Semesta dada meluangkan kemungkinan
ruang bagi ragam semilir tuk melabrak rongga-ronga ragawi. Setiap angin adalah
kabar, setiap gunung adalah nafas, setiap laut adalah air mata setiap apapun
yang ku tatap adalah tanda-tanda kebesaran ke-Abdian yang mengajakku tuk harus
dan selalu merenung. Atau tanda yang memberi ruang meditasi puitis, karena
disana, dalam kemenjadian Abadi, atau dalam guratan cahaya lilin yang menjadi
idola kematian lalat yang beterbangan, aku begitu merasa Ada-ku terperanjat lalu
menengadah pada wajah titisan Shiva, sang penari penyeimbang kosmik; yang dalam
setiap hembusan angin selalu saja ada guratan Tawa seolah aku begitu dekat
bersama kemilau kosmik dikaki horizon senja yang begitu Kemerahan.
Karena telah kutemukan keabadian
dalam kata, maka melalui kata pula kerinduan ku semaikan. Kata-kata bagiku
tidaklah terbatasi aksara atapun angka pada manuskrip-manuskrip. Tetapi kata
adalah semesta kerinduan eksistensial yang bisa berupa metafisik: apapun yang
terbaca adalah Abadi yang tersirat, apa yang tertulis adalah abadi yang terlukis. Itulah
mengapa keagungan pada senjaku yang kemerahan tidak mesti melewati semak
belukar atau bangunan kata-kata bak deretan bambu yang tubuh di dataran China.
Keabadianku adalah afeksi yang
lahir dari lintasan kuas para impresionis, Keabadianku ialah persep yang
tercipta dari sintaksis Rumi, Neruda ataupun Gothe. Keabadianku adalah wujud
yang Ada dalam setiap tanda para simbbolis hingga kekosongan adalah ruang-ruang
puitis yang selalu menjadi hal utama bagi para perupa, peramu maupun penenun. Iya,
kekosongan adalah linstasan yang penuh dengan goresan kuas, kekosoangan adalah
diksi, metaphor atau metonimi yang melalui Sartre, Falubert, Jian, Calvino,
Tolstoy, Eco menjadikan caraku mencintai Abadi dalam kekosongan yang penuh
dengan tanda-tanda yang tak terbaca mata kepala.
“Aku tak mengerti maksud
pesan-pesan kosong yang kau kirimkan”. Keluhnya saat pesan itu selalu mejadi
penutup dalam pesan-pesan singkat. “apa ada maksud dibalik itu?, Ceritakanlah padaku”.
“Segala tindak memiliki intensionalitas”,
jawabku “dan intensionalitas ini adalah tujuan dari semua tindakan dan seperti
itulah yang ku ingat saat membaca Edmund Husserl”. “Apa intensionalitasnya?”, sambil
memandang lesung pipitnya saat ia tersenyum, saya melanjutkan “aku menyukai
lukisan yang didalamnya terdapat ruang lebih yang bisa memberikan kesempatan
pada angin tuk bertiup kencang, pada burung yang bebas terbang, atau ruang yang
besar bagi kaki cakrawala atau kebiruan laut, sebab semakin sedikit goresan
pada sebuah lukisan dengan kanvas besar, sawah misalnya, dan memberi kekosongan
pada langit biru, maka sang pelukis sebenarnya sedang memberikan ruang
kontemplatif bagi pelihat tuk merenung betapa luasnya semesta, betap indahnya
sawa, betapa senangnya petani, betapa anggunnya suasana desa pula kesan lainnya”.
“Jadi kekosangan adalah ajakan tuk
merenung?”. Akupun mengutip Lau Tzu “jadilah
kosong maka engkau akan tetap penuh, dan juga dalam Uphanisad bahwa Brahman adalah kehidupan, Brahman adalah
kebahagiaan, Brahman adalah Kekosongan, maka kebahagian sama dengan Kekosongan,
maka Kekosongan sama denagn Kebahagian. Atau juga dalam sutra-sutra budhis,
bentuk itu kekosongan dan kekosongan itu
bentuk, kekosongan tak berbeda dari bentuk, betuk tak beda dari kekosongan,
yang berbentuk itu kekosongan, yang kosong itu bentuk.”.
“Seperti juga medan dalam perspetif Maxwel, dimana tak ada namanya ruang kosong melainkan semuanya terisi penuh dengan tarik menarik partikel yang memungkinkan inteaksi kosmik kan terjadi. Jadi ketika pesan kosong
kulayangkan padamu, itulah pengakuan kesejatian yang dalam tanpa kata, terselip
jutaan ungkapan tiada akhir akan kerinduanku padamu, terselip ungkapan cinta
yang maknanya—seperti kata Rumi—tak terjangkau kata-kata, dan pesan kosong
itulah aku selalu ada dalam kemenjadian menuju Kebadian ada-ku pula Ada-mu”. itulah
alasan mengapa disetiap saat selalu saja ada pesan kosong yang kualamatkan pada
diri Sang Abadi. Kini pesan kosong telah terkonvensi bagiku-banginya menjadi
pernyataan Ada-diri yang saling merindu-Abadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar