Jumat, 25 Januari 2013

Memetikmu


Carpe diem. Ini  adalah kata dari penggalan puisi karya Quintus Horatius Flaccus, atau biasa disebut Horace, seorang sastrawan italia—dalam  bahasa latin yang berbunyi Carpe diem, quam minimum credula postero "petiklah hari dan percayalah sedikit mungkin akan hari esok”—yang  sering kita jadikan sebagai akhir dari pesan pesan singkat. Aku percya bahwa hari ini adalah sebuah totalitas waktu dimana masa lalu dan masa depan beradu didalamnya.

Petiklah hari. Aku merasa seperti hidupku bakalan berakhir, sehingga pinta yang memancar dari surya sang jiwa adalah mengakhiri masa-masa akhir bersama ruang-ruang sunyi dimana Aku dan Aku-mu satu didalamnya. Dan saat itu pula aku semakin membenci complex oedipus-nya Sigmund Freud, yang mencoba mengarahkan hasratku mengikuti lajur orang-orang normal yang selalu berpasrah pada keadaan-keadaan dalam tampilan permukaan tanpa menghargai hasrat terdalam yang sesungghnya sangat menyiksa.

Iya, carpe diem pun adalah kata yang memecah kebuntuanku akhir-akhir ini dalam menulis. Entah, apakah itu karena keyakinanku akan kata-kata ku Kenikmatan menulisku memuncak saat tak ada lagi keinginan tuk menulis. Aku kehabisan kata dalam kedalaman makna”. Atukah karena beberapa hari kemarin aku dihujani kritik dari seorang teman bahwa “tulisan-tulisan anda 60 % mengalami perubahan, diksi dan metaforik-simbolik kemudian menjadikan waktu sebagai titik-titik kreatif yang selalu menjadi plot anda berubah menjadi tema-tema yang agak mirip Gibran-nian-personality”. Dari sini aku teringat dengan Iwan Fals, dalam sebuah wawancara disebuah TV swasta “saya tidak pernah memilih genre musik, begitupun juga saya tidak pernah memilih sebuah genre sastra akan dimana dan seperti apa saya harus menulis. Tidak, karena itu hanya akan membatasi keliaran imajinasi mengolah diksi ataupun plot. saya hanya menulis mengikuti dan mencipta (produksi) bentuk atau gaya penulisanku, bukan yang lain, kebetulan saja temaku akhir-kahir ini agak personal.

***

Iya, personality. Aku hanya mengahayati kisah dramatis seorang “petualang pembaca”  yang aku dapati dari cerita klasik Italy Calvino yang tak pernkah melepas “kata-kata” sebagai instrumen saling rindu. Kemudian memandang Sartre, yang menemukan dirinya dalam kata-kata. Oh, tulisanku berubah dari menyisir sunyi menjadi wajah meminta abadi; dalam sunyi, hening, dalam-dalam sedalam rasa ku padamu.

Jika ada yang melihat gaya penulisanku berubah, mungkin pada saat itu saya telah berubah menjadi orang gila, atau pengidap delusi yang menciptakan dunia semantik hanya tuk satu alasan; sebagai penenun dengan motif penuh ekspresionis pula romantik yang merindu hidup abadi. Adalah alasan menulis dimana Abadi adalah doa. Dan dalam keadaan yang tidak begitu stabil, hujan menjadi penenang, sehingga jika memperhatikan secara seksama mataku seperti sedang beradu dalam rinai gemericik hujan. 

Kini mau tidak mau, suka atau tidak, jalanku telah terbuka lebar untuk memilih kemungkinan hidup dalam ketakwajaran. Namun ketakwajaran ini adalah sebuah pilihan yang mungkin dibenci banyak orang-orang modern yang gampang menjustifikasi benar dan salah tanpa mau tenggelam dalam arus kehidupan bawah sadar yang selalu disingkirkan. Ketakwajaran ku adalah sebuah tragedy dimana keindahan puisi berawal. Ketakwajaran ku adalah riakan-riakan membahana, dan ketika didera badai kerinduan, riakan itu berubah menjadi gelombang samudera yang bisa memusnahkan apapun. 

Aku percaya kalau dalam sedetik pasti ada gemintang di angkasa yang mengakhiri hidupnya dalam pusaran supernova, sementara tulisan ini adalah symptom inflasi semesta yang mencari ruang-ruang kemungkinan bagi jiwaku-jiwamu yang jarang terdengar dalam detak kehidupan.

Seperti yang terucap saat danau menjadi lampiasan kecamuk rasa, “kenapa kau begitu jahat membutuhkanku saat kau telah dibutuhkan orang lain?”. Sebuah pertanyaan yang hanya bisa aku jawab dengan desah nafas panjang. Saat itu aku tak sanggup memandangmu, hanya tetesan air mata mu yang jatuh ke danau membuatku seperti ingin hanyut dalam tetesan yang menggelombang itu. Sayang, saat ini tak satupun solusi yang bisa mengobati getaran jiwaku. Aku begitu tersiksa menjalani hidup dimana rasa cinta, kasih sayangku tidak berada disana. Aku pernah berkata buat orang-orang terdekatku “janganlah menjadi teman yang menyakiti dengan cara memberikan soslusi yang selalu berakhir dengan yang realistis saja”. aku selalu bertanya cara bagaimana tuk keluar dari rantai penindasan ini dengan jawaban yang selalu aku paksakan kalau aku memang ingin abadi bersamamu dalam sunyi. Itulah jawaban yang aku inginkan.

Dengan rasa bersalah, aku ingin merubah Horace: petiklah hari. Iya, aku ingin merubahnya menjadi memetikmu seperti pesan singkatku. Tapi aku sadar, kalau memetikmu dari ranting kehidupan pasti membuatmu layu menjalani hidup. Aku hanya ingin mekarmu adalah tarian jingga dimana aku adalah music kosmik yang mengalun menyeimbangi gerak semesta, dan dengan demikian petiklah hari kan berubah menjadi memetik dawai yang membuat kita seirama dalam tarian semesta.

Hingga kini aku masih belum terlalu percaya pada kisahku yang begitu dramatis. Dengan begitu  singkat aku mencintaimu begitu dalam, dan tidaklah adil jika berakhir dengan alasan pesimistik. Iya, aku tak ingin waktu yang singkat berakhir pula dalam sekejap. Sekal lagi, aku selalu berkata kalau Freud, dengan kompleks oedipusnya paling aku benci. Freud lah yang membuat kita kadang pesismis akan saat yang kita agungkan, Abadi. Tapi, kau telah menjongkan kepala saat kisah itu kuceritakan sebagai tanda kalau kita akan bersama mencari warna berbeda untuk  diselipkan pada hidup yang terlalu monoton ini. Aku abadi bersamamu 1000 X.

To be continued…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar