Gundah melegenda mengakhiri batas
dalam semesta dada. Tapi batasan ini bukanlah akhir dari sebuah gerak, bukan
pula akhir dari ruang-waktu atau akhir suatu horizon, melainkan batas yang
dipahami sebagai pelambatan gerak tapi pasti, yang lambat laun meluaskan dimensi
dada sajauh semesta menghasta; atau sebuah konstanta
kosmologis dalam senar super dawai yang membuat galaksi saling merindu-hindari
dalam ruang yang saling terhubung. Sementara itu—seperti sebelumnya—semua saat
dalam waktu merubah malam, pagi dan siang menjadi senja bernuansa jingga. Namun
akibat gejolak yang semakin membara, jingga itu berubah menjadi api kemerahan;
membakar dadaku menjadi debu atmosfer yang melayang keriangan. Dan jika keriangan
itu meyetubuhi uapan air, gejolak itu merubah diri menjadi mega puith nan
berseri kemudian menjadi lembaran-lembaran kertas tempat kisah keabadian kan
terukir. Jangan memintaku membuat pagi menjadi anak pertama dari ibu semesta
disaat arah detak nadiku hanya menunjukan angka 5 sore. Jangan!!. Itu hal
mustahil, sebab kau hanya mengajari senja menjadi malam penuh kubah yang
berubah diri menjadi hasrat Oedipus yang menikahi ibunya (itulah sebab aku
membenci Freud).
“Bacalah”, disetiap tanda Abadi meng-Ada. Tanda itu ialah menifestasi kerinduan dimana aku-mu adalah selubung
cahaya menerangi setiap warni. Semantik bahasaku dalam penandaan itu adalah
keabadian; apapun yang aku tatap ialah abadi yang tersirat, apapun yang terucap
ialah abadi yang menyapa, begitupun yang terdengar ialah abadi yang bergetar.
Apakah wajar, apakah bisa merubah senja menjadi pagi?. Memang aku adalah
rembulan yang telah memiliki gemintang, tapi semenjak gemuruh kupersembahkan
padanya, tak satupun asa dan cinta ku
berada disana melainkan aku-mu yang ‘menjadi’. Aku begitu menderita. Marah.
Marah karena abadi menjadi belati bagi janji yang tak ditepati. Tidakah aku
lebih mencintai danau ketimabang gemintang?.
Kini kau telah dan hampir berubah
menjadi orang-orang normal yang membid’ah-kan semua perilaku ketakwajaran.
Sementara aku masih saja berada dalam kegilaan menggentarkan, dikontrol oleh bawah
sadar dengan intensionalitas hanyalah Aku-mu. Saat yang sama aku selalu menjadi
objek para mentalis yang selalu diberikan sugesti akan imaji yang selalu
berkhir abadi. Kini siapa yang palig berdosa memangkas hasrat Ilahi menjadi
ilusi badani?. Siapa yang paling berdosa memangkas senja menjadi pagi?.
Jawab!!. Dimanakah letak keadilan? Bukankah semua yang terjadi padaku dan akumu
adalah melalui desain sang Maha syakur? Oh, abadiku.. hari-hariku mewarni sebab
kau adalah prisma yang mencipta ragam warna.
Saat ini segala sarafku tengah
berada dalam pertunjukan osilasi dengan tensi yang begitu tinggi. Osilasi in meyerupai
gelombang samudera; menghunuskan jiwaku
yang masih saja terapung diatas bongkahan resah, desah merindu dan sapa
memiliki. Aku teringat sebuah bait suci bahwa “Dia tak pernah mencipta manusia dengan dua hati”. Sontak saja
firman itu seperti ditujukan padaku dengan latar hermeneutic dimana kau adalah
sebab turunnya Ayat. Aku mencintaimu adalah desain Sang Maha sempurna dengan
cara-cara yang dibenci oleh para ulama modern yang mengukur surga hanya dengan harga
kemapanan kapitalistik yang begitu murah pula murahan. Aku mencintaimu dengan
segenap senja yang melahirkan lanskap jingga kemerahan. Tapi haruskah aku
menjadi orang-orang kalah yang selalu mencari perlindungan hannya pada menyendiri
dibelantara rimba?. Bukankah aku-mu adalah ruang sunyi sebagai tempat diamana
aku menemukan diriku?. Apakah harus aku menyerah pada prinsip realitas Freud?.
***
Kerinduan dan rasa memiliki yang
begitu dalam seperti telah berubah menjadi sebuah kebencian. Tapi kebencian ini
bukanlah perasaan yang berbanding terbalik
dengan perasaan kasih sayang. Bukan. Melainkan intesionalitas kerinduan yang
memiliki porsi lebih. Kebencian ini terjadi lantaran aku tak kuasa menahan
derai rintihan tuk akhiri abadi menjadi pagi. Kebencian ini lantaran lengkingan
jiwa tak mampu didengar siapapun. Kebencian ini terjadi lantaran dawai-dawai
sukmaku tak pernah bisa berhenti mengalunkan asma agung yang menjadi alasan
kata-kata tercipta dimana aku-mu kutemukan. Dan kebencianku adalah sebab akan
detak pemberontakan tuk merebut Aku-mu sebagai manifestasi Ketakberhinggan nan
abadi.
Dalam jeda sesaat, aku begitu memahami
sebuah pinta akan aku menjadi pagi. Aku mencoba memahami dimana posisiku
sebagai hawa yang membenci kasih menjadi madu. Tak ada pilihan atau menjadi
yang kedua selain proses Esa menuju yang pertama. Dan kisah ini adalah perjalanan sang Waktu yang
menyisihkan Rahman dan Rahim diantara senja yang jinggakan kemerahan. Kisah ini
adalah alasan Majnun mendapat stigma kegilaan. Kisah ini adalah alasan
Bethoveen menjadi tuli Karena Elise. Kisah ini adalah alasan Sebastian Bach mencipta
Aleggro; the most beautiful yang menghanyutkan. Kisah ini adalah alasan Schuman
dan Waltz merangkai sonata-sonata indah. Kisah ini adalah alasan Mozart
merangkai thema for Elvira Madigan.
Kisah ini adalah alasan Einstein meninggalkan Mileva karena esensi rangakaian irama
Mozart. Kisah ini adalah alasan Ravaelo Sanzio melukis La Dona Velata. Kisah ini adalah penyebab ribuan pemuda eropa bunuh
diri setelah membaca Goethe, the young weather of sorrows. Kisah ini adalah
alasan Claude Monet melukis rembulan abadi sebagai awal pemberontakan
impresionisme terhadap pelukis-pelukis mapan. Itulah alasan sukmaku kan
berontak tuk aku-aku mu kan abadi. Dan itulah alasanku tuk menolak pintamu agar
aku menjadi pagi, atau itulah alasan
akan aku tak mau memahami pinta itu.
***
Dibalik jendala hujan masih turun
deras. Petir dan suara Guntur yang menghelegar seolah menjadi penyambung
lidahku memanggil-manggil namamu, sementara rinai hujan yang jatuh dari tiris
rumah ialah air mata jiwaku yang merindu pelukan abadi. Aku seperti hendak
mengisap satu-satu tetes hujan dimana ia adalah air matamu. Iya, dibalik
jendela ini aku masih saja merangkai kata tuk menemukanmu lebih dan lebih dalam
lagi. Sementara di telinga dalamku Sebastian Bach semakin riang memainkan komposisi
bourree, yang membuat segala bunyi menyisir abadi. Aku teringat dengan
sepenggal syair seorang pakar matematikan, Umar Khayam “aku telah membuat bejana besar tuk merayakan perkawinan baru, aku
menceraikan akal lama yang mandul ditempat tidur dan meminang puteri anggur”. Iya,
Anggur yang membuatku mabuk tak terkira. Anggur yang membuat kegilaan semakin
menggetarkan. Anggur yang melahirkan darah schizoid; benih sejati yang
ditebarkan penyemai abadi yang didalamnya kan lahir syair-syair ketakwajaran
tuk dibacakan dihadapan Tuhan sebagai kisah pula doa abadi nan langka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar