Senin, 12 Agustus 2013

Prosa Persembahan Abadi


Seluruh kehidupanku telah kau bawa dalam lagumu, dan aku tak bisa berhenti menari memuja hari tanpa meresapkan diri pada nyala api yang kau bakar dalam kuil hatiku.

Jika suara hujan menghampiri setiap melodi yang kau unggahkan, toh musikmu adalah malam dimana hujan menjadi arti bagi lelapnya raga membuat jiwaku padu dalam riakan sungai yang membawaku kemana  suka.

Ah, kuil dihatiku ramai sekali dengan musikmu, bahkan dedaunan yang melayang sudi jatuh terpelanting dalamnya.

***
Gerisik hujan membuka pagi tanpa sapaan hangat matahari, dersanya membuat cericip burung tak jua menyanyikan pagi seperti biasanya. Rumput pasrah digenangi air. Oh, pagi bisu tanpa suara selain lagumu nyaring nian dalam hujan.

Aku masih saja terkurung dalam selimut, menghangatkan diri dengan aroma tubuhmu yang masih kentara dalam selembar baju putih. aroma itu menyengat, menggetarkan tubuh, menusuk hingga ke akar rambutku.

Mereka bertanya “gerangan apa rambutmu bergururan?”. Aku hanya diam meresap dalamnya lagumu yang bergema dalam pagi. Bagaimana mungkin aku menjawab mereka akan kegetaran tubuhku lantaran getirnya aroma tubuhmu menghujam dalam sukmaku?

***

Siapa yang mampu bertanggung jawab atas hancurnya biara dalam hatiku? Saat aku menanyakan Rumi, ia hanya diam sebab itulah yang dia mengerti tentang Api yang membakar.

Tidak. Tidak seorangpun yang bisa. Tidakkah Tuhan menghukum perbuatan dosa kecuali hati yang senantiasa jatuh oleh kekuatan cinta? Tidakkah hati berada diluar kuasaku?

***
Sesuatu yang berharga dalam diriku semakin berubah menjadi gila. Aku sakit karenanya. Ah, jadilah sakit adalah ajakan Rumi padaku.  Tapi, sakit adalah penyebab kegialaan aku disebut. Oh Ramadhan, tuangkan lagi anggur pada ku agar kuil ini disesaki oleh musiknya yang memabukanku.

***
Kemanakah dua sumber mata air ini kan mengalir? Tidakah aliran segala sungai di bumi telah mengajukan keberatan tuk tidak mengalirkan mata air yang merontokkan ranting-ranting di mataku?. Dengan apa kah kerinduan ini aku bahasakan? Sementara kata-kata telah membentang bendera putihnya sebagai tanda akan tak sanggupnya mengugkap bahasa hakikat kerinduan padanya?.

Inginku berDzikr, bermunjah mencurah hati pada Sang Pemilik Matahari tuk mengambil cahaya di hatiku agar rasa cinta yang begitu dalam padanya hangus terbakar. Tapi kata-kata yang aku gunakan pula adalah bayangannya hingga keindahan syair pemuji Tuhan selalu menampakkan dirinya disetiap Asma.

Oh Pencipta Matahari, Keindahan-Mu yang Kau ukir di wajahnya dan Cinta-Mu yang kau tanamkan di hatinya telah mengakar didalam jejaring syarafku. Akankah rumput ini kan tumbuh tanpa akar sebagai penyangga?

***
Saat kerinduan mewabah dalam belulangku, aku tak sanggup melantunkan namamu. Bahkan bibir ini selalu dalam ikhtiar ku eratkan saat dirimu bergelimang takhta dalam istana qalbuku. Oh, penguasa malam ku.. tubuh ini seperti terbelah dua saat namanya ku sebut. Tapi seperti kesakitan yang dialami seorang Ibu saat melahirkan, sesakit apapun adalah kebahagiaan yang tiada tanding saat buah hati menghirup nafas dunia.

Begitulah yang kurasakan. Sakit ini adalah kebahagiaan hingga namanya selalu kusebut saat darah membeku akibat jiwaku tak bisa membendung kerinduan padanya.

***
Katakanalah wahai Peguasa Malam ku, scenario apa yang Kau taburi dalam hatiku hingga burung-burung pun tak kuasa menghibur duka yang menjadi cerita utama dalam dada ini. Katakanlah… jika scenario ini adalah sejenis kutukan lantaran aku tak kuasa menahan hari menjadi senja semata, maka kutuklah aku karenya. Binasakanlah aku yang tak bisa menjadi kekupu tuk menghisap bunga-bunga kehidupan dimana dia adalah putik tempat madu kasihku abadi.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar