Siapa yang bisa
mendengar dan memahami derita dalam puisi?.
Tidak. Tidak ada yang
bisa memahami selain kesunyian,
maka pada kesunyian
kukabarkan luka-derita.
Nampaknya telah menjadi takdir yang tak terhiraukan dimana penyair
selalu berada dalam gelisah abadi. Sebanyak syair yang ia lantunkan, sebanyak
itu pula gundah melegenda menggetarkan setiap kata hingga tak seorangpun bisa
memahami makna empunya kata. Ataukah benar pula jika ada yang mengatakan penyair adalah dikutuk nasib, menyusur gelap, menyisir khilaf, berteman setan,
kekecewaan, terasing dan sunyi. Namun tak ada pretensi apapun untuk membanggakan
dan menyatakn diri ini sebagai penyair
yang sesungguhnya masih jauh terbentang. Ini hanyal secuil getar, mendesir rona terdalam dengan tampilan
osilasi akan emosionalitas yang akibat kepakan sayap kekupu dapat melahirkan
chaos, badai samudera yang membuat setiap nelayan gentar menembus kebiruan.
Tetapi mestikah semesta selalu dalam keangkuhan akan tak dihiraukannya
kata-kata? Jika puisi adalah sebuah langkah menuju ketakterbatasan apakah ia
mesti selalu dikurung dalam terali rumah sakit jiwa?. Puisi adalah satu dengan
sang empunya. Ia adalah guratan-guratan gundah hati yang mencoba tampil dengan
kata-kata sebagai senar menggetrakan yang selalu menghasilkan nada-nada sendu,
kematian, kehancuran dan kegilaan. Puisi adalah organ hati tempat salah adalah
dosa dan kebenaran adalah keindahan, puisi adalah pembuluh darah untuk
menghidupi mikrokosmik tuk selalu mendesah nafas kebebasan. Puisi adalah darah
yang didonorkan pada derita-derita yang dicipta manusia modern. Puisi adalah
teropong semesta untuk melihat kehidupan manusia kini, yang sesungguhnya telah
berubah menjadi pembunuh tanpa hati, penindas tanpa nurani dan jika diteropong
lebih dekat semakin terlihat manusia sebagai
binatang buas yang gemar memangsa kedaiaman, keindahan pula kebenaran. Kehidupan
yang semakin keras telah pula melanda
puisi menjadi ilusi badani. Puisi telah termarjinalkan oleh hati-hati culas
yang tak pernah tersentuh ruang permenungan.
***
Kini “suara hati” yang merupakan inpirasi “puisi” telah menyerah pada
kecongkakan dunia yang tuli. Dia seolah seperti para mualim kapal pesiar yang
tak pernah tahu akan gunung es yang porandakan titanic. Sementara aku tetap
dalam deirita melegenda, tangis histeris, tawa luka. Oh, kau seperti Mario
Teguh yang gampang menghipnotis orang-orang kaya dengan kata bijak murahannya. Sementara
puisi dan hati tak kau semaikan lengkapi langkah yang jarang mendengar jiwa
terdalam kehidupan yang selalu merana.
Hari demi hari badai kekupu semakin terasa. Tangis histeris semakin
mengemis pada gerimis yang tak lagi membasahi jiwa suci. kehidupan yang
kujalani adalah figura yang sesungguhnya bukanlah aku yang terlukis. Bukan,
bukan aku yang berada disana sebagai pengidap bahagia. Puisi tak lahir dari
bahagia. Puisi tak lahir tanpa derita. Puisi adalah pemberontakan abadi dengan
suara hati membawa diri menuju ketakterbatasan. Tapi jika kepakan sayap kekupu
tak lagi mengepakan samudera kebiruan diriku, maka aku akan meminang Kaffka,
meminjam metamorfosanya, merubah kekupu menjadi burung Phoenix yang dirindukan Fariduddin Attar, yang rela mati terbakar demi
hidup abadi dengan debu tubuhnya yang nantinya melahirkan kembali sayap baru
tanpa mengenal belati yang dihunuskan kekupu pada puisi. Izinkanlah aku wahai
pemilik musyawarah burung-burung untuk menyatu dalam kicauan Ketunggalanmu. Sebab
aku membenci belati yang menikam puisi saat derita ku alami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar