Dan aku masih saja mewartakan pada
diri sendiri—
selalu mendengar melodi yang terrekam dalam pita sanubari.
Lagunya lirih, menghimpit dada,
membuat perih
Dan ketika udara menggesek senar-senar
kalbu
Jantungku berdegup menjadi penyebab
badai samudera
Membuat lubang-lubang dihati
menyerupai tangga nada harmonica
Dengarlah…
Saat angin senja memasuki celah di
hati
Sesuaraku tak lagi harmonis
Meyerupai seruling yang ditiup dikedalaman
laut.
Hari selalu berdendang dalam lagu
Sementara langkahku terbujur kaku
tanpa sepetak jejak
Saat aku mendengar kicauan burung
yang menyanyikan sunyi
Pecah tawa menderah cerminku
Memantulkan bayang menjadi sketsa
yang menertawai diri sendiri
Sipakah dia mengakar senyum tanpa
cermin mengukir nada?
O sang duhai, kesombongan syairku
punah saat cerminanku jauhkan Keabadian.