Sabtu, 23 Maret 2013

Lust for Life: Refleksi Kisah Vincent Van Gogh

Malerish, dalam bahasa Jerman berarti “indah, Permai”. Bentuk dasar dari kata ini adalah Maler yang berarti lukisan. Malerish bisa berarti indah seperti lukisan. Dan sepertinya lukisan menjadi sebuah standarisasi keindahan bagi orang-orang Jerman. Sementara di Indonesia mungkin saja terjadi hanya sebatas lirik lagu yang di populekan oleh Bob Tutupoli “ widuri indah bagai lukisan”. Lukisan memang memiliki khas keindahan tersendiri, itulah sebabnya banyak orang yang rela mengahabiskan miliyaran rupiah untuk membeli sebuah lukisan semata.

Dalam tulisan ini kita tidak membicarakan standarisasi keindahan yang nampaknya semakin kabur dalam dunia seni, tetapi sebagi refleksi bio-miotology atas kisah hidup pelukis ternama sekaligus termahal asal Belanda, Vincent Van Gogh, yang ditulis oleh Iriving Stone dalam Lust for Life, sebuah novel terjemahan yang di terbitkan oleh Serambi dalam versi bahasa, yang terdiri dari delapan Bab dengan ketebalan 574 halaman. Jika anda berserah pada kesetiaan poetika saat membaca novel ini, saya percaya kalau anda bakal masuk dalam kegairahan sastrawi menikmati dan menenggelamkan diri dalam diksi dan plot menggairahkan. Dan inilah novel pertama Irving stone yang sering menulis novel biografis sekaligus menjadi adikaryanya.

Vincent Van Gogh terlahir dalam keluarga kelas menengah, hampir sebagian keluarga besarnya memiliki beberapa salon, galeri yang menjual karya para pelukis ternama, baik berada di London, Prancis dan Belanda tanah kelahirannya. Ayahnya, Theodorus, adalah seorang pendeta, memiliki kepribadian yang kurang begitu diplomatis. Ibunya, Cornelia, adalah seorang Ibu rumah tangga yang sangat menyayangi putra-puterinya. Namun hidup dalam iklim katolik yang taat tidak serta membuat struktur kognitiv seorang Vincent menjadi pribadi yang patuh, taat seperti yang diinginkan Ayahnya. Vincent mengawali karirnya sebagai seorang pramuniaga disebuah galeri keluarganya di London. Disana telah muncul benih pembangkang dengan cara mengomentari setiap pembeli dengan komentar-komentar ekstrensik, yang kadang menyinggung pembeli, yang menurutnya hanya menghamburkan uang pada lukisan yang tak berkualitas

Di London, van Gogh jatuh cinta kepada Ursula, anak semata wayang ibu kostnya. Rasa cinta yang begitu dalam dan tulus kepada Ursula dibalas dengan jawaban mengecewakan akan telah bertunangan gadis itu. Vincent akan meninggalkan London untuk selamanya saat ia menyaksikan pernikahan Ursula bersama tunangannya. Jika anda pernah menyaksikan film The Oxford Murder, sebuah film di awali dengan sejarah penulisan Logico tractacus oleh Witgenstein, yang berkisah tentang penyelidikan kasus pembunuhan dengan menggunakan butterfly effect, fibonaci atau matematika phytagorean dan analisis bahasa Witgenstein untuk menelusuri siapa dalang pembunuhan oleh seorang Profesor dan mahasiswanya. Setelah serangakaian hipotesis telah digambarkan dan ending yang tak bisa ditebak, ternyata yang menjadi penyebab adalah masalah hati. Kekecewaan akibat tidak mendapatkan si buah hati yang menjadi penyebab. Seperti inilah bagian dari awal kekecewaan Vincent dalam memilih melukis sebagai media ekspresi.

Kekecewaan terhadap Ursula membuat seorang van Gogh kembali ke Belanda, dan memutuskan untuk menjadi pendeta, mengikuti jejak Ayahnya. Setelah banyak belajar menjadi Penginjil, Vincent dikirim ke Belgia, tepat di Borinage, sebuah kota penambang yang  dengan masyarakat yang hampir seluruhnya bekerja sebagai penambang batu bara. Ia selalu menyampaikan tentang perlunya hidup sederhana, senantiasa bersabar dan memiliki sifat kerendahan hati dalam menghadapi situasi sesulit apapun. Tetapi dalam menjalani profesi sebagai pengabar Injil itu, dia diliputi dengan pertanyan akan betapa tidak adilnya apa yang dia sampaikan dengan yang dia jalani.

Saat berbicara tentang kesederhanaan, ia mendapati dirinya berada dalam tunjangan yang lebih. Hari-hari demi hari yang dijalani para pekerja dengan serba kekurangan kemudian pakaian dan debu-debu tambang yang menempel tubuh pekerja sangat kontras dengan dirinya yang berada dalam kemewahan Gereja. Sebuah titik klimaks terjadi ketika kecelakaan bawah tanah yang menewaskan beberapa penambang yang membuat tangis histeris para istri dan anak-anak yang kehilangan kepala keluarga, membuat Vincent memberikan semua upahnya bagi isteri para pekerja dan membeli obat bagi yang terserang penyakit, hingga ia terkadang menahan lapar akibat kehabisan uang. Kemudian akibat rasa ingin begitu deket secara emosionalitas dengan dengan jemaatnya yang semuanya buruh penambang, membuat dia harus berpenampilan bak seorang gembel jalanan. Membirakan debu-debu batu bara menempel wajahnya. Akhirnya Vincent adalah seorang peng-Injil berpenapilan gembel, sering menahan lapar, menderita demam yang tinggi, bernasip sama seperti para penambang Borinage yang semakin tersiksa oleh system yang tak adil.

Pihak gereja telah mendengar kabar tentang Vincent dan sangat marah akan perilakunya yang menurut mereka adalah bidah. Pihak gerejapun memecatnya. Diri sinilah kepercayaan Vincent kepada Tuhan lambat laun hilang ditelan kekecewaan. Dimanakah Tuhan? Apakah Dia harus berdiam diri saat masyrakat borinage hidup dalam kelaparan yang menyiksa? Apakah sikapku yang ingin merasakan hal serupa dengan para pekerja adalah dosa yang memalukan?. Dalam kekecewaan dan penderitaannya itulah ia memutuskan diri untuk mengekspresikannya dengan memilih melukis sebagai media pembangkangan  yang nantinya dia jalani dengan kelaparan, penderitaan, ketrsiksaan yang memilukan.

Melukis Suara Hati di Tengah Matahari

“Melukis manusia dan pemandangan alam dalam kehidupan tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang keterampilan tangan dalam melukis tapi membutuhkan pembelajaran yang amat dalam tentang karya sastra. Dan aku tak bisa melukis kepala tanpa tahu apa yang terjadi dalam otak dan jiwa orang itu. dan untuk melukis kehidupan orang-orang tidak harus memahami hanya anatomi semata tetapi juga apa yang dirasakan dan dipikrkannya tentang dunia tempat mereka tinggal”. Inilah sebentuk jawaban Vincent baut Ayah dan Ibunya sekaligus pernyataan akan seluruh kehidupannyuna ia persembahkan untuk melukis.

Melukis baginya adalah sebuah ungkapan terdalam sanubari. Sebuah medium bahasa sebagai tempat pengejewantahan akan rasa tersiksa, penderitaan, kekecewaan akan sestem kehidupan kapitalisme yang menyengsarakan ribuan umat manusia, kekecewaan dan penderitaan akibat dianggapnya sebagai pebid’ah saat ia menjadi peng-Inji, kekecewaan akan cinta tulusnya yang tak dia dapatkan dari Ursula, Kay, Christine dan Aurel. Semunya seperti berkolaborasi membentuk irama kognitiv sebagai pribadi terasing yang dibenci peradaban. Menjadi orang terasing dan penyendiri membuat seorang Vincent memilih alam demi sebagai sahabat sejati tempat ia menuangkan rasa kekesalan. Peradaban telah menjadi   demikan buta dalam melihat ketersiksaan dan ketimpangan hidup yang dialami manusia. 

Iya, Melukis bagi Vincent adalah munjah sang jiwa pada alam. Dia tidak sekedar melukis seperti yang dikatakan Basoeki Abdullah sebagai dramatisasi realitas, tidak seperti Afandi memandang kejadian sebagai titik-titik kreatif, tidak juga seperti Renoir yang mementingkan keindahan warna. Melukis bagi Van Gogh adalah totalitas penyerahan diri, menyatukan emosi pada apa yang dia lukis sehingga dualitas subjek-obejk akan musnah saat memandang lukisan-lukisannya. Memandang lukisannya seolah kita sementara melihat sang pelukis dari jarak yang paling dekat, apa yang kita saksikan dari lukisannya adalah apa yang kita lihat pada diri Vincent.

Melukis bukanlah pula persoalan mereduksi setiap naluri manusia menjadi sekedar pernyataan dalam warna, garis dan nuansa yang abstrak. Namun bagi Van Gogh adalah memperdalam dan menghayati serta mendengarkan emosi yang spesifik sehingga warna, garis dan nuansa bukanlah persoalan pereduksian melainkan sebagai keseluruhan surface structure dan deep structure  sang pelukis, sebuah totalitas ekspresi kedirian. Seperti bahasa dalam term Heideggerian, melukis bagi Van Gogh adalah sebuah keberadaan yang mewajibkan melukis sebagai bagian dari bahasa eksitensial yang mustahil terpisah dari kehidupannya.

Itulah sebabnya ketika melukis matahari, ia membuat orang-orang merasa matahari itu berputar dengan kecepatan orbit yang hebat, menghasilkan gelombang serta partikel sinar dari kekuatan dahsyat. Ketika melukis ladang jagung ia menginginkan orang-orang akan merasakan atom-atom dalam jagung yang mendorong pertumbuhan mereka dan meledak. Melukis apel, ia ingin membuat orang merasakan sari buah apel itu mendesak keluar menembus bijinya. Ketika melukis potret seseorang ia ingin merasakan seluruh aliran kehidupan orang itu. ketika ia melukis petani yang sedang bekerja di ladang, ia ingin merasakan bagaimana petani itu mengalir dan menyatu dengan tanah, seperti yang terjadi pada lukisan jagungnya, dan tanah itu mengalir naik ke tubuh petani. Dia seperti ingin agar matahari tercurah pada petani, pada ladang, pada jagung, bajak, dan kuda sebagaimana mereka tercurah kembali kepada matahari. Memandang lukisannya seperti merasakan irama universal dimana segala sesuatu bergerak dalam hubungan kesatuan irama kehidupan.

Kegilaan yang menggetarkan Kanvas

“Tak satupun jiwa hebat yang terbebas dari kombinasi kegilaan”. Itulah pernyataan Aristotels yang jika tidak dipahami secara psikonalitik membuat kita terjebak dalam perpektif kegilaan sebagai sebuah penyakit yang sering diketawi peradaban. Kegilaan  bagi masyrakat modern semakin lama semakin terstirgma dan bernada konotasi buruk, dianggap sebagai sesuatu yang memalukan, berbahaya dan bisa mengancam keselamatan orang lain. Konsekuensinya orang yang dituduh memiliki kelainan jiwa selalu di jebloskan ke dalam tahanan rumah sakit jiwa yang semakin membuat orang-orang didalamnya menjadi tidak waras.

Para jenius seperti Alkesander Blok, Edgar Alan Poe, Mauppasant, Dickinson, Dante, Tolstoy, Nietszche dan masih banyak lagi jenius lainnya yang mengalami hal serupa, di judge oleh dunia kesehatan dan nomarmalitas modern sebagai kelainan jiwa yang mesti obati. Marquis De sade dalam The Quils, dengan kejeniusan disksinya mesti mendekam dan menulis di rumah sakit jiwa. John Nash dalam Beautiful Mind dijebloskan ke ruamh sakit jiwa, akibat delusi yang di alami. Delusi yang membuatnya, dalam film itu, mampu menciptakan teori dinamika penggerak dalam metematika yang meruntuhkan ekonomi modern Adam Smith yang pula menurutnya tak membawa kesejahteraan dan kedamaian bagi umat manusia. Sayangnya kita tak punya banyak halaman untuk membicarakan kegilaan sebagaimana dictum Aristotelses diatas, jadi saya hanya menyarankan untuk kita semua membuka kembali Devine Madness, Skestsa Biografis Sastrawan Gila yang ditulis oelh T. Wibowo, yang mungkin bisa sedikit membantu memahami term kegilaan dimaksud yang menurut saya sangat keliru di anggap sebagai penyakit kelainan jiwa oleh medis modern.

Hal serupa pula melanda Vincent Van Gogh, kecenderungan untuk menyendiri kemudian pribadi yang keras kepala, penampilan yang menyerupai gembel jalanan, jalan berfikir yang berbeda dengan mayoritas membuat dia dijauhi dan dituduh sebagai orang gila. Setelah diberhentikan sebagai peng-Injil, Vincent sering pergi ke bukit agar bisa memandang para pekerja dengan beragam aktifitas mereka, membuat sketsa para penemabang dengan irama emosi yang semakin menggila. Berhari-hari di Borinage ia jalani seperti itu, menumpahkan kekesalan dan tenggelam dalam emosi para penambang untuk menemukan karakter dan perasaan dan penderitaan terdalam para burh.  Walapun sketsa yang dia gambar, pada awalnya masih kurang sempurna dan banyak mendapatkan kritik, tapi dengan semangat dan emosi yang menggebu dia selalu mencoba dan mencoba, hingga membuat Theo, adiknya rela menysihkan sebagian pendapatannaya untuk membeli peralatan lukisan serta penopang perutnya selama sepuluh tahun.

Menumpahkan kekesalan, menarik diri tenggelam dalam pesona natural alam membuatnya merasa seperti berada dalam kebebasan. Ketika di Paris, saat melukis matahari, ia tak bisa mengambil posisi ditempat yang teduh, melainkan dengan membiarkan tubuhnya yang tanpa menutup kepala dialiri oleh partikel matahari yang mencekit, seolah mendamba lapisan-lapisan Ozon melepaskan nuklir dari inti matahari membakar tubuhnya dengan  semangatnya yang menderu. Ketika melukis pemandangan ladang yang sering di bombardier angin mistral, sejenis badai, ia pun harus rela di hempaskan oleh sapaun angin yang begitu kencang, membiarkan diri terbawa bersama goresan-goresan impresifnya. Iya, dia membirakan angin mistral mengahamtanya, langit malam yang kelam mencekitnya, bunga-bunga matahari mencabuk imajinasi hingga ke titik ledak. Ketika semangatnya meningkat, ia kehilangan selera makan, merasa kerasan hingga kelemahan tubuhnya tak ia sadarkan sediktipun.

Sifat hiprsensitif yang begitu tinggi terhadap kehidupan dan alam yang benar-benar memabukan, akhirnya menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Epilepsy menyerang dirinya, halusinasi sering menghatui dirinya hingga dengan ketaksadaran, ia memotong telinganya untuk di persembahkan  buat Aurel, seorang gundik belia yang pernah dia dekati. Kemudian sifatnya yang semakin tempramen yang sering membuatnya meyerang rekan-rekannya dan sebagai konsekuensinya dia  harus di rehabilitasi di St. Remy, rumah sakit jiwa. Dan di tempat itu pula seorang Vincent mengakhiri hidupnya dengan mengontak platuk revolver menyarang proyektil pada kepalanya. 

Itulah Vincent Van Gogh, yang dalam dirinya tersimpan energy pemberontakan. Walaupun di Paris ia selalu bertemu dengan para pelukis ternama seperti Cezanne, Gauguin, Eduardo Manet, Degas, Renoir, Calude Monet, Sisley, Courbet, Lautrect dan Seurat, tapi Impresivitas Van Gogh memiliki karakter tersendiri. Karakter lukisan yang jika dilihat membuat semesta berpadu dalam kesataun irama universal dengan sang pelihat. Lukisannya menjadi termahal yang melewati rekor dunia saat ia telah tiada. Itulah Van Gogh, yang melukis bukan demi uang tapi sebagai ekspresi diri yang abadi yang merupakan kekuatan pula kemauan terbesar  hanya untuk mencipta dan mencipta.

3 komentar:

  1. Kegilaan membuatnya berkarya ya. Hebat, tapi sayang bila yang berkarya "tak sadar diri". Ttg John Nash, ia menderita split personality, bukan gila (skizofrenia). jaman dulu memang orang mengira sama split personality (kepribadiannya terpecah2) dengan gila, padahal tidak.

    Selain pernah nonton film Beautiful Mind, saya pernah baca 3 buku ttg orang2 yang memililik kasus split personality, persis seperti John Nash ini, bahkan ada yang kepribadiannya terpecah menjadi 24. Wah, jadi ndak nyambung dengan Van Gogh ya :)

    Ttg tulisan saya yang kita' komentari di blog saya, itu percakapan saya dengan anak perempuan saya yang berusia 6,5. Memang bercakap dengan dia seperti itu, orang bilang gaya beruturnya "daeng toa" sekali :D

    Oya, barangkali minat daftar, saya baca http://makassarwritersfestival.com sedang cari penulis dari Indonesia Timur, ndak daftar ki'?

    BalasHapus
  2. split presonality adalah adlah hal yang pasti terjadi pada setiap orang, entah itu waras dan juga "gila".. split ini terjadi kerena adanya Lack akan Liyan (baca: Lacan)yang memacu hasrat baik narsistik maupun anaklitik sebagai (dis)posisi dalam mengidentifikasi/inkorporasi diri...

    soal kepribadian terpecah bahkan sampai 1000 pun bisa. kediaran adalah ketdakstbilan dinamis yang selalu berubah. jhon mengalami skizofrenik yg nda bisa bedakan mana nyata dan mana bukan.. ini bukan gila, tapi bagian dari struktur bahasa ketaksadarn yg mengontrol tindakan..

    terkait berkarya hingga tak sadar diri adlah pernyataan keliru.. yg mana sebenarnya yg realistis? alam sadar, tak sadar ataukah keduanya?.. saya pikir ada latar hermeneutik agar sindrom kematian pengarangnya Barthes bisa lebih menghidupi penulis atau tokoh.. ups.. bayak penulis modern yang takut akan kegilaan (baca Devine Madness), sehingga kesetiaan poetika jauh dari sentuhan kata, pada akhirnya karya mereka dangkal tak mutu, mati di laci perpus...

    terkait komenku di bloggta sy ingin katakan kalau teks itu liar, konsep kematian pengarang adalah ikhtiat untuk selalu menghidupi pengarang yang sesuai dgn cluster, kata Luna Vidya, pembaca.. jadi dlam tulisaanta yg sy komen cuman krn cluster atau geist sy tdak menemukan diskursus keibuan didalamnya.. tidak ada bahasa tubuh anak yg tampil dalam imajinasi linguitik, sementara anak dgn umur 6,5 itu penuh dengan pertanyaan2 yang memusingkan orang dewasa..sy jadi ingat Jostein G. Anak adalah filosof yg penuh dgn tanya... sementara dalam tulisnta terkesan sdh seumur usia SMP/SMA,, salam kenal Mba....

    BalasHapus