Titik-titik
air meneteskan irama melankoli
Membawa malam
jadi muram tanpa sepenggal melolodi selain kalpa menerpa
Jika mau,
ambilah dariku seluruh imajinasi liarku dalam kata
Atau ambilah
seluruh partikularitas virtual Ada ku
Tapi jangan
ambil dariku darah Skizoid
benih sejati delusi pembenci fakta-fakta
nyata…
jangan ambil
dariku luka derita dan tawa histeris
Sebab
kebahagiaan adalah patoligis pula tragedy yang tragis
Janganlah menyibak
tirai yang tak punya kemungkinan humanis
Tapi sisikpkanlah
sedikit ruang kemungkinan nyata
penuh daya gravitasi walapun hanya ilusi
tak nyata.
Tapi ini
aneh…
Sebab kau
begitu damai melantunkan bahagia pasti ada pada milik orang lain
Melantunkan nada-nada
kecongkakan buta seolah aku adalah bagian darinya ..
Kini, malam
meruncing menjadi sabda eksistensial
Jika kau
lihat…
Aku dalah pematung
malam beremetamorfosa dari kekupu
Akulah
pematung malam berdiri tegak
Memandang wajah
tanpa keberanian
Akulah pematung
malam dalam iba atas matinya hasrat penulis muda
O malam…
Tak ada
cerita indah abadi tanpa melukismu dalam keadaan telanjang
Tapi, pagi
akan datang dengan gaun-gaun popular
Merusak sastra,
melabrak kata, mengsur sunyi
Hingga syairpun
sekedar pelarian kegalauan..
Tiada yang
bisa memahamiku selain batu ambar yang menyengat.
Akulah pematung malam telanjang
Tapi
galeriku sesak dengan penikmat hasrat fatamorgana
Oh.. Aku keliru
mendamba rupa yang jauh mengkalpa.
Keliru mendamba
Kata dalam kekosongan makna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar