Ketertingglan dunia modern karena
terlalu cepat menerima perubahan. Seperti itulah yang aku ingat dari Sartre, saat
mendengar pilihanmu untuk membaca Les Mot’s (Kata-kata), sebuah novel
biografisnya, yang didalamnya juga kita temukan sebuah pengakuan puitik “kehidupanku
telah kuawali seperti rupanya aku akan menutupnya; ditengah buku-buku ku. Aku
tak tahu jelas rantai asosiasi kebahasaan sehingga pilihan itu bisa jatuh pada
novel ini, hanya semacam kilasan yang memberikan sensionlitas-afeksi pada
jejaring sosial; aku jadi teringat, walaupun tidak jitu, mungkin berawal dari
catatan singkatmu di facebook, yang menulis tentang “berbahagialah bagi mereka
yang berekstase dengan tumpukan-tumpukan buku”.
Seperti itulah yang aku ingat,
maklum, daya ingat ku sedikit terhalang akibat gejala masa silam yang masih
menunjukan medan partikelrnya, membuat ku sedikit sulit untuk mengingat secara
detail. Ataukah mungkin seperti kau tuliskan dalam “Aku, Kamu dan tumpukan Buku”
bahwa otak, secara genetis-organis membut kita berbeda dalam merangkai
kenangan. Aku jadi ingat saat membaca Quraish Shihab, Perempuan, dan Daniel
Guleman dalam bukunya Social Intelgence, kecenduruangan perempaun lebih pada
mengingat waktu secara mendetail ketimbang lelaki. Mungkin kita butuh ruang
lebih untuk mebicarakan hal ini.
Entah sejak kapan aku mulai
merasakan –seperti puisiku—ketakwajaran dalam aktus rasa ku. Beberapa coretanku
selalu menjadikan pengalaman bersamamu sebagai basis heremeneutis menenun kata,
yang didalamnya aku taburi jutaan metaforik, simbolik dengan diksi yang berasal
dari ekstasi saat mengingat dunia tawa-mu. Kau sering berkata dengan sedikit
porsi kritik yang agak lebih, bahwa “diksimu terlalu sulit untuk aku pahami,
bisakah diturunkan level diksinya?”. Aku sering berkata pada teman-temanku yang
mengkritik hal yang sama, dan jawabanku tetap sama bahwa “aku ingin sekali
merubah diksi ku, tapi dalam perjalanan, ekstase menulisku begitu mudah
mengkondisikan keliaran imajinasi sehingga aku lupa tuk kembali ke dasar-rasio
dimana tulisan ini berawal.
Itu mungkin alasan pertama. Yang kedua
lebih pada interpelasi-inkorporasi karakter pribadiku yang agak canggung dan
pemalu. Aku tak mau isi hatiku mudah terbaca, sehingga kecenderungan itu pun
aku bawa dalam tulisan-tulisanku, sengaja menyembunyikan makna dan rasa dibalik
tanda. Beberpa tulisan berupa puisi, status dan pesan mengalami hal serupa. Aku
munyukai mistery seperti Einstein dan sahabatnya, Max plank. Dan kau adalah
mistery yang belum bisa dan tak bisa aku pecahkan.
Minat bacaku semakin bertambah
saat membuka hari bersamamu lewat pesan-pesan singkat. Pertanyaan-pertanyaanmu
seringkali membuatku tuk mengingat kembali apa yang pernah aku baca, atau
membuka kembali bacaan, sehingga dalam keterbatasn, aku menjawab seadanya yang
masih teringat. Sampai disini aku mengingat kata-katamu “belajar adalah
mengingat, Plato”. Aku selalu membaca apapun yang ada dihadapanku seolah dan
memang kau adalah hamparan semantik hasrat yang membuatku menyetubuhi setiap
kata. Disana, aku menemukan kebenaran apology para filusuf, bahawa kebanyakan
inspirasi itu datang dari orang-orang terkasih. Tanpa mempertimbangkan rasaku
yang pemalu, akupun menjadikanmu sebagai pemantik makna dalam setiap buku. Tanpa
sadar aku adalah langit yang telah jatuh diatas pangkuan bumi pertiwi, kemudian
membaca kembali kronoligis kejatuhanku. Ternyata kaulah yang hadir dan
kutemukan dalam lembaran-lembaran buku-buku ku itu.
Tentunya ada banyak hal yang aku
dapatkan darimu. Sikap mu yang blak-blakan, optimisme dan mobilitasmu membuatku
agak canggung tuk membuka ruang lebih agar suasana menjadi seakrab mungkin. Sementara
aku yang tidak terlalu terbiasa dengan beberapa kebiasaanmu membuatku jadi
tertantang tuk menyebur diri dalam sikapmu yag begitu welcome terhadap apapun, tetapi
aku kadang tak yakin kalau senyum dan tawamu adalah efek kekapan sayap kekupu
yang menebar badai romatika jiwaku. Aku tak yakin. Tapi dan lagi-lagi efek
kepakan kekupu telah telah kau tebar, akupun menjadi korban badai yang penuh
dramatik, kemudian akibat tebing tawamu, aku jatuh dalam gravitasi lesung mu
yang begitu damai.
Akhirnya aku ingin mengutip kata-kata
sang Kakek-nya Satre, dalam novel itu. “Dalam kesempatan istimewa—misalnya ketika
suara Guntur bergetar dipegunungan atau bila Victor Hugo terinspirasi—tercapailah
Titik Kulminasi agung: Kebenaran, Keindahan, dan Kabajikan berpadu satu”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar