Kamis, 14 Maret 2013

Gairah Nafsu Yang Datangkan Derita (Semacam Ulasan atas novel Therese Raquin, Karya Emile Zola)


Ada perasaan jijik saat membaca awal kisah dalam novel ini. cerita-ceirta yang di bumbuhi dengan adegan-adegan nafsu kebinatangan sebagai main idea  karya mereka. Tak pelak lagi, tema seksualitas kadang menjadi hal  menarik untuk diperbincangkan. Akrobatik seksualitas  yang dalam dunia sastra inilah yang menyebabkan perdebatan sengit yang terjadi antara Cathrine bandle dan Gadis Arivia, atau sebagai katalis bagi para kritikus dalam mengkritik novel-novel yang berbau porno atau dalam konfensi luas sebagai hal yang tabu.

Dalam tulisan ini saya tidak bermaksud untuk membuat pilihan berada pada cluster mana saya, tetapi lebih sebagai ulasan atas cerita dalam novel tersebut. Olehnya itu saya butuh semacam perangkat analisa untuk melihat dan menelisik dari beberpa sisi terkait dengan watak, laku dan peran para tokoh protagonist yang di gambarkan oleh Zola. Pertama-tama yang saya gunakan adalah perangkat psikoanalisa, baik itu dari persfektif Freud maupun muridnya, Jacques Lacan untuk membaca mental dan semacam ganggun neurotic terutama yang terjadi pada Therese dan Laurent.

Sebelum memulai, dan sebagai bagian dari perkenalan hermeneutic, terlebih dahulu saya akan membincangkan sedikit tentang sang pengarang Therese Raquin, Emile Zola. Lahir di Paris, 2 april 1840 – meninggal di Paris, 29 September 1902 pada umur 62 tahun, adalah seorang penulis prancis berpengaruh. Ia adalah tokoh penting aliran naturalisme dalam sastra Prancis dan tokoh terkemuka dalam liberalisasi politik di Prancis. Émile Zola menulis surat berpengaruh: J'accuse (Aku Menuduh) saat Peristiwa Dreyfus, menyoroti pengadilan atas dakwaan spionase terhadap Alfred Dreyfus, seorang perwira Yahudi Prancis yang tak bersalah. Surat itu diterbitkan di surat kabar yang dimiliki presiden Prancis saat itu, L'Aurore pada tanggal 13 januari 1898 Zola memperlihatkan dalam suratnya, pendapatnya akan rasa terluka, dalam tulisannya. Ia dibawa ke penjara akibat tuduhan pemfitnahan atas tulisannya itu, namun alih-alih ke tahanan, ia lari ke Inggris, dan baru diizinkan kembali untuk melihat pemerintahan jatuh. Ia meninggal akibat keracunan karbon monoksida dari cerobong asap yang ditutupi di rumahnya.

Semacam Kronology

Saya hanya menyajikan point-poin penting yang kemudian dijadikan sumber untuk mengulas isi dari novel ini. Mme Raquin adalah penjual peralatan menjahit dari Vernon. Dia seorang janda yang semenjak kematian suaminya membuat dia hidup merawat putera semata wayangnya, Camile. Mme Raquain sangat mencintai puteranya yang selama lima belas tahun dengan perjuangan keras dan kasih sayang berusaha menyembuhkan Camile yang sakit-sakitan dan menderita semenjak masa kanak-kanaknya. Ketika Camile tumbuh Dewasa, ia masih diperlakukan oleh sang Ibu dengan menjaga layaknya seorang bayi. Terperangkap dalam pelukan kasih sayang. Ketika berumur dua pulah empat tahun, penyakitnya masih saja menghantui tubuhnya yang kurus, kejang-kejang dan berbagai macam komplikasi penyakit yang selalu menyakiti tubuh tak berdaya itu.

Therese adalah sepupu camile, anak dari Kapten Digens, sadara laki-laki dari Mme Raquin. Setelah meninggal ibunya, Therese di rawat oleh Mme Raquin dengan limpahan kasih sayang yang sama dengan yang diberikan kepada Camile. Akibat kondisi kesehatan Camile yang semenjak kanak-kanak penuh dengan berbagai macam penyakit, ia harus terus mengkonsumsi obat-obat setiap hari hingga tubuhnya bau seperti gudang obat dalam sebuah apotik, begitu pula kamarnya yang pengap yang  jarang disinari matahari. 

Entah scenario atau cerita apa yang dilantukan oleh Mme Raquin sehingga Therese yang sejatinya dalam kondisi sehat dan tak membutuhkan obat-obat pun terlibat dalam kondisi sama, dimana ia diharus mengkonsumsi obat-obatan yang sama seperti Camile. Tapi kemudian dalam kesadararan Therese, ia menjalani semua itu untuk menenangkan hati Mme Raquin sebagai tindak balas jasa atas dirinya yang telah memberikan buah kasih sayang seperti ibu kandungnya sendiri. Camile pasti tersenyum bahagia jika Therese ikut menelan pil pahit yang menjengkelkan itu. tawa riang Camile saat melihat Therese mengkonsumsi obat bersamanya itulah yang jadi alasan agar kondisi psikis Camile bisa membaik saat memandang senyum bahagia yang sesungguhnya penuh dengan drama ketidakikhlasan.

Dalam menjalani kehiduapan yang penuh dengan limpahan kasih dan sandiwara balas jasa di Apartemen kumuh du Pont-Neuf, paris itulah muncul keputusan dari Mme raquin untuk menikahakan Therese dengan Camila. Mereka bukan saja menyerah kekuasaan matriarkis yang digawangi Mme Raquin, tetapi terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Setelah menjadi seorang seorang Isteri, Therese menjalani hidup dengan sikap penurut dan sabar yang luar biasa. Sementara Camile bekerja sebagai pegawai di perusahan kereta api Orleans, kemudian menunjukan sikap yang tak ada bedanya seperti mereka belum menikah. Dengan wajah yang jarang mengguratkan senyum bahagia, therese menjadi seorang Isteri sekaligus pelayan dengan alam bawah sadar pemberontkan dan kebencian luar biasa terhadap suaminya. Ia ingin sekali keluar dari jeratan membelenggu tersebut, tapi dalam kebencian itu terselip sebuah rasa manusiawi terhadap Mme raquin, rasa membalas jasa atas telah dirawatnya semenjak kecil, yang membuatnya tetap mempertahnkan lakon menantu bertopeng penurut berhati liar, memberontak.

Hari demi hari mereka jalani sebgaimana biasanya. Monoton. Mme Raquin sibuk dengan penjualan barang jahitnya yang dibantu oleh Therese, sementara Camile sibuk bekerja. Pada malam hari, setiap kamis mereka didatangi tamu untuk bermain kartu. Mme Raquin dan Camile begitu antusias dan bersikap penuh responsive terhadap tamu-tamu mereka. Sementara Therese, dengan semangat akan kebenciannya terhadap hidupnya menunjukan sikap yang begitu dingin, apatis yang membuat hati suaminya kadang tak menyenangkan. Therese dalam sepanjang hidupnya bersama lelaki itu, masih saja harus berhadapan dengan dunia obat-obatan. Kamar mereka pengap, bau obat menyengat, yang secara fisiologis mempengaruhi tubuhnya. Hari-harinya datar, dingin, semacam tidak ada stimulant apapun yang bisa membuat wajahnya mengguratkan senyum bahagia. Dia hanya bisa pasrah dan sabar dalam kebencian menjalani hidup yang menurutnya mungkin sudah menjadi takdir untuk di hadapi. Kebutuhan biologisnya terhalang, yang entah mungkin karena tidak ada responnya sendiri ataukah karena Camile dengan kondisi sakit-sakitan yang jadi penyebab.

Angin perubahan datang saat Camile pulang kerja membawa teman kerjanya, Laurent, dan memperkenalkannya pada Therese dan Mme Raquin. Laurent, walupun masih amatiran, senang melukis. Dan saat ketika dia melukis Camile di kamar keluarga, Laurent menagkap tatapan Therese, memandang pelukis itu dengan tatapan penuh selidik, yang nantinya dan akan membuat Laurent lebih sering datang dan disitulah jalan menjadi terbuka baginya untuk menyelingkuhi Therese.

Saat di tempat kerja, Laurent mencari-cari alasan untuk pulang lebih awal. Ketika diijinkan, Ia pulang menuju rumah Mme Raquin. Melewati pintu samping, kemduian naik ke lantai dua. Disana, di dalam kamar, Therese sudah menunggunya dengan nafas yang tak lagi seimbang. Sementara Mma Raquin di lantai dasar, melayani pembeli-pembelinya. Beberapa minggu Laurent selalu pulang lebih awal, hasrat liar dan serbuan ciuman mendesah yang diberikan Therese dengan nada liar membuat dia tidak betah lama di ruang kerja. Dan ketika pihak kantor menegurnya karena tidak punya alasan yang tepat, therese menjadi tak terhankan yang memutuskannya berani untuk keluar rumah menuju tempat kost Laurent. Disana mereka semakin menjadi liar membirahi; berubah menjadi singa kelaparan, saling memangsa, saling menerkam dengan tanpa membunuh selain memuaskan satu demi satu.

Keliaran terlarang itu berlansung lama tanpa ada firata buruk dari orang-orang terdekat mereka, terutama Mme Raquin dan Camile. Namun, akibat kencanduan yang semakin dalam membuat mereka berdua untuk mengakhrinya dengan cara menjadi yang halal. Tapi ada dinding besar yang berdiri merintangi. Therese adalah milik sah Camile. Laurent berifir tentang solusi. Akhirnya jalan yang da ambil adalah menghancurkan rintangan itu, membunuh camile dengan scenario rapi yang tak diketahui siapapun.

Dalam sebuah kesempatan, ketika Camile, Therese dan Laurent menaiki perahu, disanalah kesempatan bagi Laurent untuk menceburkan Camile, menenggelamkannya dalam sebuah sungai. Naman ketika sementara melakukan tindakan pembunuhan itu, Camile masih sempat bereaksi dan berhasil mengigit leher Laurent hingga, meninggalkan bekas luka yang kelak membuatnya menderita. Camile mati tenggelam dan setelah seminggu baru didapatkan mayatnya.

Scenario telah mereka jalankan. Akhirnya dalam sandiwara yang rapi itu, Mme Raquin mengijinkan mereka menikah atas masukan dari kerabatnya. Tapi, hasrat dan keliran itu seolah hilang bersama tenggelammnya Camile. Dalam kehidupan rumah tangga mereka, Camile selalu saja hadir dalam fantasi halusinasi mereka. Saat di dalam kamar, therese dalam pandangan Laurent selalu berubah menjadi wajah Camile yang meyeramkan. Sementara Luka yang masih terasa dileher Laurent membuatnya merasa seperti Camile sementar membalas dendam terhadapnya.

Kegelisahan, ketakutan  menghantui mereka. Hari demi hari atmosfir ketidakbahagiaan meleputi kedua pasangan itu. akhirnya ada semacam rasa penyesalan muncul dalam bawah sadar Therese untuk menyalahkan Laurent yang telah membunuh suaminya, Camile. Mereka berkelahi mulut, kadang Laurent menampar Therese.  Mme Raquin yang telah mengetahui skandal itu hanya berserah pada ketidaberdayaannya, lumpuh. Kemudian, gejolak jiwa yang melanda Raquin, membuatnya bersujud, beberapa kali, dihadapan Mme Raquin untuk meminta maaf atas tindakan kejahatan itu.

Mereka berdua selalu dalam fobia. Takut kalau diantara mereka ada yang melaporkan salah satu di antara mereka ke polisi. Therese menuduh Laurent, kemudian berbalik, Laurent menuduh Terese. Meraka ketakutan hingga terbesit cara diantara mereka untuk saling membunuh. Laurent mencuri cairan kimia beracun dari ruang laboraturium temannya untuk di suguhi dalam minuman Therese. Kemudian perempuan itu menyipkan pisau dapur untuk menusuk suaminya ketika ia pulang dari mabuk-mabukan. Tetapi saat Laurent menunangkan racun itu, therese mengetahuinya. Merekapun saling bertatapan, tanpa bahasa, tanpa suara. Hanya kekosangan tatapan yang tampil dengan intonasi penyesalan yang merambah sunyi yang hadir saat itu, penuh dengan air mata. Therese melepaskan piasunya, Laurent masih tetap memegang gelas beracun itu. akhirnya dalam rona penyesalan, rasa kasih sayang berbalut penyesalan membuat mereka berpelukan dalam tangisan membelenggu. Laurent mengambil keputusan untuk meminum racun yang ia tuangkan sendiri, tapi setelah setengah ia teguk, Therese meraihnya dan melakukan tindakan sama dengan Laurent, meminum racun itu. Mereka berdua mati bunuh diri dalam aura penyesalan yang begitu dramatis.

Semacam Ulasan

Seperti tanggapan Zola terhadap para krtikus terhadap novel ini. kebanyakan mereka tak kuasa melihat gadis genit yang melepas seluruh hasratnya tuk melahap lawan mainnya. Namun ada yang aneh, seolah tokoh pria, dalam hal ini Laurent adalah malaikat tanpa dosa, bebas dari alasan para kritikus dalam mencemooh novel ini. Namun dalam catatan ini saya tidak berada pada posisi untuk menjudge content, melainkan lebih pada membaca watak, membaca implus hasrat tokoh secara psikoanalitik.

Jika complex Oedipus yang selama ini dipahami—dan memang seperti itu—sebagai hasrat anak terhadap ibunya, tapi dalam novel ini kondisi itu terbalik. Hasrat ibu, Mme Raquin, justru terjadi pada sang anak, Camile. Dalam cerita ini, Camile berada dalam ketakberdayaan sang ibu sang yang membuat hasrat badaninya selalu bersikap biasa saat berhadapan dengan sang Isteri. Dan factor kesehatan yang membuat setengah hidupnya tak berdaya mempengaruhi semangat hidupnya yang dia jalani datar, tanpa ekspresi membahagiakan isterinya, Therese.

Hasrat yang saya maksud disini adalah sebuah diskursus yang memanikan suatu peranan penting dalam perubahan subjek. Subjek selalu terinterpelasi dan mengajak mereka untuk untuk mengambil suatu (dis)posisi subjektif tidak lain dengan cara membangkitkan suatu jenis hasrat atau menjajikan dipuaskannya suatu hasrat tertentu. Hasrat adalah kunci yang bisa berbentuk hasrat untuk menjadi (libido narsitik) atau hasrat untuk memiliki (libiodo anaklitik). Bentuk hasrat yang bersifat narsistik memanifesasikan dirinya dalam cinta dalam cinta dan identiifikasi, sedangkan hasrat berbentuk anaklitik terkait dengan hasrat untuk mendapatkan kesenangan dari objek yang di identifikasi. Sementara itu, seperti dalam pandangan Lacan, ada terdapat narsitik Pasif: seseorang bisa berhasrat untuk menjadi objek cinta dari Liyan (symbol sebagai idealisasi atau kekaguman yang diidentifikasi). Narsisitik aktif:sesorang bisa berhasrat untuk menjadi Liyan—hasrat dimana identifikasi merupakan suatu bentuk tertentu, sedangkan cinta atau pemujaan merupakan bentuk Liyan lagi. Anaklitik aktif; seseorang bisa berhasrat untuk memiliki Liyan sebagai cara mendapatkan kepuasan. Anaklitik pasif; seseorang yang berhasrat untuk menjadi hasrat orang lain atau dimiliki oleh Liyan sebagai objek dari smebr kepuasan Liyan.

Dalam kehidupan keluarga Raquin, teruatama Mme Raquin adalah bagaimana menjalani sisa hidupnya yang menurutnya bahagia adalah dengan hidup selalu berasama Camile disisinya beserta menantunya, Therese. Dalam kondisi ini yang terpuaskan atau berhasil ia jalani, seolah membuatnya buta dalam melihat ketersiksaan, dan ketidakbahagian yang di alami Therese. Disini kebersamaan  adalah objek yang dihasrati dalam bentuk anaklitik aktif oleh Mme Raquin. 

Sedangkan yang terjadi pada diri Therese, adalah suatu konflik berkepanjangan untuk memilih antara berada pada Liyan Sosial, yakni dengan mengidentifikasikan diri dalam hasrat anaklitik pasif; menjadi orang yang disenangi dengan cara membalas kebaikan atas apa yang telah diberikan keluarga Raquin kepadanya. kebutuhan biologis atau Libido, anaklitik maupun narsistik Therese, yang tidak terpenuhi yang salalu dikalahkan oleh symbol penyabar, penurut tersebut diinterpelasi oleh kehadiran Laurent. Laurent, pada saat yang bersamaan menjadi objek hasrat atau Liyan bagi Therese, baik anaklitik maupun narsistik. Sementara Therese bagi Laurent adalah Liyan anaklitik aktif. Kondisi ini yang membuat dan menginterpelasikan Therese untuk mengambil jalan selingkuh sebagai kepuasan nafsunya. Sementara Laurent, pada awalnya hanya menjadikan Therese sebagai obejk untuk mendaptkan kepuasann semata, namun akibat desah birahi yang semakin menggelora yang diberikan Therese, membuat pasangan selingkuhnya menjadi objek Liyan yang harus dimiliki sepenuhnya, yang kemudian akibat kedua hasrat inilah yang memacu keinginan Laurent untuk menghilangan rintangan, dalam ini Camile—sang Ayah—dengan cara membunuhnya.

Prinsip Kesenangan Mengalahkan prinsip Realitas

Sandiwara yang sebagai alasan untuk membalas kebaikan keluarga Raquin, menjadikan Therese dengan Altar supra ego-nya semakin ketat memangkas getaran ‘id’—hasrat dasar yang paling primitive atau hasrat alam bawah sadar—dalam mengambil tindakan atas ketidakpuasan. Laurent, dengan berbagai kelebihan-kelebihannya mampu menjadi objek Liyan bagi Thesere yang tidak didapatkan dari Camile. Implus bawah sadar ini—yang berupa hasrat untuk memberontak, keluar dari penjara keluarga raquin, mendaptakan Laurent yang memberikan kepuasan birahi—berhasil mengalahakan Prinsip Relaitas—berpura-pura menjadi penurut, suami yang baik, menantu yang baik sebagai symbol masyarakat pada umumnya—atau mengesktraksikan id yang bisa berupa simbolik atau imajiner menjadi realitas atau yang real sebagai jalan untuk berselingkuh.

Hasrat untuk mendunia dalam prinsip kesenangan yang didalamnya berupa fantasi seksual yang masih berada pada tahapan imajiner, membuat pasangan selingkuh tersebut mengambil langkah membawa mereka, dengan fantasi yang tak tertahankan, pada keinginan untuk menjadi yang real. Namun pada tahapan keinginan ini, posisi Camile, masih berdiri menjadi sang ‘Ayah’ , rintangan  yang mengharuskan mereka harus secara sembunyi-sembunyi melakukan tindakan seksual yang penuh irma liar kebinatangan. 

Dalam menjalani sandriwa yang dibaluti drama perselingkuhan tersebut, lama-kelamaaan ketika telah dikondisikan oleh ketidakberdayaan akal sehat dalam menerima godaan badani, fantasi-fantasi tersebut menginterpelasi subjek, dalam kedua pasangan itu, untuk memutus rintangan sang Ayah, sebagai jalan mulus untuk hidup bersama selamanya agar bisa secara bebas memuaskan hasrat birahi mereka. Tak ada ada alasan lagi, rintangan itu dalam hal ini Camile, mesti disingkirkan, dengan cara yang sanagt halus yang tak diketahui siapapun.

Serangan Balik Prinsip Realitas

Namun setelah rintangan itu di bunuh, terjadi gangguan kejiwaan yang menimpa mereka. Ketakuan dan halusinasi  sering mengguratkan wajah Camile yang telah dibunuh sering Nampak dalam tatapan mereka yang penuh dengan kengerian. Wajah Camile sering menginterpelasikan alam bawah sadar mereka, sehingga ketika mereka telah berhasil menjadi pasang hidup sah, wajah hantu Camile selalu saja hadir dalam halusinasi Laurent yang membutnya melihat Therese kadang berubah menjadi sosok hantu yang telah dia bunuh sebelumnya. Begitupun Therese dalam perasaan yang takut akan ketakutan dan mendapat hukuman gantung dengan mudahnya mampu menginterpelasikan nafsu liarnya menjadi seorang istreri yang dingin, datar terhadap Laurent melebihi yang dia berikan pada Cameile.

Akibat rasa ketakuatan dan tebesit sedikit nada-nada penyesalan mempengaruhi psikologis kehidupan mereka sampai pada taraf saling menyakiti. Hasrat liar mereka hilang, diganti dengan hasrat untuk saling menyalahkan, menuduh siapa yang menjadi penyebab kematian Camile. Disni prinsip realitas hadir mengalhakan kembali prinsip kesenangan dengan nada penuh penyesalan. Gejala kejiwaan pun balik menerkam hasrat manusiwai mereka membuat kedua pasangan itu diterkam prinsip realitas yang menyadarkan mereka akan dosa sehingga secara sadar kehidupan mereka akhiri  dengan sama-sama minimum racun.

Dalam cerita ini, hasrat dan nafsu yang begitu liar hadir sebagai objek Liyan mengeinterpelasi manusiawi mereka untuk mengambil tindakan kejahatan, yang senyatanya sama sekali tidak ada perasaan cinta yang tumbuh selian nafsu birahi.

Semacam Penutup

Zola, dalam novel ini dengan cerita yang penuh dengan birahi menggelora, sebenarnya ingin memperlihatan bahwa cinta tanpa perasaan Platonik hanya membawa manusia pada keterpurukan jiwa akan langkah-langkah yang diinterpelasi oleh nafsu semata.  Sama sekali sekali tidak ada senyum dan tawa riang yang kita dapatkan selain rasa kasihan pada Camile dan Mme Raquin ketika mambaca novel ini. tetapi dibalik kebencian dari awal-awal cerita terhadap Laurent dan Camile, akan berubah menjadi rasa kasihan dan iba pada sepasang palaku kejahatan tersebut yang mengakhiri hidup mereka dengan aura kesalahan, berpelukan dan di banjiri dengan tangis dan butiran air mata manusiawi. Zola, masih memberikan ruang abadi manusiawi, tidak seperti yang dikritik oleh kritikus yang mengatakan novel ini hanya sebagai cerita porno yang tidak senonoh.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar