Jumat, 24 Mei 2013

Mengadu pada Senja


Matahari hampir tenggelam. cahaya senja yang melapangkan jemari oleh guratan sinar matahari seolah memeluk ikhlas sang mega dalam nuansa jingga, gemunung perlahan berubah dari kehijauan menjadi hitam. Ketenangan laut yang dihembus angin tipis membiarkan guratan senja menggandakan diri diatas kebiruan laut, sehingga ombak kecil yang bergulung dalam pantulan senja seolah memperlihatkan sebuah skenario indah akan harmonisasi Ketunggalan dalam nuansa senja hari: sebuah pelukan yang menyuam tuk melepas kerinduan antara mega dan laut yang telah lama dipisahkan inflasi semesta. senja yang sempurna jika diksi dari novel-novel klasik menemanimu menikmati semesta diakhir matahari.
Disini, disudut pantai ini kau bisa menyaksikan setengah teluk pulau Ambon, jika membalikan pandangan kearah timur, utara maupun selatan kau kan menyaksikan dari kejauhan ribuan perumahan yang tersusun indah diatas diatas pegunungan. Jika malam jadi dalam, kau akan merasa takjub dengan gemerlap cahaya lampu pemukiman di pegunungan itu, sebuah pemandangan yang mengingatkan kita akan keindahan kota paris dengan pernik gelimang cahaya lampu yang berasal dari bangunan-bangunan ghotik yang mencekit langit. Namun semua itu hanyalah simulasi oleh partikel cahaya dimana pemukiman-pemukiman itu tak seindah yang ada dipkiran, sebaliknya berasal dari gubuk-gubuk reot yang jauh dari sentuhan kesejahteraan.
Sudah beberpa hari aku melarutkan diri bersama beberapa teman lama mengarungi ruang reversibiltas Hawking, atau melakukan perjalanan waktu kembali pada masa dimana kepalan tangan masih erat menengadah pada tembok-tembok raksasa, masa dimana canda tawa yang penuh lugu, masa dimana taman-taman bermain masih ditumbuhi kehijauan rerumputan, masa dimana keresahan masih mewarnai hari. Namun dalam sebuah perhatian melankolik, aku diingatkan pada temporalitas alami dimana saat ini adalah sebuah kemenjadian masa lalu sehingga ada rasa kecewa saat memandang sebagian kawan tengah berada dalam suatu parody kekuasaan yang menjelma menjadi mesin-mesin penguasa yang girang akan singgasana.
Disini, di kota ini yang terkenal dengan slogan “manise”, sebuah slogan sebagai penanda akan begitu eksotik, begitu romantis, begitu pemurah manusianya, begitu indah pantai pula pasir putihnya, namun dibalik itu tersimpan sebuah hasrat romantic yang menuntut harga, sebuah hasrat sebagai hasil dari godaan pasar yang mengharuskan setiap pemuda mesti sibuk mengisi kantong-kantong kosong dengan cara memainkan mata dengan para penguasa.
Disini, diskursus hanyalah terjadi dalam pergulatan arena politik kepentingan. Mulai dari rumah, lorong pemukiman, tempat ibadah, kampus dan lebih sering terjadi adalah warung kopi semuanya diisi dengan pembicaraan politik praktis. Sebuah strategi bagaiamana mendapat jalan mulus agar bisa dekat dengan penguasa. Sebuah jalan mulus untuk mempertebal kantong celana hanya demi memuaskan wilayah selangkangan. Baik itu pemuda, mahasiswa, PNS, tokoh agama, masyarakat semuanya berlomba menjadi politkus suci. Iya SUCI karena dalam wacana tak pernah ada solusi tentang perbaikan hidup, tak pernah ada wicara bagaimana meningktkan kesejahteraan, tak ada wacana bagaimana membangun sumber daya manusia, tak ada wacana bagaimana menyentuh rakyat kecil yang sering diderah musibah. Suci karena hanya berlindung diketiak para penguasa yang tak pernah menginjak lumpur yang melingkupi rakyat jelata.
Di warung kopi seringlah kita bercengkrama. Kau tak akan didengar jika tidak mengankat topik politik praktis. Rasa kecewa menimpali seisi kepala. Aku mulai merasa tidak nyaman, merasa iri, atau merasa berada ditengah riuhan badai sementara aku hanyalah pohon kelapa yang hanya menyaksikan secara statis pertunjukan ombak yang menghujam kebiruan samudra. Disaat memulai cerita atau menaggapi apa yang sementara dibahas dengan pendekatan kearifan, aku dijawab dengan nada-nada sarkastik “disini teori nda layak pakai”. Seperti itulah tanggapan yang aku dapat. Semuanya tengah berada dalam labirin pragmatism, menilai akhir dari konstibusi pemikiran hanya untuk bagaimana mendapatkan uang semata.
Ruang-ruang public yang terdiognosa dalam warung kopi dimana kami sering bertemu terdengar riuh oleh pembicaraan bernada pragmatism. Sesuara yang terdengar begitu berisik, bising bagaikan keributan akibat tawar menawar barang ditengah kegaduhan pasar. Suasana ruang yang agak tertutup, ketebalan asap rokok yang membumbung hingga ke langit warung membuat seisi kepala seperti diinjeksi kadar pembiusan yang membuat anda tidak sadarkan diri.
Kepalaku seperti mau meledak, ditengah keriuhan aku membuka tas tuk mengambil sebuah cerpen yang ditulis Rabindranath Tagore, dengan makud tuk mengubah intensionalitas pemikiran. Headset aku pasangi, kemudian menyetel Mozart sebagai penyeimbang rasa yang benar-benar bosan oleh kondisi. Tetapi suasana yang pengap mengahruskan aku tuk keluar megakhiri sebuah pertunjukan dimana aku adalah pemain pasif dengan adegan tanpa sedikitpun suara.  
pukul lima tengah meletakan jarum panjang pada angka 12, aku memutuskan tuk pamit lebih dulu dan menuju bagian sudut kota ambon. Sebuah sudut pantai yang menyiapkan keindahan bagimu dengan lanskap warni senja yang menentramkan. Akupun membuka kisah-kisah Kebadian, cerita klasik china tuk meyempurnakan senja yang menjingga diatas kebiruan laut. Aku seperti terlena dengan kesejukan udara pantai, memandang lepas kestiap horizon mega. Sesekali menumaphkan desah dengan gemuruh seperti hembusan angin dimusim timur. Tapi disaat kesejukan batin mulai terasa, aku terhempas dalam diksi puisi-puisi para Taois, dilingkari oleh cerita-cerita kebadaian hingga keterarahan rasa berganti menyiksa saat aura Sang Abadi kian nampak dalam lintasan sintakisis oleh buku yang sementara aku baca.
Aku menjadi benar-benar melankoli, tatapan menjadi kosong. Guratan senja seolah berubah menjadi ukiran-ukiran tawa Keabadian. Oh, dalam keresehan eksistensial akan orang-orang yang telah bermetamorfosa menjadi manusia yang diciptakan Kafka, wajah itu selalu saja hadir menyerupai matahari, bulan, bintang hingga aku mesti menuju pada ketinggian atau pada dasar laut agar bisa menguap kemudian menyatu dengan debu atmosfer yang menciptakan mega bagi senja yang  meng-abadi disetiap cakrawala.
Aku tak bisa hidup ketika pragmatisme sedang mengangkat panji kekuasaannya. Aku akan menjadi penenun, yang menjahit kata demi kata tuk mencipta manusia-manusia boneka ala Tagore sebagai perisai menuju hidup yang benar-benar Abadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar