Bangsa-bangsa yang paling banyak menyanyi adalah
bangsa-bangsa
yang paling
banyak menderita. Ini sudah sepatutnya,
sehingga setiap orang harus mengetahui ini. G. Nushes
de Prado
Kutipan diatas saya
dapatkan dari Asrul Sani, saat membaca surat-surat kepercayaannya.
Entahlah, apa empunya makna sejati kutipan diatas, tapi ketika mambaca buku ini
saya baru saja menerima pesan dari jejaring social oleh seorang kenalan yang
mengajakku tuk ikut dalam lomba menulis menyambut hari kemerdekaan Indonesia sehingga mantik yang aku dapati dari kata “menyanyi”
adalah impian dan mitos-mitos terdapat dalam Negara berupa kebebasan,
demokrasi, melawan terorisme, kemajuan,
peradaban maju dan slogan kesejahtraan yang tak pernah terhitung jutaannya.
Disini saya tidak perlu lagi untuk mengulangi bahasa-bahasa
yang sering kita temukan dalam pesta kemerdekaan. Ada yang mengkritik,
merefleksi, merenung akan kemerdekaan bangsa yang hampir mendekati satu abad ini
yang tak jua kunjung bebas dari penjara bernama “Medeka”. Kata Merdeka bagi
negeri ini sudah seperti menjadi Duri yang menusuk pilu empunya sang Mawar.
Merdeka seperti menjadi katalis bagi suburnya demokrasi capital, Merdeka adalah
adalah sandi bagi neoliberalisme tuk masuk mengacak-poranda Karunia Tuhan di
negeri ini, Merdeka adalah irama melankoli yang membuat pendengar terbawa tidur
membiarkan tubuh ini dicabik oleh pemangsa yang haus darah ke-perawan-an. Semakin
merdeka dipuisikan semakin ia kehilangan nada puitisnya. Semakin merdeka
didengungkan, semakin sengsara kita ditindas bangsa penguasa sendiri.
Disetiap meomentum tujuh belasan seringlah kita temui ragam
acara, tayangan, program untuk merayakan pesta sejarah yang berlumur darah ini.
Mulai dari RT, RW, Kecamatan sampai Provinsi tak kunjung reda dengan banyaknya
festival. Tetapi acara-acara itu layaknya kuis di stasiun-stasiun TV yang
tujuan utama bagi pemirsa hanya hadiah, tetapi bukan pada pendalaman (re)aktualisasi
tuk memahami secara eksistensial akan kemerdekaan. Pun lomba menulis yang
disarankan teman diatas tak luput dari agenda musiman, dan juga tulisan ini tak
terlepas dari rangkaian kritik demikian.
Kemerdekaan telah dipahami sebagai satuan waktu Newton-nian
dimana masa lalu telah terlewati tanpa adanya kesinambungan, masa lalu itu
telah menjadi penguni galeri-galeri yang menguncimati barang-barang antik
sehingga cita-cita kemerdakaan oleh para penggagas bangsa telah menjadi museum
tanpa makna. Apa yang dikatakan Foucault tentang sejarah dan dokumen sebagai
perjalanan dinamis sebuah bangsa tak berlaku di negeri antah beratah ini.
Renungkanlah. Berapa banyak masyarakat yang mati kelaparan,
berapa banyak masyarakat yang tergusur dari
tanah temapt kelahirannya. Berapa banyak yang tidak menikmati
pendidikan. Berapa banyak yang tidak memiliki tempat tinggal (yang layak). Berapa
banyak pembungkaman kebebasan oleh penguasa, berapa banyak kekejian yang
semena-mena dilakukan oleh aparat keamanan terhadap masyarakt. Namun sesyahdunya apapun
renungan toh apatisme telah meradang merubah diri kita menjadi manusia asing di
negeri sendiri, tergusur dari tanah sendiri dan yang lebih menyedihkan apatisme
itu telah merubah kita menjadi bangsa tanpa rasa syukur dan berterima kasih
pada pendahulu bangsa yang mati dihujung belati. Mungkin kritik Franz Kafka,
pantas untuk kita sandang, bahwa manusia modern telah bermetamorfosa menjadi
kutu besar. Kutu yang sering membuat gatal empunya sang kepala hingga tercipta
luka yang berpengaruh sampai pada isi kepala kita.
Merdeka yang Membodohi
Seperti tertuang dalam Undang-undang Dasar Negara “Mencerdaskan
kehidupan bangsa”, entah mencerdaskan seperti apa yang dipahami. Pendidikan dimasa-masa
kemerdekaan mungkin lebih ideal dan tertuju pada muasal-maknawiah dimana proses
adalah hal yang paling fundamental, sehingga hal yang paling substansial dari
pendidikan, seperti yang selalu diteriaki oleh Freire di negeri Samba, sebagai
proses pembebasan adalah hal yang paling nyata (lihat Yudi Latif dalam Genealogy
Muslim dan Kuasa, dimana peran Guru dalam proses kemerdekaan adalah hal yang
sulit disangkal).
Tetapi mencerdeskan kehidupan bangsa dalam dinamika
kontemporer sama sekali kehilangan arah. Amburadulnya system penidikan, semakin
rendahnya mutu pengajar, arah kebijakan yang tak jelas, ganti menteri ganti
kebijakan dan masih banyak lagi kekisruhan dalam jantung pendidikan kita adalah
bagian kecil dari simulasi pembodohan Negara atas bangsa sendiri.
Pendidikan yang semakin mahal dan pembelajaran hanya tertuju pada
reproduksi pengetahuan telah membuat anak bangsa ini terkungkung dalam kematian
kreativitas. Kebebasan sebagai dictum demokrasi pendidikan adalah aturan yang
membuat setiap individu terjerat dalam rule-games yang sejatinya membuat kita
sebenarnya tak bebas sedikitpun. Singkatnya, pendidikan kita hari ini adalah
tameng yang diberikan Negara untuk selanjutnya menghipnotis bangsa agar tetap
diam. Pendidikan kita adalah mantra para hipnoterapis yang mensugestikan kita
untuk melihat dunia ini dalam keadaan baik-baik saja. Pendidikan kita adalah kamuflase
yang menghalangi pandangan akan kesewenang-wenangan kejahatan neoliberalisme
pula kapitalisme yang menjajah bangsa. pendidikan kita adalah proses yang mampu
membuat kita menjadi tak sadar bahwa sesungguhnya kita sendirilah adalah
penjajah-penjajah baru yang masih pulas diatas kasur populis akal sehat.
Sementara itu, dalam lakon abad akal yang digawangi oleh laju
informasi dan komunikasi, bangsa ini seolah bangga dalam ketiadaan ikhtiar tuk
menjemput momen dunia atau Negara tanpa batas. Berbagai macam informasi tak
terlewatkan dalam sehari, tayangan-tayangan tak bermutu, bacaan-bacaan yang
bebas “nilai” dan ragam visualitas lainnya telah mendepak sisi kognisi bangsa
entah timur ataupun barat. tawaran gaya hidup yang menggiurkan dari rahim
modernitas telah begitu banyak merekonstruksi kognitivitas konsumerisme, gaya
hidup dan lainnya telah menjadikan kita menjadi bangsa penikmat tanpa jarak
yang mesti diisi dengan nada-nada kritik. Konseksuensinya, kita menjadi tak
sadar diri bahwa saat membaca, mendengar radio dan lebih penting lagi menonton
tayangan TV sebenarnya kita sedang dijajah, atau sedang menjajah diri dan
bangsa sendiri. Inilah alasan bahwa revolusi yang paling penting adalah cara
berfikir (lihat Gramsci) dan bukan pada
infra-spura struktur.
Kitalah Penjajah Itu
Pagi dalam aroma 17 agustus yang datar, sempat sebelum Paskibraka
mengibarkan merah putih, saya sempat membuka ulang Aku, karya Sumanjaya, sebuah
naskah yang bercertira tentang kehidupan Chairil Anwar , saya selalu dalam Tanya
apakah masih ada orang-orang yang walaupun secuil mengingat ratusan ribu bahkan
jutaan jiwa yang rela mati demi kemerdekaan bangsa? Apakah masih ada para
Jendaral, pejabat atau penguasa secara keseluruhan yang setiap hari dalam
keresahan seperti dialami oleh Tan Malaka, Syahrir, Hatta atau Sukarno? Apakah masih
tersisa para Seniman, Sastrawan yang memiliki syair dan irama pemberontakan atas
ketidakadilan sepeti Basuki, affandi, Chairil anwar ataupun Soe Hok gie.
Nampaknya pertanyaan diatas hanyalah coretan mubazir yang
hanya merugikan beberapa spasi. Penguasa hari ini adalah para serdadu yang
telah membelot menjadi mata-mata kapitalisme pula neoliberalisme yang
komandonya hanya mengarahkan rakyat untuk patuh dan setia terhadap segala
kesewenang-wenangan. Para ilmuan atau akademikus adalah orang-orang yang telah
merubah termilogy “merdeka” sekedar menjadi tanda tak bermakna dalam sejarah. Sementara
para sejarawan mengambil alih waktu para fisikawan ataupun filusuf menjadi
kepingan waktu yang tak berkesinambungan antara masa lalu, kini dan hari esok
sehingga sejarah kemerdekaan yang sangat berharga yang mesti tetap hidup dalam
setiap tindakan seolah berubah menjadi
masa lalu yang kelam yang harus dilupakan.
Disisi lain para seniman atau sastrawan kita dalam
menciptakan karya hanya menjadikan individualitas sebagai subjek karya tanpa
melihat lebih jauh relaitas yang mesti menjadi subjek. Sementara itu kita
sebagai rakyat atau individu-individu masyarakat membiarkan diri terlena dalam
arus apatisme, membiarkan segala artifak kehidupan modern menghegemoni langkah
dan tindakan kita.
Yah, kita sebagai bagian dari Negara ini adalah wajah-wajah
penjajah baru. Wajah beringas yang bertengger diatas jemari modernitas yang
menindas nurani bangsa, menindas sendi-sendi kultur bangsa sehingga kita
layaknya bintang yang membuang kotoran dikandang sendiri. Kita semua, baik
penguasa, politikus, ilmuan, akademikus, seniman, sastrawan di era modern ini
adalah akumulator nilai lebih (baca Marx) yang ikut melagengkan kekuasaan penguasa
yang selalu menjajah diri dan bangsa sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar