Saat matahari tak lagi menancapkan terik
Bunga-bunga merindukan kehangatan sang kumbang
Disetiap selokan kejernihan berganti merah
Hari-hari mewarni yang lalu ditinggalkan suam
Pecah terlihat tiap gemericik yang memercik
Aku terjebak dalam sebening kaca berair
Lambat laun menetes melebihi seikat selimut
Aku dingin bersama kucing-kucing ku yang kerap bingung memandangi
Hujan menghabisakan tetesan pada ujung lidahmu
Dedauan berhrap senja akan kecupan mulutmu
Tak peduli basah kalahkan merah dipucuk kayu
Semakin terbakar semakin aku dipeluk hujan
Aku terapung diatas susunan-susunan pemabakaran
Jika asap mengasa setiap uap
Hujan semakin beradu dan membakar tubuh ku yang kian mengakar
Aku dipeluk hujan dalam dinginnya samudra
Nampak merah kerap membakar
Nampak merah kian membara
Melingkari setiap kubangan yang mengairi
Tapi Aku masih saja dipeluk hujan
Tanpa hulu
Tanpa hilir
Entah, kemana aku mengalir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar