Sabtu, 29 Juni 2013

Simfoni VIII


Dan aku masih saja mewartakan pada diri sendiri—
selalu mendengar  melodi yang terrekam dalam pita sanubari.
Lagunya lirih, menghimpit dada, membuat perih
Dan ketika udara menggesek senar-senar kalbu
Jantungku berdegup menjadi penyebab badai samudera
Membuat lubang-lubang dihati menyerupai tangga nada harmonica
Dengarlah…
Saat angin senja memasuki celah di hati
Sesuaraku tak lagi harmonis
Meyerupai seruling yang ditiup dikedalaman laut.

Hari selalu berdendang dalam lagu
Sementara langkahku terbujur kaku tanpa sepetak  jejak
Saat aku mendengar kicauan burung yang menyanyikan sunyi
Pecah tawa menderah cerminku
Memantulkan bayang menjadi sketsa yang menertawai diri sendiri

Sipakah dia mengakar senyum tanpa cermin mengukir nada?
O sang duhai, kesombongan syairku punah saat cerminanku jauhkan Keabadian.

Rabu, 19 Juni 2013

Simfoni VII


Abadi ku….
Warni ku pudar seiring hari berganti-ganti
Riang tiada jelma porandak asa sepi bertepi
Bisu beribu bisu merdang dada betalu-talu
O Malam.. daku nestapa menerpa luka berkali-kali

Rindu mewaktu tanpa lalu mengkalpa rasa padamu
Setiap masa gerangan cinta mewabah sukma
O derita, akulah pemukim bermadikan bening-bening mata
Mendamba senyumnya menusuk sendi-sendi hati
Aku resah pula sakit adalah bahagia mencintai dia
Cintaku ialah ikrar Abadi mengakar
Aku lemah, aku resah tanpa merah meruah wajah

Kini malam turun menggenggam segenap senyummu
Haru ku ialah tangis sedalam hati tak terukur
Sukma merayap senyap mencari-cari jemarimu
O malam.. udara tipismu seolah dia memelukku
Aku berpasrah, membuka dada agar dia menembus belulangku

Warni ku pudar seiring hari berganti-ganti
Tapi Abadi mendiami hati tiada tepi
O derita.. matikanlah aku dalam cintanya sebalum aku mati