Selasa, 26 Februari 2013

Antologi Puisi (II)



#16
Ada Senja di Pagi yang Cerah
May 22, 2012 at 8:13am

Ada senja di pagi yang cerah
Disana aku merindukanmu tanpa berpikir jika kau separuh bulan
Matahari yang bersinar dalam paket-kuanta kan musnah dibawah kesadaraku
Disana aku merindukanmu
tanpa berfikir akan saat dimana kau juga aku tak lagi sepi  bebintangan
Kita hampir  mencuri keceriaan pagi dari anak-anak yang berlari
atau melucuti setiap kekalutan yang berongga dalam tubuh yang kian rapuh
memberikan kekosongan pada keliaran imaji yang dibungkam konvensi
Lihatlah, cakrawala pun seperti tunduk akan gerak evolusi dimana kita bertaruh
Pagi ini semua saksi menjadi bisu
Melihat kita melemparkan Zigot tanpa birahi hewani

Seperti badai matahari ciptkan aurora ditiap belahan bumi
Senjapun hadir mewarnai pagi dengan sendirinya
Pula burung-burung dara memesrakan elang yang menjulang
Ada kerinduan yang terselip disetiap dimensi mewaktu
Ada kebencian mewabah saat senja berlalu dikecup malam
Disana aku merindukanmu dalam penggalan melodis kicauan jingga
Namun ritmis merdukan lanskap disetiap sisi berdemensi
Atau melebur baris spektrum dalam cahaya dan gerimis
Kau begitu nampak dalam pagi yang tiada bereduksi

Ada senja di pagi yang cerah
Tiada lagi kedisanaan tuk singgahi hari kerinduan
Bebintangan diamana kita terikat berubah menjadi katai putih
Pula kekosongan yang bertuan bebaskan udara tipis memabasahi
Berlama-lama kian menjadi bak’ api membirahi
Namun, senja masih merindukan malam
Mengubah pagi kan menyengat dalam pinta akan detak supernova

Tidakah galaksi adalah hamparan bebintangan?
Tidakah supernova ialah kemungkian awalnya semesta baru bergelimpangan?
Nampaknya pagi masih bertuankan ketidakmungkian
Cinta pun dibawa dalam ketaklengkapan manusiawi
Ooh Abadi… pecahkanlah pagi jika hati masih saja berosilasi

Ada senja di pagi yang cerah
Ada hati yang masih saja berkesah

Untukmu...

#17
Saat itu, ketika di Bukit...
May 3, 2012 at 5:45pm

Bayang itu …
Bersarang pada tiap kerutan hinggapi kegersangan nafkah ku
Angin timur datang dalam se-kuanta kemilau cahaya
Tak ayal segalanya adalah mentari ataupun rembulan
Buatku menari bak siwa mengiring kesetimbangan kosmik

Seperti Rumi merindu Api dalam Matsnawi
Atau Musa yang melihat-Nya dibukit Sinai
Aku merindu dalam kehampaan geometric
Terbawa dalam jejak-jejak kuantum
Jatuh dalam keindatakpastianmu

Saat ini setiap relung bersendu rupa
Setiap aura mengsketsa wajah tanpa jatuh mengkanvas
Guratan-guratan indah itu jua melebar
Tanpa tepi melingkari setiap keheningan
Tanpa gerak namun  menggetar cakrawala

Rasa seperti tak bermasa buat waktu melaju haru
Menatapmu tiada lesuh mata walau risau tertuju
Melalui dedaunan yang dilepaskan ranting
Atau sesuara burung yang menjauhkan gerak galakasi
Cahya matamu adalah kesetimbangan
Melayangkan butiran kosmos nan mega memutih
Menerbangkan asa dalam skala mempelangi
Iya, semuanya begitu acak dalam hembusan sayap kekupu
Membentuk dirimu dimanapun cahya melingkupiku

Oh,, aku terbakar dalam Api kerinduan
Mencintaimu tanpa jejak-jejak keindahan
Semesta seperti perapian yang menyuamkan
Aku lenyap, terbakar hilang bersama misteri kedirianmu

#18
Maaf ku
March 19, 2012 at 5:00pm

Izinkan aku menemuimu, Walapun hanya 1 detik cahaya,…
Hari-hariku kan penuh dengan derita jika tiada restu tulus darimu
Saat ini saja aku begitu lemah
Nafas terengah bak badai deruhkan setiap resah
Energy seperti terkuras habis bak galakasi yang mati tanpa daur oksidasi
Ooh, aku seperti ingin mengabadikan toeri superdawai dalam fisika
Agar dimensi waktu menganantarku ke masa lalu
Diamana aku  bisa memohon pada Ibnu Sina
Mengulangi sejarah saat ia menyembuhkan Putra Raja

Wahai Pemilik Jagad Raya
Bisakah sejarah saat Ibnu Sina menyembuhkan orang Tuanya diualng  pada ku?
Walau aku tahu Kerinduan-Mu adalah alasan semuanya kan kembali..
Berilah jutaan kalpa padaku tuk melihat tanda-tanda kesebesaran-Mu
Berliah penerang bagiku tuk melihat Berkah-Mu dalam setetes madu
Aku seperti ingin terbang ke daratan China
Tuk berlutut dihadapan para Shinse tuk memohon setangkai ramuan

Ooh Cinta ku…
Dalam Usiaku  yang singkat ini
Tak pernah terlintas sedetikpun tuk membuatya meneteskan air mata
Ia mengajariku cinta
Melarangku tuk tidak memetik bunga dari tangkainya
Mengajarku cara tersenyum
Membuatku mengenal duniaku
Dan buatku mengenal siapa diriku

Dalam ratusan tahun dimana aku hidup
Sebanyak itupun asaku menjelma menjadi penawar
Indahkan harimu dalam lindungan Kasih Sayang tiada batas.

Aku akan kembali secepatnya
Dan berkata “Maafkan Akua, maafkan aku”
Tuhan takan mengampuniku jika tiada restu darimu.
Aku menyayangimu 1000 X.


#19
Matahari Belum Jua Terbit
March 6, 2012 at 9:12am

Tak tahu pasti matahari belum jua Nampak
Kedinginan kian meradang bekukan rindu yang dulu bertalu
Burung-burung hantu berkoar tiada habisnya
Menangis, berteriak dan tertawa penuh misteri
Seolah memaksaku tuk percaya pada iblis menggoda Hawa

Sesuara itu seperti mengaduh pada tatapan sinis
Larutkan malam kian menjadi, menyakiti
Malam ini menengadahkan kata pada keberanian
Sesuarapun takluk ketakutan dalam pjiar kemerahan
Tatapan dan hati berserah pada kekalutan
Menahan waktu, menembus Tanya
Mengikat rasa, menembus sukma

Kenapa malam meruncingkan kubah tanpa seuntai asa?
Kenapa matahari mengalah pada pegunungan?
Bukankah Sujud adalah sama dalam sinar dan menahan badai?

Keluwesan cakrawala seperti beku disetiap imaji
Dingin dan kaku terseret lempeng bergurau
Tiada lagi musim yang mesti berganti
Tiada lagi senja liarkan imajinasi
Bahkan opini mustahil berapriori
Apa guna mencipta sayap-sayap keabadian dari lembaran buku?
Apa guna berserah pada hati tanpa prisma mempelangi?
Ooh, matahari belum jua nampak menghidupi

Malam berganti malam tanpa sapaan matahari
Aku terseret dalam pinta tiada berapi
Aku muak dengan batas alami kemanusiaan
Mendistorsi kekosongan dalam alibi nun jauh memahami
Malam menawariku bintang tanpa bima sakti
Tapi ialah sebab supernova kan terjadi
Ledakanlah diriku dalam detak hypernova wahai Andromeda !!
Agar matahari tercipta walaupun dalam beda semesta

#20
Adik ku yang Imut
February 4, 2012 at 11:43pm

Beberapa purnama telah berlalu
Kisah-kasih serasa kembali dalam mesra yang pernah bertalu
Aku masih mengingat semuanya tentang kita, mereka dan siapapun ..
Bagaimana kau menyapa, bagaimana kau bercanda dan bermanja
Semuanya masih terjaga tanpa sedikitpun menghasta
Kau begitu mungil jika senyum bertuan di pipimu
Hingga keresahan yang menimpa kita yang selalu resah
Berubah menjadi wajah-wajah yang berharap akan sapaan kelembutanamu

Masikah kau ingat ketika perkelahian di perak?
Bagaimana kau, aku dan teman-teman begitu resah
Marah dengan kepolisian yang menindas para pedagang kaki lima
Mungkin, perkelahian begitu mengerikan
Membuatmu begitu pucat, kemudian tak sadarakan diri
Aku marah, jengkel pada diri sendiri yang tak bisa melindungimu
Atau merasa miris pada kota itu yang buatmu meneteskan air mata
Kau tahu??
Saat itu ku merasa begitu dekat denganmu
Dan saat malam selimuti kita dalam penginapan berantakan itu
Aku terlibat dalam sebuah pendifinisian keegoanku
Iya, aku sadar kau seperti adiku yang slalu murah akan senyuman

Kau begitu suka akan humoris
Seperti kesukaanmu pada rumus-rumus kimia yang menakjubkan
Namun, saat kau marah
Auramu  terkondisikan seperti partikel-partikel electron—
Yang terkena pengaruh radioaktif
Tapi, ketika sadar menjagamu dari gejolak manusiawi itu
Wajah manismu terlihat seperti jingga senja yang sejukan jiwa
saat membayangkan keceriaanmu
Aku teringat akan Criegee biradika
Sang molekul pendingin bumi
menyejukan semesta yang dilanda kegerahan…

tanpa rasa beberapa purnama telah berlalu
lama itu pula asaku merindu bertemu
tapi, hidup adalah pilihan yang jua selalu memisahkan
aku percya pada kimia
aku percaya pada atom...
kita terpisah dalam jarak Newtonian
tapi bukan dalam waktu Eisntein
jika partikulir atom adalah nyata dalam kosmos
itu adalah bukti dimana kita selalu sama dalam semesta

Adiku nan Imut….
Jika gelombang magnetic membuat kita bertemu lagi
Jangan biarkan Peluhuran Beta melanda kesederhanaanmu
Atau jangan biarkan efek Zeeman membagi spectrum kasih sayangmu
Aku merindukan saat dimana kau menyapa ku, juga teman-teman lain..
Ooh,..ibarat senar dawai yang menghubungkan segela semesta
Atau seperti neutrino yang berada dimana-mana
Saat ini pun kau tetap adiku yang  tak pernah hilang dari amatanku

 buat adiku yang imut, Athy,..

#21
Sunyi
January 16, 2012 at 9:28pm

Berlari dan berlama-lama dalam kubangan yang tak pernah mengalir
Tanpa hulu juga hilir namun riak melaju seiring hasrat riang mendesir
Aku merasa berada dalam sepenggal laut
Membiru dan beratalu dalam rasa yang tak akhir menjurus
Hanya serpihan-serpihan kerinduan  menyapa dalam sebentuk kata
Aku seperti karang yang hanya diam saat ombak deruh bergemuruh
Menahan kecemburuan tanpa tahu dimana arus kan pecah berakhir
Atau seperti danau kecil ditengah rimba yang hanya ditemani cahaya sang bulan

Aku menjadi dingin dalam hamparan suam menyinari
Terperangkap dalam partikel cahaya yang terkadang meng-gelombang
Atau jatuh dalam dualitas cahaya para fisikawan
Hingga rasaku terdifraksi dibalik dinding cermin
Menguap, mengangkasa, bermetamorfosa menjadi butiran hujan
Tapi aku tetap saja berada dalam kubangan yang mengalirkan diri sendiri
Iya, aku masih saja terus mengalir tanpa tahu dimana kan berakhir

Saat musim panas berganti dedaunan berguran
Belama-lama nampak hijau mengering ditiap ranting
Sekuat mawar kan mekar, pun seteguh itu ku mengakar
Sayang..musim panas terlalu menukik
Meng-uap-kan segala bebasahan ditiap kubangan…
Aku harus berserah pada kejujuran
Memberimu rasa yang masih bimbang ditepi kubangan
Ku ingin mendekepamu sadalam biruku
Namun asa tlah menguap atau terhisap dalam asal kejadian
Suburkan rantingmu dalam harap kembali hijau

Walaun pun tak terliahat
Ku kan selalu menguap dalam semesta dimana kau adalah tetesan
Yang pernah dan selamnya sejukan dunia ku…

                                                                                 Untukmu yg diam jutaan kata..

#22
Dipeluk Hujan
January 10, 2012 at 12:34am

Saat matahari tak lagi menancapkan terik
Bunga-bunga merindukan kehangatan sang kumbang
Disetiap selokan kejernihan  berganti merah
Hari-hari mewarni yang lalu ditinggalkan suam
Pecah terlihat tiap gemericik yang memercik
Aku terjebak dalam sebening kaca berair
Lambat laun menetes melebihi seikat selimut
Aku dingin bersama kucing-kucing ku yang kerap bingung memandangi

Hujan menghabisakan tetesan pada ujung lidahmu
Dedauan berhrap senja akan kecupan mulutmu
Tak peduli basah kalahkan merah dipucuk kayu
Semakin terbakar semakin aku dipeluk hujan
Aku terapung diatas susunan-susunan pemabakaran
Jika asap mengasa setiap uap
Hujan semakin beradu dan membakar tubuh ku yang kian mengakar

Aku dipeluk hujan dalam dinginnya samudra
Nampak merah kerap membakar
Nampak merah kian membara
Melingkari setiap kubangan yang mengairi
Tapi Aku masih saja dipeluk hujan
Tanpa hulu
Tanpa hilir
Entah, kemana aku mengalir.

#23
Malam menjadi kata
January 8, 2012 at 12:25pm

Malam mengukir kegelisahan menjadi kata
Ia tercipta menyerupai bentangan narasi yg terpojok disetiap selokan
Atau terukir dalam papan- papan iklan sang pembawa citra fasis
Kata hanya menjadi cerita dalam ribuan naskah serakah
Hingga jeritan yg kian mencekit
Memaksa kata beruabah menjadi doa berpasrah

Malam terlalu senyap tuk mencaci diri sendiri
Atau terlalu gulita tuk bertekuk pada setaip kubah
Ooh.. betapa harapan adalah rayuan pada kebisuan
Betapa perlawanan adalah menjual diri pada kekuasaan
Setiap kita berharap memiliki logika yang brilian disetiap medan
Bahkan ideology terseret dalam siklus premature diruang karbitan
Setiap dari kita merasa bangga pada nilai perjuangan
Tanpa sadar kitalah penerus poin-poin kerajaan yang menyusun skenario penindasan

Malam mengukir kegelisahan menjadi kata
Hanya orang-orang gila yang memahami setap resah
Hanya orang bisu yang memahami bentangan cakrawala
Ooh..pengeras suara….
Kau tak lebih sekedar penawaran barang dan jasa
Atau seperti pantulan sinar dalam ruang cerminanmu
Kau berteriak
Mengasah suara
Numun itu tak lebih dari ritme pembodohan
Yang kau susun dalam setiap rancangan kerjamu

Bumi terlalu luas tuk menggemgam setumpuk kacang ala manusia hutan
Dunia terlalu luas tuk sinkroni setiap imaji
Namun bagimu internalitas logikamu adalah prioritas
Maka setiap yang lain adalah lelucon atau makian kedangkalanmu
Setiap yang berbiacara adalah badut sangkaanmu
Ohh.. betapa kebodohan memanjakan dalam selaput tinjamu
Hingga bicaramu hanyalah pancaran libiodo akan makan, makan dan birahi
Reflekasi hanyalah pelarian atas ketakpuasan badani
Tuhan pun kau anggap mati akibat kecanduan ejekulasi

Setiap kata bagimu hanyalah terapis ala borjuasi
Maka setiap kitab tak kau sucikan dalam tapak yang kau hasrati
Setiap kata kau ubah menjadi sebutir gandum
Hingga kontemplasi adalah sisa-sisa pembakaran yang kau tinjakan pula
Lihatlah siapa yang berhasil porandakan setiap harmoni?
Siapa yang terbahak dalam menarik setiap laba?
Kini, kitalah penerus para zombie yang terkubur kekauan
Seolah waktu dapat menahan laju penuaan
Ooh..mereka seperti hantu yang terkapar dipojok perpustakaan
Dan berteriak histeris akan kematian yang tak pernah dikonstruksi
Sementara kita tetap bangga pada pelabelan nama atas setiap ideology
Tanpa Tanya, tanpa rasa, tanpa pikir
Kau layaknya Kasuari yang tak pernah mengunyah setiap buah
Hingga yang keluar ialah nanah yang tak pernah berubah warna

Malam mengukir kegelisahan menjadi kata
Entah, setiap ego diterali kekauan filofosi
Keluasan cakrawala dihujani butiran salju, membeku
Terbujur kaku dalam setiap narasi membelenggu
Wahai butiran-butiran hujan yang membanjiri keresahan
Kabulkanlah pintaku pada badai yang meradang disetiap pojok jalanan
Layangkan aku seperti kekupu yang beterbangan
Jika setiap kepakan ku adalah meluasnya sehasta cakrawala
Maka jangan izinkan aku menetap dalam kebungkaman setap narasi

Malam mengukir kegelisahan menjadi kata
Andaikan pagi meminangmu dengan sebilah mentari
Ubahlah partikel cahaya menjadi belati yang menghunus setiap tirani

#24
Tanpa Judul 2
December 27, 2011 at 1:27am

Kerap langkah melaju saat sapa mesra menerpa
Terhenti ketika ‘‘belati’’ kan menari dihujung nurani
Seribu ide tertati berhari-hari dalam imaji
Sedih saat suara menderah memecah amarah

Berlari menerobos janji yang masih dilingkari terlali
Terhenti ketika mesra berganti cemohi
Gelisah merambah setiap rasa
Kau, aku seperti dewa yang lapuk dalam biara

Berlama-lama bara diderah sesuara yang memenjara
Menjawab adalah durhaka pada kesucian ditelapak
Diam adalah pengingkaran kemanusaiaan kan terinjak
Kau, aku begitu lara dalam rindangnya tangkai cemara

Seperti apakah diriku sebelum terlahir?
Kembalikan ia walau terkilir di bawa kincir ?

#25
Kecamuk Rasa
December 20, 2011 at 10:51pm

Seperti awan putih indahkan nurani
Kadang menjadi hitam saat badai kan menerjang
Berubah mendung ketika uapan kan meradang
Kemudian menjadi hujan
Terkadang semuanya berubah, fluktuatif

Saat mendengar Kitaro
Aku menemukan kedamaian bersamamu
Mendengar Szlipman
Aku tegar jalani apapun seolah kau adalah kekuatan bagiku
Ketika mendengar Mozart
Aku menemukan Esensi semesta yg didalamnya tak lain ialah manifestasi
Saat mendengar Bethooven
Personalitasku terbang jauh melayang
Melahapku dalam ruang kebimbangan yang didalamnya tak ada siapapun
Namun saat mendegar Claiderman
Egoku terperangkap dalam sebuah kepemilikan abadi
Hingga kerelaan menyempurna bersamamu –
Adalah  harmonisasi dalam dawai-dawai harpa

melodi kehidupan kadang tak semerdu gesekan daun dan ranting
aku mencoba menjejaki seesuara apapun dalam semesta
tapi hembusan badai terlau kencang
menawariku cerita berirama roman klasik abad 19

Aku kagum  melihat kisah Ibnu Sina dan Jasmine
tapi aku merasa damai saat membaca Madame Bovary
terharu ketika melihat kisah antara Dante dan Beatrice
Kagum ketika membaca kisah antara Heidegger dan Arendt
Tersenyum melihat Italo Calvino dalam kecamuk cinta yang tak biasa
Aku begtiu damai akan hal-hal yang dibenci kaum Rasionalis
Merasa aneh jika yang kujalani hanyalah populis akal sehat
Aku mencintai ketidakwajaran
Tapi,  wajar jika aku mencintaimu dalam ketakwajaran itu.

