Sabtu, 29 Juni 2013

Simfoni VIII


Dan aku masih saja mewartakan pada diri sendiri—
selalu mendengar  melodi yang terrekam dalam pita sanubari.
Lagunya lirih, menghimpit dada, membuat perih
Dan ketika udara menggesek senar-senar kalbu
Jantungku berdegup menjadi penyebab badai samudera
Membuat lubang-lubang dihati menyerupai tangga nada harmonica
Dengarlah…
Saat angin senja memasuki celah di hati
Sesuaraku tak lagi harmonis
Meyerupai seruling yang ditiup dikedalaman laut.

Hari selalu berdendang dalam lagu
Sementara langkahku terbujur kaku tanpa sepetak  jejak
Saat aku mendengar kicauan burung yang menyanyikan sunyi
Pecah tawa menderah cerminku
Memantulkan bayang menjadi sketsa yang menertawai diri sendiri

Sipakah dia mengakar senyum tanpa cermin mengukir nada?
O sang duhai, kesombongan syairku punah saat cerminanku jauhkan Keabadian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar