“Ternyata ada juga sisi lain Albert
Einstein selain sebagai fisikawan”. Ungkaplah seorang teman setelah berdiskusi panjang
lebar seputar kehidupan Einstein. Iya, disamping sebagai fisikawan, Einstein pula seorang yang sangat menyukai
sastra dan musik. Baginya sastra membantunya mengenali esensi semesta yang
begitu misterius. Sastra dengan unsur imajinatifnya mampu menginspirasi seorang
Einstein menemukan teori-teori relativitas yang konon terinspirasi setelah
membaca karya-karya romantik Shelley dan Wordsworth. Itulah yang membuatnya
mengakui bahwa “Imagination more
important than knowledge”.
Fiksi sebagaimana yang umum diketahui
memiliki kebenaran antara dunia imajinasi dengan dunia nyata. Kebenaran dalam
dunia fiksi adalah kebenaran menurut pengarang yang telah diyakini keabsahannya
dari sudut pandang hidup dan kehidupan. Kebenaran dunia fiksi tidak harus
selaras dengan dunia nyata yang ditinjau dari segi hukum, sosial, agama bahkan
logika sekalipun. Kongkritnya kemustahilan dalam dunia nyata bisa diwujudkan
dalam dunia fiksi.
Dalam pandangan Plato atapun
Arietoteles, sastra adalah tindak mimetic dimana bentuk kehidupan nyata selalu
menjadi tolak ukur bagi sastra. Namun jika kita melihat pengaruh karya-karya
sastra bagi kehidupan, apa yang mustahil bagi dunia nyata telah diterobos oleh
sisi fiksionalitas sastra dan menjadikannya sebagi sebuah fakta. Dan tindakan
mimetic pun semakin kabur apakah sastra mengikuti bentuk kehidupan nyata,
ataukah sastra yang menjadi pijakan bagi kehidupan nyata (baca: Simulakrum).
Pembedaan antara fiksi dan fakta
dalam sastra tampaknya tak membawa pemahaman kita lebih jauh, seringkali karena
pembedaanya sendiri seringkali dipertanyakan. Fiksi, majinatif dan kreatif
adalah tiga hal yang selalu ada dalam setiap karya sastra, dan jika sastra seperti dalam Eagleton, adalah
tulisan kreatif atau imajinatif, apakah berarti sejarah, filsafat, sains, ilmu
alam yang kreatif dan imajinatif bisa disebut fiksi?.
Interpelasi Fiksi menjadi Fakta
Hal menarik yang perlu kita simak
tentang apa yang dikenal sebagai the
Sorrows of Young Werther affect, sebuah novel fiksi Gothe, yang mampu menginterpelasi
kesadaran pembaca untuk melakukan tindakan bunuh diri lebih dari dua ribu
pemuda di Eropa, konon tindakan copycat
suicide tersebut serupa dengan yang dilakukan oleh tokoh protagonist baik
cara maupun kemiripan kostum. Juga Madame Bovary, novel prancis klasik Karya
Flaubert yang pada abad ke 19, dipandang sebagai karya yang mengilhami gerakan
feminisme Eropa.
Hal sama pula terjadi pada
karya-karya yang mengisnpirasi imajinasi Columbus, seorang pencari rempah yang
terdampar di Amerika. Dalam pengakuan Jack Turner, Columbus terinpirasi lewat
karya imajinatif dari Piere d’Ailly, Gloria Mundi, yang terbit awal abad 15,
kemudian Historia Rerum Oleh Paus Pius II, dan juga pada Travels karya Marco
Polo yang dalam karya-karya tersebut penuh dengan imajinasi eksotik tanah surga
di wilayah Timur yang penuh dengan emas, lada, cengkih, pala, kayu manis,
cendana yang pada saat itu belum ada orang eropa yang sampai ke sana, namun imajinasi
karya tersebut begitu berarti bagi Columbus yang sampai hari ini telah mengubah
dunia dalam memandang rempah-rempah.
Proses interpelasi atau pengaruh
fiksi bagi kesadaran merupakan konsekuensi dari signifikansi yang lahir dari
jejaring petanda-penanda (baca: Semiology) dimana bahasa dalam bentuk apapun
selalu memberikan ruang-ruang baru sebagai ekspansi eksistensialitas yang
secara tidak lansung mendisposisikan praktik dalam ranah kehidupan tertentu
(Lihat Bourdieu). Dan kata terlepas dari
fiksi ataupun tidak tetap merupakan house
of Being, didalamnya terdapat
Kemanjadian Ada-diri yang tak terlepas dari bahasa (Baca: Hermeneutika).
Wujud Fiksi
Interpelasi karya fiksi terhadap
kesadaran pembaca seperti diatas membuat kita memahami fiksi tidak mesti sebagai
daya khayali yang jauh dari fakta kehidupan nyata atau semata tindak mimetik
melainkan melalui sintaksis, fiksi adalah wujud-wujud (lihat: Deleuze Guittari)
yang ada dalam ketidakhadiran manusiawi. Melalui persep dan afek, fiksi merupakan
gejala kebahasaan seolah bertugas menginflasi
realitas nyata sebagai proses kemenjadian kehidupan dinamis.
Itulah mengapa events make possible language dimana Fiksi mampu menciptakan
peristiwa-pertistiwa baru yang belum ada dalam fakta nyata menjadi
bahasa-bahasa kemungkinan bagi kemenjadian eksistensi. Dan karena sastra pula
adalah bagian dari seni maka seperti dikatakan A. Gidens; sastra/seni adalah wants to create the finite that restores the infinite. Maksudnya
adalah fiksi ingin menciptakan sesuatu yang terhingga untuk mengembalikan
pengalaman yang tak berhingga yang ingin dialami terus menerus oleh manusia,
atau menciptakan jalan untuk menjangkau yang tak terbatas.
Jika kita membaca sejarah kehidupan para
ilmuan, seperti Whitehead, Einstein, Copernicus, Heisenberg, dan beberapa
ilmuan lainnya yang banyak teori mereka terinspirasi melalui karya sastra, maka
tak lebih jika dikatakan bahwa fiksi dalam sastra adalah mother of sciences lantaran melalui sastra, kita dibelajarkan untuk
menjelajahi imajinasi yang tidak terbatas. Dalam pengakuan IA Richard,
Imajinasi yang dimaksud Einstein sebenarnya adalah Sastra, karena hanya dalam
sastra keliaran imajinasi mampu menemukan keluesannya sehingga tak lebih dikatakan bahwa yang sebenarnya dikatakan
Einstein adalah sastra dengan unsur fiksinya lebih penting dari pengetahuan.
Dengan demikian fiksionalitas sastra adalah
vibrasi kehidupan oleh bahasa atau kata-kata yang dapat menjangkau yang belum terlihat menjadi sebuah kemungkinan
dunia nyata, dan fiski juga merupakan bagian dari inflasi epitemik dimana
imajinasi adalah magnet yang mampu menarik pikiran yang belum terjangkau
menjadi landasan pijak bagi kehidupan kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar