#16
Ada
Senja di Pagi yang Cerah
May
22, 2012 at 8:13am
Ada
senja di pagi yang cerah
Disana
aku merindukanmu tanpa berpikir jika kau separuh bulan
Matahari
yang bersinar dalam paket-kuanta kan musnah dibawah kesadaraku
Disana
aku merindukanmu
tanpa
berfikir akan saat dimana kau juga aku tak lagi sepi bebintangan
Kita
hampir mencuri keceriaan pagi dari anak-anak yang berlari
atau
melucuti setiap kekalutan yang berongga dalam tubuh yang kian rapuh
memberikan
kekosongan pada keliaran imaji yang dibungkam konvensi
Lihatlah,
cakrawala pun seperti tunduk akan gerak evolusi dimana kita bertaruh
Pagi
ini semua saksi menjadi bisu
Melihat
kita melemparkan Zigot tanpa birahi hewani
Seperti
badai matahari ciptkan aurora ditiap belahan bumi
Senjapun
hadir mewarnai pagi dengan sendirinya
Pula
burung-burung dara memesrakan elang yang menjulang
Ada
kerinduan yang terselip disetiap dimensi mewaktu
Ada
kebencian mewabah saat senja berlalu dikecup malam
Disana
aku merindukanmu dalam penggalan melodis kicauan jingga
Namun
ritmis merdukan lanskap disetiap sisi berdemensi
Atau
melebur baris spektrum dalam cahaya dan gerimis
Kau begitu
nampak dalam pagi yang tiada bereduksi
Ada
senja di pagi yang cerah
Tiada
lagi kedisanaan tuk singgahi hari kerinduan
Bebintangan
diamana kita terikat berubah menjadi katai putih
Pula
kekosongan yang bertuan bebaskan udara tipis memabasahi
Berlama-lama
kian menjadi bak’ api membirahi
Namun,
senja masih merindukan malam
Mengubah
pagi kan menyengat dalam pinta akan detak supernova
Tidakah
galaksi adalah hamparan bebintangan?
Tidakah
supernova ialah kemungkian awalnya semesta baru bergelimpangan?
Nampaknya
pagi masih bertuankan ketidakmungkian
Cinta
pun dibawa dalam ketaklengkapan manusiawi
Ooh
Abadi… pecahkanlah pagi jika hati masih saja berosilasi
Ada
senja di pagi yang cerah
Ada
hati yang masih saja berkesah
Untukmu...
#17
Saat
itu, ketika di Bukit...
May 3,
2012 at 5:45pm
Bayang
itu …
Bersarang
pada tiap kerutan hinggapi kegersangan nafkah ku
Angin
timur datang dalam se-kuanta kemilau cahaya
Tak
ayal segalanya adalah mentari ataupun rembulan
Buatku
menari bak siwa mengiring kesetimbangan kosmik
Seperti
Rumi merindu Api dalam Matsnawi
Atau
Musa yang melihat-Nya dibukit Sinai
Aku
merindu dalam kehampaan geometric
Terbawa
dalam jejak-jejak kuantum
Jatuh
dalam keindatakpastianmu
Saat
ini setiap relung bersendu rupa
Setiap
aura mengsketsa wajah tanpa jatuh mengkanvas
Guratan-guratan
indah itu jua melebar
Tanpa
tepi melingkari setiap keheningan
Tanpa
gerak namun menggetar cakrawala
Rasa
seperti tak bermasa buat waktu melaju haru
Menatapmu
tiada lesuh mata walau risau tertuju
Melalui
dedaunan yang dilepaskan ranting
Atau
sesuara burung yang menjauhkan gerak galakasi
Cahya
matamu adalah kesetimbangan
Melayangkan
butiran kosmos nan mega memutih
Menerbangkan
asa dalam skala mempelangi
Iya,
semuanya begitu acak dalam hembusan sayap kekupu
Membentuk
dirimu dimanapun cahya melingkupiku
Oh,,
aku terbakar dalam Api kerinduan
Mencintaimu
tanpa jejak-jejak keindahan
Semesta
seperti perapian yang menyuamkan
Aku
lenyap, terbakar hilang bersama misteri kedirianmu
#18
Maaf
ku
March
19, 2012 at 5:00pm
Izinkan
aku menemuimu, Walapun hanya 1 detik cahaya,…
Hari-hariku
kan penuh dengan derita jika tiada restu tulus darimu
Saat
ini saja aku begitu lemah
Nafas
terengah bak badai deruhkan setiap resah
Energy
seperti terkuras habis bak galakasi yang mati tanpa daur oksidasi
Ooh,
aku seperti ingin mengabadikan toeri superdawai dalam fisika
Agar
dimensi waktu menganantarku ke masa lalu
Diamana
aku bisa memohon pada Ibnu Sina
Mengulangi
sejarah saat ia menyembuhkan Putra Raja
Wahai
Pemilik Jagad Raya
Bisakah
sejarah saat Ibnu Sina menyembuhkan orang Tuanya diualng pada ku?
Walau
aku tahu Kerinduan-Mu adalah alasan semuanya kan kembali..
Berilah
jutaan kalpa padaku tuk melihat tanda-tanda kesebesaran-Mu
Berliah
penerang bagiku tuk melihat Berkah-Mu dalam setetes madu
Aku
seperti ingin terbang ke daratan China
Tuk
berlutut dihadapan para Shinse tuk memohon setangkai ramuan
Ooh
Cinta ku…
Dalam
Usiaku yang singkat ini
Tak
pernah terlintas sedetikpun tuk membuatya meneteskan air mata
Ia
mengajariku cinta
Melarangku
tuk tidak memetik bunga dari tangkainya
Mengajarku
cara tersenyum
Membuatku
mengenal duniaku
Dan
buatku mengenal siapa diriku
Dalam
ratusan tahun dimana aku hidup
Sebanyak
itupun asaku menjelma menjadi penawar
Indahkan
harimu dalam lindungan Kasih Sayang tiada batas.
Aku
akan kembali secepatnya
Dan
berkata “Maafkan Akua, maafkan aku”
Tuhan
takan mengampuniku jika tiada restu darimu.
Aku
menyayangimu 1000 X.
#19
Matahari
Belum Jua Terbit
March
6, 2012 at 9:12am
Tak
tahu pasti matahari belum jua Nampak
Kedinginan
kian meradang bekukan rindu yang dulu bertalu
Burung-burung
hantu berkoar tiada habisnya
Menangis,
berteriak dan tertawa penuh misteri
Seolah
memaksaku tuk percaya pada iblis menggoda Hawa
Sesuara
itu seperti mengaduh pada tatapan sinis
Larutkan
malam kian menjadi, menyakiti
Malam
ini menengadahkan kata pada keberanian
Sesuarapun
takluk ketakutan dalam pjiar kemerahan
Tatapan
dan hati berserah pada kekalutan
Menahan
waktu, menembus Tanya
Mengikat
rasa, menembus sukma
Kenapa
malam meruncingkan kubah tanpa seuntai asa?
Kenapa
matahari mengalah pada pegunungan?
Bukankah
Sujud adalah sama dalam sinar dan menahan badai?
Keluwesan
cakrawala seperti beku disetiap imaji
Dingin
dan kaku terseret lempeng bergurau
Tiada
lagi musim yang mesti berganti
Tiada
lagi senja liarkan imajinasi
Bahkan
opini mustahil berapriori
Apa
guna mencipta sayap-sayap keabadian dari lembaran buku?
Apa
guna berserah pada hati tanpa prisma mempelangi?
Ooh,
matahari belum jua nampak menghidupi
Malam berganti
malam tanpa sapaan matahari
Aku
terseret dalam pinta tiada berapi
Aku
muak dengan batas alami kemanusiaan
Mendistorsi
kekosongan dalam alibi nun jauh memahami
Malam
menawariku bintang tanpa bima sakti
Tapi
ialah sebab supernova kan terjadi
Ledakanlah
diriku dalam detak hypernova wahai Andromeda !!
Agar
matahari tercipta walaupun dalam beda semesta
#20
Adik
ku yang Imut
February
4, 2012 at 11:43pm
Beberapa
purnama telah berlalu
Kisah-kasih
serasa kembali dalam mesra yang pernah bertalu
Aku
masih mengingat semuanya tentang kita, mereka dan siapapun ..
Bagaimana
kau menyapa, bagaimana kau bercanda dan bermanja
Semuanya
masih terjaga tanpa sedikitpun menghasta
Kau
begitu mungil jika senyum bertuan di pipimu
Hingga
keresahan yang menimpa kita yang selalu resah
Berubah
menjadi wajah-wajah yang berharap akan sapaan kelembutanamu
Masikah
kau ingat ketika perkelahian di perak?
Bagaimana
kau, aku dan teman-teman begitu resah
Marah
dengan kepolisian yang menindas para pedagang kaki lima
Mungkin,
perkelahian begitu mengerikan
Membuatmu
begitu pucat, kemudian tak sadarakan diri
Aku
marah, jengkel pada diri sendiri yang tak bisa melindungimu
Atau
merasa miris pada kota itu yang buatmu meneteskan air mata
Kau
tahu??
Saat
itu ku merasa begitu dekat denganmu
Dan
saat malam selimuti kita dalam penginapan berantakan itu
Aku
terlibat dalam sebuah pendifinisian keegoanku
Iya,
aku sadar kau seperti adiku yang slalu murah akan senyuman
Kau
begitu suka akan humoris
Seperti
kesukaanmu pada rumus-rumus kimia yang menakjubkan
Namun,
saat kau marah
Auramu
terkondisikan seperti partikel-partikel electron—
Yang
terkena pengaruh radioaktif
Tapi,
ketika sadar menjagamu dari gejolak manusiawi itu
Wajah
manismu terlihat seperti jingga senja yang sejukan jiwa
saat
membayangkan keceriaanmu
Aku
teringat akan Criegee biradika—
Sang
molekul pendingin bumi
menyejukan
semesta yang dilanda kegerahan…
tanpa
rasa beberapa purnama telah berlalu
lama
itu pula asaku merindu bertemu
tapi,
hidup adalah pilihan yang jua selalu memisahkan
aku
percya pada kimia
aku
percaya pada atom...
kita
terpisah dalam jarak Newtonian
tapi
bukan dalam waktu Eisntein
jika
partikulir atom adalah nyata dalam kosmos
itu adalah
bukti dimana kita selalu sama dalam semesta
Adiku
nan Imut….
Jika
gelombang magnetic membuat kita bertemu lagi
Jangan
biarkan Peluhuran Beta melanda kesederhanaanmu
Atau
jangan biarkan efek Zeeman membagi spectrum kasih sayangmu
Aku
merindukan saat dimana kau menyapa ku, juga teman-teman lain..
Ooh,..ibarat
senar dawai yang menghubungkan segela semesta
Atau
seperti neutrino yang berada dimana-mana
Saat
ini pun kau tetap adiku yang tak pernah hilang dari amatanku
buat adiku yang imut, Athy,..
#21
Sunyi
January
16, 2012 at 9:28pm
Berlari
dan berlama-lama dalam kubangan yang tak pernah mengalir
Tanpa
hulu juga hilir namun riak melaju seiring hasrat riang mendesir
Aku
merasa berada dalam sepenggal laut
Membiru
dan beratalu dalam rasa yang tak akhir menjurus
Hanya
serpihan-serpihan kerinduan menyapa dalam sebentuk kata
Aku
seperti karang yang hanya diam saat ombak deruh bergemuruh
Menahan
kecemburuan tanpa tahu dimana arus kan pecah berakhir
Atau
seperti danau kecil ditengah rimba yang hanya ditemani cahaya sang bulan
Aku
menjadi dingin dalam hamparan suam menyinari
Terperangkap
dalam partikel cahaya yang terkadang meng-gelombang
Atau
jatuh dalam dualitas cahaya para fisikawan
Hingga
rasaku terdifraksi dibalik dinding cermin
Menguap,
mengangkasa, bermetamorfosa menjadi butiran hujan
Tapi
aku tetap saja berada dalam kubangan yang mengalirkan diri sendiri
Iya,
aku masih saja terus mengalir tanpa tahu dimana kan berakhir
Saat
musim panas berganti dedaunan berguran
Belama-lama
nampak hijau mengering ditiap ranting
Sekuat
mawar kan mekar, pun seteguh itu ku mengakar
Sayang..musim
panas terlalu menukik
Meng-uap-kan
segala bebasahan ditiap kubangan…
Aku
harus berserah pada kejujuran
Memberimu
rasa yang masih bimbang ditepi kubangan
Ku
ingin mendekepamu sadalam biruku
Namun
asa tlah menguap atau terhisap dalam asal kejadian
Suburkan
rantingmu dalam harap kembali hijau
Walaun
pun tak terliahat
Ku kan
selalu menguap dalam semesta dimana kau adalah tetesan
Yang
pernah dan selamnya sejukan dunia ku…
Untukmu yg diam jutaan kata..
#22
Dipeluk
Hujan
January
10, 2012 at 12:34am
Saat
matahari tak lagi menancapkan terik
Bunga-bunga
merindukan kehangatan sang kumbang
Disetiap
selokan kejernihan berganti merah
Hari-hari
mewarni yang lalu ditinggalkan suam
Pecah
terlihat tiap gemericik yang memercik
Aku
terjebak dalam sebening kaca berair
Lambat
laun menetes melebihi seikat selimut
Aku
dingin bersama kucing-kucing ku yang kerap bingung memandangi
Hujan
menghabisakan tetesan pada ujung lidahmu
Dedauan
berhrap senja akan kecupan mulutmu
Tak
peduli basah kalahkan merah dipucuk kayu
Semakin
terbakar semakin aku dipeluk hujan
Aku
terapung diatas susunan-susunan pemabakaran
Jika
asap mengasa setiap uap
Hujan
semakin beradu dan membakar tubuh ku yang kian mengakar
Aku
dipeluk hujan dalam dinginnya samudra
Nampak
merah kerap membakar
Nampak
merah kian membara
Melingkari
setiap kubangan yang mengairi
Tapi
Aku masih saja dipeluk hujan
Tanpa
hulu
Tanpa
hilir
Entah,
kemana aku mengalir.
#23
Malam
menjadi kata
January
8, 2012 at 12:25pm
Malam
mengukir kegelisahan menjadi kata
Ia
tercipta menyerupai bentangan narasi yg terpojok disetiap selokan
Atau
terukir dalam papan- papan iklan sang pembawa citra fasis
Kata
hanya menjadi cerita dalam ribuan naskah serakah
Hingga
jeritan yg kian mencekit
Memaksa
kata beruabah menjadi doa berpasrah
Malam
terlalu senyap tuk mencaci diri sendiri
Atau
terlalu gulita tuk bertekuk pada setaip kubah
Ooh..
betapa harapan adalah rayuan pada kebisuan
Betapa
perlawanan adalah menjual diri pada kekuasaan
Setiap
kita berharap memiliki logika yang brilian disetiap medan
Bahkan
ideology terseret dalam siklus premature diruang karbitan
Setiap
dari kita merasa bangga pada nilai perjuangan
Tanpa
sadar kitalah penerus poin-poin kerajaan yang menyusun skenario penindasan
Malam
mengukir kegelisahan menjadi kata
Hanya
orang-orang gila yang memahami setap resah
Hanya
orang bisu yang memahami bentangan cakrawala
Ooh..pengeras
suara….
Kau
tak lebih sekedar penawaran barang dan jasa
Atau
seperti pantulan sinar dalam ruang cerminanmu
Kau
berteriak
Mengasah
suara
Numun
itu tak lebih dari ritme pembodohan
Yang
kau susun dalam setiap rancangan kerjamu
Bumi
terlalu luas tuk menggemgam setumpuk kacang ala manusia hutan
Dunia
terlalu luas tuk sinkroni setiap imaji
Namun
bagimu internalitas logikamu adalah prioritas
Maka
setiap yang lain adalah lelucon atau makian kedangkalanmu
Setiap
yang berbiacara adalah badut sangkaanmu
Ohh..
betapa kebodohan memanjakan dalam selaput tinjamu
Hingga
bicaramu hanyalah pancaran libiodo akan makan, makan dan birahi
Reflekasi
hanyalah pelarian atas ketakpuasan badani
Tuhan pun
kau anggap mati akibat kecanduan ejekulasi
Setiap
kata bagimu hanyalah terapis ala borjuasi
Maka
setiap kitab tak kau sucikan dalam tapak yang kau hasrati
Setiap
kata kau ubah menjadi sebutir gandum
Hingga
kontemplasi adalah sisa-sisa pembakaran yang kau tinjakan pula
Lihatlah
siapa yang berhasil porandakan setiap harmoni?
Siapa
yang terbahak dalam menarik setiap laba?
Kini,
kitalah penerus para zombie yang terkubur kekauan
Seolah
waktu dapat menahan laju penuaan
Ooh..mereka
seperti hantu yang terkapar dipojok perpustakaan
Dan
berteriak histeris akan kematian yang tak pernah dikonstruksi
Sementara
kita tetap bangga pada pelabelan nama atas setiap ideology
Tanpa
Tanya, tanpa rasa, tanpa pikir
Kau
layaknya Kasuari yang tak pernah mengunyah setiap buah
Hingga
yang keluar ialah nanah yang tak pernah berubah warna
Malam
mengukir kegelisahan menjadi kata
Entah,
setiap ego diterali kekauan filofosi
Keluasan
cakrawala dihujani butiran salju, membeku
Terbujur
kaku dalam setiap narasi membelenggu
Wahai
butiran-butiran hujan yang membanjiri keresahan
Kabulkanlah
pintaku pada badai yang meradang disetiap pojok jalanan
Layangkan
aku seperti kekupu yang beterbangan
Jika
setiap kepakan ku adalah meluasnya sehasta cakrawala
Maka
jangan izinkan aku menetap dalam kebungkaman setap narasi
Malam
mengukir kegelisahan menjadi kata
Andaikan
pagi meminangmu dengan sebilah mentari
Ubahlah
partikel cahaya menjadi belati yang menghunus setiap tirani
#24
Tanpa
Judul 2
December
27, 2011 at 1:27am
Kerap
langkah melaju saat sapa mesra menerpa
Terhenti
ketika ‘‘belati’’ kan menari dihujung nurani
Seribu
ide tertati berhari-hari dalam imaji
Sedih
saat suara menderah memecah amarah
Berlari
menerobos janji yang masih dilingkari terlali
Terhenti
ketika mesra berganti cemohi
Gelisah
merambah setiap rasa
Kau,
aku seperti dewa yang lapuk dalam biara
Berlama-lama
bara diderah sesuara yang memenjara
Menjawab
adalah durhaka pada kesucian ditelapak
Diam
adalah pengingkaran kemanusaiaan kan terinjak
Kau,
aku begitu lara dalam rindangnya tangkai cemara
Seperti
apakah diriku sebelum terlahir?
Kembalikan
ia walau terkilir di bawa kincir ?
#25
Kecamuk
Rasa
December
20, 2011 at 10:51pm
Seperti
awan putih indahkan nurani
Kadang
menjadi hitam saat badai kan menerjang
Berubah
mendung ketika uapan kan meradang
Kemudian
menjadi hujan
Terkadang
semuanya berubah, fluktuatif
Saat
mendengar Kitaro
Aku
menemukan kedamaian bersamamu
Mendengar
Szlipman
Aku
tegar jalani apapun seolah kau adalah kekuatan bagiku
Ketika
mendengar Mozart
Aku
menemukan Esensi semesta yg didalamnya tak lain ialah manifestasi
Saat
mendengar Bethooven
Personalitasku
terbang jauh melayang
Melahapku
dalam ruang kebimbangan yang didalamnya tak ada siapapun
Namun
saat mendegar Claiderman
Egoku
terperangkap dalam sebuah kepemilikan abadi
Hingga
kerelaan menyempurna bersamamu –
Adalah
harmonisasi dalam dawai-dawai harpa
melodi
kehidupan kadang tak semerdu gesekan daun dan ranting
aku
mencoba menjejaki seesuara apapun dalam semesta
tapi
hembusan badai terlau kencang
menawariku
cerita berirama roman klasik abad 19
Aku
kagum melihat kisah Ibnu Sina dan Jasmine
tapi
aku merasa damai saat membaca Madame Bovary
terharu
ketika melihat kisah antara Dante dan Beatrice
Kagum
ketika membaca kisah antara Heidegger dan Arendt
Tersenyum
melihat Italo Calvino dalam kecamuk cinta yang tak biasa
Aku
begtiu damai akan hal-hal yang dibenci kaum Rasionalis
Merasa
aneh jika yang kujalani hanyalah populis akal sehat
Aku
mencintai ketidakwajaran
Tapi,
wajar jika aku mencintaimu dalam ketakwajaran itu.
#26
Tolong
Nak
December
17, 2011 at 3:58pm
Tak
ada kebahagiaan
Tak
ada lagi tarikan nafas kesegaran
Tak
ada lagi senyum mengukir pagi
Tak
ada lagi kejutan
hanya
ratapan
hanya
kesedihan
saat
terjaga dari lelap
aku
tak melihat keceriaan
tak
lagi mendengar kedamaian
semuanya
berubah, sekejap
senyum
diganti kesedihan
tawa
diganti tangisan
ponselku
bergetar
buatku
terjaga dari kesadaran
sedih
membuat jiwa dibanjiri butiran tangisan
mendengar
sesuara getarkan nurani
“tolong,
tolong nak, tolong kami”
Entah
sampai kapan pinta itu bertuan didadaku
Sakit,
menderita jika ia datang
Aku
merasa menjadi orang yang paling munafik
Berdosa
pada diri sendiri
Suara
itu telah menjadi aib bagiku
Yang
hingga kapanpun selalu membuatku merasa bersalah
Sakit,
sakit dan tersiksa
Disetiap
pagi suara itu selalu membuatku terjaga
Seperti
menjadi pengingat akan hidup yang tiada lagi kedamaian
Tuhan,
apa sebenaranya Skenario hidup ini?
(untuk Pak Tua, di Pasar Limbung, Kab Gowa)
#27
Suram
December
12, 2011 at 2:01am
Segalanya
tampak suram
diri
sendiri pun hampir terlibat dalam sebuah kebencian tanpa dosa
Mengukur
sejarah pasti berakhir air mata
Hari-haripun
kujalani dalam bayang kesuraman
Tapi,
dimanakah kekeliruan itu?
Sehingga
derita bak nafas yang terengah
Disetiap
tarikan nafas, resah menyinggahi rasa
Tanpa
apapun kecuali diam membasahi
Aku
seperti melayang dalam titik geomietrik
Hanya
diam tak bergerak
Melihat
semuanya berputar dan berlalu
Atau
seperti orang-orang terbuang
Yang
dihindari sejarah kekuasaan
Tak
dikenal siapapun selain diri sendiri
Mati,
sepi dan sepi
Walapun
bukan duniaku…
Tapi
aku merasa hidupku di hujung tanduk
Kemudian
dihujani ribuan cacian
Atau
ditembaki sorak kedangkalan perdaban
Sehingga
terkadang aku bejalan tanpa arah
Tanpa
tahu jejak siapa yang kutapaki
Ooh..
sungguh pilu hidup ini
Dijalani
dalam dunia yg dipenuhi tembok-tembok raksasa
berbicara
dalam dunia yg tak lagi mendengar
Atau
ironis hidup dalam ketiadaan rasa
Apakah
aku sementara hidup dalam dua dunia?
Yang
kurasa adalah kemenangan yang didalamnya bukan aku
Sementara
kepekaan dibungkam oleh orang-orang tersanyang
Seperti
apa itu Menjadi???
Seperti
apa itu orang normal atau waras?
Yang
bagaimanakah itu orang gila?
Iya..segalanya
memang tampak suram
Sehingga
tak tahu berakhir dimana hidupku
Aku
mencintai hidup yang yang resah akan kehidupan
Aku
mencintai hidup dimana aku dihidupi
Tapi
jangan paksakan aku mencintai tanpa diriku terlibat didalamnya
#28
Kepadamu,
kepadaku, kepada kita
November
19, 2011 at 5:27pm
A
ku
bosan bukan karena tidak ada lagi kecocokan antara kita
Aku
jenuh bukan tiada lagi kebersamaan diantara kita
Tapi
lihatlah …
Hampir
satu purnama kita seperti para selebrity
Memamerkan
privasi, juga basa-basi penuh ilusi
Lihatlah…
Kerasnya
hidup ini tak semasa pun berhenti mencekam
Kebodohan
ini tak sedetikpun berhenti menerkam
Tapi
kenapa begitu lama kita berhenti
Kemudian
permisif pada apapun yang kita anggap membodohi?
Kenapa
kita masih saja acuh
Masa
bodoh
Atau
pura buta dan tuli tuk melihat dan merasa?
Entah,
keitka aku terbangun nanti
Apakah
kegilaan masih bertuan disetiap senyuman?
#29
Dialogos
(semacam Kontemplasi saat Senja)
October
13, 2011 at 7:43pm
Aku
berdiri diatas sawah yang sebentar lagi dibangun apartement mewah
Memandang
lepas ke seluruh jagad yang mampu terindrai
Seketika
batin menjadi hening seperti kapas yang terbang ria mengangkrasa
membuatku
jatuh dalam simpulan makna hidup yang begitu dangkal
Disana
aku melihat sebuah tapak kaki
Yang
begitu beda dengan tapak para manusia
Jejak
itu tak jua menyadariku akan kejadian peristiwa-peristiwa ketunggalan
Namun
ia bagai stimulant menghantarku pada simpulan sebatas penginderaan pula
Melihat
ke angkasapun membuatku jatuh dalam jemari-jemari pelangi
kemudian
mendefenisikan partikel cahaya
dalam
sinaran gelombang yang tunggal-- semata
Pelangi
pun ku anggap tak lebih dari percikan-percikan air
yang
bersatu dengan pantulan cahaya
tetapi
sinar putih yang menjadi prisma bagi lahirnya warna
tak
kupahami dalam ragamnya sinar mentari.
Disaat
manatap panorama,
Plato
datang dan membisik ke talingaku
“Penglihatamu
adalah penjara bagimu”
Responku
beregerak lurus dalam keraguan
Tapi
Heisenberg menawarku pada pada prisnsip ketidakpastiannya…
Aku
makin jauh terhanyut dalam seribu Tanya
Apakah
Aku adalah penjara bagi Adaku?
Melihatku
temenung
Heiddeger
berkata “ mungikin Ada-mu sedang merindu akan sapaanmu yang telah-- lama kau
campakan”
Kant
juga menghampiriku dan meninggalkan pesananya
“akal
manusia itu sama sekali tidak dapat berharap tuk memahami penghasilan-
Rumput
yang sekecilpun dari sudut-sudut yang mekanistis belaka”
Spencer
pun berkata
“Sebagai
manusia kita wajib mengakui hakekat hidup itu tak dapat dinyatakan –
dengan
istilah fisio chemis belaka”
dalam
sekejap aku bertanya
tidakah
aku orang yang berakal??
Bergson
pun menjawab
“sudah
kodratnya akal itu tidak memahami hidup”
Aku
pun bertanya pada Foucoult“apa fungsinya pengetahuan bagi ku?”
Relasi
kekuasaan apa yang sedang berselingkuh dengan pengetahuan?
Namun
Niestche menjawab “tidakah kau tau bahwa ilmu pengetahuan-
Menyiapkan
sifat tak berpengetahuan yang paling berkuasa?”
#30
October
12, 2011 at 9:24pm
Surat Untuk Sahabat Kecilku
Sahabat
kecilku…
Berhentilah
bermimpi meraih cita-citamu di bangku sekolah
Disana
bercokol ribuan monster yang menghancurkan dunia anak-mu
Jika
kau ingin mencipta
Pergilah
ke laut
Pergilah
ke gunung
Sebab
di laut, Kau kan menemukan cara gimana melestarikan keindahan karang
Yang
sering dibajak penguasa
Sebap
di gunung, kau kan menyaksikan betapa kejamnya Negara
Menjual
kekayaan alam pada segelintir orang…
Sahabat
kecilku
Jangan
pernah bermimpi jika kau kan menjadi cerdas di sekolah
Sebab
disana imajimu akan di musnahkan
Jika
kau ingin berkreasi
Dekatilah
alam
Selamilah
jiwamu
Sebab
melalui alam, kau kan memahami—
Apa
artinya tanda dalam pergantian siang dan malam
Melalui
jiwamu kau kan mengenal
Apa
artinya menjadi manusia
Sahabat
kecilku
Jangan
kira mereka yang disekolah adalah manusia-,manusia cerdas
Atau
manusia-manusai bebas
Mereka
hanyalah manusia cerdik
Yang
hanya tau gimana caranya mendapat sesuap nasi
Bagi
diri mereka sendiri
Mereka
hanyalah manusia ala mumi orang mesir
Yang
hanya menjadi pewaris peradaban
Dalam
sangkar besi modernitas yang membosankan
Itulah
wajah sekolah kita sahabatku
Wajah
yang tak lagi mengajarkan nilai-nilai manusiawi
Wajah
yang tak lagi memberikan kesempatan untuk bermain
Jika
keindahan pelangi masih mewarnai dunia bocahmu
Raihlah
dia,
Dan
biarkan dirimu menjadi warna baru yang menghiasi kebiruan langit
kesalahan
terindah yang tak patut tuk dikenang...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar