Matahari hampir tenggelam. cahaya senja yang melapangkan
jemari oleh guratan sinar matahari seolah memeluk ikhlas sang mega dalam nuansa
jingga, gemunung perlahan berubah dari kehijauan menjadi hitam. Ketenangan laut
yang dihembus angin tipis membiarkan guratan senja menggandakan diri diatas
kebiruan laut, sehingga ombak kecil yang bergulung dalam pantulan senja seolah
memperlihatkan sebuah skenario indah akan harmonisasi Ketunggalan dalam nuansa
senja hari: sebuah pelukan yang menyuam tuk melepas kerinduan antara mega dan
laut yang telah lama dipisahkan inflasi semesta. senja yang sempurna jika diksi
dari novel-novel klasik menemanimu menikmati semesta diakhir matahari.
Disini, disudut pantai ini kau bisa menyaksikan setengah
teluk pulau Ambon, jika membalikan pandangan kearah timur, utara maupun selatan
kau kan menyaksikan dari kejauhan ribuan perumahan yang tersusun indah diatas
diatas pegunungan. Jika malam jadi dalam, kau akan merasa takjub dengan gemerlap
cahaya lampu pemukiman di pegunungan itu, sebuah pemandangan yang mengingatkan
kita akan keindahan kota paris dengan pernik gelimang cahaya lampu yang berasal
dari bangunan-bangunan ghotik yang mencekit langit. Namun semua itu hanyalah
simulasi oleh partikel cahaya dimana pemukiman-pemukiman itu tak seindah yang
ada dipkiran, sebaliknya berasal dari gubuk-gubuk reot yang jauh dari sentuhan
kesejahteraan.
Sudah beberpa hari aku melarutkan diri bersama beberapa teman
lama mengarungi ruang reversibiltas Hawking, atau melakukan perjalanan waktu
kembali pada masa dimana kepalan tangan masih erat menengadah pada
tembok-tembok raksasa, masa dimana canda tawa yang penuh lugu, masa dimana
taman-taman bermain masih ditumbuhi kehijauan rerumputan, masa dimana keresahan
masih mewarnai hari. Namun dalam sebuah perhatian melankolik, aku diingatkan
pada temporalitas alami dimana saat ini adalah sebuah kemenjadian masa lalu
sehingga ada rasa kecewa saat memandang sebagian kawan tengah berada dalam
suatu parody kekuasaan yang menjelma menjadi mesin-mesin penguasa yang girang
akan singgasana.
Disini, di kota ini yang terkenal dengan slogan “manise”, sebuah slogan sebagai penanda
akan begitu eksotik, begitu romantis, begitu pemurah manusianya, begitu indah
pantai pula pasir putihnya, namun dibalik itu tersimpan sebuah hasrat romantic
yang menuntut harga, sebuah hasrat sebagai hasil dari godaan pasar yang mengharuskan
setiap pemuda mesti sibuk mengisi kantong-kantong kosong dengan cara memainkan
mata dengan para penguasa.
Disini, diskursus hanyalah terjadi dalam pergulatan arena
politik kepentingan. Mulai dari rumah, lorong pemukiman, tempat ibadah, kampus
dan lebih sering terjadi adalah warung kopi semuanya diisi dengan pembicaraan
politik praktis. Sebuah strategi bagaiamana mendapat jalan mulus agar bisa
dekat dengan penguasa. Sebuah jalan mulus untuk mempertebal kantong celana hanya
demi memuaskan wilayah selangkangan. Baik itu pemuda, mahasiswa, PNS, tokoh
agama, masyarakat semuanya berlomba menjadi politkus suci. Iya SUCI karena
dalam wacana tak pernah ada solusi tentang perbaikan hidup, tak pernah ada
wicara bagaimana meningktkan kesejahteraan, tak ada wacana bagaimana membangun
sumber daya manusia, tak ada wacana bagaimana menyentuh rakyat kecil yang
sering diderah musibah. Suci karena hanya berlindung diketiak para penguasa
yang tak pernah menginjak lumpur yang melingkupi rakyat jelata.
Di warung kopi seringlah kita bercengkrama. Kau tak akan
didengar jika tidak mengankat topik politik praktis. Rasa kecewa menimpali
seisi kepala. Aku mulai merasa tidak nyaman, merasa iri, atau merasa berada
ditengah riuhan badai sementara aku hanyalah pohon kelapa yang hanya
menyaksikan secara statis pertunjukan ombak yang menghujam kebiruan samudra. Disaat
memulai cerita atau menaggapi apa yang sementara dibahas dengan pendekatan
kearifan, aku dijawab dengan nada-nada sarkastik “disini teori nda layak pakai”.
Seperti itulah tanggapan yang aku dapat. Semuanya tengah berada dalam labirin pragmatism,
menilai akhir dari konstibusi pemikiran hanya untuk bagaimana mendapatkan uang
semata.
Ruang-ruang public yang terdiognosa dalam warung kopi dimana
kami sering bertemu terdengar riuh oleh pembicaraan bernada pragmatism. Sesuara
yang terdengar begitu berisik, bising bagaikan keributan akibat tawar menawar
barang ditengah kegaduhan pasar. Suasana ruang yang agak tertutup, ketebalan asap
rokok yang membumbung hingga ke langit warung membuat seisi kepala seperti diinjeksi
kadar pembiusan yang membuat anda tidak sadarkan diri.
Kepalaku seperti mau meledak, ditengah keriuhan aku membuka
tas tuk mengambil sebuah cerpen yang ditulis Rabindranath Tagore, dengan makud
tuk mengubah intensionalitas pemikiran. Headset aku pasangi, kemudian menyetel
Mozart sebagai penyeimbang rasa yang benar-benar bosan oleh kondisi. Tetapi suasana
yang pengap mengahruskan aku tuk keluar megakhiri sebuah pertunjukan dimana aku
adalah pemain pasif dengan adegan tanpa sedikitpun suara.
pukul lima tengah meletakan jarum panjang pada angka 12, aku
memutuskan tuk pamit lebih dulu dan menuju bagian sudut kota ambon. Sebuah sudut
pantai yang menyiapkan keindahan bagimu dengan lanskap warni senja yang
menentramkan. Akupun membuka kisah-kisah Kebadian, cerita klasik china tuk
meyempurnakan senja yang menjingga diatas kebiruan laut. Aku seperti terlena
dengan kesejukan udara pantai, memandang lepas kestiap horizon mega. Sesekali menumaphkan
desah dengan gemuruh seperti hembusan angin dimusim timur. Tapi disaat
kesejukan batin mulai terasa, aku terhempas dalam diksi puisi-puisi para Taois,
dilingkari oleh cerita-cerita kebadaian hingga keterarahan rasa berganti
menyiksa saat aura Sang Abadi kian nampak dalam lintasan sintakisis oleh buku
yang sementara aku baca.
Aku menjadi benar-benar melankoli, tatapan menjadi kosong. Guratan
senja seolah berubah menjadi ukiran-ukiran tawa Keabadian. Oh, dalam keresehan
eksistensial akan orang-orang yang telah bermetamorfosa menjadi manusia yang
diciptakan Kafka, wajah itu selalu saja hadir menyerupai matahari, bulan,
bintang hingga aku mesti menuju pada ketinggian atau pada dasar laut agar bisa
menguap kemudian menyatu dengan debu atmosfer yang menciptakan mega bagi senja yang
meng-abadi disetiap cakrawala.
Aku tak bisa hidup ketika pragmatisme sedang
mengangkat panji kekuasaannya. Aku akan menjadi penenun, yang menjahit kata
demi kata tuk mencipta manusia-manusia boneka ala Tagore sebagai perisai menuju
hidup yang benar-benar Abadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar