Panjangnya durasi dari waktu normal adalah siklus dari pergantian
malam menjemput matahari kemudian menanti rembulan yang gemerlapnya merindu
malam. Waktu kronometer adalah rangkaian perjalan dinamis dalam pengertian
absolutis Newtonian, namun seperti kita ketahui, saat kehadiran Einstein dengan
revolusi ralitivitasnya telah merubah dimensi ruang-waktu menjadi bagian dari
gelombang suasana hati dimana dua pengamat selalu merasakan hasil berbeda dalam
melakukan suatu kerja pada saat yang sama. Apapun yang terjadi Einstein masih
merindu waktu menjadi bagian materi yang dia benci, tetapi tidak dalam
pengertian yang lebih dalam yang membincangkan waktu sebagaimana yang
kuinginkan sebagai pengantar sekaligus isi catatan ini. Oleh karena itu durasi
yang saya maksud disini bukan pula dalam term Bergsonian, melainkan searah
dalam pandangan Ikbal yang mengikuti Arabi akan waktu bagian dari manifest
ketakberhinggaan.
Dan catatan ini bukanlah deskripsi rasional an sich, tetapi lebih pada rangkaian rasional metafisik
yang meng-osilasi bawah sadar yang menggetarkan sekaligus merepsresi kesadaran
yang kemudian membawa ketaksadaran itu menjadi realitas hidup yang kadang—oleh
Freud—dianggap sebagai biang neurosis. Namun ada hal yang patut digaris bawahi,
bahwa ketika saya mengatakan bagaimana ketaksadaran menjadi realitas hidup,
bukan berarti bahwa saya berada dalam persetujuan dengan Freud ataupun Lacan,
melainkan memahami apapun yang tampak dalam mata batin adalah bagian dari
manifest kerinduan-Nya yang patut untuk di wadahi.
Iya, inilah cerita terpendek dalam rentang waktu Newtonian,
dimana hanya kurang lebih seminggu telah berulang sebuah kisah tanpa ada cerita
yang sama sebelumnya, sebuah kisah yang bagiku adalah tanda getar abadi yang
terjadi tidak dalam waktu fisis melainkan dalam Asma-asma Indah dimana waktu
adalah bagian dari-Nya, ini merupkan cerita yang terlukis diatas kanfas
sufistik Rumi yang mustahil terceritakan. Tatapi karena kata adalah bara yang
menghangatkan rasa, maka catatan ini adalah implus kegilaan ke-Ilahi-an yang
tergradasi menjadi kata agar terbaca bagi orang-orang yang merindu
ketakwajaran.
***
Yang mana sebenarnya yang realistis?. Menyerah pada kondisi
di mana “keberadaan” pada saat yang sama tidak berada disana?, ataukah hidup
mengikuti implus hasrat, dan pada saat
yang sama kita merasa benar-benar ada dalam dunia? Apakah yang liar, brutal,
mengikuti suara hati dan semacamnya
adalah semata tidak terpuji?. Seperti paragraph sebelumnya, waktu terkait erat
dengan suasana hati, oleh karena itu ketika membincangkan term “dunia”, yang
aku maksud adalah kondisi dimana kita benar-benar kerasan, merasa satu dengan
sesuatu yang sedang kita jalani (Baca Heidegger).
Karena waktu adalah bagian dari kredo ke-Ilahian, maka
sewajarnya keliaran mengabdi pada tampakan abadi adalah sejenis kekurangajaran
suci yang terstigma menjadi birahi-birahi kudus; membara sebagai ikhtiar
tindak produksi sekaligus prokreasi akan
kekekalan jiwaku aku-mu. Hewaniku membuncah hingga tatapan membelalak menatap
setiap kata yang tersaji, disana aku menemukanmu yang bersembunyi tanpa
kamuflase hasrat yang terlalu kentara untuk untuk harus aku imani. Jika segalanya
yang ada dalam semesta adalah selain Dia, kata-kataku pun adalah perisai atau
sejenis selasar tanpa tiang-tiang penyangga yang mengakhiri pandangan dan
langkah pada sejumput kisah kronomik namun kekal tiada dimensi.
Kau, kalulah kekupu yang menjadikan para astrofisikawan
terbelalak menyasikan harmoni semesta dari keliaran yang ditimbulkan oleh
nuansa chaos. Dan ketika sekali saja kau mengepak sayap lembutmu, seluruh
semestaku kan bergerak menyesir setiap senar-senar dawai yang terbentang hingga
ke segala lintang. Itulah mengapa kau adalah kekupu sebagai perisai tempat
unifikasi agung mendapat rumusan matematis yang penuh dengan ketidaklengkapan
Godel ataupun ketakpastian Heisenberg.
***
Itulah kekukupu, kelembutan sayapnya seperti selembar tissue
yang tersirami air. Tapi kelemahlembutan itu adalah kekuatan Hawa-ik yang
melekat pada kediriannya, kekuatan kasih Ketunggalan yang melekat dalam lesung
tawanya; sehingga apapun rusa jantan, tak sanggup menepis efek-efek kepakannya
sebagai jejaring-jejaring terhubung yang membuat semesta senantiasa setia
berrotasi. Kini keliaran hasrat tak lagi dibatasi oleh populis-populis akal
sehat, tak lagi dibatasi oleh cengkarama kultura layaknya sinetron pula
telenovela. Jika hati kecil menyuarakn kepedihan yang direpresi konvensi, maka
suara hati adalah sejenis ruang-waktu yang mustahil berjalan berpisah
sendiri-sendiri. Suara hati ini adalah ketidaktersembunyian manifest
ketakberhingaan yang patut didengar. Suara hati ini melapaui ruang-waktu
Einsteni-an, melampaui corak fisikawan. Suara hati ini adalah adalah getar nadi
memanggil abadi yang kadang dikhianati oleh diri sendiri yang egoisitk. Suara
hati adala id, yang karena aroma kapitalimse semakin menunjukan taringnya, ia
pun selalu mendapat tempat-tempat berserah dan secara bersamaan menjadikan diri
sendiri sebagai pembunuh sekaligus hakim yang menuduh suara hati sebagai biang
neurotic yang pada akhirnya mendapat konotasi buruk atau stigma kegilaan.
Iya, suara hatiku membuat cerita kekupu tak berawal tanpa akhir. Saat kepakan pertama
yang membawaku ke wilayah tanah sengketa dimana aku harus membuat pengakuan
menggetarkan malam itu, aku merasa seperti ribuan tahun telah mendunia
bersamanya, menghabisakan waktu dibawah sinar matahari yang menyejuk-suamkan,
atau telah lama hidup bersamanya sampai
tak tahu kapan awalnya kisah ini di jalani. Dengan ritmis tubuh yang semakin menggemetarkan,
aku begitu berani bermetamorfosa dari kembang menjadi kekupu, kemudian kembali
lagi. Bergantian menghisap sari-sari kembang dijantung hayati dengan desah menggelora
akan suara-suara suci yang sendu menggugurkan air mata. Disana, di tempat di
mana rasa menyetubuhi malam hangat, Nietszhe, Dante, Flaubert dan Tolstoy hadir
dengan kata dan diksi-diksi yang liar kemudian Mozart dan Kitaro mewarnai irama
malam itu dengan gesekan viola dan cello membuat waktu Einsten-ian berhenti
bergerak; iya segalanya berhenti beregerak menyaksikan pertunjukan halilintar
dengan kecepatan desah menggelora. Malam itu kecepatan cahaya yang tak tertandingi
harus mengalah pada kekapan kekupu yang terbangnya melebihi kecepatan apapun.
Malam itu desah membirahi melahirkan badai kepakan kekupu membuat tubuh menjadi
tegar dan tersitmulasi oleh tegangan tinggi akibat sentuhan sensual alat ucap,
namun aku percaya bahwa badai itu adalah sebentuk harmonisasi kerinduan, atau
sebentuk suara-suara kasih yang mencari damai dalam dunia di mana cinta sejati
selalu mendapat stigma tak wajar, dan atau saling berserah pada kesejatian yang
pada akhirnya membuat gemuruh yang awlanya ditakuti setiap telinga, berubah
menjadi melodi-melodi sendu yang mengaharu biru menderuh.
Aku tak pernah merasa terganggu oleh detak jam dinding yang
selalu melewatkan hari. Sebab kisah ini adalah pertunjukan atau sebuah tragedy
suci dimana kata-kata tercipta. Setiap kali udara tipis mendesir lembut bulu
romaku, aku merasa dia adalah angin yang datang dari segala arah untuk melihat
dan menyapaku dalam penderitaan kudus ini. namun penderitaan ini layaknya
instrument bahagia yang tak mungkin dihindari. Sebab dia selalu hadir dan
mengubah hari menjadi guratan wajah penuh tawa; akbiat tebing tawa yang memacu
gravitasi, aku tak bisa lagi mengunakan rumus reversibility tuk merestorasi
rasa menjadi sebentuk semula. Bukankah rumus matematis menyerah pada metafisika?
Kini aku telah jatuh melewati lubang hitam dan telah sampai pada dimensi
ruang-tak beruang. Disana yang ada hanyalah ruang-ruang yang dipenuhi dengan efek-efek
kepakan sayap kupu-kupu sehigga tubuhku selalu saja terserang bakteri alga biru
atau makromolekul yang salalu memerintahkan langkakhku hanya pada satu system kerja
tubuh: sujud mengabdi pada Abadi sebagi menifestasi ketakberhinggaan dalam
ruang Hening pula Sunyi.
***
Pagi itu menjadi saksi. Hujan mendesir seisi kota. Akibat
gejolak membara yang membakar getar sukma, kedinginan akibat hujan berubah
menjadi nuasa perapian yang menghangatkan. Saat itu rencana jalan pagi gagal
akibat deras hujan. Kami memutuskan untuk merapikan buku-buku yang berserakan
di tempat yang tak lagi terawat baik. Hari-hari sebelumnya aku jalani
bersamanya penuh dengan gejolak yang membuat kelopak mata lesuh menyuam.
Disana, diruang perpustakaan itu yang disampingnya terpampang lukisan matahari
pagi yang pancarannya seperti merambah seluruh jejaring pembuluh darah, panas.
Namun wajahnya yang terlihat pasif menawan, dengan sorot mata bundar yang
seloah menggandakan semua apa yang bisa dilihat melabraku dengan sugesti
penyerahan diri. Tiba-tiba sepasang angsa yang riang ditengah danau tercebur
kedalam pelukan mesra tanpa mengiraukan pagi yang mesti diisi dengan
aktifitasnya.
Gemuruh angin yang
keluar dari rongga dada, helai demi helai bulu angsa terlepas kulit-kulit
selembut sutera. Sepesang mata saling menatap dalam diam, tetapi saraf-saraf
mereka tengah mengalirkan darah dengan tensi bahasa tinggi, sehingga akibat
degup jantung yang tak menentu, kemudian tubuh yang kian hangat membuat
sepasang angsa hanya memberikan kesempatan bagi bahasa-bahasa tubuh untuk
bercengkrama, menerkam, melehap, menendang, mengusap, membelai, memegang dengan
irama dan tempo yang siap mendatangkan hujan membanjiri perut bumi sebagai
benih tumbuhnya kehijauan. Tetapi nampaknya desah suara tak mau juga ketinggalan yang, pada
akhirnya mengiringi gerakan semesta dengan nada-nada sendu tak tertahankan.
Iya, tak tertahankan, langitku tak kuasa
menjadi mendung dan merubah diri menjadi butiran-butiran hujan, jatuh di hisap sang
bumi dengan pinta akan hadirnya sosok-sosok baru seperti Ikbal di Lahore,
Syariati di Iran dan Gayatri di India atau Hypatia di Aleksandria.
Kini hari demi hari berlalu, tapi, karena kisah ini terjadi
dalam waktu manifest membikin hidupku dengan ikhlas dihisap dalam rahim
khatulistiwa sehingga keabadian adalah jalan dari Kesempurnaan menuju hidup
lebih Abadi. Kisah ini bukanlah sebuah perjalanan kasih dalam realitas yang
terkonvensi, kisah ini bukanlah cerita yang lahir dari kemauan ego sebagai
hasil dari filterisasi supraego. Melainkan berasal dari suara jiwa terdalam,
dijalani dengan membiarkan diri terbawa dalam arus ketakberhinggaan, dibaluri
dengan nuansa kedalaman rahman-rahim, tercipta dari pengukuan hati terdalam
yang menggetarkan, olehnya itu jika semesta adalah scenario Ilahi tuk
memperlihatkan Kekuasaan-Nya, maka kisah ini adalah tanpa akhir yang terjadi
dalam waktu ke-Ilahian, bukan dalam waktu fisikawan, kisah yang memperlihatkan
akan begitu besar Kasih-Sayang-Nya. Itulah alasan akan “aku memberontak maka aku Ada” dalam Aku-mu.
***
Di sana, di sebuah rumah dalam wilayah tanah sengketa itu,
saat membuat pengakuan akan Kesejatian Cinta, sebelumnya aku telah terlibat
dalam scenario patriarkis yang menggiring dan memenjarakan ada-ku tanpa salah
dan dosa apapun. Sebuah scenario diamana aku di tuduh bersalah dan di hukum
tanpa pembela apapun. Sebuah skenario yang memaksakan aku terpenjara dalam
kehidupan tanpa sedikitupun rasaku berada disana. Tapi dengan ketegarannya yang
menggetarkan aku mampu melewati semak belukar kultur, menerobos batas yang tak
alami, melabrak konvensi-konvensi kaum-kaum borjuis menengah hingga pada akhrinya
dan “selalu” jiwa ku menjadi bebas
merdeka dimana dia adalah penyelamat jiwa yang merintih dan membawaku pada alam
keabadian sebagai prasyarat merebut separuh
agama.
Oh senja ku yang kemerahan, pengukuan itu adalah suara belati
yang merobek batas rasa kemanusian menuju Arsy ketunggalan, sehingga dalam masa
sulit seperti ini aku selalu mendamba ruang-ruang sunyi, ruang kontemplasi yang
aku gapai dengan harus menorobos pekat malam, gemunung, yang disana pula aku
melihat kita begitu damai menyuam tanpa sedikitpun dipengaruhi akan detak jam
dinding, tanpa dipengaruhi oleh cerita-cerita yang menyalahakan Muhammad. Iya,
karena kita adalah abadi dalam Arsy ketunggalan maka kedamaian dan kesejatian
yang aku rasakan adalah gerak dalam ruang dan waktu KeIlahian, dan karena ketidaktahuan
manusia modern mengatakan ini sebagi hal gila. Ini bukan gila, tapi Inilah
kegilaan menggetarkan, inilah kegilaan yang mencipta mawar menjadi gunung jiwa,
yang merubah senja berjingga menjadi merah, inilah kegilaan yang membuat The
Kreutzer Sonata menjadi irama penyadar akan Tolstoy menjadi religious dan
inilah kegilaan yang membuat Arsy
terbelah menghisap kita ke dalam scenario Ketakberhinggaan yang penuh dengan
kehangatan Rasa akan Kesejatian.
Di saat-saat dimana ketika kita kembali menjadi
Angsa-meng’angkasa’, kepakan sayap kekupu mampu melahirkan lanskap klasik.
Disana ketika malam menahan kubah yang dibenci kau sufi, kita terhibur dalam
linangan air mata saat mendengar kisah dari Tolstoy yang mebincangkan
keluarga-keluarga yang tak bahagia, begitu damai mendengar sabda Zarathustra
yang di sampaikan Nietszche. Saat itu hujan deras beruguguran dari langit
tatapanmu yang bundar meyerupai keindahan bumi,
akupun tak kuasa menepis kelebatan curah rasa yang membuatku harus
tenggalam menghisap butiran-butiran itu dengan caraku sendiri. Iya, dengan
caraku sendiri aku meminum air dari ceruk bening jiwamu, yang hingga kini
ketika raga-jiwaku dibaluri sinar matahari, atau dibungkus cahaya gemintang,
butiran itu selalu dalam titik didih yang menjalar dan baluri keseluruh
jejaring syarafku kemudian membawa
hari-hariku selalu dan selalu dalam pinta akan aku-akumu kan tertulis abadi dalam
taman mawar, di puncak gunung Jiwa penuh irama Kreutzer sonata dengan nada-nada
pemberontakan Abadi. Senja pasti Kembali
menembus batas Horizon, seperti katamu dalam sebuah komentar “Senja Menunggumu”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar