yang banyak mendapat kedudukan istimewa dalam novelnya Marah Rulsi yang terakhir, Memang Jodoh—adalah nasib manusia harus menerima apa yang terjadi. Dan jika seperti itu, takdirlah yang mesti di benci lantaran manusia tak kuasa atas dirinya sendiri, (jika berkesempatan saya berniat membahas tema Takdir dalam novel-novel Marah Rusli pada ulasan lainnya).

Mengakhiri Ulasan

Kompleksitas cerita dan kisah yang tragis pula mengharukan dalam novel ini merupakan buah kejeniusan sang Pengarang, Marah Rusli, yang membuat novel ini masih dibaca dan merupkan salah satu dari novel yang paling banyak di gemari oleh penikmat sastra tanah air. Namun semakin banyak dibaca kembali, semakin pula kemungkinan makna baru didapatkan membuat ulasan ataupun kritik terhadap novel ini menjadi hal yang dinamis seiring berjalannya masa.

Tanpa sadar, saat kita membaca novel ini, kita hendak memprotes kepada Marah Rusli bahwa apakah takdir adalah nasib yang sudah ditentukan semenjak lahir?, tidakkah terlalu mudah bagi Nurbaya menyerahkan dirinya kepada Datuk Meringgih? Kemanakah Baginda Sulaiman, tetangga Sutan,  ayahanda Samsu, sebagai hopjaksa, yang  mungkin bisa menelusuru tragedy yang menimpa Sutan Mahmud? Tapi seberapapun pertanyaan penyesalan, justru dari situlah yang membuat kisah ini menjadi legenda dimana novel ini masih selalu apresiasi.

Dari sini saya teringat saat membaca sebuah resepsi sastra terhadap Madame Bovery, sebuah novel dari Gustave Falubert. Seperti kita tahu bahwa Falubert, pernah mendekam di penjara akibat novel tersebut yang dianggap melegalkan perselingkuhan. Dalam menjawab pertanyaan hakim pada waktu itu “mengapa engkau tidak memberikan hukum bagi Emma?, dan Flaubert menjawab “tanyakan saja kepada pembaca apakah ada rasa kebencian pembaca pada Emma saat membaca Madame Bovary, dan ketika ada kebencian maka itulah hukuman yang pantas diterima Emma?. Jawaban itulah yang membuat Flaubert, lolos dari tahanan.

Demikianlah, saat membaca Siti Nurbaya, kita disuguhkan berbagai macam pertanyaan yang mengharuskan kita untuk menjawab sendiri akan hal-hal yang menjadi mistery dalam cerita novel ini. Olehnya itu apa yang saya bahasakan diatas hanyalah determinacy (lihat Hirsch) dari ragamnya Typication, atau pemaknaan yang tentunya memliki banyak kekurangan yang mesti disanggah. Olehnya itu, kritik atas tulisan ini adalah sebuah penantian yang selalu diharapkan. Waullauhalam..  


Selasa, 20 Agustus 2013

“Merdeka” yang Menjajah


Bangsa-bangsa yang paling banyak menyanyi adalah bangsa-bangsa
 yang paling banyak menderita. Ini sudah sepatutnya,
sehingga setiap orang harus mengetahui ini. G. Nushes de Prado

Kutipan diatas saya  dapatkan dari Asrul Sani, saat membaca surat-surat kepercayaannya. Entahlah, apa empunya makna sejati kutipan diatas, tapi ketika mambaca buku ini saya baru saja menerima pesan dari jejaring social oleh seorang kenalan yang mengajakku tuk ikut dalam lomba menulis menyambut hari kemerdekaan Indonesia  sehingga mantik yang aku dapati dari kata “menyanyi” adalah impian dan mitos-mitos terdapat dalam Negara berupa kebebasan, demokrasi,  melawan terorisme, kemajuan, peradaban maju dan slogan kesejahtraan yang tak pernah terhitung jutaannya.

Disini saya tidak perlu lagi untuk mengulangi bahasa-bahasa yang sering kita temukan dalam pesta kemerdekaan. Ada yang mengkritik, merefleksi, merenung akan kemerdekaan bangsa yang hampir mendekati satu abad ini yang tak jua kunjung bebas dari penjara bernama “Medeka”. Kata Merdeka bagi negeri ini sudah seperti menjadi Duri yang menusuk pilu empunya sang Mawar. Merdeka seperti menjadi katalis bagi suburnya demokrasi capital, Merdeka adalah adalah sandi bagi neoliberalisme tuk masuk mengacak-poranda Karunia Tuhan di negeri ini, Merdeka adalah irama melankoli yang membuat pendengar terbawa tidur membiarkan tubuh ini dicabik oleh pemangsa yang haus darah ke-perawan-an. Semakin merdeka dipuisikan semakin ia kehilangan nada puitisnya. Semakin merdeka didengungkan, semakin sengsara kita ditindas bangsa penguasa sendiri. 

Disetiap meomentum tujuh belasan seringlah kita temui ragam acara, tayangan, program untuk merayakan pesta sejarah yang berlumur darah ini. Mulai dari RT, RW, Kecamatan sampai Provinsi tak kunjung reda dengan banyaknya festival. Tetapi acara-acara itu layaknya kuis di stasiun-stasiun TV yang tujuan utama bagi pemirsa hanya hadiah, tetapi bukan pada pendalaman (re)aktualisasi tuk memahami secara eksistensial akan kemerdekaan. Pun lomba menulis yang disarankan teman diatas tak luput dari agenda musiman, dan juga tulisan ini tak terlepas dari rangkaian kritik demikian.

Kemerdekaan telah dipahami sebagai satuan waktu Newton-nian dimana masa lalu telah terlewati tanpa adanya kesinambungan, masa lalu itu telah menjadi penguni galeri-galeri yang menguncimati barang-barang antik sehingga cita-cita kemerdakaan oleh para penggagas bangsa telah menjadi museum tanpa makna. Apa yang dikatakan Foucault tentang sejarah dan dokumen sebagai perjalanan dinamis sebuah bangsa tak berlaku di negeri antah beratah ini. 

Renungkanlah. Berapa banyak masyarakat yang mati kelaparan, berapa banyak masyarakat yang tergusur dari  tanah temapt kelahirannya. Berapa banyak yang tidak menikmati pendidikan. Berapa banyak yang tidak memiliki tempat tinggal (yang layak). Berapa banyak pembungkaman kebebasan oleh penguasa, berapa banyak kekejian yang semena-mena dilakukan oleh aparat keamanan  terhadap masyarakt. Namun sesyahdunya apapun renungan toh apatisme telah meradang merubah diri kita menjadi manusia asing di negeri sendiri, tergusur dari tanah sendiri dan yang lebih menyedihkan apatisme itu telah merubah kita menjadi bangsa tanpa rasa syukur dan berterima kasih pada pendahulu bangsa yang mati dihujung belati. Mungkin kritik Franz Kafka, pantas untuk kita sandang, bahwa manusia modern telah bermetamorfosa menjadi kutu besar. Kutu yang sering membuat gatal empunya sang kepala hingga tercipta luka yang berpengaruh sampai pada isi kepala kita.

Merdeka yang Membodohi
Seperti tertuang dalam Undang-undang Dasar Negara “Mencerdaskan kehidupan bangsa”, entah mencerdaskan seperti apa yang dipahami. Pendidikan dimasa-masa kemerdekaan mungkin lebih ideal dan tertuju pada muasal-maknawiah dimana proses adalah hal yang paling fundamental, sehingga hal yang paling substansial dari pendidikan, seperti yang selalu diteriaki oleh Freire di negeri Samba, sebagai proses pembebasan adalah hal yang paling nyata (lihat Yudi Latif dalam Genealogy Muslim dan Kuasa, dimana peran Guru dalam proses kemerdekaan adalah hal yang sulit disangkal).

Tetapi mencerdeskan kehidupan bangsa dalam dinamika kontemporer sama sekali kehilangan arah. Amburadulnya system penidikan, semakin rendahnya mutu pengajar, arah kebijakan yang tak jelas, ganti menteri ganti kebijakan dan masih banyak lagi kekisruhan dalam jantung pendidikan kita adalah bagian kecil dari simulasi pembodohan Negara atas bangsa sendiri. 

Pendidikan yang semakin mahal dan pembelajaran hanya tertuju pada reproduksi pengetahuan telah membuat anak bangsa ini terkungkung dalam kematian kreativitas. Kebebasan sebagai dictum demokrasi pendidikan adalah aturan yang membuat setiap individu terjerat dalam rule-games yang sejatinya membuat kita sebenarnya tak bebas sedikitpun. Singkatnya, pendidikan kita hari ini adalah tameng yang diberikan Negara untuk selanjutnya menghipnotis bangsa agar tetap diam. Pendidikan kita adalah mantra para hipnoterapis yang mensugestikan kita untuk melihat dunia ini dalam keadaan baik-baik saja. Pendidikan kita adalah kamuflase yang menghalangi pandangan akan kesewenang-wenangan kejahatan neoliberalisme pula kapitalisme yang menjajah bangsa. pendidikan kita adalah proses yang mampu membuat kita menjadi tak sadar bahwa sesungguhnya kita sendirilah adalah penjajah-penjajah baru yang masih pulas diatas kasur populis akal sehat.

Sementara itu, dalam lakon abad akal yang digawangi oleh laju informasi dan komunikasi, bangsa ini seolah bangga dalam ketiadaan ikhtiar tuk menjemput momen dunia atau Negara tanpa batas. Berbagai macam informasi tak terlewatkan dalam sehari, tayangan-tayangan tak bermutu, bacaan-bacaan yang bebas “nilai” dan ragam visualitas lainnya telah mendepak sisi kognisi bangsa entah timur ataupun barat. tawaran gaya hidup yang menggiurkan dari rahim modernitas telah begitu banyak merekonstruksi kognitivitas konsumerisme, gaya hidup dan lainnya telah menjadikan kita menjadi bangsa penikmat tanpa jarak yang mesti diisi dengan nada-nada kritik. Konseksuensinya, kita menjadi tak sadar diri bahwa saat membaca, mendengar radio dan lebih penting lagi menonton tayangan TV sebenarnya kita sedang dijajah, atau sedang menjajah diri dan bangsa sendiri. Inilah alasan bahwa revolusi yang paling penting adalah cara berfikir (lihat Gramsci) dan  bukan pada infra-spura struktur.

Kitalah Penjajah Itu

Pagi dalam aroma 17 agustus yang datar, sempat sebelum Paskibraka mengibarkan merah putih, saya sempat membuka ulang Aku, karya Sumanjaya, sebuah naskah yang bercertira tentang kehidupan Chairil Anwar , saya selalu dalam Tanya apakah masih ada orang-orang yang walaupun secuil mengingat ratusan ribu bahkan jutaan jiwa yang rela mati demi kemerdekaan bangsa? Apakah masih ada para Jendaral, pejabat atau penguasa secara keseluruhan yang setiap hari dalam keresahan seperti dialami oleh Tan Malaka, Syahrir, Hatta atau Sukarno? Apakah masih tersisa para Seniman, Sastrawan yang memiliki syair dan irama pemberontakan atas ketidakadilan sepeti Basuki, affandi, Chairil anwar ataupun Soe Hok gie.

Nampaknya pertanyaan diatas hanyalah coretan mubazir yang hanya merugikan beberapa spasi. Penguasa hari ini adalah para serdadu yang telah membelot menjadi mata-mata kapitalisme pula neoliberalisme yang komandonya hanya mengarahkan rakyat untuk patuh dan setia terhadap segala kesewenang-wenangan. Para ilmuan atau akademikus adalah orang-orang yang telah merubah termilogy “merdeka” sekedar menjadi tanda tak bermakna dalam sejarah. Sementara para sejarawan mengambil alih waktu para fisikawan ataupun filusuf menjadi kepingan waktu yang tak berkesinambungan antara masa lalu, kini dan hari esok sehingga sejarah kemerdekaan yang sangat berharga yang mesti tetap hidup dalam setiap tindakan seolah  berubah menjadi masa lalu yang kelam yang harus dilupakan.

Disisi lain para seniman atau sastrawan kita dalam menciptakan karya hanya menjadikan individualitas sebagai subjek karya tanpa melihat lebih jauh relaitas yang mesti menjadi subjek. Sementara itu kita sebagai rakyat atau individu-individu masyarakat membiarkan diri terlena dalam arus apatisme, membiarkan segala artifak kehidupan modern menghegemoni langkah dan tindakan kita. 

Yah, kita sebagai bagian dari Negara ini adalah wajah-wajah penjajah baru. Wajah beringas yang bertengger diatas jemari modernitas yang menindas nurani bangsa, menindas sendi-sendi kultur bangsa sehingga kita layaknya bintang yang membuang kotoran dikandang sendiri. Kita semua, baik penguasa, politikus, ilmuan, akademikus, seniman, sastrawan di era modern ini adalah akumulator nilai lebih (baca Marx) yang ikut melagengkan kekuasaan penguasa yang selalu menjajah diri dan bangsa sendiri.

“Merdeka” yang Menjajah


Bangsa-bangsa yang paling banyak menyanyi adalah bangsa-bangsa
 yang paling banyak menderita. Ini sudah sepatutnya,
sehingga setiap orang harus mengetahui ini. G. Nushes de Prado

Kutipan diatas saya  dapatkan dari Asrul Sani, saat membaca surat-surat kepercayaannya. Entahlah, apa empunya makna sejati kutipan diatas, tapi ketika mambaca buku ini saya baru saja menerima pesan dari jejaring social oleh seorang kenalan yang mengajakku tuk ikut dalam lomba menulis menyambut hari kemerdekaan Indonesia  sehingga mantik yang aku dapati dari kata “menyanyi” adalah impian dan mitos-mitos terdapat dalam Negara berupa kebebasan, demokrasi,  melawan terorisme, kemajuan, peradaban maju dan slogan kesejahtraan yang tak pernah terhitung jutaannya.

Disini saya tidak perlu lagi untuk mengulangi bahasa-bahasa yang sering kita temukan dalam pesta kemerdekaan. Ada yang mengkritik, merefleksi, merenung akan kemerdekaan bangsa yang hampir mendekati satu abad ini yang tak jua kunjung bebas dari penjara bernama “Medeka”. Kata Merdeka bagi negeri ini sudah seperti menjadi Duri yang menusuk pilu empunya sang Mawar. Merdeka seperti menjadi katalis bagi suburnya demokrasi capital, Merdeka adalah adalah sandi bagi neoliberalisme tuk masuk mengacak-poranda Karunia Tuhan di negeri ini, Merdeka adalah irama melankoli yang membuat pendengar terbawa tidur membiarkan tubuh ini dicabik oleh pemangsa yang haus darah ke-perawan-an. Semakin merdeka dipuisikan semakin ia kehilangan nada puitisnya. Semakin merdeka didengungkan, semakin sengsara kita ditindas bangsa penguasa sendiri. 

Disetiap meomentum tujuh belasan seringlah kita temui ragam acara, tayangan, program untuk merayakan pesta sejarah yang berlumur darah ini. Mulai dari RT, RW, Kecamatan sampai Provinsi tak kunjung reda dengan banyaknya festival. Tetapi acara-acara itu layaknya kuis di stasiun-stasiun TV yang tujuan utama bagi pemirsa hanya hadiah, tetapi bukan pada pendalaman (re)aktualisasi tuk memahami secara eksistensial akan kemerdekaan. Pun lomba menulis yang disarankan teman diatas tak luput dari agenda musiman, dan juga tulisan ini tak terlepas dari rangkaian kritik demikian.

Kemerdekaan telah dipahami sebagai satuan waktu Newton-nian dimana masa lalu telah terlewati tanpa adanya kesinambungan, masa lalu itu telah menjadi penguni galeri-galeri yang menguncimati barang-barang antik sehingga cita-cita kemerdakaan oleh para penggagas bangsa telah menjadi museum tanpa makna. Apa yang dikatakan Foucault tentang sejarah dan dokumen sebagai perjalanan dinamis sebuah bangsa tak berlaku di negeri antah beratah ini. 

Renungkanlah. Berapa banyak masyarakat yang mati kelaparan, berapa banyak masyarakat yang tergusur dari  tanah temapt kelahirannya. Berapa banyak yang tidak menikmati pendidikan. Berapa banyak yang tidak memiliki tempat tinggal (yang layak). Berapa banyak pembungkaman kebebasan oleh penguasa, berapa banyak kekejian yang semena-mena dilakukan oleh aparat keamanan  terhadap masyarakt. Namun sesyahdunya apapun renungan toh apatisme telah meradang merubah diri kita menjadi manusia asing di negeri sendiri, tergusur dari tanah sendiri dan yang lebih menyedihkan apatisme itu telah merubah kita menjadi bangsa tanpa rasa syukur dan berterima kasih pada pendahulu bangsa yang mati dihujung belati. Mungkin kritik Franz Kafka, pantas untuk kita sandang, bahwa manusia modern telah bermetamorfosa menjadi kutu besar. Kutu yang sering membuat gatal empunya sang kepala hingga tercipta luka yang berpengaruh sampai pada isi kepala kita.

Merdeka yang Membodohi
Seperti tertuang dalam Undang-undang Dasar Negara “Mencerdaskan kehidupan bangsa”, entah mencerdaskan seperti apa yang dipahami. Pendidikan dimasa-masa kemerdekaan mungkin lebih ideal dan tertuju pada muasal-maknawiah dimana proses adalah hal yang paling fundamental, sehingga hal yang paling substansial dari pendidikan, seperti yang selalu diteriaki oleh Freire di negeri Samba, sebagai proses pembebasan adalah hal yang paling nyata (lihat Yudi Latif dalam Genealogy Muslim dan Kuasa, dimana peran Guru dalam proses kemerdekaan adalah hal yang sulit disangkal).

Tetapi mencerdeskan kehidupan bangsa dalam dinamika kontemporer sama sekali kehilangan arah. Amburadulnya system penidikan, semakin rendahnya mutu pengajar, arah kebijakan yang tak jelas, ganti menteri ganti kebijakan dan masih banyak lagi kekisruhan dalam jantung pendidikan kita adalah bagian kecil dari simulasi pembodohan Negara atas bangsa sendiri. 

Pendidikan yang semakin mahal dan pembelajaran hanya tertuju pada reproduksi pengetahuan telah membuat anak bangsa ini terkungkung dalam kematian kreativitas. Kebebasan sebagai dictum demokrasi pendidikan adalah aturan yang membuat setiap individu terjerat dalam rule-games yang sejatinya membuat kita sebenarnya tak bebas sedikitpun. Singkatnya, pendidikan kita hari ini adalah tameng yang diberikan Negara untuk selanjutnya menghipnotis bangsa agar tetap diam. Pendidikan kita adalah mantra para hipnoterapis yang mensugestikan kita untuk melihat dunia ini dalam keadaan baik-baik saja. Pendidikan kita adalah kamuflase yang menghalangi pandangan akan kesewenang-wenangan kejahatan neoliberalisme pula kapitalisme yang menjajah bangsa. pendidikan kita adalah proses yang mampu membuat kita menjadi tak sadar bahwa sesungguhnya kita sendirilah adalah penjajah-penjajah baru yang masih pulas diatas kasur populis akal sehat.

Sementara itu, dalam lakon abad akal yang digawangi oleh laju informasi dan komunikasi, bangsa ini seolah bangga dalam ketiadaan ikhtiar tuk menjemput momen dunia atau Negara tanpa batas. Berbagai macam informasi tak terlewatkan dalam sehari, tayangan-tayangan tak bermutu, bacaan-bacaan yang bebas “nilai” dan ragam visualitas lainnya telah mendepak sisi kognisi bangsa entah timur ataupun barat. tawaran gaya hidup yang menggiurkan dari rahim modernitas telah begitu banyak merekonstruksi kognitivitas konsumerisme, gaya hidup dan lainnya telah menjadikan kita menjadi bangsa penikmat tanpa jarak yang mesti diisi dengan nada-nada kritik. Konseksuensinya, kita menjadi tak sadar diri bahwa saat membaca, mendengar radio dan lebih penting lagi menonton tayangan TV sebenarnya kita sedang dijajah, atau sedang menjajah diri dan bangsa sendiri. Inilah alasan bahwa revolusi yang paling penting adalah cara berfikir (lihat Gramsci) dan  bukan pada infra-spura struktur.

Kitalah Penjajah Itu

Pagi dalam aroma 17 agustus yang datar, sempat sebelum Paskibraka mengibarkan merah putih, saya sempat membuka ulang Aku, karya Sumanjaya, sebuah naskah yang bercertira tentang kehidupan Chairil Anwar , saya selalu dalam Tanya apakah masih ada orang-orang yang walaupun secuil mengingat ratusan ribu bahkan jutaan jiwa yang rela mati demi kemerdekaan bangsa? Apakah masih ada para Jendaral, pejabat atau penguasa secara keseluruhan yang setiap hari dalam keresahan seperti dialami oleh Tan Malaka, Syahrir, Hatta atau Sukarno? Apakah masih tersisa para Seniman, Sastrawan yang memiliki syair dan irama pemberontakan atas ketidakadilan sepeti Basuki, affandi, Chairil anwar ataupun Soe Hok gie.

Nampaknya pertanyaan diatas hanyalah coretan mubazir yang hanya merugikan beberapa spasi. Penguasa hari ini adalah para serdadu yang telah membelot menjadi mata-mata kapitalisme pula neoliberalisme yang komandonya hanya mengarahkan rakyat untuk patuh dan setia terhadap segala kesewenang-wenangan. Para ilmuan atau akademikus adalah orang-orang yang telah merubah termilogy “merdeka” sekedar menjadi tanda tak bermakna dalam sejarah. Sementara para sejarawan mengambil alih waktu para fisikawan ataupun filusuf menjadi kepingan waktu yang tak berkesinambungan antara masa lalu, kini dan hari esok sehingga sejarah kemerdekaan yang sangat berharga yang mesti tetap hidup dalam setiap tindakan seolah  berubah menjadi masa lalu yang kelam yang harus dilupakan.

Disisi lain para seniman atau sastrawan kita dalam menciptakan karya hanya menjadikan individualitas sebagai subjek karya tanpa melihat lebih jauh relaitas yang mesti menjadi subjek. Sementara itu kita sebagai rakyat atau individu-individu masyarakat membiarkan diri terlena dalam arus apatisme, membiarkan segala artifak kehidupan modern menghegemoni langkah dan tindakan kita. 

Yah, kita sebagai bagian dari Negara ini adalah wajah-wajah penjajah baru. Wajah beringas yang bertengger diatas jemari modernitas yang menindas nurani bangsa, menindas sendi-sendi kultur bangsa sehingga kita layaknya bintang yang membuang kotoran dikandang sendiri. Kita semua, baik penguasa, politikus, ilmuan, akademikus, seniman, sastrawan di era modern ini adalah akumulator nilai lebih (baca Marx) yang ikut melagengkan kekuasaan penguasa yang selalu menjajah diri dan bangsa sendiri.