Ada perasaan jijik saat membaca awal kisah dalam novel ini.
cerita-ceirta yang di bumbuhi dengan adegan-adegan nafsu kebinatangan sebagai main idea karya mereka. Tak pelak lagi, tema seksualitas
kadang menjadi hal menarik untuk
diperbincangkan. Akrobatik seksualitas yang dalam dunia sastra inilah yang
menyebabkan perdebatan sengit yang terjadi antara Cathrine bandle dan Gadis
Arivia, atau sebagai katalis bagi para kritikus dalam mengkritik novel-novel
yang berbau porno atau dalam konfensi luas sebagai hal yang tabu.
Dalam tulisan ini saya tidak
bermaksud untuk membuat pilihan berada pada cluster mana saya, tetapi lebih
sebagai ulasan atas cerita dalam novel tersebut. Olehnya itu saya butuh semacam
perangkat analisa untuk melihat dan menelisik dari beberpa sisi terkait dengan
watak, laku dan peran para tokoh protagonist yang di gambarkan oleh Zola.
Pertama-tama yang saya gunakan adalah perangkat psikoanalisa, baik itu dari
persfektif Freud maupun muridnya, Jacques Lacan untuk membaca mental dan
semacam ganggun neurotic terutama yang terjadi pada Therese dan Laurent.
Sebelum memulai, dan sebagai
bagian dari perkenalan hermeneutic, terlebih dahulu saya akan membincangkan
sedikit tentang sang pengarang Therese Raquin, Emile Zola. Lahir di Paris, 2 april 1840 – meninggal
di Paris, 29 September 1902 pada umur 62 tahun,
adalah seorang penulis prancis
berpengaruh. Ia adalah tokoh penting aliran naturalisme
dalam sastra Prancis dan tokoh terkemuka dalam liberalisasi politik di Prancis. Émile
Zola menulis surat berpengaruh: J'accuse (Aku Menuduh)
saat Peristiwa Dreyfus, menyoroti pengadilan atas
dakwaan spionase terhadap Alfred Dreyfus, seorang perwira Yahudi Prancis yang tak bersalah. Surat itu diterbitkan di surat kabar
yang dimiliki presiden Prancis saat itu, L'Aurore pada tanggal 13 januari 1898 Zola memperlihatkan
dalam suratnya, pendapatnya akan rasa terluka, dalam tulisannya. Ia dibawa ke
penjara akibat tuduhan pemfitnahan atas tulisannya itu, namun alih-alih ke
tahanan, ia lari ke Inggris, dan baru diizinkan kembali untuk melihat pemerintahan
jatuh. Ia meninggal akibat keracunan karbon monoksida dari cerobong asap yang
ditutupi di rumahnya.
Semacam Kronology
Saya hanya menyajikan point-poin
penting yang kemudian dijadikan sumber untuk mengulas isi dari novel ini. Mme
Raquin adalah penjual peralatan menjahit dari Vernon. Dia seorang janda
yang semenjak kematian suaminya membuat dia hidup merawat putera semata
wayangnya, Camile. Mme Raquain sangat mencintai puteranya yang selama lima
belas tahun dengan perjuangan keras dan kasih sayang berusaha menyembuhkan
Camile yang sakit-sakitan dan menderita semenjak masa kanak-kanaknya. Ketika
Camile tumbuh Dewasa, ia masih diperlakukan oleh sang Ibu dengan menjaga
layaknya seorang bayi. Terperangkap dalam pelukan kasih sayang. Ketika berumur
dua pulah empat tahun, penyakitnya masih saja menghantui tubuhnya yang kurus,
kejang-kejang dan berbagai macam komplikasi penyakit yang selalu menyakiti
tubuh tak berdaya itu.
Therese adalah sepupu camile,
anak dari Kapten Digens, sadara laki-laki dari Mme Raquin. Setelah meninggal
ibunya, Therese di rawat oleh Mme Raquin dengan limpahan kasih sayang yang sama
dengan yang diberikan kepada Camile. Akibat kondisi kesehatan Camile yang
semenjak kanak-kanak penuh dengan berbagai macam penyakit, ia harus terus
mengkonsumsi obat-obat setiap hari hingga tubuhnya bau seperti gudang obat
dalam sebuah apotik, begitu pula kamarnya yang pengap yang jarang disinari matahari.
Entah scenario atau cerita apa
yang dilantukan oleh Mme Raquin sehingga Therese yang sejatinya dalam kondisi sehat
dan tak membutuhkan obat-obat pun terlibat dalam kondisi sama, dimana ia
diharus mengkonsumsi obat-obatan yang sama seperti Camile. Tapi kemudian dalam
kesadararan Therese, ia menjalani semua itu untuk menenangkan hati Mme Raquin
sebagai tindak balas jasa atas dirinya yang telah memberikan buah kasih sayang
seperti ibu kandungnya sendiri. Camile pasti tersenyum bahagia jika Therese
ikut menelan pil pahit yang menjengkelkan itu. tawa riang Camile saat melihat
Therese mengkonsumsi obat bersamanya itulah yang jadi alasan agar kondisi
psikis Camile bisa membaik saat memandang senyum bahagia yang sesungguhnya
penuh dengan drama ketidakikhlasan.
Dalam menjalani kehiduapan yang
penuh dengan limpahan kasih dan sandiwara balas jasa di Apartemen kumuh du
Pont-Neuf, paris itulah muncul keputusan dari Mme raquin untuk menikahakan
Therese dengan Camila. Mereka bukan saja menyerah kekuasaan matriarkis yang
digawangi Mme Raquin, tetapi terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Setelah
menjadi seorang seorang Isteri, Therese menjalani hidup dengan sikap penurut
dan sabar yang luar biasa. Sementara Camile bekerja sebagai pegawai di
perusahan kereta api Orleans, kemudian menunjukan sikap yang tak ada bedanya
seperti mereka belum menikah. Dengan wajah yang jarang mengguratkan senyum
bahagia, therese menjadi seorang Isteri sekaligus pelayan dengan alam bawah
sadar pemberontkan dan kebencian luar biasa terhadap suaminya. Ia ingin sekali
keluar dari jeratan membelenggu tersebut, tapi dalam kebencian itu terselip
sebuah rasa manusiawi terhadap Mme raquin, rasa membalas jasa atas telah
dirawatnya semenjak kecil, yang membuatnya tetap mempertahnkan lakon menantu
bertopeng penurut berhati liar, memberontak.
Hari demi hari mereka jalani
sebgaimana biasanya. Monoton. Mme Raquin sibuk dengan penjualan barang jahitnya
yang dibantu oleh Therese, sementara Camile sibuk bekerja. Pada malam hari,
setiap kamis mereka didatangi tamu untuk bermain kartu. Mme Raquin dan
Camile begitu antusias dan bersikap penuh responsive terhadap tamu-tamu mereka.
Sementara Therese, dengan semangat akan kebenciannya terhadap hidupnya menunjukan
sikap yang begitu dingin, apatis yang membuat hati suaminya kadang tak
menyenangkan. Therese dalam sepanjang hidupnya bersama lelaki itu, masih saja
harus berhadapan dengan dunia obat-obatan. Kamar mereka pengap, bau obat
menyengat, yang secara fisiologis mempengaruhi tubuhnya. Hari-harinya datar, dingin,
semacam tidak ada stimulant apapun yang bisa membuat wajahnya mengguratkan
senyum bahagia. Dia hanya bisa pasrah dan sabar dalam kebencian menjalani hidup
yang menurutnya mungkin sudah menjadi takdir untuk di hadapi. Kebutuhan
biologisnya terhalang, yang entah mungkin karena tidak ada responnya sendiri ataukah
karena Camile dengan kondisi sakit-sakitan yang jadi penyebab.
Angin perubahan datang saat
Camile pulang kerja membawa teman kerjanya, Laurent, dan memperkenalkannya pada
Therese dan Mme Raquin. Laurent, walupun masih amatiran, senang melukis. Dan
saat ketika dia melukis Camile di kamar keluarga, Laurent menagkap tatapan
Therese, memandang pelukis itu dengan tatapan penuh selidik, yang nantinya dan akan
membuat Laurent lebih sering datang dan disitulah jalan menjadi terbuka baginya
untuk menyelingkuhi Therese.
Saat di tempat kerja, Laurent
mencari-cari alasan untuk pulang lebih awal. Ketika diijinkan, Ia pulang
menuju rumah Mme Raquin. Melewati pintu samping, kemduian naik ke lantai dua. Disana, di dalam kamar, Therese sudah menunggunya dengan nafas yang tak lagi
seimbang. Sementara Mma Raquin di lantai dasar, melayani pembeli-pembelinya.
Beberapa minggu Laurent selalu pulang lebih awal, hasrat liar dan serbuan ciuman
mendesah yang diberikan Therese dengan nada liar membuat dia tidak betah lama
di ruang kerja. Dan ketika pihak kantor menegurnya karena tidak punya alasan
yang tepat, therese menjadi tak terhankan yang memutuskannya berani untuk
keluar rumah menuju tempat kost Laurent. Disana mereka semakin menjadi liar
membirahi; berubah menjadi singa kelaparan, saling memangsa, saling menerkam
dengan tanpa membunuh selain memuaskan satu demi satu.
Keliaran terlarang itu berlansung
lama tanpa ada firata buruk dari orang-orang terdekat mereka, terutama Mme
Raquin dan Camile. Namun, akibat kencanduan yang semakin dalam membuat mereka
berdua untuk mengakhrinya dengan cara menjadi yang halal. Tapi ada dinding
besar yang berdiri merintangi. Therese adalah milik sah Camile. Laurent
berifir tentang solusi. Akhirnya jalan yang da ambil adalah menghancurkan
rintangan itu, membunuh camile dengan scenario rapi yang tak
diketahui siapapun.
Dalam sebuah kesempatan, ketika
Camile, Therese dan Laurent menaiki perahu, disanalah kesempatan bagi Laurent untuk
menceburkan Camile, menenggelamkannya dalam sebuah sungai. Naman ketika
sementara melakukan tindakan pembunuhan itu, Camile masih sempat bereaksi dan
berhasil mengigit leher Laurent hingga, meninggalkan bekas luka yang kelak
membuatnya menderita. Camile mati tenggelam dan setelah seminggu baru
didapatkan mayatnya.
Scenario telah mereka jalankan. Akhirnya
dalam sandiwara yang rapi itu, Mme Raquin mengijinkan mereka menikah atas
masukan dari kerabatnya. Tapi, hasrat dan keliran itu seolah hilang bersama
tenggelammnya Camile. Dalam kehidupan rumah tangga mereka, Camile selalu saja
hadir dalam fantasi halusinasi mereka. Saat di dalam kamar, therese dalam
pandangan Laurent selalu berubah menjadi wajah Camile yang meyeramkan. Sementara
Luka yang masih terasa dileher Laurent membuatnya merasa seperti Camile
sementar membalas dendam terhadapnya.
Kegelisahan, ketakutan menghantui mereka. Hari demi hari atmosfir
ketidakbahagiaan meleputi kedua pasangan itu. akhirnya ada semacam rasa
penyesalan muncul dalam bawah sadar Therese untuk menyalahkan Laurent yang
telah membunuh suaminya, Camile. Mereka berkelahi mulut, kadang Laurent
menampar Therese. Mme Raquin yang telah
mengetahui skandal itu hanya berserah pada ketidaberdayaannya, lumpuh. Kemudian,
gejolak jiwa yang melanda Raquin, membuatnya bersujud, beberapa kali, dihadapan Mme Raquin untuk meminta maaf atas tindakan kejahatan itu.
Mereka berdua selalu dalam fobia.
Takut kalau diantara mereka ada yang melaporkan salah satu di antara mereka ke
polisi. Therese menuduh Laurent, kemudian berbalik, Laurent menuduh Terese. Meraka
ketakutan hingga terbesit cara diantara mereka untuk saling membunuh. Laurent
mencuri cairan kimia beracun dari ruang laboraturium temannya untuk di suguhi
dalam minuman Therese. Kemudian perempuan itu menyipkan pisau dapur untuk
menusuk suaminya ketika ia pulang dari mabuk-mabukan. Tetapi saat Laurent
menunangkan racun itu, therese mengetahuinya. Merekapun saling bertatapan,
tanpa bahasa, tanpa suara. Hanya kekosangan tatapan yang tampil dengan intonasi
penyesalan yang merambah sunyi yang hadir saat itu, penuh dengan air mata.
Therese melepaskan piasunya, Laurent masih tetap memegang gelas beracun itu.
akhirnya dalam rona penyesalan, rasa kasih sayang berbalut penyesalan membuat
mereka berpelukan dalam tangisan membelenggu. Laurent mengambil keputusan untuk
meminum racun yang ia tuangkan sendiri, tapi setelah setengah ia teguk, Therese
meraihnya dan melakukan tindakan sama dengan Laurent, meminum racun itu. Mereka
berdua mati bunuh diri dalam aura penyesalan yang begitu dramatis.
Semacam Ulasan
Seperti tanggapan Zola terhadap
para krtikus terhadap novel ini. kebanyakan mereka tak kuasa melihat gadis
genit yang melepas seluruh hasratnya tuk melahap lawan mainnya. Namun ada yang
aneh, seolah tokoh pria, dalam hal ini Laurent adalah malaikat tanpa dosa, bebas
dari alasan para kritikus dalam mencemooh novel ini. Namun dalam catatan ini
saya tidak berada pada posisi untuk menjudge content, melainkan lebih pada
membaca watak, membaca implus hasrat tokoh secara psikoanalitik.
Jika complex Oedipus yang selama
ini dipahami—dan memang seperti itu—sebagai hasrat anak terhadap ibunya, tapi
dalam novel ini kondisi itu terbalik. Hasrat ibu, Mme Raquin, justru terjadi
pada sang anak, Camile. Dalam cerita ini, Camile berada dalam ketakberdayaan
sang ibu sang yang membuat hasrat badaninya selalu bersikap biasa saat
berhadapan dengan sang Isteri. Dan factor kesehatan yang membuat setengah
hidupnya tak berdaya mempengaruhi semangat hidupnya yang dia jalani datar,
tanpa ekspresi membahagiakan isterinya, Therese.
Hasrat yang saya maksud disini adalah sebuah diskursus yang
memanikan suatu peranan penting dalam perubahan subjek. Subjek selalu terinterpelasi
dan mengajak mereka untuk untuk mengambil suatu (dis)posisi subjektif tidak
lain dengan cara membangkitkan suatu jenis hasrat atau menjajikan dipuaskannya
suatu hasrat tertentu. Hasrat adalah kunci yang bisa berbentuk hasrat untuk
menjadi (libido narsitik) atau hasrat untuk memiliki (libiodo anaklitik).
Bentuk hasrat yang bersifat narsistik memanifesasikan dirinya dalam cinta dalam
cinta dan identiifikasi, sedangkan hasrat berbentuk anaklitik terkait dengan
hasrat untuk mendapatkan kesenangan dari objek yang di identifikasi. Sementara
itu, seperti dalam pandangan Lacan, ada terdapat narsitik Pasif: seseorang bisa
berhasrat untuk menjadi objek cinta dari Liyan (symbol sebagai idealisasi atau
kekaguman yang diidentifikasi). Narsisitik aktif:sesorang bisa berhasrat untuk
menjadi Liyan—hasrat dimana identifikasi merupakan suatu bentuk tertentu,
sedangkan cinta atau pemujaan merupakan bentuk Liyan lagi. Anaklitik aktif;
seseorang bisa berhasrat untuk memiliki Liyan sebagai cara mendapatkan
kepuasan. Anaklitik pasif; seseorang yang berhasrat untuk menjadi hasrat orang
lain atau dimiliki oleh Liyan sebagai objek dari smebr kepuasan Liyan.
Dalam kehidupan keluarga Raquin,
teruatama Mme Raquin adalah bagaimana menjalani sisa hidupnya yang menurutnya
bahagia adalah dengan hidup selalu berasama Camile disisinya beserta menantunya,
Therese. Dalam kondisi ini yang terpuaskan atau berhasil ia jalani, seolah
membuatnya buta dalam melihat ketersiksaan, dan ketidakbahagian yang di alami
Therese. Disini kebersamaan adalah objek
yang dihasrati dalam bentuk anaklitik aktif oleh Mme Raquin.
Sedangkan yang terjadi pada diri
Therese, adalah suatu konflik berkepanjangan untuk memilih antara berada pada
Liyan Sosial, yakni dengan mengidentifikasikan diri dalam hasrat anaklitik
pasif; menjadi orang yang disenangi dengan cara membalas kebaikan atas apa yang
telah diberikan keluarga Raquin kepadanya. kebutuhan biologis atau Libido,
anaklitik maupun narsistik Therese, yang tidak terpenuhi yang salalu dikalahkan
oleh symbol penyabar, penurut tersebut diinterpelasi oleh kehadiran Laurent.
Laurent, pada saat yang bersamaan menjadi objek hasrat atau Liyan bagi Therese,
baik anaklitik maupun narsistik. Sementara Therese bagi Laurent adalah Liyan anaklitik
aktif. Kondisi ini yang membuat dan menginterpelasikan Therese untuk mengambil
jalan selingkuh sebagai kepuasan nafsunya. Sementara Laurent, pada awalnya hanya
menjadikan Therese sebagai obejk untuk mendaptkan kepuasann semata, namun
akibat desah birahi yang semakin menggelora yang diberikan Therese, membuat
pasangan selingkuhnya menjadi objek Liyan yang harus dimiliki sepenuhnya, yang
kemudian akibat kedua hasrat inilah yang memacu keinginan Laurent untuk
menghilangan rintangan, dalam ini Camile—sang Ayah—dengan cara membunuhnya.
Prinsip Kesenangan Mengalahkan
prinsip Realitas
Sandiwara yang sebagai alasan
untuk membalas kebaikan keluarga Raquin, menjadikan Therese dengan Altar supra
ego-nya semakin ketat memangkas getaran ‘id’—hasrat
dasar yang paling primitive atau hasrat alam bawah sadar—dalam mengambil
tindakan atas ketidakpuasan. Laurent, dengan berbagai kelebihan-kelebihannya
mampu menjadi objek Liyan bagi Thesere yang tidak didapatkan dari Camile.
Implus bawah sadar ini—yang berupa hasrat untuk memberontak, keluar dari
penjara keluarga raquin, mendaptakan Laurent yang memberikan kepuasan birahi—berhasil
mengalahakan Prinsip Relaitas—berpura-pura menjadi penurut, suami yang baik,
menantu yang baik sebagai symbol masyarakat pada umumnya—atau mengesktraksikan id yang bisa berupa simbolik atau
imajiner menjadi realitas atau yang
real sebagai jalan untuk berselingkuh.
Hasrat untuk mendunia dalam prinsip kesenangan yang didalamnya
berupa fantasi seksual yang masih berada pada tahapan imajiner, membuat
pasangan selingkuh tersebut mengambil langkah membawa mereka, dengan fantasi
yang tak tertahankan, pada keinginan untuk menjadi yang real. Namun pada
tahapan keinginan ini, posisi Camile, masih berdiri menjadi sang ‘Ayah’ ,
rintangan yang mengharuskan mereka harus
secara sembunyi-sembunyi melakukan tindakan seksual yang penuh irma liar
kebinatangan.
Dalam menjalani sandriwa yang
dibaluti drama perselingkuhan tersebut, lama-kelamaaan ketika telah
dikondisikan oleh ketidakberdayaan akal sehat dalam menerima godaan badani,
fantasi-fantasi tersebut menginterpelasi subjek, dalam kedua pasangan itu, untuk
memutus rintangan sang Ayah, sebagai jalan mulus untuk hidup bersama selamanya
agar bisa secara bebas memuaskan hasrat birahi mereka. Tak ada ada alasan lagi,
rintangan itu dalam hal ini Camile, mesti disingkirkan, dengan cara yang sanagt
halus yang tak diketahui siapapun.
Serangan Balik Prinsip Realitas
Namun setelah rintangan itu di
bunuh, terjadi gangguan kejiwaan yang menimpa mereka. Ketakuan dan halusinasi sering mengguratkan wajah Camile yang telah dibunuh sering Nampak dalam
tatapan mereka yang penuh dengan kengerian. Wajah Camile sering menginterpelasikan
alam bawah sadar mereka, sehingga ketika mereka telah berhasil menjadi pasang
hidup sah, wajah hantu Camile selalu saja hadir dalam halusinasi Laurent yang
membutnya melihat Therese kadang berubah menjadi sosok hantu yang telah
dia bunuh sebelumnya. Begitupun Therese dalam perasaan yang takut akan ketakutan dan
mendapat hukuman gantung dengan mudahnya mampu menginterpelasikan nafsu liarnya
menjadi seorang istreri yang dingin, datar terhadap Laurent melebihi yang dia berikan pada Cameile.
Akibat rasa ketakuatan dan
tebesit sedikit nada-nada penyesalan mempengaruhi psikologis kehidupan mereka
sampai pada taraf saling menyakiti. Hasrat liar mereka hilang, diganti dengan
hasrat untuk saling menyalahkan, menuduh siapa yang menjadi penyebab kematian
Camile. Disni prinsip realitas hadir mengalhakan kembali prinsip kesenangan
dengan nada penuh penyesalan. Gejala kejiwaan pun balik menerkam hasrat
manusiwai mereka membuat kedua pasangan itu diterkam prinsip realitas yang
menyadarkan mereka akan dosa sehingga secara sadar kehidupan mereka akhiri dengan sama-sama minimum racun.
Dalam cerita ini, hasrat dan
nafsu yang begitu liar hadir sebagai objek Liyan mengeinterpelasi manusiawi
mereka untuk mengambil tindakan kejahatan, yang senyatanya sama sekali tidak
ada perasaan cinta yang tumbuh selian nafsu birahi.
Semacam Penutup
Zola, dalam novel ini dengan
cerita yang penuh dengan birahi menggelora, sebenarnya ingin memperlihatan
bahwa cinta tanpa perasaan Platonik hanya membawa manusia pada keterpurukan
jiwa akan langkah-langkah yang diinterpelasi oleh nafsu semata. Sama sekali sekali tidak ada senyum dan tawa
riang yang kita dapatkan selain rasa kasihan pada Camile dan Mme Raquin ketika
mambaca novel ini. tetapi dibalik kebencian dari awal-awal cerita terhadap
Laurent dan Camile, akan berubah menjadi rasa kasihan dan iba pada sepasang
palaku kejahatan tersebut yang mengakhiri hidup mereka dengan aura kesalahan,
berpelukan dan di banjiri dengan tangis dan butiran air mata manusiawi. Zola,
masih memberikan ruang abadi manusiawi, tidak seperti yang dikritik oleh
kritikus yang mengatakan novel ini hanya sebagai cerita porno yang tidak
senonoh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar