Seperti
sebelumnya langitku masih tetap jatuh
Digenangi
butiran gravitum ialah penyebab
Tapi
langitku seperti angsa yang mengakasa
Terbang menjulang luputkan mata tiada jejak.
Langitku
adalah perisai hati berfitri
Kejatuhannya
ialah gradasi dalam tebing-tebing tawanya
Hari-hariku
berisiul getarkan cakrawala
Atau meraut
benang bagi penjahit lengan-lengan kosmik
Entah,
gembalakah aku atau penenenukah ia
Semestaku
ialah tarian kata beraroma petikan-petikan dawai
petangpun
terbawa dalam melodi memetik senja berwarna Merah.
Langitku
masih tetap jatuh tanpa bumi adalah pusat geometric
Langitku
jatuh dalam spectrum selubung cahaya
Merindu
primsa menjadi alasan dimana dia adalah energy
Kejatuhanku
bukanlah karma sutra puitis
Ialah Kekosongan
yang merindu sapa pujangga.
Kejatuhanku adalah letupan nova semesta berinflasi
Seperti kuantum yang acak porandakan harmoni dalam mata semesta
Tapi kejatuhanku ialah ketakaturan dimana melodi getarkan ritme
keseimbangan
Aku jatuh dalam tebing-tebing tawa begaya mistik
Terjebak dalam lapisan-lapisan Ozon
Bahkan Einstein keliru memahami medan Abadiku.
Jatuhku bukanlah terbukanya energy ditiap materi
Jatuhku bukanlah kerinduan gravitum merangkul partikel
Tapi jatuhku ialah alasan semesta tercipta
Jatuhku ialah alasan Muhammad menyendiri saat menerima “Bacalah”
Aku mencintai Ketakwajaran dimana cinta layak disembah…
Aku mencintai Nabiku dimana Roh Terasing adalah syair pemujinya
Itulah aku orang Gila yang mengharap Danau menyapaku ialah “Sang
Suami”
Ialah kejatuhanku dimana Abadi kan tertulis dalam lembaran mega
Sehingga Kilat halilintar
adalah pernyataan Cinta akan “Aku Kamu Abadi”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar