Senin, 06 Februari 2012
Kamis, 02 Februari 2012
Gadis Aneh di “Dunia” yang Memang Aneh
Oleh; Arie Samal
Tiga hari sudah ia berlalu tanpa kata
apapun, tiga hari pula aku seperti berada dalam ketaksadaran ala Freud
kemudian membenamkan diri pada sosok yang tak pernah ku temui dalam
dunia real ku. Entah dari mana ia datang dan dari mana ia berasal.
Sungguh, aku tak pernah tahu siapa dia, apakah dia dan dimana dia
berada. Yang aku tahu dia hanyalah seorang gadis yang sebaya denganku,
yang kuingat hanyalah sesosok wajah berbentuk oval, bola matanya sipit
seperti sedang disilaukan oleh seberkas cahaya, alisnya tidak begitu
tebal berbentuk seperti bulan setengah sabit yang sedikit dihalangi awan
tipis, hidung yang tak begitu mancung kemudian lesung pipi yang
tertanam seperti kawah Merapi yang baru saja berapi, rambut bergelombang
seperti garis edar planet yang mendiami seisi cakrawala. Kau akan
menyassikan Sebuah wajah oriental yang datang kepadaku kemudian
bersedu dengan tetesan air mata hingga nampak jelas bagiku akan
kesediahan yang ia rasakan.
Aku hanya berdiri dan
menatap-dalam akan keluhannya yang tanpa kata apapun. Seorang teman
yang kebetulan lagi bersamaku memukul pelan bahuku sebagai tanda kalau
ia ingin memberitahu bahwa gadis yang didepanku ingin berbicara
denganku, kemudian diapun pergi. Tanpa menunggu lama, ku hampiri dengan
sebuah kalimat layaknya seperti orang yang baru berkenalan. Ia tetap
membisu dan menjongakan kepala ke puncak cakrawala seolah mau
menghempaskan desah terdalamnya sebagai tanda tidak dimengertinya apa
yang baru saja aku tanyakan.
Dengan bahasa yang sama, ku
ulangi lagi pertanyaanku. Tapi ia tetap saja diam dalam riabuan bahasa
kemudian menggelengkan kepalanya. Sebuah permainan tanda bahasa tubuh
yang bermakna tidak tahu atau tidak memahami. Tiga menit hampir berlalu,
kami pun hanya saling menatap. Tatapan yang menurut saya lebih bermakna
jika dibandingkan dengan makna yang dihasilkan oleh komunikasi-bahasa
oral.
Matahari hampir ditelan nyiur yang melambai,
partikel cahayanya menembus ranting-ranting pohon disekitar kami
berdiri. Sebuah sinar keemasan berhasil menembus disela dedaunan hingga
melingkari wajah lesuh gadis itu, kemudian menghasilkan warna baru
menyrupai jingga yang menempel di wajahnya, dan akan semakin
memperjelas wajah natural perempuan-perempuan melayu-Timur. Tiba-tiba
aku melihat mulut gadis itu bergumam, dan kemudian mengeluarkan sebuah
kalimat yang bukan bahasa di Negeri ini. Mungkin ia sadar kalau aku
tidak mendengar apa yang baru saja di ucapakan, ia pun mengulangi
kalimat yang sama, kalimat yang memperjalas kalau dia bukan
sebangsa-setanah air denganku.
Sebuah konvensi yang
dipaksakan oleh budaya raksasa kalau bahasa Inggris dijadikan sebagai
bahasa kumunikasi internasional, yang konsekuensinya tidak sedikit
menghancurkan tatanan bahasa negeriku. Ya, aku tahu, dengan berbahsa
inggris, ia menyapa ku dan bertanya apakah aku bisa berbahasa inggris?.
Diriku seperti berada dalam sebuah cerita fiksi dimana scenario yang ku
mainkan dengan orang asing yang kutemui di wilayah timur negeri ini.
Kebetulan
aku bisa sedikit memahami bahasa aneh itu, bahasa inggris, dan akupun
melibatkan diri bersamanya dengan permainan tanda-tanda didalamnya
sehingga aku bisa tahu dan mengerti berasal dari maknakah gadis aneh
ini. Seperti kebanyakan perempuan jika sedang dalam kesusahan atau
kegelisahan, air mata terus mengalir bersamaan dengan penjelasannya
padaku tentang kegundahannya dan juga identitasnnya. Namun ada hal aneh
yang terjadi, kami tidak pernah saling menanyakan nama masing-masing,
dan itulah penyebabnya hingga kini aku belum juga tahu siapa namanya.
Dia
seorang gadis yang berasal dari Thailand, berlibur ke Indonesia bersama
keluarganya. Namun entah apa yang terjadi, ketika mereka sedang
menikmati keindahan pasir putih pantai desaku, tiba-tiba ia berpisah
secara tak sengaja dengan keluarganya. Disitulah awal dia kehilangan
kontak dengan kelurganya. dua hari berlalu, ia pun terpaku dengan
kesendiriannya. Tak tahu jalan kembali ke hotel, dan sebuah nasib sial
menimpanya kalau telpon gengamnya tertinggal di hotel yang menyebabkan
ia tak bisa melakukan komunikasi dengan siapapun. Anda bida bisa
bayangkan bagamana perasaan gadis itu yang terdampar aneh di nergeri
yang asing bagi dia.
Tanpa terasa hari hampir gelap,
nyiur-nyiur seolah lelap dalam gemerlap, bintang-bintang sebagai hiasan
malam telah nampak mengelopak. Aku berusaha meyakinkan gadis itu akan
siapa diriku agar dia mau ku ajak nginap dirumahku. Sebuah tawaran yang
membuatnya ragu, mungkin karena tampangku sedikit atau bahkan sangar
menurut dia. Dengan sok suci, aku kembali meyakinkan gadis itu dan
akhirnya ia setuju untuk menginap di rumahku. Kami pun bergegas pulang.
Tiga hari sudah kami bersama, seperti seorang Guide, akupun
membawanya mengelilingi berbagai pemandangan indah di sekitar desa ku.
Sesekali ia tampak senang meyaksikan keindahan pantai laut yang
membuatnya seolah telah melupakan kegundahan yang sementara menimpaya.
Diantara senyum-senyum tipisnya dalam melihat lukisan alam, sesekali,
disela oleh tetesan air mata kemudian sekilas wajah murung yang
menunjukan kalau ia masih sedih ditinggal keluarganya. Akupun tak
ketinggalan untuk terus menunjukan hal-hal baru baginya agar ia tetap
ceria dan mengukir senyumnya yang indah. Kau pasti akan menyaksikan
senyum tipis yang berkolaborasi dengan kondisi alam melengkapi keindahan
kemudian menghdirakn pemandangan di pantai ini membuat yang suasana
hati benar-benar terlempar dalam keseharian kami. Apa yang diakatakan
Heiddeger tentang ‘Dunia’ sedang kami alami bersama. Kebersamaan yang
baru terjalin beberapa hari membuatku benar-benar kerasaan didalamnya
yang hingga kini belum juga aku tahu seperti apa perasaakau padanya.
Dalam
sebuah obrolan kami dibawah rindangnya ranting dedaunan, dia menunjuk
kearah sebauh perahu kemudian menagatakan keinginanya untuk mendayung.
Keinginannya terpenuhi, dan kamipun berdayung bersama melihat
karang-karang indah bawah laut yang aneka warnanya smembentuk sebaris
pelangi di dasar laut. Taman laut yang masih benar terpelihara sehingga
ikan-ikan dengan berbagai macam warna mendekat dan berteduh dibawah
perahu yang kami naiki. Ia berkata kalau pemandangan seperti ini tak
bisa dijumpai lagi di negerinya, disebabkan oleh limbah industri yang
dibuang ke laut sehingga mematikan ribuah spesies ikan yang ada. Gadis
itu mencelupkan tangannya ke dalam laut, tiba-tiba munculalah beberapa
ekor ikan berwarna merah dengan sisik putih yang agak kasar yang
ukurannya sekitar 14 Cm. Ikan-ikan itu tampak jinak bersandar di jemari
tangannya sehingga ia berhasil memegang salah-seekor diantarnya. Tak
lama kemudian ia melepaskannya, dan berkata kalau ada mitos di negerinya
yang tidak mengijinkan mereka tuk makan daging ikan. Sebauh pernyataan
yang mengajak aku harus menghargainya.
Hari semakin panas,
mentari semakin sombong memancarkan sinarnya ke laut yang terbuka. Laut
yang biru bercampur cahaya mentari menghasilkan warna biru metalik
memperjelas akan dalamnya laut ini. Gadsi itu masih saja memandang
keindahan karang, namun jika anda perhatikan, ia sama sekali tak
memperhatikan keindahan itu melainkan wajahnya yang tergandakan oleh
beningnya air laut, sebuah kesempatan baginya untuk bercermin. Setets
air matanya jatuh kedalam laut membentuk gelombang kecil indah
diatasnya. Aku tahu dia sedang sedih. Tiba-tiba ia berdiri mendekat
kearahku dan menjatuhkan badannya dipangkuannku. Isak tangisnya membuat
ia bergetar yang getarannya bisa kurasakan hingga ke alam dadaku. Aku
dibautnya hampir terlena, pelukannya pun semakin erat. Dengan bahasa
yang sedih ia memintaku tuk mencari dan menemui keluargnya.
Tiga
jam sudah kami diatas laut, dan tiga jam pula menjadi waktu kemudian
saksi kalau aku bukan lagi kasihan sama gadis itu, melainkan rasa yang
bercampur dengan kasih sayang atau mungkin juga iba yang lahir dari
permainan tanda “bahasa” kami berdua. Rasa yang hampir merubah pikiranku
tuk tetap dekat dengannya. Hari semakin sore, kami pun masih terapung
dilaut. Gadis itu tertidur dipangkaunku, sebuah kesempatan bagiku tuk
menatap dalam wajah sedihnya, wajah yang benar-benar natural tanpa
polesan apapun. Karena waktunya untuk pulang, aku membangunkannya, gadis
itu terbangun dalam keadaan terisak dan tetap melekatkan kepalanya
dipangkuanku. Tapi aku berhasil membujuknya, dan kami pun bergegas
pulang.
Hari semakin malam, dan karena kecapean membuat
dia harus lebih awal tuk istirahat. Namun sebelum tidur kami terlibat
dalam sebuah percakapan singkat. Gadis itu mengungkapkan rasa terima
kasihnya padaku akan semua yang telah ku lakukan padanya, ia berkata
kalau persaannya padaku telah berubah semenjak ia tertidur dipelukanku.
Aku bertanya seperti apa perasaan itu?, sebuah pertanyaan yang
mengharapkan sesuatu untuk ia ungkapkan, tapi dia hanya berkata kalau ia
merasa senang dan ceria berada disisiku, rasa yang menurutnya mustahil
diutarakan dengan bahasa oral. Gadis tersebut mengakhiri percakapan itu
dengan pengharapan semoga kita bisa bersama lagi seperti di siang tadi.
Ia pun memejamkan matanya. Aku bergegas keluar dari kamarnya, dan
mengambil bagianku untuk beristirahat dikamar sebelah.
Hari
telah pagi, sang mentari berhasil menembus jendela kamarku. Matahari
pagi yang tak begitu terik menyentuh setengah badanku, namun membuatku
terjaga dari tidurku. Dengan tergesa-gesa aku pun berlari keluar
bermaksud melihat gadis itu, namun dia sudah tidak lagi berada disana.
Ke kamar mandi, dapur dan ruang tamu sudah ku cari namun tetap saja
nihil.
Aku memutuskan kembali ke ranjang tidurku dan
memberikan sedikit waktu tuk merenung, dan aku baru sadar kalau
pertemuanku dengan Gadis itu hanya dalam Mimpi semalam. Mimpi yang
membuatku termenung seharian. Wajah gadis aneh itu benar-benar menghiasi
isi kepalaku, sehingga aku hampir tak bisa mempercayai apakah itu
hanyalah mimpi ataukah benar-benar terjadi.
Aku tak tahu
apakah ini gejala somatic ataukah mental dari mimpi itu. Ya,…mimpi
semalam berhasil membuatku larut, dan aku hampir berkesimpulan juga
apakah ini memang “nyata” dalam dunia skizofrenik? Apakah kejadian Jhon
Nash dalam beautiful Mind sedang aku alami?. Tidak, saya yakin tidak,
itu hanyalh mimpi namun tak pernah berawal dari sebuah fantasi atau
imaji apapun. Aku tak pernah berfantasi bahkan berimajinasi apapun
sebelum tidur. Jadi, sekali lagi ini hanyalah mimpi tanpa fantasi
apapun. Namun dalam kesadaran penuh, aku berharap semoga bisa bertemu
lagi dengan gadis itu dalam mimpi selanjutnya, agar aku bisa menanyakan
siapa namanya?.
Semalam Bersama “Dewa Hermes” ( Short story about Hermeneutic; special to my friends el MALCOM)
Oleh: Arie Samal
Langit menjerit bersama suara-suara jangkrik dalam malam yang kusam. Angin berhembus menerpa dedauan dan ranting-ranting yang setengah kering kemudian menghasilkan bunyi—yang jika didengar perlahan—seperti Instrumen Kitaro (song for Peace) yang didominasi oleh gesekan viola. Tiba-tiba, terdengar seperti nyalakan anjing dari sebuah lorong, dari kejauhan, suara itu terdengar samar, namun, ia bagaikan teriakan para pendaki yang tersesat di tebing curam. Tapi, jika kau semakin mendekat, suara itu berubah menjadi irama seorang pujangga—dan itulah sebenarnya—yang sementara berpuisi dengan ribuan intonasi indah pada kekasih hatinya.
Aku mendekat, dan, semakin merapat,
menyaksikan pertunjukan romatis antara sepasang anak muda yang men-dunia
bersama malam tanpa bintang, tanpa bulan, selain diterangi oleh
pendaran cahaya lilin dari rumah terdekat yang berhasil menembus
fentilasi jendela, dan diterangi cahaya dari jiwa mereka sendiri. Lelaki
itu tak menghiraukan aku yang tengah berdiri tepat dihadapannya,
sementara yang perempuan membelakangiku, mungkin karena kerinduan
konstan akan sang kasih, “batinku”, ia seolah tenggelam dalam lirik
penuh roman akan puisinya. Namun, dan itulah aku, tak jua memahami arti
dari puisi yang kudengar, aku hanya bisa berdiam, kemudian memaksakan
diri untuk terlibat dalam suatu proses penilaian yang harus kuberikan
pada malam itu. “Astaga..., aku tak mengerti sedikitpun apa yang kudengar”, yang saya mengerti hanyalah ketidaktahuan akan bahasa-bahasa puitis yang mungkin syarat makna.
Seketika,
dan, tanpa sadar, keindahan puitis itu seolah membuatku jadi korban
ilusi, aku seperti menyaksikan sebuah pendulum raksasa yang muncul
diantara siluet-siluet malam, dengan tali yang melekat pada titik
geometric, yang berputar putar dihadapanku, dan dengan mudahnya
membuatku terhipnotis oleh permainan keindahan-bahasa tersebut. “Oh malamku,, aku benar-benar terbawa oleh indahnya bahasa malam ini”.
Pintaku dengan suara yang agak keras, dan nampaknya desah itu terdengar
oleh mereka yang sedang mendunia bersama bahasa puitis dalam-dalam.
“Andaikan Hermes yang mendengar doa mu itu pasti ia kan turun menjelaskan padamu apa arti dari puisi ini?”. Sela perempuan itu memecah kebingunganku.
“Maaf, aku mengganggu”,
“Oh tidak’’, lanjut permpuan itu, “jangan salah kira, ini adalah kebiasaan kami yang berpuisi kepada sesama teman, kau pasti berfikir lain kan, kalu kami adalah sepasang kekasih?, bukan brada, Kemarilah dan duduklah bersama kami”.
Dengan sedikit canggung, aku pun memaksasakan diri tuk bergabung, sok ingin tahu, aku bertanya, “siapa itu hermes, ups, sebelum dijawab, kenalkan namaku, Himda Alie Syariati, biasa dipanggil Himda”
“Chris Nur Afctah, tapi kau bisa memanggilku, Afctah.”
“Edger Hirch ”,
biasa dipanggil Hirch, tapi, terserah anda mau memanggil edger atau
Hirch juga boleh asalkan bisa menciptakan suasana keakraban bagi mu".
Sebuah
perkenalan singakat, yang nantinya akan dilanjutkan dengan diskusi
panjang tentang siapkah Hermes itu, dan lebih penting lagi, tentang
gimana caranya saya bisa memahami segala sesuatu, termasuk juga teks
didalamnya.
Terang saja, seumur hidup aku baru pernah melihat
keakraban romantis seperti malam ini. Ya, aku sering malihat hal yang
sama, tapi yang terjadi bukan sesama teman, melainkan sering terjadi
pada sepasang kekasih yang dihujani asmara, sehingga agak aneh aja
melihat hal semacam ini. Aku harus merubah pandangan ku tentang berpuisi
di malam ini, “Batinku”.
Setelah dipersilahkan duduk dan sedikit basa-basi, Edger barkata, “tradisi
sastra di Negara ini benar-benar lumpuh, banyak kampus sering kerepotan
dengan Fakultas sastranya akibat kurang di gemari calon mahasiswa,
padahal, Sastra yang merupakan bidang termarginalkan di Negeri ini
justru menjadi hal yang luar biasa diminati, seperti Prancis, Jerman,
Iran dan beberapa negara maju lainnya. Coba liat Negara ini, Budaya
Kesusasteraan benar-benar mati, apalagi budaya Membaca…!”, sambil memandang dengan air muka kegelisahan, Edger Melanjutkan, “Baca,
bagi sebagian besar Negeri telah berubah menjadi Hobi Belaka, jadi
kalau bukan hobi, ya, pasti tidak membaca. Apakah kita semua tuli, dan
buta, bahwa BACALAH, seperti tertera dalam surat al Iqra, dan PADA
MULANYA ADALAH KATA, seperti dalam injil, yang juga dijadikan kalimat
pembuka bagi Umberto Eco dalam Novelnya The Name Of The Rose, mesti
dipahami sebagai Seruan dari Tuhan untuk kita harus rajin membaca, jadi
membaca adalah sebuh KEWAJIBAN bukan hobi semata”.
“Baiklah”, celah Afctah memotong keheningan sejenak setelah mendengar sebuah penjelasan yang menurut saya cukup baik dari Hirch, “Hermes adalah salah satu Dewa dari mitology Yunani kuno, apakah anda pernah membaca novelnya, Mary Pope Osborne?”
Nama
pengarang novel yang masih asing bagi bagi telingaku, aku hanya diam
sejenak sembari menunjukan air muka yang menandakan ketidaktahuan, Adger
pun melanjutkan “itu adalah sebuah novel Mitology yang menceitrakan
tentanng kisah seorang pengrajin kayu yang bernama Odesius, yang,
sekaligus juga menjadi raja di pulau Ithaca Yunani Kuno” .
“Apa judulnya?”
“Kisah-kisah Odesei, Negeri orang Mati”, terang Afctah.
“jadi, apa hubungannya dengan hermes?”
“Di dalam novel tersebut, lanjut Afctah, Hermes
adalah anak dari dewa Zeus, raja semua dewa, ada banyak dewa dewi
dengan tugas mereka masing-masing, dan Hermes dalam hal ini adalah Dewa
pembawa pesan bagi manusia,”.
“pesan seperti apa?” Tanya ku.
“Dahlu
kala, sebagaimana cerita dalam mitology yunani kuno, jika ada hal yang
diperbincangkan diantara beberapa orang, atau ada hal-hal yang
diperdebatkan antar kelempok dan, atau bingung dalam mamahami sesuatu,
maka Dewa Hermes biasanya hadir untuk menjelaskan sekaligus memberikan
solusi pada masalah tersebut, jadi, Hermes diasosiasikan dengan fungsi
trnasmisi apa yang ada dibalik pemahaman manusia kedalam bentuk yang
ditangkap oleh intelgensi Manusia”.
“Dalam
agama ku, ada juga hal-hal demikian, bisanaya yang sering kami dengar
adalah Nabi Idris yang hampir mirip dengan cerita anda tadi, bagamana
menurut anda?”
Iya, memang saya pernah dengar hal seperti itu”, Edger melanjutkan,
”. dan ada juga nama yang sama dengan Hermes, dalam Novelnya Justin G.
Dunia Sophie, tapi, Hermes disini adalah seekor anjing, kalau tidak
salah, yang sering membawa pesan dalam bentuk surat buat Shopie. Apakah
anda pernah baca novelnya?
“Ya, saya ingat,.. saya pernah baca’’. Jawab ku
“Tapi ini hanya mitos teman, kilah Edger, “yang nantinya nama Hermes ini akan berhubungan dengan apa yang disebut dengan Hermeneutika”.
“Hermeneutika? Apa itu,? sepertinya pernah saya dengar”, tanyaku
dengan setengah menjongakan kepala ke langit tak berbintang, sebuah
permainan bahasa tubuh yang menandakan aktifitas bawah sadar tuk
mengingat sesuatu kembali.
Malam kian
pekat, sementara gerimis yang digiring oleh udara tipis mulai tampak
dalam seberkas sinar lampu badai disebuah beranda dekat kami bertiga.
Sebuah penanda yang mengharuskan kami untuk segera mengakhiri
pembicaraan itu. Tapi ada hasrat yang mengalir keseluruh jejaring
syarafku, yang menghasilkan rasa ingin tahu lebih lanjut tentang apa
yang barus saja dibicarakan. Akupun menawarkan tempat, warung kopi
disudut jalan, untuk melanjutkan pembicaraan kami tadi, kami bersepakat.
Tanpa menuggu lama, kamipun beranjak kesana.
Suasana warung kopi
agak sepi, terlihat hanya beberapa orang, maklum, kehidupan modern
semakin cepat merubah pandangan manusia pada hal-hal yang serba
mentereng, hingga tempat-tempat tradisonal kadang menjadi pandangan
estetis semata tanpa mecemplungkan diri terlibat dalam “dunia” yang
ditawarkannya. Sampai disini saya jadi teringat akan kata-katanya Sarte
dalam Lets Mots, bahwa, “ketertinggalan dunia modern karena terlalu cepat menerima perubahan”.
Di
jalan, didepan warung, terlihat agak sunyi dari pengendara. Jalanan
yang berlubang membiarkan air tergenag didalamnya, dan jika dibilas roda
kendaraan, desirannya terdengar seperti hentakan langkah militer yang
tengah berbaris. Gerimis bergemericik, sementara dibagain belakang,
sebuah danau buatan membentang, yang luasnya sekitar 200 meter persegi,
ditepi danau, puluhan pohon mangga berdiri tegak (kami bertiga mengambil
tempat kearah danau), dibawahnya terdapat beberpa tempat duduk yang
sengaja dibuat untuk warga sekitar bersantai. Sebuah kondisi yang
menawarkan keheningan sebagai instrument untuk diskusi kami.
Setelah kopi yang kami pesan sudah tersaji, Aftah terlihat memandang kearah danau dan berkata “pemandangan yang begitu puitis, jadi marilah kita berhermeneutik..”, mendengar itu, aku hanya sedikit melebarkan senyum mersepon tawa kecil dari kedua rekan ku itu.
“Hubungan seperti apa antara hermeneutik dan piusi?” Tanyaku yang memecah kebuntuanku
“Ok. Melanjutkan yang tadi” sambil membenarkan letak duduknya, Edger berkata “Hermeneutika
sebagaimana yg kita bicarakan tadi, berasal dari istilah yunani, yakni
dari kata kerja Hermeneuein yang berarti menafsirkan dan kata benda
Hermeneia, interprertasi, yang mengacu pada dewa Hermes itu.
Apakah ia hanya menafsirkan teks semata?”
Oh
bukan, dalam Webster third New International Dictionary, hermeneutika
didefinisikan sebagai sebagai study tentang prinsip metodologis
interpetasi dan eksplanasi; khususnya studi tentang prinsip umum interpretasi bible
;Nah, tulisan, hadir belakangan, budaya lisan yang paling dahulu,
sehingga tugas untuk untuk menafsir bukan hanya teks, tapi juga dalam
bentuk lisan. dari sinilah, menurut Palmer, ia menjadi wawasan pada
karakter dasar interpretasi dalam teology tadi, hukum dan sastra, dan
dalam konteks sekarang ia menjadi keywords hermeneutika modern".
Sampai
disini, aku sudah bisa sedikit memahami tentang hermeneutika yang asal
katanya berasal dari dewa hermes. Namun ada semacam yang tersisa, atau
belum juga puas didalamnya, kemudian bertanya, “semenjak kapan term hermeneutika dipakai sebagai sebuah kaidah penafsiran?. Edger manjawab “mungkin, Aftah bisa jelaskan?, saya lupa kapan itu.
Wanita yang sedang mendunia bersama ponsel itu—apakah sedang mengetik
SMS (short massage service) atau membaca catatan—sedikit mangarahkan
pandangan kearah danau dan permainan bola matanya menandakan kalau ia
sementara mengingat sesuatu dan menjawab “Hermeneutika dalah kata
yang didengar, sebagaimana dibilang Edger tadi, dalam bidang teologi,
filsafat dan sastra; dan ia baru muncul sebagai sebauh gerakan dominan
dalam teology protestan Eropa, yang menyatakan bahwa :hermeneutika
sebagai titik fokus isu-isu teologis.
Namun apa yang kami
bicarakan tadi, nampaknya disimak oleh pria dan teman perempuannya—entah
sepasang kekasih atau bukan—yang duduk bersebelahan dengan kami.
Mungkun tema ini menarik bagi mereka sehingga tanpa menunggu lama,
merekapun mendekat dan meminta bergabung untuk berdiskusi bersama.
Setelah saling mengenalkan diri, wajar saja ketika mereka tertarik
karena mereka berdua mengambil jurusan Sastra. Eko dan Shiva, nama
keduanya yang baru bergabung.
“Kami berdua, dari tadi menyimak apa yang kalian diskusikan, tama menarik yang kurang diminati”.
Eko mengakui. Setelah terlibat dalam perbinacanagn basa-basi sejenak,
kami pun melanjutkan diskusinya, yang diawali dengan sentuhan pertama
Shiva, berupa pertanyaan “apakah hermeneutika hanya untuk menafsirkan teks semata?
Secara garis besarnya sih begitu”, jawab Aftah, yang sementara menghirup hangat minumannya, samabil berkata “namun
mediasi membawa pesan agar dipahami—dari dewa hermes pada
manusia—terkandung dalam tiga bentuk makna dasar (hermeneuein dan
Hermeneia) yakni, hermeneutika sebagai To Say, to Explain dan to Translite”. Sambil melihat kami yang memandang kebingungan, Aftah menambahkan
“disini. Proses Hermes—mitos dewa yang sebagai cikal bakal kata
hermeneutika tadi—berfungsi sebagai ketiga istilah itu yang bisa
mengarah pada pemahaman”. Eko sedikit memandang pasrah kearah
Aftah, entah karana ia masih butuh penjelasan lebih lanjut, kagum-kah
pada keceradasan wanita itu, atau memang kagum pada lesung pipinya Aftah
yang terlihat indah saat ia berintonasi memberikan penjelasan.
“Hermeneutika
seperti dalam Webster, yang dijelaskan edger tadi, kemungkinan besar
tertuju pada Interpretsi bible semata, kemudian saat ini hampir sudah
menjadi kaidah bagi semua displin ilmu. Jadi seperti apa kronologinya
hingga tidak saja pada penafsiran Bible?” Tanya Shiva.
Edger menjawab “Memang
pemahaman awal dari hermeneutika merujuk pada prinsp menginterpretasi
bible, seperti yang diinformasikan dari Buku, Hermeneutika, Prinsp Baru
Mengenai Interpretasi (karangan Richard E. Palmer) bahwa terdapat
justifikasi historis mengenai definisi tersebut, dimana kebutuhan yang
muncul dalam buku-buku yang menginformasikan kaidah eksegesis kitab
suci, seperti di Inggris selanjutnya di Amerika, penggunaan kata
hermeneutika menggikuti arah kecendurungan umum yakni penafsiran bible,
yang dicatatt pertama kali dalam Oxford English Dictionary tahun 1773”,
kalau saya tidak slah ingat, kebutuhan menganenai kaidah itu muncul
ketika reformasi terjadi, dimana lingkungan Protestan merasa sangat
butuh terhadap pedoman interpretasi untuk membantu para pendeta dalam
menafsirkan kitab bible; jeda waktu antara 1720 dan 1820 merupakan masa
tanpa kemunculan buku-buku pedoman hermeneutika baru guna mengarahkan
para pendeta protestan. Nah, disini saya jadi teringat apa yang
dikatakan Schleiermacher, bahwa jika bahasa dalam
bible sama saja dengan bahasa dalam buku selain itu, misalnya sastra,
filsafat, hukum maka, kaidah penafsiran tersebut bisa digunkan terhadap
apa yang saya sebutkan barusan.
Sekarang waktu sudah
menunjukan pukul 22:25 WIT, sebuah waktu yang ideal bagi “anak mami”
untuk sudah harus di rumah; jika tidak ada kegiatan. Langit masih saja
meneteskan butiran airnya diatas jalanan, jika kau melihat, butiran itu
kan jatuh kemudian pecah tercurai diatas aspal kemudain serpihannya
menjadi ratusan tetesan kecil, sehingga jika disinari oleh lampu
kendaraan yang melintas, ia terlihat seperti butiran Kristal yang
tercampak ribuan kemilau warni. Walapun tidak terlalu lebat, kondisi ini
nampaknya menjadi alasan bagi kita untuk tetap melanjutkan diskusi,
sembari menunggu hujan redah. Selanjutya, kami harus rela pulang dengan
basah kuyup karena sampai pagi, hujan tidak juga redah, malah semakin
lebat.
Maaf, bisa diulangi tokoh yang baru anda sebutkan?” tanyaku samabil sambil meletakan selembar kertas diatas meja untuk menulisnya.
“Yang mana”?
“Itu yang barusan tadi”
“Schleiermacher?”
“Iya, siapakah dia dan apakah ia punya alasan untuk itu?”
Nampaknya
diskusi malam itu agak didominasi oleh si Edger, (dominasi adalah
istilah yang kurang saya sukai dalam berdiskusi atau kondisi sosial
keseluruhan, tapi istilah ini saya pakai bermaksud untuk mengatakan
kalau si Edger lebih banyak memberikan penjelasan, jadi kata dominasi
dipahami pada yang terakhir) semantra si Afctah, yang natinya saya
ketahui sama cerdasnya, lebih banyak berkonsentrasi pada HP yang ia
pegang—mungkin sementra berkomunikasi denga keluarganya karena belum
juga berada di rumah, maklum sudah agak larut—dan seskali dia membuka
sebuah buku yang baru ia beli, Madame Boevary, yang
jika kau membacanya akan menimbulkan kebencian pada Emma, isteri dari
tokoh cerita itu, novel klasik Prancis yang dikarang Gustave Flaubert,
konon novel tersebut sebagai cikal-bakal feminisme.
“Dia adalah seorang berkebangsaan jerman” Edger malanjutkan “yang
mengatakan bahwa Hermeneutika—seperti dijelaskan sebelumnya—merupakan
sebuah displin umum hanya sebagai pluralitas dari hermeneutika tertentu,
Bible. Nah , pernyataan ini dia jadikan sebagai
kuliah pembuka Hermeneutikanya sekitar tahu 1819, untuk meletakan bidang
ini sebagai seni pemahaman, tidak hanya bible saja. Menurutnya, Teks
sesungguhnya ada dalam bahasa, karenanya gramatika digunakan untuk
memperoleh makna sebuah kalimat. Hermeneutika seperti inilah yang dapat
digunakan sebagai basis dan anti semua hermeneutika khusus”
Ketika
sedang mencatat hal-hal peting yang dijelaskan edeger tadi, sesekali
aku menangkap pandangan mata antara Afctah dan Edger yang memecah
konsentrasiku atas apa yang pertama ia ucapkan ketika bertemu tadi, dan
apa yang sementara aku catat. Hal yang sama pun terjadi pada Eko dan
Shiva, jika kau lihat, gelombang pandangan mata mereka mirip dengan
Instrumen-nya Bethooven, fur Elis, yang menghasilkan permainan
linguistik bernada kerinduan. Mungkin aku sedang menjadi instrument bagi
hubungan mereka, dimana diskusi malam ini mereka jadikan sebagai momen
untuk bersama hingga larut malam. Tapi itu masih sebatas dugaan.
“Tapi,
ada juga juga beberapa tokoh hermeneutika sebelum Schleiermacher, yang
gagasan-gagasan mereka memberikan sumbangsih padanya kelak”. Afctah melanjtukan, yang bermaksud mengingatkan Edger.
“Iya benar, saya lupa”.
“Yang mana mereka?” Tanya Eko dengan nada tak sabar untuk cepat ia ketahui
“Friedrich Ast (1778-1841 dan Friecrich Agust wolf (1759-1824)”,
yang pertama dikenal sebagai tokoh filology, seperti beberpa karya yang
pernah ia buat; Grundlinien derGramatik, Hermeneutik und Krikt, atau
Basic Elements of Grammar, Hermeneutics and Critisism dan Grundriss der
Philologie atau Outlines of philology. Bagi Ast, tujuan study filologi
adalah untuk menagkap sprit antiquitas,
Antiquitas? Apa maksudnya”, Tanya Shiva mendahului ku yang ingin bertanya hal serupa
Tapi djiawab oleh Aftah yang sementara menyispkan berupa kertas di buku yang ia pegang sebagai batas baca dan menjawab “ antiquitas adalah berupa jaman atau barang-banag purbakala”
sampai disini edger terlihat berdiri menuju ke tempat pemilik warung,
bertanya dimana toilet, kemudian arah mata Afctah sekilas mengikuti
langkah lelaki itu kemudian berbalik dan menjelaskan “yang
diperlukan dalam philology adalah menagkap sprit jaman itu. Makanya,
dalam hal ini, Ast, menawrkan tiga criteria dalam tugas Heremeneutika
melalui pengembangan makna internal dan hubungan bagain-bagain dalam
sebagai suatau keseluruhan. Mislanya, ketika anda membaca sebuah buku,
kemudian bermasud untuk menangkap apa yang dingnkan penulis, maka anda
harus tahu susunan Grammatis seperti apa, dan apa yang dirasakan ketika
seorang pengarang membuat karangannya. Disini tiga atwaran Ast yang
saya katakana yaitu, Historis, Garammatis dan Geistige. Yang pertama,
berupa pemahaman yang terkait dengan isi sebuah karya, baik itu berupa
karya artistic, saintis atau umum, kedua, pemahaman yang terkait dengan
bahasa, sementara yang ketiga, adalah pemahaman karya yang terkait
dengan pemandangan utuh pengarang dan pandanagn utuh geist (masa) itu.
Tiba-tiba,
ponselnya Aftah yang semantara ia pegang berdering—entah merk dan tipe
apa, aku tak tahu, mungkin terlalu banyak merek dan model HP yang
membanjiri pasar domestic hingga membuatku tak tau jenis ponsel seperti
itu— tapi kali ini ia agak bijaksana, tidak menghiruakan panggilan atau
mungkin sms dengan seketika, dan melanjutkan penjelasannya. Setelah
menekan tombol reject ponselnya ia berkata;
"konsepnya
Ast, hampir sama dengan Friedrich Wolf, dimana—menurut Wolf—dia hanya
berbeda pada yang ketiga, yakni Geist. Jadi kalo Ast menawarkan konsep
Historis, Gramatis dan Geistge, maka, Wolf menawarkan Interpretatio Grammatica, Historica dan Philosopica.
Disini yang pertama berkaitan dengan semua hal bahasa yang dapat
membawa kita pada tujuan interpretasi, yang kedua, untuk memperhatikan
tidak hanya dengan fakta-fakta historis, tetapi juga dengan pengetahuan
faktual dari kehidupan pengarang agar dapat mendatangkan pengetahun apa
yang pengarang ketahui. Nah pada yang ketiga dia gunakan sebagai uji
logika dan control terhadap dua level yang lain, Garammatis dan
historis.
“Uji logika seperti apa?”, Shiva bertanya
“Ya,
bagamana mencari relasi atau mengubungkan fakta dari kaidah bahasa
dalam momen waktu tertentu, nah mereka berdua inilah yang kemudian
mempengaruhi Schleiermacher dalam mengembangkan hermeneutika sebagai
seni untuk memahami”.
Sebuah penjelasan yang
cukup panjang dari Afctah, Eko yang di sampingku terlihat serius
mendengar sekaligus menatap wanita yang baru saja mejelaskan, entah
mungkin karena ia simak betulan topik yang dibicarakan, ataukah
memandang bangga si Afctah yang ramai dengan lesung indah dikedua
pipinya jika berbicara, dan jika kau saksikan lebih detail, senyuman
tipisnya lah yang menawrkan permainan translingistik, hingga hidung yang
tak terlalu mancung terlihat menarik sebagai hasil relasi utuh bentuk
wajahnya yang oval. Sementara Shiva yang terlihat serius, kadang
memandang sinis, Eko, ketika lelaki itu menatap Afctah. aku jadi
yakin kalau Sang Dewa Hermes sedang menafsirkan tatapan Eko pada Shiva,
hingga menghasilkan air muka yang tertulis kecemburuan, walau agak samar
bagiku. Dan memang aku juga kadang munafik, mencuri pandangan dengan
perhatian berbeda pada Afctah, tapi itu cepat dikalahkan oleh animos
yang lebih pada thema ini, hermeneutika. Edger kembali dari toilet dan
mengambil posisi bersebelahan dengan Shiva, akupun mencoba mencuri
pandangan sejenak kearah Afctah atas pilihan Edger yang duduk tidak
disampignya lagi, tapi yang terlihat hanyalah kesayupan tatapan. Entah
karena ngatuk atau logika mutasi tuk alihkan perhatian. Aku belum mampu
berhermeneutik tentang merekea, Afctah dan Edger.
“Jadi sudah sampai dimana?” Tanya Edger yang baru saja duduk
“Seni memahami, scheleiermacher? jawab afctah dengan intonasi yang datar.
Sambil memandang edger, aku bertnaya “apakah dengan konsep yang ditawarkan Ast dan Wolf , bisa menajamin kita dalam kemurnia interpretasi?”
“Interpretasi sebuah karangan?”, Tanya Edger balik
“Iya seperti itu”
“hmm….Gimna
ya, banyak sekali pendapat tentang itu, ada yang mengatakan mustahil
mengetahui maksud pengarang, dan ada juga yang optimis, dan
scheiermacher mungkin bagian dari orang optimis itu”.
“Jadi, hal fundamental seperti apa yang ia bicarakan dalam bidang ini?,
Tanya Eko, dan kini giliran Edger tuk menjelaskan, sementara Afctah,
terlihat membuka ponsel dengan wajah sedikit cemberut untk melihat
panggilan atau SMS yang dia reject ketika berbicara.
“Bagi
scheleiermacher yang paling penting untuk memahami pengarang adalah
dengan melakuan dua bentuk Interpretasi, yakni iterpretasi Gramatis dan
interpretasi Psikologis”
“Apakah Garamatis menurut scheleiermacher sama dengan dua pendahulunya tadi?”
“Secara
garis besar, iya. Misalnya, seorang pembicara atau pengarang membentuk
kalimat; pendengar menembus struktur kalimat tersbut dengan pikirannya,
nah dari situ terdapat relasi atau ineraksi, seperti yang saya katakana
tadi. Gramamatis, psikologis. Sehingga ketika anda mendengar atau
membaca kalimat, secara lansung menghasilkan semacam proses mental dalam
diri anda. Nah, relasi inilah yang dinamkan dengan lingkran
hermeneutis”.
“Lingkaran Hermeneutis?”
“Begini
!, pemahaman kita pada dasarnya merupkan tindakan referensial, kita
memahami sesuatu karena mengkomparasikannya dengan sesatu yang telah
kita ketahui, misalnya, ketika kita berbicara tentang semiotika, dan,
diantara kita belum pernah tahu apa yang disebut dengan semiotika,
selanjutnya ketika kebelumtahuan itu dipecahkan dengan membaca atau
berdiskusi, maka kata-kata yang anda pakai untuk memahami itulah sebagai
peoses atau tindakan referensi tadi”.
“Contoh lain misalnya?”, Tanyaku
“Misalnya
dalam sebuah kalimat, kita memahami makna tunggal kalimat dengan
melihat pada bagian-bagiannya, kata-kata yang menyusun kalimat. Secara
bersamaan, kita harus tahu dulu makna setiap kata dalam kalimat itu,
disini opsisi terjadi, namun bukan untuk menegasikan atau membuatnya
berbeda dari kata-kata lain, tapi opsisi yang kemudian disatukan dengan
relasi dialektis antara kata-kata dalam sebuah kalimat, hasil dari
relasi itulah yang melahirkan makna tunggal sebuah kalimat.
Apakah itu merupakan bagain dari interpretasi garamatis? Tanya
Eko sambil memaberikan rokok padaku, sementara Shiva memandang kearah
danau dengan tatapan ringan—padangan yang searah dengn wajah Edger yang
duduk sedikit membelakangi danau—yang mungkin sedang berusaha memahami
apa yang baru dijelaskan. Pandangan Afctah tertuju pada Shiva, kemudian
ekor matanya beralih ke Edger yang sering ditatap Shiva ketika
memandangn lelaki yang didekatnya memberikan penjelasan. Mungkin si
Acftah sedang terlibat dalam penafsiran psikologis, atau juga berada
dalam nuansa complex Oedipus yang tak mau temannya, Edger, ditatap oleh
yang lain, Shiva. Hujan masih saja menerjang.
Edger, yang sedang memegang cangkir kopinya menjawab, “iya
seperti itu, disini, yang grammatis ditempatkan berdasarkan aturan
objektef bahasa, sementara sisi psikologis interpretasi memfokuskan
pada sisi individu yang bicara atau pengarang, nah, menurut
scheleiermacher, karena setiap pembicara memiliki hubungan ganda baik
kepada keutuhan bahasa ataupun kepada pemikiran kolektif pembicara.
Jadi, momen bahasa milik interpretasi gramatis, semantara memahami
merupkan sesuatu yang lahir dari bahasa sebagai sebuah fakta dari
pembicara. Jadi, ada semacam relasi diologis dan transformasi kejiwaan
antara pembicara dan pendengar, atau penulis dan pembaca”.
“Kanyanya agak mirip dengan pandangan Saussure, “kilah ku. Dan, dengan nada yang tak terlalu keras atau desiran air hujan bergemericik yang mengganggu pendengaranku, Aftah menambahkan “iya,
memang agak mirip, setiap kata, dalam pandangan Saussure, mempunyai
pengarauh pada elemen mental kita, atau ketika disebutkan pasti makna
pun terlahir yang kita rasakan secara psikologis. Tapi, dia tidak, atau
memang saya belum baca, berbicara tentang interpretasi ganda seperti
scheleiermacher. Dan yang psikologis ini, kemudian menjadi cari khas
bagi Hermeneutika Wilhelm Dilthey”.
“Namapaknya bukan scheleiermacher saja yang bicara tentang Hermeneutika”, Sangka ku.
“Oh iya, jelas”,
Siapa-siapa saja?”
“Scheleiermacher,
yang semntara kita diskusikan, Wilhelm Dilthey, Martin Heidegger dan
Gadamer, dan ada juga yang lain tapi dari mereka berempat inilah
hermeneutika mendapatkan tampat dalam berbagai disiplin, dan kalau kita
mau berbicara tentang mereka itu, mungkin butuh waktu saminggu, bahkan”.
Mendegar jawaban Afctah tersebut, aku jadi agak nerveous, mungkin ia
sementara menunjukan kalau saatnya untuk bubar, maklum sudah hampir
pukul 12 malam. Atau cepat-cepat pergi dengan alasan lain, mungkin.
Tapi untunglah hujan makin lebat, hingga kita masih bertahan beberapa
saat, para pemilik warung pun memahami keadaan itu, hingga mengurungng
nita mereka untuk menutup warung yang seharusnya ditutup beberapa saat
lalu.
“Kalau Dilthey, apa yang ia bicarakan?” Tanya ku
“Pada
dasaranya diltehy mengembangkan lebih jauh psikologisnya
Schleiermacher, namun disni ia kemudian menamakan metodenya sebagai
Geistwisseschaften. Atau metode ilmu kemanusiaan”.
“Metode yang kayak gimana, apakah berbentuk semacam metode ilmiah?
“Dilthey,
adalah orang yang kemudian mengkritik pemakaian metode ilmiah atau
ilmu-ilmu alam yang diterapkan pada manusia. Menurutnya, manusia bukan
objek yang bisa diteliti dangan anailis matematis, tapi harus dipahami.
Singkatnya, objek sains membuthkan data atau mebutuhkan penjelasan yang
menurutnya agak reduksionis mekanistis, sementara manusia yang dibuthkan
adalah memhami”.
“Bukankah penjelasan merupakan bagian dari dasar Hermeneutika?”
“Memang,
tapi kata itu bagi Ditlhey tidak cocok aja untuk memahami manusia,
penjelasan tidak bisa mendapatkan ekspresi kehidupan batin mansuia..
disini ada nuansa romantic untuk kembali pada hidup itu sendiri”.
“Maksudnya, kembali ke hidup itu sendiri seperti apa?”
“Ada
beberapa pendapat bahwa untuk memahami Dilthey, ataupun Heidegger dan
Gadamer, tak bisa terlepas dari term historisitas. Jadi, untuk memahami
Dilthey, kita harus mengklarifikasi konteks problem dan tujuan utama
yang ia upayakan untuk menemukan suatu basis Geistwisseschaften,
mislanya, bagamana pandangan dia terhadap sejarah, dan, orientasi
hidupnya. Ada hal menarik, bahwa ia menolak segala bentuk metafisis
ketika memahami fenomena kemanusiaan”.
Namapkanya,
Afctah telah memberikan sebuah permainan bahasa tubuh bagi Edger,
kemudian, dan mungkin tak jua dipahami, atau pura-pura tak memahami,
afctah pun berkata “diskusinya mungkin kita akhiri dulu, kalau ada
kesempatan kita kan melanjtukan, sudah terlalu pagi bagi saya untuk
berada dirumah” mendengar itu Shiva dengan senyum tipis, menambahkan “iya betul, nanti kita lanjut lagi”
Hujan masih seperti biasanya, air dijalanan hampir menutupi bahu jalan,
namun kami bersedia setelah membahas sedikit lebih jauh tenatang
Diltehy. Disini, Edger selalu tampil menjelaskan, Afctah, yang
barangkali sudah ngantuk atau memberontak dalam hati akibat semakin
dekat Edger denagn Shiva, sehingga kadang bungkam dalam riabun bahasa
perlawanan, hingga auranya seperti sedang memakan buah-buahan yang
kecut.
Eko, mengakhiri permintaan itu dengan bertanya, “jadi apa yang ciri khas dari Dilthey?”
“Ada
yang menarik juga, seperti saya katakan sebelumnya, bahwa, yang namanya
introspeksi untuk memahami diri kita ia tolak sejak awal tapi hanya
melalui sejarahlah kita menemukan siapa kita. Thus, disni ia mencoba
memberikan beberapa term sebagai formula Hermeneutikannya. yakni,
Pengalaman, Ekspresi dan pemahaman”.
“ilmu
kemanusiaan menurutnya tidak seharusnya memahami kehidupan dalam
terminology kategori ekstrinsik tetapi harus dari kategori instrisik
yang terdapat dalam hidup itu sendiri. Pengalaman hidup harus dilihat
dalam terminology makna, sebab kehidupan adalah pengalaman manusia yang
dikenal dari dalam”.
“Kalo begitu bukankah kita sedang terlibat dalam instrospeksi diri?” Eko bertanya
‘Nah,
menurut Dilthey, ketika kita terlibat dalam mengkuantifikasi
pengalaman, seolah-olah apa yang telah terjadi merupakan sesuatu yang
terpisah dari diri kita saat ini, maka kita sudah berada dalam kaetgori
sains, yaitu penjelasan yang di tolak Dilthey tadi”.
“Apakah term Penjelasan selalu mereduksi atau bersifat mekanis?” Tanyaku.
“Memang, dengan keterbatasanku, saya agak sulit menerima itu, tapi kita harus mengikuti dulu alaur pemikirannya”..
Sambil membenarkan letak jaket ku, aku malanjutkan, “apakah
terminology pengalaman, ekspresi dan pemaghaman punya hal sama, dalam
artian apakah ada yang berbeda dari yang selama ini kita pahami?
“Iya, mungkin saja?
“Seperti
pengalaman, Dilthey menunjuk kata ini yang bahasa jermannya ‘Erfahrung’
dan ‘Erlebnis’, yang pertama menunjuk pada pengalaman bersifat umum.
Diltehy menggunakan kata yang lebih spesifik, Erlebnis yang diturunkan
dari kata kerja Erleben yang dalam habasa Indonesia artinya mengalami
khususnya urusan individual.. thus, pengalaman dalam bahasa jerman sama
dengan kata kerja hidup, suatu bentuk empati yang mensugestuikan
peristiwa hidup lansung yang didapati dalam keseharian”.
“Bisa diberikan semacam gambaran atau contoh?”
“Dalam
pengalaman melukis misalnya, mungkin apa yang mau dilukis mencakup
dengam banyak perjumpaan dengan pengalaman-penglaman lain yang dipsahkan
waktu, namun tetap saja disebut sebagai pengalaman. Atau pengalaman
cinta romantic misalnya, pengalaman cinta ini tidak didasarkan pada
suatu perjumpaan hidup namun secara bersama membeawa peristiwa berbagai
bentuk, waktu dan tempat; disini kesatuan makna sebagai pengalaman
mengangkatnya dari arus kehidupan dan menjadikannya secara bersama-sama
dalam suatu makna yankni pengalaman”.
Shiva, yang
sementra mencatat, mungkin agak kurang memahami—begitupun saya dan
mungkin juga Eko— atau kurang puas dengan penjelasan itu, dan bertanya “
jadi kalau seperti itu apakah ada semacam ruang untuk diri kita untuk
memahami sebuah pengalaman?, apakah sifatnya reflex? Karena menurut saya
kita butuh semacam ruang untuk kemudian memahami pengalaman itu?”
“Pengalaman
adalah kata kunci hermeneutikanya Dilthey; pengalaman tidaklah dibentuk
sebagai sebagai kandungan perlikau kesadaran reflektif, lebih dari itu
ia merupakan perilaku itu sendiri, ia merupakan sikap dimana kita hidup
dan kita lalui, atau ia merupakan sikap yang sementara kita jalani untuk
hidup dimana kita hidup. Tapi, pengalaman bisa disebut sebagai objek
refleksi, namun tidak lagi merupakan pengalaman lansung, tetapi
merupakan objek dari perilaku pertemuan dengan pengalaman lain. Dengan
demikian pengalaman bukanlah tidakan kesadaran manusia, ia bukan bentuk
bentuk sebagai sesuatu dimana kesadaran berlaku dapat memahaminya, jika
pengalaman sebagai sebuah kesadaran maka kita sudah terlibat dalam
pemahaman sains yang dimana kita adalah subjek dan pengalaman adalah
objek, inilah yang tidak diinginkan Diltehy. Jadi, pengalaman tidak
dibedakan dari tindakan memahami dirinya sendiri, ia merepresentasikan
lansung dengan hidup yang kita sebut sebagai pengalaman hidup lansung”.
“Misalnya
Diltehy menegaskan ‘cara bagaimana pengalaman hidup menghadirkan
dirinya kepada saya secara sempurna berbeda dari bagamana citra Nampak
dihadapan saya. Kesadaran pengalaman dan bentuknya dalah sama: tidak ada
pemilahan antara apa yang hadir untuk saya dan apa yang ada dalam
pengalaman hadir untuk saya. Dengan kata lain, pengalaman tidaklah
seperti sebuah objek berhadapan dengan orang yang berpengalaman itu,
namun keberadaanya yang sebenarnya bagi saya tidaklah berbeda dari dari
keberadaan apa yang hadir bag saya dalam pengalaman tersebut’.
“Berarti disini terdapat semacam temporalitas untuk manarik segala bentuk pengalaman pada suatu titik?
“Bukan
semacam, tapi temporalitas konteks hubungan yang ada dalam pengalaman.
Pengalaman bukanlah hal statis; sebaliknya dalam kesatuan maknanya
pengalaman cenderung menjangkau dan meliputi baik relokasi masa lalu dan
antisipasi masa depan dalam konteks makna secara keseluruhan. Seperti
misalnya, makna tidak dapat dibayangkan kecuali dalam term-term apa
yang diharapkan dari masa depan juga tidak dapat dibayangkan lepas dari
ketergantungannya terhadap tradisi masa lalu”.
“Apakah ini yang dinamakan historisitas pemahaman?”
“Ya,
seperti itu, historisitas tidak terfokuskan pada masa lalu saja, namun
historisitas merupakan afirmasi temporalitas pengalaman sebagaimana yang
dijelaskan barusan”.
“Semantara ekspresi yang
dimaksud adalah perasaan. Bagi Dilthey, sebuah ekspresi bukanlah
merupakan pembentukan perasaan namun lebih sebagai ekspresi hidup; disni
sebuah ekspresi mengacu pad ide, hukum, bentuk social, bahasa,
singkatnya segala sesauatu yang merefleksikan produk kehidupan dalam
mansuia.
“Apakah tradisi secara keseluruhan masuk dalam kategori ini?”, Shiva bertanya
“Iya,
kita akan memahami kehidapuan manusia jika kita bisa memahami ekspresi
dalam bagian dari kondisi social secara keseluruhan”
“Lalu, kalau begitu pemahaman seperti apakah menurut Dilthey, apa ia punya term yang juga bebrbeda maknanya?”
Pemahaman
seperti halnya ekpresi dan pengalaman digunakan dalam makna khusus.
Dengan demikian pemahaman tidak mengacu pada pada pemahaman konsepsi
rasional seperi matematika. Pemahaman dipersiapkan untuk menunjuk pada
aktivitas operasional dimana pemikiran memperoleh pemikiran dari orang
lain, karna dari sanalah kita bisa memahami apa yang dinginkan atau apa
yang dirasakan sesorang. Dinisi seperti dikatakan Schleiermacher, ada
semacam transformasi kejiwaan dimana terdapat aktivitas mental yang
bekerja untuk memahami. Dalam pernyataan singkat dari Dilthey, Kita
menjelaskan hakikat; orang yang harus kita pahami, dengan begitu ia
merupakan proses jiwa dimana kita memperluas pengalaman hidup
Nampaknya,
kami berlima yang sementara tenggelam dalam dunia para
dewa—hermes—dikejutkan oleh surah dari Dilthey, bahwa dalam momen
tertentu kata-kata tidak berfungsi sebagai instrument menjelaskan apa
yang kita inginkan, tapi, kita butuh komunikasi kejiawaan dalam
kebungkaman suara untuk salang memahami. Dari sini kami mengakhiri
diskusi itu, walapun hujan masih lebat, kami harus rela dilumuri desiran
hujan tuk basahi jiwa yang kadang diterpa kegersangan.
Sambil
membicarakan tentang Heidegger, Gadamar dan lainnya, Afctah dan Edger
berjani untuk kita lanjukan lagi, sebab masih banyak yang belum
diskusikan terkait dangan Hermeneutika. Kami pun, bertransaksi nomur
kontak tuk permudah komunikasi.
Kami bergegas kearah
beranda, wajah Afctah terlihat cerah, Shiva pun begitu. Sampai disni,
aku masih saja berhemeneutik tuk memahami siapa dan seperti apa mereka
sebenarnya yang tidak aku tanyakan lansung. Mungkin ketika dilumuri
hujan aku bisa mendapatkan bisikan dari Sang Hermes tentang siapa
mereka. Kami pun beranajak pulang kerumah masing-masing…
Memang ‘Kata adalah senjata’ (Subcomandante Marcos), tapi itu saja tak cukup
Butuh “bahasa” sebagai amunisinya, Letusan sebagai intonasinya.
Ketika ketiganya berfungsi dengan baik, musuh mana yang tak takluk padanya?.
(Arie Samal)
Love Paradox
Seperti dalam detik cahaya
Aku merasa terlalu cepat ketakpastian ini berakhir pasti
Langit yang tadinya masih membiru
Berubah kehijauan bak aurora yang tak bisa aku genggam
hanya menyaksikan percikan korona dalam jantung cakrawalamu
Iyah, mungkin dunia terlalu gerah bagimu bak badai meluapkan api?
ooh.. kau layaknya para inkusitor romawi yang mengadopsi struktural sastrawi
membunuh metaforis, meledakan simbolik bekukan maknawi
kata-kataku pun menjadi senjata yang mebunuh diri sendiri.
Seperti pelangi dimana aku mesti sejajar dengan garis spectrum
Hanya merasa atau meyaksikan keindahan
Tapi, eksisitensiku yang mengawang Nampak tak kau basahi
Hingga biasnya matahari hanya menyisakanku yang tampak tanpa warna
Aku mencitaimu tanpa membutuhkan segerombol aksioma
Aku menyayangimu tanpa harus memiliki teorema
Tapi, rasa sudah cukup menjadi tanda dimana kita adalah sama
Mungkin kau masih saja terbelenggu dalam kepastian logos modernitas
Dan mereduksi dirmu menjadi Ada hanya ketika kau bermesra
Atau membagi dirimu diantara para penganut kebebasan setengah hati
Hingga langkahmu kadang terhenti diantara konvensi yang tak kau hasrati
Saat malam hadirkan kubah kebencian
Ia bukanlah akhir dari jejak yang tak terjawab dalam sejarah
Tapi, sebentuk sentiment ilmuan yang terperangkap kekakuan episteme
Entah, mungkin music malam ini terlalu syahdu
Hingga pikirpun berubah menjadi keragauan ala mysterian
Iya,.. aku terlibat dalam memisteriuskan segala tentang kamu
Aku mencintaimu tanpa membutuhkan apapun
Kecuali jika kau bukan lagi misteri
tuk dia yg jauh disana 122829
Aku merasa terlalu cepat ketakpastian ini berakhir pasti
Langit yang tadinya masih membiru
Berubah kehijauan bak aurora yang tak bisa aku genggam
hanya menyaksikan percikan korona dalam jantung cakrawalamu
Iyah, mungkin dunia terlalu gerah bagimu bak badai meluapkan api?
ooh.. kau layaknya para inkusitor romawi yang mengadopsi struktural sastrawi
membunuh metaforis, meledakan simbolik bekukan maknawi
kata-kataku pun menjadi senjata yang mebunuh diri sendiri.
Seperti pelangi dimana aku mesti sejajar dengan garis spectrum
Hanya merasa atau meyaksikan keindahan
Tapi, eksisitensiku yang mengawang Nampak tak kau basahi
Hingga biasnya matahari hanya menyisakanku yang tampak tanpa warna
Aku mencitaimu tanpa membutuhkan segerombol aksioma
Aku menyayangimu tanpa harus memiliki teorema
Tapi, rasa sudah cukup menjadi tanda dimana kita adalah sama
Mungkin kau masih saja terbelenggu dalam kepastian logos modernitas
Dan mereduksi dirmu menjadi Ada hanya ketika kau bermesra
Atau membagi dirimu diantara para penganut kebebasan setengah hati
Hingga langkahmu kadang terhenti diantara konvensi yang tak kau hasrati
Saat malam hadirkan kubah kebencian
Ia bukanlah akhir dari jejak yang tak terjawab dalam sejarah
Tapi, sebentuk sentiment ilmuan yang terperangkap kekakuan episteme
Entah, mungkin music malam ini terlalu syahdu
Hingga pikirpun berubah menjadi keragauan ala mysterian
Iya,.. aku terlibat dalam memisteriuskan segala tentang kamu
Aku mencintaimu tanpa membutuhkan apapun
Kecuali jika kau bukan lagi misteri
tuk dia yg jauh disana 122829
Rabu, 01 Februari 2012
Langganan:
Postingan (Atom)