Sabtu, 29 Desember 2012

CHAOS DAN PARADOX ROMANTIKA-KEMATIAN PENGARANG (Refleksi Tematik, Komunitas Lego-Lego)



Apakah Kitaro yang bersalah  jika ada yang mati bunuh diri di Jepang saat terbawa gesekan violaya?
Apakah Elise yang harus disalahkan ketika menolak Beethoven hingga menyabkan musisi itu kehilangan pendengaranny?
Apakah Neruda yang harus disalahkan ketika terjadi bunuh diri masal diatas puisi-puisinya?
Apakah kita mesti menyalahkan Goethe yang karena novelnya The sorrows of young Werther yang menyebabkan lebih dari 2000 pemuda Eropa bunuh diri dengan cara sama dalam novel?
Tidak, kita yang bersalah karena masih saja menghidupakan para musisi dan penyair.
Ooh, text... kau begitu liar dengan ketajaman semantikmu, hingga ketika aku mendengar kata “jadi, maka Jadilah”

Apakah bisa kita berfikir tentang “surga” jika sedang membaca sebuah kalimat yang menggambarkan tentang adegan seksualitas dari sepasang kekasih?. Jika pertanyaan ini kita tanyakan bagi orang-orang yang tidak terlalu memahami metaphor, mungkin ia akan menjawab tidak, yang aku pikirkan adalah sebuah fantasi tentang nikmatnya hubungan itu. Ada juga mungkin menjawab—menggunakan methapor— yang aku pikirkan adalah dunia sebagai surge kehidupan. Bisa juga kita temukan jawaban  “iya saya berfikir tentang “surga” kenikmatan dalam hubungan seks, juga jawaban “iya saya befikir tentang “surga” yang tak bisa aku gapai jika melakukan hubungan seks yang tidak dianjurkan agama”. Itulah  pemakanaan yang mau tidak mau kita harus berhadapan dengan beragam jenis interpretasi sebagai konsekuensi semantic kebahasaan. Dan akibat permainan rantai sintagma-paradigmatik kita bisa saja menghubungkan kata—dari sisi pemaknaan—“kelaparan” dengan senyuman  tak bahagia.

Catatan ini lebih kepada refeleksi tematik atas diskusi yang difasilitasi oleh komunitas Lego-lego bertemakan Probelmatika perempuan dalam sastra, yang dalam diskusinya lebih pada pembahasan tentang term-term seksualitas yang berasal dari penulis perempuan dan perempuan penenulis.
Jika setetes hujan jatuh di sabang, maka akan membajiri seluruh Indonesia bahkan dunia. Seperti itulah mungkin makna the Butterfly effect. Tapi disini saya tidak berbicara tentang cosmology dimana teory ini bermaksud, melainkan terputusnya rantai asosiasi kebahasaan sebagai kritik bagi para penulis maupun kritikus sasta. Interpretasi  atas sebuah karya tidak terlepas dari kompetensi otonomy semantic  pembaca, dan kita pun tidak bisa memasuki wilayah geist penulis saat sedang melakukan penulisan. Konsekuensinya jika karya terlepas dari pengarang dan sampai ditangan pembaca maka karya tersebut akan menjadi liar.

Keterputusan rantai asosiasi tidak dipahami sebagai ketiadaan defferance (makna warna merah karna dia bukan putih), melainkan keterputusan rantai simbolik, miskin metaphor, majaz dan lain sebagainya sebagai imbas atas pemaknaan terhadap sebuah karya, yang dalam hal ini lebih pada karya yang bertemakan seksualitas maupun perselingkuhan. Seksualitas, memang, adalah hal yang tabu dalam masyarakat. Tetapi kita tidak mesti memenjarakan ujaran dalam masyarakat untuk membicarakan atau menuliskannya. Banyak novel yang bertemakan seksualitas dengan menggunakan bahasa-bahasa “telanjang” dan diksi yang penuh dengan daya erotic. Kemudian tak sedikit mengundang controversial saat samai ke tangan khalayak.  Dan kondisi ini adalah hal lumrah, apalagi dalam masyarakat kita yang masih—atau sudah hilang—budaya ketimuran.

Dalam hal interpretasi, budaya kebersastraan kita kalau boleh dikata masih sangat minim. Budaya baca, menghargai seni, artifak budaya yang tidak mendapatkan iklim positif di negeri ini adalah kendala utama bagi sastra untuk hidup dalam nuansa simbolik, puitik mapun metaforik. Lebih disayangkan lagi jika simbolik dan metaforik tadi tak lagi menjadi gaya bahasa sastra bagi para penulis yang seharusnya membuat pembaca merasa terasing, dan, atau dalam pengertian Eagleton, membuat makna menjadi tertunda. Tetapi dalam karya-karya yang banyak membicarakn tentang seksualitas sedikit bahkan jarang untuk kita temukan diksi tentang sebuah adegan hot dengan bahasa-bahasa simbolik, metaforik dan puitik melainkan mengunakan kata-kata yang petanda-penandanya mengarahkan pembaca pada pemaknaan kehadiran penuh (baca Saussure).

Tema  seksualitas adalah pilihan penulis, namuk tak bisa kita pungkiri adalah struktur kognitiv masyarakat yang selalu berhadapan dengan informasi-informasi yang berbau seksualitas yang secara tidak lansung membentuk sebuah habitus pemaknaan, sehingga kata “bersetubuh” selalu bermakna sekutu biologis, dan jarang dipahami sebagai sebuah gambaran metaforik (misalanya, Aku sementara menyetubuhi buku-buku ku). Kita tidak mesti menyalahkan pembaca tuk menginterpretasikan sebuah karya yang hanya pada urusan kelamin semata, tidak harus juga menyalahkan penulis.. melainkan lebih pada kritik tentang pemilihan diksi oleh penulis.

Misalnya dalam comedian, inti dari pertunjukan sebuah komedia adalah membuat penikmat bisa tersenyum bahagia, tetapi dalam kreativitas pemilihan cerita tidak semua dengan bahasa verbal juga isyrata tubuh. Kita lihat misalnya Mr. Bean, lagaknya selalu mengundang tawa tanpa ada bahasa verbal, selain mimic wajah dan isyarat tubuh. Dalam hal ini, substansi sebuah karya sastra adalah mendeformasi, mendefamiliar (baca formalism Rusia) struktur bahasa ujuran sehari-hari kemudian membuat struktrur bahasa simbolik, metaforik sebagi diksi dalam menggambarkan sebuah carita. Hemat saya substansi sastra adalah terletak pada komunikasi simbolik yang membuat tatanan dunia sehari-hari menjadi terasing pula indah ditangan pembaca.

Jika kita mendengar sebuah kalimat, misalnya “kematian” maka secara bersamaan seluruh kosa kata bahasa Indonesia akan bergerak menunggu resopon asosiasi kebahasaan, sehingga kata kematian bisa bermakna Kehidupan, kecelakaan, cinta sejati, keabadian dan seterusnya.  Makna bukanlah ibarat pantulan citra atau image dihadapan sebuah cermin, tapi ia selalu berterbaran disegala ruang yang turut memberi citraan dalam cermin. Kita tak punya kuasa untuk membendung makna dalam sebuah kehadiran khusus (baca petanda-penanda), tetapi kehadiran makna itu selalu memiliki rantai asosiasi yang sampai diamana pun tetap melibatakan segala aspek kebahasaan.

Memang Proses pemaknaan tidak bisa terlepas, seperti kata Luna Vidya, dari lingkaran—saya lebih suka menyebutnya Geist—dari mana kita berasal. Tetapi merupakan suatu hal ironis pula jika pembaca diarahkan untuk memahami geist atau lingkaran sang pengarang tadi. Disnilah letak keambiguitas Luna Vidya, juga Gegge Mappangewa yang disatu sisi mengatakan era pembaca yang menentukan, disisi lain mencoba membawa kita pada lingkaran pengarang. 

Tulisalah pengalaman seksualitas anda dengan kata yang memiliki ketertundaan makna ketimbang kata-kata vulgar yang bisa membuat pengalaman tak seindah rembulan menyetubuhi malam.

Senin, 24 Desember 2012

Tersesat Diantara Hasrat Freud-ian Dan Ego Kesejatian


Aku sering membaca kisah para orang-orang yang dituduh gila, membaca bagaimana mereka menjalani hidup dengan pilihan-pilihan yang sangat kontradiktif. Baik dalam kehidupan berrumah tangga, persahabatan, hubungan asmara dengan kekasih, persoalah study, dan sampai pada keliaran imajinasi mereka, semuanya aku resapi menjadi pengalaman terindah seolah-olah aku sedang menyaksikan kejadian-kejadian itu dihadapan mata batinku. Apakah aku sementara terlibat dalam simulakra-simulakrum Bourdilard?

Mungkin benar yang dikatakan banyak banyak orang kalau karya sastra, secara psikologis bisa menjadi metode ampuh dalam perubahan karakter individu. Baik itu perubahan kearah kearifan kultur maupun dalam bentuk imoralitas yang kontradiktif atau vis a vis dengan para populis akal sehat yang memandang hidup sebatas sureface convention tanpa peduli pada hasrat yang kadang membuat kegilaan mendapat stigma negativ. kehidupanpun selalu dimenangkan oleh habitus populer dimana invasi kognitiv yang dilepaskan oleh senjata pemusnah kreativitas yang bernama instan-nisasi telah meluluhlantahkan paradigma masyarakat dari kreativitas menjadi sekedar penikmat, pemakai dan pengguna dalam ruang usang yang bernama konsumerisme.

Dari sini ada sebuah ironi yang berkembang dalam paradigma masyarakat, jika ada suatu problem yang diselesaikan atau minimal dibicarakan—terkait dengan solusi—dengan cara yang mungkin berbeda, pasti  saja akan mendapat stigma negativ. Kiri, Kanan, marxis, nasionalis, sosialis, postmo dan lain sebagainya adalah jebakan skriptualis yang selalu membuka gaungya pada kekakuan interpretasi. Aku teringat kata-kata Sartre “aku bukanlah tokoh eksistensialis”, atau seperti stigma sebagai pemberontak yang didapatkan Marcos Commandante--saat menulis ini aku sedang memandang cover buku Bayang Tak Berwajah—dalam melawan imprealisme amerika di Meksiko. Dan dalam pergaulan pun sebagian dari kita memilih kawan yang mesti searah dengan ideology atau pandangan hidup. Ideology menghadirkn dirinya layknya kultulr prancis klasik yang memberikan warna pink bagi perempuan dan biru bagi laki-laki semenjak bayi, dan kini dimanapun ada kehidupan disana telah ada pilihan yang sebenarnya tak memberikan kesempatan bagi kita untuk memilih apapun.

Ketakutan akan dosa pada Doxa

Inilah zaman yang selalu tampil dengan bahasa-bahasa dan resonansi kata bernada dogma, kemudian kenyamanan hidup yang selalu saja bermandikan semiosis beraroma, dan khas mimetic dari negeri kayangan bernama sinetron, novel popular, kearifan ala Mario teguh dan kekauan akan memahami teks yang membebaskan telah menciptakan sebuah doxa tanpa filosofi yang kemudian diajarkan di kampus-kampus sebagai kitab suci yang menawari surga dengan harga begitu murah.

Entah, apakah kita sementara terbelenggu atau ketakutan akan terulang kembali kisah Galileo dalam melanjutkan revolusi copernikan yang kemudian dihukum mati oleh gereja? Atau akibat permainan rantai sintagmatik sehingga saat yang bersamaan para guru besar, Profesor, dosen dan lingkungan dalam balutan modernitas kita anggap sebagai para inkuisitor  romawi yang siap mambakar hidup-hidup mereka yang dianggap bid’ah, ataukah kita memang sementara berada dalam iklim victorian hingga  kata-kata haruslah melalui neraca ujaraan yang selalu mengalahkan kata bernada sarkatic, cacian, marah dan kritik?
Kini harga diri kemanusiaan tidak lagi diukur pada sejauh mana penghayatan kita terhadap nilai-nilai manusiawi, tak lagi diukur dari bagaimana hubungan kita dengan alam, sejarah yang tak lagi mempertontonkan adegan kemesraan. Kita begitu puas, bangga dengan hal-hal yang sifatnya paradox, mengukur harga diri dari sejauhmana kelima panca indra ini ditambahkan dengan perangkata-perangkat kekayaan. harga diri yang diukur dari seberapa banyak modal, seberapa rumah mewah, mobil kendaraan dan semawah apa restoran yang sering kita gunakan tuk sekedar mengenyangkan perut yang tak lagi suci ini.

Sementara itu kecerdasan tak lagi dilihat pada sejauhmana cara atau pendekatan dalam menyelasikan sebuah problem.  Tetapi selalu saja diukur dengan sejauhmana penguasaan kita dalam menguasi teori, metode, kosnep dari orang-orang yang telah berubah menjadi arwah begentayangan yang setiap saat menghantui pikiran kita. Aku jadi ingat dengan sebuah dialog antara John dan Sylivia dalam vovelnya Robert. M. Pirsig, "Laws of nature are human inventions, like ghosts. Laws of logic, of mathematics are also human inventions, like ghosts. The whole blessed thing is a human invention, including the idea that it isn’t a human invention. The world has no existence whatsoever outside the human imagination. It’s all a ghost, and in antiquity was so recognized as a ghost, the whole blessed world we live in. It’s run by ghosts. We see what we see because these ghosts show it to us, ghosts of Moses and Christ and the Buddha, and Plato, and Descartes, and Rousseau and Jefferson and Lincoln, on and on and on. Isaac Newton is a very good ghost. One of the best. Your common sense is nothing more than the voices of thousands and thousands of these ghosts from the past. Ghosts and more ghosts. Ghosts trying to find their place among the living."

Budaya dan tradisi kehidupan sebagai landasan pijak telah  bermetamorfosa dari nuansa indah multilateral menjadi unilateral. Kehadiran seni, sastra, musik, fashion, food, fun dan budaya pop yang beraroma doktrin dengan cara memainkan wilayah ketaksadaran (baca Jung) telah menjadi habitus dan secara lansung menciptakn praktik (baca Bourdieu) dalam arena bernama modernitas yang tak sedikit megkontstruksi sisi kognisi hingga membuat manusia menjadi bintang seperti dalam metamorfosa-nya Kafka. Aku teringat kembali kata-kata seorang novelis, pustakawan pula filsuf asal Prancis Georges Battaile “Dunia tak lebih dari sebuah parodi,  segala sesuatu yang tampak adalah sesuatu yang lain atau parode yang sama dalam sesuatu yang menyimpang”.

Diatas semua itu, implikasi yang kita terima adalah sejenis kepatuahan  buta yang membuat Guru besar, Profesor, Imam, Pendeta, Ulama, selebrity menjadi bagian dari sistem kekuasaan (Baca Faucault) bertaring besi yang kata-katanya disucikan melibihi Kesucian Sabda-sabda. Lagi-lagi aku teringat dengan Susan Sontag “ Seni di zaman kita hiruk-pikuk dengan himbauan untuk diam”.

Mempertimbangkan Freud

Dalam parodi yang memutilasi kejantanan kreatifitas, mungkin saja Sigmund Freud-lah yang sementara menari dalam nirwana penuh dengan lingkaran bidadari-bidadari bertubuh seksis, kemudian Lacan mungkin juga sementara memeluk erat mantan isteri Bataille dalam kubangan hasrat yang dijadikan sebagai pangkal segala aktivitas. Upaya Freud dalam menghidupkan kembali Oedipus dari kerangkang mitos yunani klasik seolah berbuah manis: hampir disetiap pandangan selalu terlihat bagaimana si oedipus selalu hadir sebagai penggoda yang bisa membuat kita sebagai penikmat pasif sembari menunggu puncak orgasme dari tayangan tanpa busana yang sesungguhnya tak mungkin mencapai klimaks. Aku sempat berfikir—dan mungkin punya kebenaran—kalau perdebatan antara Freud dan Jung bukan pada landasan konsepsionlitas, tetapi sisi intensionalitasnya lebih pada perebuatan akan seorang gadis, Sabna, pasien dari freud, sehingga teori yang muncul adalah bagaimana upaya untuk mendapat simpatik dari objek perdebatan itu.

Apa yang dikatakan Sontag, tentang himbauan untuk diam dari seni senantiasa mendapat ikrar masyarakat, yang secara sukarela ataupun terpakasa dalam sumpah prinsip realitas Freud, dan secara bersamaan melakukan pengakuan dosa akan ketidakterlibatan dalam melayani prinsip kesenangan, yang didalamnya mungkin saja terdapat hasrat-hasrat merusak sebagai sebuah kesenangan kreatif yang mengancam struktrur kuasa diatas menara-menara yang terbuat dari gading.

Energy seksualitas, sebagaimana dikatakan Freud, sebagai dasar dalam melakukan sesuatu adalah sebuah tesis setengah hati dimana tahap oedipalisasi adalah instrumen pengekangan untuk kita tetap berjalan diatas titian struktural Saussurean yang secara lansung mempermisifkan jejaring kapitalis tuk bersendawa dalam sanubari sadar maupun ketaksadaran.

Kemudian kita juga tidak mesti melukis keindahan tubuh layaknya pemberontakan ala fauvisme dan selanjutnya  melabeli hasrat dalam catatan Deleuze-Guittari dalam tubuh tanpa organ. Kebenaran  bukanlah idelitas tanpa keegoan logos Husserlian tentang adimakna yang berada diluar struktur bahasa. Tidak, kebenaran walapun tak terukur kata-kata—seperti pemahaman Rumi tentang cinta—tetap selalu mendapati diri dalam sebuah medan bahasa simbolik hingga ketelanjangan tubuh tetap merindu organ sebagai basis kultrual yang mencipta harmoni dalam nuansa yang chaos pula dramatik.

Ego dan Tragedi Menuju Ketiadaan

Iya, oedipalisasi hanyalah kanalisasi hasrat yang menjebak kita dalam ketakberdayaan sehingga Ego (baca Ikbal) yang mesti melewati keterbatasan badani justru tercebur kedalam banalitas kuasa Faucauldian tanpa tanya tentang hidup, kehidupan yang sedang tidak baik-baik saja.

Tentunya tanya selalu mewarnai relung sanubari yang mulai tandus dari rona keheningan yang membuat keinsyafan manusiawi menghastakan badani layaknya galaksi saling menghindari dalam spektrum inflasi. Entah, narasi tentang Adimanusiannya Nietszche telah terperosok dalam lembah pegunungan swis menghasilkan kematian Tuhan yang jauh dari makna epistemik. Kehidupanpun selalu diisi dengan peperangan tiada berhingga, dan yang paling sering terjadi adalah peperangan yang selalu berakhir dengan kemenangan freud yang mengalahkan idea Plato. Kemudian jika jiwa disambar kegersangan spritual, maka membaca kitab suci hanyalah ritualitas tanpa kesetiaan poietika sedikitpun didalamnya. Pesan-pesan romantik dalam Hikmah yang memposisikan kita sebagai bagian dari daya manifestasi dianggap disposisi penguasa, sementara keharusan tuk membaca dan memahami lebih awal adalah hal usang dalam era digital yang hanya mengikuti budaya taqlid buta.

Iya, perang terbesar bagi kita adalah mengikrarkan diri antara “Adam yang tercipta menyerupai bentuk_Nya (baca Quran), kemudian Tuhan Mencipta manusia Menyerupai Gambar-Nya” (baca Bible)  dan bongkahan-bongkhan sisi kebinatangan yang selalu buas memangsa bangsa sendiri. Tanpa sadar kita telah mengimitasikan diri dalam jargon penindasan yang selalu berteriak akan kebebasan. Pesan Ikbal dalam “Rahasia Kedirian” adalah usaha mendekati kesempurnaan dikalahkan apatisme, individualism, pragmatism yang tentunya menciptakan struktur cognitive yang menghunus rantai harmonia kita dengan manusia pula alam semesta (baca kosmos Ibnu arabi).

Mungkin ada benarnya apa yag dikatakan Kafka, kalau suatu saat jika Yesus kembali lagi ke bumi dia tak lagi mengenal siapa kita karena sudah terlalu jauh tercerabut dalam naturalitas kehidupan yang sebagaimana mestinya. Jika mencoba meminjam persfektif Bourdilard untuk menelaah kognitivitas kita sekarang maka nampaklah metamorfosa itu dimana kita semua adalah binatang-binatang buas yang cerdas berkamuflase mengunakan kata atau nuansa kearifan seolah kita adalah malaikat tanpa noda yang tertinggal dalam sayap manusiawi.

Ego sejati yang merupakan totalitas kedirian yang melingkupi dimensi waktu tak jua mesra bersendawa dalam langkah sebagai basis fikir dan langkah, keengganan  memberi kesempatan bagi hati tuk berani berfikir dibungkus naluri solipsistic, kemudian memahami belajar sebatas pada angan akan masa depan yang diidamkan adalah kemenangan arogansi budaya pop yang menyergap hasrat kita dalam nadi ketaksadaran sehingga ketidakbiasaan, kelaparan, kemiskinan, penderitaan kita anggap sebagai ketakberuntungan atau ketidakkretivitas individu dalam menjalani kehidupan. Tanpa sadar kitalah pendindas, pemusnah, perusak yang selalu bersembunyi dibalik jubah Ketuhanan.

nb: blum diedit

Rabu, 08 Agustus 2012

Simfoni VI


Senja Mewariku seuntai pilu
Ia datang saat aku dan  pelangi tak lagi dalam spectrum yang sama
Tapi, nuansaku tak kuasa menepis warni yang menari
Aku terpaksa berdansa mengikuti pola ritmis sang Shiva
Dimana dia adalah Mozart yang menggantung Elvira Madigan
atau Bethoveen yang tuli pada segala selain Fur Elise
namun, pergeseran merah melaju dalam hasta galaksi saling merindu-hindari

Kerinduan ini seperti imajinasi Sanzio Rafaelo
Melukis Dona velata dalam ketiadaan wanita-wanita Italy
 Senja ini menawariku akan kebencian eksprsionis
Membenci hitam dalam lintasan kuas diatas kanvas
O, aku harus percaya pada hitam dalam fisikawan
Ialah penyeimbang harmoni dimana senyumku kan menuai
Diapun menawariku spektrum yang sama

Tapi, seperti Freud mengutip Odipus
Atau Monet Claude yang mencinta rembulan
Akupun semakin kompleks dalam cinta yang begitu liar.


 

Sabtu, 28 Juli 2012

Kebiruan Senja


Senja pudarkan cakrawala nian menjingga
Mata layangkan asa pula mengangga
Kebiruan langit tampak suci menggenggam malam
Awan putih ukir senyum perawan sulam

Nampak aku musyafir renta berpenghuni
Menapak laju bak takbir sapa nurani
Pelukis Agung merindu wujud mencintai
Seperti Dia-lah jiwamu diridhai

Ialah jatuh dalam hati para wali
Aku surut dalam pinta kan syahdumu
O, manifestasi ialah ajar aku berfitri
Mendamba rima nan merindu alur wajahmu

Mestikah berserah hati berinsafi?
O, aku melaju dalam biru tak bertepi

Jumat, 20 Juli 2012

Bayang Putih


Bayang putih itu kian menjelma
Ia datang menerobos sisi ribuan gemintang
Ku lihat Rembulan telah bercermin dalam beningnya danau
O, Mataku seperti berontak pada takdirnya
mengikuti hukum optik yang keliru dari Ptolemus juga Keepler

Menatapmu adalah pemberontakan Oedipal
dan asa adalah benar melebihi tubuh tanpa organ
Entah, Barthes terlalu terlalu angkuh menebak kata hati
atau Gibran yang terlalu determinis pada personalitas
Semuanya direduksi menjadi kata berbisa seksualita

Dialah bayang putih menjelma rima
Tanpa poros bak lirisme para simbolis
Hati menerobos silau dalam prinsip realitas
Berontak akan prinsip kesetiaan ala Qais
Mendamba Laila sebelum laut membelah pengunungan

Apakah hina jika aku bermandikan danau walau telah disinari rembulan?
O,  berpalinglah padaku wahai danau kecilku
Sebab rembulan kan hilang darimu jika mentari mencekik..
Kaulah bayang putih melebihi air yang mengkristal
Sinarilah aku yang tak butuh apappun selain cahayamu..

O hatiku, kau seperti mataku
Memberontak pada kesetiaan ragawi
Mendamba senyumu dalam kesetiaan poetika.

Apakah hina jika aku bermandikan danau walau telah disinari rembulan?
berpalinglah padaku wahai danau kecilku
Sebab rembulan kan hilang darimu jika mentari mencekik..
Oh, aku keliru dan Haytham benar .. ..
Cahayamulah menapak laju di mataku
Hingga  kulihat hanyalah dirimu.

              4 U...

Sabtu, 14 Juli 2012

Nyanyian Kesunyian Malam

Malam-malam meyanyikan kesendiriannya di malam-malam
marga satwa terlena mempsona
Kegelapan meyelmuti,
gesekan daun dengan ranting
Heningkan malam-malam jadi mendalam

Tiada bintang juga rembulan mengiringi
Kunang-kunang pun lemah meyinari dirinya sendiri
Serangga yang menyagga diatas kulit tipisku Tak lagi kurasakan
Senar gitarku tak lagi mengharmoniskan melodi indah
Selain keharmoisanku dengan sang Harmonis

Malam yang begitu menikam dalam-dalam
Malam tanpa cahaya keduniaan
Selain cahaya sang Cahaya
Yang bersinar indah dalam kesunyian jiwa

Nyanyian malam ini begitu syahdu di pematang jiwa
Nyanyian yang menutupi musik manusia yang tak lagi menarik
Nyanyian yang membuat semut dan gajah tak lagi beda dikelopak mata
Nyanyian yang membentuk pecinta menjadi satu dalam cinta

Angin malam menyepoi diatas kesunyian jiwa
Menggesekan sadar tetap meruduk bak bersujud pada sang Syakur
Suara hati merintih sedih dalam kegalauan
Merintih pilu dan doa tentang kedamaian, keindahan dan ketentraman

Ialah malam ditemani kesunyian
Kesunyian tanpa suara selain nyanian malam akan kesunyian
Nyanyian yang menjiawai jiwa akan siapa dirinya
Nyanyian yang mengenali diri akan siapa pemiliknya
yang selalu merdu sampai dilain dunia

wahai kesunyian malam dalam keheningan jiwa
tetaplah bernyanyi akan kesendirianmu
kau adalah melodi tanpa dawai-dawai harfa
kau adalah melodi yang meyatukan jiwaku dengan sang Jiwa
kau adalah malam yang mengenalkan aku akan siapa diriku.

Gadisku Berkebaya Merah

Melangkahi petang dipematang sawah
Hembusan angin menghampiri melunglaikan batang-batang padi yang seharian di dera kemarau
Gesekan gabah dengan batangnya hasilkan melodi akan hari yang tak jua menghujani

Aku melihiat gadis berkebaya melepaskan pandang keseluruh ladang
Seolah menancapkan kegelisahan akan hidup yang jarang tersirami

Dengan senyum tipis
Ia menumpahkan kepenatan yang menyelimuti seisi raganya
Senyuman yang begitu indah mengalahkan keindahan desanya sendiri

Sekejap ia berjalan menilntasi tapak-tapak sawah
Mengharmoniskan melodi indah diantara gabah dan hujung selendangnya
Aku seolah terpojok dalam luasnya cakrawala
Sembari terjatuh oleh pandangan yang jarang kutemukan

Kuhampiri dengan serangkai kata
Namun ia tetap menjingga bersama mentari
Kutatap dengan mata terdalamku
Ia tetap saja tak menolehhku

Dialah gadis berkebaya
yang menjelma menjadi sinar putih didasar sanubariku.

Untukmu Si lebaY

Dimensi waktu meraung seisi dadaku layaknya segerobl domba berdesakan keluar dari pintu yang sempit, gerah seperti tercengkram dalam sebuah tenda ditengah gurun, penuh terik. Akibat kerisauan konstan yang mendiami gerak pikirku akan absurditas, segera berubah menjadi sebuah Kerinduan nir-badani. Gerak peruabahan itu hadir dalam kediaman, puitis, yang terbang bersama debu jalanan , mengangkasa. Akibat dipeluk mesra oleh jemari mentari, ia bersinar layaknya patamorgana yang menari indah diatas kehampaan. Birakan saja “ketiadaan” sebagai rel tatapanku yang kadang tak terucap, kemudian mengarahkan segala indra pada ruang metamorphosis menjadi kilatan cahaya dari partikel-partikel halilintar yang membelah kesombongan jagad raya.

Jangan, jangalah Kau biarkan kilat mereda, biarkan ia menjadi segenggam mawar berbisa kemudian suguhkanlah diatas meja-dan laci para perampas kebahagian, dan, berikan sebuah tanda Tanya, (?), diantara helaian mawar itu, agar mereka memiliki kesempatan tuk memahami beningnya dirimu dalam aneka warna.

Terlalu banyak kaum tua yang berlagak seperti elang muda, dengan sombonyya mereka membuat manifesto-manifesto yang janggal kemudian di pajang diatas tempat hiburan malam yang syarat akan tubuh, remang-remang. Cobalah mendekat, dan, lihatlah, mereka adalah jelmaan dari mitos-motos ketika bumi masih senyap, kini, mitos-mitos itu telah terbantahkan, bahwa, mereka adalah nyata yang sering membuas, membunuh, menjarah bahkan meniduri istri-istri orang, kini mereka masih hidup bersama kita. Mereka layaknya tupai yang mencuri sari kelapa kemudian meninggakan batoknya pada sang pemilik.

Oh kau yang masih bersolek dalam Istanamu. Tak puaskah engkau yang terus membirahi melihat penjagamu yang tanpa sehelai benang pun badan? Tak puaskah kau berpose dalam segmen cerita fiktifmu yang meninabobokan?. Kau sama saja seperti lagu-lagu yang kau nyanyikan, romantic, indah tapi kosong akan pikiran-pikiran puitis, hingga membuatmu seperti Beo dalam jebakan skriptualis. Jika mendengar nyanyian tak seirama denganmu, kau malah nangis, curhat dan mengasah suaramu di antara rinthan yang kau berikan sendiri pada kami.

Hei, kau yang tau renta, dan lapuk. Disini bukanlah tempat anak-anak kecil, yang mengharap dongeng sebelum tidur. Dan tempatmu juga bukan istana kaca yang tak bisa bebas dari debu yang beterbangan. Keluar dan lihatlah sekelilingmu, wajah-wajah tak berwarna tak lagi bercermin kepadamu.

Istanamau sedemkian jorok, disetiap lorong, ramai dengan anjing-anjing beranaimu, kau selalu memajang gambar-gambar, dan kisah tentang, yang, sebenarnya terangkai dalam relung konspirasi. Semantara hampir di segala sisi, kau mencoba menggandakan dan menghidupkan kembali abad-abad akal yang terborjuisasi, sebuah tampilan simulakra yang mengirim signal pada kami akan ketidakpantasan untuk berada disana.

Oh manusia yang ber-Tuhan, tak secuilpun kau berbentuk dalam ribuan Nama-nama— walaupun dirimu adalah bagian dari bentuk itu—dan melepas kemanusiaanmu dari rintihan yang menggemakan sukma. Dirimu kau belah menjadi puluhan rupa, ada yang bernyanyi, berolahraga, bertani, menabung, menziarah tempat-tempat sacral, berjudi dan banyak lagi disana, ternyata semua itu hanylah bayangan dari wujud keserakahan, bukan rahasia umum lagi, yang berdiri diatas syahwat yang selalu beronani.

Kau yang katanya punya cinta, datanglah dan bercintalah denganku, kan ku buat dirimu mengorgasme ditiap sentuhan, kemudian kan ku rubah setetes sperma-mu menjadi anggur yang memabukan seluruh jagad-jagad.

Berawal dari Beautiful Mind

Malam itu, mereka bertemu kembali. Walapun bukan yang pertama kalinya, tapi pertemuan itu terasa seperti mereka baru saja berkenalan, berkesan bagi mereka berdua. Gayatri, gadis berkerudung dan mengenakan gaun yang coraknya seperti kain kebaya. Ada pemutaran dan bedah Film, Beautiful Mind, di gedung kesenian Makassar, yang secara kebetulan Ikbal, mengambil tempat duduk yang nantinya bersebelahan dengan Gayatri.

Sebuah film yang membutuhkan perhatian lebih agar dapat memahami apa makna dari setiap tayangan tersebut, membuat Ikbal, tak memperhatikan kalau ada yang berjalan menuju ke arahnya, dan mengambil tempat duduk tepat disampingnya.  Sepuluh menit kemudian baru ia sadar kalau  kursi yang tadinya kosong, telah diduduki oleh seorang gadis, Gayatri.
Eh, Gayatri, kan?
“Iya, serius amat”
“Kadang ketidakseriusan, walapun hanya sedetik, bisa mempengaruhi interpretasi atas sebuah cerita, he,he” ikbal membela diri.

Gayatri hanya tersenyum tipis, bola matanya yang bundar dan kening yang tidak terlalu tebal dan teratur,  kemudian wajah yang sedikit oval membuat malam itu ikut tersenyum menyaksikan wajah natural perempuan melayu timur. Ikbal, dengan alis mata yang bergerak ketika berbicara barusan, memandang sekilah ke arah gayatri, alis matanya yang hampir tersambung kadang menjebak lawan bicara kalau ia butuh keseriusan. Keseriusan yang sedang merambah penonton malam itu, membuat Gayatri menarik makna yang agak literer, hingga bola mata ikbal yang bundar dianggap sebagai tanda tuk sama-sama mengambil bagian dalam keseriusan itu.

Beautiful Mind, sebuah film yang diambil dari kisah nyata, yang mengambil latar di Princeton Unversity, mengisahakan tentang seorang pakar matematikawan, Jhon Nash, yang diperanakan oleh Russel Crowe. Kecerdasan John Nash dalam matematika membaut dia menjadi mahasiswa jenius, namun obesisi untuk menciptakan sebuah teori baru, yang ia namakan dinamika penggerak yang merobohkan gagasan ekonomi modern Adam Smith, awalnya, tidak didukung oleh pembimbingnya membuat ia kadang merenung sendiri, dan berimajinasi tentang idenya itu. Namun tanpa disadari ia terkena sebuah gejala kejiwaan, Skizofrenia, yang membuatnya tak bisa membedakan mana yang nyata, dan mana yang tidak nyata. Soundtrack berupa instrument dalam film itu bisa membuat anda untuk berimajinasi. ikbal, adalh seorang yang sangat menyukai instrument. Entah lirik-lirk lagu yang tak lagi puitik saat ini membuatnya malas untuk mendengarnya. Kadang, ketika membaca ia selalau ditemani oleh gesekan biola, Kitaro, juga instrument-interumen lain yang bisa heningkan rasa.

Film telah selesai didiskusikan, banyak yang telah meninggalkan ruangan. Sementara Gayatri dan Ikbal masih berdiri, maklum, hanya satu pintu yang dibuka sehingga harus rela antri tuk keluar.

“Mau pulang kemana, Yat?”. Tanya Ikbal. “Pulang ke rumah dong, masa ke laut”. Jawab gayatri dengan sediki bercanda. Ikbal, hanya tersemun tipis, dan sesekali mencuri pandangan tuk melihat wajah Gayatri, yang natural tanpa sentuhan make up apapun. Ia kagum ketika melihat  Gayatri, dalam menginterpretasi film tadi.

“Anda cukup cerdas, yat”.
”Apakah cerdas ada batasannya?”
“Maksudnya?”, jawab ikbal, dengan sedikit memainkan alisnya
“Tadi anda katakan kalau saya cukup cerdas, kan?”
“Maksud saya anda cerdas”.
“He.he.. kebiasaan laki-laki, cepat menumakan alasan dari sebuah kesalahan, cuman main-main tadi, jangan ambil dihati, sekedar mengajak anda tuk memahami permainan kata. He.he..”
“Kadang emosi mempengaruhi makna”
Apakah saya sedang emosi, menurutmu?
Ya, mungkin saja, emosi karena terbawa dengan film tadi”.

Mereka berdua tersenyum sambil memandangi satu sama lain, walau hanya beberapa detik, tapi dari tatapan itu menghasilkan juataan intonasi bahasa tubuh yang bisa membuat anda salah memahami sinar mata seseorang yang menatapmu. Di pintu keluar orang-orang sudah berkurang. Mereka berdua pun keluar.  Satu

Waktu menunjukan pukul setengah sebelas malam. Mobil angkot sudah jarang terlihat, hingga mereka harus rela menuggu sekitar dua jam didepan taman gedung itu. Jalanan yang sudah mulai sepi, kemudian temeram lampu jalanan berpendar hingga kesela pepohonan, desiran angin yang menyepoi, para pengemudi becak—yang mungkin sedang istrahat—duduk bermalasan  di sadel becaknya, beberapa pemuda berjalan kaki sambil bercerita. Suasana  malam yang mestimulasi  Ikbal, untuk lebih dekat mengenal, Gayatri. Mereka mengambil posisi duduk tepat dibawah pohon mangga, rindang.

”Apa yang anda sukai dari film tadi, Ik”. Tanya Gayatri,
“Yang saya sukai semuanya sih, tapi yang lebih berkesan ketika melihat semangatnya John Nash, yang tak pernah surut untuk berusaha dan belajar menciptakan teori dinamika penggerkanya.
Kalau kamu?” Tanya ikbal balik
“Saya teringat kata-katanya Einstein, imajinasi lebih penting dari pengetahuan. Dari kekuatan imajinasinya ia ias menciptakan tokoh fiktif, yang luar biasanya, ias diajak tuk menyelesaikan maslahnya”.
“Bukankah itu yang menjadi peyebab ia dimasukan ke rumah sakit jiwa?”
“Apakah anda tahu alasannya, kenapa?” Tanya gayatri, sambil membuka botol air mineral yang baru dibeli.
“Dari filmnya sih, Nash, dimata orang-orang terdekatnya, memiliki kelainan jiwa”
“Gila menurut anda?”
“Yah, seperti itu”
“Nash, tidak memiliki kelaianan jiwa”, jawab gayatri setelah menguk minumannya ”atau yang sering diakatakan orang-orang sebagai gila, tapi dokter psikiatri atau lingkungannya yang gila, karena mengobati penyakit dengan pengobatan kimiawi yang jelas-jelasnya tak memiliki organ materil didalam tubuh. Kenapa sih orang-orang seperti itu selalu tersisikan dalam suatu komunitas?, apa bedanya mereka dengan orang-orang yang ngigau saat teritidur pulas?”.

“Tapi kebiasaan mereka itu aneh, dan beda dengan lingkungannya, kan?”, sela Ikbal
“Kebaiasaan seperti apa?, saya bingung, kita semua selalu mengkritisi cara pikir ala Cartesian tentang ego cogito-nya, tapi dilain sisi kita juga selalu memakai cara-cara itu untuk melihat masalah-masalah yang tak bisa diukur atau dihitung secara matematis. Inilah sebuah era kegilaan, era dimana rasio menjadi tuhan, dan disaat bersamaan rasio kita jadikan sebagai hakim yang selalu memvonis hal-hal metafisis sebagai pihak yang selalu bersalah. Bukankah itu cara pikir filsafat barat modern?.

Sebuah penjelasan, gayatri, yang membuat Ikbal, menatap serius, entah karena menghayati penjelasan gayatri, ataukah sebuah tatapan kekaguman  atas apa yang baru saja ia jelaskan.  Kedua bola mata yang mulai terlihat lesuh, membuat wajah gayatri, semakin terliahat jelas akan wajah kesederhanaan melayu timur-nya. Namun ketika gayatri menatap balik, Ikbal seperti didera sebauh gerakan reflex alami, hingga ia harus mengalihkan pandangan kearah lain. Kebiasaan Ikbal, yang pemalu membaut ia jarang menatap mata lawan bicaranya, namun malam itu ia agak beda dari sebelumnya. Kadang berani dan sedikit diimbangi oleh rasa malunya.

“Apakah  rasio tak layak digunakan untuk meyelesaikan suatu masalah?” Tanya ikbal setelah diam sejenak.
“Saya tidak tidak berkata rasio seperti itu, tapi yang saya kritisi adalah dia ketika dipakai sebagai jalan satu-satumya tuk selesaikan sebuah masalah”.
“Bukankah dalam film tersebut terdapat suatu cara pengobatan yang non kimiawi, dimana cinta dan kasih sayang sang isteri turut berjasa hingga Nash, meraih Nobel?”. bela Ikbal.

Iya, memang seperti, tapi dalam film tadi saya justru—melihatnya dalam kulutur yang berbeda, Ik”.
“Misalnya?” Tanya Ikbal dengan melihat waktu di ponselnya.

"Cinta dan kasih sayang yang ditunjukan dalam film itu tadi lebih pada kebisaan ala barat yang selalu dibumbuhi dengan seksualitas, sementara cinta dalam presektif platonis hampir tak punya gambran disana, selain  hanya dalam bentuk kalimat saja, seperti perbincangan Nash dan Istrinya dibawah pohon. Atau seperti dalam film My Sisters Keepers, dimana penyakit leukimia yang diidap oleh seorang gadis remaja, kate, yang kondisinya semakin parah, tapi kehadiran seorang pacar mampu membuat ia keluar dari depresi yang ia rasakan, atau memilki waktu hidup lebih dari yang dipikirkan para dokter. Dari film itu pun diperliahtakan bahwa kasih sayang mampu juga menyembuhkan penyakit, tapi lagi-lagi agak syarat muatan kultur didalamnya". 

‘’Yah, saya sepaham. Tapi apakah anda membedakan seks bukan bagian dari cinta?

Mendengar itu, Gayatri hanya tersenyum tipis. Entah seks saat ini seperti yang dikatakan Faucault, merupakan hal yang tabu, dimana ada semacam polisi ujaran, dan ada semacam image nagatif jika dibicarakan didepan umum. Mungkin saja gayatri, terjebak pada episteme demikian, sehingga ia hanya diam sejenak dan membuka ponsel genggamnya, melihat waktu.

Ikbal membaca itu, dan berkata “ seks, yang saya pahami adalah bagian dari produksi dan prokreasi Tuhan. Dan itu merupakan bagian dari proses penciptaan hingga bumi ini kiamat.

Gayatri, memandang serius Ikbal, dan berkata “penciptaan seperti apa?”
“Rahim Ibu, tidak ada bedannya dengan ar rahman ar rahim dalam qur’an yang berarti kasih sayang, jika anda pernah membaca Saciko Muratha, The Tao of Islam, anda akan melihat penjelasan bahwa, seks merupakan bagain proses penciptaan mahluk hidup. Ibnu Arabi berkata bahwa manifestasi Tuhan yang paling terlihat berada pada wanita, yang salah satunya adalah ketika dilihat dari perspektif rahim ibu tadi. Bukankah semua agama mengajarakan kasih sanyang? Dan kata Allah secara substansial bermakna kasih sayang. Bagaimana ada kelahiran jika tidak ada seks, maka dari itu seks juga merupakan angugerah tuhan, cuman yang jadi persoalan ketika seks, dipahami diluar dari konteks itu”.

Mendengar itu, gayatri diam sejenak. Kondisi tubuh yang mulai ngantuk, dan mobil angkot belum juga dating membuat ia setengah gelisah, tapi Ikbal mampu melihat situasi itu dan berbicara lagi tentang apa yang dibicarakan Gayatri, tentang film tadi.

“Apakah anda pernah mendengar tentang music yang bisa membius orang ?”
Pernah, Ibnu sina, kan?. Jawab gayatri
“Ya, memang ketika orang, yang menurut kultur, sebagai kelainan jiwa tak bisa diobati secara kimiawi,  yang ada bukan penyembuhan, tapi lebih menambah penyakit itu”.
“yap, seperti Tadi, Nash yang berhenti makan obat ketika diberi sama isterinya” gayatri terlihat sedikit segar kemabali ketiaka menjawab ikbal, nampaknya, strategy Ikbal berhasil memancing lawan cerita dengan topic yang disukai lawan bicara, Gayatari melanjutkan “contoh kecil, curhat misalnya, kita butuh berbicara dengan orang ketika ada masalah, yang Nash butuh adalah terapi atau meditasi puitis”.

Mendengar itu, ikbal tersenyum hingga matanya yang agak sipit agak tertutup, dan berkata “jangan pernah menghindar jika kita dalam masalah, duduklah dan bicaralah dengan diri sendiri, karena ketika sedang stress atau sejeninsnya, merupakan kerinduan jiwa akan sentuhan kita sendiri yang jarang kita belai. Heheheh…”

“Ternyata anda lebih cerdas, sela Gayatri.
“Apakah cerdas ada lebihnya?”
“Ya, kelebihan anda kerena bisa membuatku betah diskusi dengan mu hingga jam segini”.
“He.he.he.. “ Ikbal tersenyum sambil memandang wajah indah Gayatri.

Mereka memutuskan untuk berjalan menaju putaran angkot, yang kurang lebih 29 meter dari tempat ngobrol, tak ada angkot yang didapat. Mereka berdua memtuskan tuk jalan kaki ke termina yang jaraknya sekitar satu kilo meter lebih.

“Apakah tidak kelelahan, Yat?”, Tanya Ikbal, dengan intonasi perhatian
“Tidak, sudah sering jalan kaki seperti ini, sekalian olahraga juga”.
Ikbal menatap sekilas wajah gadis yang sementara bersamanya, mungkin ia baru bertemu dengan pertemuan seperti ini. Bagi Ikbal, jalan kaki bagi masyarakt kota sudah merupakan sebuah penanda sosial—saussurean—yang kadang membuat stigma ketikmampuan jika melihat ada yang berjalan kaki. Entah, senyum kekaguman ataukah ada perasaan lain ketika menatap Gayatri, membuat pria itu diam terkesima beberapa saat. Ia pengen memuji gayatri, namun takut kalau dibilang gombal.

Ketika dalam setengah perjalan, sebuah angkot melintas dan berhenti dihadapan mereka. Namun ikbal memutuskan untuk tidak ikut bersama dengan Gayatri, dalam angkot itu. Kebetulan ruamhnya tidak terlalu jauh membuatnya memilih berjalan kaki. Mobil angkot telah berlalu, sementara Ikbal masih mengatur langkah dibawah temeram lampu jalanan. Wajahnya terlihat tersenyum saat memikirkan perempuan yang bersamanya tadi. Ia memutuskan berdiri sejenak dan mengetik pesan singkat pada ponselnya dan mengirim pesan itu ke sahabatnya, Ali. “Li, saya jatuh cinta malam ini pada seorang gadis, Gayatri namanya”.