Pukul lima (17:00). Semenjak hati kecilku bercita-cita
memilih penulis sebagai duniaku, pukul lima-sore lah yang sering menawari
ruang-ruang kontemplatif-imajinatif. Pukul lima bisa membawaku kembali
menelusuri titik-titik kreatif yang menjelma puisi, fiksi, non fiksi. Pukul
lima pula yang memanjakan jariku tuk membelai setiap helai rambutmu menjadi
senar-senar dawai yang mengiringi suara menjadi kata, kata menjadi sabda: sabda
langit, saubda hujan, sabda hening. Semuanya mengukir sunyi, membelah hasrat
kebintangan, membuka pintu-pintu cakrawala, hingga pukul lima mencipta diksi
dalam sunyi, nurani dalam diksi. Pukul Lima aku, kamu benar-benar ada dalam
sunyi.
Entah, dan memang benar kata sang punjangga Confusius, bahwa
kesunyian adalah teman sejati yang tak pernah berbohong. Karena darisana segala
balok keheningan menjelma sayup, terdengar hanyalah ritmis udara tipis yang memanjakan
selaput telinga, dan ketika wajahmu adalah intensionalitas rasa, sunyipun
semakin warni menampakan getara nadi. Semakin nadi bergetar, semakin kata
menjadi musnah, berantakan. yang ada hanyalah sejenis pinta akan rindu dalam
sunyi. Menatap wajah mu adalah alasan akan kata yang tak lagi berarti.
Dalam hidup, aku selalu percaya akan hal-hal misaterius yang selalu membuat hidup menjadi
berarti. Keberartian hidup bukan karena kegampangan meraih sesuatu, tetapi
lebih pada upaya terus menerus dalam menyikapi ketersembunyian. Saya jadi ingat
kata-kata Kak Alwi Rachman, bahwa yang penting dalam sastra terdapat dalam
komunikasi simbolik. Mungkin pandangan inilah yang sudah sekian lama aku pegang, yang secara tidak lansung
membuatku memilih simbolik sebagai jalan ucap. Ataukah memang karena aku begitu
senang dengan formalis rusia? Yang karena sastranya berpengaruh besar pada
revolusi Bolshevik?
Kini pukul lima berganti fajar. Surau mengetarkan nadi
semesta dengan suara-suara azan, siapapun yang tidak tergerak hatinya pasti
melewati kemerduan itu. ibadah lebih
indah daripada tidur. Aku pun menerobos sunyi dalam riaknya embun fazar,
mencoba memahami seperti apa Aku didalamnya. Tapi senar dawai dari helaian rambutmu
itu masih terngiang dalam kemerduan subuh. Oh, aku jadi dosa saat nama mu aku
sebut sebelum Tuhan aku sapa.
Apakah itu adalah ketakutan? Tidak. Aku hanya takut
menggunakan bahasa-bahasa harian yang sering digunakan oleh sepasang kekasih. Bahasa
yang membuat cinta yang begitu berharga berubah menjadi barang murahan. Tidak,
aku tidak mau memahamimu, merasakanmu, meyakinkanmu dengan kata-kata laris
manis tak berharga itu. Aku sering mendengarnya, kata seperti “aku
membutuhkanmu, aku mencintaimu, aku merinduimu”. Itulah kata-kata murahan yang
laris dalam abad penuh gombali ini. aku jadi ingat juga kata temanku bahwa
hidup modern bukan lagi dikenal sebagai globalisasi, melainkan gombal-sasi. Itulah
yang aku takuti.
Mungkin semenjak masih kecil, aku selalu berada dalam lingkup
kaum-kaum hawa. Semua keluargaku adalah Hawa, akupun di didik dalam atmosfer
Hawa. Sehingga sikapku kadang lebih mistery dari dari apa yang dikatakan
Hawking “bahwa perempuan adalah makhluk yang paling misterius”. Tapi, beberapa
hari kemarin ada sedikit keberanian tuk mencuri ruang keberanian Adam, ruang
dimana aku bisa memanjakan, membelai, melayani, mengusap dan berbicara padamu bahwa
kalau dalam sunyi aku benar-benar Ada, sehingga akibat Kasih Sayang Tuhan, Dia
pun mencipta sosok mistery, bukan dari tulang rusuk-ku tetapi dari kata-kata
yang dia (misteri itu) tulis dalam buku kehidupannya. Kini aku benar-benar
sunyi dimana dirimu adalah kemerduan harpa yang heningkan rasa.
Tapi jika ketakutanku untuk membelah sunyi menjadi hal yang
kurang menyenangkan, bisakah kau adalah Adam, dimana Tuhan mengajarkannya
nama-nama benda?. Sebutlah padaku nama-nama itu.
***
Pukul 5 sore kemarin, setelah melewati beberapa halaman
bersama Walter Isaacson, yang berbicara tentang Einstein, aku sedikit penasaran
untuk melihat kembali bagaimana hubungan antara fisika modern dengan mistisime
timur, Fritjof Capra, dalam the Tao Of Physics. Aku sempat diam beberapa saat
ketika membaca kutipan-kutipan Upanishad;
Maka
kebahagiaan adalah sama dengan kekosongan
Kekosongan
sama dengan kebahagiaan …
Keheningan, biarkan orang memujannya
Karena dari sana ia terlahir
Karena kesana ia melebur
Karena di sana ia bernafas.
Bukan suatu kebetulan
jika pukul lima bagiku adalah senja penuh ruang kontemplatif-imajinatif,
sementara pukul lima bagimu adalah saat untuk jeda dari keseharian kerjamu. Bukan
kebetulan juga jika ruang imajinatifku dipukul lima menjadi bahasa dan kata
penuh makna yang menawarimu sejuta cerita yang bisa sembuhkan kelesuanmu
dipukul lima damana kau harus jeda dalam kerja. Kaulah keheningan, kekosongan yang kutemui
dalam sunyi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar