Minggu, 10 Maret 2013

Pematung Malam


Titik-titik air meneteskan irama melankoli
Membawa malam jadi muram tanpa sepenggal melolodi selain kalpa menerpa
Jika mau, ambilah dariku seluruh imajinasi liarku dalam kata
Atau ambilah seluruh partikularitas virtual Ada ku
Tapi jangan ambil dariku darah Skizoid
    benih sejati delusi pembenci fakta-fakta nyata…
jangan ambil dariku luka derita dan tawa histeris
Sebab kebahagiaan adalah patoligis pula tragedy yang tragis
Janganlah menyibak tirai yang tak punya kemungkinan humanis
Tapi sisikpkanlah sedikit ruang kemungkinan nyata
     penuh daya gravitasi walapun hanya ilusi tak nyata.

Tapi ini aneh…
Sebab kau begitu damai melantunkan bahagia pasti ada pada milik orang lain
Melantunkan nada-nada kecongkakan buta seolah aku adalah bagian darinya ..
Kini, malam meruncing menjadi sabda eksistensial
Jika kau lihat…
Aku dalah pematung malam beremetamorfosa dari kekupu
Akulah pematung malam berdiri tegak
Memandang wajah tanpa keberanian
Akulah pematung malam dalam iba atas matinya hasrat penulis muda

O malam…
Tak ada cerita indah abadi tanpa melukismu dalam keadaan telanjang
Tapi, pagi akan datang dengan gaun-gaun popular
Merusak sastra, melabrak kata, mengsur sunyi
Hingga syairpun sekedar pelarian kegalauan..
Tiada yang bisa memahamiku selain batu ambar yang menyengat.
Akulah pematung malam telanjang                                
Tapi galeriku sesak dengan penikmat hasrat fatamorgana
Oh.. Aku keliru mendamba rupa yang jauh mengkalpa.
Keliru mendamba Kata dalam kekosongan makna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar