Sabtu, 18 Mei 2013

Reinterpretasi Fiksi dalam Sastra


“Ternyata ada juga sisi lain Albert Einstein selain sebagai fisikawan”. Ungkaplah  seorang teman setelah berdiskusi panjang lebar seputar kehidupan Einstein. Iya, disamping sebagai fisikawan,  Einstein pula seorang yang sangat menyukai sastra dan musik. Baginya sastra membantunya mengenali esensi semesta yang begitu misterius. Sastra dengan unsur imajinatifnya mampu menginspirasi seorang Einstein menemukan teori-teori relativitas yang konon terinspirasi setelah membaca karya-karya romantik Shelley dan Wordsworth. Itulah yang membuatnya mengakui bahwa “Imagination more important than knowledge”.

Fiksi sebagaimana yang umum diketahui memiliki kebenaran antara dunia imajinasi dengan dunia nyata. Kebenaran dalam dunia fiksi adalah kebenaran menurut pengarang yang telah diyakini keabsahannya dari sudut pandang hidup dan kehidupan. Kebenaran dunia fiksi tidak harus selaras dengan dunia nyata yang ditinjau dari segi hukum, sosial, agama bahkan logika sekalipun. Kongkritnya kemustahilan dalam dunia nyata bisa diwujudkan dalam dunia fiksi.
Dalam pandangan Plato atapun Arietoteles, sastra adalah tindak mimetic dimana bentuk kehidupan nyata selalu menjadi tolak ukur bagi sastra. Namun jika kita melihat pengaruh karya-karya sastra bagi kehidupan, apa yang mustahil bagi dunia nyata telah diterobos oleh sisi fiksionalitas sastra dan menjadikannya sebagi sebuah fakta. Dan tindakan mimetic pun semakin kabur apakah sastra mengikuti bentuk kehidupan nyata, ataukah sastra yang menjadi pijakan bagi kehidupan nyata (baca: Simulakrum).
Pembedaan antara fiksi dan fakta dalam sastra tampaknya tak membawa pemahaman kita lebih jauh, seringkali karena pembedaanya sendiri seringkali dipertanyakan. Fiksi, majinatif dan kreatif adalah tiga hal yang selalu ada dalam setiap karya sastra, dan  jika sastra seperti dalam Eagleton, adalah tulisan kreatif atau imajinatif, apakah berarti sejarah, filsafat, sains, ilmu alam yang kreatif dan imajinatif bisa disebut fiksi?.
Interpelasi Fiksi menjadi Fakta
Hal menarik yang perlu kita simak tentang apa yang dikenal sebagai the Sorrows of Young Werther affect, sebuah novel  fiksi Gothe, yang mampu menginterpelasi kesadaran pembaca untuk melakukan tindakan bunuh diri lebih dari dua ribu pemuda di Eropa, konon tindakan copycat suicide tersebut serupa dengan yang dilakukan oleh tokoh protagonist baik cara maupun kemiripan kostum. Juga Madame Bovary, novel prancis klasik Karya Flaubert yang pada abad ke 19, dipandang sebagai karya yang mengilhami gerakan feminisme Eropa.
Hal sama pula terjadi pada karya-karya yang mengisnpirasi imajinasi Columbus, seorang pencari rempah yang terdampar di Amerika. Dalam pengakuan Jack Turner, Columbus terinpirasi lewat karya imajinatif dari Piere d’Ailly, Gloria Mundi, yang terbit awal abad 15, kemudian Historia Rerum Oleh Paus Pius II, dan juga pada Travels karya Marco Polo yang dalam karya-karya tersebut penuh dengan imajinasi eksotik tanah surga di wilayah Timur yang penuh dengan emas, lada, cengkih, pala, kayu manis, cendana yang pada saat itu belum ada orang eropa yang sampai ke sana, namun imajinasi karya tersebut begitu berarti bagi Columbus yang sampai hari ini telah mengubah dunia dalam memandang rempah-rempah.
Proses interpelasi atau pengaruh fiksi bagi kesadaran merupakan konsekuensi dari signifikansi yang lahir dari jejaring petanda-penanda (baca: Semiology) dimana bahasa dalam bentuk apapun selalu memberikan ruang-ruang baru sebagai ekspansi eksistensialitas yang secara tidak lansung mendisposisikan praktik dalam ranah kehidupan tertentu (Lihat Bourdieu). Dan  kata terlepas dari fiksi ataupun tidak tetap merupakan house of Being, didalamnya terdapat Kemanjadian Ada-diri yang tak terlepas dari bahasa (Baca: Hermeneutika).
Wujud Fiksi
Interpelasi karya fiksi terhadap kesadaran pembaca seperti diatas membuat kita memahami fiksi tidak mesti sebagai daya khayali yang jauh dari fakta kehidupan nyata atau semata tindak mimetik melainkan melalui sintaksis, fiksi adalah wujud-wujud (lihat: Deleuze Guittari) yang ada dalam ketidakhadiran manusiawi. Melalui persep dan afek, fiksi merupakan gejala kebahasaan seolah bertugas menginflasi  realitas nyata sebagai proses kemenjadian kehidupan dinamis.
Itulah mengapa events make possible language dimana Fiksi mampu menciptakan peristiwa-pertistiwa baru yang belum ada dalam fakta nyata menjadi bahasa-bahasa kemungkinan bagi kemenjadian eksistensi. Dan karena sastra pula adalah bagian dari seni maka seperti dikatakan A. Gidens;  sastra/seni adalah wants to create the finite that restores the infinite. Maksudnya adalah fiksi ingin menciptakan sesuatu yang terhingga untuk mengembalikan pengalaman yang tak berhingga yang ingin dialami terus menerus oleh manusia, atau menciptakan jalan untuk menjangkau yang tak terbatas.
Jika kita membaca sejarah kehidupan para ilmuan, seperti Whitehead, Einstein, Copernicus, Heisenberg, dan beberapa ilmuan lainnya yang banyak teori mereka terinspirasi melalui karya sastra, maka tak lebih jika dikatakan bahwa fiksi dalam sastra adalah mother of sciences lantaran melalui sastra, kita dibelajarkan untuk menjelajahi imajinasi yang tidak terbatas. Dalam pengakuan IA Richard, Imajinasi yang dimaksud Einstein sebenarnya adalah Sastra, karena hanya dalam sastra keliaran imajinasi mampu menemukan keluesannya sehingga tak lebih  dikatakan bahwa yang sebenarnya dikatakan Einstein adalah sastra dengan unsur fiksinya lebih penting dari pengetahuan.
Dengan demikian fiksionalitas sastra adalah vibrasi kehidupan oleh bahasa atau kata-kata yang dapat menjangkau yang  belum terlihat menjadi sebuah kemungkinan dunia nyata, dan fiski juga merupakan bagian dari inflasi epitemik dimana imajinasi adalah magnet yang mampu menarik pikiran yang belum terjangkau menjadi landasan pijak bagi kehidupan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar