Carpe diem. Ini adalah kata dari penggalan puisi karya Quintus
Horatius Flaccus, atau biasa disebut Horace,
seorang sastrawan italia—dalam bahasa
latin yang berbunyi Carpe diem, quam minimum credula postero
"petiklah hari dan percayalah sedikit mungkin akan hari esok”—yang
sering kita jadikan sebagai akhir dari
pesan pesan singkat. Aku percya bahwa hari ini adalah sebuah totalitas waktu
dimana masa lalu dan masa depan beradu didalamnya.
Petiklah hari. Aku merasa
seperti hidupku bakalan berakhir, sehingga pinta yang memancar dari surya sang
jiwa adalah mengakhiri masa-masa akhir bersama ruang-ruang sunyi dimana Aku dan
Aku-mu satu didalamnya. Dan saat itu pula aku semakin membenci complex oedipus-nya Sigmund Freud, yang
mencoba mengarahkan hasratku mengikuti lajur orang-orang normal yang selalu
berpasrah pada keadaan-keadaan dalam tampilan permukaan tanpa menghargai hasrat
terdalam yang sesungghnya sangat menyiksa.
Iya, carpe diem pun
adalah kata yang memecah kebuntuanku akhir-akhir ini dalam menulis. Entah,
apakah itu karena keyakinanku akan kata-kata ku “Kenikmatan menulisku memuncak saat tak ada
lagi keinginan tuk menulis. Aku kehabisan kata dalam kedalaman makna”. Atukah karena beberapa hari kemarin aku dihujani kritik dari
seorang teman bahwa “tulisan-tulisan anda
60 % mengalami perubahan, diksi
dan metaforik-simbolik kemudian menjadikan
waktu sebagai titik-titik
kreatif yang selalu menjadi plot anda berubah menjadi tema-tema yang agak mirip
Gibran-nian-personality”. Dari
sini aku teringat dengan Iwan Fals, dalam sebuah wawancara disebuah TV swasta
“saya tidak pernah memilih genre musik, begitupun juga saya tidak pernah
memilih sebuah genre sastra akan dimana dan seperti apa saya harus menulis.
Tidak, karena itu hanya akan membatasi keliaran imajinasi mengolah diksi
ataupun plot. saya hanya menulis mengikuti dan mencipta (produksi) bentuk atau
gaya penulisanku, bukan yang lain,
kebetulan saja temaku akhir-kahir ini agak personal.
***
Iya,
personality. Aku hanya mengahayati kisah dramatis
seorang “petualang pembaca” yang aku
dapati dari cerita klasik Italy Calvino yang tak pernkah melepas “kata-kata”
sebagai instrumen saling rindu. Kemudian memandang Sartre, yang menemukan
dirinya dalam kata-kata. Oh, tulisanku berubah dari menyisir sunyi menjadi
wajah meminta abadi; dalam sunyi, hening, dalam-dalam sedalam rasa ku padamu.
Jika
ada yang melihat gaya penulisanku berubah, mungkin pada saat itu saya telah
berubah menjadi orang gila, atau pengidap delusi yang menciptakan dunia
semantik hanya tuk satu alasan;
sebagai penenun dengan motif penuh ekspresionis pula romantik yang merindu
hidup abadi. Adalah
alasan menulis dimana Abadi adalah doa. Dan dalam keadaan yang tidak begitu
stabil, hujan menjadi penenang, sehingga jika memperhatikan secara seksama
mataku seperti sedang beradu dalam rinai gemericik hujan.
Kini
mau tidak mau, suka atau tidak, jalanku telah terbuka lebar untuk memilih
kemungkinan hidup dalam ketakwajaran. Namun ketakwajaran ini adalah sebuah
pilihan yang mungkin dibenci banyak orang-orang modern yang gampang
menjustifikasi benar dan salah tanpa mau tenggelam dalam arus kehidupan bawah
sadar yang selalu disingkirkan. Ketakwajaran ku adalah sebuah tragedy dimana
keindahan puisi berawal. Ketakwajaran ku adalah riakan-riakan membahana, dan
ketika didera badai kerinduan, riakan itu berubah menjadi gelombang samudera
yang bisa memusnahkan apapun.
Aku
percaya kalau dalam sedetik pasti ada gemintang di angkasa yang mengakhiri
hidupnya dalam pusaran supernova, sementara tulisan ini adalah symptom inflasi
semesta yang mencari ruang-ruang kemungkinan bagi jiwaku-jiwamu yang jarang
terdengar dalam detak kehidupan.
Seperti
yang terucap saat danau menjadi lampiasan kecamuk rasa, “kenapa kau begitu jahat membutuhkanku saat kau telah dibutuhkan orang
lain?”. Sebuah pertanyaan yang hanya bisa aku jawab dengan desah nafas
panjang. Saat itu aku tak sanggup memandangmu, hanya tetesan air mata mu yang jatuh
ke danau membuatku seperti ingin hanyut dalam tetesan yang menggelombang itu.
Sayang, saat ini tak satupun solusi yang bisa mengobati getaran jiwaku. Aku
begitu tersiksa menjalani hidup dimana rasa cinta, kasih sayangku tidak berada
disana. Aku pernah berkata buat orang-orang terdekatku
“janganlah menjadi teman yang menyakiti dengan cara memberikan soslusi yang
selalu berakhir dengan yang realistis saja”. aku selalu bertanya cara
bagaimana tuk keluar dari rantai penindasan ini dengan jawaban yang selalu aku
paksakan kalau aku memang ingin abadi bersamamu dalam sunyi. Itulah jawaban
yang aku inginkan.
Dengan
rasa bersalah, aku ingin merubah Horace: petiklah hari. Iya, aku ingin
merubahnya menjadi memetikmu seperti pesan singkatku. Tapi aku sadar, kalau
memetikmu dari ranting kehidupan pasti membuatmu layu menjalani hidup. Aku
hanya ingin mekarmu adalah tarian jingga dimana aku adalah music kosmik yang
mengalun menyeimbangi gerak semesta, dan dengan demikian petiklah hari kan
berubah menjadi memetik dawai yang membuat kita seirama dalam tarian semesta.
Hingga
kini aku masih belum terlalu percaya pada kisahku yang begitu dramatis. Dengan begitu
singkat aku mencintaimu begitu dalam,
dan tidaklah adil jika berakhir dengan alasan pesimistik. Iya, aku tak ingin
waktu yang singkat berakhir pula dalam sekejap. Sekal lagi, aku selalu berkata
kalau Freud, dengan kompleks oedipusnya paling aku benci. Freud lah yang
membuat kita kadang pesismis akan saat yang kita agungkan, Abadi. Tapi, kau
telah menjongkan kepala saat kisah itu kuceritakan sebagai tanda kalau kita
akan bersama mencari warna berbeda untuk diselipkan pada hidup yang terlalu monoton ini.
Aku
abadi bersamamu 1000 X.
To be continued…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar