Selasa, 15 Januari 2013

Dalam sunyi itu Aku, Aku-mu benar-benar Ada


Pukul lima (17:00). Semenjak hati kecilku bercita-cita memilih penulis sebagai duniaku, pukul lima-sore lah yang sering menawari ruang-ruang kontemplatif-imajinatif. Pukul lima bisa membawaku kembali menelusuri titik-titik kreatif yang menjelma puisi, fiksi, non fiksi. Pukul lima pula yang memanjakan jariku tuk membelai setiap helai rambutmu menjadi senar-senar dawai yang mengiringi suara menjadi kata, kata menjadi sabda: sabda langit, saubda hujan, sabda hening. Semuanya mengukir sunyi, membelah hasrat kebintangan, membuka pintu-pintu cakrawala, hingga pukul lima mencipta diksi dalam sunyi, nurani dalam diksi. Pukul Lima aku, kamu benar-benar ada dalam sunyi.

Entah, dan memang benar kata sang punjangga Confusius, bahwa kesunyian adalah teman sejati yang tak pernah berbohong. Karena darisana segala balok keheningan menjelma sayup, terdengar hanyalah ritmis udara tipis yang memanjakan selaput telinga, dan ketika wajahmu adalah intensionalitas rasa, sunyipun semakin warni menampakan getara nadi. Semakin nadi bergetar, semakin kata menjadi musnah, berantakan. yang ada hanyalah sejenis pinta akan rindu dalam sunyi. Menatap wajah mu adalah alasan akan kata yang tak lagi berarti.

Dalam hidup, aku selalu percaya akan hal-hal  misaterius yang selalu membuat hidup menjadi berarti. Keberartian hidup bukan karena kegampangan meraih sesuatu, tetapi lebih pada upaya terus menerus dalam menyikapi ketersembunyian. Saya jadi ingat kata-kata Kak Alwi Rachman, bahwa yang penting dalam sastra terdapat dalam komunikasi simbolik. Mungkin pandangan inilah yang sudah sekian lama  aku pegang, yang secara tidak lansung membuatku memilih simbolik sebagai jalan ucap. Ataukah memang karena aku begitu senang dengan formalis rusia? Yang karena sastranya berpengaruh besar pada revolusi Bolshevik?

Kini pukul lima berganti fajar. Surau mengetarkan nadi semesta dengan suara-suara azan, siapapun yang tidak tergerak hatinya pasti melewati kemerduan itu. ibadah lebih indah daripada tidur. Aku pun menerobos sunyi dalam riaknya embun fazar, mencoba memahami seperti apa Aku didalamnya. Tapi senar dawai dari helaian rambutmu itu masih terngiang dalam kemerduan subuh. Oh, aku jadi dosa saat nama mu aku sebut sebelum Tuhan aku sapa.

Apakah itu adalah ketakutan? Tidak. Aku hanya takut menggunakan bahasa-bahasa harian yang sering digunakan oleh sepasang kekasih. Bahasa yang membuat cinta yang begitu berharga berubah menjadi barang murahan. Tidak, aku tidak mau memahamimu, merasakanmu, meyakinkanmu dengan kata-kata laris manis tak berharga itu. Aku sering mendengarnya, kata seperti “aku membutuhkanmu, aku mencintaimu, aku merinduimu”. Itulah kata-kata murahan yang laris dalam abad penuh gombali ini. aku jadi ingat juga kata temanku bahwa hidup modern bukan lagi dikenal sebagai globalisasi, melainkan gombal-sasi. Itulah yang aku takuti.

Mungkin semenjak masih kecil, aku selalu berada dalam lingkup kaum-kaum hawa. Semua keluargaku adalah Hawa, akupun di didik dalam atmosfer Hawa. Sehingga sikapku kadang lebih mistery dari dari apa yang dikatakan Hawking “bahwa perempuan adalah makhluk yang paling misterius”. Tapi, beberapa hari kemarin ada sedikit keberanian tuk mencuri ruang keberanian Adam, ruang dimana aku bisa memanjakan, membelai, melayani, mengusap dan berbicara padamu bahwa kalau dalam sunyi aku benar-benar Ada, sehingga akibat Kasih Sayang Tuhan, Dia pun mencipta sosok mistery, bukan dari tulang rusuk-ku tetapi dari kata-kata yang dia (misteri itu) tulis dalam buku kehidupannya. Kini aku benar-benar sunyi dimana dirimu adalah kemerduan harpa yang heningkan rasa.

Tapi jika ketakutanku untuk membelah sunyi menjadi hal yang kurang menyenangkan, bisakah kau adalah Adam, dimana Tuhan mengajarkannya nama-nama benda?. Sebutlah padaku nama-nama itu.

***

Pukul 5 sore kemarin, setelah melewati beberapa halaman bersama Walter Isaacson, yang berbicara tentang Einstein, aku sedikit penasaran untuk melihat kembali bagaimana hubungan antara fisika modern dengan mistisime timur, Fritjof Capra, dalam the Tao Of Physics. Aku sempat diam beberapa saat ketika membaca kutipan-kutipan Upanishad;

Maka kebahagiaan adalah sama dengan kekosongan
Kekosongan sama dengan kebahagiaan …

Keheningan, biarkan orang memujannya
Karena dari sana ia terlahir
Karena kesana ia melebur
Karena di sana ia bernafas.

Bukan suatu kebetulan jika pukul lima bagiku adalah senja penuh ruang kontemplatif-imajinatif, sementara pukul lima bagimu adalah saat untuk jeda dari keseharian kerjamu. Bukan kebetulan juga jika ruang imajinatifku dipukul lima menjadi bahasa dan kata penuh makna yang menawarimu sejuta cerita yang bisa sembuhkan kelesuanmu dipukul lima damana kau harus jeda dalam kerja.  Kaulah keheningan, kekosongan yang kutemui dalam sunyi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar