Mungkin agak sedikit berbeda dengan apa yang dialami
seorang John Horgan, salah seorang kritikus sastra Amerika yang hijrah dari
kebiasaan sebagai kritikus menjadi seorang penulis ilmu pengetahuan. Di dalam karyanya
The End of Science, ia mengaku kalau pada awalanya dunia sastra adalah suatu
kebiasaan yang menyenangkan dimana semantic kata atau kalimat bisa menjadi
jargon bagi seorang kritikus tuk berbicara tentang apapun. Kata yang polisemik
seolah menjadi permainan bagi seorang kritkus sastra tuk mencari jejak dari
sebuah tanda yang mungkin tiada akhir. Namun menurutnya, ternyata menulis
tentang ilmu pengetahuan jauh lebih menyenangkan; membiarkan diri larut dalam
kemisterusan semesta ketimbang menjadi seorang kritkus sastra.
Horgan
tampaknya lupa bagaimana sastra bisa menadi instrument imajinatif bagi Einstein.
Menulis sastra bagiku memiliki kesenangan tersendiri, dan kesenagan ini
bukanlah membakukan makna dalam sebuah karya seperti determinasi dalam
pengertian Hirsch dengan otonomy semantiknya, melainkan masuk dalam permaianan
tanda yang tiada habisnya. Jika Max Plank berkata “kita tak pernah bisa
memecahkan misteri alam raya karena pada dasarnya kita juga adalah misterius”,
tidak mesti dipahami sebagai menyerahnya pengetahuan pada mistisisme, melainkan
sebagai penanda pada pikiran kita yang tak terlepas dari potensinya untuk selalu
bertanya sampai kapanpun. Jadi, seandainya saya berkesempatan bertemu Horgan,
kalimat pertama yang ingin saya sampaikan yaitu jika Bohr berkata “saatnya
biology mengadopsi gagasan fisika kuantum”, maka sastra pun harus seperti itu, sebagai pencarian makna tak berkesudahan atas
misteri dibalik sebuah tanda. Disini, saya agak berani menyimpulakn bahwa
difference-nya Derrida (baca of Gramatology) mungkin memiliki nilai yang analog
dengan atom partikelir. Tanpa sadar, Horgan sedang melanjutkan kebiasaannya
sebagai kritikus sastra dimana menulis ilmu pengetahuan sebagai “objek”
kajiannya.
Sains,
sebagaimana pikiran kita, selalu membuka ruang bagi pertanyaan pertanyaan baru
yang tak berksudahan baik itu dalam cosmology, fisikia, kimia, biology,
sociology dan disiplin ilmu lainnya. Curt Godel dengan teori ketidaklengkapan
matematikanya kemudian Heisenberg dengan teori ketidakpastian adalah tanda
dimana semesta menyimpan sesuatu yang mungkin mustahil bagi pikiran kita untuk
dipecahkan. Tapi sekali lagi apa yang mereka katakan, bagiku, adalah disposisi
terhadap usaha yang selalu mencari dan mencari sebab dibalik suatu tanda.
Dalam
The Tao of Physics bagaimana Capra menggambarkan Fisika modern adalah konsep
atau paradigma yang didalamnya analog dengan gagasan-gagasan dari mistisisme
timur Seperti Hindu, budaha, Zen ataupun Tao. Dalam mistisime timur dianjurkan
agar segala sesuatu harus dilihat sebagai substansi yang berkesinambungan yang
lahir dari suatu permenungan atau yang kita kenal dengan meditasi. Hal ini
sudah barang tentu menjadi landasan bagiku yang disiplin keilmuan bukan pada
ranah fisika, cosmology, astronomi dan lainnya yang selalu dipahami dalam ruang
laboraturium, tetapi dalam tulisan ini yang inspirasi utamanya pada apa yang
diaktakan Einstein bahwa Imagination More Important than knowledge, yakni
sekedar menggunakan imaginasi yang tentunya tak lepas dari apa yang telah
dibaca dari gagagsan para ilmuan, untuk berbicara seputar semesta dalam
pengertian totalias (baca Holistik). Hawaking adalah orang mungkin tidak
percaya akan big bang sebagai awal terciptanya semesta dari ketiadaan. Alih-alih
"tiada waktu" sebelum Dentuman Besar, Hawking mengajukan konsep
"waktu imajiner". Menurutnya, hanya ada selang waktu imajiner 1043
detik sebelum Dentuman Besar terjadi dan waktu "nyata" terbentuk
setelah itu. Disini hawking pun berspekulasi, mengimajinasikan apa yang ada
sebelum big bang. Hal yang sama juga terjadi dalam pikiran, seorang ahli
biology perkembangan Amerika, Francis Crick yang beralih dari double helix atau
struktur ganda DNA menjadi peneliti seputar pikiran mengtakan bahwa kesadaran
tak lebih dari interaksi visual yang berhubunagn dengan jejaring syaraf, namun
pertanyaan seputar apa peyebab relasi syaraf dengan molekuler tak jua
mendapatkan jawaban memuasakan. Kesadaran atau pikiran masih menyisakan misteri
bagi para ilmuan biology maupun psikology.
***
Sama
sekali tak ada pretensi akademis untuk mengatakan tatanan kosmos masih
menyisakan sebuah misteri ataupun memiliki sifat yang paradox. Hal ini hanya
merupakan sebuah refleksi atas apa yang disimpulkan oleh para ilmuan terutama
fisikawan setelah Einstein datang dengan relaivitas umumnya, kemudian bagaimana
menyatukan gagasan ruang waktu dengan mekanika kuantum. Pertanyaan yang
terbesar yang sering saya jumpai baik dalam fisika maupun teology adalah apa
bentuk semesta ini saat sebelum Big bang?, itu jika orang yang percaya akan
semesta diawali sedangn ledakan, kemudian apakah semesta ini abadi jika
dipahami dalam osilasi semeseta-nya Hawking?. (Hal ini mengingkan saya akan
perdebatan antara Ghazali dengan Ibnu Rusid tentang apakah semesta dari
ketiadaan atau ada bersama Tuhan itu sendiri?).
Cosmology
sebagaimana yang diketahui adalah kata yang berasal dari Yunani, kosmos,
digunakan oleh Phytagoras untuk menggambarkan keselarasan dan keteraturan akan
benda-benda langit. Kata cosmology disini akan sama seperti yang digunakan oleh
Muratha, seorang jepang pengkaji karya Ibnu Arabi, Isteri dari W. Chittick,
yang mendeskripsikan tatanan cosmology tidak hanya dalam pengertian Phytagoras,
melainkan lebih pada deskripsi Platonian dimana struktur kosmos memiliki nilai
yang analog dengan apa yang terdapat dalam jiwa raga kita sebagai manusia (air,
api, tanah dan udara). Jadi dalam hal ini seperti phytagiroras, makrokosmos,
alam semesta yang bisa dilihat secara fisis, dan mikrokosmos tidak hanya pada atom partikulir, tetapi juga pada manusia
yang menurut Arabi sebagai minikosmos.
Jika
kita membaca tradisi mistisime timur
terutama dalam ajaran budha dan hindu, akan kita saksikan bagaimana pendangan
dunia dilihat sebagai totalitas jagad raya. Antara manusia, alam hewan dan
tumubuhan sama-sama berada dalam suatu hubungan kompleks yang saling
mempengaruhi (baca Pencenayangan Tao) . Dalam mistisime timur, apa yang kita
saksikan dalam tataran makro bukanlah semesta yang sebenarnya, hal ini
nampaknya menjadi landasan bagi fisika kuantum dimana partikel-partikel subatomic
memiliki perilaku yang sangat berbeda dengan yang kita saksikan para tataran
makro. Nah, sifat paradox inilah yang menjadi acuan dalam tuisan ini, yaitu
memahami cosmology sebagai totalitas semesta.
***
Pada
tahun 1916, Albert Einstein mempublikasikan teori Relativitas Umumnya yang
terkenal. Teori ini memberi dunia sebuah cara yang benar-benar baru dalam
memandang alam semesta. Einstein mempostulatkan bahwa ruang dan waktu adalah
ordinat dalam sistem ko-ordinat yang sama. Lebih jauh ia mengatakan bahwa ruang-waktu ini melengkung dengan kehadiran materi (baca
Gravitasi).
Einstein
mendasarkan geometri untuk ruang-waktu-nya pada struktur geometris ruang-waktu
milik Riemann. Riemann adalah orang pertama yang mengatakan di depan umum bahwa
ada kemungkinan alam semesta terbatas dan tak terbatas dengan memperlakukan
ruang sebagai manifold three di permukaan
sebuah hypersphere. Einstein giat untuk
menjaga teorinya cocok dengan observasi-observasi pada waktu itu. Pada 1917,
galaksi Bimasakti (galaksi kita) teramati sebagai alam semesta utuh (dengan
serangkaian instrumen pada masa itu) yang tidak mengembang atau menyusut.
Karena teori Einstein memprediksikan alam semesta dinamis, sementara pemikiran
bahwa kita hidup di alam semesta statis begitu kuat, Einstein merevisi RU untuk
memasukkan sebuah Konstanta Kosmologis
untuk memperoleh alam semesta statis
namun relativistis. Namun teori-teori yang lebih baru menghidupkan kembali
konstanta ini untuk memperkenalkan gaya anti-gravitasi jarak
jauh (long range) guna menjelaskan perluasan
jarak jauh di alam semesta.
Konstanta kosmologis —penemuan
Albert Einstein yang menurutnya adalah sebuah keblunderan terbesarnya—mungkin saja
dapat menjelaskan perubahan laju perluasan alam semesta (Baca Superstring). Inflasi
semesta atau semesta yang mengembang seolah memaksa para teoritikus untuk lebih
lagi dan membenarkan adanya anti gravitasi antar galaksi. Suatu keanehan saat
kehadiran masa/materi dengan energy gravitasinya mestinya menyebakan ruang
waktu melengkung, namun para fisikawan dibuat tercengang tatkala Edwin P.
Hubble mendemonstrasikan bahwa galaksi-galaksi jauh sedang saling bergerak berpisah
seolah seluruh kosmos menggembung secara seragam. Gerakan menjauh ini
dinetralkan oleh gravitasi kolektif gugus-gugus galaksi dan semua planet,
bintang, gas, dan debu yang dikandungnya. Dalam istilah geometris yang
dianjurkan Einstein kepada para kosmolog, alam semesta kelihatannya “flat”.
Iya
seperti penapat M. Krauss dalam Saintific American, kita seperti hidup di alam semesta flat, sebuah
keseimbangan kekuatan yang sempurna yang merupakan salah satu prediksi teori
inflasi standar, mempostulatkan sebuah awal perluasan pesat untuk merekonsiliasi
beberapa paradoks dalam rumusan konvensional big bang. Walaupun
kandungan tampak kosmos tidak cukup menjadikan alam semesta flat seperti yang
dibayangkan Einstein sebelumnya, dinamika angkasa mengindikasikan bahwa ada
jauh lebih banyak materi daripada yang kita ketahui. Sebagian besar material di
galaksi dan kumpulan galaksi pasti tak terlihat oleh teleskop. Tapi banyak
bukti kini mengimplikasikan bahwa materi tak tampak pun tidaklah cukup untuk
menghasilkan alam semesta flat. Jika begitu, konstituen utamanya bukanlah
materi tak tampak, dark matter, atau
radiasi. Malah, alam semesta pasti tersusun sebagian besar dari bentuk energi
yang lebih halus lagi yang menempati ruang hampa, termasuk yang berada di depan
mata kita.
Jika kerja gravitasi adalah untuk melngkungkan ruang waktu,
maka galaksi-galaksi haruslah saling mendekat satu sama lain. Tapi yang terjadi
seperti dalam pengamatan Huble adalah sebalinknya. Iya Energy yang lebih halus,
entah merupakan sebuah spekulasi teoritik untuk secera sementara menenagkan
para fisikwan atas ketidkmampuan teleskop untuk mendeteksi energy aneh ini, ataukah
kemungkian teoritik yang diajukan untuk kemudian mencari persamaan-persamaan
dalam mewjudkan kebenaran akan adanya energy misterius yang sebagai penyebab
galaksi saling menjauh?.
Waullahualam...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar