Senin, 01 April 2013

Puisi Terakhir


Seperti tanah basah dilanda kemarau panjang
Aku tak merasa diriku telah menjadi patahan-patahan yang lapuk
Tumbang terseret beliung walau tak sederuh badai yang menginjak
Tulang-belulang ku diremukkan percik halilintar berwajah kasih arsy
Tawaku disobek dari seraut pipit yang kian kerontang
Ialah penyeab  mata tak sadari bening basahi gersangnya jiwa

Hei kalian… aku begitu bodoh memaksa orang-orang waras menjadi gila
Buta melihat senyum yang semata rangkain selaput kulit tak ber-hawa
Mendamba rima menjadi melati dalam tarian kosmik tang tak pantas menari
   mengikuti ritmis alam yang harmonis
Tapi, kewarasan masih menjadi pilihan tindakan pula tulisan
Tawa mengkalpa dari guratan-guratan dawai nan maknawi
Melati berganti belati menusuk asa tanpa ampun
Merobek dinding kejenuhan konstan bak vampire haus darah

Apakah aku adalah bid’ah yang dijauhi gereja?
Apakah merubah absolutis Newton kosmik adalah canda gelimang dosa?
Oh, kau terlalu nista manarik hasta mati Galileo
Seolah kau adalah matahari pusat setiap cermin
Takut akan cerita de Sade
      yang mati diatas kaisah-kisah mesumnya yang terlalu kudus

senja kemarin menawari sebilah kisah
ialah kasih yang tak patut melegenda dalam dada..
pula faktisitasku seperti jatuh bergelimang dina
tapi akulah “kebenaran” yang mencitai layaknya Halaj mati terbunuh.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar