Rabu, 20 Februari 2013

Antologi Puisi (1)



#1
Tarian Malam
Lihatlah bintang-bintang malam ini
lihatlah bagaimana mereka menyinarimu
menemani bulan yg sepi di tengah matahari
dan jika ketiadaanku menunjuk satu padamu
Lihat saja yg begitu terang di antara ribuan
Sebab itulah aku
dalam ketidakseimbangan kecamuk rasa

Dan jika nafasku sesak karena kerinduan
Itulah nova                    
Mengubah diri menjadi katai putih.

Dan Apabila kerinduan semkin menyesak dada
Akulah bintang yg merindu supernova
Menjadi ledakan-ledakan kosmik
Hamparkn semesta senja berwarna merah

Pandanglah bulan yg setengah sabit
Lihat bagaimana pendarnya menyerupai guratan Confesionis
Melukis senja menjadi malam penuh partikel2 cahaya
Dan jika bulan adalah danau seperti kata Marcos
Lihatlah danau di atas sana atau bulan di bawah sana
Lihat bagaimana gelombang mengisap cahayanya

Masih ingtkah kau pemberontkan monet diatas kanvas rembulan?
Itulah aku, kamu dan mereka
Itulah kita                                                            
Melukis sunyi, mengusir malam 
dalam kanvas ketidakwajaran

Ambon, 16 Februari 2013


#2
Love paradox II
Aku mencintai Cinta yang tertutup tirai
Aku tak mencintaimu jika aku pun dibalik tirai.
Dibalik tirai
Tetaplah membuka misterimu
Maka kaupun selalu tertutup

Aku mencintaimu jika cinta tak jua kau ucap
Aku tak mencintai ketika cinta terucap
Aku akan mencintaimu, selalu
Kecuali kau bukan lagi misteri
Tetaplah diam
Jangan berkata apapun
Maka aku kan salalu mencintaimu

Cintaku laksana mendung bagi orang kedinginan
Mengharap matahari singgahi bumi
Cintaku laksana salju
Bagi orang yang membakar suam dari bongkahan es

Cintaku membenci kata cinta
Pula rindu
Cintaku mencintai tanpa apapun
Kosong yang penuh berisi
Iya …
Cinta ku Kosong
Namun tak pernah kosong Cinta ku.

Jika asinnya laut masih kau harap
Janganlah mengakatakan cinta padaku
Yang hanya membuat kebiruan menjadi dangkal
 tawar.

13 Januari 2013

#3
Abadi
Langitku jatuh ke bumi
Tanpa tahu bagaimana caranya  mendaki bukit
Yang ku tahu hanyalah menyuamkan asa
tak berdaya
Pada nyala suci sang Lilin
Membakar lalat satu-satu jatuh
Entah, semakin tawa kau bawa
Semakin pula riang kan menerjang menarik setiap mata

Langitku jatuh bukan karena kaulah penenun
Menyulam satu-satu gerak tubuhmu
Menjadi ukiran tawa berima mistik ketimuran
Tanpa mantra
Tanpa apapun

Aku tersesat dalam lembah tawamu
Tanpa tahu seberapa luasnya bumi
Seberapa cepat semesta berinflasi
Aku telah jatuh dalam keindah-seimbang kosmik
Tiada gravitasi
Tiada  medan
Hanya bau asap lilin hinggapi nurani
Berseri

O, Aku seperti lalat merindu mati dalam lilin
Tebakar menjadi debu-debu atmosfer
Berpadu dalam aura jinggamu
Hingga kau adalah senja yang menyulam malam-malam jadi hujan
Menyejukkan.

Bisakah aku menenun mega menjadi kertas putih?
Kemudian jari-jari halintar adalah pena?
Aku ingin menulis didalamnya ..
Aku, Kamu Abadi
Itulah yang tertulis.

12 Januari 2013

#4
Firman Terasing
Dada yang tak lagi lapang
Meregang asa dalam sketsa tanpa penyangga
Menyerupai lintasan ekspresionik
Melukis segala yang terlihat
menjadi samar, buram, tak jelas.
Akibat gesekan syaraf dengan peluh mendesah
segala yang tampak berubah melankoli
Ekspresif
Menyedihkan

Wahai Keheningan …
Akulah yang ingin menjadi tuhan bagimu
Dan kau…
Kau yang tak pernah seperti sejarah sejenis Adam
Sudikah kau menjadi nabi bagiku?

Dengarlah firmanku …
Aku telah meminta semesta sebagai tempat munajah sang Jiwaku
Tapi gemunung tak sanggup menahan getaran bumi
Lautan tak bisa menahan badai pula gelombang samudera
Gemintang tak kuasa menahan panasnya supernova
Rembulan menjadi pemalu dipangkuan danau
Matahari menjadi sedih dibalik hujan
Galaksi pun saling jauh menghindari
Oh duhai kau Sang nabi…
Bisakah kau menuang kasih dalam tabuh perang yang menyeruak dadaku?
Bicaralah nabiku..
Sabdahilah keheningan akan bising-nya yang belum aku dengarkan…
Bicaralah …
Bicaralah tanpa suara
Sebab akulah tuhanmu
Tanpa umat
Tanpa apapun
Selain hening.

Oh Keheningan …
Kini kupersembahkan padamu  jiwaku yang lemah merindu
Yang kurangkai dari noktah dan desah air mata
Yang aku rangkai sampah kaum-kaum berakal
Dengarlah ia
Pelukalah ia
Tuangkanlah segelas “Anggur” padanya
Mabuklah bersamanya
‘Setubuhilah’ dia
Biarkah dia ‘membirahi’ bersamamu
Dan terbawa bersama merdunya desahan kosmik
Jangan biarkan dia kembali
Suguhkan lagi “Anggur” padanya
Anggur, Anggur dan Anggur

Dengarlah…
Akulah tuhanmu yang mencipta Jiwaku padamu.

5 Januari 2013

#5
Ketakwajaran
Malam ini senar gitarku satu-satu putus
Lengkingannya tak terdengar siapapun
Aku tak bisa lagi memainkan simfoni
dimana aku bisa merasa ada yang menemani
Kepalaku hampir pecah oleh hentakan langkah semut
yang begitu menyilau

Aku merasa berada dipuncak gunung
tertelan awan
tak ada yang bisa aku pandangi
Bahkan bernafaspun terasa sulit
Aku kedinginan hingga saraf pelihat ikut pula membeku
Kemudian akibat gejolak jiwa yang membara
kebekuan itu menetes satu demi satu
mengalir mengairi dadaku yang tak lagi lapang

Rongga-rongga kepalaku seperti tertusuk ribuan pasak
bahkan hampir meledak mengikuti ritmis pergantian tahun
 yang menyesak dada...

Lengkingan ini seperti menghasilkan simfoni ketakwajaran
mendepakku dalam ritmis delusi
sehingga aku mampu bicaran padanya
yang menawariku jutaan partikel dalam balutan irama supra natural

Jika delusi ialah manifestasi nurani yang tak terdengar
biarkan saja aku dalam kegilaan ini
menyambut kekupu
menghisap segala akal sehatku.

Bira, 1 Januari 2013

#6
Senandung Bagi Roh Gunung
Sepertinya ada seorang jauh di tengah pegunungan
Memakai jubah dari daun ara dan sabuk dari kulit kelinci
Kau menatap dengan pandangan merasukiku dan senyum ramah
Sang Ratu, aku tahu kau menginginkan ketampananku
Kukendarai dua macam tutul dan kubawa dua harimau
Keretamu dari bunga Mongolia
Panji-panjimu ditenun dari batang kayu manis

Kau kenakan jubah anggrek batu;
Diikat rapi dengan sabuk dari batang tumbuhan
Kau petik rumput wangi bagi ia yang kau cintai

Di sini aku berdiri dari hutan bambu yang lebat,
Pepohonannya sungguh rapat bahkan langit pun tak terlihat
Jalan setapak gunung amat berbahaya;
Itulah sebabnya aku terlambat
Sendiri, kuberdiri di puncak gunung;
Awan tebal melayang dibawah sana
Angin timur bertiup;
Hujan tak lama lagi akan turun.

Sungguh bahagia aku bersamamu
Sehingga aku lupa pulang
Umurku terus bertambah;
Kesempatan apa yang masih tersisa bagiku untuk merasakan kebahagiaan hidup?
Sendiri, kukumpulkan jamur dipegunungan
Aku hanya bisa melihat batu yang berserakan dan akar rambat menjalar disela-selanya.
Adakah kau memikirkanku walau tak punya waktu tuk datang?

Aku merindukanmu dan dalam kesedihan aku lupa
aku harus pergi

pengelana gunung, kau bak rumput wangi
kau minum dari mata air ditengah batu
dan beristirahat di bawah pohon pinus dan cemara
apa kau benar-benar memikirkanku?
Aku tak tahu pasti.
Guntur menggelegar;
Monyet dan kera meneriakkan jeritan pilu;
Angin mengerang keras dan daun-daun berdesir
Aku memikirkanmu dan hatiku penuh duka.

29 Desember 2012

Ch’u-tz’u
Tao Te Ching

#7
Kebiruan Semesta
Jutaan bunyi hadir dalam ketunggalan melodi
seperti genangan air yang perlahan menguap
Ketunggalan itu hadir berupa kanvas ekspresionis
Mengguratkan setiap kuas menjadi irama melankolis
Syarat penghayatan
Merayapkan denyut nadi seperti fisikawan terkesima kemilau kosmis

Tapi keindahan itu jatuh membiru
Jauhkan kehitaman
Semakin merendah  menjadi laut
Kian meninggi pun tetap melangit

Aku teringat Kekasih Tuhan yang tertuduh pelacur
Sementara aku adalah budak yang mengharap lingkaran kosmik  melingkupiku
Namun melodi kearifanku tak secerdas jemari Beethoven yang menari
Hanya menyulam jejak semesta
Mengasa jingga-kebiruan selimuti keindahan taman qalbuku
---bertuankan kelinci nan bertanduk

2 Desember 2012

#8
Kemarahanmu telah Memangkas Cahaya Senja
Kemarahanmu telah memangkas cahaya senja
Matahari melaju melebihi kecepatan sinarnya
O Senja, kini tak semerbak mawar yang terbuka
Durinya berguguran buat langkah renta terluka

Kemarahanmu telah memangkas cahaya senja
Kesegaran taman sepikan tarian bunga
Helai demi helai jatuh petanda renta
Kulihat sejenak tatkala angin kehilangan sendunya

Senja pun lelap menerpa
Kemarahanmu tlah memangkas cahaya senja

20 November 2012

#9
Simfoni VI·
Senja Menawariku seuntai pilu
Ia datang saat aku dan pelangi tak lagi dalam spektrum yang sama
Tapi, nuansaku tak kuasa menepis warni yang menari
Aku terpaksa berdansa mengikuti pola ritmis sang Shiva
Dimana dia adalah Mozart yang merayu mesra Elvira Madigan
atau Bethoveen yang tuli pada segala selain Fur Elise
namun, pergeseran merah melaju dalam hasta galaksi saling merindu-hindari

Kerinduan ini seperti imajinasi Sanzio Rafaelo
Melukis Dona velata dalam ketiadaan wanita-wanita Itali
 Senja ini menawariku akan kebencian eksprsionis
Membenci hitam dalam lintasan kuas diatas kanvas
O, aku harus percaya pada hitam dalam fisikawan
Ialah penyeimbang harmoni dimana senyumku kan menuai
Dia pun menawariku permainan spektrum yang sama
tanpa nila, kuning, ungu, merah, hijau pula jingga

Tapi, seperti Freud mengutip Oedipus
Atau Monet Claude yang mencinta rembulan
Akupun semakin kompleks dalam rasa yang begitu liar.

8 Agustus 2012

#10
Kebiruan Senja
Senja pudarkan cakrawala nian menjingga
Mata layangkan asa pula mengangga
Kebiruan langit tampak suci menggenggam malam
Awan putih ukir senyum perawan sulam

Nampak aku musafir renta berpenghuni
Menapak laju bak takbir sapa nurani
Pelukis Agung merindu wujud mencintai
Seperti Dia-lah jiwamu diridhai

Ialah jatuh dalam hati para wali
Aku surut dalam pinta kan syahdumu
O, manifestasi ialah ajar aku berfitri
Mendamba rima nan merindu alur wajahmu

Mestikah berserah hati berinsafi?
O, aku melaju dalam biru tak bertepi

28 Juli 2012


#11
White Shadows
Bayang putih itu kian menjelma
Ia datang menerobos sisi ribuan gemintang
Kulihat, Rembulan telah bercermin dalam beningnya danau
O, mataku seperti berontak pada takdirnya
Mengikuti Hukum optic yang keliru  dari Ptolemus juga Keepler

Menatapmu ialah pemberontakan oedipal
Dan asa adalah benar melebihi tubuh tanpa organ
Entah, Barthes terlalu angkuh menebak kata hati
Atau Gibran yang determinis pada personalitas
Semua direduksi menjadi kata berbisa seksualita

Dialah bayang putih menjelma rima
Tanpa poros bak lirisme para simbolis
Hati menerobos silau dalam prinsip realitas
Berontak akan prinsip kesetiaan ala Qais
Mendamba Laila sebelum laut membelah pengunungan

Apakah hina jika aku bermandikan danau walau telah disinari rembulan?
O,  berpalinglah padaku wahai danau kecilku
Sebab rembulan kan hilang darimu jika mentari mencekik..
Kaulah bayang putih melebihi air yang mengkristal
Sinarilah aku yang tak butuh apappun selain cahayamu..

O hatiku, kau seperti mataku
Memberontak pada kesetiaan ragawi
Mendamba senyummu dalam kesetiaan poetika.

Apakah hina jika aku bermandikan danau walau telah disinari rembulan?
berpalinglah padaku wahai danau kecilku
Sebab rembulan kan hilang darimu jika mentari mencekik..
Oh, aku keliru dan Haytham benar .. ..
Cahayamulah menapak laju di mataku
Hingga  kulihat hanyalah dirimu.

 4 U
20 Juli 2012

#12
Untukmu sang Pelukis
Seperti Sa'di tentang lautan bagi pecinta
Haitham yang mencintai kebutaan dalam melihat-Nya
Aku masih saja meneguk air dalam ceruk para leluhur kearifan
Berlama-lama, entah sehari hilang tak menghargai
Berkelana kemana-mana jiwa berirama merindu Mama
Oh, empat penjuru mata air nan melaju....
Hari-hariku berjalan diatas deraian sang Papa
Aku seperti berdiri tanpa penyangga yg dulu pujangga
Kina ia terbaring dengan mata asa mengangkasa
Berharap ku terbang mendarat didadanya yang resah merindu

O, Demi Masa
Aku merugi seluas kosmos mengepakan sayap
Tak mendengar saat tangisnya bertuan ditelingaku
Tak melihat saat matanya menghujam sukmaku
Aku dengan bangga menahan deraian kebutaan
Angkuh merapikan bacaan kecongkakan
Semuanya adalah ilusi jika tangisku tak membasahi

Disetiap fazar bangunkan mentari
Atau jingga berserah pada malam
Aku terlena, jatuh cinta berkali-kali pada lembaran Cinta-Mu
Setiap nafas adalah kerinduan tanpa hati...
Aku seperti semut yang terjebak dalam ribuan butiran zarah
Menghisap, meresap madu wujud-Mu
Tanpa sadar ada kecemburuan dari orang-orang yang pula Kau Cintai

Kecemburuannya bukan lantaran aku mencintai Wujud-Mu dalam Ilmu
Kecemburuannya adalah ikhtiar kesempurnaan menuju Pada-Mu
Duhai  Cinta ku.. bukankah Kau takan cemburu akan Cinta umat-Mu pada Muhammad?

Ia mengajariku seperti Engkau mengajari Adam nama-nama Benda
Melarangku memetik bunga dari tangkainya
Sebab menyusahkan kumbang menghisap sari Cinta-Mu sebagai pelengkap sujudnya
 O, Aku begitu serakah menyikap ketersembunyian dalam malam ku
Tapi, kegersangan air mata seperti berubah menjadi batu meleganda
Aku jatuh sedalam sedalam ruang misteri-Mu
Haruskah aku seperti al Qhudat dengan Shakwa al Gharib-nya?

9 Juli 2012

#13
Aku hampir saja Kehilangan Malam ini

Aku hampir saja kehilangan malam ini
Langit yang tiba-tiba tenggelam dari arus bebintangan
Menghadirkanku sebentuk sileut
Terpaku dalam kubah malam
Terjerat dalam angan tak pasti
Terjebak dalam sebuah kesalahan terindah
Hingga kujatuh dalam dinginnya pelukan asmra

Beberapa pelukan yang pernah hinggap dibadanmu
Seolah hilang bersama bintang
Kemudian hadir kembali dalam galaksi yang baru saja beraksi
Kau tahu? siluet malam ini hampir mendekatimu
Ia melewati lintasan yang pernah kulalui
Hingga aku benar jatuh cinta bersama rembulan yang dihisap be-bukitan…

23 Juni 2012

#14
Keharmonisan mu
Jejak suaramu adalah harmonisasi senar harpa 
Sejauh penghayatan 
Jejak itu semakin bercabang 
Dalam setiap arah mata angin 
Suaramu menggema getarkan sukma 
Menjelma menjadi kekupu 
Menghisap segala sari rasaku

Binar matamu adalah harmonisasi kemilau warni
Sejauh memandang
Kemilau itu kian menyilau
Dalam gesekan udara dingin dengan air
Tatapanmu kian mengendap
Menyelinap diantara wewarnian kosmos
Hingga kau adalah pelangi yang mewarni

Saat ini
Kau adalah harmonisasi setiap keindahan
Sejauh rasa menghasta
Auramu mencandra disetiap kata
Senyummu menyelinap tirai gundahku
Jika rasa menghasta pada Sang Asa
Aku percaya, dalam keindah-harmonismu
Kaulah manifestasi segala keindahan sang Syakur,,

Dibawah ranting pinus
aku datang padamu disetiap senja kan menjingga
merangkai rasa yang tersaji indah diatas rerumputan pinus
entah, alam terlalu indah dengan wewarnian bunga
ataukah haruku terbawa mesra saat petang kan datang menyejuk
kau melebarakan senyum hingga pelangi kan indah disisi bukit
aku terharu saat itu dikala matamu sayup meredup
silaukan rasa yang lama terpenjara

aku berdiri disetiap sisi citramu
menggengam asa yang tersipu haru diatas keheningan jiwa
entah, petang terlalu dini datangkan riang
ataukah syahduku berirama saat burung gema berkicau
kau menaburi keindahan hingga dunia ku terbuka akan kepastian
aku terbawa ketika auramu menjadi imaji
namun fikir kadang diam membaca tanda yang lama seirama

aku bicara padamu disetiap fikir adalah kamu
merangkai rasa yang terbentuk dari sepenggal senyum tipis
entah, petang terlalu cepat datangkan malam
ataukah syaraf imajiku mengerucut saat bebintangan kalahkan siluet
kau menghampiri tatapanku dengan segala wewarnian alam
aku terjebak dan sadar akan rasa adalah kamu
namun dingin terlalu merinding getarkan bibir tanpa kata apapun

kini penglihatanku silau saat matamu melintasi tatapanku
membuat bukit sekitar tak lagi nampak mengelopak
entah, kabut tlah merenggut setiap sudut
ataukah optiku terhalang binar menyilau saat lihat hanyalah kamu
kau menyapaku dengan segenggam tatapanmu
aku terdiam saat jejaring imaji yang terpuisikan ialah kamu
entah, apakah kau mengalami hal yang sama?


#15
Your Smile
Hei... seperti apakah kau malam ini
apakah wajah merahmu masih tetap tersenyum ceria?
ataukah lelap telah menjagamu?
aku percaya dalam tidur pun senyummu itu masih saja terjaga
aku merasakannya
aku merindunya malam ini
bisakah kau layangkan padaku senyum tipismu itu?

disaat pikir terbayang ialah kamu...
hanya bentuk wajah yang lahir dari senyum indahmu
aku tak tau, atau mungkin belum juga kutemukan
seperti apa wajahmu jika diderah amarah
malam ini aku seperti orang yang terhipnotis
hanya mendapat sugesti tuk selalu memabayangkan wajahmu ...
kau tahu???
hanya senyumanmu yang selalu bertuan dimataku...
tapi aku mencintaimu bukan hanya karena senyuman itu ...

 Moh. Arie Samal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar