Sabtu, 09 Maret 2013

Catatan Terpendek Dari Durasi Terpanjang


Panjangnya durasi dari waktu normal adalah siklus dari pergantian malam menjemput matahari kemudian menanti rembulan yang gemerlapnya merindu malam. Waktu kronometer adalah rangkaian perjalan dinamis dalam pengertian absolutis Newtonian, namun seperti kita ketahui, saat kehadiran Einstein dengan revolusi ralitivitasnya telah merubah dimensi ruang-waktu menjadi bagian dari gelombang suasana hati dimana dua pengamat selalu merasakan hasil berbeda dalam melakukan suatu kerja pada saat yang sama. Apapun yang terjadi Einstein masih merindu waktu menjadi bagian materi yang dia benci, tetapi tidak dalam pengertian yang lebih dalam yang membincangkan waktu sebagaimana yang kuinginkan sebagai pengantar sekaligus isi catatan ini. Oleh karena itu durasi yang saya maksud disini bukan pula dalam term Bergsonian, melainkan searah dalam pandangan Ikbal yang mengikuti Arabi akan waktu bagian dari manifest ketakberhinggaan.

Dan catatan ini bukanlah deskripsi rasional an sich,  tetapi lebih pada rangkaian rasional metafisik yang meng-osilasi bawah sadar yang menggetarkan sekaligus merepsresi kesadaran yang kemudian membawa ketaksadaran itu menjadi realitas hidup yang kadang—oleh Freud—dianggap sebagai biang neurosis. Namun ada hal yang patut digaris bawahi, bahwa ketika saya mengatakan bagaimana ketaksadaran menjadi realitas hidup, bukan berarti bahwa saya berada dalam persetujuan dengan Freud ataupun Lacan, melainkan memahami apapun yang tampak dalam mata batin adalah bagian dari manifest kerinduan-Nya yang patut untuk di wadahi.

Iya, inilah cerita terpendek dalam rentang waktu Newtonian, dimana hanya kurang lebih seminggu telah berulang sebuah kisah tanpa ada cerita yang sama sebelumnya, sebuah kisah yang bagiku adalah tanda getar abadi yang terjadi tidak dalam waktu fisis melainkan dalam Asma-asma Indah dimana waktu adalah bagian dari-Nya, ini merupkan cerita yang terlukis diatas kanfas sufistik Rumi yang mustahil terceritakan. Tatapi karena kata adalah bara yang menghangatkan rasa, maka catatan ini adalah implus kegilaan ke-Ilahi-an yang tergradasi menjadi kata agar terbaca bagi orang-orang yang merindu ketakwajaran.

***
Yang mana sebenarnya yang realistis?. Menyerah pada kondisi di mana “keberadaan” pada saat yang sama tidak berada disana?, ataukah hidup mengikuti implus hasrat, dan pada  saat yang sama kita merasa benar-benar ada dalam dunia? Apakah yang liar, brutal, mengikuti suara hati  dan semacamnya adalah semata tidak terpuji?. Seperti paragraph sebelumnya, waktu terkait erat dengan suasana hati, oleh karena itu ketika membincangkan term “dunia”, yang aku maksud adalah kondisi dimana kita benar-benar kerasan, merasa satu dengan sesuatu yang sedang kita jalani (Baca Heidegger).

Karena waktu adalah bagian dari kredo ke-Ilahian, maka sewajarnya keliaran mengabdi pada tampakan abadi adalah sejenis kekurangajaran suci yang terstigma menjadi birahi-birahi kudus; membara sebagai ikhtiar tindak  produksi sekaligus prokreasi akan kekekalan jiwaku aku-mu. Hewaniku membuncah hingga tatapan membelalak menatap setiap kata yang tersaji, disana aku menemukanmu yang bersembunyi tanpa kamuflase hasrat yang terlalu kentara untuk untuk harus aku imani. Jika segalanya yang ada dalam semesta adalah selain Dia, kata-kataku pun adalah perisai atau sejenis selasar tanpa tiang-tiang penyangga yang mengakhiri pandangan dan langkah pada sejumput kisah kronomik namun kekal tiada dimensi.

Kau, kalulah kekupu yang menjadikan para astrofisikawan terbelalak menyasikan harmoni semesta dari keliaran yang ditimbulkan oleh nuansa chaos. Dan ketika sekali saja kau mengepak sayap lembutmu, seluruh semestaku kan bergerak menyesir setiap senar-senar dawai yang terbentang hingga ke segala lintang. Itulah mengapa kau adalah kekupu sebagai perisai tempat unifikasi agung mendapat rumusan matematis yang penuh dengan ketidaklengkapan Godel ataupun ketakpastian Heisenberg.

***
Itulah kekukupu, kelembutan sayapnya seperti selembar tissue yang tersirami air. Tapi kelemahlembutan itu adalah kekuatan Hawa-ik yang melekat pada kediriannya, kekuatan kasih Ketunggalan yang melekat dalam lesung tawanya; sehingga apapun rusa jantan, tak sanggup menepis efek-efek kepakannya sebagai jejaring-jejaring terhubung yang membuat semesta senantiasa setia berrotasi. Kini keliaran hasrat tak lagi dibatasi oleh populis-populis akal sehat, tak lagi dibatasi oleh cengkarama kultura layaknya sinetron pula telenovela. Jika hati kecil menyuarakn kepedihan yang direpresi konvensi, maka suara hati adalah sejenis ruang-waktu yang mustahil berjalan berpisah sendiri-sendiri. Suara hati ini adalah ketidaktersembunyian manifest ketakberhingaan yang patut didengar. Suara hati ini melapaui ruang-waktu Einsteni-an, melampaui corak fisikawan. Suara hati ini adalah adalah getar nadi memanggil abadi yang kadang dikhianati oleh diri sendiri yang egoisitk. Suara hati adala id, yang karena aroma kapitalimse semakin menunjukan taringnya, ia pun selalu mendapat tempat-tempat berserah dan secara bersamaan menjadikan diri sendiri sebagai pembunuh sekaligus hakim yang menuduh suara hati sebagai biang neurotic yang pada akhirnya mendapat konotasi buruk atau stigma kegilaan.

Iya, suara hatiku membuat cerita kekupu  tak berawal tanpa akhir. Saat kepakan pertama yang membawaku ke wilayah tanah sengketa dimana aku harus membuat pengakuan menggetarkan malam itu, aku merasa seperti ribuan tahun telah mendunia bersamanya, menghabisakan waktu dibawah sinar matahari yang menyejuk-suamkan, atau telah lama  hidup bersamanya sampai tak tahu kapan awalnya kisah ini di jalani. Dengan ritmis tubuh yang semakin menggemetarkan, aku begitu berani bermetamorfosa dari kembang menjadi kekupu, kemudian kembali lagi. Bergantian menghisap sari-sari kembang dijantung hayati dengan desah menggelora akan suara-suara suci yang sendu menggugurkan air mata. Disana, di tempat di mana rasa menyetubuhi malam hangat, Nietszhe, Dante, Flaubert dan Tolstoy hadir dengan kata dan diksi-diksi yang liar kemudian Mozart dan Kitaro mewarnai irama malam itu dengan gesekan viola dan cello membuat waktu Einsten-ian berhenti bergerak; iya segalanya berhenti beregerak menyaksikan pertunjukan halilintar dengan kecepatan desah menggelora. Malam itu kecepatan cahaya yang tak tertandingi harus mengalah pada kekapan kekupu yang terbangnya melebihi kecepatan apapun. Malam itu desah membirahi melahirkan badai kepakan kekupu membuat tubuh menjadi tegar dan tersitmulasi oleh tegangan tinggi akibat sentuhan sensual alat ucap, namun aku percaya bahwa badai itu adalah sebentuk harmonisasi kerinduan, atau sebentuk suara-suara kasih yang mencari damai dalam dunia di mana cinta sejati selalu mendapat stigma tak wajar, dan atau saling berserah pada kesejatian yang pada akhirnya membuat gemuruh yang awlanya ditakuti setiap telinga, berubah menjadi melodi-melodi sendu yang mengaharu biru menderuh.

Aku tak pernah merasa terganggu oleh detak jam dinding yang selalu melewatkan hari. Sebab kisah ini adalah pertunjukan atau sebuah tragedy suci dimana kata-kata tercipta. Setiap kali udara tipis mendesir lembut bulu romaku, aku merasa dia adalah angin yang datang dari segala arah untuk melihat dan menyapaku dalam penderitaan kudus ini. namun penderitaan ini layaknya instrument bahagia yang tak mungkin dihindari. Sebab dia selalu hadir dan mengubah hari menjadi guratan wajah penuh tawa; akbiat tebing tawa yang memacu gravitasi, aku tak bisa lagi mengunakan rumus reversibility tuk merestorasi rasa menjadi sebentuk semula. Bukankah rumus matematis menyerah pada metafisika? Kini aku telah jatuh melewati lubang hitam dan telah sampai pada dimensi ruang-tak beruang. Disana yang ada hanyalah ruang-ruang yang dipenuhi dengan efek-efek kepakan sayap kupu-kupu sehigga tubuhku selalu saja terserang bakteri alga biru atau makromolekul yang salalu memerintahkan langkakhku hanya pada satu system kerja tubuh: sujud mengabdi pada Abadi sebagi menifestasi ketakberhinggaan dalam ruang Hening pula Sunyi.

***
Pagi itu menjadi saksi. Hujan mendesir seisi kota. Akibat gejolak membara yang membakar getar sukma, kedinginan akibat hujan berubah menjadi nuasa perapian yang menghangatkan. Saat itu rencana jalan pagi gagal akibat deras hujan. Kami memutuskan untuk merapikan buku-buku yang berserakan di tempat yang tak lagi terawat baik. Hari-hari sebelumnya aku jalani bersamanya penuh dengan gejolak yang membuat kelopak mata lesuh menyuam. Disana, diruang perpustakaan itu yang disampingnya terpampang lukisan matahari pagi yang pancarannya seperti merambah seluruh jejaring pembuluh darah, panas. Namun wajahnya yang terlihat pasif menawan, dengan sorot mata bundar yang seloah menggandakan semua apa yang bisa dilihat melabraku dengan sugesti penyerahan diri. Tiba-tiba sepasang angsa yang riang ditengah danau tercebur kedalam pelukan mesra tanpa mengiraukan pagi yang mesti diisi dengan aktifitasnya.

Gemuruh  angin yang keluar dari rongga dada, helai demi helai bulu angsa terlepas kulit-kulit selembut sutera. Sepesang mata saling menatap dalam diam, tetapi saraf-saraf mereka tengah mengalirkan darah dengan tensi bahasa tinggi, sehingga akibat degup jantung yang tak menentu, kemudian tubuh yang kian hangat membuat sepasang angsa hanya memberikan kesempatan bagi bahasa-bahasa tubuh untuk bercengkrama, menerkam, melehap, menendang, mengusap, membelai, memegang dengan irama dan tempo yang siap mendatangkan hujan membanjiri perut bumi sebagai benih tumbuhnya kehijauan. Tetapi nampaknya desah  suara tak mau juga ketinggalan yang, pada akhirnya mengiringi gerakan semesta dengan nada-nada sendu tak tertahankan. Iya, tak tertahankan,  langitku tak kuasa menjadi mendung dan merubah diri menjadi butiran-butiran hujan, jatuh di hisap sang bumi dengan pinta akan hadirnya sosok-sosok baru seperti Ikbal di Lahore, Syariati di Iran dan Gayatri di India atau Hypatia di Aleksandria.

Kini hari demi hari berlalu, tapi, karena kisah ini terjadi dalam waktu manifest membikin hidupku dengan ikhlas dihisap dalam rahim khatulistiwa sehingga keabadian adalah jalan dari Kesempurnaan menuju hidup lebih Abadi. Kisah ini bukanlah sebuah perjalanan kasih dalam realitas yang terkonvensi, kisah ini bukanlah cerita yang lahir dari kemauan ego sebagai hasil dari filterisasi supraego. Melainkan berasal dari suara jiwa terdalam, dijalani dengan membiarkan diri terbawa dalam arus ketakberhinggaan, dibaluri dengan nuansa kedalaman rahman-rahim, tercipta dari pengukuan hati terdalam yang menggetarkan, olehnya itu jika semesta adalah scenario Ilahi tuk memperlihatkan Kekuasaan-Nya, maka kisah ini adalah tanpa akhir yang terjadi dalam waktu ke-Ilahian, bukan dalam waktu fisikawan, kisah yang memperlihatkan akan begitu besar Kasih-Sayang-Nya. Itulah alasan akan “aku memberontak maka aku Ada” dalam Aku-mu.

***
Di sana, di sebuah rumah dalam wilayah tanah sengketa itu, saat membuat pengakuan akan Kesejatian Cinta, sebelumnya aku telah terlibat dalam scenario patriarkis yang menggiring dan memenjarakan ada-ku tanpa salah dan dosa apapun. Sebuah scenario diamana aku di tuduh bersalah dan di hukum tanpa pembela apapun. Sebuah skenario yang memaksakan aku terpenjara dalam kehidupan tanpa sedikitupun rasaku berada disana. Tapi dengan ketegarannya yang menggetarkan aku mampu melewati semak belukar kultur, menerobos batas yang tak alami, melabrak konvensi-konvensi kaum-kaum borjuis menengah hingga pada akhrinya dan “selalu”  jiwa ku menjadi bebas merdeka dimana dia adalah penyelamat jiwa yang merintih dan membawaku pada alam keabadian sebagai prasyarat merebut separuh agama.

Oh senja ku yang kemerahan, pengukuan itu adalah suara belati yang merobek batas rasa kemanusian menuju Arsy ketunggalan, sehingga dalam masa sulit seperti ini aku selalu mendamba ruang-ruang sunyi, ruang kontemplasi yang aku gapai dengan harus menorobos pekat malam, gemunung, yang disana pula aku melihat kita begitu damai menyuam tanpa sedikitpun dipengaruhi akan detak jam dinding, tanpa dipengaruhi oleh cerita-cerita yang menyalahakan Muhammad. Iya, karena kita adalah abadi dalam Arsy ketunggalan maka kedamaian dan kesejatian yang aku rasakan adalah gerak dalam ruang dan waktu KeIlahian, dan karena ketidaktahuan manusia modern mengatakan ini sebagi hal gila. Ini bukan gila, tapi Inilah kegilaan menggetarkan, inilah kegilaan yang mencipta mawar menjadi gunung jiwa, yang merubah senja berjingga menjadi merah, inilah kegilaan yang membuat The Kreutzer Sonata menjadi irama penyadar akan Tolstoy menjadi religious dan inilah kegilaan yang  membuat Arsy terbelah menghisap kita ke dalam scenario Ketakberhinggaan yang penuh dengan kehangatan Rasa akan Kesejatian.

Di saat-saat dimana ketika kita kembali menjadi Angsa-meng’angkasa’, kepakan sayap kekupu mampu melahirkan lanskap klasik. Disana ketika malam menahan kubah yang dibenci kau sufi, kita terhibur dalam linangan air mata saat mendengar kisah dari Tolstoy yang mebincangkan keluarga-keluarga yang tak bahagia, begitu damai mendengar sabda Zarathustra yang di sampaikan Nietszche. Saat itu hujan deras beruguguran dari langit tatapanmu yang bundar meyerupai keindahan  bumi,  akupun tak kuasa menepis kelebatan curah rasa yang membuatku harus tenggalam menghisap butiran-butiran itu dengan caraku sendiri. Iya, dengan caraku sendiri aku meminum air dari ceruk bening jiwamu, yang hingga kini ketika raga-jiwaku dibaluri sinar matahari, atau dibungkus cahaya gemintang, butiran itu selalu dalam titik didih yang menjalar dan baluri keseluruh jejaring syarafku kemudian  membawa hari-hariku selalu dan selalu dalam pinta akan aku-akumu kan tertulis abadi dalam taman mawar, di puncak gunung Jiwa penuh irama Kreutzer sonata dengan nada-nada pemberontakan Abadi. Senja pasti Kembali menembus batas Horizon, seperti katamu dalam sebuah komentar “Senja Menunggumu”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar