Selasa, 20 Agustus 2013

“Merdeka” yang Menjajah


Bangsa-bangsa yang paling banyak menyanyi adalah bangsa-bangsa
 yang paling banyak menderita. Ini sudah sepatutnya,
sehingga setiap orang harus mengetahui ini. G. Nushes de Prado

Kutipan diatas saya  dapatkan dari Asrul Sani, saat membaca surat-surat kepercayaannya. Entahlah, apa empunya makna sejati kutipan diatas, tapi ketika mambaca buku ini saya baru saja menerima pesan dari jejaring social oleh seorang kenalan yang mengajakku tuk ikut dalam lomba menulis menyambut hari kemerdekaan Indonesia  sehingga mantik yang aku dapati dari kata “menyanyi” adalah impian dan mitos-mitos terdapat dalam Negara berupa kebebasan, demokrasi,  melawan terorisme, kemajuan, peradaban maju dan slogan kesejahtraan yang tak pernah terhitung jutaannya.

Disini saya tidak perlu lagi untuk mengulangi bahasa-bahasa yang sering kita temukan dalam pesta kemerdekaan. Ada yang mengkritik, merefleksi, merenung akan kemerdekaan bangsa yang hampir mendekati satu abad ini yang tak jua kunjung bebas dari penjara bernama “Medeka”. Kata Merdeka bagi negeri ini sudah seperti menjadi Duri yang menusuk pilu empunya sang Mawar. Merdeka seperti menjadi katalis bagi suburnya demokrasi capital, Merdeka adalah adalah sandi bagi neoliberalisme tuk masuk mengacak-poranda Karunia Tuhan di negeri ini, Merdeka adalah irama melankoli yang membuat pendengar terbawa tidur membiarkan tubuh ini dicabik oleh pemangsa yang haus darah ke-perawan-an. Semakin merdeka dipuisikan semakin ia kehilangan nada puitisnya. Semakin merdeka didengungkan, semakin sengsara kita ditindas bangsa penguasa sendiri. 

Disetiap meomentum tujuh belasan seringlah kita temui ragam acara, tayangan, program untuk merayakan pesta sejarah yang berlumur darah ini. Mulai dari RT, RW, Kecamatan sampai Provinsi tak kunjung reda dengan banyaknya festival. Tetapi acara-acara itu layaknya kuis di stasiun-stasiun TV yang tujuan utama bagi pemirsa hanya hadiah, tetapi bukan pada pendalaman (re)aktualisasi tuk memahami secara eksistensial akan kemerdekaan. Pun lomba menulis yang disarankan teman diatas tak luput dari agenda musiman, dan juga tulisan ini tak terlepas dari rangkaian kritik demikian.

Kemerdekaan telah dipahami sebagai satuan waktu Newton-nian dimana masa lalu telah terlewati tanpa adanya kesinambungan, masa lalu itu telah menjadi penguni galeri-galeri yang menguncimati barang-barang antik sehingga cita-cita kemerdakaan oleh para penggagas bangsa telah menjadi museum tanpa makna. Apa yang dikatakan Foucault tentang sejarah dan dokumen sebagai perjalanan dinamis sebuah bangsa tak berlaku di negeri antah beratah ini. 

Renungkanlah. Berapa banyak masyarakat yang mati kelaparan, berapa banyak masyarakat yang tergusur dari  tanah temapt kelahirannya. Berapa banyak yang tidak menikmati pendidikan. Berapa banyak yang tidak memiliki tempat tinggal (yang layak). Berapa banyak pembungkaman kebebasan oleh penguasa, berapa banyak kekejian yang semena-mena dilakukan oleh aparat keamanan  terhadap masyarakt. Namun sesyahdunya apapun renungan toh apatisme telah meradang merubah diri kita menjadi manusia asing di negeri sendiri, tergusur dari tanah sendiri dan yang lebih menyedihkan apatisme itu telah merubah kita menjadi bangsa tanpa rasa syukur dan berterima kasih pada pendahulu bangsa yang mati dihujung belati. Mungkin kritik Franz Kafka, pantas untuk kita sandang, bahwa manusia modern telah bermetamorfosa menjadi kutu besar. Kutu yang sering membuat gatal empunya sang kepala hingga tercipta luka yang berpengaruh sampai pada isi kepala kita.

Merdeka yang Membodohi
Seperti tertuang dalam Undang-undang Dasar Negara “Mencerdaskan kehidupan bangsa”, entah mencerdaskan seperti apa yang dipahami. Pendidikan dimasa-masa kemerdekaan mungkin lebih ideal dan tertuju pada muasal-maknawiah dimana proses adalah hal yang paling fundamental, sehingga hal yang paling substansial dari pendidikan, seperti yang selalu diteriaki oleh Freire di negeri Samba, sebagai proses pembebasan adalah hal yang paling nyata (lihat Yudi Latif dalam Genealogy Muslim dan Kuasa, dimana peran Guru dalam proses kemerdekaan adalah hal yang sulit disangkal).

Tetapi mencerdeskan kehidupan bangsa dalam dinamika kontemporer sama sekali kehilangan arah. Amburadulnya system penidikan, semakin rendahnya mutu pengajar, arah kebijakan yang tak jelas, ganti menteri ganti kebijakan dan masih banyak lagi kekisruhan dalam jantung pendidikan kita adalah bagian kecil dari simulasi pembodohan Negara atas bangsa sendiri. 

Pendidikan yang semakin mahal dan pembelajaran hanya tertuju pada reproduksi pengetahuan telah membuat anak bangsa ini terkungkung dalam kematian kreativitas. Kebebasan sebagai dictum demokrasi pendidikan adalah aturan yang membuat setiap individu terjerat dalam rule-games yang sejatinya membuat kita sebenarnya tak bebas sedikitpun. Singkatnya, pendidikan kita hari ini adalah tameng yang diberikan Negara untuk selanjutnya menghipnotis bangsa agar tetap diam. Pendidikan kita adalah mantra para hipnoterapis yang mensugestikan kita untuk melihat dunia ini dalam keadaan baik-baik saja. Pendidikan kita adalah kamuflase yang menghalangi pandangan akan kesewenang-wenangan kejahatan neoliberalisme pula kapitalisme yang menjajah bangsa. pendidikan kita adalah proses yang mampu membuat kita menjadi tak sadar bahwa sesungguhnya kita sendirilah adalah penjajah-penjajah baru yang masih pulas diatas kasur populis akal sehat.

Sementara itu, dalam lakon abad akal yang digawangi oleh laju informasi dan komunikasi, bangsa ini seolah bangga dalam ketiadaan ikhtiar tuk menjemput momen dunia atau Negara tanpa batas. Berbagai macam informasi tak terlewatkan dalam sehari, tayangan-tayangan tak bermutu, bacaan-bacaan yang bebas “nilai” dan ragam visualitas lainnya telah mendepak sisi kognisi bangsa entah timur ataupun barat. tawaran gaya hidup yang menggiurkan dari rahim modernitas telah begitu banyak merekonstruksi kognitivitas konsumerisme, gaya hidup dan lainnya telah menjadikan kita menjadi bangsa penikmat tanpa jarak yang mesti diisi dengan nada-nada kritik. Konseksuensinya, kita menjadi tak sadar diri bahwa saat membaca, mendengar radio dan lebih penting lagi menonton tayangan TV sebenarnya kita sedang dijajah, atau sedang menjajah diri dan bangsa sendiri. Inilah alasan bahwa revolusi yang paling penting adalah cara berfikir (lihat Gramsci) dan  bukan pada infra-spura struktur.

Kitalah Penjajah Itu

Pagi dalam aroma 17 agustus yang datar, sempat sebelum Paskibraka mengibarkan merah putih, saya sempat membuka ulang Aku, karya Sumanjaya, sebuah naskah yang bercertira tentang kehidupan Chairil Anwar , saya selalu dalam Tanya apakah masih ada orang-orang yang walaupun secuil mengingat ratusan ribu bahkan jutaan jiwa yang rela mati demi kemerdekaan bangsa? Apakah masih ada para Jendaral, pejabat atau penguasa secara keseluruhan yang setiap hari dalam keresahan seperti dialami oleh Tan Malaka, Syahrir, Hatta atau Sukarno? Apakah masih tersisa para Seniman, Sastrawan yang memiliki syair dan irama pemberontakan atas ketidakadilan sepeti Basuki, affandi, Chairil anwar ataupun Soe Hok gie.

Nampaknya pertanyaan diatas hanyalah coretan mubazir yang hanya merugikan beberapa spasi. Penguasa hari ini adalah para serdadu yang telah membelot menjadi mata-mata kapitalisme pula neoliberalisme yang komandonya hanya mengarahkan rakyat untuk patuh dan setia terhadap segala kesewenang-wenangan. Para ilmuan atau akademikus adalah orang-orang yang telah merubah termilogy “merdeka” sekedar menjadi tanda tak bermakna dalam sejarah. Sementara para sejarawan mengambil alih waktu para fisikawan ataupun filusuf menjadi kepingan waktu yang tak berkesinambungan antara masa lalu, kini dan hari esok sehingga sejarah kemerdekaan yang sangat berharga yang mesti tetap hidup dalam setiap tindakan seolah  berubah menjadi masa lalu yang kelam yang harus dilupakan.

Disisi lain para seniman atau sastrawan kita dalam menciptakan karya hanya menjadikan individualitas sebagai subjek karya tanpa melihat lebih jauh relaitas yang mesti menjadi subjek. Sementara itu kita sebagai rakyat atau individu-individu masyarakat membiarkan diri terlena dalam arus apatisme, membiarkan segala artifak kehidupan modern menghegemoni langkah dan tindakan kita. 

Yah, kita sebagai bagian dari Negara ini adalah wajah-wajah penjajah baru. Wajah beringas yang bertengger diatas jemari modernitas yang menindas nurani bangsa, menindas sendi-sendi kultur bangsa sehingga kita layaknya bintang yang membuang kotoran dikandang sendiri. Kita semua, baik penguasa, politikus, ilmuan, akademikus, seniman, sastrawan di era modern ini adalah akumulator nilai lebih (baca Marx) yang ikut melagengkan kekuasaan penguasa yang selalu menjajah diri dan bangsa sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar