Kamis, 21 Maret 2013

Kecamuk Dada

Tak ada yang mengerikan, menyaksikan diri sendiri di bungkam dalam jeruji-jeruji patriarkis, dituduh bersalah kemudian di hukum tanpa memberikan terdakwa kesempatan untuk membela diri. Iya, semuanya terasa menyiksa sang jiwa dan teraniaya oleh ketidakmengertian kosntan, kebutaan mengerikan, ketulian kronis. Dadaku seperti sepetak tambak yang hari demi hari kekeruhan air tak pernah berubah warna selain lumpur tebal kecoklatan. Jika lumpur pasti menyerah pada ketengann air yang sesegera datangkan kejernihan. Tapi, dalam lautan dadaku seperti ada ikan-ikan buas yang haus mangsa dengan bebas. Terus, dan terus porandakan kekeruahn air sehingga yang terlihat hanyalah erangan ombak tak menentu sebagai bias akan dada yang tak lagi lapang.

Mata kepalaku seperti tersengat listrik, terkena imbas gejolak dada. Tak ada air mata mengembang apalagi mengalir. Mata menjadi panas, kepala seperti dipukul beban berat. Oh, ku tak sanggup menatap sehat hidupku yang memang tak sehat. Music dan orchestra menarik yang sering ku dengar berubah irama menjadi bising, yang jika terdengar hanya menimbulkan erangan menjemukan, memuakan telinga dalam, dan akhirnya, pemutar music adalah sasaran displacement.

Tak ada yang mengerti apalagi pahami. Komentar-komentar busuk yang berbau moralitas dan realitas bodoh selalu saja menghapiriku. Mereka seperti dokter akademis kaku yang selalu salah dalam mendiognosa satwa. Sementara aku yang semakin parah, sekarat tak dipandang sebagai sebuah tindak malpraktik yang keji. Tak ada yang bisa mendengar gelombang dalam lautan dadaku yang telah tumpah meruah, membanjiri setiap selokan pembuluh darah, mendesirkan badai kemarahan dalam nadiku. Tak ada udara tipis menyegarkan melintasi masuk dalam jejaring syarfku selain badai menyakiti. Oh, leherku mengidap radang mematikan, menyumbat ribuan kata yang harusnya mengalir, terkurung dalam rongga dada yang sesak, sumpek dan apabila kemarahan semakin menjadi, kata berubah diri menjadi pasak menusuk dadaku, porandakan sum-sum dan tulang-belungku, menyengat bagai sendi tengkorak terkena listrik. 

Panggil, panggilah para dokter bodoh-bodoh  itu. bedah-lah aku menjadi yang lain, injeksilah kadar solipsistic yang lebih, jika bisa ubahlah wajahku yang telah lama kehilangan senyum ceria. Dan biarkan jiwa ku dicabik-cabik oleh burung-burung ababil penyuka bangkai. Sebab aku tak bisa hidup dalam dunia dimana Ada-ku tidak berada disana. Separuh jiwaku telah terbelah, terhisap senja, ditelan bukit, menyinggahi tubuh sang Abadi. Hati meringis pilu melihat sebagian jiwaku meringkik sedih, menderita, melihat jiwaku selalu memanggil-manggil ke-Abadian. Aku membenci Kebahagiaan instan ini yang membuat air mata Senja Kemerahan kan jatuh tanpa bibirku yang mesti menelan manis-pahit hidup dalam menenun kata, merangkai abadi. Oh Rotasi Bumi, aku akan kembali. Bukan memutar balik waktu melainkan berubah menjadi hujan mengairi arsy dimana hidupku bakal Abadi. (Seribu air mata)  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar