Minggu, 24 Februari 2013

Jatuh dalam Tebing Tawa


Seperti sebelumnya langitku masih tetap jatuh
Digenangi butiran gravitum ialah penyebab
Tapi langitku seperti angsa yang mengakasa
   Terbang menjulang luputkan mata tiada jejak.
Langitku adalah perisai hati berfitri
Kejatuhannya ialah gradasi dalam tebing-tebing tawanya
Hari-hariku berisiul getarkan cakrawala
Atau meraut benang bagi penjahit lengan-lengan kosmik
Entah, gembalakah aku atau penenenukah ia
Semestaku ialah tarian kata beraroma petikan-petikan dawai
petangpun terbawa dalam melodi memetik senja berwarna Merah.

Langitku masih tetap jatuh tanpa bumi adalah pusat geometric
Langitku jatuh dalam spectrum selubung cahaya
Merindu primsa menjadi alasan dimana dia adalah energy
Kejatuhanku bukanlah karma sutra puitis
Ialah Kekosongan yang merindu sapa pujangga.

Kejatuhanku adalah letupan nova semesta berinflasi
Seperti kuantum yang acak porandakan harmoni dalam mata semesta
Tapi kejatuhanku ialah ketakaturan dimana melodi getarkan ritme keseimbangan
Aku jatuh dalam tebing-tebing tawa begaya mistik
Terjebak dalam lapisan-lapisan Ozon
Bahkan Einstein keliru memahami medan Abadiku.
Jatuhku bukanlah terbukanya energy ditiap materi
Jatuhku bukanlah kerinduan gravitum merangkul partikel
Tapi jatuhku ialah alasan semesta tercipta
Jatuhku ialah alasan Muhammad menyendiri saat menerima “Bacalah”
Aku mencintai Ketakwajaran  dimana cinta layak disembah…
Aku mencintai Nabiku dimana Roh Terasing adalah syair pemujinya
Itulah aku orang Gila yang mengharap Danau menyapaku ialah “Sang Suami”

Ialah kejatuhanku dimana Abadi kan tertulis dalam lembaran mega
Sehingga  Kilat halilintar adalah pernyataan Cinta akan “Aku Kamu Abadi”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar