Selasa, 20 Agustus 2013

“Merdeka” yang Menjajah


Bangsa-bangsa yang paling banyak menyanyi adalah bangsa-bangsa
 yang paling banyak menderita. Ini sudah sepatutnya,
sehingga setiap orang harus mengetahui ini. G. Nushes de Prado

Kutipan diatas saya  dapatkan dari Asrul Sani, saat membaca surat-surat kepercayaannya. Entahlah, apa empunya makna sejati kutipan diatas, tapi ketika mambaca buku ini saya baru saja menerima pesan dari jejaring social oleh seorang kenalan yang mengajakku tuk ikut dalam lomba menulis menyambut hari kemerdekaan Indonesia  sehingga mantik yang aku dapati dari kata “menyanyi” adalah impian dan mitos-mitos terdapat dalam Negara berupa kebebasan, demokrasi,  melawan terorisme, kemajuan, peradaban maju dan slogan kesejahtraan yang tak pernah terhitung jutaannya.

Disini saya tidak perlu lagi untuk mengulangi bahasa-bahasa yang sering kita temukan dalam pesta kemerdekaan. Ada yang mengkritik, merefleksi, merenung akan kemerdekaan bangsa yang hampir mendekati satu abad ini yang tak jua kunjung bebas dari penjara bernama “Medeka”. Kata Merdeka bagi negeri ini sudah seperti menjadi Duri yang menusuk pilu empunya sang Mawar. Merdeka seperti menjadi katalis bagi suburnya demokrasi capital, Merdeka adalah adalah sandi bagi neoliberalisme tuk masuk mengacak-poranda Karunia Tuhan di negeri ini, Merdeka adalah irama melankoli yang membuat pendengar terbawa tidur membiarkan tubuh ini dicabik oleh pemangsa yang haus darah ke-perawan-an. Semakin merdeka dipuisikan semakin ia kehilangan nada puitisnya. Semakin merdeka didengungkan, semakin sengsara kita ditindas bangsa penguasa sendiri. 

Disetiap meomentum tujuh belasan seringlah kita temui ragam acara, tayangan, program untuk merayakan pesta sejarah yang berlumur darah ini. Mulai dari RT, RW, Kecamatan sampai Provinsi tak kunjung reda dengan banyaknya festival. Tetapi acara-acara itu layaknya kuis di stasiun-stasiun TV yang tujuan utama bagi pemirsa hanya hadiah, tetapi bukan pada pendalaman (re)aktualisasi tuk memahami secara eksistensial akan kemerdekaan. Pun lomba menulis yang disarankan teman diatas tak luput dari agenda musiman, dan juga tulisan ini tak terlepas dari rangkaian kritik demikian.

Kemerdekaan telah dipahami sebagai satuan waktu Newton-nian dimana masa lalu telah terlewati tanpa adanya kesinambungan, masa lalu itu telah menjadi penguni galeri-galeri yang menguncimati barang-barang antik sehingga cita-cita kemerdakaan oleh para penggagas bangsa telah menjadi museum tanpa makna. Apa yang dikatakan Foucault tentang sejarah dan dokumen sebagai perjalanan dinamis sebuah bangsa tak berlaku di negeri antah beratah ini. 

Renungkanlah. Berapa banyak masyarakat yang mati kelaparan, berapa banyak masyarakat yang tergusur dari  tanah temapt kelahirannya. Berapa banyak yang tidak menikmati pendidikan. Berapa banyak yang tidak memiliki tempat tinggal (yang layak). Berapa banyak pembungkaman kebebasan oleh penguasa, berapa banyak kekejian yang semena-mena dilakukan oleh aparat keamanan  terhadap masyarakt. Namun sesyahdunya apapun renungan toh apatisme telah meradang merubah diri kita menjadi manusia asing di negeri sendiri, tergusur dari tanah sendiri dan yang lebih menyedihkan apatisme itu telah merubah kita menjadi bangsa tanpa rasa syukur dan berterima kasih pada pendahulu bangsa yang mati dihujung belati. Mungkin kritik Franz Kafka, pantas untuk kita sandang, bahwa manusia modern telah bermetamorfosa menjadi kutu besar. Kutu yang sering membuat gatal empunya sang kepala hingga tercipta luka yang berpengaruh sampai pada isi kepala kita.

Merdeka yang Membodohi
Seperti tertuang dalam Undang-undang Dasar Negara “Mencerdaskan kehidupan bangsa”, entah mencerdaskan seperti apa yang dipahami. Pendidikan dimasa-masa kemerdekaan mungkin lebih ideal dan tertuju pada muasal-maknawiah dimana proses adalah hal yang paling fundamental, sehingga hal yang paling substansial dari pendidikan, seperti yang selalu diteriaki oleh Freire di negeri Samba, sebagai proses pembebasan adalah hal yang paling nyata (lihat Yudi Latif dalam Genealogy Muslim dan Kuasa, dimana peran Guru dalam proses kemerdekaan adalah hal yang sulit disangkal).

Tetapi mencerdeskan kehidupan bangsa dalam dinamika kontemporer sama sekali kehilangan arah. Amburadulnya system penidikan, semakin rendahnya mutu pengajar, arah kebijakan yang tak jelas, ganti menteri ganti kebijakan dan masih banyak lagi kekisruhan dalam jantung pendidikan kita adalah bagian kecil dari simulasi pembodohan Negara atas bangsa sendiri. 

Pendidikan yang semakin mahal dan pembelajaran hanya tertuju pada reproduksi pengetahuan telah membuat anak bangsa ini terkungkung dalam kematian kreativitas. Kebebasan sebagai dictum demokrasi pendidikan adalah aturan yang membuat setiap individu terjerat dalam rule-games yang sejatinya membuat kita sebenarnya tak bebas sedikitpun. Singkatnya, pendidikan kita hari ini adalah tameng yang diberikan Negara untuk selanjutnya menghipnotis bangsa agar tetap diam. Pendidikan kita adalah mantra para hipnoterapis yang mensugestikan kita untuk melihat dunia ini dalam keadaan baik-baik saja. Pendidikan kita adalah kamuflase yang menghalangi pandangan akan kesewenang-wenangan kejahatan neoliberalisme pula kapitalisme yang menjajah bangsa. pendidikan kita adalah proses yang mampu membuat kita menjadi tak sadar bahwa sesungguhnya kita sendirilah adalah penjajah-penjajah baru yang masih pulas diatas kasur populis akal sehat.

Sementara itu, dalam lakon abad akal yang digawangi oleh laju informasi dan komunikasi, bangsa ini seolah bangga dalam ketiadaan ikhtiar tuk menjemput momen dunia atau Negara tanpa batas. Berbagai macam informasi tak terlewatkan dalam sehari, tayangan-tayangan tak bermutu, bacaan-bacaan yang bebas “nilai” dan ragam visualitas lainnya telah mendepak sisi kognisi bangsa entah timur ataupun barat. tawaran gaya hidup yang menggiurkan dari rahim modernitas telah begitu banyak merekonstruksi kognitivitas konsumerisme, gaya hidup dan lainnya telah menjadikan kita menjadi bangsa penikmat tanpa jarak yang mesti diisi dengan nada-nada kritik. Konseksuensinya, kita menjadi tak sadar diri bahwa saat membaca, mendengar radio dan lebih penting lagi menonton tayangan TV sebenarnya kita sedang dijajah, atau sedang menjajah diri dan bangsa sendiri. Inilah alasan bahwa revolusi yang paling penting adalah cara berfikir (lihat Gramsci) dan  bukan pada infra-spura struktur.

Kitalah Penjajah Itu

Pagi dalam aroma 17 agustus yang datar, sempat sebelum Paskibraka mengibarkan merah putih, saya sempat membuka ulang Aku, karya Sumanjaya, sebuah naskah yang bercertira tentang kehidupan Chairil Anwar , saya selalu dalam Tanya apakah masih ada orang-orang yang walaupun secuil mengingat ratusan ribu bahkan jutaan jiwa yang rela mati demi kemerdekaan bangsa? Apakah masih ada para Jendaral, pejabat atau penguasa secara keseluruhan yang setiap hari dalam keresahan seperti dialami oleh Tan Malaka, Syahrir, Hatta atau Sukarno? Apakah masih tersisa para Seniman, Sastrawan yang memiliki syair dan irama pemberontakan atas ketidakadilan sepeti Basuki, affandi, Chairil anwar ataupun Soe Hok gie.

Nampaknya pertanyaan diatas hanyalah coretan mubazir yang hanya merugikan beberapa spasi. Penguasa hari ini adalah para serdadu yang telah membelot menjadi mata-mata kapitalisme pula neoliberalisme yang komandonya hanya mengarahkan rakyat untuk patuh dan setia terhadap segala kesewenang-wenangan. Para ilmuan atau akademikus adalah orang-orang yang telah merubah termilogy “merdeka” sekedar menjadi tanda tak bermakna dalam sejarah. Sementara para sejarawan mengambil alih waktu para fisikawan ataupun filusuf menjadi kepingan waktu yang tak berkesinambungan antara masa lalu, kini dan hari esok sehingga sejarah kemerdekaan yang sangat berharga yang mesti tetap hidup dalam setiap tindakan seolah  berubah menjadi masa lalu yang kelam yang harus dilupakan.

Disisi lain para seniman atau sastrawan kita dalam menciptakan karya hanya menjadikan individualitas sebagai subjek karya tanpa melihat lebih jauh relaitas yang mesti menjadi subjek. Sementara itu kita sebagai rakyat atau individu-individu masyarakat membiarkan diri terlena dalam arus apatisme, membiarkan segala artifak kehidupan modern menghegemoni langkah dan tindakan kita. 

Yah, kita sebagai bagian dari Negara ini adalah wajah-wajah penjajah baru. Wajah beringas yang bertengger diatas jemari modernitas yang menindas nurani bangsa, menindas sendi-sendi kultur bangsa sehingga kita layaknya bintang yang membuang kotoran dikandang sendiri. Kita semua, baik penguasa, politikus, ilmuan, akademikus, seniman, sastrawan di era modern ini adalah akumulator nilai lebih (baca Marx) yang ikut melagengkan kekuasaan penguasa yang selalu menjajah diri dan bangsa sendiri.

“Merdeka” yang Menjajah


Bangsa-bangsa yang paling banyak menyanyi adalah bangsa-bangsa
 yang paling banyak menderita. Ini sudah sepatutnya,
sehingga setiap orang harus mengetahui ini. G. Nushes de Prado

Kutipan diatas saya  dapatkan dari Asrul Sani, saat membaca surat-surat kepercayaannya. Entahlah, apa empunya makna sejati kutipan diatas, tapi ketika mambaca buku ini saya baru saja menerima pesan dari jejaring social oleh seorang kenalan yang mengajakku tuk ikut dalam lomba menulis menyambut hari kemerdekaan Indonesia  sehingga mantik yang aku dapati dari kata “menyanyi” adalah impian dan mitos-mitos terdapat dalam Negara berupa kebebasan, demokrasi,  melawan terorisme, kemajuan, peradaban maju dan slogan kesejahtraan yang tak pernah terhitung jutaannya.

Disini saya tidak perlu lagi untuk mengulangi bahasa-bahasa yang sering kita temukan dalam pesta kemerdekaan. Ada yang mengkritik, merefleksi, merenung akan kemerdekaan bangsa yang hampir mendekati satu abad ini yang tak jua kunjung bebas dari penjara bernama “Medeka”. Kata Merdeka bagi negeri ini sudah seperti menjadi Duri yang menusuk pilu empunya sang Mawar. Merdeka seperti menjadi katalis bagi suburnya demokrasi capital, Merdeka adalah adalah sandi bagi neoliberalisme tuk masuk mengacak-poranda Karunia Tuhan di negeri ini, Merdeka adalah irama melankoli yang membuat pendengar terbawa tidur membiarkan tubuh ini dicabik oleh pemangsa yang haus darah ke-perawan-an. Semakin merdeka dipuisikan semakin ia kehilangan nada puitisnya. Semakin merdeka didengungkan, semakin sengsara kita ditindas bangsa penguasa sendiri. 

Disetiap meomentum tujuh belasan seringlah kita temui ragam acara, tayangan, program untuk merayakan pesta sejarah yang berlumur darah ini. Mulai dari RT, RW, Kecamatan sampai Provinsi tak kunjung reda dengan banyaknya festival. Tetapi acara-acara itu layaknya kuis di stasiun-stasiun TV yang tujuan utama bagi pemirsa hanya hadiah, tetapi bukan pada pendalaman (re)aktualisasi tuk memahami secara eksistensial akan kemerdekaan. Pun lomba menulis yang disarankan teman diatas tak luput dari agenda musiman, dan juga tulisan ini tak terlepas dari rangkaian kritik demikian.

Kemerdekaan telah dipahami sebagai satuan waktu Newton-nian dimana masa lalu telah terlewati tanpa adanya kesinambungan, masa lalu itu telah menjadi penguni galeri-galeri yang menguncimati barang-barang antik sehingga cita-cita kemerdakaan oleh para penggagas bangsa telah menjadi museum tanpa makna. Apa yang dikatakan Foucault tentang sejarah dan dokumen sebagai perjalanan dinamis sebuah bangsa tak berlaku di negeri antah beratah ini. 

Renungkanlah. Berapa banyak masyarakat yang mati kelaparan, berapa banyak masyarakat yang tergusur dari  tanah temapt kelahirannya. Berapa banyak yang tidak menikmati pendidikan. Berapa banyak yang tidak memiliki tempat tinggal (yang layak). Berapa banyak pembungkaman kebebasan oleh penguasa, berapa banyak kekejian yang semena-mena dilakukan oleh aparat keamanan  terhadap masyarakt. Namun sesyahdunya apapun renungan toh apatisme telah meradang merubah diri kita menjadi manusia asing di negeri sendiri, tergusur dari tanah sendiri dan yang lebih menyedihkan apatisme itu telah merubah kita menjadi bangsa tanpa rasa syukur dan berterima kasih pada pendahulu bangsa yang mati dihujung belati. Mungkin kritik Franz Kafka, pantas untuk kita sandang, bahwa manusia modern telah bermetamorfosa menjadi kutu besar. Kutu yang sering membuat gatal empunya sang kepala hingga tercipta luka yang berpengaruh sampai pada isi kepala kita.

Merdeka yang Membodohi
Seperti tertuang dalam Undang-undang Dasar Negara “Mencerdaskan kehidupan bangsa”, entah mencerdaskan seperti apa yang dipahami. Pendidikan dimasa-masa kemerdekaan mungkin lebih ideal dan tertuju pada muasal-maknawiah dimana proses adalah hal yang paling fundamental, sehingga hal yang paling substansial dari pendidikan, seperti yang selalu diteriaki oleh Freire di negeri Samba, sebagai proses pembebasan adalah hal yang paling nyata (lihat Yudi Latif dalam Genealogy Muslim dan Kuasa, dimana peran Guru dalam proses kemerdekaan adalah hal yang sulit disangkal).

Tetapi mencerdeskan kehidupan bangsa dalam dinamika kontemporer sama sekali kehilangan arah. Amburadulnya system penidikan, semakin rendahnya mutu pengajar, arah kebijakan yang tak jelas, ganti menteri ganti kebijakan dan masih banyak lagi kekisruhan dalam jantung pendidikan kita adalah bagian kecil dari simulasi pembodohan Negara atas bangsa sendiri. 

Pendidikan yang semakin mahal dan pembelajaran hanya tertuju pada reproduksi pengetahuan telah membuat anak bangsa ini terkungkung dalam kematian kreativitas. Kebebasan sebagai dictum demokrasi pendidikan adalah aturan yang membuat setiap individu terjerat dalam rule-games yang sejatinya membuat kita sebenarnya tak bebas sedikitpun. Singkatnya, pendidikan kita hari ini adalah tameng yang diberikan Negara untuk selanjutnya menghipnotis bangsa agar tetap diam. Pendidikan kita adalah mantra para hipnoterapis yang mensugestikan kita untuk melihat dunia ini dalam keadaan baik-baik saja. Pendidikan kita adalah kamuflase yang menghalangi pandangan akan kesewenang-wenangan kejahatan neoliberalisme pula kapitalisme yang menjajah bangsa. pendidikan kita adalah proses yang mampu membuat kita menjadi tak sadar bahwa sesungguhnya kita sendirilah adalah penjajah-penjajah baru yang masih pulas diatas kasur populis akal sehat.

Sementara itu, dalam lakon abad akal yang digawangi oleh laju informasi dan komunikasi, bangsa ini seolah bangga dalam ketiadaan ikhtiar tuk menjemput momen dunia atau Negara tanpa batas. Berbagai macam informasi tak terlewatkan dalam sehari, tayangan-tayangan tak bermutu, bacaan-bacaan yang bebas “nilai” dan ragam visualitas lainnya telah mendepak sisi kognisi bangsa entah timur ataupun barat. tawaran gaya hidup yang menggiurkan dari rahim modernitas telah begitu banyak merekonstruksi kognitivitas konsumerisme, gaya hidup dan lainnya telah menjadikan kita menjadi bangsa penikmat tanpa jarak yang mesti diisi dengan nada-nada kritik. Konseksuensinya, kita menjadi tak sadar diri bahwa saat membaca, mendengar radio dan lebih penting lagi menonton tayangan TV sebenarnya kita sedang dijajah, atau sedang menjajah diri dan bangsa sendiri. Inilah alasan bahwa revolusi yang paling penting adalah cara berfikir (lihat Gramsci) dan  bukan pada infra-spura struktur.

Kitalah Penjajah Itu

Pagi dalam aroma 17 agustus yang datar, sempat sebelum Paskibraka mengibarkan merah putih, saya sempat membuka ulang Aku, karya Sumanjaya, sebuah naskah yang bercertira tentang kehidupan Chairil Anwar , saya selalu dalam Tanya apakah masih ada orang-orang yang walaupun secuil mengingat ratusan ribu bahkan jutaan jiwa yang rela mati demi kemerdekaan bangsa? Apakah masih ada para Jendaral, pejabat atau penguasa secara keseluruhan yang setiap hari dalam keresahan seperti dialami oleh Tan Malaka, Syahrir, Hatta atau Sukarno? Apakah masih tersisa para Seniman, Sastrawan yang memiliki syair dan irama pemberontakan atas ketidakadilan sepeti Basuki, affandi, Chairil anwar ataupun Soe Hok gie.

Nampaknya pertanyaan diatas hanyalah coretan mubazir yang hanya merugikan beberapa spasi. Penguasa hari ini adalah para serdadu yang telah membelot menjadi mata-mata kapitalisme pula neoliberalisme yang komandonya hanya mengarahkan rakyat untuk patuh dan setia terhadap segala kesewenang-wenangan. Para ilmuan atau akademikus adalah orang-orang yang telah merubah termilogy “merdeka” sekedar menjadi tanda tak bermakna dalam sejarah. Sementara para sejarawan mengambil alih waktu para fisikawan ataupun filusuf menjadi kepingan waktu yang tak berkesinambungan antara masa lalu, kini dan hari esok sehingga sejarah kemerdekaan yang sangat berharga yang mesti tetap hidup dalam setiap tindakan seolah  berubah menjadi masa lalu yang kelam yang harus dilupakan.

Disisi lain para seniman atau sastrawan kita dalam menciptakan karya hanya menjadikan individualitas sebagai subjek karya tanpa melihat lebih jauh relaitas yang mesti menjadi subjek. Sementara itu kita sebagai rakyat atau individu-individu masyarakat membiarkan diri terlena dalam arus apatisme, membiarkan segala artifak kehidupan modern menghegemoni langkah dan tindakan kita. 

Yah, kita sebagai bagian dari Negara ini adalah wajah-wajah penjajah baru. Wajah beringas yang bertengger diatas jemari modernitas yang menindas nurani bangsa, menindas sendi-sendi kultur bangsa sehingga kita layaknya bintang yang membuang kotoran dikandang sendiri. Kita semua, baik penguasa, politikus, ilmuan, akademikus, seniman, sastrawan di era modern ini adalah akumulator nilai lebih (baca Marx) yang ikut melagengkan kekuasaan penguasa yang selalu menjajah diri dan bangsa sendiri.

Senin, 12 Agustus 2013

Baliho dan Bahasa Kebohongan ( Tinjauan Semiotik )



There is never art, but always meaning, demikianlah Roland Barthes, semiolog (semiotika) asal Prancis, dalam bukunya Image, Music and Text, dimana seni menjadi hal yang ter-indah dan memiliki afeksi pula peresep keabadian karena sang makna selalu setia mendampingi bahkan ketika dipenjara dalam galeri-galeri kekuasaan. Dalam era digital yang disempurnakan oleh abad technology informasi yang tak jarang mengalienasi manusia, proses komunikasi yang disertai dengan tampilan-tampilan imej mapun pencitraan politis dalam bentuk apapun, toh kata-kata adalah prasyarat bagi lahirnya makna-makna. Itulah mengapa ketika Calude Monet melukis moonlight, atau ketika Van Gogh melukis matahari mereka sebenarnya sementara berkata-kata. Begitu pula dalam Baliho, semuanya adalah kata-kata.

layaknya menyambut hari-hari Lebaran, Natal atau Tahun Baru yang disetiap sudut jalan terpampang dengan berbagai macam Baliho, umbul-umbul maupun spanduk, hal sama pula terjadi pada pesta “demokrasi ala penguasa” dimana pada hampir setiap sudut jalan terpampang ratusan baliho-baliho calon kepala Daerah Maluku dengan ragam slogan-slogan Politik seperti pedagang kaki lima yang menawarkan barangnya untuk dibeli; suatu pemandangan yang mengotori kota dengan bahasa dan tampilan yang jauh dari realitas sesungguhnya.

Sebagai media kampanye, baliho merupakan bagian dari sarana komunikasi para tokoh politik untuk menyampaikan berbagai macam visi-misi yang tercantum dalam slogan tertentu sebagai representasi agenda politik. Namun, sebagai sebuah media komunikasi baliho tidak saja terbatas pada teks atau pada gambar/foto semata tetapi merupakan rangkaian jejaring tanda yang berhubungan secara structural menyerupai sebuah kalimat utuh yang mudah terbaca.

Sudah merupakan hal lazim pada momentum kampanye dimana setiap kandidat selalu tampil dengan bahasa atau bernada patriotik yang secera umum bertindak  layaknya orang-orang suci pula dermawan untuk menawarkan kesejahteraan pada masyarakat yang telah lama mendapat perlakuan tak semena-mena. Kini dalam momentum politik Maluku dengan lima pasangan kandidat, yang secara keseluruhan pernah terlibat dalam sutuktur kekuasaan yang tentunya mempunyai track record masing-masing; semuanya tampil dan memajang diri melalui baliho dengan pose senyum kehangatan, berlatar kerakyatan kemudian dibubuhi teks sebagai slogan politik seperti Beta Tulus, Bob-arif, Damai, Mandat dan Setia, kesemuanya merupakan strategy kemenangan yang tentunya tidak terlepas dari unsure-unsur “penipuan” Image mapun pencitraan.

Sementara itu masyarakat dibiarkan bebas menginterpretasi makna dibalik totalitas struktur linguistic baliho yang secara tidak lansung dapat mengkondisikan bawah sadar penikmat tuk percaya pada janji-janji suci ala politikus yang sudah berkali-kali mengecewakan masyarakat. Dalam tulisan ini, saya tidak berbicara bagaiamana kredibilitas makna yang kita dapatkan setelah melihat baliho, tetapi lebih melihat dari sisi semiotis dimana kita selalu saja, dalam tiap momen kampanye, selalu disuguhkan oleh slogan-slogan politik yang pada akhirnya pula menjadi mitos yang tak tersentuh kehidupan nyata.

Antara Mitos dan Dusta

Umberto Eco, pakar semiotic yang berkebangsaan Italy, yang juga pengarang Novel The Name of the Rose, mengatakan bahwa semiotika pada prinsipnya adalah sebuah disiplin yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta. Definisi ini meskipun mencengangkan banyak orang, secara eksplisit  betapa sentralnya konsep dusta dalam wacana semiotika sehingga dusta tampaknya menjadi prinsip utama dari semiotika. Dan ketika baliho termasuk dalam category desain komunikasi, maka mau tidak mau tetap berusan dengan terori dusta tersebut.

Dari sisi semiotis, terutama dalam pandangan Roland Barthes, Baleho atau image berpotensi— dan memang itu tujuannya—untuk menciptakan mitos. Proses terjadinya mitos adalah implikasi dari skema petanda-penanda, yang melaluinya realitas yang sesungguhnya tak lagi menjadi thema utama akan pemaknaan terhadap baliho, sebaliknya menjadi suatu pertunjukan- pertunjuakan dusta dalam dunia hyperrealitas yang hanya ada di alam fantasi.

Sementara dalam kajian lingusitik, yang dijabarkan secara spesifik oleh Ferdinand de Saussure, bahwa sebuah tanda memiliki dua kompunen utama, yaitu pendanda yang merupakan citraan atau kesan mental dari sesuatu yang bersifat verbal atau visual seperti suara, tulisan atau benda. Kemudian petanda adalah konsep abstrak atau makna yang dihaliskan oleh tanda. Kedua komponen ini ibarat dua sisi mata uang yang selalu beriringan dalam proses pemaknaan. Kemudian dalam kritik linguistic lebih lanjut, komponen petanda atau proses pemaknaan tersebut merupakan fabulasi yang membuat suatu objek, dalam hal ini baliho, menjadi terkonotasi. konsekuensinya adalah pesan-pesan baliho tersebut merubah diri menjadi mitos yang jauh dari realitas sesungguhnya.

 Simulasi Kebohongan

Sebuah gambar—seperti yang ditulis Barthes— yang tersebar luas di media-media Amerika pada tahun 1951 berhasil menggagalkan senator Millard Tydings untuk menduduki kembali kursi kursi senatornya pada pemilu. Gambar atau foto tersebut merekam adegan percakapan senator Milard dengan pemimpin komunis, Earl Browder. Sebenarnya foto ini dihasilkan dengan cara menggabungkan secara artificial dua foto terpisah tokoh-tokoh tersebut kedalam satu foto: sebuah propaganda dan kebohongan semiotis yang menciptakan konotasi kontra simbolik kemudian berefek pada kontra cultural masyarakat Amerika yang sangat membenci komunisme.

Dalam hal ini pengkonotasian merupakan penyusup makna lapis kedua kedalam pesan desain fotografis (denotative). Tahapan ini merupakan konsekuensi interpretasi yang tidak terlepas dari sisi historis maupun kultur masyarakat , dimana baliho adalah penanda (Baca linguistik) atau objek yang karena jejaring pertandaan yang terdapat dalam struktur totalitas baliho tersebut membuat konotasi makna terbuka lebar dan sekaligus membuat rantai petanda menjadi begitu liar.

Sebagai komunikasi masa dalam momentum kampanye, Baliho merupakan trik pengkonotasian ampuh dalam mensimulasikan kebohogan relalitas yang ditata melalui penggabungan kode-kode cultural, historis seperti symbol-simbol adat, agama atau symbol-simbol budaya mainstream yang pada umumnya menjadi arena dalam membingkai struktur kognitiv masyarakat tertentu, dan Symbol-simbol tersebut jika dibawa dalam semantika psikoanalitik (Lihat Lacan), merupakan penanda utama yang bertanggung jawab dalam membentuk kesadaran individual.

Pada umumnya, dalam mendesain Baliho sebagai media kampanye, tokoh atau figure politik selalu dalam pose yang artistik, dan secara structural melatakan symbol-simbol budaya sebagai tanda akan pengormatan terhadap keragaman budaya; sebuah strategy untuk menginterpelasi masyarakat kalau mereka, para kandidat itu adalah pilihan tepat menjadi pemimpin di daerah yang memiliki banyak keragaman budaya maupun agama. Dan melalui efek fotogenia yang dibanijiri oleh setting pencahayaan, objek utama baliho dalam hal ini para kandidat semuanya tampil dengan wajah-wajah putih berseri; sebuah petanda sebagai korban modis seolah kulit putih adalah yang paling menarik atau manis, seperti slogan yang terkenal, Ambon manise, padahal  kulit orang Maluku bukanlah seperti kulitnya orang jawa atau china. Kemudian teks hadir berupa slogan-slogan politik yang semuanya bermuara pada isu kepentingan rakyat menjadikan para tokoh politik tampil seperti malaikat yang diperintahkan Tuhan untuk membawa berita baik dan seolah tak pernah melakukan noda pula dosa bagi masyarakat.

Ketiaka Umberto Eco mendefinisikan Semiotika sebagai teori dusta dan Roland Barthes mengatakan mitos selalu terdapat dalam bahasa terutama hal ini slogan-slogan politik, maka kita semestinya harus lebih jeli dalam membaca lebih jauh dan menetapkan pilihan-pilihan politik yang konsisten dari dasar nurani tedalam, agar tidak lagi masuk dalam jeratan kekuasaan yang semena-mena dan tidak lagi terjebak dalam simulasi hyperrealitas penguasa yang selalu tampil bertopeng janji-jani ketulusan, kearifan, kedamaian, kesetiaan yang mengikrarkan diri seoalah mendapat mandat dari rakyat untuk rakyat yang selama ini hanya menjadi mitos demokrasi. 

(di tolak dibeberapa harian pagi dengan alasan kalau nda ngerti bahasanya, entah.. ternyata semua calon kepala daerah yang diulas telah membeli media.. itulah alasan)

Prosa Persembahan Abadi


Seluruh kehidupanku telah kau bawa dalam lagumu, dan aku tak bisa berhenti menari memuja hari tanpa meresapkan diri pada nyala api yang kau bakar dalam kuil hatiku.

Jika suara hujan menghampiri setiap melodi yang kau unggahkan, toh musikmu adalah malam dimana hujan menjadi arti bagi lelapnya raga membuat jiwaku padu dalam riakan sungai yang membawaku kemana  suka.

Ah, kuil dihatiku ramai sekali dengan musikmu, bahkan dedaunan yang melayang sudi jatuh terpelanting dalamnya.

***
Gerisik hujan membuka pagi tanpa sapaan hangat matahari, dersanya membuat cericip burung tak jua menyanyikan pagi seperti biasanya. Rumput pasrah digenangi air. Oh, pagi bisu tanpa suara selain lagumu nyaring nian dalam hujan.

Aku masih saja terkurung dalam selimut, menghangatkan diri dengan aroma tubuhmu yang masih kentara dalam selembar baju putih. aroma itu menyengat, menggetarkan tubuh, menusuk hingga ke akar rambutku.

Mereka bertanya “gerangan apa rambutmu bergururan?”. Aku hanya diam meresap dalamnya lagumu yang bergema dalam pagi. Bagaimana mungkin aku menjawab mereka akan kegetaran tubuhku lantaran getirnya aroma tubuhmu menghujam dalam sukmaku?

***

Siapa yang mampu bertanggung jawab atas hancurnya biara dalam hatiku? Saat aku menanyakan Rumi, ia hanya diam sebab itulah yang dia mengerti tentang Api yang membakar.

Tidak. Tidak seorangpun yang bisa. Tidakkah Tuhan menghukum perbuatan dosa kecuali hati yang senantiasa jatuh oleh kekuatan cinta? Tidakkah hati berada diluar kuasaku?

***
Sesuatu yang berharga dalam diriku semakin berubah menjadi gila. Aku sakit karenanya. Ah, jadilah sakit adalah ajakan Rumi padaku.  Tapi, sakit adalah penyebab kegialaan aku disebut. Oh Ramadhan, tuangkan lagi anggur pada ku agar kuil ini disesaki oleh musiknya yang memabukanku.

***
Kemanakah dua sumber mata air ini kan mengalir? Tidakah aliran segala sungai di bumi telah mengajukan keberatan tuk tidak mengalirkan mata air yang merontokkan ranting-ranting di mataku?. Dengan apa kah kerinduan ini aku bahasakan? Sementara kata-kata telah membentang bendera putihnya sebagai tanda akan tak sanggupnya mengugkap bahasa hakikat kerinduan padanya?.

Inginku berDzikr, bermunjah mencurah hati pada Sang Pemilik Matahari tuk mengambil cahaya di hatiku agar rasa cinta yang begitu dalam padanya hangus terbakar. Tapi kata-kata yang aku gunakan pula adalah bayangannya hingga keindahan syair pemuji Tuhan selalu menampakkan dirinya disetiap Asma.

Oh Pencipta Matahari, Keindahan-Mu yang Kau ukir di wajahnya dan Cinta-Mu yang kau tanamkan di hatinya telah mengakar didalam jejaring syarafku. Akankah rumput ini kan tumbuh tanpa akar sebagai penyangga?

***
Saat kerinduan mewabah dalam belulangku, aku tak sanggup melantunkan namamu. Bahkan bibir ini selalu dalam ikhtiar ku eratkan saat dirimu bergelimang takhta dalam istana qalbuku. Oh, penguasa malam ku.. tubuh ini seperti terbelah dua saat namanya ku sebut. Tapi seperti kesakitan yang dialami seorang Ibu saat melahirkan, sesakit apapun adalah kebahagiaan yang tiada tanding saat buah hati menghirup nafas dunia.

Begitulah yang kurasakan. Sakit ini adalah kebahagiaan hingga namanya selalu kusebut saat darah membeku akibat jiwaku tak bisa membendung kerinduan padanya.

***
Katakanalah wahai Peguasa Malam ku, scenario apa yang Kau taburi dalam hatiku hingga burung-burung pun tak kuasa menghibur duka yang menjadi cerita utama dalam dada ini. Katakanlah… jika scenario ini adalah sejenis kutukan lantaran aku tak kuasa menahan hari menjadi senja semata, maka kutuklah aku karenya. Binasakanlah aku yang tak bisa menjadi kekupu tuk menghisap bunga-bunga kehidupan dimana dia adalah putik tempat madu kasihku abadi.

***