#26
Tolong Nak
December 17, 2011 at 3:58pm

Tak ada kebahagiaan
Tak ada lagi tarikan nafas kesegaran
Tak ada lagi senyum mengukir pagi
Tak ada lagi kejutan
hanya ratapan
hanya kesedihan

saat terjaga dari lelap
aku tak melihat keceriaan
tak lagi mendengar kedamaian
semuanya berubah, sekejap
senyum diganti kesedihan
tawa diganti tangisan

ponselku bergetar
buatku terjaga dari kesadaran
sedih membuat jiwa dibanjiri butiran tangisan
mendengar sesuara getarkan nurani
“tolong, tolong nak, tolong kami”
Entah sampai kapan pinta itu bertuan didadaku
Sakit, menderita jika ia datang

Aku merasa menjadi orang yang paling munafik
Berdosa pada diri sendiri
Suara itu telah menjadi aib bagiku
Yang hingga kapanpun selalu membuatku merasa bersalah
Sakit, sakit dan tersiksa
Disetiap pagi suara itu selalu membuatku terjaga
Seperti menjadi pengingat akan hidup yang tiada lagi kedamaian
Tuhan, apa sebenaranya Skenario hidup ini?

 (untuk Pak Tua, di Pasar Limbung, Kab Gowa)

#27
Suram
December 12, 2011 at 2:01am

Segalanya tampak suram
diri sendiri pun hampir terlibat dalam sebuah kebencian tanpa dosa
Mengukur sejarah pasti berakhir air mata
Hari-haripun kujalani dalam bayang kesuraman
Tapi, dimanakah kekeliruan itu?
Sehingga derita bak nafas yang terengah
Disetiap tarikan nafas, resah menyinggahi rasa
Tanpa apapun kecuali diam membasahi

Aku seperti melayang dalam titik geomietrik
Hanya diam tak bergerak
Melihat semuanya berputar dan berlalu
Atau seperti orang-orang terbuang
Yang dihindari  sejarah kekuasaan
Tak dikenal siapapun selain diri sendiri
Mati, sepi dan sepi

Walapun bukan duniaku…
Tapi aku merasa hidupku di hujung tanduk
Kemudian dihujani ribuan cacian
Atau ditembaki sorak kedangkalan  perdaban
Sehingga terkadang aku bejalan tanpa arah
Tanpa tahu jejak siapa yang kutapaki

Ooh.. sungguh pilu hidup ini
Dijalani dalam dunia yg dipenuhi tembok-tembok raksasa
berbicara dalam dunia yg tak lagi mendengar
Atau ironis hidup dalam ketiadaan rasa
Apakah aku sementara hidup dalam dua dunia?
Yang kurasa adalah kemenangan yang didalamnya bukan aku
Sementara kepekaan dibungkam oleh orang-orang tersanyang

Seperti apa itu Menjadi???
Seperti apa itu orang normal atau waras?
Yang bagaimanakah itu orang gila?
Iya..segalanya memang tampak suram
Sehingga tak tahu berakhir dimana hidupku
Aku mencintai hidup yang yang resah akan kehidupan
Aku mencintai hidup dimana aku dihidupi
Tapi jangan paksakan aku mencintai tanpa diriku terlibat didalamnya

#28
Kepadamu, kepadaku, kepada kita
November 19, 2011 at 5:27pm
A
ku bosan bukan karena tidak ada lagi kecocokan antara kita
Aku jenuh bukan tiada lagi kebersamaan diantara kita
Tapi lihatlah  …
Hampir satu purnama kita seperti para selebrity
Memamerkan privasi, juga basa-basi  penuh ilusi

Lihatlah…
Kerasnya hidup ini tak semasa pun berhenti mencekam
Kebodohan ini tak sedetikpun berhenti menerkam
Tapi kenapa begitu lama kita berhenti
Kemudian  permisif pada apapun yang kita anggap membodohi?
Kenapa kita masih saja acuh
Masa bodoh
Atau pura buta dan tuli tuk melihat dan merasa?

Entah, keitka aku terbangun nanti
Apakah kegilaan masih bertuan disetiap senyuman?

#29

Dialogos (semacam Kontemplasi saat Senja)
October 13, 2011 at 7:43pm

Aku berdiri diatas sawah yang sebentar lagi dibangun apartement mewah
Memandang lepas ke seluruh jagad yang mampu terindrai
Seketika batin menjadi hening seperti kapas yang terbang ria mengangkrasa
membuatku jatuh dalam simpulan makna hidup yang begitu dangkal

Disana aku melihat sebuah tapak kaki
Yang begitu beda dengan tapak para manusia
Jejak itu tak jua menyadariku akan kejadian peristiwa-peristiwa ketunggalan
Namun ia bagai stimulant menghantarku pada simpulan sebatas penginderaan pula

Melihat ke angkasapun membuatku jatuh dalam jemari-jemari pelangi
kemudian mendefenisikan partikel cahaya
dalam sinaran gelombang yang tunggal-- semata
Pelangi pun ku anggap tak lebih dari percikan-percikan air
yang bersatu dengan pantulan cahaya
tetapi sinar putih yang menjadi prisma bagi lahirnya warna
tak kupahami dalam ragamnya sinar mentari.

Disaat manatap panorama,
Plato datang dan membisik ke talingaku
“Penglihatamu adalah penjara bagimu”
Responku beregerak lurus dalam keraguan
Tapi Heisenberg menawarku pada pada prisnsip ketidakpastiannya…

Aku makin jauh terhanyut dalam seribu Tanya
Apakah Aku adalah penjara bagi Adaku?

Melihatku temenung
Heiddeger berkata “ mungikin Ada-mu sedang merindu akan sapaanmu yang telah-- lama kau campakan”
Kant juga menghampiriku dan meninggalkan pesananya
“akal manusia itu sama sekali tidak dapat berharap tuk memahami penghasilan-
Rumput yang sekecilpun dari sudut-sudut yang mekanistis belaka”
Spencer pun berkata
“Sebagai manusia kita wajib mengakui hakekat hidup itu tak dapat dinyatakan –
dengan istilah fisio chemis belaka”

dalam sekejap aku bertanya
tidakah aku orang yang berakal??
Bergson pun menjawab
“sudah kodratnya akal itu tidak memahami hidup”
Aku pun bertanya pada Foucoult“apa fungsinya pengetahuan bagi ku?”
Relasi kekuasaan apa yang sedang berselingkuh dengan pengetahuan?
Namun Niestche menjawab “tidakah kau tau bahwa ilmu pengetahuan-
Menyiapkan sifat tak berpengetahuan yang paling berkuasa?”

#30
October 12, 2011 at 9:24pm

Surat Untuk Sahabat Kecilku
Sahabat kecilku…
Berhentilah bermimpi meraih cita-citamu di bangku sekolah
Disana bercokol ribuan  monster yang  menghancurkan dunia anak-mu
Jika kau ingin mencipta
Pergilah ke laut
Pergilah ke gunung
Sebab di laut,  Kau kan menemukan cara gimana melestarikan keindahan karang
Yang sering dibajak penguasa
Sebap di gunung, kau kan menyaksikan betapa kejamnya Negara
Menjual kekayaan alam pada segelintir orang…

Sahabat kecilku
Jangan pernah bermimpi jika kau kan menjadi  cerdas di sekolah
Sebab disana imajimu akan  di musnahkan
Jika kau ingin berkreasi
Dekatilah alam
Selamilah jiwamu
Sebab melalui alam, kau kan memahami—
Apa  artinya tanda dalam pergantian siang dan malam
Melalui jiwamu  kau kan mengenal
Apa artinya menjadi manusia

Sahabat kecilku
Jangan kira  mereka yang disekolah adalah manusia-,manusia cerdas
Atau manusia-manusai bebas
Mereka hanyalah manusia cerdik
Yang hanya tau gimana caranya mendapat sesuap nasi
Bagi diri mereka sendiri
Mereka hanyalah manusia ala mumi orang mesir
Yang hanya menjadi pewaris peradaban
Dalam sangkar besi modernitas  yang membosankan

Itulah  wajah  sekolah kita sahabatku
Wajah yang tak lagi mengajarkan nilai-nilai manusiawi
Wajah yang tak lagi memberikan kesempatan untuk  bermain
Jika keindahan pelangi masih mewarnai dunia bocahmu
Raihlah dia,
Dan biarkan dirimu menjadi warna baru yang menghiasi kebiruan langit



kesalahan terindah yang tak patut tuk  dikenang...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar