Jumat, 11 Januari 2013

Abadi


Langitku jatuh ke bumi
Tanpa tahu bagaimana caranya  mendaki bukit
Yang ku tahu hanyalah menyuamkan asa
    tak berdaya
Pada nyala suci sang Lilin
Membakar Lalat satu-satu jatuh
Entah, semakin tawa kau bawa
Semakin pula riang kan menerjang menarik setiap mata

Langitku jatuh bukan karena kaulah penenun
Menyulam satu-satu gerak tubuhmu
Menjadi ukiran tawa ber-rima mistik ketimuran
Tanpa mantra
Tanpa apapun

Aku tersesat dalam lembah tawamu
Tanpa tahu seberapa luasnya bumi
Seberapa cepat semesta berinflasi
Aku telah jatuh dalam keindah-seimbang kosmik
Tiada gravitasi
Tiada  medan
Hanya bau asap lilin hinggapi nurani
   berseri

O, Aku seperti lalat merindu mati dalam lilin
    terbakar menjadi debu-debu atmosfer
Berpadu dalam aura jinggamu
Hingga kau adalah senja yang menyulam malam-malam jadi hujan
   Menyejukan.

Bisakah aku menenun mega menjadi kertas putih?
Kemudian jari-jari halintar adalah pena?
Aku ingin menulis didalamnya ..
Aku, Kamu Abadi
Itulah yang tertulis.




1 komentar: