Pukul
lima kemarin masih sama dengan lima hari ini.
Senja masih tetap mewarnai rasa optimistic yang begitu estetik. Jika
kemarin senja adalah jingga, pun kini semuanya adalah senja. Segala cakrawala
seperti menahan senja, dan memberikan ruang bagi lengkingan matahari menafsir
mega menjadi jingga. Namun ritmis kerinduan tengah bermetamorfosa dari getar
abadi menjadi riak-riak kebimbangan: meledak ataukah bersosilasi, supernova
ataukah hypernova?.
Sepertinya
kita tak bisa mengukti jejak Claude Monet dalam kanvas moonlight-nya dan
berserah pada hasrat kebinatangan bergaya skeptisme yang pada akhirnya membuat
kita tersesat dalam tiris peradaban. Mau pulang tapi takut basah, diberikan payung
tapi takut akan badai. Akhirnya kita menjadi tuan dan puan yang sangat dibenci
oleh orang-orang yang mati terkapar sejarah kekuasaan.
Mungkin
ketika hasil tenun ini dibaca, aku telah berada dalam genggaman patriarkis yang
penuh dengan kata benada dogma. Tapi, seperti sebelemunya, aku akan
menyeombongkan diri dihadapan orang-orang yang mengkebiri hasratku bahwa aku
telah menemukan kebebasan abadi
dimana diriku damai didalamnya. Dan jika ditanya akan “siapakah gerangan”?,
dialah sunyi, dialah senja, dialah jingga yang buatku abadi dalam sunyuman dan
pelukan Keilahian.
Tapi,
senar-senar gitarku sedang diterpa kekajaman suara kultura sehingga membuatmu
bimbang dalam memilih abadi dalam ke-Aku-anku. Sampai disini aku buntu dalam mengabstraksikan
hasratku menjelma kata. Oh, petang telah menghampiri, satu mentari lagi aku
akan kembali—bukan pulang—memuaskan hati sang Papa, dan beberapa punrama
kemudian aku akan pulang meminta abadiku yang lagi kau genggam.
Iya,
aku akan pulang merampas abadiku. Bukan kepada dosen, bukan kepada Profesor,
guru besar yang semakin berubah menjadi penjaga lapas, tapi kepada mu yang
telah dan begitu radikal merampas asaku yang kemudian kau Tanami dalam Taman Mawar
yang bertempat di Gunug Jiwa. Iya, lupakanlah Freud, aku akan pulang mengajakmu
menikamati mawar yang dijaga oleh Umberto Eco, aku akan pulang mengajakmu ke Gunung
Jiwa dimana Nietzche mencipta Zarathustra.
Hujanku
telah membasahi tubuhmu, hujanku telah membasahi pipimu, hujanku telah
membasahi mulutmu yang berubah menjadi Kata-kata dimana dirimu aku temukan. Aku
akan pulang mengubah setetes air hujan itu yang menjadi Hypatia, mejadi
Gayatri, menjadi Ikbal, Menjadi Syariati, menjadi Zarathustra. Menjadi dalam Kemenjadian
Abadi. Iya, aku bakal menjadi Hasanuddin ataupun Arupalaka, dengan
diksi melebihi sastra I Lagaligo. Abadi, abadi dan abadi. Itulah yang ku
abdikan.
Memetikmu
Dalam Senja
senja akan menunggumu pulang...:)
BalasHapus