Rabu, 27 Februari 2013

Aku Memeberontak Maka Aku-aku mu Abadi



Gundah melegenda mengakhiri batas dalam semesta dada. Tapi batasan ini bukanlah akhir dari sebuah gerak, bukan pula akhir dari ruang-waktu atau akhir suatu horizon, melainkan batas yang dipahami sebagai pelambatan gerak tapi pasti, yang lambat laun meluaskan dimensi dada sajauh semesta menghasta; atau sebuah konstanta kosmologis dalam senar super dawai yang membuat galaksi saling merindu-hindari dalam ruang yang saling terhubung. Sementara itu—seperti sebelumnya—semua saat dalam waktu merubah malam, pagi dan siang menjadi senja bernuansa jingga. Namun akibat gejolak yang semakin membara, jingga itu berubah menjadi api kemerahan; membakar dadaku menjadi debu atmosfer yang melayang keriangan. Dan jika keriangan itu meyetubuhi uapan air, gejolak itu merubah diri menjadi mega puith nan berseri kemudian menjadi lembaran-lembaran kertas tempat kisah keabadian kan terukir. Jangan memintaku membuat pagi menjadi anak pertama dari ibu semesta disaat arah detak nadiku hanya menunjukan angka 5 sore. Jangan!!. Itu hal mustahil, sebab kau hanya mengajari senja menjadi malam penuh kubah yang berubah diri menjadi hasrat Oedipus yang menikahi ibunya (itulah sebab aku membenci Freud). 

“Bacalah”, disetiap tanda Abadi meng-Ada.  Tanda itu ialah  menifestasi kerinduan dimana aku-mu adalah selubung cahaya menerangi setiap warni. Semantik bahasaku dalam penandaan itu adalah keabadian; apapun yang aku tatap ialah abadi yang tersirat, apapun yang terucap ialah abadi yang menyapa, begitupun yang terdengar ialah abadi yang bergetar. Apakah wajar, apakah bisa merubah senja menjadi pagi?. Memang aku adalah rembulan yang telah memiliki gemintang, tapi semenjak gemuruh kupersembahkan padanya,  tak satupun asa dan cinta ku berada disana melainkan aku-mu yang ‘menjadi’. Aku begitu menderita. Marah. Marah karena abadi menjadi belati bagi janji yang tak ditepati. Tidakah aku lebih mencintai danau ketimabang gemintang?.

Kini kau telah dan hampir berubah menjadi orang-orang normal yang membid’ah-kan semua perilaku ketakwajaran. Sementara aku masih saja berada dalam kegilaan menggentarkan, dikontrol oleh bawah sadar dengan intensionalitas hanyalah Aku-mu. Saat yang sama aku selalu menjadi objek para mentalis yang selalu diberikan sugesti akan imaji yang selalu berkhir abadi. Kini siapa yang palig berdosa memangkas hasrat Ilahi menjadi ilusi badani?. Siapa yang paling berdosa memangkas senja menjadi pagi?. Jawab!!. Dimanakah letak keadilan? Bukankah semua yang terjadi padaku dan akumu adalah melalui desain sang Maha syakur? Oh, abadiku.. hari-hariku mewarni sebab kau adalah prisma yang mencipta ragam warna.

Saat ini segala sarafku tengah berada dalam pertunjukan osilasi dengan tensi yang begitu tinggi. Osilasi in meyerupai gelombang samudera;  menghunuskan jiwaku yang masih saja terapung diatas bongkahan resah, desah merindu dan sapa memiliki. Aku teringat sebuah bait suci bahwa “Dia tak pernah mencipta manusia dengan dua hati”. Sontak saja firman itu seperti ditujukan padaku dengan latar hermeneutic dimana kau adalah sebab turunnya Ayat. Aku mencintaimu adalah desain Sang Maha sempurna dengan cara-cara yang dibenci oleh para ulama modern yang mengukur surga hanya dengan harga kemapanan kapitalistik yang begitu murah pula murahan. Aku mencintaimu dengan segenap senja yang melahirkan lanskap jingga kemerahan. Tapi haruskah aku menjadi orang-orang kalah yang selalu mencari perlindungan hannya pada menyendiri dibelantara rimba?. Bukankah aku-mu adalah ruang sunyi sebagai tempat diamana aku menemukan diriku?. Apakah harus aku menyerah pada prinsip realitas Freud?.
***
Kerinduan dan rasa memiliki yang begitu dalam seperti telah berubah menjadi sebuah kebencian. Tapi kebencian ini bukanlah  perasaan yang berbanding terbalik dengan perasaan kasih sayang. Bukan. Melainkan intesionalitas kerinduan yang memiliki porsi lebih. Kebencian ini terjadi lantaran aku tak kuasa menahan derai rintihan tuk akhiri abadi menjadi pagi. Kebencian ini lantaran lengkingan jiwa tak mampu didengar siapapun. Kebencian ini terjadi lantaran dawai-dawai sukmaku tak pernah bisa berhenti mengalunkan asma agung yang menjadi alasan kata-kata tercipta dimana aku-mu kutemukan. Dan kebencianku adalah sebab akan detak pemberontakan tuk merebut Aku-mu sebagai manifestasi Ketakberhinggan nan abadi.

Dalam jeda sesaat, aku begitu memahami sebuah pinta akan aku menjadi pagi. Aku mencoba memahami dimana posisiku sebagai hawa yang membenci kasih menjadi madu. Tak  ada pilihan atau menjadi yang kedua selain proses Esa menuju yang pertama. Dan  kisah ini adalah perjalanan sang Waktu yang menyisihkan Rahman dan Rahim diantara senja yang jinggakan kemerahan. Kisah ini adalah alasan Majnun mendapat stigma kegilaan. Kisah ini adalah alasan Bethoveen menjadi tuli Karena Elise. Kisah ini adalah alasan Sebastian Bach mencipta Aleggro; the most beautiful yang menghanyutkan. Kisah ini adalah alasan Schuman dan Waltz merangkai sonata-sonata indah. Kisah ini adalah alasan Mozart merangkai  thema for Elvira Madigan. Kisah ini adalah alasan Einstein meninggalkan Mileva karena esensi rangakaian irama Mozart. Kisah ini adalah alasan Ravaelo Sanzio melukis La Dona Velata. Kisah  ini adalah penyebab ribuan pemuda eropa bunuh diri setelah membaca Goethe, the young weather of sorrows. Kisah ini adalah alasan Claude Monet melukis rembulan abadi sebagai awal pemberontakan impresionisme terhadap pelukis-pelukis mapan. Itulah alasan sukmaku kan berontak tuk aku-aku mu kan abadi. Dan itulah alasanku tuk menolak pintamu agar aku menjadi pagi, atau  itulah alasan akan aku tak mau memahami pinta itu.

***
Dibalik jendala hujan masih turun deras. Petir dan suara Guntur yang menghelegar seolah menjadi penyambung lidahku memanggil-manggil namamu, sementara rinai hujan yang jatuh dari tiris rumah ialah air mata jiwaku yang merindu pelukan abadi. Aku seperti hendak mengisap satu-satu tetes hujan dimana ia adalah air matamu. Iya, dibalik jendela ini aku masih saja merangkai kata tuk menemukanmu lebih dan lebih dalam lagi. Sementara di telinga dalamku Sebastian Bach semakin riang memainkan komposisi bourree, yang membuat segala bunyi menyisir abadi. Aku teringat dengan sepenggal syair seorang pakar matematikan, Umar Khayam “aku telah membuat bejana besar tuk merayakan perkawinan baru, aku menceraikan akal lama yang mandul ditempat tidur dan meminang puteri anggur”. Iya, Anggur yang membuatku mabuk tak terkira. Anggur yang membuat kegilaan semakin menggetarkan. Anggur yang melahirkan darah schizoid; benih sejati yang ditebarkan penyemai abadi yang didalamnya kan lahir syair-syair ketakwajaran tuk dibacakan dihadapan Tuhan sebagai kisah pula doa abadi nan langka.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar