Sabtu, 16 Maret 2013

Hanya Sunyi yang Memahami


Siapa yang bisa mendengar dan memahami derita dalam puisi?.
Tidak. Tidak ada yang bisa memahami selain kesunyian,
maka pada kesunyian kukabarkan luka-derita.

Nampaknya telah menjadi takdir yang tak terhiraukan dimana penyair selalu berada dalam gelisah abadi. Sebanyak syair yang ia lantunkan, sebanyak itu pula gundah melegenda menggetarkan setiap kata hingga tak seorangpun bisa memahami makna empunya kata. Ataukah benar pula jika ada yang mengatakan penyair adalah dikutuk nasib, menyusur gelap, menyisir khilaf, berteman setan, kekecewaan, terasing dan sunyi. Namun tak ada pretensi apapun untuk membanggakan dan menyatakn diri ini sebagai  penyair yang sesungguhnya masih jauh terbentang. Ini hanyal secuil  getar, mendesir rona terdalam dengan tampilan osilasi akan emosionalitas yang akibat kepakan sayap kekupu dapat melahirkan chaos, badai samudera yang membuat setiap nelayan gentar menembus kebiruan.

Tetapi mestikah semesta selalu dalam keangkuhan akan tak dihiraukannya kata-kata? Jika puisi adalah sebuah langkah menuju ketakterbatasan apakah ia mesti selalu dikurung dalam terali rumah sakit jiwa?. Puisi adalah satu dengan sang empunya. Ia adalah guratan-guratan gundah hati yang mencoba tampil dengan kata-kata sebagai senar menggetrakan yang selalu menghasilkan nada-nada sendu, kematian, kehancuran dan kegilaan. Puisi adalah organ hati tempat salah adalah dosa dan kebenaran adalah keindahan, puisi adalah pembuluh darah untuk menghidupi mikrokosmik tuk selalu mendesah nafas kebebasan. Puisi adalah darah yang didonorkan pada derita-derita yang dicipta manusia modern. Puisi adalah teropong semesta untuk melihat kehidupan manusia kini, yang sesungguhnya telah berubah menjadi pembunuh tanpa hati, penindas tanpa nurani dan jika diteropong lebih dekat semakin terlihat  manusia sebagai binatang buas yang gemar memangsa kedaiaman, keindahan pula kebenaran. Kehidupan  yang semakin keras telah pula melanda puisi menjadi ilusi badani. Puisi telah termarjinalkan oleh hati-hati culas yang tak pernah tersentuh ruang permenungan.

***

Kini “suara hati” yang merupakan inpirasi “puisi” telah menyerah pada kecongkakan dunia yang tuli. Dia seolah seperti para mualim kapal pesiar yang tak pernah tahu akan gunung es yang porandakan titanic. Sementara aku tetap dalam deirita melegenda, tangis histeris, tawa luka. Oh, kau seperti Mario Teguh yang gampang menghipnotis orang-orang kaya dengan kata bijak murahannya. Sementara puisi dan hati tak kau semaikan lengkapi langkah yang jarang mendengar jiwa terdalam kehidupan yang selalu merana.

Hari demi hari badai kekupu semakin terasa. Tangis histeris semakin mengemis pada gerimis yang tak lagi membasahi jiwa suci. kehidupan yang kujalani adalah figura yang sesungguhnya bukanlah aku yang terlukis. Bukan, bukan aku yang berada disana sebagai pengidap bahagia. Puisi tak lahir dari bahagia. Puisi tak lahir tanpa derita. Puisi adalah pemberontakan abadi dengan suara hati membawa diri menuju ketakterbatasan. Tapi jika kepakan sayap kekupu tak lagi mengepakan samudera kebiruan diriku, maka aku akan meminang Kaffka, meminjam metamorfosanya, merubah kekupu menjadi burung Phoenix yang dirindukan Fariduddin Attar, yang rela mati terbakar demi hidup abadi dengan debu tubuhnya yang nantinya melahirkan kembali sayap baru tanpa mengenal belati yang dihunuskan kekupu pada puisi. Izinkanlah aku wahai pemilik musyawarah burung-burung untuk menyatu dalam kicauan Ketunggalanmu. Sebab aku membenci belati yang menikam puisi saat derita ku alami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar