Rabu, 20 Maret 2013

Paradox Kosmology (Gambaran Singkat)



Mungkin agak sedikit berbeda dengan apa yang dialami seorang John Horgan, salah seorang kritikus sastra Amerika yang hijrah dari kebiasaan sebagai kritikus menjadi seorang penulis ilmu pengetahuan. Di dalam karyanya The End of Science, ia mengaku kalau pada awalanya dunia sastra adalah suatu kebiasaan yang menyenangkan dimana semantic kata atau kalimat bisa menjadi jargon bagi seorang kritikus tuk berbicara tentang apapun. Kata yang polisemik seolah menjadi permainan bagi seorang kritkus sastra tuk mencari jejak dari sebuah tanda yang mungkin tiada akhir. Namun menurutnya, ternyata menulis tentang ilmu pengetahuan jauh lebih menyenangkan; membiarkan diri larut dalam kemisterusan semesta ketimbang menjadi seorang kritkus sastra.

Horgan tampaknya lupa bagaimana sastra bisa menadi instrument imajinatif bagi Einstein. Menulis sastra bagiku memiliki kesenangan tersendiri, dan kesenagan ini bukanlah membakukan makna dalam sebuah karya seperti determinasi dalam pengertian Hirsch dengan otonomy semantiknya, melainkan masuk dalam permaianan tanda yang tiada habisnya. Jika Max Plank berkata “kita tak pernah bisa memecahkan misteri alam raya karena pada dasarnya kita juga adalah misterius”, tidak mesti dipahami sebagai menyerahnya pengetahuan pada mistisisme, melainkan sebagai penanda pada pikiran kita yang tak terlepas dari potensinya untuk selalu bertanya sampai kapanpun. Jadi, seandainya saya berkesempatan bertemu Horgan, kalimat pertama yang ingin saya sampaikan yaitu jika Bohr berkata “saatnya biology mengadopsi gagasan fisika kuantum”, maka sastra pun harus seperti itu,  sebagai pencarian makna tak berkesudahan atas misteri dibalik sebuah tanda. Disini, saya agak berani menyimpulakn bahwa difference-nya Derrida (baca of Gramatology) mungkin memiliki nilai yang analog dengan atom partikelir. Tanpa sadar, Horgan sedang melanjutkan kebiasaannya sebagai kritikus sastra dimana menulis ilmu pengetahuan sebagai “objek” kajiannya.

Sains, sebagaimana pikiran kita, selalu membuka ruang bagi pertanyaan pertanyaan baru yang tak berksudahan baik itu dalam cosmology, fisikia, kimia, biology, sociology dan disiplin ilmu lainnya. Curt Godel dengan teori ketidaklengkapan matematikanya kemudian Heisenberg dengan teori ketidakpastian adalah tanda dimana semesta menyimpan sesuatu yang mungkin mustahil bagi pikiran kita untuk dipecahkan. Tapi sekali lagi apa yang mereka katakan, bagiku, adalah disposisi terhadap usaha yang selalu mencari dan mencari sebab dibalik suatu tanda.

Dalam The Tao of Physics bagaimana Capra menggambarkan Fisika modern adalah konsep atau paradigma yang didalamnya analog dengan gagasan-gagasan dari mistisisme timur Seperti Hindu, budaha, Zen ataupun Tao. Dalam mistisime timur dianjurkan agar segala sesuatu harus dilihat sebagai substansi yang berkesinambungan yang lahir dari suatu permenungan atau yang kita kenal dengan meditasi. Hal ini sudah barang tentu menjadi landasan bagiku yang disiplin keilmuan bukan pada ranah fisika, cosmology, astronomi dan lainnya yang selalu dipahami dalam ruang laboraturium, tetapi dalam tulisan ini yang inspirasi utamanya pada apa yang diaktakan Einstein bahwa Imagination More Important than knowledge, yakni sekedar menggunakan imaginasi yang tentunya tak lepas dari apa yang telah dibaca dari gagagsan para ilmuan, untuk berbicara seputar semesta dalam pengertian totalias (baca Holistik). Hawaking adalah orang mungkin tidak percaya akan big bang sebagai awal terciptanya semesta dari ketiadaan. Alih-alih "tiada waktu" sebelum Dentuman Besar, Hawking mengajukan konsep "waktu imajiner". Menurutnya, hanya ada selang waktu imajiner 1043 detik sebelum Dentuman Besar terjadi dan waktu "nyata" terbentuk setelah itu. Disini hawking pun berspekulasi, mengimajinasikan apa yang ada sebelum big bang. Hal yang sama juga terjadi dalam pikiran, seorang ahli biology perkembangan Amerika, Francis Crick yang beralih dari double helix atau struktur ganda DNA menjadi peneliti seputar pikiran mengtakan bahwa kesadaran tak lebih dari interaksi visual yang berhubunagn dengan jejaring syaraf, namun pertanyaan seputar apa peyebab relasi syaraf dengan molekuler tak jua mendapatkan jawaban memuasakan. Kesadaran atau pikiran masih menyisakan misteri bagi para ilmuan biology maupun psikology.


***

Sama sekali tak ada pretensi akademis untuk mengatakan tatanan kosmos masih menyisakan sebuah misteri ataupun memiliki sifat yang paradox. Hal ini hanya merupakan sebuah refleksi atas apa yang disimpulkan oleh para ilmuan terutama fisikawan setelah Einstein datang dengan relaivitas umumnya, kemudian bagaimana menyatukan gagasan ruang waktu dengan mekanika kuantum. Pertanyaan yang terbesar yang sering saya jumpai baik dalam fisika maupun teology adalah apa bentuk semesta ini saat sebelum Big bang?, itu jika orang yang percaya akan semesta diawali sedangn ledakan, kemudian apakah semesta ini abadi jika dipahami dalam osilasi semeseta-nya Hawking?. (Hal ini mengingkan saya akan perdebatan antara Ghazali dengan Ibnu Rusid tentang apakah semesta dari ketiadaan atau ada bersama Tuhan itu sendiri?).

Cosmology sebagaimana yang diketahui adalah kata yang berasal dari Yunani, kosmos, digunakan oleh Phytagoras untuk menggambarkan keselarasan dan keteraturan akan benda-benda langit. Kata cosmology disini akan sama seperti yang digunakan oleh Muratha, seorang jepang pengkaji karya Ibnu Arabi, Isteri dari W. Chittick, yang mendeskripsikan tatanan cosmology tidak hanya dalam pengertian Phytagoras, melainkan lebih pada deskripsi Platonian dimana struktur kosmos memiliki nilai yang analog dengan apa yang terdapat dalam jiwa raga kita sebagai manusia (air, api, tanah dan udara). Jadi dalam hal ini seperti phytagiroras, makrokosmos, alam semesta yang bisa dilihat secara fisis, dan mikrokosmos tidak hanya  pada atom partikulir, tetapi juga pada manusia yang menurut Arabi sebagai minikosmos.

Jika kita membaca tradisi  mistisime timur terutama dalam ajaran budha dan hindu, akan kita saksikan bagaimana pendangan dunia dilihat sebagai totalitas jagad raya. Antara manusia, alam hewan dan tumubuhan sama-sama berada dalam suatu hubungan kompleks yang saling mempengaruhi (baca Pencenayangan Tao) . Dalam mistisime timur, apa yang kita saksikan dalam tataran makro bukanlah semesta yang sebenarnya, hal ini nampaknya menjadi landasan bagi fisika kuantum dimana partikel-partikel subatomic memiliki perilaku yang sangat berbeda dengan yang kita saksikan para tataran makro. Nah, sifat paradox inilah yang menjadi acuan dalam tuisan ini, yaitu memahami cosmology sebagai totalitas semesta.

***

Pada tahun 1916, Albert Einstein mempublikasikan teori Relativitas Umumnya yang terkenal. Teori ini memberi dunia sebuah cara yang benar-benar baru dalam memandang alam semesta. Einstein mempostulatkan bahwa ruang dan waktu adalah ordinat dalam sistem ko-ordinat yang sama. Lebih jauh ia mengatakan bahwa ruang-waktu ini melengkung dengan kehadiran materi (baca Gravitasi).

Einstein mendasarkan geometri untuk ruang-waktu-nya pada struktur geometris ruang-waktu milik Riemann. Riemann adalah orang pertama yang mengatakan di depan umum bahwa ada kemungkinan alam semesta terbatas dan tak terbatas dengan memperlakukan ruang sebagai manifold three di permukaan sebuah hypersphere. Einstein giat untuk menjaga teorinya cocok dengan observasi-observasi pada waktu itu. Pada 1917, galaksi Bimasakti (galaksi kita) teramati sebagai alam semesta utuh (dengan serangkaian instrumen pada masa itu) yang tidak mengembang atau menyusut. Karena teori Einstein memprediksikan alam semesta dinamis, sementara pemikiran bahwa kita hidup di alam semesta statis begitu kuat, Einstein merevisi RU untuk memasukkan sebuah Konstanta Kosmologis  untuk memperoleh alam semesta statis namun relativistis. Namun teori-teori yang lebih baru menghidupkan kembali konstanta ini untuk memperkenalkan gaya anti-gravitasi jarak jauh (long range) guna menjelaskan perluasan jarak jauh di alam semesta.

Konstanta kosmologis —penemuan Albert Einstein yang menurutnya adalah sebuah keblunderan terbesarnya—mungkin saja dapat menjelaskan perubahan laju perluasan alam semesta (Baca Superstring). Inflasi semesta atau semesta yang mengembang seolah memaksa para teoritikus untuk lebih lagi dan membenarkan adanya anti gravitasi antar galaksi. Suatu keanehan saat kehadiran masa/materi dengan energy gravitasinya mestinya menyebakan ruang waktu melengkung, namun para fisikawan dibuat tercengang tatkala Edwin P. Hubble mendemonstrasikan bahwa galaksi-galaksi jauh sedang saling bergerak berpisah seolah seluruh kosmos menggembung secara seragam. Gerakan menjauh ini dinetralkan oleh gravitasi kolektif gugus-gugus galaksi dan semua planet, bintang, gas, dan debu yang dikandungnya. Dalam istilah geometris yang dianjurkan Einstein kepada para kosmolog, alam semesta kelihatannya “flat”.

Iya seperti penapat M. Krauss dalam Saintific American, kita seperti  hidup di alam semesta flat, sebuah keseimbangan kekuatan yang sempurna yang merupakan salah satu prediksi teori inflasi standar, mempostulatkan sebuah  awal perluasan pesat untuk merekonsiliasi beberapa paradoks dalam rumusan konvensional big bang. Walaupun kandungan tampak kosmos tidak cukup menjadikan alam semesta flat seperti yang dibayangkan Einstein sebelumnya, dinamika angkasa mengindikasikan bahwa ada jauh lebih banyak materi daripada yang kita ketahui. Sebagian besar material di galaksi dan kumpulan galaksi pasti tak terlihat oleh teleskop. Tapi banyak bukti kini mengimplikasikan bahwa materi tak tampak pun tidaklah cukup untuk menghasilkan alam semesta flat. Jika begitu, konstituen utamanya bukanlah materi tak tampak, dark matter, atau radiasi. Malah, alam semesta pasti tersusun sebagian besar dari bentuk energi yang lebih halus lagi yang menempati ruang hampa, termasuk yang berada di depan mata kita.

Jika kerja gravitasi adalah untuk melngkungkan ruang waktu, maka galaksi-galaksi haruslah saling mendekat satu sama lain. Tapi yang terjadi seperti dalam pengamatan Huble adalah sebalinknya. Iya Energy yang lebih halus, entah merupakan sebuah spekulasi teoritik untuk secera sementara menenagkan para fisikwan atas ketidkmampuan teleskop untuk mendeteksi energy aneh ini, ataukah kemungkian teoritik yang diajukan untuk kemudian mencari persamaan-persamaan dalam mewjudkan kebenaran akan adanya energy misterius yang sebagai penyebab galaksi saling menjauh?. 

Waullahualam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar