Jumat, 10 Mei 2013

Pesan Kosong


Semesta dada meluangkan kemungkinan ruang bagi ragam semilir tuk melabrak rongga-ronga ragawi. Setiap angin adalah kabar, setiap gunung adalah nafas, setiap laut adalah air mata setiap apapun yang ku tatap adalah tanda-tanda kebesaran ke-Abdian yang mengajakku tuk harus dan selalu merenung. Atau tanda yang memberi ruang meditasi puitis, karena disana, dalam kemenjadian Abadi, atau dalam guratan cahaya lilin yang menjadi idola kematian lalat yang beterbangan, aku begitu merasa Ada-ku terperanjat lalu menengadah pada wajah titisan Shiva, sang penari penyeimbang kosmik; yang dalam setiap hembusan angin selalu saja ada guratan Tawa seolah aku begitu dekat bersama kemilau kosmik dikaki horizon senja yang begitu Kemerahan.

Karena telah kutemukan keabadian dalam kata, maka melalui kata pula kerinduan ku semaikan. Kata-kata bagiku tidaklah terbatasi aksara atapun angka pada manuskrip-manuskrip. Tetapi kata adalah semesta kerinduan eksistensial yang bisa berupa metafisik: apapun yang terbaca adalah Abadi yang tersirat, apa yang tertulis adalah abadi yang terlukis. Itulah mengapa keagungan pada senjaku yang kemerahan tidak mesti melewati semak belukar atau bangunan kata-kata bak deretan bambu yang tubuh di dataran China. 

Keabadianku adalah afeksi yang lahir dari lintasan kuas para impresionis, Keabadianku ialah persep yang tercipta dari sintaksis Rumi, Neruda ataupun Gothe. Keabadianku adalah wujud yang Ada dalam setiap tanda para simbbolis hingga kekosongan adalah ruang-ruang puitis yang selalu menjadi hal utama bagi para perupa, peramu maupun penenun. Iya, kekosongan adalah linstasan yang penuh dengan goresan kuas, kekosoangan adalah diksi, metaphor atau metonimi yang melalui Sartre, Falubert, Jian, Calvino, Tolstoy, Eco menjadikan caraku mencintai Abadi dalam kekosongan yang penuh dengan tanda-tanda yang tak terbaca mata kepala.

“Aku tak mengerti maksud pesan-pesan kosong yang kau kirimkan”. Keluhnya saat pesan itu selalu mejadi penutup dalam pesan-pesan singkat. “apa ada maksud dibalik itu?, Ceritakanlah padaku”.  “Segala tindak memiliki intensionalitas”, jawabku “dan intensionalitas ini adalah tujuan dari semua tindakan dan seperti itulah yang ku ingat saat membaca Edmund Husserl”. “Apa intensionalitasnya?”, sambil memandang lesung pipitnya saat ia tersenyum, saya melanjutkan “aku menyukai lukisan yang didalamnya terdapat ruang lebih yang bisa memberikan kesempatan pada angin tuk bertiup kencang, pada burung yang bebas terbang, atau ruang yang besar bagi kaki cakrawala atau kebiruan laut, sebab semakin sedikit goresan pada sebuah lukisan dengan kanvas besar, sawah misalnya, dan memberi kekosongan pada langit biru, maka sang pelukis sebenarnya sedang memberikan ruang kontemplatif bagi pelihat tuk merenung betapa luasnya semesta, betap indahnya sawa, betapa senangnya petani, betapa anggunnya suasana desa pula kesan lainnya”.

“Jadi kekosangan adalah ajakan tuk merenung?”. Akupun mengutip Lau Tzu “jadilah kosong maka engkau akan tetap penuh, dan juga dalam Uphanisad bahwa Brahman adalah kehidupan, Brahman adalah kebahagiaan, Brahman adalah Kekosongan, maka kebahagian sama dengan Kekosongan, maka Kekosongan sama denagn Kebahagian. Atau juga dalam sutra-sutra budhis, bentuk itu kekosongan dan kekosongan itu bentuk, kekosongan tak berbeda dari bentuk, betuk tak beda dari kekosongan, yang berbentuk itu kekosongan, yang kosong itu bentuk.”.
 
“Seperti juga medan dalam perspetif Maxwel, dimana tak ada namanya ruang kosong melainkan semuanya terisi penuh dengan tarik menarik partikel yang memungkinkan inteaksi kosmik kan terjadi. Jadi ketika pesan kosong kulayangkan padamu, itulah pengakuan kesejatian yang dalam tanpa kata, terselip jutaan ungkapan tiada akhir akan kerinduanku padamu, terselip ungkapan cinta yang maknanya—seperti kata Rumi—tak terjangkau kata-kata, dan pesan kosong itulah aku selalu ada dalam kemenjadian menuju Kebadian ada-ku pula Ada-mu”. itulah alasan mengapa disetiap saat selalu saja ada pesan kosong yang kualamatkan pada diri Sang Abadi. Kini pesan kosong telah terkonvensi bagiku-banginya menjadi pernyataan Ada-diri yang saling merindu-Abadi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar