#1
Tarian Malam
Lihatlah
bintang-bintang malam ini
lihatlah
bagaimana mereka menyinarimu
menemani
bulan yg sepi di tengah matahari
dan jika
ketiadaanku menunjuk satu padamu
Lihat saja
yg begitu terang di antara ribuan
Sebab itulah
aku
dalam
ketidakseimbangan kecamuk rasa
Dan jika
nafasku sesak karena kerinduan
Itulah nova
Mengubah
diri menjadi katai putih.
Dan Apabila
kerinduan semkin menyesak dada
Akulah
bintang yg merindu supernova
Menjadi
ledakan-ledakan kosmik
Hamparkn
semesta senja berwarna merah
Pandanglah
bulan yg setengah sabit
Lihat
bagaimana pendarnya menyerupai guratan Confesionis
Melukis
senja menjadi malam penuh partikel2 cahaya
Dan jika
bulan adalah danau seperti kata Marcos
Lihatlah
danau di atas sana atau bulan di bawah sana
Lihat
bagaimana gelombang mengisap cahayanya
Masih
ingtkah kau pemberontkan monet diatas kanvas rembulan?
Itulah aku,
kamu dan mereka
Itulah kita
Melukis
sunyi, mengusir malam
dalam kanvas
ketidakwajaran
Ambon, 16
Februari 2013
#2
Love
paradox II
Aku
mencintai Cinta yang tertutup tirai
Aku
tak mencintaimu jika aku pun dibalik tirai.
Dibalik
tirai
Tetaplah
membuka misterimu
Maka
kaupun selalu tertutup
Aku
mencintaimu jika cinta tak jua kau ucap
Aku
tak mencintai ketika cinta terucap
Aku
akan mencintaimu, selalu
Kecuali
kau bukan lagi misteri
Tetaplah
diam
Jangan
berkata apapun
Maka
aku kan salalu mencintaimu
Cintaku
laksana mendung bagi orang kedinginan
Mengharap
matahari singgahi bumi
Cintaku
laksana salju
Bagi
orang yang membakar suam dari bongkahan es
Cintaku
membenci kata cinta
Pula
rindu
Cintaku
mencintai tanpa apapun
Kosong
yang penuh berisi
Iya …
Cinta
ku Kosong
Namun
tak pernah kosong Cinta ku.
Jika
asinnya laut masih kau harap
Janganlah
mengakatakan cinta padaku
Yang
hanya membuat kebiruan menjadi dangkal
tawar.
13
Januari 2013
#3
Abadi
Langitku
jatuh ke bumi
Tanpa
tahu bagaimana caranya mendaki bukit
Yang
ku tahu hanyalah menyuamkan asa
tak
berdaya
Pada
nyala suci sang Lilin
Membakar
lalat satu-satu jatuh
Entah,
semakin tawa kau bawa
Semakin
pula riang kan menerjang menarik setiap mata
Langitku
jatuh bukan karena kaulah penenun
Menyulam
satu-satu gerak tubuhmu
Menjadi
ukiran tawa berima mistik ketimuran
Tanpa
mantra
Tanpa
apapun
Aku
tersesat dalam lembah tawamu
Tanpa
tahu seberapa luasnya bumi
Seberapa
cepat semesta berinflasi
Aku
telah jatuh dalam keindah-seimbang kosmik
Tiada
gravitasi
Tiada
medan
Hanya
bau asap lilin hinggapi nurani
Berseri
O, Aku
seperti lalat merindu mati dalam lilin
Tebakar
menjadi debu-debu atmosfer
Berpadu
dalam aura jinggamu
Hingga
kau adalah senja yang menyulam malam-malam jadi hujan
Menyejukkan.
Bisakah
aku menenun mega menjadi kertas putih?
Kemudian
jari-jari halintar adalah pena?
Aku
ingin menulis didalamnya ..
Aku, Kamu Abadi
Itulah
yang tertulis.
12 Januari
2013
#4
Firman
Terasing
Dada
yang tak lagi lapang
Meregang
asa dalam sketsa tanpa penyangga
Menyerupai
lintasan ekspresionik
Melukis
segala yang terlihat
menjadi
samar, buram, tak jelas.
Akibat
gesekan syaraf dengan peluh mendesah
segala
yang tampak berubah melankoli
Ekspresif
Menyedihkan
Wahai
Keheningan …
Akulah
yang ingin menjadi tuhan bagimu
Dan
kau…
Kau
yang tak pernah seperti sejarah sejenis Adam
Sudikah
kau menjadi nabi bagiku?
Dengarlah
firmanku …
Aku
telah meminta semesta sebagai tempat munajah sang Jiwaku
Tapi
gemunung tak sanggup menahan getaran bumi
Lautan
tak bisa menahan badai pula gelombang samudera
Gemintang
tak kuasa menahan panasnya supernova
Rembulan
menjadi pemalu dipangkuan danau
Matahari
menjadi sedih dibalik hujan
Galaksi
pun saling jauh menghindari
Oh
duhai kau Sang nabi…
Bisakah
kau menuang kasih dalam tabuh perang yang menyeruak dadaku?
Bicaralah
nabiku..
Sabdahilah
keheningan akan bising-nya yang belum aku dengarkan…
Bicaralah
…
Bicaralah
tanpa suara
Sebab
akulah tuhanmu
Tanpa
umat
Tanpa
apapun
Selain
hening.
Oh
Keheningan …
Kini
kupersembahkan padamu jiwaku yang lemah merindu
Yang
kurangkai dari noktah dan desah air mata
Yang
aku rangkai sampah kaum-kaum berakal
Dengarlah
ia
Pelukalah
ia
Tuangkanlah
segelas “Anggur” padanya
Mabuklah
bersamanya
‘Setubuhilah’
dia
Biarkah
dia ‘membirahi’ bersamamu
Dan
terbawa bersama merdunya desahan kosmik
Jangan
biarkan dia kembali
Suguhkan
lagi “Anggur” padanya
Anggur,
Anggur dan Anggur
Dengarlah…
Akulah
tuhanmu yang mencipta Jiwaku padamu.
5 Januari
2013
#5
Ketakwajaran
Malam
ini senar gitarku satu-satu putus
Lengkingannya
tak terdengar siapapun
Aku
tak bisa lagi memainkan simfoni
dimana
aku bisa merasa ada yang menemani
Kepalaku
hampir pecah oleh hentakan langkah semut
yang
begitu menyilau
Aku
merasa berada dipuncak gunung
tertelan
awan
tak
ada yang bisa aku pandangi
Bahkan
bernafaspun terasa sulit
Aku
kedinginan hingga saraf pelihat ikut pula membeku
Kemudian
akibat gejolak jiwa yang membara
kebekuan
itu menetes satu demi satu
mengalir
mengairi dadaku yang tak lagi lapang
Rongga-rongga
kepalaku seperti tertusuk ribuan pasak
bahkan
hampir meledak mengikuti ritmis pergantian tahun
yang menyesak dada...
Lengkingan
ini seperti menghasilkan simfoni ketakwajaran
mendepakku
dalam ritmis delusi
sehingga
aku mampu bicaran padanya
yang
menawariku jutaan partikel dalam balutan irama supra natural
Jika
delusi ialah manifestasi nurani yang tak terdengar
biarkan
saja aku dalam kegilaan ini
menyambut
kekupu
menghisap
segala akal sehatku.
Bira,
1 Januari 2013
#6
Senandung
Bagi Roh Gunung
Sepertinya
ada seorang jauh di tengah pegunungan
Memakai
jubah dari daun ara dan sabuk dari kulit kelinci
Kau
menatap dengan pandangan merasukiku dan senyum ramah
Sang
Ratu, aku tahu kau menginginkan ketampananku
Kukendarai
dua macam tutul dan kubawa dua harimau
Keretamu
dari bunga Mongolia
Panji-panjimu
ditenun dari batang kayu manis
Kau
kenakan jubah anggrek batu;
Diikat
rapi dengan sabuk dari batang tumbuhan
Kau
petik rumput wangi bagi ia yang kau cintai
Di
sini aku berdiri dari hutan bambu yang lebat,
Pepohonannya
sungguh rapat bahkan langit pun tak terlihat
Jalan
setapak gunung amat berbahaya;
Itulah
sebabnya aku terlambat
Sendiri,
kuberdiri di puncak gunung;
Awan
tebal melayang dibawah sana
Angin
timur bertiup;
Hujan
tak lama lagi akan turun.
Sungguh
bahagia aku bersamamu
Sehingga
aku lupa pulang
Umurku
terus bertambah;
Kesempatan
apa yang masih tersisa bagiku untuk merasakan kebahagiaan hidup?
Sendiri,
kukumpulkan jamur dipegunungan
Aku
hanya bisa melihat batu yang berserakan dan akar rambat menjalar
disela-selanya.
Adakah
kau memikirkanku walau tak punya waktu tuk datang?
Aku
merindukanmu dan dalam kesedihan aku lupa
aku
harus pergi
pengelana
gunung, kau bak rumput wangi
kau
minum dari mata air ditengah batu
dan
beristirahat di bawah pohon pinus dan cemara
apa
kau benar-benar memikirkanku?
Aku
tak tahu pasti.
Guntur
menggelegar;
Monyet
dan kera meneriakkan jeritan pilu;
Angin
mengerang keras dan daun-daun berdesir
Aku
memikirkanmu dan hatiku penuh duka.
29
Desember 2012
Ch’u-tz’u
Tao Te
Ching
#7
Kebiruan
Semesta
Jutaan
bunyi hadir dalam ketunggalan melodi
seperti
genangan air yang perlahan menguap
Ketunggalan
itu hadir berupa kanvas ekspresionis
Mengguratkan
setiap kuas menjadi irama melankolis
Syarat
penghayatan
Merayapkan
denyut nadi seperti fisikawan terkesima kemilau kosmis
Tapi
keindahan itu jatuh membiru
Jauhkan
kehitaman
Semakin
merendah menjadi laut
Kian
meninggi pun tetap melangit
Aku
teringat Kekasih Tuhan yang tertuduh pelacur
Sementara
aku adalah budak yang mengharap lingkaran kosmik melingkupiku
Namun
melodi kearifanku tak secerdas jemari Beethoven yang menari
Hanya
menyulam jejak semesta
Mengasa
jingga-kebiruan selimuti keindahan taman qalbuku
---bertuankan
kelinci nan bertanduk
2
Desember 2012
#8
Kemarahanmu
telah Memangkas Cahaya Senja
Kemarahanmu
telah memangkas cahaya senja
Matahari
melaju melebihi kecepatan sinarnya
O
Senja, kini tak semerbak mawar yang terbuka
Durinya
berguguran buat langkah renta terluka
Kemarahanmu
telah memangkas cahaya senja
Kesegaran
taman sepikan tarian bunga
Helai
demi helai jatuh petanda renta
Kulihat
sejenak tatkala angin kehilangan sendunya
Senja
pun lelap menerpa
Kemarahanmu
tlah memangkas cahaya senja
20 November
2012
#9
Simfoni
VI·
Senja
Menawariku seuntai pilu
Ia
datang saat aku dan pelangi tak lagi dalam spektrum yang sama
Tapi,
nuansaku tak kuasa menepis warni yang menari
Aku
terpaksa berdansa mengikuti pola ritmis sang Shiva
Dimana
dia adalah Mozart yang merayu mesra Elvira Madigan
atau
Bethoveen yang tuli pada segala selain Fur Elise
namun,
pergeseran merah melaju dalam hasta galaksi saling merindu-hindari
Kerinduan
ini seperti imajinasi Sanzio Rafaelo
Melukis
Dona velata dalam ketiadaan wanita-wanita Itali
Senja
ini menawariku akan kebencian eksprsionis
Membenci
hitam dalam lintasan kuas diatas kanvas
O, aku
harus percaya pada hitam dalam fisikawan
Ialah
penyeimbang harmoni dimana senyumku kan menuai
Dia pun
menawariku permainan spektrum yang sama
tanpa
nila, kuning, ungu, merah, hijau pula jingga
Tapi,
seperti Freud mengutip Oedipus
Atau
Monet Claude yang mencinta rembulan
Akupun
semakin kompleks dalam rasa yang begitu liar.
8 Agustus 2012
#10
Kebiruan
Senja
Senja
pudarkan cakrawala nian menjingga
Mata
layangkan asa pula mengangga
Kebiruan
langit tampak suci menggenggam malam
Awan
putih ukir senyum perawan sulam
Nampak
aku musafir renta berpenghuni
Menapak
laju bak takbir sapa nurani
Pelukis
Agung merindu wujud mencintai
Seperti
Dia-lah jiwamu diridhai
Ialah
jatuh dalam hati para wali
Aku
surut dalam pinta kan syahdumu
O,
manifestasi ialah ajar aku berfitri
Mendamba
rima nan merindu alur wajahmu
Mestikah
berserah hati berinsafi?
O, aku
melaju dalam biru tak bertepi
28 Juli 2012
#11
White
Shadows
Bayang
putih itu kian menjelma
Ia
datang menerobos sisi ribuan gemintang
Kulihat,
Rembulan telah bercermin dalam beningnya danau
O,
mataku seperti berontak pada takdirnya
Mengikuti
Hukum optic yang keliru dari Ptolemus juga Keepler
Menatapmu
ialah pemberontakan oedipal
Dan
asa adalah benar melebihi tubuh tanpa organ
Entah,
Barthes terlalu angkuh menebak kata hati
Atau
Gibran yang determinis pada personalitas
Semua
direduksi menjadi kata berbisa seksualita
Dialah
bayang putih menjelma rima
Tanpa
poros bak lirisme para simbolis
Hati
menerobos silau dalam prinsip realitas
Berontak
akan prinsip kesetiaan ala Qais
Mendamba
Laila sebelum laut membelah pengunungan
Apakah
hina jika aku bermandikan danau walau telah disinari rembulan?
O,
berpalinglah padaku wahai danau kecilku
Sebab
rembulan kan hilang darimu jika mentari mencekik..
Kaulah
bayang putih melebihi air yang mengkristal
Sinarilah
aku yang tak butuh apappun selain cahayamu..
O
hatiku, kau seperti mataku
Memberontak
pada kesetiaan ragawi
Mendamba
senyummu dalam kesetiaan poetika.
Apakah
hina jika aku bermandikan danau walau telah disinari rembulan?
berpalinglah
padaku wahai danau kecilku
Sebab
rembulan kan hilang darimu jika mentari mencekik..
Oh,
aku keliru dan Haytham benar .. ..
Cahayamulah
menapak laju di mataku
Hingga
kulihat hanyalah dirimu.
4 U
20 Juli 2012
#12
Untukmu
sang Pelukis
Seperti
Sa'di tentang lautan bagi pecinta
Haitham
yang mencintai kebutaan dalam melihat-Nya
Aku
masih saja meneguk air dalam ceruk para leluhur kearifan
Berlama-lama,
entah sehari hilang tak menghargai
Berkelana
kemana-mana jiwa berirama merindu Mama
Oh,
empat penjuru mata air nan melaju....
Hari-hariku
berjalan diatas deraian sang Papa
Aku
seperti berdiri tanpa penyangga yg dulu pujangga
Kina
ia terbaring dengan mata asa mengangkasa
Berharap
ku terbang mendarat didadanya yang resah merindu
O,
Demi Masa
Aku
merugi seluas kosmos mengepakan sayap
Tak
mendengar saat tangisnya bertuan ditelingaku
Tak
melihat saat matanya menghujam sukmaku
Aku
dengan bangga menahan deraian kebutaan
Angkuh
merapikan bacaan kecongkakan
Semuanya
adalah ilusi jika tangisku tak membasahi
Disetiap
fazar bangunkan mentari
Atau
jingga berserah pada malam
Aku
terlena, jatuh cinta berkali-kali pada lembaran Cinta-Mu
Setiap
nafas adalah kerinduan tanpa hati...
Aku
seperti semut yang terjebak dalam ribuan butiran zarah
Menghisap,
meresap madu wujud-Mu
Tanpa
sadar ada kecemburuan dari orang-orang yang pula Kau Cintai
Kecemburuannya
bukan lantaran aku mencintai Wujud-Mu dalam Ilmu
Kecemburuannya
adalah ikhtiar kesempurnaan menuju Pada-Mu
Duhai
Cinta ku.. bukankah Kau takan cemburu akan Cinta umat-Mu pada Muhammad?
Ia
mengajariku seperti Engkau mengajari Adam nama-nama Benda
Melarangku
memetik bunga dari tangkainya
Sebab
menyusahkan kumbang menghisap sari Cinta-Mu sebagai pelengkap sujudnya
O,
Aku begitu serakah menyikap ketersembunyian dalam malam ku
Tapi,
kegersangan air mata seperti berubah menjadi batu meleganda
Aku
jatuh sedalam sedalam ruang misteri-Mu
Haruskah
aku seperti al Qhudat dengan Shakwa al Gharib-nya?
9 Juli 2012
#13
Aku
hampir saja Kehilangan Malam ini
Aku
hampir saja kehilangan malam ini
Langit
yang tiba-tiba tenggelam dari arus bebintangan
Menghadirkanku
sebentuk sileut
Terpaku
dalam kubah malam
Terjerat
dalam angan tak pasti
Terjebak
dalam sebuah kesalahan terindah
Hingga
kujatuh dalam dinginnya pelukan asmra
Beberapa
pelukan yang pernah hinggap dibadanmu
Seolah
hilang bersama bintang
Kemudian
hadir kembali dalam galaksi yang baru saja beraksi
Kau
tahu? siluet malam ini hampir mendekatimu
Ia
melewati lintasan yang pernah kulalui
Hingga
aku benar jatuh cinta bersama rembulan yang dihisap be-bukitan…
23 Juni 2012
#14
Keharmonisan
mu
Jejak
suaramu adalah harmonisasi senar harpa
Sejauh
penghayatan
Jejak
itu semakin bercabang
Dalam
setiap arah mata angin
Suaramu
menggema getarkan sukma
Menjelma
menjadi kekupu
Menghisap
segala sari rasaku
Binar
matamu adalah harmonisasi kemilau warni
Sejauh
memandang
Kemilau
itu kian menyilau
Dalam
gesekan udara dingin dengan air
Tatapanmu
kian mengendap
Menyelinap
diantara wewarnian kosmos
Hingga
kau adalah pelangi yang mewarni
Saat
ini
Kau
adalah harmonisasi setiap keindahan
Sejauh
rasa menghasta
Auramu
mencandra disetiap kata
Senyummu
menyelinap tirai gundahku
Jika
rasa menghasta pada Sang Asa
Aku
percaya, dalam keindah-harmonismu
Kaulah
manifestasi segala keindahan sang Syakur,,
Dibawah
ranting pinus
aku
datang padamu disetiap senja kan menjingga
merangkai
rasa yang tersaji indah diatas rerumputan pinus
entah,
alam terlalu indah dengan wewarnian bunga
ataukah
haruku terbawa mesra saat petang kan datang menyejuk
kau
melebarakan senyum hingga pelangi kan indah disisi bukit
aku
terharu saat itu dikala matamu sayup meredup
silaukan
rasa yang lama terpenjara
aku
berdiri disetiap sisi citramu
menggengam
asa yang tersipu haru diatas keheningan jiwa
entah,
petang terlalu dini datangkan riang
ataukah
syahduku berirama saat burung gema berkicau
kau
menaburi keindahan hingga dunia ku terbuka akan kepastian
aku
terbawa ketika auramu menjadi imaji
namun
fikir kadang diam membaca tanda yang lama seirama
aku
bicara padamu disetiap fikir adalah kamu
merangkai
rasa yang terbentuk dari sepenggal senyum tipis
entah,
petang terlalu cepat datangkan malam
ataukah
syaraf imajiku mengerucut saat bebintangan kalahkan siluet
kau
menghampiri tatapanku dengan segala wewarnian alam
aku
terjebak dan sadar akan rasa adalah kamu
namun
dingin terlalu merinding getarkan bibir tanpa kata apapun
kini
penglihatanku silau saat matamu melintasi tatapanku
membuat
bukit sekitar tak lagi nampak mengelopak
entah,
kabut tlah merenggut setiap sudut
ataukah
optiku terhalang binar menyilau saat lihat hanyalah kamu
kau
menyapaku dengan segenggam tatapanmu
aku
terdiam saat jejaring imaji yang terpuisikan ialah kamu
entah,
apakah kau mengalami hal yang sama?
#15
Your
Smile
Hei...
seperti apakah kau malam ini
apakah
wajah merahmu masih tetap tersenyum ceria?
ataukah
lelap telah menjagamu?
aku
percaya dalam tidur pun senyummu itu masih saja terjaga
aku
merasakannya
aku
merindunya malam ini
bisakah
kau layangkan padaku senyum tipismu itu?
disaat
pikir terbayang ialah kamu...
hanya
bentuk wajah yang lahir dari senyum indahmu
aku
tak tau, atau mungkin belum juga kutemukan
seperti
apa wajahmu jika diderah amarah
malam
ini aku seperti orang yang terhipnotis
hanya
mendapat sugesti tuk selalu memabayangkan wajahmu ...
kau
tahu???
hanya
senyumanmu yang selalu bertuan dimataku...
tapi
aku mencintaimu bukan hanya karena senyuman itu ...
Moh. Arie Samal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar