There is never art, but always
meaning, demikianlah Roland Barthes, semiolog (semiotika) asal Prancis,
dalam bukunya Image, Music and Text, dimana seni
menjadi hal yang ter-indah dan memiliki afeksi pula peresep keabadian karena
sang makna selalu setia mendampingi
bahkan ketika dipenjara dalam galeri-galeri kekuasaan. Dalam era digital yang
disempurnakan oleh abad technology informasi yang tak jarang mengalienasi
manusia, proses komunikasi yang disertai dengan tampilan-tampilan imej mapun
pencitraan politis dalam bentuk apapun, toh kata-kata adalah prasyarat bagi
lahirnya makna-makna. Itulah mengapa ketika Calude Monet melukis moonlight,
atau ketika Van Gogh melukis matahari mereka sebenarnya sementara berkata-kata.
Begitu pula dalam Baliho, semuanya adalah kata-kata.
layaknya menyambut hari-hari Lebaran, Natal atau Tahun Baru yang disetiap
sudut jalan terpampang dengan berbagai macam Baliho, umbul-umbul maupun spanduk,
hal sama pula terjadi pada pesta “demokrasi ala penguasa” dimana pada hampir
setiap sudut jalan terpampang ratusan baliho-baliho calon kepala Daerah Maluku
dengan ragam slogan-slogan Politik seperti pedagang kaki lima yang menawarkan
barangnya untuk dibeli; suatu pemandangan yang mengotori kota dengan bahasa dan
tampilan yang jauh dari realitas sesungguhnya.
Sebagai media kampanye, baliho merupakan bagian dari sarana komunikasi para
tokoh politik untuk menyampaikan berbagai macam visi-misi yang tercantum dalam
slogan tertentu sebagai representasi agenda politik. Namun, sebagai sebuah media
komunikasi baliho tidak saja terbatas pada teks atau pada gambar/foto semata
tetapi merupakan rangkaian jejaring tanda yang berhubungan secara structural
menyerupai sebuah kalimat utuh yang mudah terbaca.
Sudah merupakan hal lazim pada momentum kampanye dimana setiap kandidat
selalu tampil dengan bahasa atau bernada patriotik yang secera umum bertindak layaknya orang-orang suci pula dermawan untuk
menawarkan kesejahteraan pada masyarakat yang telah lama mendapat perlakuan tak
semena-mena. Kini dalam momentum politik Maluku dengan lima pasangan kandidat,
yang secara keseluruhan pernah terlibat dalam sutuktur kekuasaan yang tentunya
mempunyai track record masing-masing;
semuanya tampil dan memajang diri melalui baliho dengan pose senyum kehangatan,
berlatar kerakyatan kemudian dibubuhi teks sebagai slogan politik seperti Beta Tulus,
Bob-arif, Damai, Mandat dan Setia,
kesemuanya merupakan strategy kemenangan yang tentunya tidak terlepas dari
unsure-unsur “penipuan” Image mapun pencitraan.
Sementara itu masyarakat dibiarkan bebas menginterpretasi makna dibalik
totalitas struktur linguistic baliho yang secara tidak lansung dapat
mengkondisikan bawah sadar penikmat tuk percaya pada janji-janji suci ala
politikus yang sudah berkali-kali mengecewakan masyarakat. Dalam tulisan ini,
saya tidak berbicara bagaiamana kredibilitas makna yang kita dapatkan setelah
melihat baliho, tetapi lebih melihat dari sisi semiotis dimana kita selalu
saja, dalam tiap momen kampanye, selalu disuguhkan oleh slogan-slogan politik
yang pada akhirnya pula menjadi mitos yang tak tersentuh kehidupan nyata.
Antara Mitos dan Dusta
Umberto Eco, pakar semiotic yang berkebangsaan Italy, yang juga pengarang
Novel The Name of the Rose, mengatakan bahwa semiotika pada prinsipnya adalah
sebuah disiplin yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
berdusta. Definisi ini meskipun mencengangkan banyak orang, secara
eksplisit betapa sentralnya konsep dusta dalam wacana semiotika sehingga
dusta tampaknya menjadi prinsip utama dari semiotika. Dan ketika baliho
termasuk dalam category desain komunikasi, maka mau tidak mau tetap berusan
dengan terori dusta tersebut.
Dari sisi semiotis, terutama dalam pandangan Roland Barthes, Baleho atau
image berpotensi— dan memang itu tujuannya—untuk menciptakan mitos. Proses
terjadinya mitos adalah implikasi dari skema petanda-penanda, yang melaluinya
realitas yang sesungguhnya tak lagi menjadi thema utama akan pemaknaan terhadap
baliho, sebaliknya menjadi suatu pertunjukan- pertunjuakan dusta dalam dunia hyperrealitas
yang hanya ada di alam fantasi.
Sementara dalam kajian lingusitik, yang dijabarkan secara spesifik oleh
Ferdinand de Saussure, bahwa sebuah tanda memiliki dua kompunen utama, yaitu pendanda yang merupakan citraan atau
kesan mental dari sesuatu yang bersifat verbal atau visual seperti suara,
tulisan atau benda. Kemudian petanda
adalah konsep abstrak atau makna yang dihaliskan oleh tanda. Kedua komponen ini
ibarat dua sisi mata uang yang selalu beriringan dalam proses pemaknaan.
Kemudian dalam kritik linguistic lebih lanjut, komponen petanda atau proses
pemaknaan tersebut merupakan fabulasi yang membuat suatu objek, dalam hal ini
baliho, menjadi terkonotasi. konsekuensinya adalah pesan-pesan baliho tersebut
merubah diri menjadi mitos yang jauh dari realitas sesungguhnya.
Sebuah gambar—seperti yang ditulis Barthes— yang tersebar luas di
media-media Amerika pada tahun 1951 berhasil menggagalkan senator Millard Tydings
untuk menduduki kembali kursi kursi senatornya pada pemilu. Gambar atau foto
tersebut merekam adegan percakapan senator Milard dengan pemimpin komunis, Earl
Browder. Sebenarnya foto ini dihasilkan dengan cara menggabungkan secara
artificial dua foto terpisah tokoh-tokoh tersebut kedalam satu foto: sebuah
propaganda dan kebohongan semiotis yang menciptakan konotasi kontra simbolik kemudian
berefek pada kontra cultural masyarakat Amerika yang sangat membenci komunisme.
Dalam hal ini pengkonotasian merupakan penyusup makna lapis kedua kedalam
pesan desain fotografis (denotative). Tahapan ini merupakan konsekuensi
interpretasi yang tidak terlepas dari sisi historis maupun kultur masyarakat ,
dimana baliho adalah penanda (Baca
linguistik) atau objek yang karena jejaring pertandaan yang terdapat dalam
struktur totalitas baliho tersebut membuat konotasi makna terbuka lebar dan
sekaligus membuat rantai petanda
menjadi begitu liar.
Sebagai komunikasi masa dalam momentum kampanye, Baliho merupakan trik pengkonotasian
ampuh dalam mensimulasikan kebohogan relalitas yang ditata melalui penggabungan
kode-kode cultural, historis seperti symbol-simbol adat, agama atau
symbol-simbol budaya mainstream yang pada umumnya menjadi arena dalam
membingkai struktur kognitiv masyarakat tertentu, dan Symbol-simbol tersebut
jika dibawa dalam semantika psikoanalitik (Lihat Lacan), merupakan penanda
utama yang bertanggung jawab dalam membentuk kesadaran individual.
Pada umumnya, dalam mendesain Baliho sebagai media kampanye, tokoh atau
figure politik selalu dalam pose yang artistik, dan secara structural melatakan
symbol-simbol budaya sebagai tanda akan pengormatan terhadap keragaman budaya;
sebuah strategy untuk menginterpelasi masyarakat kalau mereka, para kandidat
itu adalah pilihan tepat menjadi pemimpin di daerah yang memiliki banyak
keragaman budaya maupun agama. Dan melalui efek fotogenia yang dibanijiri oleh
setting pencahayaan, objek utama baliho dalam hal ini para kandidat semuanya
tampil dengan wajah-wajah putih berseri; sebuah petanda sebagai korban modis
seolah kulit putih adalah yang paling menarik atau manis, seperti slogan yang
terkenal, Ambon manise, padahal kulit
orang Maluku bukanlah seperti kulitnya orang jawa atau china. Kemudian teks
hadir berupa slogan-slogan politik yang semuanya bermuara pada isu kepentingan
rakyat menjadikan para tokoh politik tampil seperti malaikat yang diperintahkan
Tuhan untuk membawa berita baik dan seolah tak pernah melakukan noda pula dosa
bagi masyarakat.
(di tolak dibeberapa harian pagi dengan alasan kalau nda ngerti bahasanya, entah.. ternyata semua calon kepala daerah yang diulas telah membeli media.. itulah alasan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar