Ada seorang teman mengatakan bahwa budaya intelketualitas yang
terbangun mesti dijauhkan dari hal-hal yang bersifat romantis. Itu ia katakan
setelah membaca Kant tentang imperative kategoris moralitas, legalitas. Aku
sempat merasa. Dan seperti biasa tertawa tipis mengiasi wajahku. Tapi bukankah
Kant juga menekankan kebebasan suara hati adalah kewajiban setiap individu?.
Ataukah ada konvensi khusus dalam budaya intelektual yang mesti ditaati? Sampai
disini aku teringat bagaimana Muhammad membutuhkan Khadijah ketika seisi
tubuhnya gematar saat menerima kata “Bacalah”. Iya, pada mulanya adalah Kata,
kemudian berbentuk firman, dan itulah Tuhan. Dan melalui kata Adam diajarkan
nama benda, melalui kata dunia hadir dalam serat maknawiah, dan dari sana
kesadaran menyadari dirinya sendiri. Oh, Khadijah kaulah kata-kata dimana
Muhammad manyampaikan sabda dan aku bisa seperti teman itu jika romantis
dipahami dalam hal ini. Itu menurtku. Bagaimana?. O, lupakan tentang ini. Sudah
jadi hal biasa bagiku dan teman itu tuk saling membicarakan hal-hal seperti
ini. Saling kritik.
Diluar sana suasana pergantian tahun baru 2013 mulai terdengar. Terompet
menyesak telinga. Berbagai model kartu ucapan diobral murah. Buah seperti
jagung laris terjual. Dan tentunya muda-mudi telah menyiapkan agenda dimana
menghabiskan tahun 2012 ini. Andai diantara kita ada mampu melintasi kejauhan
bima sakti, maka tiap saat petasan selalu dalam kedipnya, dan pergantian hari
tak pernah terjadi dalam semesta yang maha luas ini. waktu bukanlah pergantian
hari, jam dan lainnya, tapi merupakan bagian dari manifest suci yang membuat
semesta masih tetap seimbang. Dan, Khadijah adalah bagian dari keseimbangan
Muhammad. Wah, tak nyambung yah? well, ada namanya metafora dan metonimi, univocal
atau polisemik. Tinggal memilih pisau tuk membedah ketidaknyambungan ini.
Satu kebiasaanku yang sering kualami ketika bukuku dipinjam adalah
selalu mengingatnya. Semakin lama semakin dalam ingatnya. Dan ada beberapa buku
yang dipinjam oleh orang yang berbeda. Dalam hal ini aku seperti seorang pakar
yang tau banyak hal, tapi hal itu bagiku bukanlah suatu kelebihan, melainkan
bagaimana cara kita untuk mencari informasi. Dan kecerdasan seseorang adalah
bagian dari seberapa banyak ia mencari informasi. Aku mendapat pesan singkat, bukan pertanyaan
melainkan pengakuan dari seorang
peminjam buku itu “diksi novel ini sungguh mengasikan, Kak”. Wah, ketuaanku
semakin menjadi. Salah satu hal tidak aku sukai adalah dipanggil kakak, apalagi
kakanda. Ada alasan untuk itu. Saya tidak menyukain pertemanan yang dalam lingkup
senioritas-junioritas sebab terdapat arogansi intelektual seolah senior adalah
yang tahu segalanya. Dan ini menyakitkan apalagi membodohi.
Yah, dia, perempauan itu, yang melalui pesan singkat membuat seisi
ragaku terbawa dalam senyum bahagia. Apakah senyum ini adalah bagian dari daya
magnetis dari senyum indahnya pula? Aku tak tahu, tapi seperti kata teman, dan
memang itu yang aku lihat, bahwa dari totalitas kediriannya yang tergambar
hanyalah senyum, dan tawa keceriaan. Dan kelak permintaanku yang paling
mendasar padanya “tetaplah tersenyum pada dunia, dan duniapun pasti akan
tersenyum kepada kehidupan”. Permintaan yang aneh.
“Iya, itulah kelebihan Italy
Calvino”, jawabku padanya, dan selanjutnya kami saling berbalas pesan. Sebuah
kesempatan bagiku tuk mengkonfirmasi kedekatan yang lebih. Maksudnya lebih
dekat agar Tanya jawab, seputar isi novel, lebih terakrabi. Tapi, dibalik saling
berbals pesan itu ada sebuah energy, menyerupai energy potensial, yang
menggairahkan kenakalan semantikku untuk melihat dan membaca lebih dalam
kediriannya dalam kata. Sampai disini, aku meresa terjebak dengan semantic kuasaku
sendiri bahwa aku mencintai kata-kata, dan melalui kata-kata hubungan ini
terbangun. Oh aku semakin gemetar ketika membaca cerpen pada bloognya, yang aku
tahu ditujukan padaku. Semoga bukan GR.
Tak lama berselang buku itu ia kembalikan, dan ia memberanikan diri
untuk datang ke biara. Ah, aku harus sempurna. Maksudnya ruangan yang
berantakan, asbak rokok yang penuh puntung, pakaian yang tak dilipat buku yang
terhambur sana sini dengan segera dirapikan. Bukan saja aku tapi teman-teman
turut menjadi tim pembersih. Bakti seperti menjelang tujuh belasan “ayo cepat
rapikan sebelum datang tim penilai”. Oh bukan, mau datang seorang hawa. Suatu kejadian
langka di biara selain teman perempuan yang sudah sering.
Ia datang, dan yang pertama diri disapa bukan diriku. Tenang!!,
mengelus dada. Bukan juga teman-teman, tapi justru tumpukan buku yang lama ia
pandangi. Akh, aku berhasil, toh sama halnya ia sedang memandang
kebijaksanaanku—hummm, kesombongan yang tak perlu. Dan aku salah tingkah, iya
salah tingkah dihadapan teman-teman yang nakal bercandanya. ia pun mencoba satu
dalam canda membuat suasana jadi akrab. Ini kelebihannya yang senang bergaul. Oh
iya, ada yang terlupa, beberapa menit sebelum kedatangannya, aku kerepotan
membeli minuman untuk dihidangkan, aku tak punya uang ketika itu. Tapi, itulah
keuntungan bertemen. Terimakasih, terimakasih.
Matanya memandang kearah tumpukan buku dipojokkan biara, aku mengambil
posisi duduk berhadapan, semnetara teman-teman mengambil duduk yang tak jauh
dari perempun itu. Biara seperti tertimpa ribuan cahaya, dan bintik bintik noda
yang melekat pada dinding dan plafon berubah menjadi gemintang dimalam hari. tapi
ada matahari yang lebih bercahaya menyinari biara bak istana pangeran William di
prancis sana. Tidak sampai 20 menit biara penuh cahaya, dan “saya pulang dulu
Kak”. Iya, dia berpamitan mesra kepada
teman-teman, dan tentunya ada sebuah isyarat suci dari matanya yang jika
dibarter dengan kata-kata merupakan sebuah ucapan terimaksih yang lebih mesra
padaku dari yang ia ucapakn pada mereka yang nakal dalam bercanda itu. Ia pulang
dengan membawa pinjam kembali sebuh novel,
Kata-kata, novel biografis Jean Paul Sartre yang sangat aku kagumi itu. “ku akhiri hidupku sebagaimana aku
mengawalinya, dalam tumpukan buku” itu kata Sartre, dan aku semakin jatuh dalam
kata-kata.
bersambung...

