Seluruh kehidupanku
telah kau bawa dalam lagumu, dan aku tak bisa berhenti menari
memuja hari tanpa meresapkan diri pada nyala api yang kau bakar dalam kuil
hatiku.
Jika suara hujan
menghampiri setiap melodi yang kau unggahkan, toh musikmu adalah malam dimana
hujan menjadi arti bagi lelapnya raga membuat jiwaku padu dalam riakan sungai
yang membawaku kemana suka.
Ah, kuil dihatiku
ramai sekali dengan musikmu, bahkan dedaunan yang melayang sudi jatuh
terpelanting dalamnya.
***
Gerisik hujan membuka
pagi tanpa sapaan hangat matahari, dersanya membuat cericip burung tak jua
menyanyikan pagi seperti biasanya. Rumput pasrah digenangi air. Oh, pagi bisu
tanpa suara selain lagumu nyaring nian dalam hujan.
Aku masih saja
terkurung dalam selimut, menghangatkan diri dengan aroma tubuhmu yang masih
kentara dalam selembar baju putih. aroma itu menyengat, menggetarkan tubuh,
menusuk hingga ke akar rambutku.
Mereka bertanya
“gerangan apa rambutmu bergururan?”. Aku hanya diam meresap dalamnya lagumu
yang bergema dalam pagi. Bagaimana mungkin aku menjawab mereka akan kegetaran
tubuhku lantaran getirnya aroma tubuhmu menghujam dalam sukmaku?
***
Siapa yang mampu
bertanggung jawab atas hancurnya biara dalam hatiku? Saat aku menanyakan Rumi,
ia hanya diam sebab itulah yang dia mengerti tentang Api yang membakar.
Tidak. Tidak seorangpun
yang bisa. Tidakkah Tuhan menghukum perbuatan dosa kecuali hati yang senantiasa
jatuh oleh kekuatan cinta? Tidakkah hati berada diluar kuasaku?
Sesuatu
yang berharga dalam diriku semakin berubah menjadi gila. Aku sakit karenanya.
Ah, jadilah sakit adalah ajakan Rumi padaku. Tapi, sakit adalah penyebab kegialaan aku
disebut. Oh Ramadhan, tuangkan lagi anggur pada ku agar kuil ini disesaki oleh
musiknya yang memabukanku.
***
Kemanakah dua sumber mata air ini kan
mengalir? Tidakah aliran segala sungai di bumi telah mengajukan keberatan tuk
tidak mengalirkan mata air yang merontokkan ranting-ranting di mataku?. Dengan
apa kah kerinduan ini aku bahasakan? Sementara kata-kata telah membentang
bendera putihnya sebagai tanda akan tak sanggupnya mengugkap bahasa hakikat kerinduan
padanya?.
Inginku berDzikr, bermunjah mencurah
hati pada Sang Pemilik Matahari tuk mengambil cahaya di hatiku agar rasa cinta
yang begitu dalam padanya hangus terbakar. Tapi kata-kata yang aku gunakan pula
adalah bayangannya hingga keindahan syair pemuji Tuhan selalu menampakkan
dirinya disetiap Asma.
Oh Pencipta Matahari, Keindahan-Mu
yang Kau ukir di wajahnya dan Cinta-Mu yang kau tanamkan di hatinya telah
mengakar didalam jejaring syarafku. Akankah rumput ini kan tumbuh tanpa akar
sebagai penyangga?
***
Saat kerinduan mewabah dalam
belulangku, aku tak sanggup melantunkan namamu. Bahkan bibir ini selalu dalam
ikhtiar ku eratkan saat dirimu bergelimang takhta dalam istana qalbuku. Oh,
penguasa malam ku.. tubuh ini seperti terbelah dua saat namanya ku sebut. Tapi
seperti kesakitan yang dialami seorang Ibu saat melahirkan, sesakit apapun
adalah kebahagiaan yang tiada tanding saat buah hati menghirup nafas dunia.
Begitulah yang kurasakan. Sakit ini
adalah kebahagiaan hingga namanya selalu kusebut saat darah membeku akibat
jiwaku tak bisa membendung kerinduan padanya.
***
Katakanalah wahai Peguasa Malam ku,
scenario apa yang Kau taburi dalam hatiku hingga burung-burung pun tak kuasa
menghibur duka yang menjadi cerita utama dalam dada ini. Katakanlah… jika
scenario ini adalah sejenis kutukan lantaran aku tak kuasa menahan hari menjadi
senja semata, maka kutuklah aku karenya. Binasakanlah aku yang tak bisa menjadi
kekupu tuk menghisap bunga-bunga kehidupan dimana dia adalah putik tempat madu
kasihku abadi.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar