Tiada lagi senja dipagi yang cerah
Embun-embun semakin mengeringkan dahaga kerinduan
Menjadi bara menggeletarkan sum-sum, tulang
belulang
Mendesirkan darah Alzheimer yang siap tumpah,
meruah.
Bunga-bunga mawar tak lagi menusuk kalbu
dengan durinya
Buatkan langkah melaju menuju gundah yang
tak patut menjadi legenda.
Jika kemarin
kebencian adalah sejenis bunga kerinduan
Kini kerinduan adalah penderitaan tanpa sapa
Kebencianpun berubah menjadi dirinya sendiri
Menjadi sebongkah bara neraka yang harus aku
hindari
Tiada lagi senja di pagi yang cerah
Bait demi bait secercah abadi berubah
belati, menyakiti
Menikam semesta dada dengan cara tanpa
sapaan menyuam
Kata-kata pun adalah boomerang
Menusuk kalbuku dengan rintihan hujan
Membanjiri memoriku
Menghapus semua makna akan penemuan dalam
kata
Menghanyutkan abadi dalam ronsokan sampah
borjuis
Tiada lagi senja dipukul lima
Ada tangis histeris mengemis duka
Aku mencintai penderitaan puitik agar gila
semakin menjadi…
Tapi
normalitas kehidupan modern lebih dia cintai
O malam..hanyutkanlah jiwaku dalam kubangan
tiada tepi
Pekatkanlah kubah kebencian yang membakar
dadaku
Selimutilah… selimutilah jiwaku menjadi
hitam menikam
Jadikanlah kataku menjadi pahalawan tuk
mendamba lupa
Seperti kubah malam
Seperti itulah benciku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar