Minggu, 27 Januari 2013

Memetik Dalam Senja


Pukul lima kemarin masih sama dengan lima hari ini.  Senja masih tetap mewarnai rasa optimistic yang begitu estetik. Jika kemarin senja adalah jingga, pun kini semuanya adalah senja. Segala cakrawala seperti menahan senja, dan memberikan ruang bagi lengkingan matahari menafsir mega menjadi jingga. Namun ritmis kerinduan tengah bermetamorfosa dari getar abadi menjadi riak-riak kebimbangan: meledak ataukah bersosilasi, supernova ataukah hypernova?.

Sepertinya kita tak bisa mengukti jejak Claude Monet dalam kanvas moonlight-nya dan berserah pada hasrat kebinatangan bergaya skeptisme yang pada akhirnya membuat kita tersesat dalam tiris peradaban. Mau pulang tapi takut basah, diberikan payung tapi takut akan badai. Akhirnya kita menjadi tuan dan puan yang sangat dibenci oleh orang-orang yang mati terkapar sejarah kekuasaan.

Mungkin ketika hasil tenun ini dibaca, aku telah berada dalam genggaman patriarkis yang penuh dengan kata benada dogma. Tapi, seperti sebelemunya, aku akan menyeombongkan diri dihadapan orang-orang yang mengkebiri hasratku bahwa aku telah menemukan kebebasan abadi dimana diriku damai didalamnya. Dan jika ditanya akan “siapakah gerangan”?, dialah sunyi, dialah senja, dialah jingga yang buatku abadi dalam sunyuman dan pelukan Keilahian.

Tapi, senar-senar gitarku sedang diterpa kekajaman suara kultura sehingga membuatmu bimbang dalam memilih abadi dalam ke-Aku-anku.  Sampai disini aku buntu dalam mengabstraksikan hasratku menjelma kata. Oh, petang telah menghampiri, satu mentari lagi aku akan kembali—bukan pulang—memuaskan hati sang Papa, dan beberapa punrama kemudian aku akan pulang meminta abadiku yang lagi kau genggam.

Iya, aku akan pulang merampas abadiku. Bukan kepada dosen, bukan kepada Profesor, guru besar yang semakin berubah menjadi penjaga lapas, tapi kepada mu yang telah dan begitu radikal merampas asaku yang kemudian kau Tanami dalam Taman Mawar yang bertempat di Gunug Jiwa. Iya, lupakanlah Freud, aku akan pulang mengajakmu menikamati mawar yang dijaga oleh Umberto Eco, aku akan pulang mengajakmu ke Gunung Jiwa dimana Nietzche mencipta Zarathustra.

Hujanku telah membasahi tubuhmu, hujanku telah membasahi pipimu, hujanku telah membasahi mulutmu yang berubah menjadi Kata-kata dimana dirimu aku temukan. Aku akan pulang mengubah setetes air hujan itu yang menjadi Hypatia, mejadi Gayatri, menjadi Ikbal, Menjadi Syariati, menjadi Zarathustra. Menjadi dalam Kemenjadian Abadi. Iya, aku bakal menjadi Hasanuddin ataupun Arupalaka, dengan diksi melebihi sastra I Lagaligo. Abadi, abadi dan abadi. Itulah yang ku abdikan.

Memetikmu Dalam Senja

Jumat, 25 Januari 2013

Memetikmu


Carpe diem. Ini  adalah kata dari penggalan puisi karya Quintus Horatius Flaccus, atau biasa disebut Horace, seorang sastrawan italia—dalam  bahasa latin yang berbunyi Carpe diem, quam minimum credula postero "petiklah hari dan percayalah sedikit mungkin akan hari esok”—yang  sering kita jadikan sebagai akhir dari pesan pesan singkat. Aku percya bahwa hari ini adalah sebuah totalitas waktu dimana masa lalu dan masa depan beradu didalamnya.

Petiklah hari. Aku merasa seperti hidupku bakalan berakhir, sehingga pinta yang memancar dari surya sang jiwa adalah mengakhiri masa-masa akhir bersama ruang-ruang sunyi dimana Aku dan Aku-mu satu didalamnya. Dan saat itu pula aku semakin membenci complex oedipus-nya Sigmund Freud, yang mencoba mengarahkan hasratku mengikuti lajur orang-orang normal yang selalu berpasrah pada keadaan-keadaan dalam tampilan permukaan tanpa menghargai hasrat terdalam yang sesungghnya sangat menyiksa.

Iya, carpe diem pun adalah kata yang memecah kebuntuanku akhir-akhir ini dalam menulis. Entah, apakah itu karena keyakinanku akan kata-kata ku Kenikmatan menulisku memuncak saat tak ada lagi keinginan tuk menulis. Aku kehabisan kata dalam kedalaman makna”. Atukah karena beberapa hari kemarin aku dihujani kritik dari seorang teman bahwa “tulisan-tulisan anda 60 % mengalami perubahan, diksi dan metaforik-simbolik kemudian menjadikan waktu sebagai titik-titik kreatif yang selalu menjadi plot anda berubah menjadi tema-tema yang agak mirip Gibran-nian-personality”. Dari sini aku teringat dengan Iwan Fals, dalam sebuah wawancara disebuah TV swasta “saya tidak pernah memilih genre musik, begitupun juga saya tidak pernah memilih sebuah genre sastra akan dimana dan seperti apa saya harus menulis. Tidak, karena itu hanya akan membatasi keliaran imajinasi mengolah diksi ataupun plot. saya hanya menulis mengikuti dan mencipta (produksi) bentuk atau gaya penulisanku, bukan yang lain, kebetulan saja temaku akhir-kahir ini agak personal.

***

Iya, personality. Aku hanya mengahayati kisah dramatis seorang “petualang pembaca”  yang aku dapati dari cerita klasik Italy Calvino yang tak pernkah melepas “kata-kata” sebagai instrumen saling rindu. Kemudian memandang Sartre, yang menemukan dirinya dalam kata-kata. Oh, tulisanku berubah dari menyisir sunyi menjadi wajah meminta abadi; dalam sunyi, hening, dalam-dalam sedalam rasa ku padamu.

Jika ada yang melihat gaya penulisanku berubah, mungkin pada saat itu saya telah berubah menjadi orang gila, atau pengidap delusi yang menciptakan dunia semantik hanya tuk satu alasan; sebagai penenun dengan motif penuh ekspresionis pula romantik yang merindu hidup abadi. Adalah alasan menulis dimana Abadi adalah doa. Dan dalam keadaan yang tidak begitu stabil, hujan menjadi penenang, sehingga jika memperhatikan secara seksama mataku seperti sedang beradu dalam rinai gemericik hujan. 

Kini mau tidak mau, suka atau tidak, jalanku telah terbuka lebar untuk memilih kemungkinan hidup dalam ketakwajaran. Namun ketakwajaran ini adalah sebuah pilihan yang mungkin dibenci banyak orang-orang modern yang gampang menjustifikasi benar dan salah tanpa mau tenggelam dalam arus kehidupan bawah sadar yang selalu disingkirkan. Ketakwajaran ku adalah sebuah tragedy dimana keindahan puisi berawal. Ketakwajaran ku adalah riakan-riakan membahana, dan ketika didera badai kerinduan, riakan itu berubah menjadi gelombang samudera yang bisa memusnahkan apapun. 

Aku percaya kalau dalam sedetik pasti ada gemintang di angkasa yang mengakhiri hidupnya dalam pusaran supernova, sementara tulisan ini adalah symptom inflasi semesta yang mencari ruang-ruang kemungkinan bagi jiwaku-jiwamu yang jarang terdengar dalam detak kehidupan.

Seperti yang terucap saat danau menjadi lampiasan kecamuk rasa, “kenapa kau begitu jahat membutuhkanku saat kau telah dibutuhkan orang lain?”. Sebuah pertanyaan yang hanya bisa aku jawab dengan desah nafas panjang. Saat itu aku tak sanggup memandangmu, hanya tetesan air mata mu yang jatuh ke danau membuatku seperti ingin hanyut dalam tetesan yang menggelombang itu. Sayang, saat ini tak satupun solusi yang bisa mengobati getaran jiwaku. Aku begitu tersiksa menjalani hidup dimana rasa cinta, kasih sayangku tidak berada disana. Aku pernah berkata buat orang-orang terdekatku “janganlah menjadi teman yang menyakiti dengan cara memberikan soslusi yang selalu berakhir dengan yang realistis saja”. aku selalu bertanya cara bagaimana tuk keluar dari rantai penindasan ini dengan jawaban yang selalu aku paksakan kalau aku memang ingin abadi bersamamu dalam sunyi. Itulah jawaban yang aku inginkan.

Dengan rasa bersalah, aku ingin merubah Horace: petiklah hari. Iya, aku ingin merubahnya menjadi memetikmu seperti pesan singkatku. Tapi aku sadar, kalau memetikmu dari ranting kehidupan pasti membuatmu layu menjalani hidup. Aku hanya ingin mekarmu adalah tarian jingga dimana aku adalah music kosmik yang mengalun menyeimbangi gerak semesta, dan dengan demikian petiklah hari kan berubah menjadi memetik dawai yang membuat kita seirama dalam tarian semesta.

Hingga kini aku masih belum terlalu percaya pada kisahku yang begitu dramatis. Dengan begitu  singkat aku mencintaimu begitu dalam, dan tidaklah adil jika berakhir dengan alasan pesimistik. Iya, aku tak ingin waktu yang singkat berakhir pula dalam sekejap. Sekal lagi, aku selalu berkata kalau Freud, dengan kompleks oedipusnya paling aku benci. Freud lah yang membuat kita kadang pesismis akan saat yang kita agungkan, Abadi. Tapi, kau telah menjongkan kepala saat kisah itu kuceritakan sebagai tanda kalau kita akan bersama mencari warna berbeda untuk  diselipkan pada hidup yang terlalu monoton ini. Aku abadi bersamamu 1000 X.

To be continued…

Selasa, 15 Januari 2013

Dalam sunyi itu Aku, Aku-mu benar-benar Ada


Pukul lima (17:00). Semenjak hati kecilku bercita-cita memilih penulis sebagai duniaku, pukul lima-sore lah yang sering menawari ruang-ruang kontemplatif-imajinatif. Pukul lima bisa membawaku kembali menelusuri titik-titik kreatif yang menjelma puisi, fiksi, non fiksi. Pukul lima pula yang memanjakan jariku tuk membelai setiap helai rambutmu menjadi senar-senar dawai yang mengiringi suara menjadi kata, kata menjadi sabda: sabda langit, saubda hujan, sabda hening. Semuanya mengukir sunyi, membelah hasrat kebintangan, membuka pintu-pintu cakrawala, hingga pukul lima mencipta diksi dalam sunyi, nurani dalam diksi. Pukul Lima aku, kamu benar-benar ada dalam sunyi.

Entah, dan memang benar kata sang punjangga Confusius, bahwa kesunyian adalah teman sejati yang tak pernah berbohong. Karena darisana segala balok keheningan menjelma sayup, terdengar hanyalah ritmis udara tipis yang memanjakan selaput telinga, dan ketika wajahmu adalah intensionalitas rasa, sunyipun semakin warni menampakan getara nadi. Semakin nadi bergetar, semakin kata menjadi musnah, berantakan. yang ada hanyalah sejenis pinta akan rindu dalam sunyi. Menatap wajah mu adalah alasan akan kata yang tak lagi berarti.

Dalam hidup, aku selalu percaya akan hal-hal  misaterius yang selalu membuat hidup menjadi berarti. Keberartian hidup bukan karena kegampangan meraih sesuatu, tetapi lebih pada upaya terus menerus dalam menyikapi ketersembunyian. Saya jadi ingat kata-kata Kak Alwi Rachman, bahwa yang penting dalam sastra terdapat dalam komunikasi simbolik. Mungkin pandangan inilah yang sudah sekian lama  aku pegang, yang secara tidak lansung membuatku memilih simbolik sebagai jalan ucap. Ataukah memang karena aku begitu senang dengan formalis rusia? Yang karena sastranya berpengaruh besar pada revolusi Bolshevik?

Kini pukul lima berganti fajar. Surau mengetarkan nadi semesta dengan suara-suara azan, siapapun yang tidak tergerak hatinya pasti melewati kemerduan itu. ibadah lebih indah daripada tidur. Aku pun menerobos sunyi dalam riaknya embun fazar, mencoba memahami seperti apa Aku didalamnya. Tapi senar dawai dari helaian rambutmu itu masih terngiang dalam kemerduan subuh. Oh, aku jadi dosa saat nama mu aku sebut sebelum Tuhan aku sapa.

Apakah itu adalah ketakutan? Tidak. Aku hanya takut menggunakan bahasa-bahasa harian yang sering digunakan oleh sepasang kekasih. Bahasa yang membuat cinta yang begitu berharga berubah menjadi barang murahan. Tidak, aku tidak mau memahamimu, merasakanmu, meyakinkanmu dengan kata-kata laris manis tak berharga itu. Aku sering mendengarnya, kata seperti “aku membutuhkanmu, aku mencintaimu, aku merinduimu”. Itulah kata-kata murahan yang laris dalam abad penuh gombali ini. aku jadi ingat juga kata temanku bahwa hidup modern bukan lagi dikenal sebagai globalisasi, melainkan gombal-sasi. Itulah yang aku takuti.

Mungkin semenjak masih kecil, aku selalu berada dalam lingkup kaum-kaum hawa. Semua keluargaku adalah Hawa, akupun di didik dalam atmosfer Hawa. Sehingga sikapku kadang lebih mistery dari dari apa yang dikatakan Hawking “bahwa perempuan adalah makhluk yang paling misterius”. Tapi, beberapa hari kemarin ada sedikit keberanian tuk mencuri ruang keberanian Adam, ruang dimana aku bisa memanjakan, membelai, melayani, mengusap dan berbicara padamu bahwa kalau dalam sunyi aku benar-benar Ada, sehingga akibat Kasih Sayang Tuhan, Dia pun mencipta sosok mistery, bukan dari tulang rusuk-ku tetapi dari kata-kata yang dia (misteri itu) tulis dalam buku kehidupannya. Kini aku benar-benar sunyi dimana dirimu adalah kemerduan harpa yang heningkan rasa.

Tapi jika ketakutanku untuk membelah sunyi menjadi hal yang kurang menyenangkan, bisakah kau adalah Adam, dimana Tuhan mengajarkannya nama-nama benda?. Sebutlah padaku nama-nama itu.

***

Pukul 5 sore kemarin, setelah melewati beberapa halaman bersama Walter Isaacson, yang berbicara tentang Einstein, aku sedikit penasaran untuk melihat kembali bagaimana hubungan antara fisika modern dengan mistisime timur, Fritjof Capra, dalam the Tao Of Physics. Aku sempat diam beberapa saat ketika membaca kutipan-kutipan Upanishad;

Maka kebahagiaan adalah sama dengan kekosongan
Kekosongan sama dengan kebahagiaan …

Keheningan, biarkan orang memujannya
Karena dari sana ia terlahir
Karena kesana ia melebur
Karena di sana ia bernafas.

Bukan suatu kebetulan jika pukul lima bagiku adalah senja penuh ruang kontemplatif-imajinatif, sementara pukul lima bagimu adalah saat untuk jeda dari keseharian kerjamu. Bukan kebetulan juga jika ruang imajinatifku dipukul lima menjadi bahasa dan kata penuh makna yang menawarimu sejuta cerita yang bisa sembuhkan kelesuanmu dipukul lima damana kau harus jeda dalam kerja.  Kaulah keheningan, kekosongan yang kutemui dalam sunyi.


Minggu, 13 Januari 2013

Love paradox II


Aku mencintai Cinta yang tertutup tirai
Aku tak mencintaimu jika aku pun dibalik tirai.
Dibalik tirai
Tetaplah membuka mistery mu
   Maka kaupun selalu tertutup

Aku mencintaimu jika cinta tak jua kau ucap
Aku tak mencintai ketika cinta terucap
Aku akan mencintaimu, selalu
   Kecuali kau bukan lagi mistrey
Tetaplah diam
Jangan berkata apapun
   Maka aku kan salalu mencintaimu

Cintaku laksana mendung bagi orang kedingianan
   Mengharap matahari singgahi bumi
Cintaku laksan salju
  Bagi orang yang membakar suam dari bongkahan es

Cintak  ku membenci kata cinta
   Pula rindu
Cinta ku mencintai tanpa apapun
Kasong yang penuh berisi
Iya …
Cinta ku Kosong
Namun tak pernah kosong Cinta ku.

Jika asinnya laut masih kau harap
Janganlah mengakatakan cinta padaku
Yang hanya membuat kebiruan menjadi dangkal
    tawar.