Tak ada yang mengerikan, menyaksikan diri sendiri di bungkam dalam
jeruji-jeruji patriarkis, dituduh bersalah kemudian di hukum tanpa memberikan
terdakwa kesempatan untuk membela diri. Iya, semuanya terasa menyiksa sang jiwa
dan teraniaya oleh ketidakmengertian kosntan, kebutaan mengerikan, ketulian
kronis. Dadaku seperti sepetak tambak yang hari demi hari kekeruhan air tak
pernah berubah warna selain lumpur tebal kecoklatan. Jika lumpur pasti menyerah
pada ketengann air yang sesegera datangkan kejernihan. Tapi, dalam lautan
dadaku seperti ada ikan-ikan buas yang haus mangsa dengan bebas. Terus, dan
terus porandakan kekeruahn air sehingga yang terlihat hanyalah erangan ombak
tak menentu sebagai bias akan dada yang tak lagi lapang.
Mata kepalaku seperti tersengat listrik, terkena imbas gejolak dada. Tak
ada air mata mengembang apalagi mengalir. Mata menjadi panas, kepala seperti
dipukul beban berat. Oh, ku tak sanggup menatap sehat hidupku yang memang tak
sehat. Music dan orchestra menarik yang sering ku dengar berubah irama menjadi
bising, yang jika terdengar hanya menimbulkan erangan menjemukan, memuakan
telinga dalam, dan akhirnya, pemutar music adalah sasaran displacement.
Tak ada yang mengerti apalagi pahami. Komentar-komentar busuk yang
berbau moralitas dan realitas bodoh selalu saja menghapiriku. Mereka seperti
dokter akademis kaku yang selalu salah dalam mendiognosa satwa. Sementara aku
yang semakin parah, sekarat tak dipandang sebagai sebuah tindak malpraktik yang
keji. Tak ada yang bisa mendengar gelombang dalam lautan dadaku yang telah
tumpah meruah, membanjiri setiap selokan pembuluh darah, mendesirkan badai
kemarahan dalam nadiku. Tak ada udara tipis menyegarkan melintasi masuk dalam
jejaring syarfku selain badai menyakiti. Oh, leherku mengidap radang mematikan,
menyumbat ribuan kata yang harusnya mengalir, terkurung dalam rongga dada yang
sesak, sumpek dan apabila kemarahan semakin menjadi, kata berubah diri menjadi
pasak menusuk dadaku, porandakan sum-sum dan tulang-belungku, menyengat bagai
sendi tengkorak terkena listrik.
Panggil, panggilah para dokter bodoh-bodoh itu. bedah-lah aku menjadi yang lain,
injeksilah kadar solipsistic yang lebih, jika bisa ubahlah wajahku yang telah
lama kehilangan senyum ceria. Dan biarkan jiwa ku dicabik-cabik oleh
burung-burung ababil penyuka bangkai. Sebab aku tak bisa hidup dalam dunia
dimana Ada-ku tidak berada disana. Separuh jiwaku telah terbelah, terhisap
senja, ditelan bukit, menyinggahi tubuh sang Abadi. Hati meringis pilu melihat
sebagian jiwaku meringkik sedih, menderita, melihat jiwaku selalu
memanggil-manggil ke-Abadian. Aku membenci Kebahagiaan instan ini yang membuat
air mata Senja Kemerahan kan jatuh tanpa bibirku yang mesti menelan manis-pahit
hidup dalam menenun kata, merangkai abadi. Oh Rotasi Bumi, aku akan kembali. Bukan
memutar balik waktu melainkan berubah menjadi hujan mengairi arsy dimana
hidupku bakal Abadi. (Seribu air mata)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar