Minggu, 10 Maret 2013

Tiada lagi senja di Pagi yang Cerah


Tiada lagi senja dipagi yang cerah
Embun-embun semakin mengeringkan dahaga kerinduan
Menjadi bara menggeletarkan sum-sum, tulang belulang
Mendesirkan darah Alzheimer yang siap tumpah, meruah.
Bunga-bunga mawar tak lagi menusuk kalbu dengan durinya
Buatkan langkah melaju menuju gundah yang tak patut menjadi legenda.
Jika kemarin  kebencian adalah sejenis bunga kerinduan
Kini kerinduan adalah penderitaan tanpa sapa
   Kebencianpun berubah menjadi dirinya sendiri
Menjadi sebongkah bara neraka yang harus aku hindari

Tiada lagi senja di pagi yang cerah
Bait demi bait secercah abadi berubah belati, menyakiti
Menikam semesta dada dengan cara tanpa sapaan menyuam
Kata-kata pun adalah boomerang
Menusuk kalbuku dengan rintihan hujan
   Membanjiri memoriku
Menghapus semua makna akan penemuan dalam kata
Menghanyutkan abadi dalam ronsokan sampah borjuis

Tiada lagi senja dipukul lima
Ada tangis histeris mengemis duka
Aku mencintai penderitaan puitik agar gila semakin menjadi…
Tapi  normalitas kehidupan modern lebih dia cintai
O malam..hanyutkanlah jiwaku dalam kubangan tiada tepi
Pekatkanlah kubah kebencian yang membakar dadaku
Selimutilah… selimutilah jiwaku menjadi hitam menikam
Jadikanlah kataku menjadi pahalawan tuk mendamba lupa
 Seperti kubah malam
Seperti itulah benciku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar